Makanan dan Kebohongan dalam Istilah MOS Gastronomi Semu Kampus

Makanan dan Kebohongan dalam Istilah MOS bukan sekadar tentang nasi atau teh yang disajikan di kampus. Ini adalah pintu masuk untuk menguak sebuah dunia di mana ritual kuliner dijadikan alat untuk membangun narasi, mengukir hierarki, dan menanamkan memori kolektif yang terdistorsi. Bayangkan, sepiring nasi sederhana tiba-tiba disebut sebagai “nasi kepahlawanan”, atau segelas teh tawar dijuluki “teh pengorbanan”. Di balik istilah-istilah yang terdengar heroik dan penuh semangat itu, tersembunyi mekanisme psikologis yang rumit, dirancang untuk menciptakan solidaritas semu di antara para peserta MOS.

Topik ini mengajak kita menyelami lebih dalam bagaimana metafora makanan digunakan sebagai kamuflase untuk aktivitas yang sering kali berada di ambang batas. Dari gastronomi penderitaan yang sengaja dirancang, leksikon kuliner yang absurd, hingga pesta rekonsiliasi di akhir yang berfungsi sebagai penutup kebohongan struktural, setiap tahapannya dipenuhi dengan bahasa yang dimanipulasi. Melalui lensa ini, kita dapat melihat MOS bukan lagi sebagai serangkaian kegiatan biasa, melainkan sebagai sebuah panggung besar di mana makanan dan kata-kata berkolusi untuk melakukan rekayasa sosial dan emosional terhadap para mahasiswa baru.

Gastronomi Semu dalam Ritual MOS Kampus

Dalam banyak kegiatan Masa Orientasi Studi (MOS), makanan tidak sekadar berfungsi sebagai pengisi perut. Ia diangkat menjadi sebuah alat pedagogi yang bermasalah, sebuah medium untuk menyampaikan pelajaran tentang kerendahan hati dan solidaritas melalui penderitaan yang direkayasa. Konsep ‘makanan penderitaan’ muncul sebagai fondasi dari narasi ini, di mana hidangan yang sengaja dibuat tidak menarik, minim gizi, atau bahkan absurd dijadikan simbol pengorbanan bersama.

Logika di baliknya sederhana namun penuh manipulasi: dengan bersama-sama mengalami ‘kesengsaraan’ kuliner, peserta diharapkan merasa terikat dalam sebuah pengalaman kolektif yang unik. Solidaritas yang terbangun, sayangnya, seringkali bersifat semu dan dipaksakan. Ia bukan lahir dari persahabatan otentik atau tujuan bersama yang mulia, melainkan dari trauma mikro yang dibagikan. Mekanisme ini mirip dengan pembentukan ikatan dalam kelompok yang melalui inisiasi keras; rasa tidak nyaman yang sama menjadi perekat.

Namun, dalam konteks pendidikan, penggunaan rasa lapar dan makanan yang tidak layak justru mengaburkan makna solidaritas sejati, menggantikannya dengan kepatuhan buta terhadap hierarki senioritas yang menciptakan penderitaan itu sendiri.

Dalam MOS, ada istilah unik seperti ‘makanan’ untuk tugas dan ‘kebohongan’ untuk lelucon bonding. Tapi dunia nyata punya dinamika lebih kompleks, misalnya dalam Soal IPS Terpadu: OKI, Solidaritas Islam, Palestina, Tradisi Tanam yang membahas solidaritas global dan kearifan lokal. Analoginya, sama seperti MOS yang membangun kebersamaan, isu-isu tersebut mengajarkan kita untuk kritis membedakan ‘makanan’ informasi dan ‘kebohongan’ narasi yang menyesatkan.

Jenis Makanan dan Dampaknya dalam MOS

Berikut adalah tabel yang memetakan bagaimana makanan ditransformasikan menjadi alat rekayasa sosial selama MOS, dilengkapi dengan istilah-istilah khas yang menormalisasi praktik tersebut.

Jenis Makanan Istilah yang Digunakan Makna Tersirat Dampak Psikologis yang Diharapkan
Nasi putih dingin dengan garam Nasi Kepahlawanan Ketahanan dan kesederhanaan adalah nilai utama; kemewahan adalah musuh. Membangun mental “tahan banting” dan penerimaan terhadap kondisi seadanya tanpa protes.
Air putih atau teh tawar dalam gelas plastik kecil Teh Pengorbanan Setiap tindakan memerlukan pengorbanan, sekecil apapun, termasuk menahan haus dan keinginan. Menanamkan rasa syukur yang dipaksakan atas hal yang paling dasar dan seharusnya menjadi hak.
Roti tawar tanpa selai atau lauk Roti Kesabaran Kesabaran dibangun dari menahan keinginan akan variasi dan kenikmatan. Mengondisikan peserta untuk pasrah dan menunggu instruksi tanpa ekspektasi.
Sisa sayur atau makanan yang diacak secara simbolis Capcoy Keberagaman Perbedaan harus dilebur menjadi satu kesatuan, keunikan individu tidak penting. Mengikis identitas personal dan menekankan pentingnya menyatu dengan kelompok secara mutlak.

Filosofi Palsu di Balik Menu Konkret, Makanan dan Kebohongan dalam Istilah MOS

Senior seringkali membumbui penyajian makanan ini dengan penjelasan filosofis yang terdengar mendalam, namun sebenarnya kosong dan dirancang untuk membungkus absurditas. Ambil contoh menu “Nasi Atlantis”. Menu ini hanya terdiri dari nasi putih yang dibentuk seperti gunung dan dialiri kuah bening asin dari atas, menyerupai pulau yang tenggelam.

“Adik-adik, ini adalah Nasi Atlantis. Atlantis adalah peradaban besar yang hilang karena kesombongan dan keangkuhan. Nasi ini mengajarkan kita bahwa di balik kemegahan, fondasi yang sesungguhnya adalah kesederhanaan. Kuah asin ini adalah air laut yang menenggelamkan kesombongan. Kalian makan nasi ini agar ingat, menjadi mahasiswa berarti membangun fondasi ilmu yang kuat, bukan mengejar gemerlap prestise. Setiap butir nasi yang kalian kunyah adalah pilihan untuk bertahan dari ‘tenggelamnya’ ego kalian.”

Penjelasan panjang lebar tersebut berusaha mengubah sebuah tindakan yang pada dasarnya adalah memberikan makanan yang tidak menggugah selera menjadi sebuah pelajaran hidup epik. Bahasa metaforis seperti “nasi kepahlawanan” atau “teh pengorbanan” melakukan dua hal sekaligus. Pertama, ia menciptakan hierarki linguistik: hanya mereka yang “telah lulus” dan memahami kode bahasa ini yang bisa masuk ke dalam ingatan kolektif kelompok. Kedua, ia mendistorsi memori.

Ketika para peserta nanti mengenang MOS, yang diingat bukan lagi rasa nasi yang hambar, tetapi “pelajaran tentang kepahlawanan”. Bahasa mengaburkan realitas fisik yang tidak menyenangkan, menggantikannya dengan narasi mulia yang justru mengukuhkan kekuasaan para pembuat narasi tersebut.

Dekonstruksi Leksikon Perploncoan Melalui Metafora Kuliner

Bahasa makanan dalam MOS tidak berhenti pada penamaan menu. Ia berkembang menjadi leksikon khusus yang absurd, sebuah kamus rahasia yang sengaja dibuat tidak masuk akal untuk mengaburkan maksud sebenarnya dari suatu aktivitas. Mekanisme pembentukannya seringkali melalui proses kombinasi kata yang acak, personifikasi, atau hiperbola. Tujuannya jelas: menciptakan kebingungan sekaligus rasa ingin tahu, sekaligus mengalihkan fokus dari esensi tindakan yang mungkin melanggar norma.

BACA JUGA  Hasil Integral ∫₀^π/3 cos x / (1 + sin x) dx dan Lapisan Maknanya

Ketika seorang senior menyuruh junior untuk “mengambil saus kebenaran di dapur bayangan”, yang dimaksud mungkin hanya air keran biasa atau bahkan sesuatu yang tidak ada. Proses pencarian yang melelahkan dan penuh teka-teki itulah aktivitas utamanya, bukan “saus”-nya. Leksikon ini berfungsi sebagai filter. Mereka yang tidak memahami akan terus bertanya dan dianggap “belajar”, sementara maksud sebenarnya adalah membuat mereka sibuk dengan instruksi yang tidak jelas, sehingga kritisitas terhadap tugas yang sia-sia itu sendiri menjadi lumpuh.

Absurditas bahasa menjadi tameng bagi absurditas tindakan. Dengan membuat segalanya terdengar seperti ritual kuliner yang aneh, kekerasan verbal dan psikologis dibungkus menjadi semacam permainan linguistik yang unik.

Frasa Kuliner Umum dan Makna Tersembunyinya

Berikut adalah beberapa frasa yang kerap muncul beserta lapisan maknanya yang sering disembunyikan.

  • Sarapan Kejujuran: Secara harfiah berarti makan pagi yang jujur. Makna tersembunyinya adalah sesi interogasi atau pemeriksaan barang bawaan peserta di pagi hari, di mana mereka diharapkan “jujur” mengakui pelanggaran atau barang terlarang.
  • Makan Siang Kolaborasi: Secara harfiah berarti makan siang bersama. Makna sebenarnya adalah aktivitas di mana peserta dipaksa menyuapi satu sama lain dengan kondisi mata tertutup atau tangan terikat, yang lebih menekankan pada rasa malu dan ketidaknyamanan daripada kerja sama.
  • Kudapan Disiplin: Secara harfiah berarti camilan untuk kedisiplinan. Ini sering merujuk pada hukuman seperti memakan cabai rawit, atau makanan yang sangat asam/pahit sebagai konsekuensi atas “pelanggaran” aturan tak tertulis.
  • Minum Teh Kepercayaan: Secara harfiah berarti minum teh untuk membangun kepercayaan. Dalam praktiknya, bisa berupa perintah untuk meminum air yang telah dicampur dengan berbagai bahan tidak lazim (seperti saus, kecap, air bekas cucian piring) atas nama “kepercayaan” pada senior bahwa itu tidak berbahaya.
  • Piring Kosong Berbunyi: Secara harfiah adalah piring kosong yang menghasilkan bunyi. Ini adalah istilah untuk hukuman di mana peserta harus memperagakan makan dengan piring kosong, mengeluarkan suara seolah-olah sedang menikmati makanan, sebuah performa yang bertujuan untuk mempermalukan.

Metafora sebagai Alat Pengalihan

Makanan dan Kebohongan dalam Istilah MOS

Source: akamaized.net

Bayangkan sebuah sesi di lapangan sore hari. Peserta lelah dan lapar. Seorang senior lalu berkata, “Sekarang kita akan memasak ‘Sup Persaudaraan’. Bahan-bahannya adalah keringat kalian dari tadi pagi, air mata dedikasi, dan suara komando yang terkumpul. Siapkan ‘panci’ kebersamaan kalian!” Peserta kemudian disuruh berbaris membentuk lingkaran dan melakukan aktivitas fisik tambahan atau bernyanyi dengan kode tertentu.

Tidak ada sup yang benar-benar dimasak. Fokus peserta sepenuhnya dialihkan ke upaya memahami dan memenuhi metafora “memasak sup” itu, sementara kelelahan fisik mereka dieksploitasi lebih jauh. Tindakan yang melelahkan dan mungkin tidak edukatif itu berhasil dikamuflasekan menjadi bagian dari proses “memasak” sesuatu yang abstrak dan terdengar positif: persaudaraan.

Leksikon kuliner absurd dalam MOS ini merupakan perwujudan kekuasaan simbolik dalam pendidikan. Pierre Bourdieu menjelaskan kekuasaan simbolik sebagai kekuatan untuk membentuk realitas melalui kategori pemahaman, sistem simbol, dan konsep-konsep yang diterima sebagai sesuatu yang taken for granted. Senior, sebagai agen yang memiliki modal simbolik sementara, menciptakan sistem kategori bahasa baru (seperti “nasi kepahlawanan”). Dengan menerima dan menggunakan bahasa ini tanpa kritis, junior secara tidak sadar mengakui legitimasi kekuasaan senior dan tatanan hierarkis yang mereka ciptakan. Bahasa makanan yang absurd menjadi alat untuk mengukuhkan dominasi, karena ia memaksa penerima untuk masuk ke dalam logika permainan simbolik si penguasa, di mana kritik terhadap tindakan menjadi sulit karena dibungkus oleh lapisan metafora yang “tidak berbahaya”.

Pesta Bahasa sebagai Kamuflase Eksploitasi Sosial

Puncak dari banyak rangkaian MOS seringkali adalah sebuah perayaan, sebuah pesta makan bersama yang meriah. Acara ini dipersembahkan sebagai simbol rekonsiliasi, tanda berakhirnya masa “penggemblengan”, dan awal dari persaudaraan sejati. Namun, jika dicermati, pesta ini berfungsi sebagai penutup yang sangat efektif atas kebohongan struktural yang terjadi sebelumnya. Ia adalah alat kamuflase emosional.

Pesta akhir MOS beroperasi dengan logika “hadiah” setelah hukuman. Setelah seminggu mengalami pembatasan makanan, kelaparan yang direkayasa, dan konsumsi “makanan penderitaan”, peserta tiba-tiba dihadapkan pada hidangan yang melimpah, enak, dan bebas. Kontras yang dramatis ini menciptakan efek psikologis yang kuat: rasa syukur dan euforia yang meluap-luap. Emosi positif ini dengan cepat menimpali memori negatif selama seminggu. Peserta diajak untuk percaya bahwa semua kesulitan itu adalah “proses” yang diperlukan untuk mencapai “hadiah” yang manis ini.

Dengan demikian, pesta menjadi pembenaran akhir untuk seluruh rangkaian eksploitasi. Ia menciptakan narasi penutup yang rapi: semua penderitaan ada tujuannya, dan tujuan itu adalah kebersamaan yang sekarang dinikmati. Kebohongan struktural—bahwa sebenarnya proses pendidikan tidak perlu melibatkan penderitaan fisik dan psikologis—berhasil ditutupi oleh gemerlap pesta dan janji silaturahmi.

Fase, Kamuflase, dan Residu Emosi MOS

Fase MOS Jenis Kamuflase Bahasa Kuliner Fungsi Sosial Residu Emosi yang Tertinggal
Awal/Pengenalan Istilah-istilah absurd (“Sarapan Kejujuran”) Mengacaukan logika normal, menciptakan ketergantungan pada pemandu (senior). Kebingungan, disorientasi, dan keinginan untuk “paham”.
Inti/Proses Metafora penderitaan (“Nasi Kepahlawanan”) Membingkai ketidaknyamanan sebagai nilai moral, mengalihkan protes. Frustrasi yang terpendam, rasa solidaritas semu yang dipaksakan.
Puncak/Perayaan Janji “pesta” dan “silaturahmi” melalui makan besar. Menggantikan memori negatif dengan euforia kolektif, menormalisasi siklus eksploitasi. Syukur palsu, rekonsiliasi yang dipaksakan, dan pembenaran terhadap keseluruhan proses.
Pasca-MOS Leksikon menjadi kenangan dan lelucon internal (“Ingat nasi Atlantis?”). Memperkuat identitas kelompok eksklusif dan melanggengkan tradisi untuk angkatan berikutnya. Nostalgia yang terdistorsi, di mana trauma dikenang sebagai pengalaman pengikat.

Kontradiksi Janji Silaturahmi dan Praktik Pengucilan

Janji silaturahmi dalam pesta makan akhir sangat kontradiktif dengan praktik pengucilan yang terjadi selama proses. Sebagai contoh, selama MOS, sering ada mekanisme “makanan khusus” untuk peserta yang dianggap “melanggar”. Mereka mungkin disuruh makan terpisah, dengan porsi lebih sedikit, atau makanan yang lebih tidak layak. Mereka diasingkan secara simbolis melalui makanan. Lalu, di pesta akhir, semua orang diajak duduk bersama, bersorak, dan menyantap makanan yang sama sambil diingatkan, “Kita sekarang adalah satu keluarga.” Pengucilan sistematis selama seminggu tiba-tiba dihapus dengan sepotong ayam bakar dan segelas minuman manis.

BACA JUGA  Butuh Bantuan yang Mengerti Ini Memahami Makna di Balik Permintaan

Peserta yang sebelumnya diasingkan, dalam euforia dan kelegaan, cenderung menerima narasi rekonsiliasi instan ini. Padahal, pola pengucilan itu sendiri tidak pernah dibahas atau dimintai maaf; ia hanya dilupakan di bawah meja pesta. Silaturahmi yang dijanjikan ternyata bersyarat: patuh dulu, baru diterima sepenuhnya.

Suasana Pesta Rekonsiliasi Akhir MOS

Suasana ruangan dipenuhi dengan gemuruh tawa dan obrolan yang riuh, sebuah kebisingan yang kontras dengan kesunyian terpaksa selama sesi-sesi perintah. Lampu soray berwarna-warni memantul dari wajah-wajah yang berkeringat dan tersenyum lega. Bau gorengan, sate, dan nasi kebuli yang gurih menggantikan bau keringat dan ketegangan. Para senior yang selama ini berwajah keras tiba-tiba terlihat santai, bahkan melayani makanan kepada junior. Dinamika psikologis di ruangan itu kompleks.

Di satu sisi, ada kelegaan yang nyata karena tekanan telah berakhir. Di sisi lain, ada rasa bingung dan ketidakpercayaan yang terselubung. Beberapa peserta larut dalam euforia, makan dengan lahap seolah-olah ingin membalas semua “hutang” rasa lapar minggu itu. Yang lain diam-diam mengamati, merasakan sebuah ketidaknyamanan yang samar karena peralihan peran yang terlalu drastis ini. Mereka merasakan sebuah tekanan baru: tekanan untuk menunjukkan bahwa mereka “sudah berbaur” dan “memaafkan”, tekanan untuk ikut tertawa ketika senior melucu tentang “nasi Atlantis” yang kini jadi bahan lelucon.

Pesta itu bukanlah akhir yang tulus, melainkan sebuah transisi menuju normalisasi hierarki yang sama, hanya saja kini dibungkus dengan rasa kenyang dan kenangan manis yang direkayasa.

Resep Manipulasi Emosi dari Dapur Senioritas: Makanan Dan Kebohongan Dalam Istilah MOS

Penggunaan makanan dalam MOS bukanlah hal yang kebetulan, melainkan sebuah resep yang telah teruji untuk memproduksi emosi tertentu pada peserta. Resep ini memanfaatkan kebutuhan fisiologis paling dasar—makan dan minum—sebagai tuas untuk mengendalikan kondisi psikologis. Formula taktisnya dibangun di atas tiga pilar utama: penciptaan kelaparan (kebutuhan), pengaturan jatah (kontrol), dan pemberian hadiah (imbalan).

Dengan mengacak jadwal makan dan menyajikan makanan yang tidak memadai, senior menciptakan keadaan kelaparan dan ketidakpastian yang konstan. Kondisi fisiologis ini melemahkan daya kritis dan meningkatkan sugestibilitas. Dalam keadaan lapar, manusia cenderung lebih patuh untuk mendapatkan makanan. Lalu, kontrol atas jatah makanan menjadi alat disiplin yang sangat nyata. Peserta yang “baik” mungkin mendapat sedikit tambahan, sementara yang “melanggar” mendapat pengurangan atau makanan yang lebih buruk.

Ini menciptakan ekonomi emosi mikro di mana rasa takut kehilangan akses makanan dan harapan untuk mendapat perlakuan lebih baik menjadi penggerak perilaku. Akhirnya, pemberian hadiah makanan (seperti snack di malam hari atau pesta akhir) memproduksi rasa syukur yang luar biasa besar, yang seringkali tidak proporsional dengan nilai makanan itu sendiri. Rasa syukur ini diarahkan bukan pada makanan, tetapi pada pemberi—para senior.

Dengan demikian, siklus manipulasi emosi menjadi lengkap: dari takut, patuh, hingga ke syukur palsu yang mengukuhkan posisi senior sebagai pihak yang “berkuasa” dan “berbelas kasih”.

Bahan-Bahan dan Cara Memasak Manipulasi

  • Ketidakpastian Jadwal Makan: Cara memasak: Umumkan jadwal makan yang tidak jelas atau sering berubah-ubah. Biarkan peserta menebak-nebak dan menunggu. Efeknya menciptakan kecemasan rendah yang konstan dan membuat setiap pemberian makanan terasa seperti anugerah.
  • Label Makanan Khusus: Cara memasak: Beri nama-nama heroik atau absurd pada makanan sederhana. Sajikan dengan ritual kata-kata tertentu. Efeknya mengalihkan penilaian sensorik (rasa tidak enak) ke penilaian simbolik (nilai pengorbanan).
  • Sistem Poin atau Tukar Guling Makanan: Cara memasak: Kaitkan akses terhadap makanan atau jenis makanan dengan performa dalam tugas atau hukuman kelompok. Efeknya menciptakan persaingan dan rasa bersalah antarpeserta, sekaligus mengalihkan amarah dari pengatur sistem (senior) ke sesama peserta.
  • Makanan sebagai Hadiah Insidental: Cara memasak: Berikan camilan atau minuman manis secara tiba-tiba di luar jadwal, terutama setelah sesi yang sangat melelahkan. Efeknya memicu pelepasan dopamin dan mengasosiasikan kehadiran senior dengan kelegaan dan kesenangan, membangun ikatan emosial yang positif namun tidak kritis.
  • Makan Bersama dengan Aturan Kaku: Cara memasak: Atur posisi duduk, urutan makan, dan bahkan cara mengunyah selama sesi makan bersama. Efeknya mengubah kebutuhan alamiah menjadi ujian kepatuhan, di mana setiap gerakan diawasi dan dinilai.

Tahap Pengubahan Makan Menjadi Ujian Loyalitas

Aktivitas makan yang seharusnya bersifat personal dan menyenangkan diubah menjadi sebuah teater loyalitas melalui prosedur bertahap. Dimulai dari pengaturan tempat duduk yang hierarkis, dilanjutkan dengan instruksi untuk tidak menyentuh makanan sebelum ada komando, lalu diikuti dengan ritme makan yang dikendalikan (misalnya, satu suap setiap kali ada tepukan). Tahap kunci yang paling sering menjadi penentu adalah “sesi berbagi paksa”.

“Sebelum kalian menyentuh nasi di depan kalian, lihatlah ke kanan dan kiri. Itulah saudara kalian. Sekarang, ambil separuh dari lauk yang ada di piring kalian, dan letakkan di piring teman di sebelah kanan. Lalu, terima separuh lauk dari teman di sebelah kiri. Kalian tidak boleh memilih, tidak boleh protes. Makanan di piring kalian sekarang adalah milik bersama. Siapa yang makan sebelum semua selesai berbagi, berarti egois dan tidak layak mendapat makanan ini.”

Tahap ini menguji loyalitas pada aturan kelompok yang irasional. Peserta dipaksa untuk melepaskan kendali atas makanan yang sudah di depan mata demi sebuah performa “kebersamaan”. Loyalitas bukan lagi pada prinsip atau diri sendiri, tetapi pada kepatuhan buta terhadap ritual yang ditetapkan senior.

Kemiripan dengan Pola Propaganda dan Kontrol Massa

Pola bahasa kuliner dalam MOS ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan mekanisme propaganda atau kontrol massa dalam konteks yang lebih besar. Keduanya menggunakan bahasa eufemistik untuk membungkus realitas yang keras. “Nasi kepahlawanan” sama absurdnya dengan “pembersihan etnis” untuk genosida atau “tindakan polisi pre-emptif” untuk kekerasan negara. Keduanya juga mengontrol melalui kelangkaan. Regim yang mengontrol distribusi pangan dapat mengendalikan populasi, sama seperti senior yang mengontrol jadwal dan jatah makan dapat mengendalikan perilaku peserta.

Pesta akhir MOS juga mirip dengan “roti dan sirkus” (bread and circuses) di era Romawi, di mana penguasa memberikan hiburan dan makanan gratis untuk meredakan ketidakpuasan rakyat dan mengalihkan perhatian dari masalah struktural. Ilustrasinya adalah sebuah negara yang mengalami krisis ekonomi parah, lalu pemerintah menggelar festival musik nasional dengan membagikan makanan gratis secara besar-besaran. Euforia sesaat dari konser dan makanan itu menciptakan ilusi bahwa segala sesuatu baik-baik saja, sementara akar permasalahan ekonomi tidak pernah disentuh.

BACA JUGA  Momentum Benda 100 g v=10 m/s a=2 m/s² t=5 s dan Kisah Geraknya

Demikian pula, pesta akhir MOS menciptakan ilusi persaudaraan dan keberhasilan proses, sementara trauma dan pola hierarki eksploitatif yang ditanamkan tidak pernah dibongkar.

Arkeologi Linguistik pada Menu Perundungan Berbasis Asrama

Untuk memahami kedalaman leksikon kuliner dalam MOS, kita perlu melakukan semacam penggalian arkeologis linguistik, terutama di lingkungan yang tertutup dan tradisional seperti asrama atau kampus tertentu dengan sejarah panjang. Istilah-istilah seperti “Nasi Jenderal” atau “Teh Kolonel” tidak muncul begitu saja; mereka sering kali memiliki akar historis yang terkait dengan figur otoritas di lingkungan tersebut, masa perjuangan kampus, atau bahkan plesetan dari peristiwa tertentu.

Perkembangannya bersifat organik namun terarah. Sebuah istilah mungkin muncul secara spontan pada suatu angkatan karena sebuah insiden—misalnya, seorang peserta bernama Joni yang selalu mendapat jatah nasi terbanyak, lalu disebut “Nasi Joni”. Sepanjang waktu, cerita aslinya memudar, tetapi istilahnya bertahan dan berevolusi. “Nasi Joni” bisa berubah menjadi “Nasi Joni-isme” yang berarti makan dengan rakus, lalu akhirnya disederhanakan menjadi “Joni” sebagai kode untuk sesi makan terburu-buru.

Proses ini menunjukkan bagaimana bahasa hidup dan beradaptasi, tetapi dalam konteks MOS, adaptasi itu sering kali dikurung dalam tembok tradisi dan digunakan untuk melanggengkan praktik yang sebenarnya sudah usang. Lingkungan tertutup asrama mempercepat proses ini dan membuat leksikon menjadi sangat spesifik dan tidak terpahami oleh orang luar.

Katalogisasi Istilah dan Transformasi Makna

Istilah Perkiraan Era Kemunculan Konteks Aktivitas Awal Transformasi Makna
Roti Meringkuk 1990-an (era kelangkaan roti di kantin asrama) Makan roti sisa yang sudah lembek dan “meringkuk” sebagai hukuman telat bangun. Dari hukuman spesifik menjadi istilah umum untuk sarapan pagi buta yang terburu-buru, terlepas dari jenis makanannya.
Susu Kuda Liar Awal 2000-an (maraknya minuman energi murah) Minuman campuran susu kental manis, kopi, dan jahe yang disajikan untuk peserta yang lesu, membuat mereka “liar” seperti kuda. Berubah dari penyemangat menjadi minuman wajib di sesi tengah malam untuk mencegah tidur, komposisinya bisa berubah-ubah.
Gula-gula Solidaritas Era 1980-an (tradisi bagi-bagi permen) Permen yang dibagikan senior baru kepada junior sebagai tanda penerimaan. Makna membalik: menjadi permen yang harus “dipohon” junior dengan melakukan tugas memalukan, solidaritas menjadi transaksi kuasa.
Mie Instan Reformasi Pasca 1998 (euforia reformasi) Menyantap mie instan bersama setelah demonstrasi kecil mahasiswa. Kehilangan konteks politik, menjadi sekadar istilah untuk makan malam mendadak di luar jadwal, sering kali masih dalam kemasan tanpa direbus dengan benar.

Pertahanan Istilah Usang sebagai Ritual

Menariknya, banyak istilah yang sudah kehilangan konteks historis aslinya tetap dipertahankan dengan kuat. Alasannya sering kali klise: “Dulu kami juga mengalaminya,” atau “Ini adalah tradisi turun-temurun.” Pertahanan ini bukan sekadar nostalgia, tetapi sebuah mekanisme pembenaran. Dengan menjadikan istilah-istilah usang tersebut sebagai bagian dari ritual yang sakral, para senior mengukuhkan otoritas mereka sebagai penjaga tradisi. Proses penerjemahan makna yang hilang dari angkatan ke angkatan justru menjadi inti ritual itu sendiri.

Junior tidak perlu tahu mengapa disebut “Mie Instan Reformasi”; yang penting mereka menjalani ritual memakannya sesuai aturan yang diturunkan. Ketidaktahuan ini justru memperkuat misteri dan kepatuhan, karena makna sejati hanya diketahui oleh mereka yang “telah melalui proses” sepenuhnya—yaitu para senior.

Leksikon sebagai Kode Rahasia dan Pembatas Akses

Leksikon kuliner MOS berfungsi sebagai kode rahasia yang kompleks. Ia menjadi penanda identitas kelompok yang sangat kuat; kemampuan untuk memahami dan menggunakan istilah-istilah seperti “Joni” atau “Roti Meringkuk” dengan lancar menandakan keanggotaan penuh dalam komunitas asrama atau kampus tersebut. Namun, di sisi lain, kode ini secara efektif membatasi akses informasi dan menjadi alat pengucilan bagi pihak luar, termasuk junior baru di awal masa mereka. Pada tahap awal, kebingungan terhadap bahasa ini sengaja diciptakan untuk mempertegas batas antara “yang tahu” (senior, in-group) dan “yang tidak tahu” (junior, out-group). Proses pembelajaran kode bahasa ini, yang sering kali melalui penghinaan atau koreksi, adalah proses inisiasi itu sendiri. Dengan menguasai kode, junior secara bertahap diterima, tetapi penerimaan itu bersyarat pada penerimaan mereka terhadap seluruh sistem hierarki dan nilai yang dibawa oleh bahasa tersebut. Dengan demikian, leksikon bukan sekadar kumpulan kata lucu, melainkan sistem simbol yang menjaga batas kelompok dan melindungi praktik internal dari intervensi dan kritik eksternal.

Ringkasan Akhir

Jadi, apa yang sebenarnya kita petik dari pembahasan panjang ini? Bahwa istilah-istilah kuliner dalam MOS jauh lebih dari sekadar kode atau guyonan. Ia adalah arsitektur bahasa yang dibangun dengan sengaja untuk menggerakkan mesin tradisi, mempertahankan hierarki senioritas, dan yang paling penting, mengaburkan garis antara pembinaan dengan perploncoan. Ketika kita memaknai “nasi kepahlawanan” sebagai sebuah keabsahan, tanpa sadar kita telah menelan pula logika di baliknya yang penuh rekayasa.

Pada akhirnya, mengurai benang kusut antara makanan dan kebohongan dalam MOS adalah langkah awal untuk kesadaran kritis. Kesadaran bahwa bahasa punya kekuatan untuk melukai sekaligus memanipulasi, bahkan melalui hal yang terlihat remeh seperti menu makan siang. Dengan membongkar leksikon ini, kita bukan hanya mengkritisi sebuah tradisi kampus, tetapi juga berlatih untuk tidak mudah percaya pada setiap narasi yang dibungkus dengan kemasan yang terlihat mulia.

Sebab, seringkali, kebenaran justru tersembunyi di balik kata-kata yang paling kita anggap biasa.

Tanya Jawab (Q&A)

Apakah penggunaan istilah makanan seperti ini hanya terjadi di Indonesia?

Tidak. Pola penggunaan metafora dan bahasa khusus untuk membangun identitas kelompok serta kekuasaan ditemukan dalam banyak tradisi orientasi atau hazing di berbagai negara, meski konteks dan jenis makanannya berbeda.

Bagaimana cara membedakan antara “tradisi kekeluargaan” yang sehat dengan manipulasi melalui makanan dalam MOS?

Perhatikan adanya unsur paksaan, ketidaknyamanan yang sengaja diciptakan, dan ketimpangan kuasa. Tradisi yang sehat bersifat sukarela, inklusif, dan tidak menggunakan kelaparan atau label makanan untuk menimbulkan rasa takut atau hutang budi.

Apakah peserta MOS biasanya menyadari mereka sedang dimanipulasi melalui bahasa makanan?

Seringkali tidak, terutama saat mereka tengah berada dalam tekanan fisik dan emosional. Kesadaran biasanya datang belakangan, setelah proses usai atau ketika mereka menjadi senior dan meneruskan pola yang sama.

Dampak jangka panjang apa yang bisa ditimbulkan dari praktik semacam ini?

Dampaknya bisa berupa normalisasi kekerasan simbolik, menginternalisasi hierarki yang tidak sehat, serta memori kolektif yang terdistorsi tentang arti solidaritas dan pengorbanan yang sesungguhnya.

Langkah apa yang bisa diambil kampus untuk mencegah penyalahgunaan metafora makanan dalam MOS?

Kampus dapat membuat pedoman jelas yang melarang penggunaan istilah yang mendiskreditkan atau memanipulasi, mengawasi menu dan jadwal makan, serta membuka saluran pengaduan bagi praktik-praktik yang menyimpang dari semangat pendidikan.

Leave a Comment