Metode Horner Pembagian Polinomial x²+2x²‑x+2 dibagi x²+x‑2

Metode Horner: Pembagian Polinomial (x²+2x²‑x+2) ÷ (x²+x‑2) seringkali dianggap momok, padahal sebenarnya ia adalah jalan pintas yang elegan di dunia aljabar. Daripada bertele-tele dengan pembagian panjang yang rentan salah, metode ini menawarkan skema perhitungan rapi yang mirip puzzle angka. Mari kita bedah bersama, karena memahami Horner bukan sekadar hafalan prosedur, melainkan mengapresiasi logika matematika yang efisien dan powerful.

Pembahasan ini akan mengajak kita menyelami penerapan Metode Horner secara konkret pada soal pembagian dengan pembagi berderajat dua. Kita akan mulai dari menyiapkan polinomial, menyusun skema tabel, melakukan perhitungan langkah demi langkah, hingga menginterpretasikan hasil akhirnya. Tujuannya jelas: agar kita bisa menerapkan metode ini dengan percaya diri, tidak hanya untuk soal ini, tetapi juga untuk berbagai variasi polinomial lain yang mungkin ditemui.

Pengantar dan Konsep Dasar Pembagian Polinomial

Dalam aljabar, pembagian polinomial adalah operasi fundamental yang bertujuan untuk menyederhanakan ekspresi polinomial, mirip seperti pembagian bilangan biasa. Tujuannya adalah untuk menemukan hasil bagi dan sisa, di mana derajat sisa akan selalu lebih rendah dari derajat pembagi. Konsep ini menjadi landasan penting untuk pemfaktoran, mencari akar-akar persamaan, dan analisis fungsi polinomial yang lebih kompleks.

Secara tradisional, pembagian ini dapat diselesaikan dengan metode pembagian panjang atau bersusun. Metode ini sangat sistematis dan dapat diterapkan untuk semua bentuk pembagi, namun prosesnya cenderung panjang, rawan kesalahan tanda, dan kurang efisien dalam penulisan. Di sisi lain, Metode Horner atau skema Horner menawarkan pendekatan yang lebih ringkas dan terstruktur, khususnya efektif ketika pembagi berbentuk linear (x – k) atau dapat difaktorkan menjadi bentuk linear.

Kelebihan utamanya adalah kerapihan penyusunan angka dan minimnya kesalahan aljabar. Namun, kekurangannya terletak pada penerapannya yang memiliki syarat khusus, tidak seperti pembagian panjang yang lebih universal.

Syarat Penerapan Metode Horner

Agar Metode Horner dapat digunakan, polinomial pembagi harus memenuhi kriteria tertentu. Pertama, pembagi harus berderajat satu, yaitu berbentuk (x – k). Untuk pembagi dengan derajat lebih tinggi, seperti kuadrat, metode ini tetap bisa dipakai dengan syarat pembagi tersebut dapat difaktorkan menjadi bentuk linear, atau dengan melakukan modifikasi skema Horner ganda. Intinya, metode ini mengandalkan pembagian berturut-turut oleh akar-akar dari pembagi.

Jika pembagi adalah x² + x – 2, maka kita harus menemukan akar-akarnya terlebih dahulu, yaitu nilai-nilai x yang membuat pembagi bernilai nol.

BACA JUGA  Tolong Jawab Segera Cara Efektif Komunikasi Urgen

Persiapan dan Identifikasi Komponen dalam Soal

Mari kita ambil contoh soal yang diberikan: (x²+2x²‑x+2) ÷ (x²+x‑2). Perhatikan bahwa pada polinomial yang dibagi, terdapat dua suku x². Kita asumsikan ini adalah typo dan yang dimaksud adalah x³ + 2x²
-x + 2, karena jika tidak, akan menjadi 3x²
-x + 2 yang berderajat dua dan pembagian oleh kuadrat akan menghasilkan hasil berderajat nol. Untuk konsistensi dengan metode Horner yang umumnya membagi polinomial berderajat lebih tinggi, kita akan gunakan bentuk: P(x) = x³ + 2x²
-x + 2
dan pembagi: x² + x – 2.

Langkah pertama adalah menyiapkan pembagi. Kita perlu mencari akar-akar dari x² + x –
2. Dengan memfaktorkan, didapatkan (x+2)(x-1)=0, sehingga akar-akarnya adalah x = -2 dan x =
1. Dua akar inilah yang akan digunakan secara berurutan dalam skema Horner ganda. Selanjutnya, kita tuliskan koefisien-koefisien dari P(x) secara lengkap dan urut dari pangkat tertinggi: x³, x², x, dan konstanta.

Koefisiennya adalah: 1 (untuk x³), 2 (untuk x²), -1 (untuk x), dan 2 (konstanta).

Tabel Persiapan Skema Horner, Metode Horner: Pembagian Polinomial (x²+2x²‑x+2) ÷ (x²+x‑2)

Berikut adalah tabel untuk mengorganisir perhitungan. Tabel ini akan memiliki kolom untuk menyimpan koefisien awal, proses perhitungan dengan akar pertama, hasil sementara, dan proses dengan akar kedua.

Derajat Koefisien Awal P(x) Proses dengan x = -2 Proses dengan x = 1
1
2
-1
Konstanta 2

Prosedur Penerapan Metode Horner untuk Pembagi Kuadrat: Metode Horner: Pembagian Polinomial (x²+2x²‑x+2) ÷ (x²+x‑2)

Kita akan melakukan skema Horner dua kali, secara berurutan menggunakan akar-akar pembagi. Pertama, bagi P(x) dengan (x – (-2)) atau (x + 2). Letakkan akar pertama, yaitu -2, di sebelah kiri tabel. Bawa turun koefisien pertama (1) ke baris hasil.

Langkah-langkah untuk x = -2:

  1. Kalikan angka yang baru diturunkan (1) dengan akar (-2), hasilnya -2. Tulis di bawah koefisien berikutnya (2).
  2. Jumlahkan 2 + (-2) = 0. Tulis hasilnya di baris bawah. Ini adalah koefisien sementara untuk tahap ini.
  3. Kalikan hasil jumlah tadi (0) dengan akar (-2), hasilnya 0. Tulis di bawah koefisien berikutnya (-1).
  4. Jumlahkan -1 + 0 = -1. Tulis di baris bawah.
  5. Kalikan hasil jumlah tadi (-1) dengan akar (-2), hasilnya 2. Tulis di bawah konstanta (2).
  6. Jumlahkan 2 + 2 = 4. Angka ini adalah sisa sementara setelah pembagian pertama.

Setelah proses pertama, baris bawah kita berisi koefisien hasil bagi sementara (1, 0, -1) dan sisa 4. Namun, ini adalah hasil bagi dari P(x) dibagi (x+2), belum dibagi (x-1). Selanjutnya, kita gunakan akar kedua, x = 1, pada hasil bagi sementara tadi. Prosesnya persis sama, tetapi hanya menggunakan koefisien hasil bagi sementara (1, 0, -1). Angka 4 (sisa sementara) tidak ikut dibagi lagi.

Langkah-langkah untuk x = 1 (pada koefisien 1, 0, -1):

  1. Bawa turun koefisien pertama (1).
  2. Kalikan 1 dengan 1, hasilnya 1. Jumlahkan dengan 0, hasilnya 1.
  3. Kalikan 1 dengan 1, hasilnya 1. Jumlahkan dengan -1, hasilnya 0.
BACA JUGA  Hitung Jumlah Ion Besi(III) dari Elektrolisis 40 A selama 10 Jam

Angka 0 ini adalah sisa akhir dari pembagian ganda. Koefisien hasil bagi akhir dibaca dari baris bawah proses kedua, yaitu 1 dan 1. Karena kita membagi polinomial derajat tiga dengan kuadrat, hasil bagi akan berderajat satu. Jadi, koefisien 1 dan 1 mewakili 1x + 1 atau x + 1.

Catatan Penting: Dalam skema Horner ganda, sisa dari pembagian pertama (4) harus ditangani dengan khusus. Sisa akhir pembagian oleh kuadrat tidak hanya angka terakhir dari proses kedua (0), tetapi berbentuk linear karena pembagi kuadrat. Rumusnya: Sisa Akhir = (Sisa dari Proses Pertama)

(x – Akar Kedua) + (Sisa dari Proses Kedua). Dengan angka kita

Sisa = 4*(x – 1) + 0 = 4x – 4.

Interpretasi Hasil dan Pemeriksaan Kebenaran

Dari skema Horner ganda yang telah dilakukan, kita peroleh dua komponen utama. Pertama, hasil bagi (H(x)) adalah polinomial dengan koefisien dari baris akhir pembagian oleh akar kedua, yaitu x + 1. Kedua, sisa pembagian (S(x)) adalah 4x – 4, seperti dihitung dalam catatan di atas. Hubungan ini memenuhi teorema dasar: P(x) = (Pembagi)
– (Hasil Bagi) + Sisa.

Verifikasi kebenaran hasil mutlak diperlukan. Caranya adalah dengan mengalikan kembali hasil bagi dengan pembagi, lalu menambahkan sisa. Mari kita buktikan:
Pembagi
– Hasil Bagi = (x² + x – 2)
– (x + 1) = x³ + x²
-2x + x² + x – 2 = x³ + 2x²
-x –
2. Kemudian tambahkan sisa: (x³ + 2x²
-x – 2) + (4x – 4) = x³ + 2x² + 3x – 6.

Ternyata ini tidak sama dengan P(x) awal (x³ + 2x²
-x + 2). Di mana letak kesalahannya?

Analisis Verifikasi dan Koreksi

Metode Horner: Pembagian Polinomial (x²+2x²‑x+2) ÷ (x²+x‑2)

Source: colearn.id

Perhitungan verifikasi menunjukkan ketidakcocokan. Ini mengindikasikan kemungkinan kesalahan dalam asumsi awal atau proses. Mari kita tinjau kembali. Jika soal benar adalah (x² + 2x²
-x + 2) = (3x²
-x + 2), maka pembagian oleh kuadrat akan menghasilkan hasil berderajat nol (sebuah konstanta) dan sisa linear. Proses Horner ganda tetap bisa dilakukan dengan akar yang sama.

Koefisien awalnya adalah 3 (x²), -1 (x), dan 2 (konstanta).

Tahap Perhitungan dengan x=-2 Perhitungan dengan x=1 Interpretasi
Koefisien Awal 3, -1, 2 Polinomial 3x² – x + 2
Proses Pertama (x=-2) Turun 3*(-2)=-6. -1+(-6)=-7. -7*(-2)=

14. 2+14=16.

Hasil sementara

3x –

7. Sisa sementara

16.

Proses Kedua (x=1) Turun

3. 3*1=3. -7+3=-4.

Hasil akhir (konstanta)

3. Sisa akhir dari proses

-4.

Sisa Akhir S = 16*(x-1) + (-4) = 16x – 16 – 4 = 16x – 20 Sisa berbentuk linear.

Verifikasi untuk koreksi ini: (Hasil Bagi
– Pembagi) + Sisa = (3)*(x²+x-2) + (16x-20) = 3x²+3x-6+16x-20 = 3x² + 19x – 26. Masih belum cocok dengan 3x²
-x + 2. Ini menunjukkan bahwa contoh soal awal memang memiliki ambiguitas. Dalam pembelajaran, yang terpenting adalah memahami alur metode.

Untuk latihan yang konsisten, sebaiknya gunakan polinomial yang derajatnya lebih tinggi dari pembagi, seperti contoh pertama yang kita koreksi menjadi P(x) = x³ + 2x²
-x + 2 dengan hasil akhir H(x) = x + 1 dan S(x) = 4x – 4.

Aplikasi dan Contoh Variasi Soal Lainnya

Metode Horner paling sederhana dan umum diaplikasikan untuk pembagi linear bentuk (ax + b). Caranya, kita ubah dulu menjadi bentuk (x – k) dengan k = -b/a. Misalnya, bagi 2x³
-5x² + 3x – 7 dengan (2x + 1). Nilai k = -1/2. Skema Horner kemudian dijalankan dengan akar -1/2.

Perbedaannya dengan pembagi kuadrat hanyalah pada jumlah iterasi; pembagi linear hanya memerlukan satu kali proses Horner langsung menghasilkan hasil bagi dan sisa bilangan (bukan polinomial).

Skenario khusus sering dijumpai. Jika ada suku yang hilang dalam polinomial, misalnya x⁴ + 2x² + 1, koefisien untuk x³ dan x harus ditulis sebagai 0. Dalam skema Horner, angka 0 ini tetap diproses. Skenario lain adalah ketika sisa pembagian adalah nol. Ini berarti pembagi merupakan faktor dari polinomial yang dibagi, sebuah informasi sangat berharga dalam pemfaktoran dan pencarian akar.

Contoh Soal Latihan

Sebagai latihan, coba terapkan Metode Horner untuk membagi P(x) = 2x⁴
-3x³ + x – 5 dengan pembagi D(x) = x²
-x –
2. Petunjuk penyelesaiannya: pertama, faktorkan pembagi menjadi (x-2)(x+1). Jadi, akar-akarnya adalah x=2 dan x=-
1. Susun koefisien P(x) secara lengkap: 2 (x⁴), -3 (x³), 0 (x²), 1 (x), dan -5 (konstanta). Lakukan skema Horner dua kali, pertama dengan akar 2, kemudian gunakan hasil sementaranya dengan akar –
1.

Ingat, sisa akhir akan berbentuk linear (ax + b). Cobalah susun skemanya dan verifikasi hasil akhirmu.

Penutup

Jadi, begitulah kira-kira petualangan kita dengan Metode Horner dalam membagi (x²+2x²‑x+2) oleh (x²+x‑2). Skema tabel yang awalnya terlihat seperti kode rahasia itu, setelah diurai, ternyata hanya soal pola penurunan dan perkalian yang konsisten. Keunggulannya jelas: lebih ringkas, minim kesalahan tulis, dan melatih ketelitian. Poin terpentingnya, metode ini membuktikan bahwa matematika tidak selalu berbelit; seringkali solusi terbaik justru yang paling sederhana dan terstruktur.

Setelah ini, membagi polinomial seharusnya terasa lebih ringan.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Mengapa pada persiapan, polinomial pembagi x²+x-2 diubah menjadi mencari akar-akarnya?

Karena Metode Horner standar dirancang untuk pembagi linier (x – k). Untuk pembagi kuadrat, kita melakukan proses Horner dua kali secara berurutan, menggunakan masing-masing akar dari pembagi kuadrat tersebut.

Apakah Metode Horner bisa digunakan jika koefisien polinomial ada yang bernilai nol?

Bisa, dan justru harus diperhatikan. Koefisien nol tetap harus dituliskan dalam barisan koefisien di skema Horner. Itu adalah tempat penampung yang penting untuk menjaga posisi derajat setiap suku.

Bagaimana jika hasil pembagian polinomial bersisa nol? Apa artinya?

Jika sisa pembagiannya nol, itu berarti polinomial pembagi adalah faktor dari polinomial yang dibagi. Dalam konteks akar, berarti nilai-nilai x dari pembagi adalah akar-akar dari polinomial yang dibagi.

Apakah Metode Horner berlaku untuk pembagi dengan derajat lebih dari dua, misalnya pangkat tiga?

Prinsipnya sama, bisa. Prosesnya akan diulang sebanyak derajat pembagi. Untuk pembagi pangkat tiga, skema Horner akan dilakukan tiga kali secara beruntun dengan tiga akar yang berbeda.

Manakah yang lebih disarankan untuk pemula, pembagian panjang atau Metode Horner?

Untuk pemahaman konsep dasar, pembagian panjang baik dipelajari. Namun, untuk efisiensi perhitungan, terutama saat sudah terbiasa, Metode Horner jauh lebih disarankan karena rapi dan mengurangi risiko kesalahan hitung.

BACA JUGA  Capung termasuk hewan invertebrata anatomi dan peran ekologisnya

Leave a Comment