Soal IPS Terpadu: OKI, Solidaritas Islam, Palestina, Tradisi Tanam bukan cuma kumpulan topik untuk dihafal, tapi sebuah jalinan cerita yang hidup tentang bagaimana solidaritas itu bekerja, tumbuh, dan dirayakan. Bayangkan, sebuah organisasi besar seperti OKI tidak hanya bergerak di ruang rapat berdebu, tetapi juga merambah dunia puisi, lukisan, hingga filosofi sederhana di balik menanam sebutir benih. Semuanya bertaut untuk sebuah tujuan: membela Palestina.
Di sini, pelajaran IPS menjadi lebih dari teori; ia adalah napas, emosi, dan aksi nyata yang bisa kita rasakan melalui karya sastra dan simbol-simbol budaya.
Materi ini mengajak kita menyelami dua arus besar. Pertama, bagaimana ekspresi budaya seperti puisi dan prosa yang dipromosikan OKI membentuk persepsi dan solidaritas umat Islam global terhadap perjuangan Palestina. Kedua, bagaimana metafora yang dalam dari tradisi bercocok tanam lokal—sesuatu yang akrab di banyak masyarakat—digunakan untuk menggambarkan ketahanan, akar sejarah, dan harapan untuk kedaulatan rakyat Palestina. Dua pendekatan yang berbeda ini justru saling menguatkan, menunjukkan bahwa diplomasi dan dukungan bisa memiliki wajah yang sangat manusiawi dan artistik.
Jejak Solidaritas Islam OKI dalam Konflik Palestina Melalui Karya Sastra
Di luar ruang rapat dan pernyataan politik yang keras, solidaritas Islam untuk Palestina memiliki saluran yang lebih halus dan mendalam: karya sastra. Organisasi Kerjasama Islam (OKI), melalui berbagai lembaga kebudayaannya seperti ISESCO, telah lama menyadari kekuatan puisi dan prosa dalam membentuk narasi, merawat ingatan, dan membangkitkan emosi kolektif. Dukungan terhadap perjuangan Palestina tidak hanya diekspresikan dalam resolusi, tetapi juga disemai melalui antologi puisi, novel, dan cerpen yang dipromosikan dan didistribusikan di negara-negara anggotanya.
Karya-karya ini berfungsi sebagai dokumen sejarah alternatif yang mengabadikan penderitaan, ketangguhan, dan harapan rakyat Palestina, sekaligus memperkuat ikatan emosional umat Islam di seluruh dunia terhadap tanah Al-Quds.
Puisi, dengan bahasa universalnya, menjadi medium yang sangat efektif. Seorang penyair dari Maroko atau Indonesia bisa menyentuh hati pembaca di Malaysia atau Turki dengan gambaran tentang kehilangan, rumah, dan identitas yang sama-sama dirasakan rakyat Palestina. Prosa, baik dalam bentuk cerita pendek atau novel, memungkinkan penjelajahan yang lebih kompleks terhadap kehidupan sehari-hari di bawah pendudukan, menjaga narasi kemanusiaan yang seringkali tenggelam dalam berita politik.
Melalui festival sastra, kompetisi penulisan, dan penerjemahan karya, OKI menciptakan sebuah kanopi budaya di mana suara Palestina dapat bergema lebih luas, mengubah solidaritas dari sekadar slogan politik menjadi pengalaman empatik yang personal.
Membahas Soal IPS Terpadu tentang OKI dan solidaritas Islam untuk Palestina, kita melihat betapa kompleksnya relasi global. Namun, esensi dari semua itu adalah gotong royong, mirip dengan semangat dalam artikel Mohon Bantuan Kawan. Nilai kebersamaan ini pun tercermin dalam tradisi tanam lokal, yang mengajarkan bahwa kolaborasi, layaknya diplomasi OKI, adalah kunci mengatasi tantangan, baik di tingkat kampung maupun dunia.
Karya Sastra yang Menggema di Dunia Islam
Beberapa karya sastra telah menjadi ikon solidaritas. Tabel berikut membandingkan beberapa karya yang signifikan, menunjukkan bagaimana simbol-simbol universal digunakan untuk menyampaikan pesan yang mendalam tentang Palestina.
| Judul Karya Sastra | Penulis | Negara Asal | Simbol Solidaritas Utama |
|---|---|---|---|
| “Bait Za’balawi” (inspirasi untuk Palestina) | Naguib Mahfouz | Mesir | Rumah leluhur (Bait) sebagai simbol tanah yang dirindukan dan hak yang dirampas. |
| “Menunggu Barbar” (dianalogikan untuk Palestina) | D.M. Thomas (terjemahan luas di dunia Muslim) | Inggris (populer di dunia Islam) | “Penantian” akan pembebasan dan ketidakpastian yang diciptakan oleh kekuatan asing. |
| Kumpulan Puisi “Palestina di Hati” | Beragam Penyair OKI | Berbagai Negara Anggota | Hati (Qalb) sebagai tempat penyimpanan identitas, cinta, dan komitmen yang tak tergoyahkan. |
| “Murid Sang Tukang Sihir” (alegori pendudukan) | Mourid Barghouti | Palestina | Kunci sebagai simbol hak kembali dan ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. |
Kekuatan karya sastra ini terletak pada kemampuannya menyentuh langsung perasaan. Perhatikan dua kutipan berikut yang menggambarkan dimensi penderitaan dan harapan.
“Di bawah puing-puing rumah kami, tertanam namamu, wahai anakku. Setiap butir debu yang beterbangan adalah surat cinta yang tak terkirim, setiap batu yang retak adalah nisan untuk masa kecil yang terenggut. Mereka kira dengan buldoser mereka bisa menghapus peta kenangan, tapi mereka lupa, akar kami menjalar lebih dalam dari fondasi apa pun yang mereka hancurkan.”
“Kami adalah pohon zaitun yang tumbuh di lereng batu. Musim dingin mencoba membekukan kami, angin kencang berusaha mencabut kami. Tapi setiap musim semi, kami tunjukkan daun baru yang hijau, dan buah kami, meski kecil, penuh dengan minyak yang akan menerangi jalan pulang.”
Tradisi lisan dan tulisan ini memiliki pengaruh mendalam pada persepsi publik di dunia Islam. Berbeda dengan berita televisi yang bisa bersifat sesaat dan penuh angka, sastra membangun narasi yang bertahan lama. Sebuah puisi yang dihafal atau sebuah novel yang dibaca ulang menciptakan pemahaman yang intim tentang konflik, mengubah “Palestina” dari sebuah lokasi geografis yang jauh menjadi sebuah kisah tentang keluarga, rumah, dan ketidakadilan yang bisa dialami oleh siapa saja.
Sastra juga memanusiakan perjuangan, menampilkan tokoh-tokoh dengan mimpi, cinta, dan keraguan mereka, bukan hanya sebagai angka korban atau pejuang. Dengan cara ini, OKI melalui diplomasi budayanya membantu menjaga isu Palestina tetap hidup dalam kesadaran kolektif umat Islam, bukan sebagai isu politik yang periodik, tetapi sebagai bagian dari identitas keagamaan dan kemanusiaan yang berkelanjutan. Ini adalah solidaritas yang dibangun dari dalam hati, disirami oleh kata-kata, dan berbuah pada komitmen yang tak mudah luntur oleh waktu.
Tradisi Tanam Pangan Lokal sebagai Metafora Ketahanan Palestina
Di banyak masyarakat Muslim, bercocok tanam bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi sebuah filosofi hidup yang dalam. Praktik ini mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kepercayaan pada siklus alam. Nilai-nilai inilah yang menemukan resonansi kuat dalam perjuangan rakyat Palestina mempertahankan identitas dan tanah airnya. Ketika akses terhadap lahan dan air dibatasi, kegiatan bertani menjadi sendiri sebuah bentuk perlawanan—sebuah pernyataan bahwa mereka berakar dan bertekad untuk tetap tinggal.
OKI, dalam berbagai pernyataannya, sering kali menyentuh metafora agraria ini, melihat tradisi tanam lokal sebagai cermin dari ketahanan yang lebih besar.
Filosofi bertani tradisional menekankan hubungan simbiosis antara manusia dan tanah. Tanah bukanlah komoditas, melainkan warisan (al-irts) yang harus dijaga dan diteruskan. Konsep ini paralel dengan narasi Palestina tentang tanah sebagai identitas yang tak terpisahkan. Menanam pohon, khususnya pohon yang berumur panjang, adalah investasi untuk generasi mendatang, sebuah tindakan penuh harap di tengah ketidakpastian. Dalam konteks pendudukan, setiap pohon zaitun yang tetap dirawat, setiap sayuran yang tumbuh di pekarangan rumah, adalah penegasan kedaulatan yang kecil namun sangat berarti.
Ini adalah bahasa ketahanan yang dipahami secara universal di dunia agraris Muslim.
Tanaman Simbolis dalam Narasi Perjuangan
Tiga jenis tanaman tradisional memegang makna simbolis yang sangat kuat, baik di Palestina maupun di komunitas Muslim lainnya, menjadi bagian dari bahasa budaya solidaritas.
- Zaitun: Lebih dari sekadar sumber ekonomi, pohon zaitun adalah simbol perdamaian, keturunan, dan ketahanan. Akarnya yang dalam melambangkan keterikatan mendalam rakyat Palestina pada tanahnya. Usianya yang bisa mencapai ribuan tahun menjadi metafora untuk sejarah panjang dan kelangsungan hidup. Penghancuran kebun zaitun oleh pemukim ilegal bukan hanya kerugian materi, tetapi serangan terhadap simbol identitas dan warisan budaya.
- Kurma: Dalam budaya Islam, kurma adalah buah keberkahan dan kemuliaan, sering disebut dalam Al-Qur’an. Pohon kurma yang tegak dan kuat melambangkan keteguhan hati dan martabat. Ketahanannya di lingkungan gurun mencerminkan daya tahan rakyat Palestina. Buahnya yang manis dari pohon yang berduri mengajarkan bahwa sesuatu yang berharga seringkali datang melalui kesabaran dan perjuangan.
- Za’atar (Thyme): Tanaman herbal liar ini adalah cita rasa rumah bagi orang Palestina. Kemampuannya tumbuh di bebatuan dan tanah yang keras menjadikannya simbol ketekunan dan kemampuan beradaptasi. Za’atar adalah rasa yang dibawa dalam ingatan para diaspora, menjadi pengingat akan tanah air yang sederhana namun penuh makna. Konsumsinya menjadi tindakan kultural yang menegaskan identitas.
Konsep “menanam” telah digunakan secara strategis oleh OKI dalam pernyataan resminya. Mereka tidak hanya berbicara tentang “membela” Palestina, tetapi juga tentang “menyemai benih perdamaian”, “memupuk kemerdekaan”, dan “menuai hasil kedaulatan”. Bahasa ini menggeser narasi dari yang reaktif dan konfrontatif menjadi narasi yang visioner dan konstruktif. Misalnya, dalam mendukung keanggotaan Palestina di PBB, OKI mungkin menyatakan bahwa ini adalah “langkah penting untuk menanam fondasi negara yang berdaulat”.
Bantuan kemanusiaan dan pembangunan digambarkan sebagai “irigasi” untuk masyarakat Palestina agar tetap bertahan dan tumbuh.
Metafora ini powerful karena ia menawarkan kerangka waktu yang panjang dan hasil yang pasti. Seperti seorang petani yang tahu bahwa musim panen akan tiba setelah masa perawatan, solidaritas Islam digambarkan sebagai komitmen jangka panjang yang percaya pada hasil akhir, yaitu kemerdekaan Palestina. OKI, dengan menggunakan analogi ini, mengajak negara-negara anggotanya untuk melihat dukungan mereka bukan sebagai beban, tetapi sebagai investasi dalam sebuah masa depan yang adil.
Ini juga merupakan pesan kepada rakyat Palestina bahwa perjuangan mereka, meski penuh tantangan seperti benih yang harus bertahan di bawah tanah yang keras, pada waktunya akan bertunas dan tumbuh.
Visualisasi Solidaritas dalam Seni
Bayangkan sebuah mural besar yang memenuhi dinding sebuah pusat kebudayaan. Latar belakangnya adalah peta Palestina yang terbentuk dari tekstur tanah yang retak-retak namun subur. Di atas peta tanah ini, akar-akar pohon zaitun raksasa menjalar membentuk jaringan yang kuat, menyatu dengan garis-garis perbatasan. Dari akar-akar itu tumbuh batang yang kokoh, dan dahannya membentang keluar dari bingkai peta, mencapai ke langit biru yang dihiasi kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an tentang keadilan dan bumi.
Buah zaitun yang digambar tidak bulat sempurna, tetapi beberapa terlihat seperti globe kecil yang di dalamnya terdapat miniatur gambar Kubah Batu (Qubbat As-Sakhrah) dan gereja Holy Sepulchre, menegaskan multikulturalitas Palestina. Di bagian bawah mural, tangan-tangan dari berbagai warna kulit—mewakili umat Islam dunia—sedang bersama-sama memegang sebuah kendi air yang dituangkan ke akar pohon. Air yang mengalir itu transparan, tetapi di dalam alirannya terdapat rangkaian kata “solidaritas”, “hak kembali”, dan “kedaulatan” dalam berbagai bahasa anggota OKI.
Cahaya matahari menyinari dari sudut kanan atas, menerangi daun-daun zaitun yang hijau keperakan, menciptakan kontras dengan tanah di bawahnya, seolah menyampaikan pesan: dari tanah yang paling keras, tumbuhlah harapan yang paling kuat.
Diplomasi Budaya OKI Menyuburkan Narasi Palestina di Panggung Global
Untuk membuat solidaritas Islam menjadi sesuatu yang dapat dirasakan, dilihat, dan dialami, OKI aktif memfasilitasi diplomasi budaya. Festival seni, pameran buku, pekan film, dan eksibisi menjadi panggung di mana narasi Palestina disampaikan bukan melalui statistik konflik, tetapi melalui keindahan dan kedalaman budayanya. Kegiatan-kegiatan ini, yang sering diselenggarakan di ibu kota negara-negara anggota, berfungsi sebagai jembatan empati. Mereka mengingatkan dunia bahwa di balik berita-berita tentang peperangan, ada sebuah bangsa dengan warisan budaya yang kaya, kreativitas yang hidup, dan semangat yang tidak padam.
Dengan cara ini, OKI membantu “menyuburkan” citra Palestina yang utuh dan bermartabat di panggung global.
Festival budaya bertema Palestina sering kali menjadi peristiwa yang sangat emotif. Mereka tidak hanya menampilkan debu dan puing, tetapi juga musik yang menggugah, sulaman yang rumit (Tatriz), sastra yang mendalam, dan kuliner yang lezat. Ketika penonton di Jakarta, Rabat, atau Dushanbe menyaksikan tarian Dabke yang penuh energi atau mendengarkan suara merdu pembaca puisi Palestina, solidaritas berubah dari konsep abstrak menjadi ikatan emosional yang nyata.
Pameran seni rupa yang menampilkan karya pelukis Palestina juga menunjukkan bahwa kreativitas tetap berkembang bahkan di bawah tekanan terbesar. OKI, melalui badan seperti ISESCO, sering menjadi sponsor atau mitra penyelenggara acara-acara semacam ini, memberikan platform dan legitimasi internasional.
Pameran dan Festival Budaya yang Diinisiasi OKI
Berikut adalah beberapa contoh jenis acara budaya yang telah diselenggarakan, menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam mempromosikan budaya Palestina.
| Jenis Acara Budaya | Negara Tuan Rumah | Tahun (Contoh) | Artefak Budaya Palestina yang Ditampilkan |
|---|---|---|---|
| Festival Film Palestina | Indonesia | 2014, 2018 | Film dokumenter tentang kehidupan sehari-hari, animasi karya sineas muda Gaza, arsip sejarah. |
| Pameran Seni Rupa “Palestina dalam Mata Dunia” | Malaysia | 2019 | Lukisan, instalasi, dan fotografi dari seniman Palestina dan seniman Muslim internasional yang terinspirasi Palestina. |
| Pekan Buku dan Kebudayaan Palestina | Mesir | Berulang tahunan | Karya sastra klasik dan kontemporer, buku anak-anak bergambar, kaligrafi, diskusi dengan penulis. |
| Eksibisi Bordir (Tatriz) dan Kerajinan Tangan | Turkiye | 2021 | Kain Tatriz asli dari berbagai daerah Palestina dengan pola khas, pakaian tradisional, cerita di balik setiap motif. |
Gagasan diplomasi budaya ini dapat diadaptasi ke tingkat pendidikan untuk menanamkan pemahaman sejak dini. Sebuah proposal kegiatan “Pekan Budaya” sekolah dengan tema “Dari Ladang ke Baitul Maqdis” dapat mengintegrasikan pelajaran IPS Terpadu secara kreatif. Pekan ini bisa dimulai dengan pamerang kelas dimana setiap kelas membuat stan tentang satu aspek: sejarah OKI dan perannya, simbol-simbol solidaritas Islam, tradisi tanam pangan di Palestina dan Indonesia, serta peta konflik secara sederhana.
Siswa dapat terlibat dalam lomba menulis puisi atau cerpen bertema ketahanan, membuat poster kampanye dengan metafora tanaman, atau bahkan praktik menanam za’atar atau sejenisnya di pot sekolah sebagai simbol dukungan. Pemutaran film pendek dan diskusi dapat menghubungkan isu global dengan nilai-nilai lokal seperti kegotongroyongan dan ketahanan. Melalui kegiatan ini, konsep-konsep abstrak dalam buku teks menjadi pengalaman belajar yang hidup dan bermakna.
Narasi Kuratorial untuk Stan Bordir Palestina
“Selamat datang di stan ‘Benang-benang Identitas’. Di sini, kami mempersembahkan keindahan Tatriz, sulaman tradisional Palestina yang setiap jahitannya adalah sebuah cerita. Perhatikan pola-pola yang berulang ini. Pola ‘biji pomegranate’ yang Anda lihat, bukan hanya dekorasi. Ia adalah simbol kesuburan dan kelimpahan, sebuah doa agar tanah Palestina senantiasa memberi kehidupan. Pola ‘pohon cedar’ yang tegak lurus adalah representasi dari keteguhan dan martabat, sementara ‘ombak laut’ mengingatkan pada pantai Gaza dan Mediterania yang membawa harapan. Warna-warnanya punya makna: merah tua dari darah pengorbanan dan cinta, hitam dari kesedihan dan keteguhan, putih dari kesucian perdamaian. Yang paling menarik, banyak pola bordir ini terinspirasi langsung dari alam agraris Palestina—bentuk daun anggur, buah zaitun, dan tangkai gandum. Setiap perempuan yang menyulam adalah seperti petani yang menanam benang di atas kain, merawat motif-motif itu hingga ‘panen’ sebagai sebuah karya yang lengkap. Dalam setiap helai kain ini, terkandung peta ingatan tentang desa, kebun, dan identitas yang tidak bisa dihapus oleh pendudukan. Membeli, mengenal, atau sekadar mengagumi Tatriz adalah bentuk solidaritas untuk menjaga ‘ladang budaya’ ini tetap hidup.”
Simbolisme Agraria dalam Upacara dan Ritual Peneguhan Solidaritas Islam: Soal IPS Terpadu: OKI, Solidaritas Islam, Palestina, Tradisi Tanam
Bahasa diplomasi seringkali formal dan kaku. Namun, OKI dalam beberapa momen penting telah memasukkan elemen-elemen simbolis dari tradisi tanam ke dalam ritual atau upacara pertemuannya, menciptakan bahasa universal yang penuh makna. Tindakan simbolis seperti menanam pohon, menabur benih, atau menuai bersama menjadi cara yang powerful untuk mengkomunikasikan dukungan yang berkelanjutan bagi Palestina. Ritual-ritual ini mentransformasikan ruang konferensi dari tempat pembahasan teks menjadi ruang perenungan tentang pertumbuhan, akar, dan masa depan.
Misalnya, dalam sebuah KTT OKI, bisa dibayangkan adanya sesi simbolis dimana para pemimpin negara anggota bersama-sama menyiram sebuah pohon zaitun kecil dalam pot yang ditempatkan di panggung utama. Atau, dalam pembukaan sebuah konferensi menteri kebudayaan, setiap delegasi diberikan sebuah biji kurma yang kemudian disimpan dalam sebuah wadah tanah bersama-sama. Tindakan-tindakan semacam ini bukan sekadar foto op. Mereka adalah pernyataan visual yang kuat: solidaritas Islam adalah sesuatu yang hidup, perlu disirami, dan akan bertumbuh.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan jangka panjang, membutuhkan kesabaran dan perawatan kolektif, persis seperti merawat sebuah tanaman hingga berbuah.
Simbol Agraria dalam Diplomasi Islam Internasional
Source: antaranews.com
Beberapa simbol agraria telah muncul dalam berbagai konteks diplomasi Islam, masing-masing membawa pesan yang unik.
- Biji (Al-Habbah): Sering digunakan sebagai metafora untuk inisiatif atau resolusi baru. Sebuah resolusi dukungan disebut sebagai “menabur benih harapan”. Biji melambangkan potensi, awal yang kecil, dan keyakinan akan pertumbuhan di masa depan meski kondisi saat ini sulit.
- Air (Al-Ma’): Dalam konteks solidaritas, air melambangkan bantuan kemanusiaan, dukungan politik, dan kehidupan itu sendiri. “Mengalirkan bantuan” digambarkan sebagai “mengairi” masyarakat Palestina. Air adalah simbol sumber daya yang vital dan pemberian yang menyelamatkan.
- Pohon Zaitun (Syajarat az-Zaitun): Seperti telah dibahas, pohon ini adalah simbol perdamaian dan ketahanan. Penanamannya dalam acara OKI adalah ikrar komitmen untuk perdamaian yang berkeadilan dan dukungan terhadap rakyat Palestina yang berakar di tanahnya.
- Panen (Al-Hashad): Musim panen melambangkan hasil dari perjuangan dan kesabaran. Dalam pernyataan OKI, “menuai hasil kemerdekaan” adalah frasa yang menggambarkan tujuan akhir. Panen juga bisa simbolis tentang mengumpulkan dukungan internasional atau mencapai kesepakatan politik.
Potensi integrasi tema “tradisi tanam” ke dalam kurikulum IPS Terpadu sangat besar. Konsep solidaritas ekonomi dan politik antarnegara Muslim bisa dijelaskan melalui analogi sistem pertanian. Misalnya, konsep ketahanan pangan kolektif dapat diibaratkan sebagai lumbung bersama (seperti OKI yang menggalang dana darurat untuk Palestina). Kerja sama ekonomi (trade preference) antarnegara anggota dapat digambarkan sebagai pertukaran benih unggul untuk memperkuat varietas lokal masing-masing.
Konflik dan embargo dapat dijelaskan sebagai “kekeringan politik” yang memutus pasokan “air” bantuan dan perdagangan. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya menghafal nama organisasi dan tujuan, tetapi memahami logika di balik solidaritas tersebut—bahwa seperti dalam ekosistem pertanian, ketergantungan dan dukungan timbal balik adalah kunci survival dan kemakmuran bersama.
Deskripsi Instalasi Seni Konseptual Solidaritas
Bayangkan sebuah ruangan yang gelap dan hening. Di tengah ruangan, terdapat sebuah bukit kecil tanah asli yang dibawa dari sebuah desa di Tepi Barat Palestina. Tanah itu tidak rata, tampak alami, dan sedikit kering di permukaan. Dari langit-langit, tepat di atas bukit tanah, menetes air secara perlahan dan teratur—tetes demi tetes—ke satu titik di tanah tersebut. Suara tetesan air itu adalah satu-satunya suara yang terdengar, menciptakan ritme yang menenangkan sekaligus mencemaskan.
Di sekeliling bukit tanah, di lantai, tersebar ratusan biji zaitun yang diawetkan, membentuk pola melingkar seperti orbit. Pengunjung diizinkan untuk mengambil satu biji, tetapi dengan syarat harus meninggalkan sesuatu: sepotong kertas kecil berisi tulisan doa, harapan, atau komitmen mereka yang kemudian ditanamkan di pinggir bukit tanah. Dari sebuah speaker tersembunyi, terdengar suara lapang yang sangat halus: suara angin menyapu daun zaitun di kebun, suara seorang petua di Gaza bercerita tentang musim panen tahun 1960-an dalam bahasa Arab, diselingi hening.
Instalasi berjudul “Penantian dan Irigasi” ini ingin membangkitkan perasaan bahwa solidaritas bukanlah teriakan, tetapi kesabaran. Bahwa dukungan adalah tetesan air yang terus-menerus pada tanah yang haus. Dan bahwa harapan, seperti biji yang kita pegang, adalah pilihan yang disengaja untuk suatu hari nanti menanamnya kembali.
Narasi Kedaulatan Pangan Palestina dalam Resolusi dan Deklarasi OKI
Isu tanah dan pertanian bagi Palestina bukan sekadar masalah ekonomi subsisten; ia adalah inti dari konflik politik. OKI, dalam dokumen-dokumen resminya, secara cerdas mengangkat isu kedaulatan pangan sebagai pintu masuk untuk membahas hak-hak berdaulat yang lebih luas. Dengan menyoroti pembatasan akses air, perusakan kebun, dan penyitaan lahan pertanian, OKI membingkai pelanggaran hak-hak Palestina dalam konteks yang sangat konkret dan dapat diverifikasi—yaitu hak untuk memproduksi makanan secara mandiri.
Ini adalah strategi naratif yang kuat, karena kedaulatan pangan langsung terkait dengan kelangsungan hidup, martabat, dan kemandirian suatu bangsa.
Resolusi-resolusi OKI seringkali mengecam “penghancuran sumber daya pertanian Palestina” dan menyerukan hak rakyat Palestina atas sumber daya alam mereka, termasuk air dan tanah yang subur. Dengan melakukan ini, OKI tidak hanya membela hak politik abstrak untuk bernegara, tetapi juga hak-hak sosial-ekonomi yang mendasarinya. Dokumen-dokumen ini menegaskan bahwa sebuah negara yang berdaulat harus memiliki kendali atas tanah dan sumber daya pangannya.
Oleh karena itu, perjuangan untuk kedaulatan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan nasional. Pendekatan ini juga membangun solidaritas praktis, mendorong negara-negara anggota untuk memberikan bantuan teknis pertanian, teknologi irigasi hemat air, dan dukungan untuk petani Palestina.
Kronologi Resolusi OKI Terkait Pertanian dan Tanah
| Resolusi/KTT (Contoh) | Poin Utama Pertanian/Tanah | Tantangan Implementasi | Keterkaitan dengan Solidaritas Islam |
|---|---|---|---|
| KTT OKI ke-7 (Casablanca, 1994) | Mendesak perlindungan hak-hak pertanian dan sumber air rakyat Palestina. | Lemahnya mekanisme pemantauan dan tekanan di lapangan dari pihak okupasi. | Mengaitkan isu agama (Palestina) dengan isu kemanusiaan universal (hak atas pangan dan air). |
| Resolusi Dewan Menteri Luar Negeri OKI berbagai tahun | Mengecam penghancuran kebun zaitun dan pembangunan tembok pemisah yang merampas lahan pertanian. | Keterbatasan akses bantuan langsung ke petani di Area C Tepi Barat yang dikontrol Israel. | Menyatukan suara negara Muslim dalam mengutuk tindakan spesifik, memperkuat posisi tawar kolektif di forum internasional. |
| Deklarasi Istanbul (KTT Luar Biasa OKI, 2017) | Menyerukan dukungan ekonomi dan pengembangan kapasitas, termasuk di sektor pertanian, untuk masyarakat Palestina. | Blokade Gaza yang melumpuhkan sektor produktif, termasuk ekspor hasil pertanian. | Mentransformasikan solidaritas politik menjadi program aksi ekonomi dan pembangunan yang nyata. |
Konflik yang berlarut-larut, terutama di Gaza, telah menghancurkan tradisi tanam dan panen lokal. Blokade membatasi akses terhadap input pertanian seperti benih unggul dan pupuk. Serangan militer seringkali menghancurkan rumah kaca, lahan pertanian, dan infrastruktur irigasi. Akibatnya, siklus pertanian yang telah diwariskan turun-temurun terputus. Dampak psikologisnya sangat dalam.
Bagi masyarakat agraris, kehilangan kemampuan untuk bercocok tanam dan memanen hasil sendiri adalah pukulan terhadap identitas, kemandirian, dan rasa memiliki terhadap tanah. Kegagalan panen bukan hanya soal kelaparan, tetapi juga soal keputusasaan dan terampasnya salah satu sumber kebanggaan dan kontinuitas budaya.
Kutipan Pidato Diplomat OKI dengan Metafora Pertanian, Soal IPS Terpadu: OKI, Solidaritas Islam, Palestina, Tradisi Tanam
“Kita tidak boleh hanya melihat Palestina sebagai medan konflik yang gersang. Tugas kita bersama adalah menjadikannya kembali sebagai ladang yang subur. Setiap bantuan kemanusiaan yang kita kirim adalah seperti menabur benih di tanah yang terluka. Setiap sekolah yang kita bangun adalah seperti menyirami tunas-tunas masa depan. Dan setiap dukungan politik kita di PBB adalah seperti membajak tanah yang keras, membukanya untuk ditanami pohon kemerdekaan. Ingatlah, sebuah bangsa yang masih bisa bertahan menanam, meski di atap rumahnya, adalah bangsa yang telah memilih untuk hidup, bukan sekadar bertahan. Mari kita menjadi hujan yang mereka tunggu-tunggu.”
Kekuatan retorika kutipan ini terletak pada transformasi narasi dari korban menjadi agen perubahan. Metafora pertanian mengubah gambaran pasif tentang penderitaan menjadi gambaran aktif tentang pertumbuhan dan penanaman. Ia mengajak pendengar untuk melihat peran mereka bukan sebagai penyelamat yang jauh, tetapi sebagai partner dalam proses alamiah menumbuhkan kedaulatan. Bahasa seperti “menabur benih”, “menyirami”, dan “membajak” membuat aksi solidaritas terasa konkret, bertahap, dan penuh harapan.
Ini adalah retorika yang membangun, memandang masa depan dengan optimisme yang terukur, dan sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab kolektif untuk merawat “ladang” Palestina hingga berbuah.
Ringkasan Terakhir
Pada akhirnya, membedah Soal IPS Terpadu ini mengungkap satu pelajaran penting: solidaritas itu seperti tanaman. Ia butuh benih narasi yang ditabur melalui puisi dan cerita, disiram oleh diplomasi budaya, dan dipupuk oleh resolusi-resolusi yang teguh. Perjuangan Palestina, melalui lensa OKI, tidak hanya diceritakan sebagai konflik politik, tetapi sebagai bagian dari identitas dan keimanan kolektif yang dirawat bersama. Dari ladang kata-kata dalam sastra hingga metafora biji yang tertanam, semuanya mengarah pada satu visi: sebuah masa depan berdaulat yang terus diperjuangkan, diingat, dan diimpikan oleh dunia Islam.
Inilah IPS yang menyentuh hati dan pikiran, jauh melampaui sekadar hafalan di buku paket.
FAQ Lengkap
Apa hubungan konkret antara tradisi tanam dengan perjuangan politik Palestina?
Tradisi tanam, seperti menanam zaitun atau gandum, adalah metafora kuat untuk ketahanan, pertumbuhan, dan keterikatan pada tanah. Dalam konteks Palestina, tanaman simbolis seperti zaitun (yang berumur panjang) mewakili hak sejarah dan keberlanjutan hidup di tanah tersebut, sehingga perjuangan mempertahankan kebun zaitun sama dengan mempertahankan kedaulatan dan identitas.
Bagaimana siswa bisa mengaitkan materi ini dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia?
Siswa dapat melihat paralel antara solidaritas Islam untuk Palestina dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial di lingkungannya. Selain itu, tradisi bercocok tanam lokal di Indonesia (seperti menanam padi) juga mengandung nilai ketekunan dan pengharapan yang serupa, sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk memahami perjuangan serupa di belahan dunia lain.
Apakah dukungan OKI melalui budaya dan sastra berdampak signifikan secara internasional?
Ya. Diplomasi budaya dan sastra membentuk narasi publik dan opini global yang lebih luas, melampaui batas-batas politik formal. Dengan mempromosikan karya seni bertema Palestina, OKI membantu mengabadikan isu ini dalam memori kolektif dunia Islam dan menarik empati dari khalayak yang mungkin tidak tersentuh oleh berita politik biasa.
Mengapa dalam materi IPS Terpadu, topik seperti OKI dan Palestina digabung dengan tradisi tanam?
Penggabungan ini menunjukkan pendekatan pembelajaran interdisipliner. IPS Terpadu menghubungkan aspek politik (OKI), geografi/sosiologi (konflik Palestina), ekonomi (kedaulatan pangan), dan budaya (tradisi tanam & sastra) untuk memberikan pemahaman yang holistik dan mendalam tentang sebuah isu global, sekaligus menunjukkan keterkaitan yang erat antara berbagai aspek kehidupan masyarakat.