Bentuk Aliansi untuk Memperkuat Blok Barat dan Timur bukan sekadar narasi sejarah Perang Dingin yang usang, melainkan fenomena dinamis yang terus berevolusi mengikuti denyut nadi kekuatan global. Dalam panggung geopolitik kontemporer, formasi aliansi strategis menjadi instrumen krusial bagi negara-negara untuk mengonsolidasikan pengaruh, mengamankan kepentingan, dan merespons ketidakpastian yang kompleks. Blok Barat dengan poros demokrasi liberal dan ekonomi kapitalisnya, serta Blok Timur dengan varian otoritarian dan ekonomi terkomandonya, terus merajut jaringan kerjasama yang semakin mengental, baik di bidang militer, ekonomi, maupun budaya.
Pergulatan ini melampaui sekadar persaingan ideologi klasik, menjangkau domain baru seperti ruang siber, artificial intelligence, dan keamanan energi. NATO dan Shanghai Cooperation Organization (SCO), misalnya, hadir sebagai dua wajah berbeda dari ambisi kolektif yang sama: memperkuat kohesi internal sekaligus memperluas lingkaran pengaruh. Melalui mekanisme pertahanan bersama, integrasi ekonomi, dan diplomasi publik, kedua kubu tidak hanya membentengi diri tetapi juga secara aktif membentuk tatanan internasional sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut.
Konsep dan Latar Belakang Aliansi Blok: Bentuk Aliansi Untuk Memperkuat Blok Barat Dan Timur
Dalam panggung geopolitik global, aliansi strategis bukan sekadar persekutuan biasa. Ia merupakan ikatan yang dibangun secara sistematis antara negara-negara untuk menghadapi ancaman bersama, memperkuat posisi tawar, dan memproyeksikan pengaruh. Dalam konteks Blok Barat dan Blok Timur, aliansi ini mengambil bentuk yang sangat rigid, didorong oleh pertarungan ideologi yang mendalam pasca Perang Dunia II. Blok Barat, dengan Amerika Serikat sebagai porosnya, dan Blok Timur, yang dipimpin oleh Uni Soviet, tidak hanya bersaing secara militer, tetapi juga memperjuangkan dua visi dunia yang bertolak belakang.
Latar belakang historisnya berakar pada vacuum of power di Eropa pasca 1945 dan ketidakpercayaan mendalam antara sekutu masa perang. Konferensi Yalta dan Potsdam justru mempertajam garis perbedaan. Faktor pendorong utamanya adalah kebutuhan keamanan kolektif, perluasan pengaruh ideologi, dan kontrol atas wilayah strategis serta sumber daya. Blok Barat berdiri di atas prinsip demokrasi liberal, kapitalisme pasar, dan hak individu. Sementara Blok Timur mengusung komunisme Marxis-Leninis, ekonomi terpusat yang direncanakan negara, dan primat kepentingan kolektif atas individu.
Perbandingan Karakteristik Blok Barat dan Blok Timur
Polarisasi dunia selama Perang Dingin dapat dilihat lebih jelas melalui perbandingan mendasar antara kedua blok. Tabel berikut menguraikan perbedaan kunci dalam empat aspek utama yang menentukan identitas dan tindakan masing-masing kubu.
| Aspek | Blok Barat | Blok Timur |
|---|---|---|
| Ideologi Inti | Demokrasi Liberal, Pluralisme, Hak Asasi Manusia | Komunisme Marxis-Leninis, Kediktatoran Proletariat, Sentralisme Demokratik |
| Sistem Ekonomi | Ekonomi Pasar Kapitalis, Swastanisasi, Liberalisasi Perdagangan | Ekonomi Terencana Sentralistik (Komando), Kepemilikan Negara atas Alat Produksi |
| Struktur Aliansi | Pakta pertahanan kolektif (NATO), lebih bersifat sukarela dan konsultatif, dengan kepemimpinan hegemonik AS. | Pakta pertahanan kolektif (Pakta Warsawa), sangat hierarkis dan terpusat di bawah kendali ketat Uni Soviet. |
| Tujuan Geopolitik | Containment (Pembendungan) terhadap ekspansi komunisme, perluasan zona demokrasi dan pasar bebas. | Ekspor revolusi sosialis, menciptakan “lingkaran pengaman” negara satelit, menandingi pengaruh kapitalis global. |
Mekanisme dan Bentuk Penguatan Aliansi
Kohesi sebuah blok tidak muncul dengan sendirinya; ia harus terus diperkuat melalui berbagai instrumen yang saling mengikat. Penguatan ini berjalan di tiga bidang utama: militer, ekonomi, dan budaya. Ketiganya saling melengkapi, menciptakan jaringan interdependensi yang membuat keanggotaan dalam blok menjadi sangat bernilai dan sulit untuk ditinggalkan. Kerjasama militer menjamin keamanan fisik, kerjasama ekonomi menjamin kemakmuran, sementara diplomasi budaya membangun legitimasi dan rasa solidaritas.
Bentuk Kerjasama Militer dan Ekonomi
Di bidang militer, mekanisme yang digunakan meliputi pembentukan pakta pertahanan bersama dengan pasukan gabungan dan rencana kontinjensi terpadu, seperti yang dijalankan NATO. Latihan militer bersama secara rutin dilakukan untuk meningkatkan interoperabilitas dan mengirim sinyal deterren kepada lawan. Standardisasi persenjataan dan doktrin operasi juga menjadi kunci, seperti adopsi kaliber amunisi atau sistem komunikasi yang sama. Yang tak kalah penting adalah pertukaran intelijen dan pembangunan infrastruktur strategis bersama, seperti jaringan radar peringatan dini.
Sementara itu, di bidang ekonomi, blok memperkuat ikatannya melalui pembentukan zona perdagangan preferensial atau pasar bersama untuk mengurangi tarif dan hambatan di antara anggota. Bantuan ekonomi dan pinjaman lunak, seperti Marshall Plan dari AS untuk Eropa Barat, digunakan untuk membangun kembali sekutu dan mengikat mereka secara finansial. Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, serta proyek infrastruktur bersama seperti pipa gas atau jaringan listrik, menciptakan ketergantungan fisik dan ekonomi yang dalam.
Prosedur Pembentukan Pakta Pertahanan Baru
Pembentukan sebuah pakta pertahanan baru di dalam sebuah blok adalah proses yang kompleks dan bertahap, melibatkan pertimbangan geopolitik, hukum, dan operasional yang mendalam. Proses ini dimulai dari identifikasi ancaman bersama hingga ratifikasi formal.
- Identifikasi Ancaman dan Kepentingan Bersama: Negara-negara calon anggota harus memiliki persepsi yang sama terhadap ancaman keamanan eksternal. Dialog intensif dilakukan untuk merumuskan kepentingan strategis bersama yang akan menjadi fondasi pakta.
- Perundingan dan Perancangan Traktat: Para diplomat dan pakar militer merundingkan naskah traktat pendirian. Poin kritis yang dibahas mencakup klausul pertahanan bersama (misalnya, Pasal 5 NATO), wilayah cakupan geografis, kontribusi militer dan finansial masing-masing anggota, serta struktur komando.
- Penandatanganan (Signature): Setelah naskah final disepakati, perwakilan negara-negara pendiri menandatanganinya. Ini adalah komitmen politik, tetapi secara hukum belum mengikat hingga diratifikasi.
- Ratifikasi Domestik: Setiap negara anggota harus mengesahkan traktat tersebut sesuai dengan prosedur hukum domestiknya, biasanya melalui persetujuan parlemen. Tahap ini bisa memakan waktu lama dan berisiko jika ada penolakan di dalam negeri.
- Pemberlakuan (Entry into Force) dan Implementasi: Setelah kuota ratifikasi terpenuhi, traktat resmi berlaku. Struktur organisasi (seperti Markas Besar) dibentuk, prosedur operasi standar disusun, dan latihan gabungan pertama dilaksanakan untuk mengoperasionalkan pakta tersebut.
Dinamika dan Interaksi Antar Blok
Interaksi antara Blok Barat dan Timur selama Perang Dingin bukanlah keadaan statis, melainkan sebuah pendulum yang bergerak antara persaingan ketat dan momen-momen peluruhan ketegangan (detente). Persaingan terjadi di hampir semua bidang, dari perlombaan senjata nuklir dan eksplorasi antariksa hingga perebutan pengaruh di negara-negara Dunia Ketiga di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Teknologi menjadi medan tempur yang sangat penting, dimana kemajuan dalam rudal, satelit pengintai, atau komputasi menjadi penanda superioritas.
Pembentukan aliansi strategis untuk memperkuat blok Barat dan Timur bukan sekadar soal kekuatan militer atau diplomasi, tetapi juga fondasi ekonomi yang solid. Sebuah blok akan rapuh jika di dalamnya terdapat Kriteria Sistem Keuangan Tidak Stabil , yang dapat menjadi titik lemah yang mudah dieksploitasi pihak lawan. Oleh karena itu, konsolidasi kekuatan geopolitik harus didahului dengan penciptaan arsitektur keuangan yang tangguh dan saling mendukung antar sekutu.
Bentuk Persaingan dan Potensi Kerjasama
Persaingan langsung seringkali mengambil bentuk proxy war, di mana kedua blok mendukung pihak yang berseberangan dalam konflik regional, seperti di Korea, Vietnam, atau Afghanistan. Di bidang teknologi, perlombaan untuk mencapai keunggulan dalam kapasitas nuklir, sistem pemandu rudal, dan jaringan komunikasi global menghabiskan sumber daya yang sangat besar. Pengaruh global juga diperebutkan melalui soft power, seperti penyiaran radio internasional (Voice of America vs.
Radio Moscow) dan kompetisi olahraga di Olimpiade.
Namun, di tengah ketegangan, terdapat pula area dimana kerjasama terpaksa atau menguntungkan bagi kedua belah pihak. Momen detente pada era 1970-an melahirkan perjanjian pengendalian senjata seperti SALT I, serta kerjasama di bidang sains dan antariksa, misalnya proyek Apollo-Soyuz. Kerjasama untuk mencegah eskalasi yang tidak disengaja juga dilakukan, seperti pembuatan hotline Washington-Moscow. Di masa kini, isu-isu transnasional seperti perubahan iklim, proliferasi senjata pemusnah massal, atau pandemi global berpotensi menjadi area kerjasama yang diperlukan, meski tetap dibayangi oleh persaingan strategis.
“Polarisasi dunia ke dalam blok-blok yang bersaing menciptakan stabilitas yang rapuh—sebuah ‘perdamaian melalui teror’. Sistem ini efektif dalam mencegah perang langsung antara kekuatan besar karena risiko eskalasi menuju kehancuran bersama (mutually assured destruction) terlalu tinggi. Namun, stabilitas ini dibangun di atas pundak negara-negara klien dan konflik perantara, serta menekan pilihan politik bangsa-bangsa yang terjepit di antara kedua kutub. Ketika satu blok mengalami disintegrasi internal, seperti yang terjadi pada Uni Soviet, seluruh sistem keseimbangan itu pun berguncang dengan konsekuensi yang masih kita rasakan hingga hari ini.”
Studi Kasus Aliansi Kontemporer
Pasca-Perang Dingin, lanskap aliansi global mengalami transformasi. Blok Timur dalam bentuk klasiknya telah bubar, namun dinamika pembentukan blok tidak berhenti. NATO bertahan dan bahkan meluas, mencari raison d’être baru di luar misi awalnya. Di sisi lain, kerjasama seperti Shanghai Cooperation Organization (SCO) muncul sebagai sebuah platform yang dianggap banyak pengamat sebagai embrio blok alternatif dengan nilai-nilai dan kepentingan yang berbeda dari Barat.
NATO: Ekspansi dan Tantangan Baru
Source: slidesharecdn.com
Dinamika geopolitik global seringkali menuntut pembentukan aliansi strategis guna memperkuat blok Barat dan Timur, sebuah manuver yang memerlukan ketepatan dan strategi layaknya dalam olahraga anggar. Seperti halnya atlet Fencing: Olahraga Pedang dengan Baju Hitam yang mengandalkan taktik, kecepatan, dan perlindungan maksimal, negara-negara pun membangun kerja sama dengan kalkulasi matang untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Pada akhirnya, baik di atas panggung dunia maupun di atas piste, keberhasilan ditentukan oleh presisi dalam setiap gerakan dan kekokohan pertahanan yang dibangun.
North Atlantic Treaty Organization (NATO) adalah contoh paling sukses aliansi pertahanan kolektif Blok Barat. Pasca 1991, NATO menghadapi dilema eksistensial: tanpa ancaman eksistensial dari Uni Soviet, untuk apa aliansi ini? Jawabannya adalah transformasi dan ekspansi. NATO terlibat dalam operasi di luar wilayah (out-of-area) seperti di Balkan, Afghanistan, dan melawan ISIS. Ekspansi ke timur, memasukkan bekas negara Pakta Warsawa dan bahkan republik-republik ex-Soviet, menjadi sumber ketegangan utama dengan Rusia saat ini.
Tantangan terkini termasuk membiayai pertahanan dengan memenuhi target 2% PDB, menghadapi ancaman hybrid dan siber dari negara-negara revisionis, serta menjaga kohesi internal di tengah perbedaan pandangan antaranggota mengenai ancaman prioritas.
SCO: Kohesi melalui Paradigma Alternatif
Shanghai Cooperation Organization (SCO), yang dipelopori oleh China dan Rusia, beroperasi dengan logika yang berbeda dari NATO. Fokus awalnya adalah keamanan perbatasan dan memerangi “tiga iblis”: separatisme, ekstremisme, dan terorisme. SCO tidak secara eksplisit merupakan pakta pertahanan bersama, tetapi lebih sebagai forum untuk kerjasama keamanan, ekonomi, dan politik. Strateginya dalam memperkuat kohesi anggota adalah dengan menawarkan narasi alternatif terhadap tatanan global yang dipimpin Barat, menekankan prinsip kedaulatan negara yang tidak dapat diganggu gugat (non-interference), dan mendorong kerjasama ekonomi intra-kawasan melalui inisiatif seperti Belt and Road Road Initiative yang selaras.
Keanggotaannya yang terus bertambah, termasuk negara-negara seperti India dan Pakistan, serta mitra dialog dari Timur Tengah, menunjukkan daya tariknya sebagai platform non-Barat.
Pembentukan aliansi strategis, baik untuk memperkuat Blok Barat maupun Timur, selalu berakar pada komunikasi yang presisi dan penghormatan terhadap konteks budaya. Hal ini mengingatkan pada narasi Sunarto Beli Sepeda di Pasar Malang, Diterjemah ke Krama Alus , di mana pilihan kata yang tepat (krama alus) menjadi kunci interaksi yang harmonis. Demikian pula, diplomasi internasional memerlukan ‘terjemahan’ nilai dan kepentingan yang cermat untuk membangun koalisi yang solid dan berkelanjutan dalam percaturan global.
Perbandingan NATO dan SCO
Meski sering dibandingkan, NATO dan SCO memiliki struktur dan mekanisme operasional yang sangat berbeda. Perbandingan berikut menyoroti perbedaan mendasar dalam cara kedua organisasi ini berfungsi.
| Aspek | NATO | Shanghai Cooperation Organization (SCO) |
|---|---|---|
| Mekanisme Pengambilan Keputusan | Prinsip konsensus (semua anggota setuju). Keputusan dihasilkan melalui diskusi yang seringkali dipimpin oleh AS, tetapi dengan hak veto implisit setiap anggota. | Konsultasi dan konsensus. Lebih menekankan pada kesepakatan melalui musyawarah, dengan pengaruh besar dari anggota pendiri (China dan Rusia). |
| Struktur Komando | Terintegrasi dan permanen. Memiliki struktur komando militer gabungan yang kompleks (Allied Command Operations, Allied Command Transformation) dengan pasukan yang ditugaskan secara tetap atau rotasi. | Tidak memiliki struktur komando militer gabungan yang permanen. Kerjasama militer dilakukan melalui latihan bersama (seperti “Peace Mission”) dan pertukaran intelijen, tetapi tidak ada pasukan SCO yang berdiri sendiri. |
| Sumber Pendanaan | Kontribusi langsung anggota berdasarkan formula pembagian biaya (cost-sharing) untuk anggaran umum, dan pembiayaan sendiri (national funding) untuk pasukan yang dikontribusikan. | Anggaran inti dibiayai oleh iuran anggota berdasarkan kapasitas ekonomi. Proyek-proyek khusus biasanya dibiayai oleh negara yang mengusulkan atau melalui kesepakatan bilateral di luar kerangka SCO. |
| Contoh Operasi | Operasi penegakan zona larangan terbang di Libya (2011), misi pelatihan di Afghanistan (Resolute Support), pengerahan Battle Groups di Eropa Timur pasca-2014. | Latihan militer gabungan antiteror “Peace Mission” yang rutin digelar, kerjasama keamanan perbatasan, serta operasi kontra-terorisme dan kontra-ekstremisme secara intelijen. |
Dari peta geopolitik, perluasan pengaruh NATO digambarkan melalui penambahan anggota secara bertahap ke timur, menyentuh perbatasan Rusia di negara-negara Baltik, Polandia, dan Rumania. Titik persinggungan terpanas saat ini adalah di Laut Hitam, Polandia, dan negara-negara Baltik. Sementara itu, wilayah pengaruh SCO membentang luas dari Asia Tengah (sebagai jantungnya) hingga ke Asia Selatan dengan keanggotaan India dan Pakistan, serta merambah ke Asia Barat melalui kemitraan dengan Iran.
Titik persinggungan antara dua pengaruh ini terjadi secara geopolitik di kawasan Asia Tengah (seperti Kazakhstan yang berinteraksi dengan kedua belah pihak) dan secara ekonomi di Eropa Timur, dimana proyek-proyek infrastruktur China (BRI) berinteraksi dengan negara-negara sekutu atau mitra NATO.
Strategi dan Implikasi Masa Depan
Masa depan aliansi-aliansi global akan ditentukan oleh kemampuan mereka beradaptasi dengan tantangan abad ke-21. Ancaman tidak lagi hanya datang dari tank dan pesawat tempur di perbatasan, tetapi juga dari serangan siber, disinformasi, dan persaingan di domain baru seperti ruang angkasa dan kecerdasan buatan. Di saat yang sama, tekanan internal seperti kebangkitan nasionalisme dan perbedaan kepentingan ekonomi antar anggota dapat mengikis fondasi solidaritas yang telah dibangun puluhan tahun.
Skenario Perluasan dan Domain Persaingan Baru, Bentuk Aliansi untuk Memperkuat Blok Barat dan Timur
Skenario hipotetis perluasan sebuah blok, misalnya jika NATO secara resmi menerima Ukraina atau Georgia, akan secara dramatis mengubah kalkulasi keamanan di Eropa. Rusia akan memandangnya sebagai provokasi eksistensial dan mungkin mengambil tindakan militer yang lebih agresif sebagai respons, memperdalam polarisasi dan risiko konflik. Di kawasan Indo-Pasifik, jika blok kerjasama keamanan seperti AUKUS (Australia, UK, US) atau Quad (AS, Jepang, India, Australia) berkembang menjadi aliansi formal yang mirip NATO, hal itu akan memicu reaksi keras dari China, berpotensi memicu perlombaan senjata regional dan memperketat blokisasi.
Domain persaingan masa depan telah jelas terlihat. Perang siber dan perang informasi sudah menjadi realitas sehari-hari, dimana aliansi harus mengembangkan protokol pertahanan dan respons bersama. Ruang angkasa menjadi domain kritis untuk komunikasi, navigasi, dan pengintaian, sehingga kerjasama antar sekutu dalam ketahanan satelit menjadi vital. Kecerdasan buatan (AI) untuk analisis data intelijen, pengendalian sistem otonom, dan kecepatan pengambilan keputusan akan menjadi penentu kunci superioritas militer.
Aliansi yang gagal berinovasi dan berinvestasi di domain ini akan tertinggal.
Mengatasi Ancaman Hybrid dan Tantangan Internal
Ancaman hybrid warfare—kombinasi dari taktik konvensional, irregular, siber, dan informasi—sangat efektif dalam memecah belah aliansi karena menyerang kohesi sosial dan politik anggota. Untuk mengatasinya, sebuah blok perlu mengadopsi pendekatan terpadu. Berikut adalah langkah-langkah prosedural yang mungkin diambil:
- Membangun Pusat Analisis dan Peringatan Dini Hybrid: Membentuk unit intelijen gabungan yang khusus memantau, menganalisis, dan memberikan peringatan dini tentang kampanye hybrid yang ditujukan terhadap satu atau lebih negara anggota.
- Menyusun Doktrin Respons Terpadu: Mengembangkan doktrin resmi yang mendefinisikan serangan hybrid sebagai pemicu klausul pertahanan bersama (seperti Pasal 5 NATO), dan merinci tanggapan yang mungkin, mulai dari sanksi ekonomi hingga respons siber ofensif.
- Melatih Pejabat Sipil dan Militer: Mengadakan latihan dan simulasi table-top rutin yang melibatkan tidak hanya militer, tetapi juga kementerian luar negeri, keuangan, dan komunikasi untuk melatih respons terkoordinasi terhadap krisis hybrid.
- Meningkatkan Ketahanan Informasi dan Siber Nasional: Membantu anggota yang lebih rentan untuk mengamankan infrastruktur kritis dan media mereka, serta meluncurkan kampanye komunikasi strategis bersama untuk melawan disinformasi yang ditujukan untuk memecah belah aliansi.
- Koordinasi Sanksi dan Diplomasi: Menyepakati paket sanksi ekonomi dan diplomatik otomatis yang akan diaktifkan jika terjadi serangan hybrid yang dikonfirmasi, untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung oleh penyerang.
Tantangan internal tetap menjadi titik lemah terbesar. Perbedaan kepentingan nasional, seperti ketergantungan energi Jerman pada Rusia di masa lalu atau prioritas perdagangan Hongaria dengan China, dapat menghambat pembentukan kebijakan blok yang tegas. Ketidaksetaraan dalam pembagian beban pertahanan, seperti perdebatan soal target 2% PDB di NATO, menimbulkan kecemburuan dan kecurigaan. Kemunculan pemimpin populis yang lebih mementingkan nasionalisme sempit daripada solidaritas aliansi juga berpotensi melumpuhkan proses pengambilan keputusan kolektif.
Keberlangsungan sebuah blok di masa depan tidak hanya bergantung pada ancaman eksternal, tetapi juga pada kemampuan untuk terus memperbarui kontrak sosial di antara para anggotanya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, dinamika penguatan aliansi di Blok Barat dan Timur menggambarkan sebuah paradoks dunia modern: di satu sisi, upaya untuk menciptakan stabilitas melalui blok-blok yang solid justru berpotensi memicu polarisasi dan ketegangan baru. Masa depan keseimbangan kekuatan global akan sangat ditentukan oleh kemampuan masing-masing blok dalam mengelola friksi internal, beradaptasi dengan teknologi disruptif, dan menemukan titik temu di tengah persaingan yang tak terelakkan.
Ketika perbatasan pengaruh terus bergeser, satu hal yang pasti: bentuk dan fungsi aliansi-aliansi ini akan terus berubah, menjadi penentu utama dalam peta geopolitik abad ke-21.
Area Tanya Jawab
Apakah konsep Blok Barat dan Timur masih relevan pasca-Perang Dingin?
Sangat relevan, meski konfigurasinya berubah. Istilah “Barat” dan “Timur” kini lebih mencerminkan kesamaan nilai, sistem politik, dan kepentingan strategis daripada geografi semata. Aliansi seperti NATO dan SCO adalah kelanjutan modern dari pembentukan blok ini.
Bisakah sebuah negara menjadi anggota dari aliansi di kedua blok sekaligus?
Sangat jarang dan hampir mustahil secara politis karena konflik kepentingan dan loyalitas. Namun, beberapa negara bisa memiliki kemitraan dialog atau observasi dengan aliansi dari blok lain tanpa menjadi anggota penuh, seperti kemitraan NATO dengan beberapa negara di Asia.
Bagaimana peran negara non-blok atau “swing states” dalam dinamika ini?
Negara-negara non-blok atau swing states menjadi ajang tarik-menarik pengaruh yang sangat penting. Mereka sering menjadi target diplomasi, bantuan ekonomi, dan kerjasama militer dari kedua blok, sehingga posisi mereka dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan regional.
Ancaman apa yang paling signifikan terhadap kohesi internal sebuah blok aliansi?
Perbedaan kepentingan nasional yang mendasar di antara anggota adalah ancaman terbesar. Hal ini bisa berupa sengketa perdagangan, kebijakan energi, pendekatan berbeda terhadap negara tertentu, atau ketidaksepakatan dalam membagi beban pertahanan dan pendanaan.