Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib Sejarah dan Keyakinan

Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib merupakan sebuah fenomena sejarah dan keagamaan yang akarnya tertanam dalam pada masa-masa formatif Islam. Kemunculannya pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW tidak hanya sekadar perbedaan politik, tetapi berkembang menjadi sebuah identitas teologis dan spiritual yang khas, yang terus membentuk wajah peradaban Islam hingga hari ini. Narasi tentang kesetiaan kepada Ali dan keluarganya telah melahirkan tradisi pemikiran, gerakan sosial, serta ekspresi budaya yang sangat kaya dan kompleks.

Bermula dari dukungan terhadap hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, kelompok ini kemudian mengkristalkan prinsip-prinsip keyakinan yang unik, seperti konsep imamah dan penekanan pada keadilan ilahi. Perjalanan panjang mereka melalui lintasan sejarah, dari medan pertempuran Siffin hingga berdirinya dinasti-dinasti besar seperti Fatimiyah dan Safawiyah, diwarnai oleh tantangan, pencapaian intelektual, serta diversifikasi internal yang menghasilkan berbagai aliran pemikiran.

Asal-Usul dan Makna Penamaan

Pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, komunitas Muslim awal dihadapkan pada persoalan suksesi kepemimpinan yang tidak terelakkan. Dari dialog dan perdebatan intens yang menyusul, mulailah terbentuk kelompok yang dengan teguh meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi, adalah sosok yang paling berhak memimpin. Kelompok ini tidak muncul secara tiba-tiba sebagai entitas yang terpisah, tetapi lebih sebagai kristalisasi dari suatu pandangan teologis-politik yang berakar dari interpretasi tertentu atas wasiat Nabi dan otoritas spiritual Ahlul Bait.

Dalam literatur sejarah, kelompok ini dirujuk dengan berbagai istilah, masing-masing membawa nuansa dan konteks tertentu. Penamaan ini sering kali mencerminkan perspektif dari pihak yang menyebut, baik itu dari dalam kelompok sendiri maupun dari penulis sejarah dari mazhab lain. Memahami ragam istilah ini penting untuk menangkap kompleksitas identitas dan perjalanan historis mereka.

Perbandingan Istilah dan Konteks Penggunaannya

Beberapa istilah yang umum digunakan memiliki penekanan yang berbeda-beda, mulai dari yang bersifat politis, teologis, hingga genealogis. Tabel berikut merangkum beberapa penamaan kunci.

Istilah Makna Harfiah/Konseptual Konteks Penggunaan Awal Catatan
Syi’ah Ali Pengikut/Partisan Ali Istilah historis paling awal yang bersifat politis, mengacu pada pihak yang mendukung Ali dalam konflik kepemimpinan. Netral secara deskriptif, sering digunakan dalam sumber-sumber sejarah klasik.
Syi’ah Kelompok/Partisan Berkembang menjadi istilah teologis resmi untuk mazhab yang meyakini imamah Ali dan keturunannya sebagai doktrin utama. Kini menjadi nama mazhab (Syiah). Penggunaannya bisa luas (untuk semua cabang) atau spesifik (mengacu pada Itsna ‘Asyariyah).
Ahlul Bait Keluarga (Rumah Tangga) Nabi Istilah yang menekankan pada ikatan darah dan spiritual dengan Nabi Muhammad, mencakup Ali, Fatimah, dan anak-anak mereka. Digunakan baik oleh kalangan Syiah maupun Sunni, namun dengan penekanan dan lingkup otoritas yang berbeda dalam teologi.
Alawiyyin Keturunan Ali Lebih menekankan pada aspek genealogis dan nasab, sering digunakan dalam konteks sosial-historis untuk menyebut keturunan Ali dan Fatimah. Istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada kelompok tertentu di Suriah yang berbeda secara teologis dari Syiah mainstream.

Prinsip-Prinsip Dasar Keyakinan

Keyakinan kelompok yang setia kepada Ali bin Abi Thalib dibangun di atas fondasi teologis yang memiliki ciri khas yang membedakannya dari kelompok Islam lainnya pada masa formatif. Perbedaan ini tidak hanya terletak pada persoalan kepemimpinan politik semata, tetapi telah berkembang menjadi sistem keyakinan yang komprehensif menyangkut otoritas keagamaan, penafsiran wahyu, dan jalan keselamatan.

Inti dari seluruh bangunan teologi ini adalah konsep imamah, yang menjadi poros pemisah utama. Bagi mereka, imamah bukan sekadar kepemimpinan duniawi yang dipilih melalui musyawarah atau penunjukan biasa, melainkan suatu posisi ilahiah yang merupakan kelanjutan dari kenabian.

Konsep Imamah dan Posisi Ali bin Abi Thalib

Imamah dipahami sebagai otoritas yang ditetapkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad untuk memimpin umat secara spiritual dan duniawi pasca beliau. Imam diyakini sebagai manusia maksum (terjaga dari dosa dan kesalahan), yang memiliki pengetahuan khusus tentang makna batin Al-Qur’an dan syariat. Ali bin Abi Thalib diyakini sebagai Imam pertama yang secara tegas ditunjuk oleh Nabi, terutama dalam peristiwa Ghadir Khum. Konsekuensinya, kepemimpinan tiga khalifah sebelum Ali, meski diakui secara historis, dianggap sebagai penyimpangan dari wasiat Nabi.

BACA JUGA  Penyerahan Belanda ke Jepang Dilakukan di Daerah Kalijati Subang

Ali dan para imam setelahnya dari keturunannya dipandang sebagai satu-satunya pemegang otoritas yang sah.

Penekanan Ajaran pada Keadilan, Kepemimpinan, dan Penafsiran

Doktrin imamah ini melahirkan penekanan khusus pada beberapa aspek ajaran. Poin-poin berikut menggambarkan fokus keyakinan mereka:

  • Keadilan Ilahi (Al-‘Adl): Keadilan Tuhan adalah prinsip fundamental. Ini berkaitan erat dengan keyakinan bahwa Tuhan akan mengutus para imam sebagai bukti dan petunjuk bagi manusia, karena tidak adil jika manusia dibiarkan tanpa pemandu setelah Nabi.
  • Kepemimpinan yang Maksum: Figur pemimpin (imam) haruslah maksum. Hal ini menjamin kemurnian ajaran dan penafsiran agama dari distorsi, serta menjadi jaminan keadilan dalam pemerintahan.
  • Penafsiran Batin (Ta’wil): Al-Qur’an diyakini memiliki makna lahir (zahir) dan batin (batin). Para imam, sebagai penerus wasiat Nabi, memiliki otoritas untuk menyingkap makna-makna batin tersebut, yang membawa pada pemahaman spiritual yang lebih dalam.
  • Kecintaan kepada Ahlul Bait (Tawalla): Kecintaan dan kesetiaan kepada keluarga Nabi adalah bagian integral dari iman. Ini diimbangi dengan prinsip berlepas diri (tabarra) dari musuh-musuh mereka, yang dipandang sebagai musuh agama.

Perkembangan dalam Lintasan Sejarah

Perjalanan kelompok pengikut Ali bukanlah sebuah garis lurus yang mulus, melainkan sebuah narasi yang penuh dengan gejolak politik, tragedi kemanusiaan, dan adaptasi teologis. Dari masa kekhalifahan Ali yang penuh konflik hingga berdirinya dinasti-dinasti besar yang mengangkat bendera mereka, setiap era meninggalkan bekas yang mendalam pada formasi identitas dan doktrin kelompok ini.

Titik-titik balik dalam sejarah mereka sering kali berupa peristiwa-peristiwa tragis yang dikenang sebagai simbol pengorbanan dan keteguhan prinsip. Peristiwa-peristiwa ini tidak hanya dicatat dalam buku sejarah, tetapi juga hidup dalam memori kolektif dan praktik keagamaan, membentuk sebuah sejarah suci yang penuh dengan makna.

Momen-Momen Kunci dalam Garis Waktu

Narasi sejarah utama kelompok ini dapat dirangkum dalam momen-momen penting berikut:

656-661 M: Masa Kekhalifahan Ali. Ali akhirnya menjadi khalifah keempat setelah terbunuhnya Utsman. Masa pemerintahannya diwarnai oleh dua perang saudara besar: Perang Jamal melawan Aisyah, Thalhah, dan Zubair; serta Perang Shiffin melawan Muawiyah. Arbitrase (tahkim) pasca Shiffin memecah belah pendukungnya, melahirkan kelompok Khawarij yang kemudian membunuh Ali di Kufah.

680 M: Tragedi Karbala. Cucu Nabi, Husain bin Ali, beserta keluarga dan pengikut setianya, dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di Padang Karbala. Peristiwa ini menjadi trauma kolektif dan titik kristalisasi identitas Syiah yang paling mendalam, melambangkan perlawanan terhadap kezaliman.

750-1258 M: Era Dinasti-Dinasti Syiah. Setelah periode panjang ketertindasan di bawah Bani Umayyah, bangkitlah Bani Abbasiyah yang awalnya didukung oleh kalangan pro-Ali. Dinasti-dinasti Syiah kemudian berdiri, seperti Idrisiyah di Maroko, Fatimiyah di Mesir dan Afrika Utara, dan Buyid yang menguasai Baghdad. Ilmu pengetahuan dan filsafat berkembang pesat di bawah patronase mereka.

874 M: Awal Masa Kegaiban Imam Keduabelas. Imam ke-12, Muhammad al-Mahdi, dipercaya memasuki masa kegaiban kecil (ghaybah al-sughra). Periode ini menandai perubahan besar dalam struktur kepemimpinan spiritual, dengan peran ulama (mujtahid) menjadi semakin sentral sebagai perwakilan imam yang gaib.

Kontribusi terhadap Peradaban Islam

Meski sering menghadapi tantangan politik, kelompok pengikut Ali memberikan sumbangsih yang luar biasa dan tak terbantahkan bagi peradaban Islam secara keseluruhan. Kontribusi mereka melintasi bidang ilmu pengetahuan rasional, hukum, teologi, dan sastra, sering kali berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan warisan Yunani dengan pemikiran Islam dan kemudian menyebarkannya ke dunia.

Banyak ilmuwan dan filsuf yang bekerja di bawah naungan dinasti-dinasti yang mendukung atau beraliran Syiah. Mereka menciptakan karya-karya monumental yang menjadi rujukan utama, tidak hanya bagi kalangan internal tetapi juga bagi peradaban dunia. Karya-karya ini membuktikan bahwa semangat intelektual dan spiritual bisa tumbuh subur bahkan dalam situasi yang kompleks.

Ilmuwan dan Karya Utama

Nama Ilmuwan Bidang Kontribusi Karya Utama Catatan Penting
Jabir bin Hayyan Kimia, Alkimia Berbagai risalah kimia yang menjadi fondasi ilmu kimia modern. Sering disebut “Bapak Kimia”, bekerja dalam lingkungan yang mendukung keluarga Nabi.
Nasir al-Din al-Tusi Astronomi, Matematika, Filsafat, Teologi Zij-i Ilkhani (tabel astronomi), Tajrid al-I’tiqad (teologi). Mendirikan Observatorium Maragha, karyanya mempengaruhi Copernicus.
Al-Shaykh al-Mufid Teologi, Hukum (Fiqh) Al-Irshad (biografi para imam), berbagai karya ushul fiqh. Guru utama dari tiga ulama besar Syiah, meletakkan dasar metodologis hukum Syiah.
Avicenna (Ibnu Sina) Filsafat, Kedokteran Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine), Al-Shifa (The Book of Healing). Filsuf dan dokter paling terkenal. Latar belakang pemikirannya sering dikaitkan dengan tradisi intelektual Syiah Ismaili.
BACA JUGA  Pengertian Nuzulul Quran Makna Turunnya Wahyu Al-Quran

Ekspresi Sastra dan Kecintaan kepada Ali, Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib

Kecintaan kepada Ali dan keluarga Nabi telah menjadi sumber inspirasi yang tak kering bagi puisi dan sastra. Syair-syair ini bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga media untuk mengajarkan nilai-nilai keberanian, spiritualitas, dan keadilan.

Kelompok setia kepada Ali bin Abi Thalib, atau Syi’ah, lahir dari pergulatan politik dan spiritual pasca wafatnya Nabi Muhammad. Refleksi historis ini mengingatkan kita bahwa pergerakan kolektif sering lahir dari respons terhadap kondisi zaman, mirip dengan Faktor-faktor yang Mendorong Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia yang dipicu kesadaran akan ketertindasan dan keinginan kuat untuk berdaulat. Pada akhirnya, baik dalam konteks keagamaan maupun kebangsaan, kesetiaan pada suatu ideologi menjadi fondasi identitas yang kokoh bagi para pengikutnya, sebagaimana ditunjukkan oleh loyalitas tak tergoyahkan para pendukung Ali.

“Wahai yang membelah bulan, wahai pembunuh pemberontak,Wahai singa Allah di medan perang, wahai Ali.Kau adalah pintu kota ilmu, kau adalah rahasia Sang Pencipta,Kau adalah cahaya bagi mata yang melihat, wahai Ali.”

— Penggalan puisi pujian (manaqib) yang biasa dibacakan dalam majelis-majelis peringatan, menggambarkan Ali sebagai sosok pemberani, pemegang ilmu Nabi, dan figur spiritual yang agung.

Ragam dan Aliran Internal

Seperti halnya mazhab-mazhab besar lainnya dalam Islam, kelompok pengikut Ali juga tidak monolitik. Sepanjang sejarah, perbedaan interpretasi mengenai garis suksesi imamah, sifat kepemimpinan, dan doktrin-doktrin teologis tertentu telah melahirkan berbagai cabang dan aliran. Perpecahan ini biasanya terjadi setelah wafatnya seorang imam, ketika muncul perselisihan tentang siapa penerus yang sah.

Kelompok setia kepada Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai Syi’ah, dalam sejarahnya seringkali beroperasi dalam dinamika kekuasaan yang terkonsentrasi. Mirip dengan struktur Pasar Oligopoli: Definisi dan Karakteristik di mana dominasi hanya dipegang oleh segelintir pelaku, loyalitas politik dan teologis dalam kelompok ini juga terbentuk di sekitar otoritas sentral yang terbatas, menciptakan ikatan komunitas yang sangat kuat dan eksklusif.

Dua cabang terbesar yang masih ada hingga hari ini adalah Itsna ‘Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam) dan Ismailiyah. Perbedaan mendasar di antara mereka, serta dengan cabang-cabang lain seperti Zaidiyah, memberikan gambaran tentang keragaman pemikiran di dalam tradisi besar ini.

Perbandingan Pandangan Antar Aliran Utama

Perbedaan utama antaraliran dapat dilihat dari beberapa isu krusial. Itsna ‘Asyariyah, yang menjadi mayoritas, meyakini garis imamah melalui putra Imam Ja’far al-Shadiq yang bernama Musa al-Kazhim, hingga imam ke-12 yang kini dalam keadaan gaib. Ismailiyah, di sisi lain, meyakini bahwa setelah Imam Ja’far al-Shadiq, imamah diteruskan kepada putra sulungnya, Ismail (yang wafat lebih dulu), atau kepada putra Ismail, Muhammad bin Ismail.

Konsekuensinya, garis imam mereka berbeda. Zaidiyah, yang sering dianggap sebagai cabang yang paling dekat dengan Sunni, memiliki konsep imamah yang lebih fleksibel; imam tidak harus maksum dan dapat bangkit melawan penguasa yang zalim, sebagaimana dilakukan oleh pendiri aliran mereka, Zaid bin Ali.

Ekspresi Spiritual dan Budaya

Keyakinan yang mendalam akan sejarah pengorbanan dan kepemimpinan spiritual Ali serta Ahlul Bait telah melahirkan ekspresi keagamaan dan budaya yang khas dan penuh emosi. Ekspresi ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan cara untuk menghidupkan kembali memori, memperdalam ikatan spiritual, dan menegaskan identitas komunitas.

Praktik-praktik dan peringatan ini sering kali bersifat komunitas, melibatkan banyak orang dan menciptakan ruang bersama untuk berduka, merenung, dan memperbarui komitmen pada nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para imam. Simbol-simbol yang muncul darinya mudah dikenali dan sarat makna.

Praktik Keagamaan dan Peringatan Penting

Di antara praktik yang paling mencolok adalah peringatan Asyura pada tanggal 10 Muharram, yang memperingati syahidnya Imam Husain di Karbala. Ritual ini bisa mencakup pembacaan kisah tragis (maqtal), prosesi (arak-arakan), dan di beberapa komunitas, ekspresi duka yang mendalam. Peringatan Arbain (40 hari setelah Asyura) juga penting, yang ditandai dengan ziarah massal ke Karbala. Selain itu, perayaan Ghadir Khum pada 18 Dzulhijjah, yang memperingati penunjukan Ali oleh Nabi, dirayakan dengan sukacita.

Ziarah (ziarah) ke makam para imam di Najaf, Karbala, Kazimain, Mashhad, dan lainnya dianggap sebagai ibadah yang sangat dianjurkan.

Simbol dan Bentuk Seni

Simbol yang paling universal adalah gambar tangan dengan lima jari (Tangan Fatimah atau Khamsa), yang melambangkan lima orang utama Ahlul Kisa: Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Dalam arsitektur, makam dan husainiyah (bangunan untuk peringatan Asyura) sering dihiasi dengan kubah berwarna emas atau hijau, serta menara-menara. Kaligrafi nama Ali dengan bentuk pedang bermata dua ( Zulfikar) adalah motif seni yang sangat populer, menggabungkan simbol spiritual (nama Ali) dengan simbol keberanian (pedangnya).

BACA JUGA  Isi Perjanjian Hudaibiyah Strategi Damai Nabi Muhammad

Seni mendongeng ( rawda khwani) dan teater tradisional ( ta’ziyeh di Iran) adalah bentuk seni pertunjukan yang lahir langsung dari tradisi ini.

Tokoh-Tokoh Penting dan Riwayat Hidupnya

Tradisi intelektual dan spiritual kelompok ini ditopang oleh para pemikir, ulama, dan tentu saja, para imam yang diyakini sebagai pemimpinnya. Mereka bukan hanya figur sejarah, tetapi juga sumber otoritas penafsiran, hukum, dan teladan moral. Karya-karya mereka membentuk kanon keilmuan yang terus dipelajari dan dikembangkan hingga sekarang.

Para imam, mulai dari Ali bin Abi Thalib hingga Imam Keduabelas, hidup dalam periode yang berbeda dengan tantangan yang beragam, dari masa kekuasaan hingga penindasan. Sementara itu, para ulama dan filsuf berperan dalam mengembangkan dan mempertahankan warisan intelektual tersebut, terutama setelah masa kegaiban imam.

Biografi Singkat Para Imam dan Pemikir Awal

Ali bin Abi Thalib (w. 661 M) sendiri adalah sumber utama inspirasi. Selain sebagai khalifah, khotbah-khotbah dan surat-suratnya yang terkumpul dalam Nahj al-Balaghah menjadi kitab penting tentang teologi, filsafat, dan pemerintahan. Ja’far al-Shadiq (w. 765 M), Imam ke-6, hidup di masa peralihan kekuasaan Umayyah ke Abbasiyah dan relatif bebas mengajar.

Beliau adalah guru dari banyak ilmuwan, baik dari kalangan pengikutnya maupun tidak, dan meletakkan dasar-dasar utama hukum (fiqh) dan teologi Syiah Itsna ‘Asyariyah. Al-Shaykh al-Mufid (w. 1022 M) adalah teolog dan fakih besar di Baghdad yang dengan gigih membela doktrin Syiah melalui debat dan tulisan, sekaligus menyempurnakan metodologi hukumnya.

Kelompok setia kepada Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai Syi’ah, memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan prinsip-prinsip keadilan dan kepemimpinan. Komitmen terhadap prinsip yang jelas dan perhitungan yang tepat ini, secara menarik, juga dapat ditemui dalam ranah sains, seperti pada analisis Jumlah NaOH untuk menaikkan pH 5 pada 50 mL cuka 60% yang memerlukan ketelitian tinggi. Demikian pula, kesetiaan para pengikut Ali dibangun di atas fondasi pemahaman yang mendalam dan perhitungan yang cermat terhadap ajaran-ajaran yang diwariskan.

Karya-Karya Tulis Utama

  • Nahj al-Balaghah (Jalan Kefasihan): Dikumpulkan oleh Syarif al-Radhi, berisi khotbah, surat, dan kata-kata hikmah Ali bin Abi Thalib. Merupakan masterpiece sastra dan pemikiran Islam.
  • Al-Kafi (Yang Mencukupi): Disusun oleh Al-Kulaini (w. 941 M). Merupakan kompilasi hadis dari para imam Syiah yang paling komprehensif dan dianggap sebagai kitab hadis primer.
  • Al-Irshad (Bimbingan): Karya Al-Shaykh al-Mufid, berisi biografi dan riwayat hidup para imam, menjadi rujukan standar sejarah spiritual mereka.
  • Tajrid al-I’tiqad (Pemurnian Keyakinan): Karya Nasir al-Din al-Tusi, merupakan ikhtisar teologi Syiah Itsna ‘Asyariyah yang disusun secara filosofis dan sangat sistematis.

Kesimpulan: Kelompok Setia Kepada Ali Bin Abi Thalib

Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib

Source: akamaized.net

Dengan demikian, warisan Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib jauh melampaui batasan sejarah awal Islam. Ia adalah sebuah tradisi hidup yang terus bernapas melalui karya-karya filsafat, hukum, dan sastra yang gemilang, serta melalui ekspresi spiritual dan budaya yang mendalam. Dari kontribusi ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi hingga lantunan puisi yang mengharu biru, kecintaan kepada Ali dan Ahlul Bait telah menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering.

Memahami kelompok ini berarti menyelami salah satu arus utama pemikiran Islam yang telah memberi warna tak terhapuskan pada mozaik peradaban manusia, menantang kita untuk melihat sejarah dengan nuansa yang lebih kaya dan empatik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib sama dengan Syi’ah?

Ya, dalam konteks historis dan akademis, istilah “Kelompok Setia kepada Ali bin Abi Thalib” umumnya merujuk pada akar dan cikal bakal dari apa yang kemudian dikenal sebagai Syi’ah. Syi’ah adalah perkembangan lanjutan dan terminologi yang lebih spesifik untuk kelompok ini.

Apakah semua pengikut Ali bin Abi Thalib kemudian menjadi Syi’ah?

Tidak selalu. Pada masa awal, banyak yang mendukung Ali atas dasar politik atau kesukuan tanpa menganut keyakinan teologis khusus tentang imamah yang kemudian menjadi ciri khas Syi’ah. Dukungan politik tidak selalu identik dengan penerimaan seluruh doktrin keagamaan.

Bagaimana pandangan kelompok ini terhadap sahabat Nabi selain Ali?

Pandangan bervariasi antar aliran. Secara umum, mereka memuliakan sahabat yang setia kepada Ali. Namun, terhadap sahabat yang dianggap berselisih atau menentang hak kepemimpinan Ali, seperti Abu Bakar dan Umar, terdapat spektrum pendapat mulai dari penghormatan yang kritis hingga pengutukan, tergantung aliran dan konteks sejarahnya.

Apakah kelompok ini hanya ada di Iran?

Sama sekali tidak. Meski Iran menjadi negara dengan mayoritas penganut Syiah Itsna Asyariyah (aliran utama), komunitas setia kepada Ali tersebar luas di seluruh dunia, seperti di Irak, Lebanon, Bahrain, Pakistan, India, Azerbaijan, dan banyak negara lainnya, termasuk dalam bentuk minoritas di berbagai belahan dunia.

Apa perbedaan utama antara Syi’ah dan Sunni yang berawal dari kesetiaan kepada Ali ini?

Perbedaan mendasar terletak pada konsep kepemimpinan (imamah). Kelompok ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW, atas perintah Allah, telah menunjuk Ali dan keturunannya sebagai pemimpin spiritual dan politik umat secara eksplisit. Sementara Sunni meyakini kepemimpinan dipilih melalui musyawarah (syura) oleh komunitas.

Leave a Comment