Tanggapan tentang Dualisme dan Monisme Perdebatan Hakikat Realitas

Tanggapan tentang Dualisme dan Monisme bukan sekadar perdebatan kuno para filsuf yang teronggok dalam buku berdebu. Ia adalah pertarungan gagasan fundamental yang masih terus bergema, membentuk cara kita memandang diri sendiri, kesadaran, hingga kecerdasan buatan. Di satu sisi, dualisme menegaskan pemisahan yang jelas antara jiwa dan raga, pikiran dan materi. Di sisi lain, monisme bersikukuh bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berasal dari satu substansi utama.

Perbedaan mendasar ini bagaikan memandang sebuah koin; apakah kita melihat dua sisi yang berbeda (dualisme) atau satu benda logam utuh (monisme)?

Perseteruan intelektual ini telah berlangsung selama berabad-abad, melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Descartes dengan dualisme substansinya yang terkenal, hingga para materialis modern yang melihat otak sebagai sumber segala pikiran. Diskusi ini bukan tanpa konsekuensi. Pilihan pada salah satu paham akan membawa implikasi besar pada bidang neurosains, psikologi, etika, dan bahkan cara kita menanggapi perkembangan teknologi paling mutakhir. Artikel ini akan mengajak kita menyelami argumen, kelemahan, serta dampak nyata dari kedua perspektif yang saling bertolak belakang ini.

Pengantar Konsep Dasar

Pertanyaan tentang hakikat realitas dan apa yang menyusun keberadaan kita telah menggoda pikiran manusia selama berabad-abad. Di jantung banyak perdebatan filosofis dan ilmiah ini, terdapat dua posisi fundamental yang saling bertolak belakang: dualisme dan monisme. Memahami kedua paham ini bukan sekadar latihan akademis, tetapi membuka jendela untuk melihat bagaimana kita memandang diri sendiri, kesadaran, dan tempat kita di alam semesta.

Dualisme, pada intinya, adalah pandangan bahwa realitas terdiri dari dua jenis substansi atau prinsip yang berbeda dan tak tereduksi. Dalam konteks filsafat pikiran yang paling terkenal, ini berarti bahwa pikiran (atau jiwa) dan materi (atau tubuh) adalah dua entitas yang terpisah. Sementara itu, monisme berpendapat sebaliknya, bahwa pada level paling mendasar, hanya ada satu jenis ‘bahan’ penyusun realitas. Bagi monis, segala sesuatu—pikiran, perasaan, batu, bintang—berasal dari sumber yang sama, baik itu materi, kesadaran, atau sesuatu yang netral.

Asal-Usul Historis dan Tokoh Utama

Pemikiran dualistik dan monistik telah memiliki jejak panjang dalam sejarah pemikiran, dengan tokoh-tokoh kunci yang membentuk argumennya masing-masing. Tabel berikut merangkum garis besar perkembangan historis dari kedua paham tersebut.

Perdebatan klasik dualisme dan monisme dalam filsafat pikiran-tubuh ternyata punya resonansi praktis yang mengejutkan. Refleksi atas kompleksitas kesadaran ini mengingatkan kita bahwa sistem pendidikan pun kerap terjebak dalam pemisahan yang kaku. Di sinilah pentingnya mengkritisi potensi Dampak Negatif Pendidikan Nonformal , yang jika tidak terintegrasi dengan baik justru dapat memperlebar jurang antara teori akademis dan aplikasi praktis. Persoalan ini, pada akhirnya, mengajak kita merenungkan kembali dikotomi serupa dalam wacana dualisme-monisme: apakah ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup benar-benar terpisah, ataukah ia adalah kesatuan yang tak terbagi?

Paham Asal-usul Awal Tokoh Utama (Historris) Tokoh Utama (Modern/Kontemporer)
Dualisme Dapat ditelusuri ke pemikiran Zoroastrianisme dan Plato, yang membedakan dunia ide dan dunia fisik. Plato, René Descartes, Gottfried Wilhelm Leibniz. John Searle (meski kritis), beberapa ahli dalam filosofi agama, David Chalmers (dualisme properti).
Monisme Berakar dari filsafat Presokratik seperti Thales (air) dan Parmenides (yang satu), serta tradisi Advaita Vedanta. Baruch Spinoza, Thomas Hobbes, George Berkeley (idealisme). Daniel Dennett, Patricia Churchland, Paul Churchland (materialis); Thomas Nagel (monisme netral).

Analog Sederhana Dualisme dan Monisme

Bayangkan sebuah komputer. Pandangan dualis akan mengatakan bahwa ada perangkat keras (hardware) yang nyata dan terpisah dari perangkat lunak (software). Software bukanlah bagian fisik dari hardware; ia adalah program yang mengatur hardware. Sementara itu, pandangan monis materialis akan berargumen bahwa “software” sebenarnya hanyalah pola kompleks dari aktivitas listrik di dalam hardware. Tidak ada entitas terpisah bernama software; yang ada hanyalah hardware yang berfungsi dengan cara tertentu.

Analogi ini, meski disederhanakan, menggambarkan perdebatan inti: apakah pikiran adalah “pengemudi” yang terpisah dari otak, atau ia adalah “perjalanan” yang dihasilkan oleh otak itu sendiri.

Argumen dan Dasar Pemikiran

Baik dualisme maupun monisme tidak berdiri tanpa fondasi argumen yang kuat. Masing-masing dikembangkan untuk menjawab teka-teki mendasar tentang pengalaman subjektif dan realitas objektif. Menelusuri argumen-argumen inti mereka serta kelemahan yang dikritisi oleh pihak lawan memberikan peta intelektual yang lebih jelas tentang medan perdebatan ini.

BACA JUGA  Fungsi Kuadrat – Minimum Luas ΔTUQ pada Persegi 8 cm Analisis Geometri

Argumen Filosofis Pendukung Dualisme, Tanggapan tentang Dualisme dan Monisme

Dualisme menarik kekuatannya dari beberapa pengamatan filosofis yang sulit dijelaskan secara murni materialistis.

  • Argumen Subjektivitas (Qualia): Pengalaman subjektif seperti rasa sakit, warna merah, atau aroma kopi memiliki kualitas “seperti apa” yang tidak dapat direduksi menjadi deskripsi fisik objektif tentang proses saraf. Fakta bahwa kita memiliki pengalaman pertama ini (qualia) dianggap sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar materi.
  • Argumen Kemandirian Pikiran: Pikiran kita tampaknya memiliki sifat yang berbeda dari benda fisik. Ia tidak memiliki lokasi spasial yang pasti, tidak memiliki massa, dan isinya (seperti ide abstrak tentang keadilan atau angka) tidak tunduk pada hukum fisika. Perbedaan sifat ini menunjukkan perbedaan hakikat.
  • Argumen Kehendak Bebas: Banyak yang merasa bahwa kita memiliki kehendak bebas yang otentik. Jika segala sesuatu, termasuk pikiran, hanyalah materi yang tunduk pada hukum sebab-akibat fisik yang ketat (determinisme), maka kehendak bebas adalah ilusi. Dualisme menyediakan ruang bagi kehendak bebas dengan menempatkan pikiran di luar rantai kausal fisik murni.

Namun, setiap argumen ini memiliki kelemahan potensial. Argumen qualia dituduh sebagai argumen dari ketidaktahuan. Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kesadaran secara fisik saat ini tidak membuktikan bahwa ia non-fisik. Argumen kemandirian pikiran menghadapi masalah interaksi: bagaimana substansi non-fisik (pikiran) dapat menyebabkan perubahan pada substansi fisik (tubuh), dan sebaliknya, tanpa melanggar hukum kekekalan energi? Sementara argumen kehendak bebas dapat dianggap hanya menggeser masalah, karena kehendak bebas dalam substansi non-fisik pun tetap memerlukan penjelasan tentang bagaimana ia bekerja.

Argumen Filosofis Pendukung Monisme

Monisme, khususnya varian materialis, mendapatkan momentum dari kemajuan sains dan prinsip kesederhanaan penjelasan (Ockham’s Razor).

  • Argumen Kesederhanaan Ontologis: Monisme materialis lebih hemat secara ontologis. Daripada mengandaikan dua jenis realitas (fisik dan mental), ia hanya mengandaikan satu: materi. Prinsip pisau cukur Ockham menyatakan bahwa penjelasan dengan entitas yang lebih sedikit umumnya lebih disukai, asalkan dapat menjelaskan fenomena yang sama.
  • Argumen Dependensi Kausal: Bukti neurosains secara konsisten menunjukkan bahwa keadaan mental bergantung sepenuhnya pada keadaan otak. Kerusakan pada area otak tertentu dapat menghilangkan memori, mengubah kepribadian, atau menghilangkan kemampuan bahasa. Ketergantungan ini sangat kuat menunjukkan bahwa pikiran bukanlah entitas independen, tetapi produk dari otak.
  • Argumen Evolusi: Jika kesadaran adalah entitas non-fisik yang terpisah, bagaimana ia berevolusi? Monisme materialis memberikan narasi yang koheren: kesadaran muncul secara bertahap melalui proses evolusi biologis pada sistem saraf yang semakin kompleks. Ia adalah sifat yang muncul dari organisasi materi, bukan sesuatu yang “ditambahkan” dari luar.

Kelemahan potensial dari argumen-argumen ini juga ada. Kesederhanaan ontologis bisa jadi menipu jika ia gagal menjelaskan fenomena utama—dalam hal ini, sifat subjektif dari pengalaman. Dependensi kausal tidak selalu membuktikan identitas; layar TV bergantung pada sirkuitnya, tetapi gambar di layar bukanlah sirkuit itu sendiri. Sementara argumen evolusi, meski kuat, masih berjuang untuk menjelaskan “lompatan” dari proses fisik yang tak sadar menjadi pengalaman subjektif yang sadar, yang sering disebut sebagai “hard problem of consciousness”.

Jawaban atas Hubungan Pikiran dan Materi

Cara setiap paham menjawab pertanyaan sentral tentang hubungan pikiran-materi mendefinisikan posisinya. Dualisme substansi ala Descartes menjawab dengan interaksionisme: pikiran dan tubuh adalah dua substansi yang berbeda namun berinteraksi melalui kelenjar pineal. Dualisme properti berpendapat bahwa hanya ada satu jenis substansi (fisik), tetapi ia memiliki dua jenis properti yang berbeda: fisik dan mental. Monisme materialis menjawab dengan identitas: proses mental adalah identik dengan proses otak.

Monisme idealis mengambil jalan sebaliknya: materi adalah manifestasi atau konstruksi dari pikiran atau kesadaran.

Implikasi dalam Disiplin Ilmu

Perdebatan filosofis ini bukan hanya percakapan di menara gading. Ia memiliki konsekuensi nyata dalam bagaimana ilmu pengetahuan, khususnya neurosains dan psikologi, merancang penelitian, menginterpretasikan data, dan memahami manusia.

Implikasi Dualisme dalam Neurosains dan Psikologi

Pandangan dualistik, secara implisit atau eksplisit, dapat mengarah pada pendekatan yang memisahkan studi tentang “pikiran” dari studi tentang “otak”. Dalam psikologi, ini mungkin memanifestasikan sebagai fokus pada proses mental abstrak tanpa korelasi neural yang kuat, atau anggapan bahwa terapi psikologis bekerja pada ranah “jiwa” yang terpisah dari biologi. Dalam neurosains yang ketat, dualisme sering dianggap sebagai penghalang karena ia memperkenalkan entitas non-fisik yang, secara definisi, berada di luar jangkauan investigasi ilmiah empiris.

Namun, dualisme properti tetap memotivasi pencarian untuk memahami bagaimana pengalaman subjektif muncul dari otak.

Implikasi Monisme dalam Neurosains dan Psikologi

Monisme materialis adalah asumsi kerja yang dominan dalam neurosains kontemporer. Ia mendorong program penelitian yang bertujuan untuk memetakan korelasi dan mekanisme kausal yang tepat antara keadaan otak dan keadaan mental. Dalam psikologi, ini mendasari bidang-bidang seperti psikologi biologis, neurosains kognitif, dan pendekatan yang melihat gangguan mental sebagai “gangguan pada sirkuit otak”. Pendekatan ini sangat produktif dan telah menghasilkan terapi seperti obat-obatan psikofarmaka atau stimulasi otak dalam.

BACA JUGA  Bilangan Ganjil 6‑7 Juta Digit Ribuan dan Dasar Sama Total 30 Digit

Namun, kritik mengatakan bahwa pendekatan ini berisiko mengurangi pengalaman manusia yang kaya menjadi sekadar aktivitas neural, mengabaikan dimensi naratif dan fenomenologis.

Pendekatan terhadap Kesadaran Manusia

Perbedaan pendekatan ini dapat dilihat dengan jelas dalam tabel perbandingan berikut.

Aspek Pendekatan Dualistik Pendekatan Monistik Materialis
Objek Studi Utama Pikiran sebagai entitas/substansi atau properti yang berbeda dari fisik. Otak, sistem saraf, dan perilaku yang teramati.
Penjelasan Kesadaran Kesadaran adalah fakta fundamental atau properti non-fisik yang menyertai materi. Kesadaran adalah fenomena yang muncul dari kompleksitas komputasi atau organisasi neural.
Metodologi Introspeksi, analisis filosofis, mungkin dikombinasikan dengan data empiris. Eksperimen terkontrol, pencitraan otak (fMRI, EEG), studi lesi, model komputasi.
Goal Penjelasan Memahami sifat pikiran yang mandiri dan hubungannya dengan tubuh. Mereduksi fenomena mental menjadi mekanisme fisik-kimiawi di dalam otak.

Dampak pada Kebebasan Kehendak dan Determinisme

Perdebatan ini bersinggungan langsung dengan salah satu masalah paling pelik dalam etika dan filsafat: kebebasan kehendak. Dualisme, terutama versi interaksionis, secara tradisional dianggap sebagai sekutu alami kehendak bebas karena ia menempatkan pikiran di luar rantai kausal fisik, memungkinkan ia untuk menjadi “penggerak pertama” yang bebas. Namun, monisme materialis sering dikaitkan dengan determinisme—gagasan bahwa setiap peristiwa, termasuk keputusan kita, ditentukan oleh keadaan fisik sebelumnya.

Jika otak adalah mesin fisik, maka pilihannya pun ditentukan oleh hukum fisika dan kimia. Banyak monis materialis kontemporer berusaha mencari konsep kehendak bebas yang kompatibel dengan determinisme, misalnya dengan mendefinisikan kebebasan sebagai tindakan yang berasal dari keinginan dan karakter diri sendiri, meskipun hal-hal itu sendiri ditentukan secara kausal.

Aplikasi dan Konteks Kontemporer

Di luar laboratorium dan teks filsafat, tarik-menarik antara pemikiran dualistik dan monistik terus bergema dalam teknologi, kesehatan, dan budaya sehari-hari kita, sering kali tanpa kita sadari.

Relevansi dalam Pengembangan Kecerdasan Buatan

Perdebatan dualisme-monisme membingkai pertanyaan mendasar tentang masa depan AI. Jika monisme materialis benar dan kesadaran hanyalah pola pemrosesan informasi yang kompleks pada substrat fisik, maka secara prinsip mungkin untuk menciptakan kesadaran dalam mesin silikon. Namun, jika dualisme benar dan kesadaran membutuhkan sesuatu yang lebih dari komputasi fisik—entah itu properti non-fisik atau substrat biologis tertentu—maka AI yang paling canggih pun mungkin hanya akan menjadi “zombie filosofis” yang bertingkah sadar tanpa mengalami subjektivitas.

Ini memiliki implikasi etika yang sangat besar: apakah AI yang sadar memiliki hak? Perdebatan ini memaksa kita untuk mendefinisikan ulang apa itu kesadaran, kecerdasan, dan kehidupan.

Pengaruh Monisme Materialis pada Kesehatan Mental

Dalam dunia kedokteran dan psikiatri, dominasi monisme materialis telah menggeser paradigma dari model “kejiwaan” yang kabur ke model “neurobiologis”. Gangguan seperti depresi berat atau skizofrenia kini banyak dipahami sebagai penyakit otak, yang melibatkan ketidakseimbangan neurotransmiter atau kelainan pada struktur sirkuit neural. Pendekatan ini telah mendestigmatisasi beberapa kondisi mental (dengan menyamakannya dengan penyakit fisik seperti diabetes) dan menghasilkan intervensi farmakologis yang efektif.

Namun, kritik muncul bahwa reduksionisme berlebihan dapat mengabaikan faktor psikososial, trauma, dan makna personal yang juga penting dalam pemulihan, menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih holistik namun tetap berbasis bukti.

Manifestasi Dualistik dalam Budaya Populer dan Kepercayaan Sehari-hari

Pemikiran dualistik begitu meresap dalam budaya kita sehingga sering diterima begitu saja. Konsep tentang “jiwa yang meninggalkan tubuh” saat kematian, ide reinkarnasi, atau narasi dalam film di mana karakter dapat “diunggah” kesadarannya ke dalam komputer atau tubuh baru, semua berakar pada intuisi dualistik. Ungkapan sehari-hari seperti “Saya bukan diri saya hari ini” atau “Pikiran saya kuat, tetapi tubuh saya lemah” mencerminkan pembedaan intuitif antara diri mental dan fisik.

Bahkan dalam olahraga, motivasi untuk “menaklukkan rasa sakit” tubuh dengan kekuatan mental adalah contoh praktis dari keyakinan dualistik yang dijalankan.

Suara Filsuf Modern

Relevansi abadi dari perdebatan ini diakui oleh para pemikir kontemporer. Filsuf Australia David Chalmers, yang terkenal dengan formulasi “hard problem of consciousness”, memberikan komentar yang menggambarkan tantangan tersebut:

“Masalah yang sulit adalah masalah pengalaman. Mengapa proses fisik di dalam otak harus disertai dengan kehidupan batin yang subjektif? Tampaknya masuk akal secara objektif bahwa proses tersebut akan berlangsung tanpa disertai apa pun. Namun, pengalaman itu terjadi.”

Kutipan ini menyoroti celah penjelasan yang masih menjadi medan pertempuran antara monisme materialis yang berusaha menutup celah itu dan berbagai bentuk dualisme atau monisme alternatif yang menganggap celah itu nyata.

Perbandingan dan Sintesis

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih sistematis, penting untuk memetakan perbedaan mendasar antara kedua paham ini di berbagai ranah filosofis, serta mengeksplorasi variasi dan upaya rekonsiliasi di dalamnya.

BACA JUGA  Isi Perjanjian Hudaibiyah Strategi Damai Nabi Muhammad

Pemetaan Ontologi, Epistemologi, dan Etika

Ranah Filsafat Dualisme (Substansi) Monisme Materialis Implikasi Perbedaan
Ontologi (Apa yang ada?) Dua substansi: mental (tak berekstensi) dan fisik (berekstensi). Satu substansi: materi/energi-fisik. Monisme lebih sederhana, dualisme berjuang menjelaskan interaksi.
Epistemologi (Bagaimana kita tahu?) Akses istimewa ke pikiran sendiri melalui introspeksi (pasti), pengetahuan tentang dunia luar tidak langsung. Pengetahuan diperoleh melalui indera dan sains. Status introspeksi kurang istimewa, mungkin keliru. Dualisme memberi dasar untuk subjektivitas radikal, monisme menekankan objektivitas ilmiah.
Implikasi Etika Jiwa yang tak mati memberi dasar untuk tanggung jawab moral dan kemungkinan kehidupan setelah mati. Kehendak bebas lebih mudah dipertahankan. Moralitas harus dirumuskan dalam kerangka makhluk biologis yang fana. Kehendak bebas menjadi masalah yang perlu dijelaskan ulang. Dasar untuk nilai dan tanggung jawab manusia menjadi sangat berbeda.

Varian dalam Dualisme: Substansi vs. Properti

Tanggapan tentang Dualisme dan Monisme

Source: slidesharecdn.com

Tidak semua dualisme sama. Dualisme substansi klasik Descartes sangat berbeda dengan dualisme properti yang lebih populer saat ini. Dualisme substansi mengklaim ada dua hal yang berbeda: jiwa dan tubuh. Masalah interaksi menjadi sangat akut di sini. Dualisme properti, sebaliknya, menyatakan bahwa hanya ada satu jenis hal (fisik), tetapi hal ini memiliki dua jenis sifat yang tak tereduksi: sifat fisik (seperti massa, muatan) dan sifat mental (seperti kesadaran, rasa sakit).

Jadi, otak adalah satu entitas fisik yang memiliki kedua properti tersebut. Ini menghindari masalah interaksi substansi, tetapi tetap mempertahankan bahwa kesadaran adalah fakta fundamental yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh fisika.

Varian dalam Monisme: Materialis vs. Idealis

Monisme juga bukan blok yang seragam. Monisme materialis, yang dominan, menyatakan bahwa satu-satunya substansi adalah materi, dan segala sesuatu, termasuk pikiran, berasal darinya. Sebaliknya, monisme idealis—yang diwakili oleh filsuf seperti George Berkeley—berpendapat bahwa satu-satunya substansi yang benar-benar ada adalah mental (pikiran, ide, atau kesadaran). Dalam pandangan ini, dunia “materi” hanyalah persepsi dalam kesadaran, sering kali kesadaran Tuhan. Sementara idealisme tampak aneh bagi sains modern, ia secara logis koheren dan menghindari masalah menjelaskan kesadaran dari materi tak sadar, karena ia memulai dari kesadaran itu sendiri.

Debat dualisme versus monisme dalam filsafat pikiran seringkali berpusat pada apakah kesadaran terpisah dari materi. Namun, refleksi ini menemukan relevansinya yang konkret ketika kita mengamati gejolak dunia nyata, seperti yang terlihat pada Kriteria Sistem Keuangan Tidak Stabil. Analisis terhadap krisis finansial, yang menunjukkan ketidakstabilan sistemik, justru menguatkan argumen monisme tentang saling keterkaitan yang tak terpisahkan antara realitas psikis dan material.

Dengan demikian, fenomena ekonomi menjadi lensa menarik untuk meninjau ulang pertanyaan filosofis yang mendasar ini.

Upaya Mencari Jalan Tengah dan Sintesis

Menyadari kesulitan dalam posisi ekstrem, banyak filsuf mencoba merajut jalan tengah. Monisme Netral adalah upaya sintesis yang berpengaruh. Diusung oleh Bertrand Russell dan didukung oleh beberapa filsuf kontemporer, pandangan ini menyatakan bahwa substansi dasar realitas bukanlah mental atau fisik, tetapi sesuatu yang netral. Baik fenomena mental maupun fisik adalah cara organisasi atau pengalaman dari substansi netral yang sama. Teori Panpsikisme adalah upaya lain, yang berpendapat bahwa kesadaran adalah sifat fundamental dan universal, hadir dalam tingkat yang sangat sederhana bahkan pada partikel dasar, dan kesadaran kompleks seperti kita muncul dari kombinasi kesadaran-kesadaran dasar ini.

Perdebatan dualisme dan monisme dalam filsafat kerap mempertanyakan apakah realitas terdiri dari dua substansi atau satu. Namun, alam fisik menunjukkan fenomena kompleks yang bisa dianalisis secara tunggal, seperti mekanisme Penyebab Angin Topan yang melibatkan interaksi suhu dan tekanan laut. Pemahaman holistik seperti ini justru mengarah pada pendekatan monistik, di mana berbagai faktor terintegrasi dalam satu sistem kausal yang utuh.

Pendekatan-pendekatan ini berusaha menghormati intuisi dualistik tentang keunikan kesadaran sambil tetap berkomitmen pada pandangan dunia yang monistik dan ilmiah.

Kesimpulan: Tanggapan Tentang Dualisme Dan Monisme

Dualisme dan monisme, dengan segala kompleksitasnya, menawarkan lensa yang berbeda untuk menginterpretasi realitas yang kita huni. Perdebatan ini mungkin tidak akan pernah menemukan titik final yang disepakati semua pihak, namun justru di situlah nilai filosofisnya. Tarik-ulur antara jiwa yang immaterial dan materi yang fisik, atau upaya menyatukan keduanya dalam satu kerangka, terus mendorong batas pemahaman manusia. Pada akhirnya, menyimak perbincangan antara kedua kubu ini bukan untuk memenangkan satu sisi, melainkan untuk memperkaya cara berpikir kita.

Dalam dunia yang semakin kompleks, mengenali asumsi filosofis yang mendasari ilmu pengetahuan, teknologi, dan keyakinan sehari-hari menjadi langkah penting untuk navigasi yang lebih bijak.

Detail FAQ

Apakah penganut agama pasti dualis?

Tidak selalu. Meski banyak tradisi agama mengandung unsur dualistik (seperti jiwa vs. tubuh), terdapat juga aliran pemikiran dalam spiritualitas yang cenderung monistik, misalnya yang memandang Tuhan dan alam semesta sebagai satu kesatuan.

Manakah pandangan yang lebih didukung ilmu pengetahuan modern?

Ilmu pengetahuan kontemporer, khususnya neurosains, cenderung lebih sejalan dengan monisme materialis. Bukti-bukti kuat menunjukkan bahwa proses mental sangat bergantung pada keadaan fisik otak, meski misteri kesadaran penuh (the hard problem of consciousness) belum sepenuhnya terpecahkan.

Bisakah seseorang menganut kedua paham sekaligus?

Secara ketat, sulit karena keduanya saling menafikan dalam klaim dasarnya. Namun, banyak filsuf mengusulkan jalan tengah atau varian, seperti dualisme properti, yang mencoba menggabungkan elemen dari kedua sisi tanpa menerima klaim substansi ganda dari dualisme Descartes.

Apa dampak praktis memilih dualisme atau monisme dalam kehidupan sehari-hari?

Pilihan ini dapat memengaruhi pandangan tentang tanggung jawab moral (kebebasan kehendak vs. determinisme), pendekatan terhadap kesehatan mental (peran obat vs. terapi bicara), hingga sikap terhadap kematian dan hakikat diri.

Leave a Comment