Nama Peristiwa Alam Akibat Meluapnya Air Laut dan Dampaknya

Nama Peristiwa Alam Akibat Meluapnya Air Laut bukan sekadar fenomena air yang naik, melainkan sebuah narasi kompleks tentang interaksi antara laut, langit, dan daratan yang kerap berujung pada transformasi lanskap dan kehidupan. Peristiwa ini, dalam berbagai wujudnya seperti rob, badai surge, hingga tsunami, menjadi penanda sekaligus pengingat akan dinamika planet kita yang tak pernah benar-benar diam. Laut yang meluap adalah bahasa alam yang keras, menyampaikan pesan tentang tekanan atmosfer, tarikan bulan, kekuatan angin, dan gempa di dasar samudera.

Secara ilmiah, luapan air laut merupakan manifestasi dari berbagai faktor oseanografi dan meteorologi yang saling berpadu. Mulai dari pasang surut harian yang teratur, tekanan udara rendah yang mendorong permukaan laut, hingga angin kencang yang menumpuk air di pesisir, semua elemen ini dapat bertemu dan menciptakan peristiwa ekstrem. Memahami mekanisme di baliknya adalah langkah pertama yang krusial untuk membaca pola, memitigasi risiko, dan hidup berdamai dengan garis pantai yang terus berubah.

Pengertian dan Dasar Ilmiah: Nama Peristiwa Alam Akibat Meluapnya Air Laut

Peristiwa alam akibat meluapnya air laut, dalam kajian ilmiah, merujuk pada fenomena naiknya muka air laut melebihi batas normal yang mengakibatkan genangan atau banjir di wilayah daratan pesisir. Fenomena ini merupakan titik temu kompleks antara dinamika oseanografi dan meteorologi, di mana berbagai gaya dan energi dari lautan dan atmosfer berinteraksi. Pemahaman mendasar tentang mekanisme ini sangat penting untuk mengantisipasi dan mengurangi risikonya.

Secara ilmiah, luapan air laut tidak terjadi secara tunggal. Beberapa faktor utama saling memengaruhi, mulai dari gaya gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan pasang surut harian, hingga gangguan cuaca ekstrem yang mendorong massa air dalam skala besar. Tekanan atmosfer juga berperan signifikan; tekanan rendah di atas permukaan laut menyebabkan air “terangkat”, sementara angin kencang yang bertiup menuju daratan dapat menumpuk dan mendorong air laut ke pantai.

Rob, peristiwa alam akibat meluapnya air laut yang kerap menggenangi kawasan pesisir, menuntut penanganan serius. Di sinilah peran legislatif, melalui Tiga fungsi DPR —legislasi, anggaran, dan pengawasan—menjadi krusial untuk membentuk kebijakan adaptasi yang tepat. Dengan regulasi yang kuat, dampak rob terhadap masyarakat dan lingkungan diharapkan dapat diminimalisir secara berkelanjutan.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang kemudian menentukan jenis, skala, dan durasi luapan yang terjadi.

Karakteristik Berbagai Jenis Luapan Air Laut Berdasarkan Faktor Pemicu

Untuk membedakan berbagai peristiwa luapan air laut, dapat dilihat dari faktor pemicu utamanya. Tabel berikut membandingkan karakteristik dasar dari beberapa jenis luapan berdasarkan asal usulnya.

Peristiwa rob atau banjir pasang laut yang kerap melanda pesisir merupakan dampak nyata dari perubahan iklim. Untuk memahami fenomena kompleks ini, teknologi visualisasi seperti Jelaskan maksud hologram dapat dimanfaatkan guna memproyeksikan model interaktif kenaikan muka air laut. Dengan demikian, simulasi holografik tersebut mampu memberikan gambaran lebih jelas tentang mekanisme dan potensi jangkauan rob di suatu wilayah, sehingga upaya mitigasi dapat dirancang dengan lebih tepat sasaran.

Jenis Luapan Faktor Pemicu Utama Waktu Kejadian Karakteristik Kunci
Pasang Purnama (Spring Tide) Gravitasi Bulan & Matahari (sejajar) Teratur, dua kali sebulan Pasang tertinggi dalam siklus bulanan, dapat diperparah oleh cuaca.
Badai Surge (Storm Surge) Tekanan Atmosfer Rendah & Angin Kencang Selama siklon tropis/badai Kenaikan air mendadak dan ekstrem, sangat merusak, durasi singkat hingga beberapa jam.
Rob (Genangan Pasang) Pasang Normal, Penurunan Muka Tanah, & Perubahan Iklim Musiman/harian, terutama musim hujan Genangan berkala dan meluas di wilayah pesisir rendah, durasi beberapa jam.
Tsunami Gangguan Vertikal Dasar Laut (Gempa, Longsor) Tiba-tiba, tanpa peringatan cuaca Gelombang sangat cepat dan berenergi tinggi, bukan gelombang pasang, dampak sangat luas.

Jenis-Jenis Peristiwa dan Karakteristiknya

Meluapnya air laut ke daratan termanifestasi dalam berbagai bentuk peristiwa, masing-masing dengan mekanisme dan dampak yang berbeda. Mulai dari yang bersifat rutin hingga yang bersifat katastrofik, identifikasi yang tepat menjadi kunci dalam manajemen bencana. Di Indonesia sebagai negara kepulauan, hampir semua jenis peristiwa ini pernah terjadi dan meninggalkan catatan penting.

BACA JUGA  Apa itu Susu Magnesia Obat Antasida dan Pencahar

Badai Surge, Tsunami, dan Rob

Badai surge adalah kenaikan muka air laut abnormal di pesisir yang disebabkan terutama oleh angin kencang dan tekanan rendah dari siklon tropis. Dampaknya sering kali bersifat lokal tetapi sangat intens, dengan kenaikan air bisa mencapai beberapa meter dalam waktu singkat. Tsunami, di sisi lain, adalah serangkaian gelombang laut besar yang dipicu oleh gangguan energi tiba-tiba di dasar laut, seperti gempa bumi tektonik.

Kecepatan rambat dan jangkauannya sangat luas. Sementara itu, rob atau banjir pasang adalah genangan akibat air laut yang masuk ke daratan pada saat pasang tinggi, sering diperparah oleh penurunan tanah (land subsidence) dan kenaikan muka air laut global. Rob bersifat lebih lambat, periodik, dan progresif.

Skala Dampak dan Durasi

Dari segi dampak, tsunami sering kali menempati urutan teratas dengan potensi kehancuran masif pada wilayah yang sangat luas dalam hitungan menit hingga jam. Badai surge memiliki daya rusak yang sangat tinggi namun biasanya terbatas pada daerah yang dilintasi pusat badai. Sedangkan rob, meski dampak langsungnya tidak seketika mematikan seperti tsunami, memiliki durasi yang panjang dan efek kumulatif yang merusak infrastruktur dan ekonomi secara perlahan namun pasti.

Contoh Konkret di Indonesia

Indonesia memiliki banyak contoh nyata dari setiap jenis peristiwa tersebut, yang memberikan pelajaran berharga.

Badai Surge: Siklon Tropis Seroja yang melanda Nusa Tenggara Timur pada April 2021. Meski siklon tropis jarang terjadi di Indonesia, Seroja membuktikan potensi bahayanya. Angin kencang dan tekanan rendah dari siklon ini mendorong air laut yang menyebabkan banjir bandang dan gelombang tinggi di Kupang dan pulau-pulau sekitarnya, menewaskan ratusan jiwa dan menghancurkan ribuan rumah.

Tsunami: Peristiwa paling memilikan adalah tsunami Aceh 26 Desember 2004, yang dipicu gempa megathrust berkekuatan Mw 9.1-9.3. Gelombang tsunami setinggi hingga 30 meter menyapu pesisir Aceh dan Sumatra Utara, menewaskan lebih dari 160.000 orang di Indonesia saja. Contoh lain adalah tsunami Selat Sunda 2018 yang dipicu longsoran bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Rob: Kota-kota pesisir utara Jawa seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan telah lama berjuang melawan rob. Di Semarang, kawasan seperti Trimulyo dan Genuk kerap terendam air laut hingga setinggi lutut orang dewasa setiap bulan purnama. Rob ini diperparah oleh penurunan tanah yang cepat akibat eksploitasi air tanah berlebihan dan kenaikan muka air laut.

Dampak terhadap Lingkungan dan Ekosistem

Luapan air laut bukan hanya bencana bagi manusia, tetapi juga mengganggu keseimbangan alam di wilayah pesisir. Ekosistem yang telah beradaptasi selama ribuan tahun tiba-tiba dihadapkan pada perubahan kondisi yang ekstrem dan sering kali bersifat merusak. Dampaknya bisa langsung terlihat, seperti kematian vegetasi, tetapi juga bisa bersifat jangka panjang dan mengubah lanskap ekologis secara permanen.

Rob atau banjir rob merupakan peristiwa alam akibat meluapnya air laut ke daratan, yang intensitasnya dipengaruhi oleh posisi geografis suatu wilayah. Sebagai contoh, kerentanan suatu daerah dapat ditinjau dari koordinatnya, seperti Garis Lintang dan Bujur Kota Klaten yang menunjukkan lokasinya jauh dari pesisir. Meski demikian, fenomena rob tetap menjadi ancaman global yang memerlukan pemahaman mendalam tentang interaksi antara topografi lokal dan dinamika laut.

Dampak pada Ekosistem Pesisir

Hutan mangrove, yang berfungsi sebagai pelindung alami pesisir, justru sangat rentan terhadap luapan air laut yang ekstrem dan berkepanjangan. Genangan air asin yang terlalu dalam dan lama dapat menyebabkan kematian pada spesies mangrove yang tidak toleran, mengubah komposisi hutan, dan mengurangi fungsinya sebagai penahan abrasi dan nursery ground bagi biota laut. Terumbu karang, meski berada di bawah air, juga terkena dampak.

Badai surge dan tsunami dapat mematahkan karang secara fisik, sementara sedimentasi masif dari daratan yang terbawa banjir dapat menutupi polip karang dan menghambat fotosintesis zooxanthellae, menyebabkan pemutihan dan kematian karang.

Intrusi Air Laut dan Degradasi Lahan

Proses intrusi air laut terjadi ketika air asin yang lebih berat masuk ke akuifer air tanah di daratan, mendesak air tawar. Fenomena ini dipercepat oleh luapan air laut yang sering dan eksploitasi air tanah berlebihan. Dampaknya, kualitas air tanah untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian menurun drastis. Tanah pertanian di pesisir yang terkontaminasi garam akan mengalami salinisasi, di mana kadar garam yang tinggi meracuni tanaman, mengurangi kesuburan tanah, dan pada akhirnya mengubah lahan subur menjadi lahan kritis yang tidak bisa ditanami.

Perubahan Geomorfologi Pantai

Kekuatan hidrodinamik dari luapan air laut yang besar secara signifikan mengubah bentuk fisik garis pantai. Perubahan geomorfologi ini memiliki implikasi jangka panjang terhadap keberlanjutan kehidupan di pesisir.

  • Erosi dan Abrasi yang Dipercepat: Gelombang besar dari badai surge atau tsunami mengikis garis pantai dengan cepat, menghilangkan pasir, tanah, bahkan pemukiman yang berdiri di atasnya.
  • Sedimentasi dan Pendangkalan: Material yang tererosi dari satu tempat akan diendapkan di tempat lain, seperti di muara sungai atau laguna, menyebabkan pendangkalan yang dapat mengganggu pelayaran dan ekosistem.
  • Perubahan Alur Sungai dan Muara: Kekuatan air laut dapat memblokir atau mengubah arah alur sungai di dekat muara, memicu banjir di hulu dan mengganggu siklus hidrologi.
  • Pembentukan Lagun atau Rawa Payau Baru: Genangan air laut yang bertahan lama di daratan dapat membentuk badan air baru yang bersifat asin atau payau, mengubah tata guna lahan secara permanen.
BACA JUGA  Luas Permukaan Prisma Alas Belah Ketupat 10×24 cm Tinggi 20 cm

Dampak Sosial, Ekonomi, dan Infrastruktur

Dampak sosial dari luapan air laut bersifat multidimensional dan sering kali paling berat dirasakan oleh masyarakat pesisir yang mata pencahariannya langsung bergantung pada ekosistem pantai. Pergeseran pola hidup, kehilangan sumber daya, dan kerentanan yang terus meningkat menjadi tantangan sehari-hari. Kerusakan infrastruktur tidak hanya menimbulkan kerugian material besar, tetapi juga memutus akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan pasar.

Konsekuensi Sosial bagi Masyarakat Pesisir

Ancaman pengungsian menjadi nyata, baik secara temporer saat terjadi bencana maupun secara permanen karena hilangnya tempat tinggal dan lahan mata pencaharian. Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan tradisional, petani tambak, atau petani di lahan pesisir terpaksa harus mencari pekerjaan baru, sering kali tanpa keterampilan yang memadai, yang berpotensi meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan. Konflik sosial juga dapat muncul terkait dengan alokasi sumber daya yang terbatas dan relokasi pemukiman.

Kerusakan pada Infrastruktur

Infrastruktur di pesisir sangat rentan. Permukiman yang terendam mengalami kerusakan struktural pada bangunan, kontaminasi air bersih, dan kerusakan jaringan listrik serta sanitasi. Lahan pertanian dan tambak tercemar garam, menyebabkan gagal panen dan matinya ikan/udang. Infrastruktur transportasi seperti jalan raya pesisir, pelabuhan, dan bandara yang tergenang atau terkikis akan mengganggu mobilitas orang dan barang, memperlambat respons darurat, dan menghambat pemulihan ekonomi.

Tingkat Kerentanan Sektor Ekonomi

Tidak semua sektor ekonomi terdampak dengan cara dan tingkat yang sama. Beberapa sektor memiliki ketergantungan dan lokasi yang membuatnya lebih rentan daripada yang lain.

>Tinggi

Sektor Ekonomi Tingkat Kerentanan Jenis Dampak Utama Contoh
Pertanian Lahan Pesisir & Tambak Sangat Tinggi Gagal panen total akibat salinisasi, kerusakan tambak, hilangnya modal usaha. Petani padi dan palawija di pantai utara Jawa, petambak udang di Aceh atau Sulawesi.
Perikanan Tangkap Skala Kecil Kerusakan kapal & alat tangkap, hilangnya akses ke pelabuhan pendaratan ikan (PPI), perubahan ekosistem penangkapan. Nelayan tradisional di berbagai daerah pesisir yang infrastrukturnya rusak.
Pariwisata Bahari Tinggi Kerusakan fasilitas wisata (resort, restaurant), penurunan kualitas pantai dan terumbu karang, citra destinasi yang negatif. Daerah wisata seperti Bali, Lombok, Raja Ampat yang terdampak badai atau perubahan garis pantai.
Industri & Perdagangan di Kawasan Pesisir Sedang hingga Tinggi Gangguan operasional, kerusakan gudang dan barang, terganggunya rantai pasok melalui pelabuhan. Kawasan industri di Cilegon, Surabaya, atau Batam yang dekat dengan pantai.
Jasa & Perdagangan Lokal Non-Pesisir Rendah hingga Sedang Dampak tidak langsung melalui penurunan daya beli masyarakat terdampak dan gangguan distribusi. Usaha mikro di pedalaman yang konsumennya berasal dari komunitas pesisir.

Mitigasi dan Adaptasi

Menghadapi ancaman luapan air laut, pendekatan yang komprehensif meliputi upaya mitigasi struktural untuk mengurangi kekuatan fisik ancaman, dan adaptasi non-struktural untuk menyesuaikan kehidupan dengan kondisi yang berubah. Kombinasi antara rekayasa teknik dan pemanfaatan ekosistem alami (nature-based solution) kini dianggap sebagai strategi yang paling berkelanjutan dan efektif dalam jangka panjang.

Prinsip Teknik Rekayasa untuk Mitigasi

Struktur fisik buatan manusia dirancang untuk menahan atau membelokkan energi dari laut. Tanggul laut (sea wall) dan pemecah gelombang (breakwater) berfungsi sebagai penghalang langsung. Namun, pembangunannya yang masif dapat mengganggu proses sedimentasi alami dan justru mempercepat abrasi di tempat lain. Oleh karena itu, pendekatan modern lebih mengutamakan kombinasi, misalnya dengan membangun tanggul yang dilengkapi dengan pengisian pasir (beach nourishment) untuk mempertahankan pantai di depannya.

Sistem pompa dan pintu air (flood gate) di muara sungai juga digunakan untuk mencegah air laut masuk saat pasang tinggi.

Strategi Adaptasi Berbasis Ekosistem

Nama Peristiwa Alam Akibat Meluapnya Air Laut

Source: slidesharecdn.com

Adaptasi berbasis ekosistem memanfaatkan jasa alam untuk meningkatkan ketahanan. Rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove adalah contoh paling nyata. Akar mangrove yang rapat berfungsi sebagai peredam energi gelombang dan penangkap sedimen, sekaligus menjadi habitat penting. Konservasi terumbu karang di lepas pantai juga berperan sebagai pemecah gelombang alami pertama. Selain itu, mengembalikan ruang bagi wilayah pesisir seperti membangun sabuk hijau (green belt) dan tidak membangun di zona sempadan pantai merupakan bentuk adaptasi tata ruang yang sangat penting.

Langkah Kesiapsiagaan Masyarakat

Kesiapsiagaan di tingkat komunitas adalah garis pertahanan pertama yang paling vital. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan harus aktif terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan langkah-langkah berikut.

  • Memahami Peta Rawan Bencana: Mengetahui zona evakuasi, titik kumpul, dan rute aman menuju tempat yang lebih tinggi.
  • Menyusun Rencana Tanggap Darurat Keluarga: Menetapkan titik temu keluarga, menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan, dan air minum untuk minimal 3 hari.
  • Mengikuti Sistem Peringatan Dini: Memastikan akses terhadap informasi dari pihak berwenang (BMKG, BPBD) melalui radio, SMS blast, atau aplikasi resmi.
  • Melakukan Simulasi Evakuasi Berkala: Berlatih bersama keluarga dan komunitas untuk membangun respons otomatis saat peringatan dikeluarkan.
  • Mengadopsi Pola Mata Pencaharian Alternatif: Mendiversifikasi sumber pendapatan untuk mengurangi ketergantungan pada sektor yang sangat rentan seperti perikanan atau pertanian pesisir konvensional.

Studi Kasus dan Ilustrasi Informasi

Belajar dari peristiwa besar yang terjadi di belahan dunia lain memberikan perspektif global tentang skala dan kompleksitas dampak luapan air laut. Studi kasus ini juga mengilustrasikan bagaimana sebuah komunitas menghadapi fase bencana, mulai dari kejadian, respons darurat, hingga tahap pemulihan jangka panjang.

Badai Surge Katrina di New Orleans, Amerika Serikat (2005)

Siklon Tropis Katrina adalah salah satu bencana alam paling merugikan dalam sejarah AS. Meski kekuatan anginnya berkategori 3 saat sampai di darat, dampak terparah justru datang dari badai surge yang mematahkan sistem tanggul pertahanan kota New Orleans yang berada di bawah permukaan laut. Air laut dari Danau Pontchartrain membanjiri sekitar 80% kota, dengan kedalaman mencapai lebih dari 6 meter di beberapa wilayah.

Dampak utamanya meliputi lebih dari 1.800 korban jiwa, pengungsian massal hampir satu juta penduduk, kerusakan infrastruktur senilai lebih dari 125 miliar dolar AS, dan krisis sosial-ekonomi yang berkepanjangan. Kegagalan sistem mitigasi teknis (tanggul) dan ketidaksiapan manajemen darurat menjadi pelajaran pahit yang mendorong perubahan kebijakan besar-besaran di AS.

Transformasi Sebuah Permukiman Pesisir

Bayangkan sebuah kampung nelayan yang tenang di tepi pantai. Sebelum luapan, pemandangannya adalah barisan rumah panggung kayu, perahu-perahu bersandar di dermaga sederhana, anak-anak bermain di pantai berpasir, dan di belakang kampung terdapat tambak-tambak udang dan hamparan pohon kelapa. Suasana hidup dan bergantung pada laut terasa jelas. Selama luapan air laut besar (misalnya akibat badai surge), air dengan cepat naik, menghanyutkan perahu, menerobos dinding rumah, dan menggenangi segala sesuatu.

Ombak besar menghantam, merobohkan struktur yang lemah. Yang terlihat hanya atap-atap rumah, puing-puing yang mengambang, dan air keruh yang bergolak. Suara gemuruh air dan angin menguasai segala suara. Setelah air surut, pemandangan berubah total. Pasir pantai hilang, digantikan oleh lumpur dan sampah.

Rumah-rumah miring atau rata dengan tanah, dindingnya penulis garis batas ketinggian genangan. Tambak hancur, airnya bercampur dengan air laut. Pohon kelapa mati karena akarnya terendam air asin. Bau garam, lumpur, dan pembusukan memenuhi udara. Jejak kehancuran tertinggal jelas, mengubah lanskap komunitas secara permanen.

Prosedur Evakuasi dan Penanganan Darurat Ideal, Nama Peristiwa Alam Akibat Meluapnya Air Laut

Berdasarkan skenario luapan air laut tiba-tiba seperti tsunami atau kenaikan badai surge yang cepat, prosedur yang terkoordinasi sangat menentukan nyawa. Saat peringatan dini berbunyi atau terlihat tanda alam seperti air laut surut tiba-tiba (untuk tsunami), evakuasi vertikal ke bangunan tinggi yang tahan gempa dan gelombang menjadi pilihan jika waktu terbatas. Jika memungkinkan, evakuasi horizontal ke daerah yang lebih tinggi harus segera dilakukan melalui rute yang telah ditetapkan, jauh dari sungai dan pantai.

Titik kumpul harus berada di zona aman yang telah disepakati. Tim penanganan darurat kemudian melakukan pencarian dan penyelamatan (SAR), memberikan pertolongan pertama, dan mendirikan posko pengungsian dengan menyediakan kebutuhan dasar: tenda, selimut, air bersih, makanan, dan fasilitas sanitasi. Koordinasi yang ketat antara pemerintah, militer, organisasi kemanusiaan, dan relawan diperlukan untuk menghindari duplikasi bantuan dan memastikan distribusi merata. Pendataan korban dan komunikasi informasi yang jelas kepada publik adalah kunci untuk menenangkan situasi dan memulai proses pemulihan.

Terakhir

Dari uraian yang panjang lebar, menjadi jelas bahwa Nama Peristiwa Alam Akibat Meluapnya Air Laut adalah tantangan multidimensi yang memerlukan respons yang juga berlapis. Teknologi tanggul dan pemecah gelombang saja tidak cukup; diperlukan pendekatan yang lebih holistik yang memadukan ketangguhan infrastruktur dengan kelentingan ekosistem, seperti restorasi mangrove. Pada akhirnya, kesiapsiagaan komunitas, didukung oleh ilmu pengetahuan dan kebijakan yang tepat, menjadi modal terpenting.

Hidup di pesisir adalah sebuah pilihan untuk memahami ritme alam, bukan melawannya, dengan kesadaran penuh bahwa laut yang memberi kehidupan juga memiliki kekuatan untuk mengubah segalanya dalam sekejap.

Jawaban untuk Pertanyaan Umum

Apakah semua banjir di daerah pantai disebut rob?

Tidak selalu. Rob secara spesifik mengacu pada genangan air laut di daratan akibat pasang purnama atau pasang perbani yang diperkuat oleh faktor meteorologi seperti angin. Banjir di pantai bisa juga disebabkan oleh curah hujan tinggi, luapan sungai, atau kegagalan drainase.

Bisakah luapan air laut akibat badai surge terjadi di Indonesia?

Sangat mungkin. Meski badai tropis (siklon) lebih jarang dibanding di Pasifik atau Atlantik, siklon tropis seperti Seroja yang menghantam NTT pada 2021 dapat menghasilkan badai surge yang signifikan, menyebabkan gelombang tinggi dan banjir pesisir yang merusak.

Bagaimana membedakan tanda peringatan dini tsunami dengan gelombang pasang biasa?

Tsunami sering didahului oleh gempa bumi yang kuat dan terasa, serta perilaku air laut yang tidak wajar seperti surut tiba-tiba dan cepat jauh dari garis pantai. Gelombang pasang biasa (surge) terjadi lebih gradual, seringkali dikaitkan dengan pola cuaca buruk dan angin kencang yang berkepanjangan.

Apakah pulau kecil lebih rentan terhadap dampak luapan air laut?

Ya, secara umum pulau kecil, terutama atol dan pulau karang datar, memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi. Daerah tangkapan air (akifer) mereka terbatas, sehingga intrusi air asin dapat dengan cepat mencemari seluruh sumber air tawar, dan elevasi daratan yang rendah membuat banjir lebih mudah meluas.

BACA JUGA  Pengertian Pemeliharaan In Situ Konsep dan Penerapannya

Leave a Comment