Tuliskan tiga suku berikutnya dari pola bilangan 1 2 3 5 8 13

Tuliskan tiga suku berikutnya dari pola bilangan 1, 2, 3, 5, 8, 13, adalah permulaan petualangan seru mengenali ritme angka yang ternyata ngikutin aturan alam. Pola ini bukan cuma deretan angka biasa, tapi sebuah kode rahasia yang sering banget muncul di sekeliling kita, dari susunan kelopak bunga sampai bentuk galaksi. Kalau kamu perhatikan baik-baik, ada sebuah pola sederhana yang bikin deret ini terus bergulir seperti cerita yang belum selesai.

Deret ini, yang dikenal sebagai barisan Fibonacci, punya aturan main yang elegan: setiap angka adalah hasil penjumlahan dari dua angka sebelumnya. Dari 1, 2, kemudian 3 (1+2), lalu 5 (2+3), dan seterusnya. Logika yang sederhana ini menghasilkan urutan yang punya harmoni tersendiri. Mari kita telusuri bersama untuk mengungkap tiga angka rahasia yang bersembunyi setelah angka 13, dan temukan keindahan matematika dalam pola yang seolah hidup ini.

Memahami Pola Bilangan Fibonacci

Kamu pasti sudah familiar dengan deret angka 1, 2, 3, 5, 8,
13. Ini bukan deret biasa, tapi sebuah pola yang punya nama tersohor: deret Fibonacci. Pola ini punya logika yang elegan dan sederhana: setiap angka setelah dua angka pertama adalah hasil penjumlahan dari dua angka sebelumnya. Meski sederhana, pola ini ternyata adalah salah satu pola bilangan paling menarik dan sering muncul di alam semesta kita.

Deret Fibonacci klasik biasanya dimulai dari 0 dan 1, lalu 1, 2, 3, 5, dan seterusnya. Dalam kasus deret yang kita punya, yaitu 1, 2, 3, 5, 8, 13, kita bisa melihat pola yang sama bekerja dengan sempurna. Ciri utamanya adalah sifat rekursifnya; untuk mengetahui suku berikutnya, kita hanya perlu melihat dua suku di depannya. Ini berbeda dengan pola aritmatika yang punya selisih tetap, atau pola geometri yang punya rasio perkalian tetap.

Perbandingan Deret Fibonacci dengan Pola Bilangan Lain

Untuk memahami keunikan Fibonacci, mari kita bandingkan dengan beberapa jenis pola bilangan lain dalam tabel berikut. Perbedaan mendasar terletak pada aturan pembentukannya.

Jenis Pola Aturan Pembentukan Contoh Deret Ciri Khas
Fibonacci Suku ke-n adalah jumlah dua suku sebelumnya (Fn = Fn-1 + Fn-2) 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, … Pertumbuhan yang semakin cepat, mendekati rasio emas.
Aritmatika Selisih antar suku tetap (beda = b) 2, 5, 8, 11, 14, … (b=3) Grafiknya membentuk garis lurus.
Geometri Rasio antar suku tetap (rasio = r) 3, 6, 12, 24, 48, … (r=2) Pertumbuhan eksponensial atau peluruhan.
Bilangan Prima Hanya habis dibagi 1 dan bilangan itu sendiri 2, 3, 5, 7, 11, 13, … Tidak mengikuti pola penjumlahan atau perkalian yang sederhana.

Demonstrasi Mencari Suku Berikutnya

Mari kita praktikkan langsung cara menemukan suku berikutnya dari deret yang diberikan. Kita mulai dari deret: 1, 2, 3, 5, 8,
13. Dua suku terakhir adalah 8 dan
13. Berdasarkan aturan Fibonacci, suku berikutnya adalah:

Suku ke-7 = 8 + 13 = 21

Proses ini bisa kita ulang terus untuk mendapatkan suku-suku selanjutnya. Kuncinya selalu identifikasi dua angka terakhir, lalu jumlahkan. Sederhana, bukan? Tapi dari kesederhanaan ini, hal-hal kompleks dan indah di alam justru terbentuk.

BACA JUGA  Mengupas Himpunan A 1 2 3 4 B Bilangan Cacah C Asli D Genap

Menentukan Tiga Suku Berikutnya

Sekarang kita sudah paham polanya, waktunya menjawab pertanyaan utama: apa tiga suku berikutnya setelah 13? Dengan menggunakan aturan penjumlahan dua suku sebelumnya, kita bisa menghitungnya langkah demi langkah. Proses ini seperti merangkai rantai, setiap mata rantai baru tergantung pada dua mata rantai sebelumnya.

Perhitungannya bersifat berurutan dan kumulatif. Kita tidak bisa langsung melompat ke suku ke-10 tanpa menghitung suku ke-7, ke-8, dan ke-9 terlebih dahulu. Mari kita jabarkan.

Proses Perhitungan Tiga Suku Lanjutan

Berdasarkan deret awal 1, 2, 3, 5, 8, 13, kita lakukan perhitungan beruntun:

  • Suku ke-7: 8 + 13 = 21
  • Suku ke-8: 13 + 21 = 34
  • Suku ke-9: 21 + 34 = 55

Jadi, tiga suku berikutnya setelah 13 adalah 21, 34, dan
55. Deret lengkapnya kini menjadi: 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55.

Contoh Penerapan dalam Konteks Berbeda

Pola Fibonacci tidak hanya hidup di buku matematika. Dalam pemrograman, pola ini sering digunakan untuk mengajarkan konsep rekursi atau perulangan. Misalnya, untuk menghitung banyaknya cara menaiki tangga dengan langkah 1 atau 2 anak tangga sekaligus, solusinya mengikuti deret Fibonacci. Jika ada 5 anak tangga, banyak cara menaikinya adalah 8, yang sesuai dengan suku ke-6 dalam deret Fibonacci klasik (1, 1, 2, 3, 5, 8).

Penerapan lain adalah dalam analisis pasar keuangan untuk mengidentifikasi level retracement atau ekspansi.

Aplikasi Pola dalam Berbagai Konteks

Keindahan sejati dari deret Fibonacci terlihat justru ketika kita keluar dari dunia angka. Pola ini muncul secara menakjubkan di berbagai fenomena alam, seni, dan desain. Seolah-olah alam memiliki buku panduan matematika tersendiri, dan Fibonacci adalah salah satu bab terpenting di dalamnya. Kemunculannya yang konsisten membuat banyak orang yakin bahwa pola ini mewakili suatu proporsi yang secara visual harmonis dan secara struktural efisien.

Kemunculan Pola Fibonacci di Alam dan Budaya

Berikut adalah beberapa contoh nyata di mana pola Fibonacci atau rasio yang dihasilkannya muncul.

Bidang Contoh Spesifik Manifestasi Pola Fungsi / Makna
Alam Susunan biji bunga matahari, pola nanas, dan pinecone. Spiral ganda (clockwise & counter-clockwise) yang jumlahnya adalah bilangan Fibonacci berurutan. Pengepakan yang paling efisien untuk memuat biji sebanyak-banyaknya.
Biologi Pertumbuhan populasi kelinci (dalam model ideal). Setiap generasi mengikuti jumlah pasangan pada deret Fibonacci. Model pertumbuhan populasi yang sederhana.
Seni & Arsitektur Piramida Giza, Parthenon, lukisan Mona Lisa. Penggunaan rasio emas (~1.618) dalam proporsi bangunan dan komposisi gambar. Menciptakan kesan keseimbangan, keindahan, dan harmoni yang menarik mata.
Desain Modern Logo perusahaan, rasio layar smartphone, tata letak website. Pengaturan grid dan pembagian ruang berdasarkan rasio emas. Meningkatkan estetika dan keterbacaan desain.

Prosedur Verifikasi Pola

Kamu bisa memverifikasi pola Fibonacci pada suatu deret dengan cara yang sangat mudah. Ambil tiga angka berurutan apa pun dalam deret tersebut. Kalikan angka yang paling luar (angka pertama dan ketiga), lalu bandingkan dengan kuadrat dari angka yang di tengah. Dalam deret Fibonacci murni, hasil perkalian angka luar akan selalu satu lebihnya atau satu kurangnya dari kuadrat angka tengah. Contoh, ambil 3, 5, 8: 3 x 8 = 24, sedangkan 5² =
25.

Deret 1, 2, 3, 5, 8, 13 itu kan pola Fibonacci, di mana suku berikutnya adalah jumlah dua suku sebelumnya. Jadi, tiga suku selanjutnya adalah 21, 34, dan 55. Nah, kalau kamu sudah paham pola bilangan, coba tantang logikamu dengan soal visual seperti Perhatikan gambar berikut: Gradien garis AB adalah. Setelah itu, kembalilah ke pola deret angka tadi; pemahamanmu akan lebih tajam dalam melihat keteraturan, baik dalam angka maupun garis.

BACA JUGA  Nilai dari (-2011)+(-2009)+..+2017 adalah Jawaban Deret Aritmatika

Selisihnya
1. Coba pada 5, 8, 13: 5 x 13 = 65, dan 8² = 64. Selisihnya juga 1. Ini adalah sifat menarik yang bisa jadi alat pengecekan cepat.

Ilustrasi Pertumbuhan pada Cangkang Kerang

Bayangkan sebuah cangkang kerang Nautilus yang elegan. Bentuknya adalah spiral logaritmik yang hampir sempurna. Spiral ini tumbuh dengan laju yang konstan, tetapi ukuran ruangnya membesar mengikuti proporsi tertentu. Proporsi pertumbuhan setiap belokan spiral itu mendekati rasio emas, yang merupakan limit dari pembagian dua suku berurutan dalam deret Fibonacci. Setiap kamar baru di cangkang itu kira-kira 1.618 kali lebih besar dari kamar sebelumnya.

Pola ini memungkinkan kerang tumbuh secara struktural kuat dan efisien tanpa perlu mengubah bentuk dasarnya. Alam menggunakan matematika ini untuk mengoptimalkan ruang dan material.

Latihan dan Pengembangan Pola

Setelah memahami konsep dan aplikasinya, saatnya mengasah kemampuan dengan beberapa latihan. Berlatih membantu kita lebih peka dalam mengenali pola, bahkan ketika deretnya dimodifikasi atau disembunyikan dalam konteks lain. Soal-soal berikut dirancang dengan tingkat kesulitan berbeda, dari yang langsung menerapkan rumus hingga yang membutuhkan analisis lebih mendalam.

Variasi Soal Latihan, Tuliskan tiga suku berikutnya dari pola bilangan 1, 2, 3, 5, 8, 13,

Berikut tiga soal latihan berdasarkan pola Fibonacci dan variasinya:

  1. Tingkat Dasar: Diberikan deret Fibonacci yang dimulai dari 5 dan 8. Tuliskan lima suku pertama dari deret tersebut.
  2. Tingkat Menengah: Dalam suatu deret mirip Fibonacci, suku ke-5 adalah 11 dan suku ke-7 adalah 29. Asumsikan pola penjumlahan dua suku sebelumnya tetap berlaku, tentukan suku ke-6.
  3. Tingkat Lanjut: Sebuah deret didefinisikan dengan F(n) = F(n-1) + F(n-2), dengan F(1) = 3 dan F(2) = 1. Hitunglah nilai dari F(7).

Solusi dan Penjelasan Kunci

Solusi Soal 1: Jika dua suku pertama adalah 5 dan 8, maka suku ketiga = 5+8=13, suku keempat = 8+13=21, suku kelima = 13+21=34. Jadi, lima suku pertama adalah 5, 8, 13, 21, 34.

Solusi Soal 2: Kita tahu U 7 = 29 dan pola Fibonacci U 7 = U 6 + U 5. Kita sudah punya U 5 = 11. Maka, 29 = U 6 + 11. Jadi, U 6 = 29 – 11 = 18. Deretnya (dari U 5) adalah 11, 18, 29.

Solusi Soal 3: Deret dengan F(1)=3, F(2)=
1. Kita hitung bertahap: F(3)=1+3=4, F(4)=4+1=5, F(5)=5+4=9, F(6)=9+5=14, F(7)=14+9= 23. Perhatikan bahwa meski dimulai dengan angka yang tidak biasa, aturan rekursifnya tetap sama.

Kesalahan Umum dalam Analisis

Beberapa kesalahan sering terjadi saat orang menganalisis deret seperti Fibonacci. Pertama, terburu-buru menggeneralisasi. Tidak semua deret yang angkanya membesar adalah Fibonacci. Harus dicek apakah aturan F n = F n-1 + F n-2 benar-benar berlaku untuk semua suku. Kedua, mengabaikan suku awal.

Deret Fibonacci bisa dimulai dari angka apa saja (bukan hanya 0,1 atau 1,1), yang penting polanya penjumlahan dua suku sebelumnya. Ketiga, kesalahan indeks. Seringkali orang keliru menempatkan urutan suku, terutama saat soal memberikan suku ke-n yang bukan dari awal. Selalu pastikan untuk memetakan informasi yang diberikan dengan benar ke dalam rumus.

Eksplorasi Matematika dari Pola Terkait

Tuliskan tiga suku berikutnya dari pola bilangan 1, 2, 3, 5, 8, 13,

Source: co.id

Matematika deret Fibonacci menjadi semakin mempesona ketika kita menggali hubungannya dengan konsep lain, terutama Rasio Emas (φ/phi ≈ 1.618). Hubungan ini bukan kebetulan. Ketika kita membagi suatu suku dalam deret Fibonacci dengan suku sebelumnya, hasilnya akan semakin mendekati angka ajaib 1.618 seiring dengan bertambahnya suku. Konvergensi menuju rasio emas inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pola ini terasa begitu harmonis, baik dalam angka maupun dalam wujud fisiknya di alam.

BACA JUGA  Tiga Bilangan Barisan Aritmetika Jumlah 36 Hasil Kali 1536 Tentukan Beda dan Barisannya

Hubungan dengan Rasio Emas

Rasio Emas, sering dilambangkan dengan phi (φ), adalah bilangan irasional sekitar 1.6180339887… Nilai ini adalah solusi positif dari persamaan x² = x +
1. Perhatikan persamaan itu: bentuknya mirip dengan rumus rekursif Fibonacci F n = F n-1 + F n-2. Inilah akar matematis hubungan keduanya. Jika kamu mengambil suku Fibonacci yang sangat besar, misalnya F 100 dibagi F 99, hasilnya akan sangat-sangat dekat dengan φ.

Hubungan ini menjelaskan mengapa spiral pada bunga matahari, yang mengikuti deret Fibonacci, juga sekaligus merupakan spiral emas.

Tabel Konvergensi Menuju Rasio Emas

Tabel berikut menunjukkan bagaimana pembagian dua suku berurutan dalam deret Fibonacci klasik (dimulai 1,1) semakin mendekati nilai Rasio Emas.

Pembagian (Fn / Fn-1) Hasil (Desimal) Mendekati φ? Selisih dengan φ (≈1.618034)
3/2 1.5 Masih jauh ≈ -0.118034
5/3 1.666… Lebih besar ≈ +0.048633
8/5 1.6 Lebih dekat ≈ -0.018034
13/8 1.625 Bolak-balik mendekati ≈ +0.006966
21/13 ≈1.61538 Sangat dekat ≈ -0.002649
34/21 ≈1.61905 Lebih dekat lagi ≈ +0.001013

Sifat Unik Pembeda dari Barisan Lain

Deret Fibonacci memiliki beberapa sifat unik yang tidak dimiliki barisan aritmatika atau geometri biasa. Pertama, sifat rekursif non-linear. Nilai suku bergantung pada penjumlahan dua keadaan sebelumnya, bukan hanya satu operasi tetap. Kedua, adanya konvergensi rasio seperti yang telah dibahas. Barisan aritmatika rasio antar sukunya konstan (selisih/beda), barisan geometri rasio antar sukunya juga konstan, tetapi pada Fibonacci, rasio antar sukunya konvergen ke suatu nilai tertentu.

Ketiga, hubungan dengan kuadrat (sifat verifikasi tadi). Keempat, aplikasinya dalam pencarian algoritma (seperti Fibonacci Search) dan teori bilangan, yang menunjukkan kedalaman matematisnya melampaui sekadar pola angka yang menarik.

Terakhir

Jadi, setelah menelusuri pola dari 1, 2, 3, 5, 8, 13, kita berhasil menemukan tiga suku berikutnya: 21, 34, dan 55. Lebih dari sekadar jawaban, proses ini membuka mata tentang bagaimana matematika seringkali menjadi bahasa universal yang menjelaskan pola-pola kompleks di alam dengan aturan yang sederhana. Deret Fibonacci mengajarkan bahwa dari sesuatu yang dasar, bisa tumbuh sesuatu yang luar biasa kompleks dan indah.

Nah, sekarang kamu sudah punya kuncinya. Coba deh perhatikan sekeliling, pola ini mungkin sedang bersembunyi di tangkai daun, bentuk buah nanas, atau bahkan dalam proporsi karya seni favoritmu. Keberhasilan memecahkan satu pola kecil ini adalah langkah pertama untuk melihat keteraturan dalam dunia yang tampak acak. Selamat bereksplorasi lebih jauh!

Pertanyaan yang Sering Diajukan: Tuliskan Tiga Suku Berikutnya Dari Pola Bilangan 1, 2, 3, 5, 8, 13,

Apakah angka awal 1 dan 2 dalam soal ini sudah sesuai dengan deret Fibonacci standar?

Tidak sepenuhnya. Deret Fibonacci klasik biasanya dimulai dari 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13… Soal ini memulai dari 1, 2 sebagai dua suku pertama, yang merupakan variasi umum. Aturan penjumlahannya tetap sama.

Bisakah pola ini diterapkan untuk memprediksi sesuatu di kehidupan nyata?

Pola Fibonacci lebih banyak mendeskripsikan pola yang sudah ada di alam dan seni, bukan alat prediksi yang akurat untuk kejadian masa depan. Ia menggambarkan kecenderungan pertumbuhan, bukan meramal.

Nah, setelah kita tahu tiga suku berikutnya dari pola Fibonacci 1, 2, 3, 5, 8, 13 itu adalah 21, 34, dan 55, logika berhitungnya bisa kita terapkan ke soal lain. Biar makin jago, coba asah skill numerikmu dengan soal-soal praktis kayak Tuliskan hasil operasi perpangkatan berikut ini. a. -8 x 2^6 b. 5^4 x 50 c.

16/2^4 d. 98?7^3. Latihan seperti ini bakal ngebangun intuisi angka yang solid, yang pastinya berguna buat ngelanjutin dan menganalisis deret seperti pola Fibonacci tadi dengan lebih percaya diri.

Apa bedanya deret Fibonacci dengan deret aritmatika biasa?

Pada deret aritmatika, selisih antar suku selalu sama (contoh: 2,4,6,8…). Pada Fibonacci, “selisih”-nya tidak tetap, justru aturannya adalah penjumlahan dua suku sebelumnya untuk mendapatkan suku berikutnya.

Apakah angka setelah 55 masih akan terus bertambah besar dengan cepat?

Ya. Karena setiap suku adalah jumlah dua bilangan besar sebelumnya, pertumbuhan deret Fibonacci bersifat eksponensial dan akan menjadi sangat besar dengan sangat cepat setelah beberapa suku.

Leave a Comment