Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur Jejak Arsitektur Zaman

Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur bukan sekadar persoalan geografis, melainkan cerminan evolusi kebudayaan, pergeseran kekuasaan politik, dan dinamika keagamaan yang terjadi di Nusantara. Melangkah dari dataran tinggi Jawa Tengah yang dipenuhi candi-candi megah batu andesit, menuju wilayah timur dengan candi-candi bata merah yang lebih sederhana namun penuh makna, kita seperti membaca dua bab berbeda dari sebuah epos besar sejarah Indonesia.

Perjalanan ini mengungkap bagaimana selera artistik, teknologi konstruksi, dan bahkan keyakinan spiritual berubah seiring waktu dan perpindahan pusat kerajaan.

Perbedaan mencolok itu berakar dari kronologi kerajaan Hindu-Buddha yang berbeda. Jawa Tengah didominasi oleh kejayaan Mataram Kuno pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, dengan corak kebudayaan yang kuat dipengaruhi India. Sementara itu, Jawa Timur menjadi pusat peradaban pada periode berikutnya, mulai dari Kerajaan Medang, Kediri, Singhasari, hingga puncaknya Majapahit, yang mengembangkan gaya lebih lokal dan adaptif. Pergeseran ini melahirkan dua “wajah” arsitektur candi yang unik, masing-masing dengan bahasa rupa, material, dan filosofinya sendiri.

Perbedaan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dari bentuk yang gemuk dan masif hingga ramping dan vertikal, mencerminkan evolusi budaya yang kompleks. Layaknya Konfigurasi Elektron, Valensi Unsur, dan Ion yang menentukan sifat kimia suatu materi, konfigurasi sosial, politik, dan keagamaan pada masing-masing periode itulah yang akhirnya membentuk karakteristik arsitektur candi yang berbeda secara fundamental.

Pendahuluan dan Latar Belakang Sejarah

Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Source: slidesharecdn.com

Perkembangan candi di Nusantara tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan terikat erat dengan geliat politik, budaya, dan spiritual kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berjaya. Perbedaan geografis antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ternyata juga mencerminkan perbedaan fase sejarah yang berpengaruh besar pada karakteristik candi di kedua wilayah tersebut. Secara kronologis, pusat kebudayaan dan kekuasaan bergeser dari Jawa Tengah bagian tengah ke Jawa Timur sekitar abad ke-10 Masehi, sebuah peristiwa yang dalam sejarah sering dikaitkan dengan faktor alam, politik, dan perdagangan.

Di Jawa Tengah, kemegahan candi mencapai puncaknya pada era Wangsa Syailendra (Buddha) dan Sanjaya (Hindu) pada abad ke-8 hingga ke-10 M. Candi-candi besar seperti Borobudur, Prambanan, dan kompleks Dataran Tinggi Dieng lahir dari periode ini, menampilkan semangat monumentalis dan konsep kosmologi yang sangat kuat. Perpindahan pusat kerajaan Medang ke Jawa Timur di bawah pemerintahan Mpu Sindok menandai babak baru. Corak candi pun beradaptasi dengan lingkungan, budaya lokal, dan perkembangan keagamaan yang lebih sinkretis, mencapai puncaknya pada era Majapahit (abad ke-13 hingga 15) yang memadukan Hindu-Siwa, Buddha, dan unsur kepercayaan asli dengan lebih kental.

Kronologi dan Corak Kebudayaan

Pergeseran ini melahirkan dua “wajah” arsitektur candi yang berbeda. Untuk memahami garis besar perbedaannya, tabel berikut merangkum kronologi dan corak utama dari kedua wilayah.

Periode (Abad) Wilayah Kerajaan Dominan Corak Kebudayaan Utama
8 – 10 M Jawa Tengah Mataram Kuno (Syailendra & Sanjaya) Monumental, konsep kosmologi kuat, pengaruh India (Gupta & Pallava) masih jelas, pemisahan fungsi Hindu dan Buddha masih tegas.
10 – 15 M Jawa Timur Medang, Kediri, Singhasari, Majapahit Lebih ramping dan vertikal, sinkretisme Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal kuat, penggunaan bahan bata, fungsi lebih variatif (pendharmaan).
BACA JUGA  Loop 65 cm x 35 cm Hitung Fluks Magnetik 0.45 T

Analisis Perbedaan Arsitektur dan Bentuk Fisik

Perbedaan konteks sejarah itu termanifestasi secara nyata dalam wujud fisik candi. Dari jarak pandang sekalipun, sering kali kita dapat membedakan asal wilayah sebuah candi berdasarkan proporsi, bahan, dan siluetnya. Candi Jawa Tengah cenderung memberikan kesan gemuk, kokoh, dan berpusat pada satu massa utama yang besar, sementara candi Jawa Timur lebih mengutamakan kesan tinggi, ramping, dan kesatuan dengan kompleks yang lebih luas.

Ciri Khas Arsitektur Masing-masing Wilayah

Perbedaan mendasar tersebut dapat dijabarkan dalam poin-poin berikut.

  • Struktur Tubuh dan Atap: Candi Jawa Tengah memiliki tubuh yang tambun dan atap berundak-undak (meru) yang besar, sering kali dengan volume yang hampir sama dengan tubuh candi. Puncaknya berupa ratna (symbol Hindu) atau stupa (Buddha). Sebaliknya, candi Jawa Timur bertubuh ramping dengan tinggi yang lebih dominan. Atapnya menjulang tinggi berupa susunan pilinan menyerupai menara dengan puncak berbentuk kubus (sikhara), memberikan kesan vertikal yang kuat.

  • Denah dan Bahan: Denah dasar candi Jawa Tengah umumnya persegi dengan poros tengah yang sangat simetris. Bahan utamanya adalah batu andesit yang dipahat halus dan disusun rapat tanpa perekat. Candi Jawa Timur sering menggunakan denah persegi panjang dan bahan utama bata merah, yang disusun dengan teknik perekat khusus dari bahan organis, memberikan tekstur yang lebih hangat namun dengan pahatan relief yang cenderung lebih datar.

    Perbedaan arsitektur candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur tak hanya soal estetika, tetapi juga mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan. Pilihan material batu andesit di Tengah versus bata merah di Timur, misalnya, menunjukkan bagaimana Hubungan Sumber Daya Alam dengan Kebutuhan Manusia membentuk ekspresi budaya. Ketersediaan sumber daya lokal ini akhirnya turut mendikte gaya bangunan, sehingga melahirkan karakteristik candi yang khas dan berbeda antara kedua wilayah tersebut.

  • Visualisasi Candi Perwakilan: Candi Borobudur di Jawa Tengah adalah sebuah mandala raksasa dari batu andesit. Strukturnya berupa piramida berundak dengan stupa-stupa berlubang dan satu stupa induk di puncak, menggambarkan perjalanan spiritual dari dunia nafsu menuju pencerahan. Sementara itu, Candi Singosari di Jawa Timur berdiri ramping dengan bahan campuran batu andesit dan bata. Tubuhnya tinggi, atapnya bertingkat-tingkat seperti menara, dan seluruh tubuhnya dipenuhi relung-relung yang dulunya berisi arca dewa, memberikan kesan dinamis dan penuh.

Perbandingan Ragam Hias, Relief, dan Simbolisme

Jika arsitektur adalah tubuhnya, maka ragam hias adalah jiwa yang mengisinya. Perbedaan gaya pahat dan tema relief antara Jawa Tengah dan Timur sangat jelas, mencerminkan evolusi artistik dan pergeseran fokus narasi. Relief Jawa Tengah terkenal dengan pahatannya yang dalam, naturalis, dan tiga dimensi, seringkali mengisahkan cerita epos seperti Ramayana atau kehidupan Buddha dengan latar pemandangan yang detail. Di Jawa Timur, relief menjadi lebih simbolis, datar (two-dimensional), dan terkadang bergaya wayang, dengan cerita yang lebih berfokus pada kitab-kitab yang populer pada masanya seperti Krishnayana atau Sutasoma.

Perbedaan arsitektur candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang mencerminkan evolusi budaya dan keagamaan, menunjukkan bagaimana pencapaian dapat terwujud dalam bentuk berbeda sepanjang masa. Semangat untuk mencapai keunggulan ini juga terlihat pada Orang Indonesia Berprestasi di Bidang Sepak Bola Tahun Ini , sebuah prestasi kontemporer yang membanggakan. Layaknya kemegahan Candi Borobudur dan kesederhanaan Candi Jago, kedua pencapaian ini, meski berbeda bidang, sama-sama menjadi penanda zaman dan kebanggaan bangsa yang patut dikenang.

BACA JUGA  Pencipta Lagu Kebunku dan Kisah Dibalik Lagu Anak Legendaris

Evolusi Kala-Makara dan Contoh Relief Khas

Salah satu penanda zaman yang paling jelas adalah perwujudan Kala (kepala raksasa) dan Makara (makhluk mitologi). Di Jawa Tengah, Kala digambarkan dengan wajah bulat, mata melotot, dan rahang bawah lengkap dengan taring, terlihat garang namun masih proporsional. Makara digambarkan sebagai makhluk mirip gajah dengan belalai panjang. Di Jawa Timur, wajah Kala sering kali tanpa rahang bawah (hanya berupa kepala), dikenal sebagai “Kala nggremeng”, dan ditempatkan di atas pintu.

Makara berevolusi menjadi bentuk yang sangat distilasi, menyerupai sulur-suluran yang melingkar.

Relief Lalitavistara di Borobudur (Jawa Tengah): Relief ini menggambarkan rangkaian kisah kehidupan Buddha Gautama sebelum dan hingga mencapai pencerahan. Adegan-adegannya seperti kelahiran, masa muda, hingga pertapaannya dipahat dengan sangat hidup. Figur manusia, tumbuhan, dan arsitektur digambarkan secara realistis dan detail, seolah-olah pemahatnya ingin penonton merasakan langsung suasana dan emosi dalam cerita tersebut.

Relief Kunjarakarna di Candi Jago (Jawa Timur): Relief ini mengisahkan pertapaan raksasa Kunjarakarna yang ingin mencapai kesempurnaan. Gaya pahatannya sangat berbeda; figur manusia dan raksasa digambarkan dengan profil yang kaku, seperti wayang kulit. Latar belakangnya minimalis, lebih menekankan pada narasi tokoh dan makna filosofis dari cerita tersebut daripada keindahan panorama alam.

Fungsi, Orientasi, dan Latar Belakang Keagamaan

Fungsi candi juga mengalami pergeseran seiring waktu dan wilayah. Di Jawa Tengah, candi terutama dibangun sebagai kuil pemujaan untuk dewa tertentu (Siwa, Wisnu, Brahma) atau sebagai monumen Buddha yang menjadi pusat ziarah dan meditasi. Orientasi candi seringkali sangat terkait dengan arah mata angin sakral (biasanya menghadap timur) dan penataan kompleksnya mengikuti diagram kosmologi mandala yang ketat, seperti terlihat pada Prambanan atau Borobudur.

Di Jawa Timur, meski fungsi pemujaan tetap ada, berkembang kuat fungsi candi sebagai tempat “pendharmaan”, yaitu bangunan untuk memuliakan roh raja atau tokoh penting yang telah wafat, yang disamakan dengan dewa. Candi seringkali dibangun di dekat tempat kremasi atau tempat yang dikeramatkan. Orientasinya lebih fleksibel, sering menyesuaikan dengan topografi, seperti dibangun di lereng gunung atau dekat sumber air, dan kompleksnya lebih terbuka tanpa pagar pembatas yang ketat.

Contoh Candi Berdasarkan Fungsi dan Keagamaan, Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Wilayah Contoh Candi Fungsi Utama Latar Keagamaan Dominan
Jawa Tengah Candi Prambanan Kuil pemujaan Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma) Hindu-Siwa yang taat pada kitab Weda.
Jawa Tengah Candi Borobudur Monumen stupa dan tempat meditasi untuk memutar roda dharma. Buddha Mahayana dengan pengaruh Tantrayana.
Jawa Timur Candi Singosari Pendharmaan Raja Kertanegara (Singhasari) sebagai Siwa-Buddha. Sinkretisme Siwa-Buddha yang kental.
Jawa Timur Candi Bajang Ratu Gapura pendharmaan atau pintu masuk ke area suci untuk memuliakan Raja Jayanegara (Majapahit). Hindu dengan kuatnya unsur pemujaan leluhur dan raja.

Contoh Kasus: Perbandingan Candi Perwakilan: Perbedaan Candi Di Jawa Tengah Dan Jawa Timur

Untuk menyatukan semua analisis sebelumnya, mari kita ambil dua candi ikonik sebagai studi banding langsung: Candi Prambanan dari Jawa Tengah dan Candi Bajang Ratu dari Jawa Timur. Prambanan mewakili puncak seni bangunan Hindu di Jawa Tengah, sementara Bajang Ratu mewakili salah satu capaian arsitektur gapura dari era Majapahit di Jawa Timur.

BACA JUGA  Perintah untuk Menambahkan Bingkai pada Lembar Dokumen Panduan Lengkap

Studi Banding Candi Prambanan dan Candi Bajang Ratu

  • Arsitektur: Prambanan adalah kompleks candi dengan tiga candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma) yang bertubuh tambun, atap meru besar, dan berdiri di pelataran tinggi berdenah persegi. Bajang Ratu adalah sebuah gapura beratap tinggi berbentuk “paduraksa” (gapura beratap) yang ramping, terbuat dari bata merah, dengan struktur atap bertingkat menyerupai menara (sikhara).
  • Hiasan: Relief di Prambanan (misalnya Ramayana) dipahat dalam-dalam dan naturalis pada batu andesit, mengelilingi tubuh candi. Hiasan di Bajang Ratu, seperti relief cerita Sri Tanjung yang bergaya wayang, dipahat lebih datar pada bata. Ornamen Kala tanpa rahang bawah menghiasi bagian atas pintu gapura.
  • Fungsi: Prambanan berfungsi sebagai kuil pemujaan dewa-dewa utama Hindu. Bajang Ratu diduga kuat berfungsi sebagai gapura pendharmaan atau pintu masuk menuju bangunan suci untuk memuliakan Raja Jayanegara dari Majapahit.
  • Latar Sejarah: Prambanan dibangun sekitar abad ke-9 oleh Wangsa Sanjaya, mencerminkan kebangkitan Hindu setelah era Syailendra Buddha. Bajang Ratu dibangun pada abad ke-14 di puncak kejayaan Majapahit, menunjukkan perkembangan arsitektur non-candi utama (gapura) yang sangat artistik dan penuh makna filosofis.

Ringkasan Penutup

Dengan demikian, menjelajahi perbedaan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada hakikatnya adalah menyusuri garis waktu peradaban Jawa itu sendiri. Dari kemegahan Borobudur dan Prambanan yang simetris dan monumental, kita bergeser ke kesederhanaan Candi Singosari atau Candi Jabung yang vertikal dan sarat simbol. Perbedaan ini bukan menunjukkan kemunduran, melainkan transformasi. Gaya Jawa Timuran yang lebih efisien dan fokus pada fungsi tertentu justru menunjukkan kedewasaan berarsitektur, di mana bentuk mengikuti konteks zaman, material lokal, dan kebutuhan religio-politik yang baru.

Kedua warisan ini, dalam segala perbedaannya, tetap bersatu sebagai mahakarya nenek moyang yang mengajarkan kita tentang adaptasi, keberlanjutan, dan kekayaan budaya Nusantara.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa candi Jawa Timur banyak yang terbuat dari bata merah, bukan batu andesit seperti di Jawa Tengah?

Perubahan material ini diduga kuat terkait dengan faktor geografis dan efisiensi. Jawa Timur memiliki sumber batu andesit yang lebih sulit diakses dibandingkan Jawa Tengah. Selain itu, penggunaan bata merah menawarkan fleksibilitas lebih tinggi, proses pengerjaan yang lebih cepat, serta memungkinkan pembangunan candi yang lebih ramping dan tinggi, sesuai dengan gaya arsitektur yang berkembang pada periode kerajaan-kerajaan Timur.

Apakah ada pengaruh Islam dalam arsitektur candi Jawa Timur?

Secara langsung dalam bentuk fisik candi, pengaruh Islam belum terlihat signifikan karena masa pembangunan candi besar berakhir sebelum Islam benar-benar berkuasa secara politik. Namun, periode akhir Majapahit ditandai dengan akulturasi dan sinkretisme. Gaya arsitektur yang lebih sederhana dan fokus pada fungsi tertentu di Jawa Timur bisa jadi mencerminkan pergeseran nilai sosial dan religius yang lebih pragmatis, yang kemudian berlanjut ke era Islam.

Candi mana yang lebih tua secara umum, candi di Jawa Tengah atau Jawa Timur?

Secara umum, candi-candi besar dan megah di Jawa Tengah lebih tua, dibangun antara abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Sementara itu, candi-candi ikonik di Jawa Timur kebanyakan dibangun pada periode yang lebih kemudian, mulai dari abad ke-13 hingga ke-15 Masehi, seiring dengan perpindahan pusat politik dan budaya ke wilayah timur Pulau Jawa.

Manakah yang lebih banyak dipengaruhi budaya India, candi Jawa Tengah atau Jawa Timur?

Candi di Jawa Tengah menunjukkan pengaruh India yang lebih kuat dan langsung, terlihat dari konsep mandala yang sempurna, kemiripan dengan candi-candi di India Selatan, dan penggambaran dewa-dewi serta epos yang sangat sesuai dengan kitab suci. Di Jawa Timur, pengaruh India telah mengalami proses lokalisasi atau “Jawanisasi” yang lebih dalam, dengan bentuk dan simbol yang lebih disesuaikan dengan konteks lokal.

Leave a Comment