Menjaga Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) bukan sekadar wacana lingkungan, melainkan sebuah tindakan kolektif yang menentukan nasib sumber daya air, ketahanan pangan, dan keselamatan kita dari bencana. Bayangkan sebuah jaringan kehidupan yang kompleks, di mana setiap tetes hujan di hulu pegunungan memulai perjalanan panjang, membawa kehidupan sekaligus potensi kerusakan, sebelum akhirnya bertemu dengan laut. DAS adalah jantung dari siklus hidrologi itu, sebuah sistem yang menghubungkan gunung, sungai, lahan, dan manusia dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Keberlangsungan sistem ini kini menghadapi ujian berat. Tekanan akibat alih fungsi lahan, pencemaran, dan eksploitasi berlebihan telah mengganggu keseimbangan alamiahnya, memicu erosi, banjir, dan kekeringan yang dampaknya dirasakan secara luas. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang fungsi, ancaman, dan upaya konservasi DAS menjadi sangat krusial. Upaya ini memerlukan pendekatan terpadu yang menyinergikan ilmu pengetahuan, kebijakan, teknologi, dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
Upaya menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) tak hanya soal fisik, tetapi juga pemahaman kimia lingkungan. Misalnya, pencemaran oleh limbah industri yang mengandung Senyawa yang bersifat basa menurut Arhenius dapat mengganggu keseimbangan pH air, merusak ekosistem perairan. Oleh karena itu, monitoring kualitas air berbasis sains menjadi kunci utama dalam strategi konservasi DAS yang berkelanjutan dan efektif.
Pengertian dan Komponen Penting Daerah Aliran Sungai (DAS)
Bayangkan sebuah sungai beserta seluruh jaringan anak sungainya, mulai dari mata air di pegunungan hingga muara di laut. Seluruh wilayah daratan yang dialiri oleh jaringan air itu, di mana air hujan yang jatuh akan mengalir menuju sungai utama, itulah yang disebut Daerah Aliran Sungai (DAS). Secara sederhana, DAS adalah sebuah unit ekosistem yang dibatasi oleh punggung bukit atau gunung, di mana semua air di dalamnya berkumpul dan mengalir keluar melalui satu titik outlet.
Memahami DAS sebagai satu kesatuan sistem adalah kunci utama dalam pengelolaan sumber daya air dan lingkungan.
Sebuah DAS dibagi menjadi tiga zona fungsional yang saling terhubung: hulu, tengah, dan hilir. Zona hulu berperan sebagai daerah tangkapan air dan konservasi, zona tengah sebagai daerah penyangga dan pengatur aliran, sementara zona hilir adalah daerah pemanfaatan yang juga rentan terhadap dampak dari aktivitas di dua zona sebelumnya. Interaksi ketiganya menentukan kesehatan sungai secara keseluruhan.
Karakteristik Zona Hulu, Tengah, dan Hilir
Setiap zona dalam DAS memiliki karakteristik fisik dan fungsi ekologis yang unik. Perbedaan ini menuntut pendekatan pengelolaan yang spesifik. Tabel berikut membandingkan ketiga zona tersebut secara jelas.
| Aspek | Zona Hulu | Zona Tengah | Zona Hilir |
|---|---|---|---|
| Topografi | Bergunung, lereng curam | Berbukit landai hingga dataran | Datar, kadang berawa |
| Fungsi Utama | Tangkapan air, perlindungan | Pengatur & penyalur aliran | Pemanfaatan, pemukiman |
| Aktivitas Dominan | Hutan lindung, konservasi | Pertanian campuran, permukiman | Industri, pertanian intensif, kota |
| Risiko Kerusakan | Erosi tanah, longsor | Sedimentasi, banjir lokal | Banjir besar, pencemaran, intrusi air laut |
Contoh DAS Besar di Indonesia dan Ciri Khasnya
Indonesia memiliki banyak DAS besar yang vital bagi kehidupan. DAS Citarum di Jawa Barat, misalnya, terkenal sebagai nadi kehidupan bagi Jawa Barat dan DKI Jakarta, namun juga menghadapi tantangan pencemaran berat dari limbah domestik dan industri. DAS Kapuas di Kalimantan Barat merupakan DAS terpanjang di Indonesia, dengan karakteristik lahan gambut yang luas yang berfungsi sebagai penyimpan karbon dan pengatur tata air alami.
Sementara itu, DAS Mamberamo di Papua masih relatif alami dengan tutupan hutan primer yang lebat, berperan sebagai bentang alam konservasi biodiversitas tingkat tinggi.
Ancaman dan Tantangan terhadap Kelestarian DAS
Source: watershedcommunity.id
Tekanan terhadap kelestarian DAS sebagian besar bersumber dari aktivitas manusia yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Ketika keseimbangan dalam satu zona terganggu, efek domino akan dirasakan hingga ke zona berikutnya, seringkali dengan konsekuensi yang merugikan seperti banjir, kekeringan, dan penurunan kualitas air.
Aktivitas Manusia yang Mengganggu Keseimbangan DAS
Alih fungsi lahan secara masif adalah ancaman utama. Deforestasi untuk perkebunan, pertambangan, atau permukiman di daerah hulu mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Hujan yang jatuh tidak lagi diserap secara optimal, melainkan langsung menjadi aliran permukaan yang deras. Urbanisasi di zona tengah dan hilir menutup permukaan tanah dengan beton dan aspal, memperparah limpasan air hujan dan mengurangi cadangan air tanah. Perubahan tutupan lahan ini secara langsung mengubah siklus hidrologi lokal, membuat aliran sungai lebih ekstrem; banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Hubungan Erosi, Sedimentasi, dan Banjir
Gangguan di hulu memicu rangkaian masalah yang berantai ke hilir. Proses sebab-akibatnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Penyebab di Hulu: Penggundulan hutan dan pengolahan lahan yang tidak tepat di lereng curam menyebabkan tanah mudah terkelupas.
- Proses Erosi: Air hujan mengangkut partikel tanah yang terkelupas tersebut, menyebabkan erosi yang mengikis kesuburan lahan di hulu.
- Transportasi Sedimen: Material tanah yang tererosi ini terbawa aliran sungai menuju zona yang lebih landai.
- Proses Sedimentasi: Di zona tengah dan hilir, aliran sungai melambat sehingga material tanah mengendap (sedimentasi) di dasar sungai.
- Dampak di Hilir: Pendangkalan sungai akibat sedimentasi mengurangi kapasitas tampung sungai. Ketika hujan lebat datang, sungai yang dangkal mudah meluap, menyebabkan banjir yang lebih luas dan lebih sering.
Tantangan Pencemaran Air Sungai
Selain masalah kuantitas air, kualitas air juga terancam. Pencemaran berasal dari berbagai sumber. Limbah domestik dari permukiman yang langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan meningkatkan bakteri patogen dan nutrisi (eutrofikasi). Limbah industri sering mengandung logam berat dan bahan kimia beracun yang bersifat persisten. Dari sektor pertanian, runoff atau air larian yang membawa sisa pupuk dan pestisida mencemari sungai dan dapat menyebabkan blooming alga yang merusak ekosistem perairan.
Kombinasi ketiganya menciptakan “koktail” polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup di sungai.
Praktik Konservasi dan Rehabilitasi DAS
Merestorasi DAS yang terdegradasi memerlukan pendekatan teknis yang tepat guna dan berkelanjutan. Upaya ini tidak hanya fokus pada penanaman pohon, tetapi juga pada rekayasa teknik sipil sederhana dan partisipasi masyarakat untuk memulihkan fungsi hidrologi dan ekologi lahan.
Praktik Konservasi di Lahan Pertanian
Pada lahan pertanian yang berlereng, penerapan teknik konservasi tanah dan air sangat efektif mencegah erosi dan mempertahankan kelembaban tanah. Beberapa praktik yang telah terbukti antara lain sistem terasering atau sengkedan, yang memperpendek panjang lereng dan memperlambat aliran permukaan. Penanaman menurut garis kontur, di mana tanaman ditata sejajar dengan garis tinggi yang sama, juga berfungsi serupa. Selain itu, penerapan pola tanam lorong ( alley cropping) dengan menyisipkan tanaman pagar seperti lamtoro di antara tanaman utama dapat menahan tanah dan menyuburkan lahan.
Rehabilitasi Lahan Kritis di Hulu
Rehabilitasi lahan kritis dan gundul di hulu DAS adalah langkah fundamental. Pemilihan jenis tanaman harus cermat, mengutamakan spesies pionir yang tahan kekeringan, berakar dalam, dan cepat tumbuh untuk menutup tanah, seperti kaliandra, gamal, atau sengon. Penanaman sebaiknya dilakukan dengan pola campuran (polyculture) yang meniru hutan alam, bukan monokultur, untuk meningkatkan ketahanan ekosistem. Program seperti penanaman agroforestri, yang menggabungkan tanaman kayu-kayuan dengan tanaman semusim, dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus ekologi bagi masyarakat sekitar.
Sumur Resapan dan Biopori untuk Cadangan Air Tanah
Di daerah perkotaan dan permukiman, upaya meningkatkan infiltrasi air hujan menjadi sangat krusial. Pembangunan sumur resapan adalah teknik sederhana dengan membuat lubang di tanah yang diisi batu belah untuk menampung air hujan dari atap rumah, sehingga air meresap ke dalam tanah dan mengisi akuifer. Teknik lain yang lebih sederhana adalah pembuatan lubang biopori, yaitu lubang silinder sempit sedalam sekitar satu meter yang diisi sampah organik.
Lubang ini tidak hanya meningkatkan resapan air, tetapi juga mengubah sampah organik menjadi kompos dan membantu aktivitas organisme tanah. Kedua metode ini efektif mengurangi genangan dan menjaga ketersediaan air tanah.
Pelibatan Masyarakat Adat dan Lokal
Keberhasilan konservasi DAS jangka panjang tidak dapat dilepaskan dari kearifan dan keterlibatan aktif masyarakat yang hidup di dalamnya. Masyarakat adat dan lokal bukan hanya sebagai objek program, melainkan subjek yang memahami ritme alam di wilayahnya. Pengetahuan tradisional tentang rotasi tanaman, larangan adat menebang hutan (hutan larangan), dan sistem pengelolaan sumber daya komunal sering kali selaras dengan prinsip konservasi modern. Mengintegrasikan kearifan ini ke dalam perencanaan formal adalah kunci menciptakan rasa memiliki dan keberlanjutan program.
Peran Masyarakat dan Kelembagaan dalam Pengelolaan DAS: Menjaga Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS)
Pengelolaan DAS yang efektif bersifat kolaboratif, melibatkan banyak pihak dari tingkat tapak hingga kebijakan. Sinergi antara aksi komunitas dan kerangka kelembagaan yang solid akan menciptakan tata kelola DAS yang tangguh dan adaptif.
Menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) bukan sekadar urusan ekologi, melainkan sebuah komitmen kolektif untuk masa depan. Prinsip komitmen bersama ini pernah dirumuskan dalam perjalanan bangsa, seperti terlihat dalam Piagam Jakarta Dijadikan Sebagai suatu dokumen historis yang menegaskan pentingnya konsensus. Semangat gotong royong serupa kini sangat relevan untuk direvitalisasi dalam tata kelola DAS yang berkelanjutan, demi mencegah degradasi lingkungan dan memastikan kesejahteraan bersama.
Partisipasi Aktif Masyarakat
Masyarakat dapat berperan langsung dalam pemantauan dan perlindungan sungai. Aktivitas seperti pemantauan kualitas air sederhana (mengamati kekeruhan, bau, dan kehidupan akuatik), gerakan bersih-bersih sungai secara berkala, serta penanaman dan pemeliharaan vegetasi riparian (tepi sungai) adalah bentuk partisipasi nyata. Kelompok masyarakat seperti “Karang Taruna” atau “Kelompok Pecinta Alam” sering menjadi motor penggerak inisiatif semacam ini.
Program Edukasi untuk Sekolah dan Komunitas
Edukasi sejak dini membangun kesadaran jangka panjang. Program yang efektif dapat berupa pembelajaran luar ruang (outdoor learning) di bantaran sungai, workshop pembuatan biopori dan kompos, lomba menggambar atau fotografi dengan tema sungai, hingga pembentukan “Duta Sungai” di kalangan pelajar. Untuk komunitas dewasa, penyuluhan tentang pertanian ramah lingkungan dan pengelolaan sampah rumah tangga yang benar menjadi materi yang relevan dan langsung dapat diterapkan.
Sinergi Multi-Pihak dalam Pengelolaan Terpadu
Pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian PUPR, bertanggung jawab pada regulasi dan infrastruktur makro. Swasta dapat berkontribusi melalui CSR untuk program rehabilitasi dan teknologi ramah lingkungan. LSM berperan sebagai fasilitator, pengawas, dan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Sementara akademisi dan peneliti menyediakan data, analisis, dan inovasi berbasis sains. Forum Koordinasi Pengelolaan DAS (FKPD) di berbagai tingkat adalah wadah formal untuk menyelaraskan peran semua pihak ini.
Pemetaan Peran Pemangku Kepentingan, Menjaga Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS)
Tanggung jawab pengelolaan DAS tersebar di berbagai level pemerintahan dan kelompok masyarakat. Tabel berikut memberikan gambaran tentang pembagian peran tersebut.
| Pemangku Kepentingan | Tingkat Desa/Kelurahan | Tingkat Kabupaten/Kota | Tingkat Nasional |
|---|---|---|---|
| Pemerintah | Mengawasi larangan buang sampah, sosialisasi aturan adat/lokal. | Penataan ruang berbasis DAS, pengendalian izin usaha, pembangunan infrastruktur. | Penyusunan regulasi nasional, alokasi anggaran besar, koordinasi lintas provinsi. |
| Masyarakat | Aksi langsung: penanaman, pembersihan, patroli sungai. | Partisipasi dalam musrenbang, pengawasan proyek pemerintah/swasta. | Advokasi kebijakan melalui koalisi organisasi masyarakat sipil. |
| Swasta/Usaha | Program kemitraan dengan kelompok tani, CSR lokal. | Penerapan AMDAL, teknologi pengolahan limbah, investasi hijau. | Kepatuhan terhadap standar nasional, investasi dalam skema restorasi ekosistem. |
| LSM & Akademisi | Pendampingan dan pemberdayaan komunitas, sekolah lapang. | Penelitian terapan, pemantauan independen, rekomendasi kebijakan. | Kajian strategis, pengembangan metodologi, audit lingkungan nasional. |
Teknologi dan Inovasi untuk Pemantauan DAS
Perkembangan teknologi digital dan pendekatan rekayasa ekologis membuka peluang baru untuk memantau dan mengelola DAS dengan lebih cerdas, akurat, dan partisipatif. Inovasi ini membantu dari tahap perencanaan hingga respons cepat terhadap ancaman.
Penginderaan Jauh dan SIG untuk Pemantauan Tutupan Lahan
Teknologi penginderaan jauh melalui citra satelit (seperti Landsat, Sentinel, atau SPOT) memungkinkan pemantauan perubahan tutupan lahan di DAS secara berkala dan luas. Data citra ini kemudian dianalisis dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghasilkan peta tematik, seperti peta deforestasi, erosi potensial, atau sebaran lahan kritis. Dengan teknologi ini, pemerintah dan pengelola dapat mendeteksi titik-titik kerusakan lebih awal, mengevaluasi efektivitas program rehabilitasi, dan membuat perencanaan spasial yang berbasis data aktual.
Aplikasi Pelaporan Kerusakan oleh Masyarakat
Partisipasi publik dimudahkan dengan aplikasi smartphone. Contohnya, platform seperti “Qlue” atau “Panen Air” yang dimodifikasi untuk konservasi DAS, memungkinkan warga melaporkan langsung kejadian seperti pembuangan limbah ilegal, penebangan liar, atau titik longsor hanya dengan mengirim foto beserta titik koordinat GPS dari ponselnya. Laporan ini dapat terintegrasi langsung dengan sistem petugas di dinas terkait, mempercepat respons dan membangun sistem pengawasan yang lebih rapat.
Infrastruktur Hijau untuk Mengelola Air Limpasan
Di perkotaan, konsep infrastruktur hijau ( green infrastructure) menjadi solusi untuk menangani air limpasan. Konsep ini tidak hanya mengandalkan saluran beton ( grey infrastructure), tetapi menciptakan sistem yang menyerap dan mengolah air di tempat. Contohnya adalah pembuatan taman-taman resapan ( rain garden), atap hijau ( green roof), pavement berpori ( pervious pavement), dan kolam retensi yang dirancang sebagai taman. Sistem ini mengurangi beban drainase kota, meningkatkan resapan air tanah, sekaligus menambah ruang terbuka hijau dan keindahan kota.
Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis Komunitas
Sistem peringatan dini yang sederhana namun efektif dapat dibangun dengan melibatkan komunitas di daerah hulu dan tengah. Prinsip kerjanya adalah dengan memasang alat pengukur ketinggian air ( water level) sederhana atau bahkan alat sederhana dari bahan lokal di titik-titik strategis di hulu. Penjaga posko atau relawan yang ditugaskan mengamati alat tersebut. Jika ketinggian air mencapai level bahaya yang telah disepakati, mereka segera mengirimkan pesan peringatan melalui grup WhatsApp atau sirine kepada masyarakat di daerah hilir.
Jarak waktu antara hulu dan hilir memberikan kesempatan bagi warga hilir untuk menyelamatkan diri dan harta benda. Sistem ini memadukan teknologi sederhana dengan jaringan sosial komunitas.
Menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) memerlukan pendekatan terukur dan akuntabel, mirip dengan ketelitian dalam menganalisis data. Sebagai contoh, dalam mengelola pendapatan untuk program konservasi, kejelasan angka sangat krusial, layaknya saat kita perlu Menghitung Jumlah Tiket Dewasa Terjual dari Total Penjualan untuk menilai partisipasi. Presisi semacam ini, yang diterapkan dalam audit dana dan pemantauan dampak, pada akhirnya menjadi fondasi utama bagi efektivitas strategi pelestarian DAS yang berkelanjutan.
Studi Kasus: Keberhasilan dan Pembelajaran dari Pengelolaan DAS
Belajar dari pengalaman nyata, baik yang sukses maupun yang kurang berhasil, memberikan wawasan berharga untuk merancang program konservasi DAS ke depan. Setiap kasus memiliki konteks sosial, ekonomi, dan ekologis yang unik.
Kisah Sukses Restorasi Sub-DAS
Salah satu kisah yang sering menjadi rujukan adalah restorasi Sub-DAS Krueng Peusangan di Aceh, khususnya di kawasan Tangse. Awalnya, daerah ini mengalami erosi dan sedimentasi parah akibat alih fungsi hutan. Langkah kunci yang diambil adalah pendekatan partisipatif dengan membentuk kelompok tani. Mereka diberi bantuan bibit pohon multiguna seperti buah-buahan dan kayu, serta didorong untuk menerapkan terasering dan agroforestri. Yang penting, program ini tidak sekadar menanam, tetapi memberikan insentif ekonomi jangka pendek dari tanaman sela, sehingga masyarakat merasa diuntungkan.
Dalam beberapa tahun, erosi berkurang drastis, mata air yang sempat kering hidup kembali, dan pendapatan masyarakat meningkat.
Faktor Pendukung dan Penghambat
Sebaliknya, program penghijauan di beberapa daerah lain terkadang kurang berhasil. Faktor penghambat utamanya seringkali adalah pendekatan yang top-down dan seragam. Penanaman pohon tanpa melibatkan masyarakat dalam perencanaan jenis dan pemeliharaan, berujung pada tingginya angka kematian bibit. Kurangnya pendampingan pasca-tanam dan tidak adanya manfaat ekonomi langsung juga membuat program ditinggalkan. Sementara faktor pendukung utama dari kasus sukses selalu sama: komitmen kuat dari tokoh masyarakat lokal, pemberian pilihan tanaman yang sesuai dengan kebutuhan warga, serta mekanisme pendampingan yang berkelanjutan.
Perbandingan Pendekatan di Dua Wilayah
Membandingkan pendekatan di DAS Citarum (Jawa Barat) dan DAS Serayu (Jawa Tengah) memberikan pelajaran menarik. Di Citarum, tekanan penduduk dan industri sangat tinggi, sehingga pendekatannya cenderung reaktif dan berfokus pada penanganan pencemaran serta normalisasi sungai dengan infrastruktur besar. Di Serayu, tekanan relatif lebih rendah, dan pendekatannya lebih preventif dengan program konservasi berbasis masyarakat di hulu, seperti pengembangan wanatani (agroforestry) kopi.
Poin pembedanya adalah:
- Intensitas Tekanan: Citarum menghadapi beban polusi akut, Serayu lebih pada ancaman degradasi lahan.
- Strategi Dominan: Citarum mengombinasikan penegakan hukum dengan pembangunan infrastruktur pengendali banjir dan IPAL. Serayu mengandalkan pemberdayaan petani dan penguatan kelembagaan desa.
- Tantangan Utama: Di Citarum, koordinasi lintas sektor dan wilayah yang sangat kompleks. Di Serayu, menjaga konsistensi partisipasi masyarakat dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Testimoni dari Pelaku Konservasi Tingkat Tapak
“Dulu kami diajak menanam oleh proyek, dapat bibit gratis, tanam, lalu ditinggal. Hasilnya? Bibit mati, kami juga kapok. Sekarang, kami yang memutuskan mau tanam apa di lahan kami sendiri, dengan bimbingan teknis. Kami tanam kopi di antara pohon sengon dan alpukat. Hasil kopi untuk hari ini, kayu untuk anak cucu nanti. Yang paling kami rasakan, sumber air dekat kebun tidak lagi kering di kemarau. Ini yang bikin kami yakin, bahwa merawat DAS itu sama dengan merawat masa depan keluarga sendiri.” – Pak Darmo, Petani Pesanggem di Lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah.
Penutupan Akhir
Pada akhirnya, komitmen untuk Menjaga Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah investasi paling fundamental bagi keberlanjutan bangsa. Setiap aksi konservasi, mulai dari menanam pohon di hulu, membangun biopori di perkotaan, hingga melaporkan pencemaran, adalah kontribusi nyata bagi mata rantai kehidupan yang lebih resilien. Kisah sukses restorasi di berbagai daerah membuktikan bahwa kerusakan bukanlah akhir cerita, selama ada kolaborasi dan kemauan politik yang kuat.
Masa depan DAS yang sehat dan produktif ada di tangan kita; dimulai dari kesadaran, diwujudkan dalam aksi kolektif, dan ditujukan untuk warisan berharga bagi generasi mendatang.
FAQ Umum
Bagaimana cara sederhana masyarakat kota ikut menjaga DAS?
Masyarakat perkotaan dapat berkontribusi dengan mengurangi penggunaan air berlebihan, tidak membuang sampah atau limbah ke saluran air, membuat lubang resapan biopori di halaman, serta memilih produk yang ramah lingkungan untuk mengurangi jejak polusi yang akhirnya terbawa ke sungai.
Apakah DAS yang sudah terlanjur rusak parah masih bisa dipulihkan?
Ya, dengan program rehabilitasi yang komprehensif dan berkelanjutan. Pemulihan melibatkan penanaman vegetasi penutup tanah, pembangunan bangunan pengendali erosi, pengelolaan limbah, serta pengaturan tata guna lahan. Prosesnya membutuhkan waktu panjang dan biaya besar, namun hasilnya dapat mengembalikan sebagian besar fungsi ekologis DAS.
Apa hubungan antara kebakaran hutan dan kelestarian DAS?
Kebakaran hutan, terutama di daerah hulu DAS, merusak tutupan vegetasi yang berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air. Tanah yang terbuka menjadi lebih rentan terhadap erosi saat hujan, yang menyebabkan sedimentasi berat di sungai dan waduk, meningkatkan risiko banjir bandang dan menurunkan kualitas air.
Mengapa melibatkan masyarakat adat penting dalam konservasi DAS?
Masyarakat adat sering kali memiliki pengetahuan lokal (local wisdom) yang turun-temurun tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Keterlibatan mereka memastikan program konservasi sesuai dengan kondisi sosial-budaya setempat, meningkatkan rasa kepemilikan, dan menjamin keberlanjutan program dalam jangka panjang.