Kerajaan Kediri Mencapai Kejayaan di Masa Pemerintahan Raja Jayabaya, sebuah era yang sering disebut sebagai masa keemasan di tanah Jawa. Bayangkan sebuah kerajaan yang makmur, armada dagangnya menjelajahi lautan Nusantara hingga Asia, dan karya sastranya menjadi legenda abadi. Di tengah dinamika politik Jawa kuno yang kompleks, Kediri bangkit dari persaingan dengan Kahuripan dan Jenggala, menemukan momentumnya di bawah kepemimpinan seorang raja yang namanya tak lekang oleh waktu.
Pencapaiannya bukan sekadar mitos, tetapi jejak sejarah yang bisa kita telusuri hingga hari ini.
Puncak kemilau Kediri ini ditopang oleh fondasi yang kuat di berbagai aspek. Dari sistem pemerintahan yang tertata rapi, hukum yang adil, hingga kekuatan militer yang disegani. Ekonomi kerajaan bertumpu pada komoditas unggulan seperti beras, rempah, dan kayu cendana, yang diperdagangkan hingga ke mancanegara. Di bidang budaya, masa ini melahirkan mahakarya sastra seperti Bharatayuddha karya Empu Sedah dan Panuluh, serta berkembangnya kehidupan keagamaan yang harmonis antara Hindu-Siwa dan Buddha.
Semua elemen ini menyatu membentuk mosaik peradaban yang canggih pada masanya.
Pengantar dan Latar Belakang Kerajaan Kediri
Sebelum menjadi raksasa yang disegani di Nusantara, Kerajaan Kediri lahir dari sebuah pembelahan. Kerajaan ini bermula dari pemecahan Kerajaan Mataram Kuno (Medang) pada tahun 1041 M oleh Raja Airlangga. Untuk menghindari perang saudara, beliau membagi wilayah kekuasaannya menjadi dua: Janggala di timur dan Panjalu (yang kelak dikenal sebagai Kediri) di barat, dengan batas Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Lokasi inilah yang menjadi titik awal strategis Kediri, mengendalikan aliran Sungai Brantas yang menjadi urat nadi perdagangan dan pertanian di Jawa Timur.
Kondisi Nusantara sebelum Kediri berjaya adalah mosaik kerajaan-kerajaan yang saling bersaing, dari Sriwijaya di Sumatra hingga kerajaan-kerajaan kecil di Jawa. Perebutan pengaruh ekonomi dan politik adalah hal biasa. Dalam konteks ini, Kediri harus membangun fondasinya. Beberapa raja memerintah sebelum masa puncaknya, seperti Sri Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu dan Sri Bameswara, yang mulai menata pemerintahan dan meninggalkan prasasti-prasasti awal. Namun, tantangan internal dan eksternal membuat kejayaan sejati belum juga terwujud, menunggu sosok pemimpin yang tepat untuk membangkitkan potensi besar yang tersimpan di tepian Sungai Brantas.
Raja-Raja Awal Pendahulu Kejayaan, Kerajaan Kediri Mencapai Kejayaan di Masa Pemerintahan Raja
Jalan menuju puncak tidak dibangun dalam satu malam. Sebelum era keemasan, sejumlah raja telah meletakkan batu pertama fondasi Kerajaan Kediri. Sri Jayawarsa, yang memerintah sekitar 1104 M, dikenal sebagai raja yang peduli pada kesejahteraan rakyat kecil, seperti yang terekam dalam Prasasti Sirah Keting. Penggantinya, Sri Bameswara, melanjutkan tradisi penetapan sima (tanah perdikan) untuk keperluan keagamaan dan mulai mengonsolidasi kekuasaan. Merekalah yang memulai tradisi kuat dalam kesastraan dan penataan awal administrasi, meski wilayah kekuasaan dan pengaruh Kediri saat itu belum seluas nantinya.
Masa pemerintahan mereka adalah era persiapan, di mana Kediri belajar berdiri tegak sebelum akhirnya belajar berlari dan melompat tinggi.
Raja yang Membawa Kediri pada Puncak Kejayaan
Jika kita menyebut satu nama yang identik dengan kemilau emas Kediri, itu adalah Sri Jayabhaya. Berkuasa sekitar tahun 1135 hingga 1159 M, Jayabhaya bukan sekadar raja; ia adalah simbol pemersatu dan visioner yang berhasil merealisasikan ramalan Airlangga tentang reunifikasi. Ia berasal dari wangsa Isyana yang berkuasa, dan masa pemerintahannya sering dianggap sebagai puncak absolut dari peradaban Kediri, sebuah zaman keemasan yang dikenang dalam banyak kidung dan ramalan tradisional Jawa.
Visi Sri Jayabhaya jelas: menyatukan kembali Janggala dan Panjalu (Kediri) di bawah satu mahkota dan menciptakan kerajaan yang makmur, adil, dan disegani. Kepemimpinannya tegas dan bijaksana. Ia mampu menyeimbangkan kekuatan militer untuk ekspansi dengan keadilan sosial untuk kesejahteraan rakyat. Kebijakan utamanya berfokus pada stabilisasi politik internal, penegakan hukum yang berkeadilan, serta penguatan sektor ekonomi berbasis pertanian dan perdagangan. Di bawahnya, Kediri bukan hanya kuat secara militer, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan yang bersinar.
Analisis Kepemimpinan dan Kebijakan Sri Jayabhaya
Keberhasilan Sri Jayabhaya dapat dirinci ke dalam beberapa aspek kebijakan yang saling mendukung. Tabel berikut menguraikan karakteristik pemerintahannya secara lebih terperinci.
| Aspek Kepemimpinan | Kebijakan Konkret | Tujuan | Dampak |
|---|---|---|---|
| Pemersatu dan Stabilisator | Menyelesaikan konflik dengan Kerajaan Janggela dan menyatukannya kembali dengan Kediri. | Menciptakan stabilitas politik internal dan kekuatan yang utuh. | Tercipta perdamaian panjang, energi kerajaan dapat difokuskan pada pembangunan dan ekspansi. |
| Negarawan yang Adil | Menegakkan hukum secara ketat dan tidak pandang bulu, seperti tercermin dalam kitab Kakawin Bharatayuddha. | Mewujudkan ketertiban sosial dan rasa keadilan di semua lapisan masyarakat. | Meningkatkan loyalitas rakyat, mengurangi kejahatan, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk beraktivitas ekonomi. |
| Pengayom Budaya | Mendukung penuh karya sastra dengan memerintahkan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh menyelesaikan Kakawin Bharatayuddha. | Mengabadikan nilai-nilai kepemimpinan dan perjuangan, serta menunjukkan kemewahan budaya kerajaan. | Kediri dikenang sebagai pusat sastra Jawa Kuna, karyanya menjadi rujukan bagi generasi penerus. |
| Administrator yang Cakap | Memperkuat struktur birokrasi dan pengawasan pada daerah-daerah bawahan. | Memastikan pemerintahan berjalan efektif dari pusat hingga daerah. | Kebijakan pusat diterapkan dengan baik, pajak dan hasil bumi terkumpul optimal untuk kemakmuran kerajaan. |
Pencapaian di Bidang Ekonomi dan Perdagangan
Kemilau kekayaan Kediri bersumber dari dua hal: kesuburan tanah dan kelancaran arus perdagangan. Sebagai kerajaan agraris yang menguasai lembah Brantas, hasil bumi menjadi komoditas andalan. Namun, kecerdasan Kediri adalah dalam mengemas kekayaan alam itu menjadi komoditas perdagangan yang melanglang buana, baik di Nusantara maupun hingga ke pasar Asia.
Komoditas unggulan Kediri yang paling terkenal adalah rempah-rempah, khususnya lada dan kapulaga, serta beras yang melimpah. Selain itu, hasil hutan seperti kayu cendana, gading, dan cula badak juga sangat dicari. Kediri menjalin jaringan perdagangan yang kuat. Secara domestik, Sungai Brantas menjadi jalur transportasi utama menuju pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa, seperti Hujung Galuh (sekitar Surabaya sekarang). Dari sana, kapal-kapal dagang membawa barang ke berbagai penjuru Nusantara dan internasional, hingga ke China, Champa (Vietnam), dan India.
Kedudukan Kediri saat itu mirip dengan distributor utama yang menghubungkan produk pedalaman dengan pasar global.
Dukungan Teknologi dan Infrastruktur Ekonomi
Kemakmuran ekonomi tidak datang begitu saja. Kediri mengembangkan sistem pendukung yang canggih untuk zamannya. Kemajuan di bidang pertanian ditopang oleh jaringan irigasi yang teratur untuk mengairi sawah-sawah. Pengelolaan sumber daya alam dilakukan dengan bijak, termasuk pengaturan penebangan hutan. Perkembangan teknologi dan infrastruktur yang mendukung kegiatan ekonomi antara lain:
- Sistem Irigasi Terorganisir: Pembangunan dan pemeliharaan bendungan (sembungan) serta saluran air (tambak) untuk mengoptimalkan pertanian padi di sepanjang lembah Brantas.
- Armada Dagang yang Kuat: Pengembangan teknologi pembuatan kapal jung yang kokoh untuk mengarungi perdagangan antar-pulau dan internasional.
- Standardisasi Mata Uang: Penggunaan uang logam (kepeng) dari campuran perak, timah, dan tembaga yang beredar luas, mempermudah transaksi dan menunjukkan sistem ekonomi yang sudah maju.
- Pasar dan Pelabuhan yang Ramai: Pembangunan dan pengamanan pusat-pusat perdagangan di darat dan pelabuhan di pesisir, yang menjadi titik pertemuan pedagang dari berbagai bangsa.
Kemajuan Bidang Militer dan Ekspansi Wilayah
Di balik kemakmuran yang damai, ada kekuatan militer yang tangguh yang menjaminnya. Pada masa kejayaan, khususnya di bawah Sri Jayabhaya, militer Kerajaan Kediri bukan hanya alat pertahanan, tetapi juga instrumen politik untuk menegakkan hegemoni. Kekuatan ini menjadi tameng yang melindungi kedaulatan dan kepentingan ekonomi kerajaan dari ancaman pihak luar.
Struktur militer Kediri diduga sudah cukup terorganisir dengan pasukan darat yang terdiri dari infanteri, kavaleri (pasukan berkuda), dan pasukan gajah. Mereka dilengkapi dengan senjata seperti tombak, pedang, keris, dan panah. Kekuatan laut juga tidak kalah penting, mengingat posisi strategisnya di jalur pelayaran. Armada laut Kediri bertugas mengamankan perairan dari ancaman bajak laut dan menjamin kelancaran arus perdagangan, sekaligus menjadi alat untuk ekspedisi perluasan pengaruh.
Ekspansi dan Strategi Pertahanan Kekuasaan
Ekspansi wilayah Kediri lebih bersifat pada penegakan pengaruh dan penaklukan politik. Prestasi terbesar adalah penyatuan kembali dengan Janggala, yang secara de facto dan de jure menjadikan Kediri sebagai penerus sah Mataram Kuno pasca-Airlangga. Selain itu, Kediri juga berhasil memperluas pengaruhnya ke berbagai daerah di Nusantara bagian timur, termasuk Bali, Kalimantan bagian selatan, dan mungkin hingga ke Maluku, meski bentuknya lebih ke hubungan vasal dan perdagangan daripada aneksasi langsung.
Untuk mengamankan wilayah yang begitu luas, Kediri menerapkan strategi pertahanan berlapis. Di pusat kekuasaan, sistem keamanan istana dan kota tentu sangat ketat. Di daerah-daerah strategis, seperti pelabuhan dan perbatasan, ditempatkan garnisun militer. Yang paling cerdas adalah strategi pertahanan melalui jaringan diplomasi dan kekerabatan. Dengan mengawinkan keluarga kerajaan dengan penguasa daerah bawahan atau kerajaan sahabat, Kediri menciptakan ikatan politik yang kuat yang mengamankan loyalitas dan stabilitas wilayah tanpa harus selalu menggunakan kekuatan senjata.
Perkembangan Kebudayaan, Sastra, dan Agama
Puncak kejayaan sebuah peradaban seringkali diukur dari warisan budayanya, dan di sinilah Kediri benar-benar bersinar. Masa pemerintahan raja-raja seperti Jayabhaya menjadi era renaissance sastra Jawa Kuna. Kerajaan ini tidak hanya kaya materi, tetapi juga kaya jiwa, dengan kehidupan budaya dan keagamaan yang kompleks namun harmonis.
Kemajuan sastra Kediri mencapai titik yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Karya-karya yang dihasilkan bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan kitab filsafat, hukum, dan pencarian spiritual yang dibungkus dalam puisi indah. Dua mahakarya yang paling monumental adalah Kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh atas perintah Sri Jayabhaya, yang merupakan adaptasi dari epik Mahabharata tetapi mengandung alegori politik reunifikasi Kediri.
Kemudian ada Kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja, yang mengisahkan percintaan Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih, serta Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh.
Kehidupan Keagamaan dan Representasi Arsitektur
Masyarakat Kediri menganut sinkretisme yang khas antara Hindu (terutama aliran Siwa) dan Buddha, dengan kepercayaan asli (animisme-dinamisme) yang masih kuat. Toleransi antar umat beragama berjalan dengan baik. Seorang pendeta Siwa dan seorang biksu Buddha bisa melayani masyarakat di wilayah yang sama, dan raja sebagai pemimpin dianggap sebagai penjelmaan dewa yang melindungi semua keyakinan. Prasasti-prasasti sering menyebutkan pemberian anugerah raja kepada para brahmana dan pendeta dari kedua agama.
Sayangnya, peninggalan arsitektur megah berupa candi dari masa Kediri tidak sebanyak dari era Mataram Kuno atau Majapahit. Hal ini diduga karena bahan bangunan utama yang digunakan adalah bata merah dan kayu, yang lebih mudah lapuk. Namun, satu peninggalan yang sangat mengesankan adalah Candi Penataran di Blitar. Meski pembangunannya dimulai era Kediri dan berlanjut hingga Majapahit, kompleks candi ini merepresentasikan kemajuan budaya.
Candi utama terbuat dari batu andesit dengan relief yang sangat halus, menggambarkan adegan-adegan dari Ramayana dan Krishnayana. Tata letak candi yang bertingkat, dari halaman terbuka hingga pelataran tertinggi yang paling suci, mencerminkan konsep kosmologi dan arsitektur yang sangat matang. Arca-arca yang ditemukan, seperti arca Dewi Sri yang elegan, juga menunjukkan tingkat skill pematungan yang tinggi dan selera seni yang refined.
Struktur Pemerintahan dan Hukum: Kerajaan Kediri Mencapai Kejayaan Di Masa Pemerintahan Raja
Untuk mengelola wilayah yang luas dan masyarakat yang makmur, Kediri membutuhkan sistem birokrasi yang efektif dan hukum yang berwibawa. Struktur pemerintahan yang mereka bangun menunjukkan tingkat administrasi negara yang sudah sangat maju, menjadi fondasi yang memungkinkan stabilitas dan kemakmuran itu bertahan.
Struktur birokrasi Kediri berpusat pada raja yang memiliki kekuasaan mutlak, namun dibantu oleh sejumlah pejabat tinggi. Di bawah raja, terdapat Rakryan Mahamantri (perdana menteri) yang mengepalai urusan pemerintahan sehari-hari. Kemudian ada Rakryan Kanuruhan yang bertindak sebagai protokol istana dan penyampai perintah raja. Untuk urusan keagamaan, ada Dharmmadhyaksa (hakim agama) yang menangani kasus-kasus terkait hukum agama Hindu dan Buddha. Wilayah kerajaan dibagi menjadi daerah-daerah yang disebut watak, yang dipimpin oleh seorang Rake atau Bhupati.
Di tingkat desa, pemerintahan tradisional dipimpin oleh kepala desa dengan dibantu tetua.
Sistem Hukum dan Prinsip Keadilan
Sistem hukum di Kediri bersumber pada kitab hukum tradisional dan keputusan raja. Hukum adat ( awig-awig) sangat dihormati. Peradilan dilaksanakan oleh pejabat kerajaan, dengan raja sebagai hakim tertinggi. Prinsip yang dianut adalah keadilan yang tegas dan tidak memandang bulu. Seseorang yang bersalah, dari kalangan mana pun, harus dihukum.
Sebaliknya, raja juga bertanggung jawab memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Prinsip hukum ini sangat terkenal dan diabadikan dalam sastra.
“Tan kena danda dening prawacana, apan satya wicaksana ring kadang.” (Tidak dapat dihukum oleh pengaduan, karena ia setia dan bijaksana terhadap saudara).
Kutipan dari Bharatayuddha ini menggambarkan prinsip penting: seseorang tidak boleh dihukum hanya berdasarkan tuduhan ( prawacana) tanpa bukti yang jelas. Ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya proses hukum yang adil dan bebas dari fitnah. Hukum bertujuan untuk menemukan kebenaran materiil, bukan sekadar formalitas.
Kehidupan Sosial dan Kesejahteraan Rakyat
Kemakmuran sebuah kerajaan pada akhirnya diuji dari bagaimana kehidupan rakyat jelata. Di masa kejayaan Kediri, terutama di bawah pemerintahan yang adil, kehidupan sosial berjalan dengan tertib dan lapisan masyarakat dari atas hingga bawah dapat merasakan manfaat dari stabilitas yang tercipta. Stratifikasi sosial memang ada, tetapi hak dan kewajiban masing-masing kelompok relatif jelas dan dilindungi oleh hukum kerajaan.
Stratifikasi sosial di Kediri dapat dibagi secara umum menjadi tiga lapisan. Lapisan atas adalah keluarga kerajaan, bangsawan ( ningrat), dan para brahmana (pendeta). Lapisan menengah terdiri dari para pedagang kaya, petani pemilik tanah ( sikep), dan pegawai kerajaan. Lapisan bawah adalah petani penggarap, buruh, dan pelayan. Di luar sistem ini ada para seniman, empu sastra, dan ahli kerajinan yang memiliki status khusus karena keahliannya.
Kehidupan sehari-hari di kota-kota pelabuhan sangat dinamis dengan percampuran budaya dari pedagang asing, sementara di pedesaan kehidupan lebih tenang dengan ritme pertanian.
Struktur Sosial Masyarakat Kediri
| Kelompok Masyarakat | Pekerjaan/Uraian | Hak | Kewajiban |
|---|---|---|---|
| Raja & Keluarga Kerajaan | Pemimpin tertinggi kerajaan, penentu kebijakan. | Dianggap penjelmaan dewa, memiliki hak mutlak atas kekuasaan. | Memimpin dengan adil, menjamin kesejahteraan dan keamanan rakyat, menegakkan dharma. |
| Bangsawan & Pejabat Tinggi (Rakryan) | Membantu raja menjalankan pemerintahan, memimpin daerah. | Memperoleh tanah lungguh (jabatan), penghasilan, dan hak istimewa. | Setia kepada raja, menjalankan tugas pemerintahan dengan jujur, menjaga ketertiban di wilayahnya. |
| Brahmana & Pendeta | Pemimpin upacara keagamaan, guru spiritual, cendekiawan. | Dihormati, mendapatkan dukungan dari kerajaan, bebas dari pajak. | Memberikan bimbingan spiritual, menjaga kemurnian ajaran, mencatat silsilah. |
| Waisya (Pedagang, Petani Kaya) | Menggerakkan roda ekonomi melalui perdagangan dan pertanian. | Kebebasan berusaha, hak milik dilindungi, dapat mengumpulkan kekayaan. | Membayar pajak (drawya) kepada kerajaan, menjaga kelancaran perdagangan. |
| Sudra (Petani Penggarap, Buruh, Rakyat Jelata) | Bekerja di sektor pertanian, kerajinan, dan jasa. | Mendapatkan perlindungan hukum, jaminan keamanan, dan lahan untuk digarap. | Bekerja sesuai kemampuan, membayar upeti sebagian hasil bumi, patuh pada aturan. |
Di bidang kesejahteraan publik, pencapaian Kediri yang paling nyata adalah dalam pengairan (irigasi). Pembangunan dan pemeliharaan sistem irigasi yang baik secara tidak langsung adalah bentuk layanan kesehatan dan ketahanan pangan, karena menjamin pasokan beras yang stabil. Pendidikan non-formal berlangsung di lingkungan asrama keagamaan ( mandala) atau di rumah empu, yang mengajarkan sastra, filsafat, dan keterampilan tertentu.
Bukti-Bukti Sejarah dan Peninggalan Arkeologi
Kisah kejayaan Kediri bukanlah dongeng belaka, tetapi tertoreh jelas pada batu dan terkubur di dalam tanah, menunggu untuk dibaca oleh generasi sekarang. Bukti sejarah utama berasal dari dua sumber: prasasti yang merupakan dokumen resmi kerajaan, dan temuan arkeologi yang menggambarkan kehidupan material masyarakatnya.
Prasasti-prasasti dari masa kejayaan, terutama era Sri Jayabhaya, memberikan gambaran langsung tentang kondisi sosial-politik. Prasasti Hantang (1135 M) misalnya, dikeluarkan oleh Sri Jayabhaya dan memuat semboyan terkenal “Panjalu Jayati” (Kediri Menang), yang menandai kemenangannya atas Janggala. Prasasti ini juga menegaskan perlindungan raja terhadap rakyatnya. Prasasti Talan (1136 M) dan Prasasti Padlegan memberikan informasi detail tentang penetapan sima (tanah bebas pajak) untuk desa tertentu, lengkap dengan batas-batas wilayah dan hak-hak warganya, menunjukkan administrasi yang sangat rapi.
Temuan Arkeologi dan Situs Penting
Source: slidesharecdn.com
Selain prasasti, temuan arkeologi lain memperkaya pemahaman kita. Banyak ditemukan arca-arca dari bahan perunggu dan batu, seperti arca Dewi Sri (dewi kesuburan), Wisnu, dan Siwa, yang menunjukkan aktivitas keagamaan yang hidup. Temuan mata uang logam ( kepeng) Kediri dalam jumlah besar di berbagai situs menjadi bukti nyata betapa aktifnya perputaran ekonomi. Perhiasan emas, cincin, dan gelang dengan motif yang halus juga ditemukan, mengisyaratkan kemewahan dan tingkat kehidupan seni yang tinggi.
Salah satu situs peninggalan terpenting yang secara fisik merepresentasikan kejayaan Kediri adalah kompleks Candi Tuban atau yang sering disebut sebagai situs Tondowongso di Gayam, Kediri. Di situs inilah ditemukan sejumlah besar arca dan fragmen arsitektur dari periode akhir Kediri (abad ke-13) yang sangat indah. Temuan utamanya termasuk arca Ganesha, Nandi (lembu tunggangan Siwa), dan sejumlah arca perwira (dwarapala) yang gagah.
Yang menarik, gaya pahatannya menunjukkan transisi dari gaya Jawa Tengah (klasik) menuju gaya Jawa Timuran yang lebih ramping dan dinamis, yang nantinya mencapai puncaknya di era Majapahit. Situs ini diyakini sebagai tempat suci dari periode akhir Kediri dan memberikan gambaran visual langsung tentang kemampuan artistik dan kepercayaan masyarakat Kediri sebelum keruntuhannya.
Pengaruh dan Jejak Kejayaan Kediri bagi Nusantara
Kejatuhan Kediri sekitar tahun 1222 M bukanlah akhir dari pengaruhnya. Sebaliknya, warisan yang ditinggalkannya justru diserap dan dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan penerusnya, terutama Singhasari dan Majapahit. Kediri berperan sebagai jembatan penting yang menghubungkan warisan klasik Jawa Tengah (Mataram Kuno) dengan kebangkitan peradaban Jawa Timur.
Pengaruh paling mendasar adalah dalam sistem pemerintahan dan birokrasi. Struktur pejabat seperti Rakryan Mahamantri, Dharmmadhyaksa, dan pembagian wilayah administratif diteruskan oleh Singhasari dan disempurnakan oleh Majapahit. Dalam bidang budaya dan sastra, pengaruhnya bahkan lebih langsung. Karya-karya sastra era Kediri, terutama Bharatayuddha, menjadi kitab wajib dan sumber inspirasi bagi pujangga Majapahit. Gaya penulisan kakawin, dengan metrum dan diksinya, menjadi standar emas.
Kontribusi Kediri dalam percaturan politik Nusantara adalah menciptakan model kerajaan agraris-maritim yang kuat, yang menguasai hinterland subur sekaligus mengendalikan jalur perdagangan laut, sebuah model yang ditiru dengan sempurna oleh Majapahit.
Warisan Pemikiran dan Institusi yang Masih Relevan
Beberapa warisan dari Kediri masih terasa relevan, bahkan dalam konteks kekinian:
- Konsep Kepemimpinan “Raja-Dharma”: Gagasan bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat yang bertugas menegakkan keadilan ( dharma) dan kesejahteraan, seperti yang dicontohkan Sri Jayabhaya, tetap menjadi nilai ideal dalam kepemimpinan di Nusantara.
- Sistem Hukum Berkeadilan: Prinsip “tan kena danda dening prawacana” (tidak dihukum hanya karena tuduhan) adalah fondasi awal dari praduga tak bersalah dan pentingnya pembuktian dalam sistem peradilan.
- Integrasi Ekonomi Agraris dan Maritim: Kediri menunjukkan bahwa kekuatan Nusantara terletak pada kemampuan menyinergikan kekayaan darat (pertanian) dengan kekuatan laut (perdagangan), sebuah wawasan geopolitik yang tetap berlaku.
- Sinkretisme dan Toleransi Keagamaan: Kemampuan masyarakat Kediri memadukan Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal dalam harmoni menjadi preseden bagi kehidupan keberagaman di Indonesia.
- Budaya Literasi Tinggi: Kediri menjadikan sastra sebagai instrumen negara dan kebanggaan peradaban, mengingatkan kita pada pentingnya dunia literasi dan intelektual dalam membangun peradaban yang besar.
Penutup
Jadi, kejayaan Kediri di bawah Raja Jayabaya bukan sekadar kilasan sejarah tentang kekuasaan dan kekayaan semata. Lebih dari itu, ia adalah bukti nyata bagaimana kepemimpinan visioner yang didukung sistem pemerintahan solid, ekonomi yang maju, dan budaya yang subur dapat mengangkat sebuah peradaban ke puncak prestasinya. Warisan Kediri, dari sistem hukum hingga karya sastra, terus bergaung dan memengaruhi dinamika Nusantara pasca-keruntuhannya.
Mempelajari era ini seperti melihat sebuah blueprint kejayaan; menawarkan pelajaran berharga tentang stabilitas, kemakmuran, dan resonansi budaya yang tetap relevan untuk direnungkan hingga kini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Raja Jayabaya yang terkenal dengan ramalannya (Jangka Jayabaya) itu sama dengan raja yang membawa Kediri jaya?
Ya, itu adalah figur yang sama. Namun, perlu dipisahkan antara pencapaian historisnya sebagai pemimpin politik dan ekonomi dengan legenda ramalan yang berkembang jauh setelah masanya dan lebih kuat dalam tradisi lisan serta sastra Jawa masa Islam.
Bagaimana hubungan Kerajaan Kediri dengan Kerajaan Singasari yang muncul setelahnya?
Singasari, yang didirikan oleh Ken Arok, pada awalnya adalah sebuah kadipaten bawahan Kediri. Kejayaan Kediri berakhir setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya (raja terakhir Kediri) dalam Pertempuran Ganter tahun 1222 M, sehingga kekuasaan beralih ke Singasari.
Apakah ada bukti arkeologi langsung dari masa pemerintahan Raja Jayabaya?
Sayangnya, bukti arkeologi yang secara eksplisit menyebut nama dan tahun pemerintahan Jayabaya sangat terbatas. Sebagian besar informasi tentang pemerintahannya bersumber dari kitab sastra dan prasasti dari periode setelahnya, serta berita dari sumber asing seperti Cina.
Mengapa lokasi ibu kota Kediri di tepi Sungai Brantas dianggap sangat strategis?
Sungai Brantas berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan utama yang menghubungkan daerah pedalaman yang subur dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa. Ini memungkinkan kontrol atas distribusi komoditas dan memudahkan pengumpulan pajak, sekaligus menjadi sumber air untuk pertanian.
Apa yang terjadi setelah masa kejayaan Kediri, mengapa kerajaan ini akhirnya runtuh?
Puncak kejayaan di masa Jayabaya diikuti oleh periode pasang surut. Keruntuhan akhirnya terjadi pada masa pemerintahan Kertajaya yang berselisih dengan kaum brahmana. Konflik internal ini dimanfaatkan oleh Ken Arok dari Tumapel (kelak Singasari) untuk memberontak dan mengalahkan Kediri pada 1222 M.