Keaslian Al‑Quran di Tengah Perbedaan Bacaan dan Penulisan Terjaga

Keaslian Al‑Quran di Tengah Perbedaan Bacaan dan Penulisan itu bukan sekadar klaim, tapi sebuah realitas sejarah yang terdokumentasi dengan sangat apik. Pernah nggak sih bertanya-tanya, kok bisa ada beberapa cara baca Al-Quran yang sah meski tulisannya sama? Nah, di sinilah keajaiban dan kedalaman ilmu para ulama dulu bekerja. Mereka bukan hanya menulis, tapi merancang sebuah sistem preservasi yang sangat canggih untuk zamannya, menggabungkan kekuatan hafalan ribuan penghafal dengan keseragaman tulisan dalam satu mushaf induk.

Dua pilar utama dalam memahami hal ini adalah Qira’at dan Rasm Utsmani. Qira’at adalah ilmu tentang variasi bacaan Al-Quran yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah SAW, sementara Rasm Utsmani adalah sistem penulisan konsonantal (hanya huruf tanpa titik dan harakat) yang distandardisasi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Keduanya berbeda, tetapi justru saling menguatkan dan melengkapi dalam menjaga otentisitas teks suci dari generasi ke generasi.

Memahami Qira’at dan Rasm Utsmani

Untuk benar-benar mengapresiasi keaslian Al-Quran, kita perlu mengenal dua pilar utamanya: Qira’at dan Rasm Utsmani. Keduanya sering dibicarakan bersama, tapi sebenarnya adalah disiplin ilmu yang berbeda. Qira’at adalah ilmu tentang cara membaca atau melafalkan teks Al-Quran, yang mencakup perbedaan dalam pengucapan huruf, panjang pendek, dan sejenisnya. Sementara Rasm Utsmani adalah ilmu tentang tata cara penulisan mushaf, khususnya merujuk pada sistem ejaan konsonantal (hanya huruf tanpa harakat) yang distandarisasi pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Meski berbeda, keduanya saling melengkapi dan mengukuhkan satu sama lain dalam menjaga keotentikan wahyu.

Dua Disiplin Ilmu yang Berbeda

Bayangkan Rasm Utsmani sebagai kerangka tulang yang kokoh dan tetap. Ia adalah teks tertulis yang dibakukan. Sementara Qira’at adalah daging, urat, dan nadanya; ia adalah cara hidup dari teks itu yang diwariskan dari mulut ke mulut. Perbedaan bacaan (Qira’at) yang sah tidak muncul secara sembarangan, melainkan tumbuh di atas fondasi penulisan (Rasm) yang sama. Justru, keindahannya terletak pada bagaimana satu bentuk tulisan Utsmani dapat menampung beberapa bacaan yang sahih sekaligus, semuanya bersumber dari Rasulullah SAW.

Contoh Perbedaan Qira’at Populer

Berikut adalah beberapa contoh konkret yang menunjukkan keragaman bacaan dalam koridor Rasm Utsmani yang sama. Tabel ini memberikan gambaran sekilas tentang kekayaan tradisi lisan Al-Quran.

Contoh Kata (dalam Rasm Utsmani) Imam Qira’at Bacaan (Qira’at) Implikasi Makna
ملك (pada Surah Al-Fatihah) Nafi’ (dari Madinah) Malik (dengan mim panjang) Menekankan sifat “Pemilik” dan “Raja” yang hakiki dan abadi.
ملك (pada Surah Al-Fatihah) ‘Ashim (dari Kufah) Malik (dengan mim biasa) Menekankan makna “Raja” secara lebih umum.
يخدعون (QS. Al-Baqarah:9) Hafs (dari ‘Ashim) Yukhādi‘ūn Bermakna “mereka menipu” (orang lain).
يخدعون (QS. Al-Baqarah:9) Warsh (dari Nafi‘) Yukhadda‘ūn Bermakna “mereka membohongi” atau “menipu diri sendiri”.

Sejarah Standarisasi Rasm Utsmani

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, wilayah Islam telah meluas dan muncul perbedaan cara membaca Al-Quran di berbagai daerah yang bisa memicu perselisihan. Menanggapi hal ini, Khalifah Utsman membentuk panitia yang dipimpin Zaid bin Tsabit untuk membakukan mushaf induk. Mushaf ini kemudian diperbanyak dan dikirim ke pusat-pusat kekhalifahan seperti Makkah, Syam, Kufah, dan Basrah, sementara naskah lain yang tidak sesuai disatukan atau dimusnahkan untuk menghindari perpecahan.

Langkah ini bukanlah “penciptaan” teks baru, melainkan preservasi dan proteksi terhadap teks wahyu yang telah ada secara hafalan dan tulisan tersebar.

Prinsip-Prinsip Dasar Qira’at yang Diterima

Tidak semua bacaan yang beredar diterima sebagai Qira’at yang sahih. Para ulama menetapkan kriteria ketat. Suatu bacaan dapat diterima dan dianggap mutawatir jika memenuhi tiga prinsip utama berikut:

  • Kesesuaian dengan Rasm Utsmani: Bacaan tersebut harus selaras dengan salah satu kemungkinan dari tulisan mushaf Utsmani, meski hanya selaras secara global atau melalui kaidah tertentu.
  • Kesesuaian dengan Tata Bahasa Arab yang Benar: Bacaan itu harus gramatikal dan mengikuti kaidah bahasa Arab yang murni, baik dari dialek Quraisy atau suku Arab terkemuka lainnya.
  • Sanad yang Shahih dan Mutawatir: Bacaan tersebut harus diriwayatkan oleh banyak orang dari banyak orang (mutawatir) secara berkesinambungan hingga kepada Rasulullah SAW, tanpa cacat dalam periwayatannya.
BACA JUGA  Definisi Ilmu Pengelolaan Informasi Berbasis Teknologi Dasar dan Penerapannya

Argumen Keaslian Teks Melalui Ragam Bacaan

Ada yang bertanya, “Kalau Al-Quran itu satu, mengapa bacannya berbeda-beda? Bukankah ini pertanda ada kerancuan?” Justru sebaliknya. Keberagaman bacaan yang otentik dan terjamin sanadnya ini merupakan bukti terkuat akan kekayaan transmisi oral (lisan) Al-Quran. Ia seperti sungai yang mengalir deras melalui banyak saluran yang berbeda, namun semua sumber airnya berasal dari mata air yang sama. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Al-Quran tidak hanya bergantung pada satu jalur tulisan atau hafalan semata, tetapi pada ribuan hati dan lidah yang saling mengoreksi dan menjaga.

Batasan Ketat Qira’at Mutawatirah dan Syadzah

Perlu ditegaskan, tidak semua yang disebut “perbedaan bacaan” itu setara. Ulama membedakan antara Qira’at Mutawatirah dan Qira’at Syadzah. Mutawatirah adalah bacaan yang memenuhi tiga syarat ketat yang telah disebutkan, sehingga kepastian datangnya dari Rasulullah SAW sangat kuat. Sementara Syadzah adalah bacaan yang sanadnya tidak mencapai tingkat mutawatir, atau menyalahi Rasm Utsmani, atau bertentangan dengan kaidah bahasa Arab yang baku. Bacaan jenis ini tidak boleh dibaca dalam shalat dan tidak dianggap sebagai bagian dari Al-Quran yang wajib diimani, meski mungkin masih dipelajari dalam ranah ilmu bahasa atau tafsir.

Peran Huffaz dan Sanad Keilmuan

Kekokohan sistem ini bertumpu pada dua hal: manusia dan metodologi. Para penghafal (huffaz) adalah living library yang hidup di setiap generasi. Mereka bukan hanya menghafal teks, tetapi juga cara membacanya secara persis dari guru mereka. Inilah yang membentuk sanad keilmuan—mata rantai guru-murid yang tak terputus. Setiap Imam Qira’at seperti Nafi’, Ibn Katsir, atau ‘Ashim, memiliki sanad mereka sendiri yang bersambung hingga Rasulullah.

Proses penerimaan ilmu ini sangat ketat, layaknya seorang murid yang harus mendemonstrasikan bacaan di hadapan gurukan secara langsung, bukan sekadar menerima catatan.

  • Verifikasi Langsung: Seorang murid tidak bisa mengaku bisa membaca suatu Qira’at tanpa membacakannya langsung di hadapan guru yang bersanad.
  • Penguasaan Berbagai Riwayat Seorang hafizh dan qari’ biasanya menguasai lebih dari satu riwayat bacaan, sehingga mereka memahami variasi yang ada.
  • Kontinuitas Komunitas: Hafalan dan bacaan ini dijaga oleh komunitas luas di berbagai kota, membuat hampir mustahil terjadi konspirasi pemalsuan secara massal.

Contoh Perbedaan Bacaan yang Tidak Mengubah Pesan Pokok

Mari kita lihat contoh nyata. Dalam Surah Al-Lahab (QS. Al-Masad: 3), terdapat kata “نَارًا” (api). Dalam qira’at Imam Hafs dari ‘Ashim, dibaca “nāran” dengan nun yang jelas. Sementara dalam qira’at Imam Warsh dari Nafi’, dibaca “nāran” tetapi dengan suara nun yang sedikit tersembunyi (idgham).

Perbedaan teknis pelafalan ini sama sekali tidak mengubah makna bahwa Abu Lahab akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Pesan pokok tentang ancaman Allah tetap utuh dan sama. Contoh lain adalah pada kata “يَعْلَمُونَ” dan “تَعْلَمُونَ” dalam beberapa ayat, yang perbedaannya hanya pada pelaku (kata ganti), namun konteks ayat dengan jelas menunjukkan maksudnya, sehingga tidak menimbulkan kontradiksi dalam hukum atau akidah.

Harmonisasi antara Teks Tertulis dan Bacaan Lisan

Inilah keajaiban sistem preservasi Al-Quran: sebuah teks tertulis yang “diam” namun dirancang untuk menampung suara yang “hidup”. Rasm Utsmani, dengan hanya menuliskan huruf konsonan (kecuali alif yang kadang dihilangkan), bukanlah sebuah kekurangan. Justru, ia adalah sebuah kejeniusan. Ia berfungsi seperti partitur musik yang bisa dibawakan dengan sedikit variasi ornamentasi oleh penyanyi berbeda, tanpa mengubah lagu aslinya. Fleksibilitas inilah yang memungkinkan berbagai Qira’at yang sahih untuk hidup di bawah payung satu teks tertulis yang sama.

Mekanisme Rasm Utsmani Menampung Variasi Bacaan

Rasm Utsmani sering kali menulis kata tanpa huruf vokal (harakat) dan terkadang tanpa alif sebagai penanda panjang. Kosongnya posisi ini memberikan ruang interpretasi pelafalan yang sah. Misalnya, kata perintah “ikhruj” (keluarlah) bisa ditulis hanya dengan huruf konsonan “kh r j”. Dari sini, bisa dibaca “ukhruj” (dengan dhammah di awal) atau “ikhruj” (dengan kasrah di awal), bergantung pada Qira’atnya. Keduanya valid selama sesuai dengan kaidah bahasa dan punya sanad.

Dengan kata lain, mushaf Utsmani adalah wadah yang sengaja dibuat cukup luas untuk menampung semua “cara baca” yang diajarkan Nabi.

Contoh Kata Tunggal dengan Dua Bacaan Sahih

Tabel berikut menunjukkan bagaimana satu bentuk tulisan Rasm Utsmani melahirkan dua bacaan yang sama-sama kuat sanadnya.

Rasm Utsmani (Konsonan) Qira’at 1 Qira’at 2 Makna Kontekstual
فتبينوا Fa-tabayyanū (Hafs dari ‘Ashim) Fa-tathabbatū (Warsh dari Nafi’) Keduanya bermakna “maka telitilah” atau “maka pastikanlah”, dengan nuansa yang sedikit berbeda. “Tabayyanu” lebih ke kejelasan, “tathabbatu” lebih ke kehati-hatian dan verifikasi.
قالوا ربنا أمتنا Qālū rabbanā amattanā (Bacaan umum) Qālū rabbanā āmannā (Riwayat dari Abu Ja’far) Bacaan pertama berarti “Wahai Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami”. Bacaan kedua berarti “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memberi kami rasa aman”. Keduanya menggambarkan fase berbeda dari keadaan di alam barzakh, saling melengkapi.
BACA JUGA  Istilah Bahasa Inggris Bukan Senior Kakak Kelas Makna dan Konteksnya

Pandangan Ulama tentang Fleksibilitas Rasm, Keaslian Al‑Quran di Tengah Perbedaan Bacaan dan Penulisan

Imam Abu Amr ad-Dani, seorang ahli Rasm dan Qira’at terkemuka, menyatakan, “Mushaf-mushah Utsmani adalah imam (pemimpin) yang dirujuk dalam hal penulisan. Tidak boleh menyimpang darinya, dan tidak boleh mengabaikan ketentuan-ketentuannya.” Pernyataan ini menegaskan otoritas Rasm Utsmani sebagai batasan tertulis, namun di dalam batasan itu terdapat kelapangan. Ulama lain menjelaskan bahwa Rasm Utsmani itu ‘lentur’ (murunah) dan ‘luas’ (sa’ah), dirancang untuk mencakup apa yang dibaca oleh Rasulullah dalam berbagai cara, bukan untuk membatasi pada satu cara baca saja.

Fungsi Titik dan Harakat sebagai Panduan

Perlu dipahami, titik pembeda huruf (seperti ba’, ta’, tsa’) dan tanda harakat (fathah, kasrah, dhammah) yang kita lihat di mushaf modern adalah tambahan yang muncul belakangan, sekitar abad pertama Hijriah. Tanda-tanda ini ditambahkan oleh ahli bahasa seperti Abu al-Aswad ad-Du’ali dan Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Fungsinya sangat penting: mereka memetakan dan membakukan bacaan-bacaan lisan yang telah ada dan tersebar secara mutawatir ke dalam teks tertulis.

Mereka bukan menciptakan bacaan baru, melainkan memberikan “peta jalan” visual untuk membantu orang, terutama non-Arab, dalam membaca sesuai dengan salah satu Qira’at yang sah. Itulah mengapa mushaf yang berbeda (seperti Mushaf Madinah yang mengikuti riwayat Hafs, atau Mushaf Maghribi yang mengikuti riwayat Warsh) memiliki titik dan harakat yang sedikit berbeda—karena mereka memandu pada bacaan lisan yang berbeda yang sama-sama valid.

Tinjauan Terhadap Klaim Kontradiksi dan Keraguan

Tak jarang, keberagaman Qira’at dan keunikan Rasm Utsmani dijadikan alat oleh sebagian pihak untuk meragukan keaslian Al-Quran. Klaimnya biasanya berkisar pada dugaan adanya kontradiksi, korupsi teks, atau ketidakkonsistenan. Memahami hakikat Qira’at dan Rasm dengan benar adalah kunci untuk menjawab semua keraguan ini. Perbedaan dalam tradisi Al-Quran adalah perbedaan yang terukur, terdokumentasi, dan terjaga, bukan kesalahan salin atau penyimpangan yang tak terkendali.

Perbedaan Mendasar: Variasi vs. Korupsi Teks

Keaslian Al‑Quran di Tengah Perbedaan Bacaan dan Penulisan

Source: slidesharecdn.com

Inilah titik krusialnya. Perbedaan Qira’at yang mutawatir bukanlah “korupsi teks” (tahrif). Tahrif berarti mengubah, menambah, atau mengurangi substansi wahyu dengan sengaja. Sementara Qira’at adalah variasi pelafalan dan gramatikal yang sumbernya satu (Rasulullah) dan tujuannya untuk memudahkan, yang kemudian dibakukan melalui sistem sanad yang super ketat. Dalam tradisi naskah kuno lain, variasi bacaan biasanya muncul dari kesalahan penyalin, kerusakan naskah, atau interpolasi.

Dalam tradisi Al-Quran, variasi itu berasal dari sumbernya sendiri (Nabi) dan diakui sejak awal sebagai bagian dari wahyu yang diturunkan dalam “tujuh huruf”. Ia adalah fitur, bukan bug.

Proses Verifikasi Bacaan Melalui Sanad

Bayangkan seorang penuntut ilmu di abad ke-4 Hijriah ingin mempelajari Qira’at Imam ‘Ashim dari riwayat Hafs. Dia tidak akan pergi ke perpustakaan dan membuka buku saja. Dia harus mencari seorang guru yang masih hidup, yang dikenal memiliki sanad yang bersambung. Proses belajar akan dimulai dengan sang guru memperdengarkan bacaannya. Murid akan menyimak dan menirukan dengan seksama, ayat demi ayat, hingga seluruh Al-Quran selesai.

Sang guru, pada gilirannya, telah melakukan hal yang sama dengan gurunya, dan begitu seterusnya, membentuk rantai manusia yang hidup yang bisa ditelusuri hingga Hafs, hingga ‘Ashim, hingga gurunya, hingga Abdullah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’b, hingga Rasulullah SAW. Setiap mata rantai dalam sanad ini adalah orang-orang yang dikenal kejujuran, hafalan, dan penguasaannya. Jika ada satu nama yang diragukan, seluruh riwayat itu akan ditolak oleh para ulama jarh wa ta’dil (kritik periwayatan).

Ini adalah sistem verifikasi peer-to-peer yang berlangsung selama berabad-abad.

Perbandingan dengan Tradisi Preservasi Lain

Preservasi Al-Quran adalah unik karena menggabungkan dua metode sekaligus secara massal: hafalan (hifzh) dan tulisan (kitabah). Tradisi naskah kuno lainnya, seperti manuskrip Bibel atau karya sastra Yunani, sangat bergantung pada salinan fisik yang rentan rusak, hilang, atau dimodifikasi oleh penyalin. Jumlah salinan awal yang ada pun terbatas. Berbeda dengan Al-Quran, di mana sejak awal teks itu “hidup” di ribuan dan kemudian jutaan hati.

Sebuah kesalahan dalam tulisan dapat dengan mudah dikoreksi oleh hafalan kolektif yang telah ada sebelumnya. Dua sistem ini saling mengawasi. Tidak ada tradisi agama atau literatur di dunia yang memiliki mekanisme preservasi ganda sekuat ini dengan cakupan geografis dan demografis yang begitu luas sejak masa kelahirannya.

Relevansi dan Hikmah Perbedaan dalam Praktik Kekinian: Keaslian Al‑Quran Di Tengah Perbedaan Bacaan Dan Penulisan

Lalu, apa gunanya bagi kita, muslim di era digital sekarang, untuk mengetahui semua ini? Selain untuk menjawab keraguan, pemahaman ini membuka mata kita pada hikmah dan rahmat yang terkandung dalam keragaman bacaan. Ia bukan sekadar persoalan teknis sejarah, tetapi memiliki dampak yang hidup dalam praktik keagamaan dan keilmuan kita hingga hari ini.

BACA JUGA  Kalimat yang Menggunakan Majas Hiperbola Seni Melebih-lebihkan

Hikmah Di Balik Keragaman Bacaan

Para ulama melihat kebijaksanaan ilahiah yang besar. Pertama, kemudahan. Dengan adanya beberapa cara baca yang sah, umat dari berbagai suku Arab dengan dialeknya yang berbeda-beda dapat membaca Al-Quran dengan lebih mudah tanpa terbebani. Kedua, sebagai bukti mukjizat. Satu teks tertulis yang mampu menampung banyak bacaan dengan makna yang saling melengkapi adalah sesuatu yang luar biasa.

Ketiga, ia menunjukkan keluwesan dan keluasan syariat Islam dalam hal-hal yang bersifat variatif, selama tetap berpegang pada sumber yang otentik.

Pengaruh Qira’at terhadap Perkembangan Ilmu Islam

Keragaman Qira’at bukanlah penghalang, melainkan stimulan bagi berkembangnya berbagai disiplin ilmu dalam peradaban Islam. Perbedaan bacaan yang kecil sering kali membuka pintu pemahaman yang lebih luas.

  • Ilmu Tafsir: Seorang mufassir harus mempertimbangkan berbagai Qira’at yang ada dalam menafsirkan sebuah ayat. Misalnya, perbedaan bacaan pada kata “ملك” di Al-Fatihah memberikan nuansa penafsiran yang lebih kaya tentang sifat Allah.
  • Ilmu Fikih: Beberapa perbedaan bacaan dapat mempengaruhi hukum yang diambil, meski jarang bersifat fundamental. Contohnya adalah bacaan pada kata “washshofi” atau “washshofi” dalam konteks wudhu, yang dibahas panjang lebar oleh para fuqaha.
  • Ilmu Bahasa Arab: Qira’at menjadi sumber otoritatif untuk gramatikal Arab, kosakata, dan fonetik. Ia menjadi bukti hidup dari ragam dialek Arab klasik yang otentik.

Menyikapi Perbedaan Bacaan di Era Kontemporer

Di tengah mudahnya akses informasi, kita mungkin menemukan orang yang membaca dengan riwayat yang berbeda dengan yang kita hafal. Sikap bijaknya adalah mengakui keberagaman yang sah tersebut. Tidak perlu saling menyalahkan atau menganggap bacaan sendiri yang paling benar. Yang penting adalah memastikan bahwa bacaan yang kita pakai memiliki sandaran sanad yang jelas (seperti mengikuti mushaf resmi suatu negara yang umumnya mencantumkan riwayatnya).

Dalam shalat berjamaah, makmum mengikuti imam, dan imam sebaiknya membaca dengan bacaan yang dikuasainya dengan benar. Harmoni dalam keragaman itulah yang diajarkan oleh tradisi ini.

Kesatuan Mushaf Utsmani sebagai Pemersatu

Meski bacaan boleh beragam, teks tertulisnya satu. Inilah kebijaksanaan Khalifah Utsman. Mushaf Utsmani berfungsi sebagai konstitusi tertulis yang mempersatukan semua muslim. Sejarawan dan ulama sering menyebut, “Al-Quran satu, meski Qira’atnya banyak.” Artinya, wahyu yang diturunkan adalah satu, dan ia diwadahi dalam satu teks konsonantal yang disepakati (Rasm Utsmani). Dari wadah yang satu itu, muncul beberapa cara baca yang sama-sama otentik. Dengan demikian, seorang muslim dari Maroko yang membaca dengan riwayat Warsh, dan seorang muslim dari Indonesia yang membaca dengan riwayat Hafs, sama-sama membaca dari mushaf yang secara tulisan berasal dari sumber yang sama. Perbedaan bacaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi kekayaan budaya dan keilmuan dalam bingkai kesatuan teks yang tak terbantahkan.

Keaslian Al-Quran tetap terjaga kok, meski ada ragam bacaan (qira’at) dan sejarah penulisannya. Ini mirip dengan nilai sebuah penelitian, di mana proses belajar dan kontribusi ke ilmu pengetahuan sering kali lebih penting sekalipun belum meraih juara. Seperti yang dijelaskan dalam ulasan tentang Manfaat Penelitian Pratama Meski Tidak Masuk 9 Terbaik LPIR 2007 , esensi dari sebuah karya tetaplah bermakna.

Begitu pula, perbedaan dalam Al-Quran justru memperkaya pemahaman kita, namun tidak menggeser otentisitasnya sebagai wahyu yang satu.

Simpulan Akhir

Jadi, perbedaan bacaan dan penulisan dalam Al-Quran itu bukanlah cacat atau kelemahan, melainkan kekayaan yang disengaja dan terjaga. Ia adalah bukti nyata bahwa Al-Quran dijaga oleh Allah melalui dua jalur sekaligus: tulisan yang seragam dan hafalan yang beragam. Mushaf Utsmani tetap menjadi pemersatu umat, sementara ragam qira’at yang sahih memperkaya pemahaman kita terhadap pesan Ilahi. Dalam praktiknya, sikap yang paling bijak adalah mengakui dan menghormati keragaman yang telah disahkan oleh sanad keilmuan yang ketat ini, tanpa menjadikannya alat untuk berselisih.

Pada akhirnya, semua jalan bacaan yang otentik itu mengantarkan kita pada sumber yang sama: Kalamullah yang tak ternoda.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah perbedaan bacaan (qira’at) berarti Al-Quran ada banyak versi?

Tidak sama sekali. Perbedaan qira’at bukanlah perbedaan versi kitab, melainkan variasi dalam cara melafalkan dan mengeja kata-kata tertentu dalam satu teks yang sama (Mushaf Utsmani). Semua qira’at yang mutawatir merujuk pada satu sumber, yaitu wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW, dan tidak mengubah pesan pokok ajaran Islam.

Mengapa titik dan harakat (tanda baca) tidak ada di mushaf kuno? Bukankah itu rawan kesalahan?

Penulisan tanpa titik dan harakat (Rasm Utsmani) justru merupakan strategi cerdas. Sistem ini fleksibel dan mampu “menampung” beberapa bacaan yang sahih dalam satu bentuk tulisan. Titik dan harakat kemudian ditambahkan sebagai penuntun untuk bacaan-bacaan yang sudah ada dan terverifikasi melalui hafalan, bukan menciptakan bacaan baru. Keakuratan dijaga oleh transmisi oral (hafalan) yang sangat ketat.

Bagaimana cara membedakan bacaan yang sah (mutawatir) dengan bacaan yang aneh (syadzah)?

Bacaan yang sah harus memenuhi tiga syarat utama: sesuai dengan tata bahasa Arab, sesuai dengan salah satu mushaf Utsmani, dan memiliki sanad (rantai periwayatan) yang mutawatir (bersambung, banyak jalur, dan mustahil bersekongkol untuk dusta) hingga kepada Rasulullah SAW. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka bacaan itu dianggap syadzah (aneh) dan tidak boleh dibaca dalam ibadah.

Apakah seorang muslim biasa wajib mempelajari semua qira’at?

Tidak wajib. Yang wajib adalah membaca Al-Quran dengan benar sesuai dengan salah satu qira’at yang mutawatir yang diajarkan oleh guru yang kompeten (bersanad). Mempelajari berbagai qira’at adalah keutamaan dan spesialisasi keilmuan (ilmu qira’at) yang sangat dihargai, tetapi bukan kewajiban bagi setiap individu.

Bukankah perbedaan bacaan bisa memicu perpecahan di kalangan umat Islam?

Sejarah membuktikan sebaliknya. Para imam qira’at saling menghormati bacaan satu sama lain karena semuanya bersumber dari Nabi. Perbedaan yang diakui dan dikelola dengan ilmu justru menjadi rahmat dan kekayaan. Yang memicu perpecahan adalah sikap fanatik buta terhadap satu bacaan dan menyesatkan bacaan lain yang sahih. Kunci utamanya adalah ilmu dan adab.

Leave a Comment