Kesalahan Umum dalam Penggunaan Bahasa Indonesia dan Contoh Perbaikannya

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Bahasa Indonesia dan Contoh Perbaikannya itu kayak tamu tak diundang yang selalu nyelip dalam percakapan hingga dokumen resmi. Sadar atau tidak, kita sering jadi pelakunya. Mulai dari typo receh yang bikin gregetan sampai kesalahan struktur yang bikin makna jadi ngaco. Padahal, bahasa yang baik dan benar itu bukan sekadar untuk ujian sekolah, tapi buat memastikan ide kita sampai tanpa distorsi, baik di media sosial, laporan kerja, hingga percakapan sehari-hari.

Pembahasan ini akan mengupas tuntas lima area rawan kesalahan: dari soal ejaan dan tata kalimat yang sering dianggap sepele, hingga seluk-beluk diksi dan pragmatik yang butuh kepekaan. Dengan menyimak contoh-contoh konkret dan perbaikannya, kita bisa lebih jeli mengidentifikasi kesalahan yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Tujuannya jelas, bukan untuk sok puris, tetapi untuk memperkaya kemampuan berbahasa sehingga komunikasi menjadi lebih efektif, elegan, dan terhindar dari salah paham.

Kesalahan Ejaan dan Penulisan (EYD/PUEBI)

Ejaan yang disempurnakan, atau yang kini kita kenal sebagai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), seringkali dianggap remeh. Padahal, aturan ini adalah fondasi agar tulisan kita mudah dibaca, dipahami, dan terlihat profesional. Kesalahan ejaan bisa mengubah makna atau membuat pembaca mengernyitkan dahi. Mari kita bedah beberapa kesalahan yang paling sering muncul di media sosial, blog, hingga tugas kuliah.

Kesalahan Penulisan Huruf Kapital, Serapan, dan Partikel

Aturan dasar seperti penggunaan huruf kapital, penulisan kata serapan, dan partikel seperti di sebagai kata depan atau imbuhan, masih menjadi sumber kebingungan. Tabel berikut merangkum beberapa contoh umum dan perbaikannya.

Kesalahan Perbaikan Keterangan
Saya pergi di pasar. Saya pergi ke pasar. Di menunjukkan tempat yang diam, ke menunjukkan arah.
Buku itu ditaruh dimeja. Buku itu ditaruh di meja. Di sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Ini adalah standard operasional. Ini adalah standar operasional. Penulisan baku kata serapan dari bahasa Inggris standard adalah standar.
Acara dihadiri oleh Presiden jokowi. Acara dihadiri oleh Presiden Jokowi. Gelar kehormatan diikuti nama orang, huruf awal nama orang tetap kapital.

Daftar Kata Baku dan Nonbaku yang Sering Tertukar, Kesalahan Umum dalam Penggunaan Bahasa Indonesia dan Contoh Perbaikannya

Bahasa lisan sering memengaruhi tulisan, sehingga kata yang tidak baku tapi populer diucapkan sering kali terbawa. Berikut adalah daftar pasangan kata yang perlu diperhatikan.

  • Nonbaku: praktek | Baku: praktik
  • Nonbaku: jaman | Baku: zaman
  • Nonbaku: riset | Baku: riset (sudah baku), tetapi bentuk kata kerjanya adalah meneliti.
  • Nonbaku: ketinggal | Baku: tertinggal
  • Nonbaku: silahkan | Baku: silakan
  • Nonbaku: antri | Baku: antre

Kesalahan Penggunaan Tanda Koma dan Titik

Tanda koma dan titik sering dianggap sepele, padahal fungsinya vital untuk mengatur napas kalimat dan kejelasan makna. Koma yang salah tempat bisa membuat hubungan antarunsur kalimat menjadi kacau.

Kalimat Salah: Saya membeli buku, pulpen dan penghapus di toko itu.

Perbaikan: Saya membeli buku, pulpen, dan penghapus di toko itu.

Penjelasan: Gunakan tanda koma sebelum konjungsi dan pada akhir seri (koma serial) untuk menghindari kesalahan baca, meski dalam PUEBI hal ini bersifat pilihan, penggunaannya sangat dianjurkan untuk kejelasan.

Kalimat Salah: Dia tidak datang. Karena hujan turun sangat lebat.

Perbaikan: Dia tidak datang karena hujan turun sangat lebat.

Penjelasan: Kata penghubung seperti karena tidak boleh memulai kalimat baru yang berdiri sendiri. Ia harus menyatu dengan induk kalimatnya.

Kesalahan Tata Kalimat dan Struktur

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang dengan tepat menyampaikan gagasan penulis kepada pembaca tanpa penafsiran ganda. Sayangnya, banyak kalimat yang kita tulis justru bertele-tele, tidak padu, atau bahkan rancu. Kesalahan struktur ini membuat pesan utama tenggelam dalam lautan kata yang tidak perlu.

Jenis Kalimat Tidak Efektif

Dua masalah utama dalam kalimat tidak efektif adalah ketidakpaduan antara subjek dan predikat serta pemborosan kata atau pleonasme. Ketidakpaduan terjadi ketika subjek tidak diikuti oleh predikat yang logis, sementara pleonasme adalah pengulangan makna yang mubazir.

Contoh Ketidakpaduan: Waktu dan tempat kami persilakan.
Perbaikan: Bapak Ketua kami persilakan untuk memulai acara. atau Acara ini akan dimulai. Waktu dan tempat telah disediakan.
Analisis: “Waktu dan tempat” adalah benda mati yang tidak dapat “dipersilakan”. Subjek perlu diganti dengan entitas yang logis untuk predikat “memersilakan”.

Contoh Pleonasme: Dia naik ke atas dengan cepat.
Perbaikan: Dia naik dengan cepat.
Analisis: Kata “naik” sudah mengandung makna “ke atas”, sehingga frasa “ke atas” berlebihan dan dapat dihilangkan.

Kesalahan dalam Kalimat Majemuk dan Konjungsi

Kalimat majemuk menghubungkan beberapa klausa dengan konjungsi yang tepat. Kesalahan sering terjadi ketika konjungsi yang digunakan tidak mencerminkan hubungan logis antaride, atau ketika struktur klausa-klausanya tidak sejajar. Akibatnya, alur pikir dalam kalimat menjadi terputus atau membingungkan. Sebagai contoh, penggunaan konjungsi “sedangkan” yang seharusnya membandingkan dua hal sering dipakai sebagai pengganti “sementara itu” untuk melanjutkan cerita. Perbaikan dilakukan dengan memilih konjungsi yang lebih tepat seperti “kemudian” atau “selanjutnya”, serta memastikan subjek dalam setiap klausa jelas dan konsisten.

Perbandingan Kalimat Rancu dan Perbaikannya

Kalimat rancu terjadi karena penggabungan dua struktur kalimat yang berbeda atau penempatan kata/frasa yang ambigu. Tabel berikut menunjukkan bagaimana kalimat yang membingungkan dapat diluruskan.

Kalimat Rancu Perbaikan yang Logis Analisis Singkat
Sopir bus yang mengalami kecelakaan itu sedang diperiksa polisi. Polisi sedang memeriksa sopir bus yang mengalami kecelakaan itu. Struktur pasif membuat subjek (“sopir bus”) terlalu panjang sebelum predikat. Struktur aktif lebih jelas.
Ibu membelikan adik buku yang ia simpan di lemari. Ibu membelikan adik buku. Buku itu kemudian ia simpan di lemari. Kata “ia” ambigu (ibu atau adik?). Memecah kalimat menghilangkan ambiguitas.
Kegiatan itu untuk memperingati hari lahirnya pahlawan nasional. Kegiatan itu untuk memperingati hari lahir pahlawan nasional. Imbuhan –nya tidak diperlukan karena “pahlawan nasional” sudah spesifik. Penggunaannya justru membuat makna seolah-olah pahlawan itu milik seseorang.

Kesalahan Pemilihan Diksi dan Makna Kata

Memilih kata yang tepat bukan sekadar mencari padanan dalam tesaurus. Setiap kata membawa nuansa, konotasi, dan tingkat kecocokan dengan konteks tertentu. Kesalahan diksi bisa membuat tulisan terasa janggal, tidak formal, atau bahkan menyimpang dari maksud sebenarnya. Interferensi dari bahasa daerah atau asing juga sering menjadi biang kerok.

Kata Bersinonim dengan Nuansa Berbeda

Sinonim bukan berarti kata-kata itu dapat dipertukarkan secara bebas. Misalnya, melihat, menyaksikan, dan mengawasi sama-sama berkaitan dengan indra penglihatan, tetapi konteks penggunaannya berbeda. Melihat bersifat umum dan netral. Menyaksikan mengandung makna hadir dan mengamati suatu peristiwa secara langsung, sering kali yang penting atau resmi. Sementara mengawasi memiliki nuansa pengamatan yang teliti dan berkelanjutan, biasanya untuk memastikan sesuatu berjalan baik atau mencegah kesalahan.

Kata yang Tidak Sesuai dengan KBBI

Banyak kata yang digunakan sehari-hari ternyata tidak tercantum dalam KBBI atau memiliki makna yang berbeda dari pemahaman umum. Berikut beberapa contohnya.

  • Faktual: Sering disamakan dengan fakta. Padahal, faktual adalah adjektiva yang berarti ‘bersifat fakta; berdasarkan fakta’. Contoh: Laporan itu ditulis secara faktual. Bukan: Ini adalah faktual. Seharusnya: Ini adalah fakta.
  • Event: Kata serapan ini sudah ada padanan bakunya, yaitu acara, peristiwa, atau ajang. Penggunaan event sebaiknya dihindari dalam tulisan formal.
  • Mengklarifikasi: Sering digunakan untuk makna ‘menjelaskan’. Padahal, mengklarifikasi berarti ‘menjelaskan (menjernihkan) agar tidak samar-samar lagi; menjernihkan’. Nuansanya lebih pada membersihkan kesalahpahaman atau keraguan, bukan sekadar memberi penjelasan umum.

Interferensi Bahasa Daerah dan Asing

Pengaruh bahasa ibu atau bahasa Inggris sering kali menyusup tanpa sadar ke dalam tulisan Bahasa Indonesia, menghasilkan diksi yang aneh atau struktur yang tidak lazim.

Pengaruh Bahasa Jawa: Dia sama saya pergi ke pasar tadi pagi.
Perbaikan: Dia dan saya pergi ke pasar tadi pagi. atau Dia pergi ke pasar bersama saya tadi pagi.
Keterangan: Kata sama dalam konteks ini adalah interferensi dari bahasa Jawa dan tidak baku. Gunakan konjungsi dan atau preposisi bersama.

Pengaruh Bahasa Inggris: Proyek ini akan di-deliver minggu depan.
Perbaikan: Proyek ini akan diserahkan atau diluncurkan minggu depan.
Keterangan: Menyisipkan kata asing secara tidak perlu ( deliver) menunjukkan ketidakmampuan menemukan padanan yang tepat. Padanan seperti menyerahkan, mengirimkan, atau meluncurkan lebih sesuai.

Kesalahan Morfologi: Imbuhan dan Bentukan Kata

Morfolofi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur dan pembentukan kata. Dalam bahasa Indonesia, kesalahan dalam menempelkan awalan, akhiran, atau sisipan bisa menghasilkan kata yang tidak dikenal atau maknanya melenceng. Kesalahan ini sering terjadi karena ketidakhafalan bentuk baku atau analogi yang salah dari kata lain.

Penggunaan Awalan, Akhiran, dan Sisipan yang Tidak Tepat

Kesalahan morfologi yang umum termasuk penghilangan atau penambahan huruf saat pengimbuhan, serta penggunaan imbuhan yang tidak sesuai dengan makna yang diinginkan. Contohnya, awalan meN- sering salah bentuk ketika bertemu dengan kata dasar tertentu. Penyebutan kata seperti “ngetik” (seharusnya: mengetik) atau “nonton” (seharusnya: menonton) adalah bentuk lisan yang terbawa ke tulisan. Demikian pula, kesalahan dalam membentuk kata berimbuhan meN-i dan meN-kan sering membuat kalimat menjadi tidak gramatikal.

Contoh Kata Berimbuhan yang Salah dan Perbaikannya

Kata Salah Jenis Kesalahan Kata yang Benar Kata Dasar
mensukseskan Penambahan huruf s pada awalan menyukseskan sukses
peresmian Penggunaan infiks -er- yang tidak tepat peresmian (sudah benar), tetapi prosesnya: me- + resmi + -kan -> meresmikan, lalu pe- + r- + resmi + -an -> peresmian. resmi
keteteran Pengulangan yang tidak baku kewalahan teter (bukan kata dasar baku)
mengenyampingkan Penambahan bunyi /ny/ yang tidak perlu mengesampingkan samping

Proses Pembentukan Kata yang Benar

Pembentukan kata berimbuhan mengikuti aturan fonologis yang konsisten. Mari ambil contoh kata dasar “taat”.

  • Langkah 1: Tentukan kata dasar: taat.
  • Langkah 2: Tambahkan awalan meN- untuk membuat verba. Karena huruf pertama kata dasar adalah t (konsonan letup dental), awalan meN- berasimilasi menjadi men-.
  • Langkah 3: Gabungkan: meN- + taat -> men- + taat -> menaati (perhatikan perubahan akhir menjadi -i karena makna ‘berbuat taat kepada’).
  • Langkah 4: Untuk bentuk lain, misalnya meN-kan: meN- + taat + -kan -> men- + taat + -kan -> menaati (bentuk menaatkan jarang digunakan). Bentuk nominalnya: peN- + taat -> pen- + taat -> pentaatan.

Kesalahan Pragmatik dan Penggunaan dalam Konteks: Kesalahan Umum Dalam Penggunaan Bahasa Indonesia Dan Contoh Perbaikannya

Pragmatik adalah studi tentang bagaimana bahasa digunakan dalam konteks sosial. Jadi, bahasa yang secara gramatikal benar pun bisa salah secara pragmatis jika digunakan pada situasi, lawan bicara, atau medium yang tidak tepat. Ini menyangkut kesantunan, kesesuaian register, dan pemahaman akan maksud tersirat di balik kata-kata yang tersurat.

Ketidaksesuaian Register Bahasa

Register bahasa yang tidak sesuai dengan situasi adalah kesalahan pragmatik yang paling terlihat. Menggunakan bahasa gaul dalam surat lamaran kerja atau sebaliknya, menggunakan bahasa yang terlalu kaku dan formal saat mengobrol santai dengan teman, akan menimbulkan kesan aneh dan tidak natural. Misalnya, kata “gue/lu” jelas tidak pantas dalam presentasi bisnis, sementara frasa “dengan hormat” dan “berkenan” terdengar berlebihan dalam pesan grup WhatsApp keluarga.

Contoh Kesalahan Sopan Santun Berbahasa dan Perbaikannya

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Bahasa Indonesia dan Contoh Perbaikannya

Source: slidesharecdn.com

Konteks: Email dari mahasiswa kepada dosen.
Kesalahan: “Pak, tolong kirimkan silabus matkul Bapak ke email saya. Terima kasih.”
Perbaikan: “Selamat pagi, Pak [Nama Dosen]. Saya [Nama Mahasiswa] dari kelas [Nama Matkul]. Apakah Bapak berkenan membagikan file silabus perkuliahan? Jika berkenan, dapat dikirimkan ke alamat email saya: [alamat email]. Terima kasih banyak atas bantuan Bapak.”
Analisis: Kalimat pertama terlalu langsung dan terkesan memerintah. Perbaikan dengan salam pembuka, perkenalan diri, penggunaan kalimat tanya yang sopan (“Apakah Bapak berkenan…”), serta penulisan informasi yang jelas menunjukkan penghormatan dan mengurangi beban psikologis bagi penerima.

Kesalahan umum dalam penggunaan bahasa Indonesia, seperti salah kaprah dalam penulisan “di-” atau “ke-“, seringkali mengaburkan makna. Namun, prinsip kejelasan ini juga berlaku di ranah lain, misalnya saat kita ingin Maksimalkan Nilai (p+q)/(p−q) dari Dua Bilangan 1‑50 , di mana presisi dan pemahaman aturan adalah kunci. Sama halnya, ketelitian dalam memilih kata dan struktur kalimat akan memaksimalkan keefektifan komunikasi kita sehari-hari.

Panduan Menghindari Kesalahan Pragmatik dalam Komunikasi Tertulis Resmi

Berikut adalah prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan dalam menulis email, surat, atau laporan resmi untuk menjaga kesantunan dan efektivitas komunikasi.

  • Selalu gunakan salam pembuka dan penutup yang formal, disesuaikan dengan waktu dan hubungan dengan penerima (contoh: “Selamat pagi,” “Dengan hormat,” “Salam,” “Hormat saya”).
  • Perkenalkan diri dan tujuan komunikasi secara jelas di awal, terutama jika Anda belum terlalu dikenal oleh penerima.
  • Gunakan kalimat permintaan, bukan perintah. Ganti “Saya butuh file ini” dengan “Saya memohon kiranya Bapak/Ibu dapat membagikan file tersebut.”
  • Hindari kata ganti orang kedua yang terlalu langsung (kamu, Anda) di awal kalimat permintaan, terutama untuk hal yang kompleks. Fokus pada kebutuhan atau objeknya terlebih dahulu.
  • Ucapkan terima kasih sebelum permintaan dipenuhi sebagai bentuk penghargaan atas waktu dan perhatian penerima (contoh: “Terima kasih atas perhatiannya.”).

Penutupan

Jadi, mengutak-atik kesalahan berbahasa itu ibarat membersihkan kacamata: tujuannya agar pandangan kita lebih jernih dalam melihat dan menyampaikan maksud. Proses ini bukanlah pencarian kesempurnaan yang kaku, melainkan upaya untuk lebih menghargai instrumen vital bernama bahasa Indonesia. Dengan terus belajar dan memperbaiki, kita turut menjaga khazanah bahasa agar tetap hidup, dinamis, dan mampu menjadi alat yang tepat guna untuk segala keperluan.

Mari jadikan kebiasaan berbahasa yang baik sebagai gaya, bukan beban.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Apakah bahasa yang “benar” selalu harus mengikuti aturan baku dalam percakapan informal?

Tidak selalu. Konteks sangat menentukan. Dalam percakapan santai dengan teman, penggunaan bahasa nonbaku atau campuran kode bisa diterima sebagai bentuk keakraban. Namun, memahami aturan baku tetap penting agar kita bisa beralih ke ragam formal ketika situasi menuntutnya, seperti saat rapat atau menulis surat resmi.

Bagaimana cara paling efektif untuk mengurangi kesalahan ejaan dan penulisan?

Membaca teks baku seperti buku, artikel media terpercaya, dan dokumen resmi dapat melatih kepekaan mata. Selain itu, manfaatkan alat pemeriksa ejaan (spell-check) dengan bijak, dan jangan ragu untuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring ketika ragu pada penulisan suatu kata.

Apakah interferensi bahasa daerah dianggap sebagai kesalahan?

Tidak selalu sebagai kesalahan, tetapi bisa menjadi masalah jika digunakan dalam konteks yang tidak tepat. Interferensi seperti penggunaan kata daerah dalam kalimat bahasa Indonesia resmi dapat mengaburkan makna bagi pendengar yang tidak memahami. Kuncinya adalah kesesuaian konteks dan lawan bicara.

Mengapa kita sering melakukan kesalahan pada kata berimbuhan, seperti “menyolok” padahal seharusnya “mencolok”?

Kesalahan umum dalam penggunaan bahasa Indonesia seringkali terjadi karena ketidaktahuan atau kelalaian, seperti salah kaprah dalam penulisan istilah teknis. Ambil contoh dalam geometri, pemahaman konsep seperti Nilai CAD + CDA pada segitiga ABC dengan B, C, D garis memerlukan ketepatan istilah yang mutlak. Prinsip ketelitian yang sama wajib diterapkan dalam berbahasa; kesalahan kecil dalam pemilihan kata atau struktur kalimat dapat mengubah makna, sehingga perlu dikoreksi dengan contoh perbaikan yang jelas dan otoritatif.

Kesalahan ini sering terjadi karena proses morfofonemik, yaitu perubahan bunyi saat imbuhan bertemu dengan kata dasar. Otak kita terkadang mengambil jalan pintas berdasarkan kebiasaan pengucapan. Mempelajari pola-pola perubahan bunyi ini (seperti meN- + “coba” menjadi “mencoba”) dapat membantu meminimalisir kesalahan.

BACA JUGA  Akibat Cahaya Merambat Secara Lurus Membentuk Dunia yang Kita Lihat

Leave a Comment