Arti onigai shimasu – Arti Onegai Shimasu seringkali menjadi frasa pertama yang kita dengar saat menyelami bahasa Jepang, sebuah ungkapan yang jauh lebih dalam dari sekadar “tolong” atau “mohon”. Frasa ini bukan hanya alat komunikasi, melainkan pintu masuk untuk memahami filosofi hormat dan kerendahan hati yang menjadi jantung interaksi sosial di Jepang. Dari percakapan bisnis yang formal hingga obrolan ringan di warung ramen, memahami nuansa “Onegai Shimasu” adalah langkah penting untuk terhubung dengan budaya tersebut secara lebih autentik.
Secara harfiah, “Onegai Shimasu” dapat diterjemahkan sebagai “Saya melakukan permohonan”, namun maknanya mencakup permintaan, harapan, dan penyerahan diri yang sopan. Penggunaannya yang luas—mulai dari meminta bantuan, memulai pertandingan, hingga menerima tugas—menunjukkan fleksibilitasnya. Dalam konteks bahasa Indonesia, frasa ini memiliki nuansa yang lebih dekat dengan “mohon bantuannya” atau “silakan” dengan tingkat kesopanan yang sangat tinggi, berbeda dengan “tolong” yang bisa lebih langsung dan kasual.
Pengertian Dasar “Onegai Shimasu”
Jika kamu pernah menyaksikan drama Jepang atau berkunjung ke Jepang, frasa “Onegai Shimasu” pasti akan sering memenuhi telinga. Di permukaan, frasa ini terdengar seperti sekadar “tolong” atau “mohon” dalam bahasa Indonesia. Namun, di baliknya tersimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam dan mencerminkan inti dari komunikasi sopan dalam budaya Jepang.
Secara harfiah, “Onegai Shimasu” (お願いします) berasal dari kata “negau” (願う) yang berarti “berharap”, “memohon”, atau “meminta”. Akhiran “-shimasu” adalah bentuk sopan dari kata kerja “suru” (melakukan). Jadi, terjemahan langsungnya kira-kira adalah “Saya melakukan permohonan”. Nuansanya bukan sekadar meminta tolong, tetapi lebih kepada menyampaikan harapan atau permintaan dengan penuh kerendahan hati dan rasa hormat. Ini berbeda dengan “tolong” dalam bahasa Indonesia yang bisa digunakan dalam rentang kesopanan yang sangat luas, dari yang sangat formal hingga sangat kasual, bahkan terkadang terdengar seperti perintah (“Tolong ambilkan itu!”).
“Onegai Shimasu” selalu membawa kesan sopan dan merendah.
Makna dan Penggunaan dalam Berbagai Konteks
Untuk memahami lebih jelas, mari kita lihat tabel berikut yang membandingkan berbagai aspek dari “Onegai Shimasu”.
| Terjemahan Inti | Konteks Penggunaan Umum | Tingkat Kesopanan | Nuansa Makna |
|---|---|---|---|
| “Mohon”, “Tolong (dengan hormat)”, “Saya memohon”. | Memesan di restoran, meminta bantuan, memulai pertandingan, menyetujui permintaan, saat memperkenalkan diri dalam presentasi. | Tinggi (Netral-Sopan). Bentuk standar yang sopan untuk berbagai situasi. | Merendahkan diri, menunjukkan ketergantungan pada kebaikan hati lawan bicara, ekspresi harapan yang tulus. |
Pengucapan frasa ini penting untuk diperhatikan. “Onegai Shimasu” diucapkan sebagai oh-neh-gah-ee shee-mahss. Tekanan nada rata, tidak ada suku kata yang dipanjangkan secara berlebihan. Bunyi “u” di akhir “shimasu” hampir tidak terdengar, menjadi semacam desisan halus “shimas”.
Konteks Sosial dan Budaya Penggunaan
Frasa “Onegai Shimasu” bukanlah sekadar kosakata; ia adalah sebuah alat sosial yang memperhalus interaksi. Penggunaannya yang luas mencerminkan nilai-nilai budaya Jepang seperti keigo (bahasa hormat), consideration for others (omoiyari), dan menjaga harmoni kelompok (wa).
Dalam situasi formal, frasa ini hampir selalu hadir. Saat meeting dimulai, seorang pemimpin mungkin berkata “Yoroshiku onegai shimasu” (Mohon bimbingannya). Di toko, pelayan akan mengucapkannya saat menerima pesanan atau uang. Dalam konteks olahraga seperti judo atau kendo, para pesaing saling membungkuk dan mengatakan “Onegai shimasu” sebelum bertanding, yang berarti “Saya mohon latihan/perlawanan yang baik”. Pada situasi informal, frasa ini tetap digunakan dengan keluarga atau teman dekat, meski sering disingkat menjadi “Onegai” saja, namun tetap dengan nada memohon, seperti saat meminta ibu membuatkan makanan favorit.
Perbedaan Penggunaannya Berdasarkan Relasi
Meski frasa dasarnya sama, cara penyampaiannya bisa berbeda. Berikut contohnya:
- Terhadap Atasan/Klien: “Kono shorui no shinsa, onegai dekimasu ka?” (Apakah review dokumen ini bisa saya mohon?)
-Ditambah kata “dekimasu ka” untuk kehati-hatian ekstra. - Terhadap Rekan Sejawat: “Ashita no kaigi no settei, onegai shimasu.” (Tolong atur meeting untuk besok.)
-Langsung dan sopan. - Terhadap Teman Dekat: “Mata atode denwa onegai!” (Nanti telepon aku, ya! Tolong!)
-Singkat dan akrab. - Terhadap Keluarga: “Mama, terebi onegai.” (Ma, tolong TV-nya.)
-Sangat kasual dan langsung.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
Bagi pembelajar bahasa Jepang, beberapa kesalahan ini sering terjadi tanpa disadari.
- Menggunakan “Onegai shimasu” sebagai pengganti “terima kasih”. Frasa ini untuk meminta, bukan berterima kasih. Setelah bantuan diberikan, ucapkan “Arigatou gozaimasu”.
- Intonasi yang terlalu datar atau kasar. Intonasi yang tepat seharusnya terdengar merendah, bukan memerintah.
- Mengabaikan gestur. Saat mengucapkannya secara langsung, sedikit membungkukkan badan atau setidaknya menundukkan kepala akan sangat memperkuat kesopanan.
- Menggunakan “Onegai” saja dalam situasi formal. Singkatan ini hanya untuk percakapan santai dengan orang yang sudah akrab.
Variasi dan Frasa Terkait
Source: japaneseparticlesmaster.xyz
Bahasa Jepang kaya akan variasi untuk menyampaikan permohonan, masing-masing dengan tingkat formalitas dan nuansa yang berbeda. Memahami perbedaannya adalah kunci untuk berkomunikasi dengan tepat.
Variasi paling formal dari “Onegai shimasu” adalah “Onegai itashimasu”. Kata “itashimasu” adalah bentuk super sopan (kenjougo) dari “shimasu”. Frasa ini digunakan dalam situasi bisnis tingkat tinggi, surat resmi, atau ketika berbicara dengan klien VIP. Selain itu, terdapat frasa-frasa lain seperti “Kudasai”, “Choudai”, dan “Itadakimasu” yang sering membingungkan bagi pemula.
Perbandingan Frasa Permohonan, Arti onigai shimasu
| Frasa | Makna Inti | Tingkat Kesopanan | Konteks Khas |
|---|---|---|---|
| Onegai Shimasu | Saya memohon / Tolong (umum). | Sopan (Standar) | Permintaan umum, memulai sesuatu, memesan. |
| Kudasai | Silakan berikan / Tolong (berikan). | Sopan (sedikit lebih langsung) | Menyertai kata benda: “Mizu o kudasai” (Air, tolong). |
| Choudai | Kasih ke aku / Tolong (kasual). | Kasual/Akrab | Digunakan dengan keluarga, pasangan, atau teman sangat dekat. |
| Itadakimasu | Saya menerima dengan rendah hati. | Sopan (Merendah) | Sebelum makan, atau saat menerima sesuatu (bukan untuk meminta). |
Peralihan dalam Percakapan
Dalam interaksi sehari-hari, peralihan dari formal ke informal bisa terjadi. Perhatikan dialog singkat antara dua rekan kerja yang sudah akrab ini:
Tanaka: Sumimasen, Kato-san. Kono shorui no kopi, onegai shimasu. (Maaf, Kato. Tolong fotokopi dokumen ini.)
Kato: Hai, wakarimashita. Chotto matte kudasai.(Ya, saya mengerti. Tolong tunggu sebentar.)
-(Setelah beberapa jam, di kantin)*
Kato: Tanaka, kono okashi choudai! Ore, amari suki ja nai kara. (Tanaka, ambil deh kue ini! Aku nggak terlalu suka.)
Tanaka: Eh, ii no? Jaa, itadakimasu. Arigatou! (Hah, boleh?Kalau begitu, saya terima. Makasih!)
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari dan Media
Frasa “Onegai shimasu” telah meresap ke dalam setiap lapisan interaksi masyarakat Jepang, baik di dunia nyata maupun di dunia fiksi. Kehadirannya di media populer bukan hanya sekadar dialog, tetapi juga sebagai penanda karakter dan situasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, coba perhatikan saat kamu membeli tiket kereta dari mesin. Setelah memilih tujuan dan memasukkan uang, layar akan menunjukkan konfirmasi dengan tulisan “Onegai shimasu” di samping tombol OK. Di tempat kerja, email sering ditutup dengan “Yoroshiku onegai shimasu”. Dalam anime dan drama, frasa ini sering diucapkan oleh karakter yang meminta bantuan dengan tulus, menunjukkan kerendahan hati sang protagonis, atau bahkan oleh karakter yang biasanya sombong sebagai momen penebusan diri yang kuat.
Kutipan Khas dari Berbagai Situasi
“Shitsurei shimasu. Shachou, kore, onegai shimasu.” (Permisi, Pak Direktur. Ini, mohon diterima.)
-Saat menyerahkan dokumen penting kepada atasan, sambil sedikit membungkuk.
“Kore kara mo, oshiete kudasai. Onegai shimasu!” (Ke depannya pun, terus ajari aku. Aku mohon!)
-Dialog khas dalam anime saat seorang murid meminta bimbingan kepada mentornya dengan penuh semangat.
“Osusume wa?” “Omakase de onegai shimasu.” (“Rekomendasinya apa?” “Saya serahkan pada Anda / Saya pesan menu omakase.”)
-Percakapan standar di restoran mewah.
Ilustrasi Visual yang Menyertai
Pengucapan “Onegai shimasu” jarang berdiri sendiri. Ia hampir selalu disertai gestur nonverbal yang memperkuat pesannya. Gambaran visual yang umum adalah seseorang, baik dalam posisi duduk atau berdiri, sedikit membungkukkan badan dari pinggang dengan sudut sekitar 15-30 derajat. Tangan biasanya diluruskan di samping badan atau diletakkan di depan (di pangkuan jika duduk). Ekspresi wajah serius namun ramah, dengan kontak mata yang mungkin dihindari atau sekilas saja sebagai bentuk rasa hormat, terutama jika lawan bicaranya memiliki status lebih tinggi.
Dalam konteks yang lebih santai, seperti meminta tolong teman, gesturnya bisa hanya berupa anggukan kepala disertai senyuman, tetapi intonasi suara tetap mengandung nada “memohon”.
Latihan dan Penerapan Praktis
Memahami teori saja tidak cukup. Untuk membuat frasa “Onegai shimasu” menjadi bagian dari kemampuan berbahasa yang alami, latihan kontekstual adalah kuncinya. Berikut beberapa cara untuk mulai mempraktikkannya.
Dalam konteks Jepang, “onigai shimasu” adalah ungkapan permintaan yang menunjukkan harapan dan usaha maksimal. Nah, prinsip ‘maksimal’ ini juga relevan dalam logika matematika, seperti saat kita ingin Maksimalkan Nilai (p+q)/(p−q) dari Dua Bilangan 1‑50. Soal ini menguji ketelitian dan strategi, mirip semangat di balik “onigai shimasu” yang menekankan komitmen penuh untuk mencapai hasil terbaik dalam setiap upaya.
Cobalah untuk menyusun kalimat menggunakan “Onegai shimasu” atau variasi yang tepat untuk tiga skenario berbeda ini. Fokus pada pemilihan tingkat kesopanan.
- Meminta rekan kerja untuk mengirimkan file presentasi via email sebelum jam 3 sore.
- Memesan secangkir kopi hitam di kedai kopi.
- Meminta adik untuk membelikan minuman dari vending machine.
Role-Play: Penggunaan Tepat vs. Kurang Tepat
Berikut percakapan pendek yang menunjukkan kontras antara penggunaan yang tepat dan kurang tepat.
Scenario: Meminta bantuan senior di kantor untuk memeriksa laporan.
Kurang Tepat: “Kono repooto, mite.” (Laporan ini, lihat.)
-Terlalu langsung dan kasar, terdengar seperti perintah.
Tepat: “Sumimasen, o-isogashii tokoro, kono repooto no check, onegai dekimasu ka?” (Maaf, di saat Anda sibuk-sibuknya, apakah pemeriksaan laporan ini bisa saya mohon?)
-Sopan, mengakui kesibukan lawan bicara, dan menggunakan bentuk permohonan yang halus.
Tips Melatih Pengucapan dan Intonasi
Agar pengucapan terdengar natural, coba metode ini: rekam suara kamu saat mengucapkan frasa tersebut, lalu bandingkan dengan audio dari penutur asli (bisa dari film atau aplikasi pembelajaran). Perhatikan ritme: “o-ne-gai-shi-ma-su”. Bayangkan kamu benar-benar memohon suatu hal kecil dengan tulus, bukan meminta hak. Intonasi harus sedikit turun di akhir, tetapi tidak datar. Rasakan nuansa “merendah”, bukan “menuntut”.
Skenario untuk Praktik Langsung
Carilah kesempatan untuk menggunakan “Onegai shimasu” dalam situasi nyata atau simulasi berikut.
- Saat memesan makanan di restoran Jepang.
- Ketika menyerahkan formulir atau dokumen di konter informasi.
- Di awal percakapan bahasa Jepang dengan tutor atau partner language exchange, ucapkan “Yoroshiku onegai shimasu”.
- Ketika meminjam pena dari seseorang.
- Saat memulai presentasi latihan di depan kelas atau kelompok belajar.
Akhir Kata: Arti Onigai Shimasu
Menguasai Arti Onegai Shimasu pada akhirnya bukan sekadar tentang menambah kosakata, tetapi tentang mengadopsi sebuah sikap. Frasa ini mengajarkan kita untuk selalu memulai dan mengakhiri interaksi dengan rasa hormat, mengakui posisi orang lain, dan menyampaikan keinginan dengan rendah hati. Dalam keseharian maupun media populer Jepang, “Onegai Shimasu” berfungsi sebagai pengingat halus tentang pentingnya menjaga harmoni sosial. Jadi, lain kali Anda mengucapkannya, ingatlah bahwa Anda tidak hanya meminta sesuatu, tetapi juga menjalin hubungan.
Dalam budaya Jepang, frasa “onigai shimasu” mengungkap permintaan dengan kerendahan hati yang mendalam, serupa dengan ketelitian yang kita butuhkan dalam analisis kimia. Misalnya, saat kita perlu Menghitung Persentase Kemurnian KCN dari Titrasi AgNO₃ 0,1 M , presisi dan penghitungan yang cermat adalah kunci mutlak. Pada akhirnya, baik dalam laboratorium maupun interaksi sosial, esensi “onigai shimasu” tetap tentang menghargai proses dan menghormati standar yang berlaku.
Bagian Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah “Onegai Shimasu” hanya diucapkan saat meminta bantuan?
Tidak. Frasa ini juga digunakan saat memperkenalkan diri, memulai pertunjukan atau pertandingan, menerima suatu tugas atau tanggung jawab, dan bahkan sebagai bentuk harapan sebelum suatu kegiatan dimulai, seperti “Yoroshiku onegai shimasu”.
Bisakah “Onegai Shimasu” digunakan kepada teman dekat atau keluarga?
Bisa, tetapi dalam bentuk yang lebih kasual seperti “Onegai” saja. Penggunaan lengkap “Onegai Shimasu” kepada teman dekat mungkin terasa terlalu kaku dan formal, kecuali dalam konteks setengah bercanda atau meminta sesuatu yang sangat besar.
Apa perbedaan utama antara “Onegai Shimasu” dan “Kudasai”?
“Onegai Shimasu” lebih bersifat memohon atau meminta secara umum dan sering berdiri sendiri, sementara “Kudasai” biasanya melekat pada kata benda atau kata kerja untuk secara spesifik meminta objek atau tindakan (“Mizu o kudasai” = airnya, tolong). “Onegai Shimasu” juga terasa lebih sopan dan rendah hati.
Bagaimana jika saya lupa mengucapkan “Onegai Shimasu” dalam situasi formal?
Dianggap sebagai kesalahan kecil, terutama bagi orang asing, tetapi mungkin dianggap kurang sopan. Lebih baik segera menambahkan “Yoroshiku onegai shimasu” di akhir percakapan atau permintaan sebagai penutup yang sopan untuk memperbaiki kesan.
Apakah ada gerakan tubuh khusus saat mengucapkannya?
Biasanya diiringi dengan membungkukkan badan sedikit (ojigi), terutama dalam situasi formal. Ekspresi wajah yang tulus dan kontak mata yang sesuai juga penting. Dalam situasi sangat formal, tangan mungkin diletakkan di depan badan.