Hubungan Jumlah Penduduk, Angkatan Kerja, Kesempatan Kerja, dan Pengangguran adalah sebuah puzzle besar yang menentukan denyut nadi perekonomian sebuah negara. Bayangkan sebuah negeri dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, penuh dengan energi dan mimpi. Namun, apakah tersedia cukup panggung untuk semua pemain? Dinamika antara keempat elemen ini bagaikan sebuah tarian rumit yang menentukan apakah sebuah masyarakat akan menari dalam irama kemakmuran atau terhenti oleh bayang-bayang pengangguran.
Memahami korelasi antar variabel ini bukan sekadar urusan angka dan statistik belaka, melainkan kunci untuk membuka potensi suatu bangsa. Dari bagaimana ledakan penduduk muda bisa menjadi bonus demografi yang menguntungkan, hingga bagaimana pertumbuhan lapangan kerja yang tertatih-tatih bisa memicu gejolak sosial. Setiap perubahan pada satu variabel akan beresonansi, menciptakan efek domino yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan, mulai dari stabilitas ekonomi hingga tingkat kesejahteraan keluarga.
Konsep Dasar dan Definisi
Source: go.id
Memahami dinamika ketenagakerjaan dimulai dari mengerti empat pilar utamanya: jumlah penduduk, angkatan kerja, kesempatan kerja, dan pengangguran. Keempatnya saling berkait seperti roda penggerak ekonomi sebuah negara. Dalam bagian ini, kita akan membedah masing-masing konsep untuk membangun pondasi pemahaman yang kuat sebelum melihat interaksi yang lebih kompleks di antaranya.
Dinamika kependudukan dan ketenagakerjaan memang kompleks. Pertumbuhan angkatan kerja yang tidak diimbangi kesempatan kerja memicu pengangguran, yang dampaknya bisa seluas masalah kesehatan akibat gizi buruk. Mirip seperti bagaimana tubuh kita bergantung pada Pembentukan Vitamin K di Kolon, Duodenum, Jejunum, atau Ileum untuk proses vital, ekonomi membutuhkan keseimbangan tepat antara sumber daya dan penyerapannya. Ketidakseimbangan di kedua bidang ini sama-sama berisiko mengganggu stabilitas jangka panjang suatu masyarakat.
Pengertian Inti dalam Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk adalah total semua orang yang berdiam di suatu wilayah dalam periode tertentu, menjadi basis dari seluruh analisis ketenagakerjaan. Dari jumlah penduduk ini, kita menyaring kelompok usia kerja, biasanya mereka yang berusia 15 hingga 64 tahun. Namun, tidak semua orang dalam usia kerja tersebut aktif di pasar kerja. Angkatan kerja secara spesifik merujuk pada bagian dari penduduk usia kerja yang benar-benar aktif secara ekonomi, yaitu mereka yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan (pengangguran).
Sementara itu, kesempatan kerja adalah jumlah posisi pekerjaan yang tersedia dan siap diisi oleh angkatan kerja. Ketika jumlah angkatan kerja melebihi kesempatan kerja yang ada, muncullah pengangguran, yaitu kondisi dimana seseorang yang mampu dan ingin bekerja tidak mendapatkan pekerjaan.
Dinamika hubungan antara jumlah penduduk, angkatan kerja, kesempatan kerja, dan pengangguran adalah tantangan kompleks. Untuk mengatasinya, pemahaman yang mendalam tentang Maksud vokalisasi dalam konteks pendidikan vokasi menjadi krusial. Dengan melatih tenaga kerja yang kompeten dan sesuai kebutuhan industri, diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas, sehingga mengurangi angka pengangguran meskipun jumlah penduduk terus bertambah.
Perbandingan Konsep dan Bentuk Pengangguran
Penting untuk membedakan antara penduduk usia kerja dan angkatan kerja. Tidak semua penduduk usia kerja termasuk angkatan kerja; mereka yang masih bersekolah, mengurus rumah tangga, atau pensiun dini dikategorikan sebagai bukan angkatan kerja. Dalam konteks pengangguran, bentuknya juga beragam. Pengangguran terbuka adalah kondisi dimana seseorang sama sekali tidak bekerja dan sedang aktif mencari pekerjaan. Sementara itu, setengah menganggur mengacu pada pekerja yang bekerja di bawah jam normal (kurang dari 35 jam per minggu) dan masih mencari pekerjaan tambahan atau pekerjaan lain dengan jam kerja yang lebih layak.
Tabel Karakteristik Konsep Ketenagakerjaan
Berikut adalah tabel yang membandingkan karakteristik utama dari keempat konsep tersebut, untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan sistematis.
| Konsep | Definisi Inti | Cakupan | Status dalam Pasar Kerja |
|---|---|---|---|
| Jumlah Penduduk | Total semua individu yang mendiami suatu wilayah. | Seluruh usia, dari bayi hingga lansia. | Tidak langsung terkait; merupakan populasi dasar. |
| Angkatan Kerja | Bagian penduduk usia kerja yang bekerja atau mencari kerja. | Penduduk usia kerja (15-64 tahun) yang aktif ekonomi. | Aktif: baik yang sudah bekerja maupun yang sedang mencari. |
| Kesempatan Kerja | Jumlah lowongan atau posisi pekerjaan yang tersedia. | Diciptakan oleh perusahaan, pemerintah, dan wirausaha. | Mewakili permintaan akan tenaga kerja. |
| Pengangguran | Bagian angkatan kerja yang tidak bekerja tapi sedang mencari kerja. | Sub-set dari angkatan kerja. | Tidak bekerja meskipun ingin dan aktif mencari. |
Faktor Demografis dan Sosial Pertumbuhan Angkatan Kerja
Pertumbuhan angkatan kerja suatu populasi tidak terjadi secara otomatis mengikuti pertumbuhan penduduk. Beberapa faktor demografis dan sosial sangat berpengaruh. Faktor demografis utama adalah struktur usia penduduk; proporsi penduduk usia muda yang besar (bonus demografi) akan mendorong pertumbuhan angkatan kerja di masa depan. Tingkat fertilitas dan migrasi juga berperan. Dari sisi sosial, peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja, tren pendidikan yang lebih panjang yang menunda masuknya pemuda ke pasar kerja, serta perubahan norma sosial tentang usia pensiun, turut membentuk besaran dan komposisi angkatan kerja.
Dinamika dan Hubungan Antar Variabel
Setelah memahami definisi masing-masing konsep, kini kita melihat bagaimana keempat variabel ini saling mempengaruhi dalam sebuah sistem yang dinamis. Hubungannya tidak statis; perubahan pada satu variabel akan menggerakkan variabel lainnya, seringkali dengan konsekuensi yang kompleks bagi perekonomian.
Pengaruh Pertumbuhan Penduduk terhadap Angkatan Kerja
Peningkatan jumlah penduduk, khususnya di kelompok usia produktif, secara langsung akan memperbesar potensi angkatan kerja. Bayangkan sebuah grafik garis sederhana: sumbu horizontal menunjukkan tahun, dan sumbu vertikal menunjukkan jumlah dalam jutaan. Garis “Penduduk Usia Kerja” akan naik dengan landai seiring waktu. Dengan asumsi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang stabil, garis “Angkatan Kerja” akan mengikuti pola naik yang hampir paralel, hanya sedikit di bawahnya.
Artinya, ledakan kelahiran dua dekade lalu akan berubah menjadi gelombang pencari kerja hari ini. Namun, garis “Kesempatan Kerja” mungkin naik dengan kemiringan yang berbeda, lebih curam jika ekonomi tumbuh pesat, atau lebih landai jika stagnan, yang kemudian menentukan lebar celah pengangguran.
Mekanisme Ketidakseimbangan yang Menyebabkan Pengangguran
Pengangguran pada dasarnya adalah gejala ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Mekanismenya dapat dijelaskan ketika pertumbuhan kesempatan kerja, yang bergantung pada investasi, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan sektor industri, berjalan lebih lambat daripada pertumbuhan angkatan kerja. Setiap tahun, angkatan kerja bertambah dari lulusan baru dan pencari kerja yang belum terserap. Jika ekonomi hanya menciptakan, katakanlah, 1.5 juta lapangan kerja baru sementara angkatan kerja bertambah 2.5 juta orang, maka akan ada tambahan 1 juta orang yang masuk dalam kategori pengangguran.
Ketidakcocokan keterampilan (skill mismatch) antara yang dibutuhkan pasar dan yang dimiliki pencari kerja memperparah situasi ini, menciptakan pengangguran struktural meskipun lowongan ada.
Dampak Tingkat Pengangguran terhadap Perekonomian
Tingkat pengangguran yang tinggi bukan hanya statistik, melainkan sebuah masalah dengan dampak berlapis. Dampaknya merembes ke berbagai aspek perekonomian suatu wilayah.
- Dampak Langsung: Menurunkan pendapatan nasional dan daya beli masyarakat, meningkatkan beban pemerintah untuk program jaminan sosial, serta berpotensi menyebabkan hilangnya keterampilan (skill depreciation) pada pekerja yang menganggur terlalu lama.
- Dampak Tidak Langsung: Dapat memicu ketidakstabilan sosial dan politik, mengurangi tingkat investasi karena permintaan domestik yang lesu, serta meningkatkan kesenjangan pendapatan dan kemiskinan dalam jangka panjang.
Teori Hubungan Kausal dalam Ketenagakerjaan
Banyak ahli ekonomi telah merumuskan hubungan antara variabel-variabel ini. Salah satu perspektif klasik dapat dirangkum sebagai berikut.
“Pertumbuhan penduduk mendorong ekspansi angkatan kerja, yang pada gilirannya meningkatkan penawaran tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal menentukan permintaan akan tenaga kerja dalam bentuk kesempatan kerja. Pengangguran muncul sebagai sinyal ketidakseimbangan pasar tenaga kerja, baik karena kekurangan permintaan agregat (pengangguran siklikal) maupun karena ketidaksesuaian struktural antara penawaran dan permintaan. Kebijakan yang efektif harus menargetkan kedua sisi, yaitu merangsang penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan kualitas penawaran tenaga kerja.”
Pengukuran dan Indikator
Untuk mengubah konsep-konsep teoritis menjadi alat analisis kebijakan yang tajam, kita memerlukan pengukuran yang tepat. Indikator ketenagakerjaan memberikan gambaran numerik tentang kesehatan pasar kerja, membantu pemerintah, pelaku usaha, dan peneliti dalam mengambil keputusan.
Dinamika kependudukan dan ketenagakerjaan memang kompleks, layaknya reaksi kimia yang memerlukan keseimbangan tepat. Seperti halnya menghitung pH Campuran 29 mL 0.1 M CH₃COOH dengan 8 mL 0.05 M NaOH yang membutuhkan presisi, hubungan antara jumlah penduduk, angkatan kerja, dan kesempatan kerja juga harus seimbang. Jika tidak, risiko pengangguran bisa meningkat, mengganggu stabilitas sosial-ekonomi layaknya larutan yang terlalu asam atau basa.
Metode Perhitungan TPAK dan TPT
Dua indikator paling krusial adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPAK mengukur seberapa besar proporsi penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi, baik yang sudah bekerja maupun yang sedang mencari pekerjaan. Rumusnya adalah jumlah angkatan kerja dibagi dengan jumlah penduduk usia kerja, lalu dikalikan 100%. Sementara TPT mengukur proporsi pengangguran terhadap total angkatan kerja. Rumusnya adalah jumlah pengangguran terbuka dibagi dengan jumlah angkatan kerja, lalu dikalikan 100%.
Kedua indikator ini memberikan lensa yang berbeda: TPAK menggambarkan dinamika penawaran tenaga kerja, sedangkan TPT menggambarkan tekanan di pasar kerja.
TPAK = (Angkatan Kerja / Penduduk Usia Kerja) x 100%
TPT = (Pengangguran Terbuka / Angkatan Kerja) x 100%
Perbandingan Indikator Ketenagakerjaan Dua Negara
Mari kita bandingkan indikator hipotetis dari dua negara dengan karakteristik berbeda untuk melihat bagaimana angka-angka ini bercerita.
| Indikator | Negara A (Negara Berkembang) | Negara B (Negara Maju) | Interpretasi Singkat |
|---|---|---|---|
| TPAK | 68% | 62% | Negara A memiliki partisipasi kerja lebih tinggi, mungkin karena lebih sedikit yang melanjutkan pendidikan tinggi atau kebutuhan ekonomi yang mendesak. |
| TPT | 6.5% | 4.0% | Negara B memiliki pasar kerja yang lebih ketat dengan pengangguran lebih rendah. |
| Rasio Ketergantungan | 45% | 55% | Setiap 100 orang usia kerja di Negara A menanggung 45 orang non-usia kerja, lebih ringan daripada Negara B (55 orang), mengindikasikan bonus demografi. |
Keterbatasan Data Pengangguran Resmi
Angka pengangguran resmi, meski penting, memiliki beberapa keterbatasan signifikan. Pertama, angka tersebut seringkali tidak mencakup pengangguran terselubung, seperti pekerja setengah menganggur atau pekerja yang putus asa dan berhenti mencari kerja (discouraged workers) sehingga keluar dari definisi angkatan kerja. Kedua, data mungkin kurang menangkap pekerjaan informal yang luas, dimana pergerakan masuk dan keluar kerja sangat cair. Ketiga, angka agregat nasional bisa menutupi ketimpangan yang dalam antar wilayah, sektor, atau kelompok demografis.
Oleh karena itu, angka TPT resmi biasanya hanya menggambarkan puncak gunung es dari masalah ketenagakerjaan yang sebenarnya.
Contoh Perhitungan TPAK Sederhana
Misalkan data dari sebuah kabupaten menunjukkan jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) sebanyak 500.000 orang. Dari jumlah tersebut, yang tergolong angkatan kerja adalah 350.000 orang (yang bekerja dan menganggur). Maka, TPAK kabupaten tersebut dihitung sebagai berikut: (350.000 / 500.000) x 100% = 70%. Artinya, dari setiap 100 penduduk usia kerja, 70 orang di antaranya aktif di pasar kerja, sedangkan 30 orang lainnya adalah pelajar, pengurus rumah tangga, pensiunan, atau kelompok bukan angkatan kerja lainnya.
Studi Kasus dan Kondisi Nyata
Teori dan angka menjadi hidup ketika kita menerapkannya pada situasi nyata. Melalui studi kasus, kita dapat melihat kompleksitas hubungan antara penduduk, angkatan kerja, kesempatan kerja, dan pengangguran dalam konteks yang spesifik dan relevan.
Skenario Bonus Demografi dan Dampaknya
Bayangkan sebuah daerah yang mengalami ledakan jumlah penduduk muda karena keberhasilan program kesehatan di masa lalu, sehingga sekitar 60% populasinya berusia di bawah 30 tahun. Ini adalah bonus demografi. Dalam jangka pendek, hal ini menekan sistem pendidikan dan kesehatan. Beberapa tahun kemudian, gelombang besar pemuda ini memasuki usia kerja. Jika daerah tersebut berhasil menarik investasi dan mengembangkan industri padat karya atau sektor jasa yang kreatif, bonus demografi bisa berubah menjadi ledakan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Namun, jika investasi mandek dan sistem pendidikan tidak menghasilkan keterampilan yang relevan, gelombang besar angkatan kerja ini justru berisiko berubah menjadi beban demografi, membanjiri pasar kerja yang terbatas dan menyebabkan pengangguran massal serta potensi gejolak sosial.
Kebijakan Menghadapi Pertumbuhan Kesempatan Kerja yang Lambat, Hubungan Jumlah Penduduk, Angkatan Kerja, Kesempatan Kerja, dan Pengangguran
Ketika pertumbuhan kesempatan kerja tertinggal dari pertumbuhan angkatan kerja, pemerintah perlu bertindak multidimensi. Langkah-langkah kebijakan yang dapat diambil antara lain mempercepat pelatihan vokasi dan pemagangan untuk meningkatkan keterampilan angkatan kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri. Insentif fiskal dan kemudahan perizinan dapat diberikan untuk merangsang investasi swasta dan pengembangan UMKM yang padat karya. Di sisi penawaran, program kewirausahaan pemuda dan perluasan kesempatan kerja di sektor publik untuk proyek infrastruktur bisa menjadi penyerap tenaga kerja sementara.
Penting juga untuk memperkuat sistem informasi ketenagakerjaan untuk mempertemukan pencari kerja dan lowongan dengan lebih efisien.
Profil Pengangguran Struktural
Mari kita berkenalan dengan Bayu, seorang lulusan SMA dari daerah yang ekonominya tradisional bergantung pada pertanian. Bayu memiliki keterampilan dasar mengolah sawah, tetapi sektor pertanian di kampungnya sudah jenuh dan mekanisasi mulai masuk. Sementara itu, di kota terdekat, lowongan kerja banyak tersedia di bidang operator mesin pabrik, teknisi, atau layanan digital yang membutuhkan sertifikasi dan keterampilan khusus yang tidak dimiliki Bayu.
Bayu adalah contoh pengangguran struktural. Ia menganggur bukan karena malas atau tidak ada lowongan sama sekali, tetapi karena keterampilannya tidak lagi cocok dengan struktur kesempatan kerja yang baru. Faktor penyebabnya bisa jadi adalah kesenjangan informasi, ketiadaan akses ke pelatihan yang terjangkau, dan perubahan teknologi yang lebih cepat daripada kemampuan adaptasi sistem pendidikan lokal.
Perbandingan Pola Hubungan di Sektor Pertanian dan Jasa
Pola hubungan keempat variabel tersebut sangat berbeda antara sektor tradisional seperti pertanian dan sektor modern seperti industri jasa. Di sektor pertanian, kesempatan kerja seringkali bersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh luas lahan serta produktivitas, sehingga tidak elastis menyerap ledakan angkatan kerja. Peningkatan jumlah penduduk di pedesaan bisa langsung berubah menjadi pengangguran terselubung (underemployment). Sebaliknya, di sektor industri jasa, kesempatan kerja lebih beragam dan potensi penciptaannya lebih dinamis, mengikuti permintaan konsumen dan inovasi.
Pertumbuhan angkatan kerja terdidik justru dapat mendorong pertumbuhan sektor jasa itu sendiri. Namun, sektor jasa juga rentan terhadap ketidakcocokan keterampilan yang tinggi, dimana pengangguran bisa terjadi meski lowongan banyak, jika angkatan kerja tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Proyeksi dan Tantangan Masa Depan: Hubungan Jumlah Penduduk, Angkatan Kerja, Kesempatan Kerja, Dan Pengangguran
Pasar kerja tidak statis; ia terus berubah dipengaruhi oleh tren global, kemajuan teknologi, dan pergeseran demografis. Memproyeksikan tantangan ke depan membantu kita mempersiapkan angkatan kerja dan kebijakan yang lebih resilien dan adaptif.
Tantangan Ketenagakerjaan di Negara dengan Populasi Menua
Berbeda dengan bonus demografi, negara dengan tingkat fertilitas yang menurun dan populasi yang menua, seperti Jepang atau beberapa negara Eropa, menghadapi tantangan sebaliknya. Jumlah penduduk usia kerja akan menyusut, sementara proporsi lansia yang perlu ditanggung membesar. Ini berpotensi menyebabkan kelangkaan tenaga kerja di beberapa sektor, tekanan pada sistem pensiun dan kesehatan, serta melambatnya pertumbuhan ekonomi inovatif. Solusinya mungkin terletak pada meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan dan lansia, mendorong imigrasi terampil, serta berinvestasi besar-besaran pada otomatisasi dan produktivitas untuk mengompensasi jumlah pekerja yang berkurang.
Keterampilan Baru di Era Digital
Perubahan struktur kesempatan kerja di era digital menuntut upskilling atau peningkatan keterampilan yang masif. Jenis keterampilan baru yang diperlukan tidak hanya terbatas pada kemampuan teknis semata. Beberapa yang krusial antara lain literasi data dan digital, kemampuan analitis dan pemecahan masalah kompleks, kreativitas dan inovasi, serta kecerdasan emosional dan kolaborasi. Kemampuan untuk belajar sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi meta-skill yang paling penting, karena pekerjaan dan teknologi akan terus berevolusi dengan cepat, membuat sebagian keterampilan lama menjadi usang.
Pandangan tentang Masa Depan Pekerjaan
“Interaksi antara otomatisasi, kecerdasan buatan, dan pertumbuhan penduduk yang melambat akan mendefinisikan ulang masa depan pekerjaan. Kita tidak akan melihat akhir dari pekerjaan, tetapi transformasi yang mendalam. Pekerjaan rutin dan berulang akan semakin tergantikan, sementara pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, pengambilan keputusan strategis, dan pemeliharaan mesin canggih justru akan tumbuh. Tantangan terbesar bukan pada jumlah lapangan kerja absolut, tetapi pada transisi yang mulus bagi angkatan kerja yang ada untuk pindah ke peran-peran baru, dan pada kesiapan sistem pendidikan untuk mencetak talenta masa depan.”
Peran Wirausaha dan UMKM dalam Penciptaan Kerja
Di tengah keterbatasan lapangan kerja formal dari perusahaan besar, wirausaha dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki potensi besar sebagai mesin pencipta kesempatan kerja yang lincah dan tersebar. Mereka lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal, membutuhkan modal relatif lebih kecil per lapangan kerja yang diciptakan, dan sering kali menjadi inkubator inovasi. Pemerintah dapat memperkuat peran ini dengan mempermudah akses permodalan, memberikan pelatihan manajemen bisnis, membuka akses pasar melalui platform digital, dan menciptakan regulasi yang mendukung tanpa membebani.
Dalam ekonomi yang semakin dinamis, kemampuan untuk menciptakan pekerjaan sendiri (job creator) menjadi sama pentingnya dengan kemampuan untuk mencari pekerjaan (job seeker).
Ringkasan Terakhir
Pada akhirnya, hubungan antara jumlah penduduk, angkatan kerja, kesempatan kerja, dan pengangguran mengajarkan kita tentang keseimbangan. Sebuah negara tidak bisa hanya fokus pada pertumbuhan penduduk atau pembukaan lapangan kerja secara parsial. Masa depan ketenagakerjaan yang inklusif menuntut sinergi kebijakan yang cerdas, investasi pada pendidikan dan keterampilan masa depan, serta daya cipta untuk membuka peluang-peluang baru. Dengan memahami benang merah yang menghubungkan keempatnya, kita bukan hanya membaca data, tetapi sedang merancang peta menuju masyarakat yang lebih produktif dan sejahtera untuk semua.
Pertanyaan Umum yang Sering Muncul
Apa bedanya pengangguran terbuka dan setengah menganggur?
Pengangguran terbuka adalah orang yang sama sekali tidak bekerja tetapi sedang aktif mencari pekerjaan. Sementara setengah menganggur mengacu pada mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu (underemployed) atau bekerja tidak sesuai dengan kompetensi dan pendidikannya (mismatched employment).
Apakah angka pengangguran resmi selalu akurat menggambarkan kondisi?
Tidak selalu. Data resmi seringkali tidak mencakup pengangguran terselubung (seperti setengah menganggur), mereka yang putus asa dan berhenti mencari kerja (discouraged workers), atau pekerja di sektor informal yang kondisi kerjanya sangat rentan.
Bagaimana bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi?
Bonus demografi terjadi ketika proporsi penduduk usia produktif sangat besar. Ini akan menjadi beban jika ekonomi gagal menciptakan kesempatan kerja yang cukup dan memadai, sehingga ledakan angkatan kerja justru berujung pada pengangguran massal dan tekanan sosial yang tinggi.
Mengapa TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja) perempuan sering lebih rendah?
TPAK perempuan dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya (norma domestik), keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, kurangnya fasilitas pendukung seperti penitipan anak, serta diskriminasi di pasar kerja yang membuat banyak perempuan memilih atau “terpaksa” tidak masuk dalam angkatan kerja.