Pengertian Jumlah Pengangguran bukan sekadar angka statistik yang dilaporkan setiap kuartal, melainkan cerminan nyata dari denyut nadi perekonomian dan kesejahteraan sosial suatu bangsa. Angka ini merepresentasikan proporsi angkatan kerja yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperolehnya, sebuah fenomena kompleks dengan wajah dan dampak yang berlapis. Memahaminya adalah langkah pertama yang krusial untuk merancang kebijakan yang tepat sasaran dan membangun masa depan ketenagakerjaan yang lebih inklusif.
Dalam konteks yang lebih mendalam, jumlah pengangguran terbagi menjadi beberapa jenis, seperti pengangguran terbuka, setengah menganggur, dan pengangguran terselubung, masing-masing dengan karakteristik dan tantangan penanganan yang berbeda. Faktor penyebabnya pun multidimensi, mulai dari ketidaksesuaian keterampilan, fluktuasi ekonomi, hingga transformasi struktural di dunia industri. Pengukuran yang dilakukan oleh badan statistik seperti BPS melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pun memiliki metodologi dan keterbatasannya sendiri, terutama dalam menangkap realitas di daerah pedesaan atau sektor informal.
Definisi dan Konsep Dasar Jumlah Pengangguran
Dalam percakapan sehari-hari, istilah ‘pengangguran’ sering kali disederhanakan sebagai kondisi seseorang yang tidak memiliki pekerjaan. Namun, dalam kajian ketenagakerjaan yang lebih mendalam, pengertian ‘jumlah pengangguran’ merujuk pada proporsi angkatan kerja yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperolehnya dalam suatu periode tertentu. Angka ini bukan sekadar statistik belaka, melainkan cerminan dari ketidakseimbangan antara pasokan tenaga kerja dengan permintaan dari dunia usaha, serta menjadi salah satu indikator fundamental kesehatan ekonomi suatu negara.
Mengurai lebih jauh, kondisi ketidakberkerjaan ini tidaklah homogen. Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga statistik global membedakannya ke dalam beberapa kategori utama, seperti pengangguran terbuka, setengah menganggur, dan pengangguran terselubung. Pemahaman terhadap perbedaan ini penting karena dampak dan solusi penanganannya pun akan berbeda.
Perbedaan Pengangguran Terbuka, Setengah Menganggur, dan Terselubung
Pengangguran terbuka adalah kondisi yang paling mudah diidentifikasi, di mana seseorang sama sekali tidak bekerja dan sedang aktif mencari pekerjaan. Sementara itu, setengah menganggur mengacu pada pekerja yang jam kerjanya jauh di bawah normal (kurang dari 35 jam per minggu) dan masih ingin bekerja lebih lama, atau pekerja dengan produktivitas dan pendapatan yang sangat rendah. Yang sering luput dari perhatian adalah pengangguran terselubung, di mana seseorang tampaknya bekerja, tetapi kontribusinya sesungguhnya tidak dibutuhkan atau bisa digantikan tanpa mengurangi output; ini seperti tenaga kerja berlebih di suatu usaha keluarga atau institusi.
| Jenis Pengangguran | Kriteria Utama | Contoh Situasi | Dampak Potensial |
|---|---|---|---|
| Terbuka | Tidak bekerja sama sekali dan aktif mencari pekerjaan. | Lulusan baru yang sedang melamar kerja, karyawan yang di-PHK. | Kehilangan pendapatan total, tekanan psikologis, penurunan konsumsi. |
| Setengah Menganggur | Bekerja kurang dari 35 jam/minggu dan ingin kerja lebih, atau bekerja dengan produktivitas sangat rendah. | Buruh harian lepas yang hanya dapat kerja 2-3 hari seminggu, pekerja dengan upah di bawah minimum. | Pendapatan tidak optimal, ketidakstabilan ekonomi rumah tangga, potensi kemiskinan. |
| Terselubung | Bekerja tetapi kontribusinya berlebihan atau tidak produktif. | Anak yang “dipaksa” membantu di warung keluarga yang sebenarnya tidak membutuhkan tambahan tenaga, kelebihan pegawai di perusahaan negeri. | Inefisiensi ekonomi, rendahnya produktivitas nasional, pemborosan sumber daya manusia. |
Faktor Penyebab Seseorang Masuk dalam Kategori Pengangguran
Penyebab seseorang masuk dalam statistik jumlah pengangguran bersifat multidimensional. Faktor pertama adalah ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan industri, yang sering disebut sebagai skills mismatch. Kedua, perlambatan atau kontraksi ekonomi yang menyebabkan perusahaan mengurangi atau menghentikan rekrutmen. Faktor struktural, seperti transformasi dari ekonomi agraris ke industri yang tidak diimbangi dengan alih keterampilan, juga berperan besar. Selain itu, faktor demografis seperti lonjakan jumlah penduduk usia produktif dan faktor friksional, yaitu jeda waktu yang wajar antara keluar dari satu pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan baru, turut memengaruhi angka ini.
Metode Pengukuran dan Sumber Data Pengangguran: Pengertian Jumlah Pengangguran
Keakuratan data jumlah pengangguran sangat bergantung pada metodologi pengukurannya. Metode yang berbeda dapat menghasilkan angka yang berbeda pula, sehingga memahami cara penghitungannya membantu kita menafsirkan data dengan lebih kritis. Di Indonesia, BPS menjadi otoritas utama yang mengukur pengangguran melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang partisipasi angkatan kerja, pekerjaan, dan pengangguran.
Metode Pengukuran oleh Badan Statistik
Source: slidesharecdn.com
BPS umumnya mengadopsi definisi International Labour Organization (ILO). Seseorang dikategorikan penganggur jika memenuhi tiga syarat utama: berada dalam usia kerja (15 tahun ke atas), tidak memiliki pekerjaan dalam seminggu sebelum survei, dan sedang aktif mencari pekerjaan selama empat minggu terakhir. Metode survei sampel rumah tangga ini memungkinkan BPS untuk mendapatkan gambaran yang representatif meski dengan sumber daya terbatas. Pendekatan lain yang juga digunakan di berbagai negara adalah berdasarkan klaim tunjangan pengangguran atau data administratif dari program ketenagakerjaan pemerintah.
Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Pengukuran
Setiap pendekatan pengukuran memiliki keunggulan dan kelemahannya. Survei angkatan kerja seperti Sakernas dianggap lebih komprehensif karena dapat menjangkau mereka yang tidak terdaftar dalam program pemerintah. Namun, survei ini rentan terhadap bias respons dan memiliki margin of error. Sementara itu, data administratif dari klaim pengangguran lebih akurat secara administratif tetapi hanya mencakup mereka yang memenuhi syarat dan mendaftar, sehingga cenderung mengabaikan pengangguran di sektor informal atau mereka yang baru pertama kali mencari kerja.
Sumber Pengumpulan Data Pengangguran
Data pengangguran dikumpulkan dari beberapa sumber utama. Survei rumah tangga, seperti Sakernas, menjadi tulang punggung. Sensus penduduk yang dilakukan setiap sepuluh tahun juga memberikan data yang sangat mendetail. Di sisi lain, data administratif dari Kementerian Ketenagakerjaan, seperti pencari kerja terdaftar di bursa kerja, serta data dari program jaminan sosial ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan) turut melengkapi gambaran tersebut. Integrasi dari berbagai sumber ini penting untuk mendapatkan analisis yang lebih holistik.
Mengukur pengangguran di daerah pedesaan sering kali lebih kompleks. Banyak penduduk yang terlibat dalam kegiatan pertanian subsisten atau usaha keluarga skala mikro. Mereka mungkin tidak menganggap diri sendiri sebagai ‘penganggur’ karena tetap sibuk, tetapi juga tidak mencari pekerjaan lain secara aktif. Status mereka sering bergeser antara ‘bekerja’ dan ‘tidak bekerja’ bergantung musim panen, sehingga sulit ditangkap oleh definisi pengangguran yang kaku. Fenomena setengah menganggur dan pengangguran terselubung jauh lebih dominan di sini.
Dampak terhadap Perekonomian dan Masyarakat
Tingginya jumlah pengangguran bukan hanya masalah statistik, melainkan sebuah fenomena yang memiliki efek domino yang luas terhadap perekonomian dan struktur sosial. Dampaknya bersifat simultan, saling terkait, dan dapat menciptakan siklus yang sulit diputus jika tidak ditangani secara sistematis.
Dampak Langsung dan Tidak Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Dampak langsung yang paling terlihat adalah hilangnya output potensial. Tenaga kerja yang menganggur berarti barang dan jasa yang tidak diproduksi, sehingga menahan laju pertumbuhan ekonomi. Di sisi fiskal, pemerintah kehilangan potensi penerimaan pajak sekaligus harus menanggung beban pengeluaran yang lebih besar untuk program jaring pengaman sosial. Dampak tidak langsungnya adalah melemahnya daya beli masyarakat, yang pada gilirannya mengurangi permintaan agregat.
Penurunan permintaan ini dapat memaksa perusahaan untuk kembali mengurangi produksi dan tenaga kerja, menciptakan spiral deflasi yang berbahaya.
Konsekuensi Sosial dari Pengangguran Skala Besar
Di tingkat masyarakat, pengangguran yang berkepanjangan dapat mengikis keterampilan individu, sebuah fenomena yang dikenal sebagai depreciated human capital. Tekanan ekonomi yang dihasilkan dapat memicu meningkatnya ketegangan sosial, kriminalitas, dan ketidakstabilan politik. Pada tingkat keluarga, pengangguran sering dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, seperti stres dan depresi, serta meningkatkan kerentanan terhadap kemiskinan antar-generasi, di mana anak-anak dari keluarga penganggur memiliki akses pendidikan dan nutrisi yang terbatas.
| Aspek | Indikator Dampak | Penjelasan Singkat | Efek Jangka Panjang |
|---|---|---|---|
| Ekonomi Makro | Penurunan PDB, Deflasi | Produksi nasional tidak mencapai kapasitas optimal, harga turun karena permintaan lemah. | Resesi berkepanjangan, investasi mandek. |
| Keuangan Negara | Defisit Anggaran | Penerimaan pajak menurun, belanja untuk subsidi dan bantuan sosial meningkat. | Utang pemerintah membengkak, ruang fiskal menyempit. |
| Kesehatan Sosial | Kesenjangan, Kriminalitas | Ketimpangan pendapatan melebar, angka kejahatan properti dan kekerasan cenderung naik. | Polarisasi sosial, erosi kohesi masyarakat. |
| SDM dan Demografi | Hilangnya Keterampilan, Brain Drain | Keterampilan pekerja menjadi usang, tenaga terampil bermigrasi mencari peluang. | Produktivitas nasional stagnan, kehilangan talenta terbaik. |
Siklus Pengangguran dalam Sebuah Komunitas, Pengertian Jumlah Pengangguran
Bayangkan sebuah kota kecil yang menggantungkan hidupnya pada satu pabrik tekstil besar. Ketika pabrik itu tutup karena tidak kompetitif, gelombang PHK massal terjadi. Para pekerja yang kehilangan pekerjaan segera mengurangi pengeluaran mereka. Toko-toko kelontong, warung makan, dan bengkel di sekitar kawasan itu mulai sepi pembeli, sehingga pemilik usaha kecil terpaksa mengurangi karyawan atau bahkan gulung tikar. Pemda mengalami penurunan pendapatan dari pajak daerah, yang berimbas pada pemotongan anggaran untuk perbaikan fasilitas umum.
Anak-anak dari keluarga yang terdampak mungkin harus putus sekolah untuk membantu ekonomi keluarga, yang pada akhirnya membatasi peluang mereka di masa depan. Inilah siklus pengangguran yang menggerogoti komunitas dari dalam, mengubah kota yang pernah ramai menjadi lesu dan penuh ketidakpastian.
Perbandingan dan Analisis Tren Pengangguran
Memahami posisi dan tren jumlah pengangguran di suatu negara memerlukan konteks komparatif, baik secara geografis maupun temporal. Perbandingan dengan negara tetangga dan analisis fluktuasi dari waktu ke waktu dapat mengungkap kekuatan, kelemahan, serta respons kebijakan yang efektif.
Pengertian jumlah pengangguran, secara akademis, merujuk pada proporsi angkatan kerja yang aktif mencari pekerjaan namun belum mendapatkannya. Fenomena ini kerap terkait erat dengan struktur ekonomi suatu wilayah, termasuk karakteristik geografisnya. Sebagai contoh, Kondisi Geografis Pulau Nusa Tenggara yang didominasi kepulauan dan lahan kering turut membentuk pola ketenagakerjaan yang spesifik. Dengan demikian, analisis mendalam terhadap angka pengangguran harus mempertimbangkan variabel geografis seperti ini untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif dan akurat.
Perbandingan Jumlah Pengangguran Indonesia dengan Negara ASEAN
Dalam lima tahun terakhir, tren pengangguran di kawasan ASEAN cukup beragam, dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan respons terhadap pandemi. Sebelum pandemi, Singapura dan Thailand biasanya mencatat angka pengangguran terendah, seringkali di bawah 3%, berkat ekonomi yang terdiversifikasi dan pasar tenaga kerja yang relatif ketat. Vietnam juga menunjukkan performa kuat dengan angka di bawah 3%, didorong oleh sektor manufaktur ekspor yang tumbuh pesat.
Filipina dan Indonesia memiliki angka yang lebih tinggi, berkisar antara 5% hingga 7%, mencerminkan tantangan dalam menyerap angkatan kerja muda yang besar. Pukulan pandemi meningkatkan angka di hampir semua negara, tetapi pemulihannya pun berkecepatan berbeda, dengan Vietnam dan Singapura cenderung pulih lebih cepat.
Tren Fluktuasi Pengangguran di Indonesia Periode Pandemi
Pandemi COVID-19 menjadi ujian stres bagi ketenagakerjaan Indonesia. Sebelum pandemi (2019), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di sekitar 5,28%. Pada puncak dampak pandemi (Agustus 2020), TPT melonjak menjadi 7,07%, mencerminkan guncangan hebat terutama di sektor perdagangan, akomodasi, dan transportasi. Namun, tren pemulihan terlihat sejak 2021. Pada 2022, TPT berhasil ditekan menjadi 5,86%, dan terus turun hingga mencapai level sekitar 5,3% pada awal 2024, mendekati kondisi pra-pandemi.
Pemulihan ini didorong oleh rebound sektor-sektor terdampak, mobilitas yang kembali normal, serta berbagai program bantuan sosial dan insentif usaha yang menjaga daya beli.
Pola Pengangguran Perkotaan versus Pedesaan
Pola pengangguran di perkotaan dan pedesaan di Indonesia menunjukkan perbedaan yang signifikan. Di perkotaan, pengangguran sering bersifat terbuka dan friksional, didominasi oleh lulusan pendidikan menengah dan tinggi yang sedang mencari pekerjaan formal di sektor jasa dan industri. Sementara di pedesaan, pengangguran lebih banyak bersifat terselubung dan musiman. Banyak penduduk yang tercatat sebagai ‘bekerja’ di sektor pertanian, tetapi dengan intensitas kerja dan produktivitas yang rendah, terutama di luar musim panen.
Penyebabnya antara lain terbatasnya diversifikasi ekonomi di pedesaan, akses yang kurang terhadap informasi lowongan, dan kesenjangan keterampilan.
Pengertian jumlah pengangguran, dalam analisis ekonomi, merujuk pada proporsi angkatan kerja yang aktif mencari pekerjaan namun belum terserap. Konsep perubahan dan laju pertumbuhan ini punya analogi dalam kalkulus, seperti saat kita Tentukan diferensial orde 1: f(x)=x³+5x² sin(x²+x) untuk mengukur sensitivitas fungsi terhadap variabel. Pemahaman mendalam terhadap kedua konsep ini, baik dinamika pasar tenaga kerja maupun prinsip matematika dasarnya, crucial bagi perumusan kebijakan yang tepat sasaran dalam menekan angka pengangguran.
Contoh Kebijakan Penekanan Pengangguran dari Berbagai Negara
Jerman dengan program “Kurzarbeit” (Kerja Pendek). Saat krisis finansial 2008 atau pandemi COVID-19 melanda, pemerintah Jerman mensubsidi sebagian gaji karyawan yang jam kerjanya dikurangi oleh perusahaan. Alih-alih di-PHK, karyawan tetap dipekerjakan dengan jam kerja lebih sedikit. Kebijakan ini berhasil mencegah lonjakan pengangguran massal, mempertahankan keterampilan tenaga kerja di dalam perusahaan, dan memungkinkan pemulihan produksi yang cepat ketika permintaan pulih.
Pengertian jumlah pengangguran, secara sederhana, merujuk pada angka absolut individu usia kerja yang aktif mencari pekerjaan namun belum mendapatkannya. Fenomena ini tak lepas dari kesenjangan kompetensi, sebuah isu yang akar historisnya bisa ditelusuri hingga pada pola Sistem Pendidikan Zaman Hindu Buddha Pilihan Jawaban yang lebih terbatas pada kalangan tertentu. Kini, dalam konteks modern, tantangannya bergeser pada relevansi kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja yang dinamis, yang jika tidak terjawab akan terus mendorong angka pengangguran struktural naik.
Singapura melalui SkillsFuture Initiative. Program nasional ini memberikan kredit kepada setiap warga negara untuk mengikuti kursus pelatihan dan peningkatan keterampilan sepanjang hayat. Fokusnya adalah pada penyediaan subsidi untuk pelatihan di bidang-bidang yang sedang tumbuh, seperti teknologi digital, keuangan, dan healthcare. Pendekatan ini secara proaktif mengatasi risiko skills mismatch dan memastikan angkatan kerja Singapura selalu relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
Pendekatan dan Strategi Penanganan Pengangguran
Menangani masalah pengangguran memerlukan pendekatan dua sisi, yaitu dari sisi penawaran (supply) tenaga kerja dan sisi permintaan (demand) dari dunia usaha. Strategi yang efektif harus mampu menjembatani keduanya secara simultan, menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih dinamis dan adaptif.
Kerangka Strategis dari Sisi Penawaran Tenaga Kerja
Strategi dari sisi penawaran berfokus pada meningkatkan kualitas dan relevansi angkatan kerja. Langkah pertama adalah mereformasi sistem pendidikan, dengan memperkuat pendidikan vokasi dan pelatihan teknis yang berorientasi pada kebutuhan industri. Kedua, mengembangkan sistem pemagangan (apprenticeship) yang terstruktur, sehingga lulusan tidak hanya memiliki teori tetapi juga pengalaman praktis. Ketiga, memberikan insentif dan bantuan untuk kewirausahaan, mengubah pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.
Keempat, meningkatkan akses informasi ketenagakerjaan melalui platform digital untuk mempertemukan pencari kerja dan pemberi kerja dengan lebih efisien.
Langkah Pemerintah dalam Menciptakan Permintaan Tenaga Kerja
Di sisi permintaan, pemerintah memiliki peran kunci dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Kebijakan fiskal yang ekspansif, seperti meningkatkan belanja infrastruktur, dapat menciptakan lapangan kerja langsung dan tidak langsung. Memberikan insentif perpajakan bagi perusahaan yang melakukan ekspansi atau merekrut tenaga kerja baru juga efektif. Selain itu, mendorong investasi, baik asing maupun domestik, di sektor-sektor padat karya dan industri strategis masa depan sangat penting.
Pengembangan ekonomi daerah dan sektor pariwisata juga merupakan sumber penciptaan lapangan kerja yang signifikan.
Peran Pendidikan dan Pelatihan Vokasi
Dunia pendidikan, khususnya vokasi, berperan sebagai jembatan antara institusi pendidikan dan dunia industri. Kurikulum yang dikembangkan bersama dengan industri (link and match) memastikan keterampilan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan. Pelatihan sertifikasi kompetensi juga meningkatkan nilai jual lulusan. Inisiatif seperti “Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pusat Keunggulan” atau program “Kartu Prakerja” adalah contoh upaya untuk memperkuat dimensi ini. Tujuannya adalah mengurangi periode transisi dari bangku sekolah ke dunia kerja dan meminimalkan fenomena skills mismatch.
| Jenis Program | Target Penerima | Lembaga Pelaksana | Outcome yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Pelatihan Kompetensi Berbasis Industri | Pencari kerja, pekerja yang ingin meningkatkan skill | BLK, Lembaga Pelatihan Swasta, Perusahaan | Peningkatan keterampilan teknis, kesiapan kerja, penyerapan oleh industri mitra. |
| Kredit Usaha Rakyat (KUR) | Pelaku UMKM dan Koperasi | Bank Penyalur, Kementerian Koperasi & UKM | Pengembangan usaha, perluasan lapangan kerja, peningkatan kapasitas usaha mikro. |
| Program Pemagangan | Lulusan SMK/Perguruan Tinggi | Perusahaan, Kementerian Ketenagakerjaan | Pemerolehan pengalaman kerja riil, penyerapan sebagai karyawan tetap setelah masa magang. |
| Bantuan Sosial Tenaga Kerja (BSTK) | Pekerja yang terdampak PHK | Kementerian Ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan | Jaring pengaman sementara, mempertahankan daya beli selama mencari pekerjaan baru. |
Ringkasan Terakhir
Dengan demikian, mendalami Pengertian Jumlah Pengangguran membawa kita pada kesadaran bahwa angka tersebut adalah gejala dari dinamika ekonomi-sosial yang rumit. Ia bukan akhir dari pembahasan, melainkan titik awal untuk analisis yang lebih tajam. Upaya penurunan pengangguran memerlukan sinergi kebijakan yang holistik, mulai dari penciptaan lapangan kerja, penyesuaian sistem pendidikan vokasi, hingga perlindungan sosial. Pada akhirnya, mengurai benang kusut pengangguran adalah investasi fundamental untuk stabilitas ekonomi, kohesi sosial, dan pemanfaatan potensi sumber daya manusia secara optimal menuju pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata.
FAQ dan Solusi
Apa bedanya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dengan Jumlah Pengangguran?
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah persentase yang menunjukkan proporsi pengangguran terhadap total angkatan kerja. Sementara Jumlah Pengangguran adalah angka absolut (misalnya, 7 juta orang) yang menunjukkan banyaknya individu yang masuk kategori pengangguran. TPT lebih berguna untuk perbandingan antarwaktu atau wilayah karena sudah dinormalisasi.
Apakah seseorang yang tidak mencari kerja karena putus asa termasuk dalam jumlah pengangguran?
Secara definisi baku oleh badan statistik seperti BPS, tidak. Mereka yang tidak aktif mencari pekerjaan (discouraged worker) dikategorikan di luar angkatan kerja, bukan sebagai pengangguran. Inilah salah satu keterbatasan pengukuran, karena kelompok ini sebenarnya mencerminkan potensi tenaga kerja yang tidak terpakai.
Bagaimana pengangguran terselubung diukur jika secara formal seseorang dianggap bekerja?
Pengukuran pengangguran terselubung sangat sulit dan seringkali memerlukan analisis kualitatif atau survei khusus. Indikatornya dapat berupa produktivitas yang sangat rendah, penghasilan di bawah upah minimum, atau pekerja dengan keahlian tinggi yang terpaksa bekerja di bidang yang tidak sesuai kompetensinya. Data ini tidak selalu tercakup dalam survei rutin.
Mengapa angka pengangguran lulusan SMA dan Universitas seringkali tinggi?
Fenomena ini sering dikaitkan dengan kesenjangan (mismatch) antara keterampilan yang dihasilkan oleh sistem pendidikan dengan kebutuhan riil di dunia industri. Di sisi lain, bisa juga disebabkan oleh rendahnya penyerapan tenaga kerja terdidik di sektor formal dan preferensi pencari kerja yang lebih selektif, sehingga masa pencarian kerja menjadi lebih panjang.