Persentase Keuntungan Paman dari Penjualan Motor Bekas bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari kecerdasan berbisnis, ketelitian menghitung, dan strategi jitu dalam dunia otomotif bekas yang penuh dinamika. Bagi banyak orang, berjualan motor bekas terlihat seperti transaksi sederhana, namun di baliknya ada seni mengolah angka dan membaca peluang yang menentukan sukses tidaknya sebuah usaha.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami secara mendalam bagaimana menghitung marjin keuntungan dengan akurat, mulai dari memahami biaya tersembunyi, strategi meningkatkan harga jual, hingga mengelola risiko. Dengan pemahaman yang tepat, setiap transaksi penjualan motor bekas bisa memberikan keuntungan yang optimal dan berkelanjutan, layaknya seorang profesional di bidangnya.
Memahami Dasar Perhitungan Keuntungan Penjualan
Sebelum membicarakan persentase keuntungan, penting untuk memahami fondasi dari mana angka itu muncul. Keuntungan dalam jual beli motor bekas bukan sekadar selisih harga jual dan beli. Ada lapisan biaya dan pertimbangan yang membentuk kedua angka tersebut, yang akhirnya menentukan seberapa sehat margin yang didapat.
Harga beli sebuah motor bekas terdiri dari harga kesepakatan dengan penjual sebelumnya, ditambah biaya pengurusan dokumen seperti balik nama dan pajak jika menjadi tanggung jawab pembeli. Sementara harga jual dibentuk dari harga beli yang sudah dimodifikasi, ditambah biaya perbaikan atau servis, biaya operasional penjualan, dan tentu saja, nilai keuntungan yang diinginkan. Memisahkan setiap komponen ini adalah langkah pertama untuk analisis keuangan yang akurat.
Komponen Biaya Tambahan dan Dampaknya
Setiap rupiah yang dikeluarkan setelah pembelian unit akan mempengaruhi harga jual akhir. Namun, tidak semua pengeluaran memberikan dampak yang sama terhadap kenaikan harga jual di mata calon pembeli. Beberapa investasi kecil justru bisa meningkatkan nilai jual secara signifikan.
| Jenis Biaya Tambahan | Estimasi Biaya | Dampak pada Harga Jual | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Servis Ringan (Oli, filter, tune-up) | Rp 300.000 – Rp 600.000 | Meningkatkan daya tarik & kepercayaan, bisa menaikkan harga jual hingga nilai biaya servis. | Dianggap sebagai perawatan wajib. Pembeli sering enggan membeli motor yang belum diservis. |
| Perbaikan Penggantian Part (Kampas rem, ban) | Rp 500.000 – Rp 1.500.000 | Menaikkan harga jual, namun tidak selalu sepenuhnya kembali. Kenaikan sekitar 50-80% dari biaya part baru. | Keamanan dan keselamatan bernilai tinggi. Ban baru adalah nilai jual yang sangat terlihat. |
| Pengecatan Ulang atau Poles | Rp 800.000 – Rp 2.500.000 | Dampak tinggi pada penampilan, bisa meningkatkan harga jual signifikan jika sebelumnya kusam. | First impression sangat penting. Motor kinclong lebih mudah dijual dengan harga bagus. |
| Biaya Administrasi (Balik Nama, Promosi) | Rp 500.000 – Rp 1.000.000 | Tidak secara langsung menaikkan harga jual, tetapi menjadi komponen biaya yang harus tertutup. | Biaya wajib yang harus dimasukkan dalam kalkulasi untuk mendapatkan keuntungan bersih. |
Contoh Perhitungan Keuntungan Kotor dan Bersih, Persentase Keuntungan Paman dari Penjualan Motor Bekas
Mari kita ambil contoh konkret. Paman membeli sebuah motor matic tahun 2018 seharga Rp 12.000.000. Untuk membuat motor siap jual, Paman mengeluarkan biaya servis dan ganti ban sebesar Rp 1.200.000. Biaya balik nama dan promosi online menghabiskan Rp 600.000. Motor akhirnya berhasil dijual seharga Rp 15.500.000.
Dari transaksi ini, keuntungan kotor adalah selisih langsung antara harga jual dan harga beli: Rp 15.500.000 – Rp 12.000.000 = Rp 3.500.000. Namun, keuntungan bersih harus memperhitungkan semua pengeluaran. Total biaya tambahan adalah Rp 1.200.000 + Rp 600.000 = Rp 1.800.000. Jadi, keuntungan bersih Paman adalah Rp 3.500.000 – Rp 1.800.000 = Rp 1.700.000. Inilah angka sebenarnya yang menjadi dasar perhitungan persentase keuntungan.
Faktor Tidak Langsung yang Mempengaruhi Keuntungan
Selain angka-angka di atas, ada faktor lain yang lebih halus namun berpengaruh. Waktu penjualan sangat krusial; menjual motor tepat sebelum liburan atau tahun ajaran baru seringkali lebih mudah dengan harga yang lebih baik. Reputasi penjual juga aset tak ternilai. Pembeli lebih percaya dan mau membayar lebih kepada penjual yang dikenal jujur, detail dalam menjelaskan kondisi, dan memiliki after-sales service sederhana seperti garansi 1 minggu untuk mesin.
Faktor-faktor ini tidak masuk dalam kalkulasi langsung, tetapi sangat menentukan kecepatan perputaran barang dan besarnya ruang negosiasi.
Menghitung Persentase Keuntungan secara Akurat
Setelah mengetahui keuntungan bersih, langkah berikutnya adalah mengukur efisiensi usaha tersebut dalam bentuk persentase. Perhitungan persentase keuntungan yang tepat membantu Paman mengevaluasi kinerja setiap transaksi dan membandingkan profitabilitas antar unit motor yang berbeda.
Ada dua metode umum yang digunakan, masing-masing memberikan perspektif yang sedikit berbeda. Metode pertama menghitung berdasarkan harga beli, yang lebih umum di dunia usaha. Metode kedua berdasarkan harga jual, yang sering digunakan dalam analisis markup. Memahami keduanya memberikan gambaran yang lebih komprehensif.
Langkah Perhitungan dengan Dua Metode
Menggunakan contoh sebelumnya, di mana keuntungan bersih adalah Rp 1.700.000. Total modal yang dikeluarkan Paman (harga beli + biaya perbaikan & administrasi) adalah Rp 12.000.000 + Rp 1.800.000 = Rp 13.800.000. Harga jual akhir adalah Rp 15.500.000.
Metode 1: Berdasarkan Modal (Harga Beli + Biaya). Rumusnya adalah (Keuntungan Bersih / Total Modal) x 100%. Maka perhitungannya: (Rp 1.700.000 / Rp 13.800.000) x 100% = 12.3%. Ini artinya, dari setiap rupiah yang diinvestasikan, Paman mendapatkan kembalian keuntungan sebesar 12.3%.
Metode 2: Berdasarkan Harga Jual. Rumusnya adalah (Keuntungan Bersih / Harga Jual) x 100%. Perhitungannya: (Rp 1.700.000 / Rp 15.500.000) x 100% = 11%. Persentase ini menunjukkan porsi keuntungan dari total uang yang diterima dari pembeli.
Rumus Inti:
% Keuntungan (Berdasarkan Modal) = (Keuntungan Bersih / Total Modal) x 100%
% Keuntungan (Berdasarkan Jual) = (Keuntungan Bersih / Harga Jual) x 100%
Keterangan Variabel: Keuntungan Bersih = Harga Jual – (Harga Beli + Total Biaya Tambahan). Total Modal = Harga Beli + Total Biaya Tambahan. Harga Jual adalah nilai final transaksi.
Ilustrasi Dua Skenario dengan Biaya Berbeda
Bayangkan dua unit motor A dan B, dibeli dengan harga sama, Rp 10.000.000. Motor A hanya dibersihkan dengan biaya Rp 200.000 lalu dijual Rp 11.500.000. Keuntungan bersihnya Rp 1.300.000 dengan persentase (berdasarkan modal) sekitar 12.7%. Motor B memerlukan perbaikan mesin senilai Rp 1.500.000, kemudian dijual lebih mahal, Rp 13.000.000. Keuntungan bersihnya juga Rp 1.500.000.
Persentase keuntungannya (Rp 1.500.000 / Rp 11.500.000) = 13%.
Meski keuntungan nominal motor B lebih besar Rp 200.000, persentase keuntungannya hanya sedikit lebih tinggi karena modal yang dikeluarkan juga jauh lebih besar. Skenario ini menunjukkan bahwa investasi biaya perbaikan yang tinggi tidak selalu mengubah persentase keuntungan secara dramatis, dan terkadang unit dengan perbaikan minimal justru memberikan efisiensi persentase yang lebih baik.
Kesalahan Umum dalam Perhitungan Persentase
Banyak yang terjebak dalam perhitungan yang mengakibatkan analisis profit menjadi tidak akurat. Berikut adalah beberapa kesalahan umum dan cara menghindarinya.
- Hanya Menggunakan Keuntungan Kotor: Kesalahan terbesar adalah menghitung persentase dari selisih harga jual dan beli saja, tanpa memasukkan biaya perbaikan. Ini akan membuat angka persentase terlihat sangat besar dan menyesatkan.
- Lupa Memasukkan Biaya Administrasi: Biaya balik nama, promosi berbayar, atau transportasi saat mengecek unit sering terlewat. Kumpulkan semua receipt kecil-kecil untuk akumulasi yang tepat.
- Mencampur Metode Perhitungan: Menghitung modal dari harga beli saja, tetapi membaginya dengan keuntungan bersih yang sudah dipotong biaya. Konsistensi rumus adalah kunci. Tentukan satu metode (berdasarkan modal atau harga jual) dan gunakan komponen angka yang sesuai.
- Mengabaikan Nilai Waktu: Motor yang terjual dalam 3 hari versus 3 bulan memiliki “biaya” tersembunyi yang berbeda, seperti uang yang tertahan dan risiko kerusakan. Meski sulit dihitung persis, faktor ini perlu jadi pertimbangan kualitatif.
Strategi Meningkatkan Marjin Keuntungan
Meningkatkan persentase keuntungan tidak selalu harus dengan menjual lebih mahal. Seringkali, optimasi pada proses pembelian dan preparasi lah yang justru memberikan dampak lebih besar. Fokus pada tiga area utama ini dapat secara signifikan memperlebar marjin.
Ketiga area tersebut adalah: akuisisi unit dengan harga terbaik, efisiensi biaya perbaikan dan preparasi, serta teknik penjualan yang efektif untuk mempertahankan harga ideal. Dengan mengelola ketiganya, keuntungan bersih bisa ditingkatkan tanpa harus menaikkan harga jual secara drastis yang justru berisiko membuat unit susah terjual.
Teknik Negosiasi Pembelian
Harga beli yang kompetitif adalah fondasi marjin yang sehat. Beberapa teknik yang bisa diterapkan adalah melakukan riset harga pasar secara mendalam untuk tipe dan tahun yang sama, sehingga Paman tahu batas wajar untuk menawar. Selanjutnya, tunjukkan ketertarikan yang tulus tetapi siap untuk walk away jika harga tidak masuk akal. Kemampuan untuk menilai kondisi teknis motor juga senjata utama; temukan kerusakan kecil yang tidak disadari penjual sebelumnya dan gunakan sebagai dasar negosiasi.
Tawarkan transaksi cepat dan tunai sebagai nilai tambah yang seringkali membuat penjual lama menurunkan harga.
Pemetaan Investasi Perbaikan Ringan
Tidak semua perbaikan memberikan Return on Investment (ROI) yang sama. Strateginya adalah memilih perbaikan yang biayanya relatif rendah tetapi dampaknya terhadap penampilan dan keamanan sangat tinggi, sehingga dapat membenarkan kenaikan harga jual yang proporsional lebih besar.
| Jenis Perbaikan/Modifikasi | Estimasi Biaya | Estimasi Kenaikan Harga Jual | Dampak pada Persentase Keuntungan |
|---|---|---|---|
| Poles Body & Detail Cleaning | Rp 150.000 – Rp 300.000 | Rp 300.000 – Rp 700.000 | Sangat positif. Biaya rendah, meningkatkan first impression secara signifikan. |
| Ganti Handlebar Grip & Tutup Mirror baru | Rp 100.000 – Rp 200.000 | Rp 200.000 – Rp 400.000 | Positif. Memberikan kesan “terawat detail” yang disukai pembeli. |
| Servis CVT & Ganti Roller | Rp 400.000 – Rp 600.000 | Rp 500.000 – Rp 800.000 | Cukup positif. Meningkatkan performa yang langsung terasa saat test drive. |
| Ganti Lampu dengan LED (sesuai peraturan) | Rp 300.000 – Rp 500.000 | Rp 300.000 – Rp 500.000 | Netral. Nilai tambah bagi sebagian pembeli, tetapi tidak selalu menaikkan harga secara penuh. |
Tips Presentasi untuk Calon Pembeli
Cara mempresentasikan motor sangat mempengaruhi persepsi nilai. Pastikan motor dalam kondisi bersih maksimal, baik mesin maupun body, saat ditunjukkan. Siapkan catatan servis atau kwitansi beli part baru sebagai bukti fisik perawatan. Jelaskan dengan jujur kondisi motor, termasuk kekurangan kecil, karena ini membangun kepercayaan. Tawarkan test drive agar pembeli merasakan langsung kualitas motor yang sudah disiapkan.
Dengan presentasi yang profesional dan transparan, pembeli akan lebih memahami alasan di balik harga jual yang ditawarkan dan lebih sedikit melakukan negosiasi yang terlalu agresif.
Studi Kasus dan Analisis Numerik
Teori menjadi lebih jelas ketika diaplikasikan pada contoh nyata. Melalui studi kasus, kita dapat melihat bagaimana variabel-variabel seperti jenis motor, tahun, dan besarnya biaya perbaikan berinteraksi untuk menghasilkan persentase keuntungan akhir yang berbeda-beda.
Berikut adalah analisis dua transaksi fiktif namun realistis, yang menggambarkan dinamika dalam dunia penjualan motor bekas. Perhitungan ini menggunakan metode persentase keuntungan berdasarkan total modal.
Studi Kasus 1: Motor Matic 2019 (Low Maintenance)
- Tipe: Honda Beat 2019
- Harga Beli: Rp 13.000.000
- Biaya Tambahan: Servis umum, ganti oli, bersihkan CVT: Rp 400.
000. Poles body: Rp 200.
000. Biaya balik nama: Rp 500.000. Total Biaya: Rp 1.100.000.
- Total Modal: Rp 14.100.000
- Harga Jual: Rp 16.000.000
- Keuntungan Bersih: Rp 16.000.000 – Rp 14.100.000 = Rp 1.900.000
- Persentase Keuntungan: (Rp 1.900.000 / Rp 14.100.000) x 100% = 13.48%
Studi Kasus 2: Motor Sport 2017 (High Repair Cost)
- Tipe: Yamaha R15 2017
- Harga Beli: Rp 18.000.000
- Biaya Tambahan: Overhaul mesin ringan: Rp 2.500.
000. Ganti ban baru: Rp 1.200.
000. Servis & tune-up: Rp 600.000. Biaya administrasi: Rp 600.
000. Total Biaya: Rp 4.900.000. - Total Modal: Rp 22.900.000
- Harga Jual: Rp 25.500.000
- Keuntungan Bersih: Rp 25.500.000 – Rp 22.900.000 = Rp 2.600.000
- Persentase Keuntungan: (Rp 2.600.000 / Rp 22.900.000) x 100% = 11.35%
Perbandingan yang menarik: Meskipun Keuntungan Nominal pada motor sport (Rp 2.6 juta) lebih besar daripada motor matic (Rp 1.9 juta), Persentase Keuntungan justru lebih rendah (11.35% vs 13.48%). Hal ini terjadi karena modal yang tertanam pada motor sport jauh lebih besar akibat biaya perbaikan yang tinggi.
Analisis Perbandingan Persentase
Studi kasus di atas dengan jelas menunjukkan bahwa nilai keuntungan nominal yang besar tidak serta-merta mencerminkan efisiensi usaha yang lebih baik. Persentase keuntungan yang lebih rendah pada motor sport menunjukkan bahwa usaha dan modal yang dikeluarkan lebih besar untuk setiap rupiah keuntungan yang dihasilkan. Ini bisa disebabkan oleh risiko yang lebih tinggi pada motor tua atau kompleks, atau pasar sekunder untuk motor sport yang lebih fluktuatif.
Unit seperti Honda Beat 2019, dengan perawatan rendah dan permintaan pasar yang stabil, justru bisa memberikan perputaran dan efisiensi persentase yang lebih menguntungkan.
Dampak Fluktuasi Harga Pasar
Source: antarafoto.com
Harga pasar motor bekas sangat dinamis, dipengaruhi oleh perilisan model baru, tren, dan kondisi ekonomi. Sebagai contoh, jika paman membeli sebuah motor dan berencana menjualnya dengan keuntungan 15%, namun tiba-tiba pabrik meluncurkan model generasi baru, harga pasar motor bekas generasi sebelumnya bisa turun 5-10% dalam waktu singkat. Hal ini langsung menggerus keuntungan yang diharapkan. Oleh karena itu, perhitungan keuntungan harus selalu disertai dengan analisis tren pasar terkini dan estimasi waktu penjualan yang realistis.
Membeli unit yang sedang “in demand” dan menjualnya sebelum siklus model baru keluar adalah strategi untuk memitigasi risiko fluktuasi ini.
Manajemen Risiko dan Break-Even Point
Bisnis penjualan motor bekas tidak lepas dari risiko. Mengelola risiko dengan baik berarti melindungi keuntungan yang sudah susah payah dihitung. Konsep kunci dalam manajemen ini adalah memahami titik impas atau break-even point, serta mengidentifikasi potensi gangguan yang bisa muncul.
Menghitung persentase keuntungan dari penjualan motor bekas, seperti yang dilakukan paman, sebenarnya adalah skill finansial dasar yang penting. Jika kamu masih bingung menentukan markup harga yang ideal, Tolong bantu cara melakukannya bisa jadi panduan praktis. Dengan memahami rumus ini, analisis keuntungan paman dari usahanya pun akan terlihat lebih jelas dan terstruktur.
Titik impas adalah harga jual minimum dimana paman tidak untung dan tidak rugi. Mengetahui angka ini sangat penting sebagai batas bawah yang tidak boleh ditembus saat negosiasi. Selain itu, dengan menyadari berbagai jenis risiko finansial, paman dapat menyiapkan strategi untuk menanggulanginya sebelum terjadi.
Konsep Titik Impas dalam Penjualan Motor Bekas
Titik impas dihitung dengan menjumlahkan semua biaya yang telah dikeluarkan, yaitu harga beli dan seluruh biaya tambahan (servis, perbaikan, administrasi). Menggunakan contoh pertama di studi kasus, total modal adalah Rp 14.100.000. Itulah titik impasnya. Jika terpaksa motor harus dijual pada harga tersebut, paman hanya akan mendapatkan kembali uang yang sudah dikeluarkan, tanpa keuntungan sedikitpun. Semua strategi negosiasi harus berangkat dari angka ini, dengan target jelas untuk menjual di atasnya.
Menghitung persentase keuntungan dari penjualan motor bekas ternyata membutuhkan ketelitian serupa saat kita Menghitung Luas Juring POQ dengan Sudut 120° dan Jari‑jari 21 cm. Keduanya adalah soal penerapan rumus yang tepat untuk mendapatkan angka akurat. Nah, setelah paham konsep perhitungan tersebut, kita bisa lebih jeli menganalisis berapa sebenarnya keuntungan bersih yang didapat paman dari usahanya.
Jenis Risiko Finansial yang Mengurangi Keuntungan
Beberapa risiko sering mengintai dan bisa menggerus keuntungan bahkan menyebabkan kerugian. Biaya perbaikan tak terduga adalah yang utama; setelah unit dibeli, mungkin ditemukan kerusakan tersembunyi pada bagian seperti gearbox atau injektor yang memerlukan biaya besar. Penurunan harga pasar mendadak, seperti yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah atau resesi ekonomi, dapat membuat harga jual menjadi di bawah titik impas. Risiko unit tertahan lama juga nyata; motor yang tidak kunjung laku berarti uang modal tertahan, berpotensi terkena kerusakan baru, dan memerlukan biaya promosi tambahan.
Strategi Melindungi Keuntungan dari Risiko
Untuk meminimalkan dampak risiko, beberapa langkah praktis dapat diimplementasikan.
- Inspeksi Mendalam Sebelum Beli: Gunakan montir tepercaya untuk memeriksa kondisi mesin, rangka, dan kelistrikan sebelum deal pembelian. Biaya inspeksi ini jauh lebih kecil daripada biaya perbaikan tak terduga.
- Hitung Titik Impas dengan Konservatif: Selalu tambahkan buffer (misalnya 5-10%) pada estimasi biaya perbaikan. Jika rencana servis Rp 1 juta, anggarkan Rp 1.1 juta dalam kalkulasi titik impas.
- Diversifikasi Jenis Unit: Jangan hanya fokus pada satu tipe motor mahal. Selipkan juga unit-unit dengan harga beli lebih rendah dan permintaan pasar tinggi (seperti matic 110cc) untuk menjaga arus kas dan mengurangi risiko jika satu unit sulit terjual.
- Set Batas Waktu Penjualan: Tetapkan deadline realistis, misalnya 1 bulan. Jika mendekati deadline dan belum laku, pertimbangkan untuk menurunkan harga secara bertahap atau menawarkan paket menarik (seperti gratis helm baru) daripada menahan terlalu lama.
Pentingnya Dana Cadangan Usaha
Dari setiap keuntungan yang didapat, sangat bijak jika dialokasikan sebagian untuk membentuk dana cadangan usaha. Dana ini berfungsi sebagai penyangga jika terjadi transaksi yang merugi atau untuk menutupi biaya tak terduga di unit berikutnya. Sebagai contoh, paman bisa menyisihkan 20-30% dari keuntungan bersih setiap transaksi ke rekening terpisah. Dana cadangan ini memberikan ketenangan pikiran dan keberlanjutan usaha, karena paman tidak perlu mengorbankan modal pokok untuk menutupi masalah yang muncul.
Dengan begitu, siklus jual-beli bisa terus berjalan dengan lebih aman dan terkendali.
Terakhir: Persentase Keuntungan Paman Dari Penjualan Motor Bekas
Menguasai perhitungan Persentase Keuntungan Paman dari Penjualan Motor Bekas adalah kunci transformasi dari sekadar penjual dadakan menjadi pebisnis otomotif bekas yang cerdas. Ini bukan lagi tentang untung-rugi nominal semata, tetapi tentang bagaimana mengelola setiap detail—dari negosiasi pembelian, efisiensi perbaikan, hingga timing penjualan—untuk memaksimalkan setiap rupiah yang diinvestasikan. Dengan pendekatan yang terstruktur dan analitis, bisnis jual-beli motor bekas bisa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan dan lebih terprediksi.
Kumpulan FAQ
Berapa persentase keuntungan yang wajar untuk penjualan motor bekas?
Tidak ada angka baku, tetapi marjin keuntungan bersih (setelah dikurangi semua biaya) antara 5% hingga 15% dari harga beli sering dianggap wajar dan kompetitif, tergantung kondisi motor, merek, dan permintaan pasar.
Apakah biaya perbaikan besar selalu meningkatkan persentase keuntungan?
Perhitungan persentase keuntungan dari penjualan motor bekas ternyata mengajarkan kita untuk lebih jeli melihat nilai tersembunyi, mirip seperti saat kita mengeksplorasi Manfaat Pandan Duri untuk Kesehatan yang sering diabaikan. Keduanya tentang menemukan potensi luar biasa dari sesuatu yang biasa. Begitu pula, paman berhasil meningkatkan margin keuntungannya dengan strategi perawatan dan pemasaran yang tepat, membuktikan bahwa detail kecil sangat berpengaruh.
Tidak selalu. Perbaikan besar hanya meningkatkan keuntungan jika kenaikan harga jual yang didapat jauh lebih besar daripada total biaya perbaikan yang dikeluarkan. Investasi pada perbaikan estetika dan minor sering kali memberikan rasio keuntungan yang lebih baik.
Bagaimana jika motor tidak kunjung laku dan harga pasar turun?
Ini adalah risiko utama. Strateginya adalah dengan memperhitungkan titik impas (break-even point) sejak awal dan memiliki batas waktu penjualan. Jika mendekati batas waktu, pertimbangkan untuk menjual dengan harga yang masih memberikan keuntungan tipis atau impas untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Apakah lebih menguntungkan menjual motor cepat dengan harga murah atau menunggu dengan harga tinggi?
Bergantung pada arus kas dan biaya penyimpanan. Menjual cepat dengan keuntungan lebih kecil bisa memutar modal lebih cepat untuk transaksi berikutnya. Menunggu harga tinggi berisiko jika biaya perawatan tambahan atau penurunan pasar justru menggerogoti keuntungan.