Berikut yang termasuk jenis prosa lama dan baru dalam sastra

Berikut yang termasuk jenis prosa ternyata membentang dari kisah-kisah klasik Nusantara hingga karya-karya modern yang kita baca hari ini. Dunia prosa adalah alam yang luas, tempat cerita dikisahkan dengan bahasa yang mengalir bebas, berbeda dari ritme dan rima puisi. Inilah ranah tempat imajinasi bertemu struktur, di mana setiap kata dirangkai untuk membangun realitas lain, menghidupkan tokoh, dan menyampaikan pesan yang menggedor pikiran serta perasaan.

Memahami jenis-jenis prosa, baik yang lahir dari tradisi lisan maupun tulisan kontemporer, bukan sekadar urusan kategorisasi akademis. Lebih dari itu, ini adalah kunci untuk menikmati kekayaan sastra Indonesia secara lebih mendalam. Dari hikayat yang sarat nilai moral hingga novel yang mengupas kompleksitas manusia modern, setiap bentuk prosa memiliki ciri, bahasa, dan fungsinya sendiri yang unik.

Pengertian dan Ciri-Ciri Prosa

Dalam khazanah sastra Indonesia, prosa merupakan bentuk tulisan naratif yang paling mudah dikenali dan banyak dijumpai. Berbeda dengan puisi yang condong pada pemadatan makna, irama, dan struktur baris yang ketat, prosa menggunakan bahasa yang lebih lepas dan mengalir seperti percakapan sehari-hari. Jika puisi adalah seni menari dengan kata-kata, prosa adalah seni bercerita yang jujur dan langsung. Keberadaannya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin zaman, alat pendidikan, dan medium penyampai nilai-nilai filosofis yang kompleks.

Ciri utama teks prosa terletak pada tiga pilar: struktur, bahasa, dan alur. Dari segi struktur, prosa disusun dalam paragraf-paragraf yang membentuk kesatuan cerita, terdiri dari awal (eksposisi), tengah (konflik dan klimaks), serta akhir (resolusi). Bahasa yang digunakan bersifat deskriptif dan ekspositoris, bertujuan untuk menggambarkan situasi, watak tokoh, dan perkembangan plot secara detail. Alur cerita dalam prosa dapat bersifat linier (kronologis) atau non-linier (flashback, foreshadowing), namun selalu mengutamakan kelogisan dan sebab-akibat dalam peristiwa yang diceritakan.

Perbandingan Prosa Lama dan Prosa Baru

Perkembangan prosa di Indonesia dapat dipetakan secara jelas menjadi dua periode besar: prosa lama dan prosa baru. Pembagian ini bukan sekadar soal waktu, tetapi lebih pada paradigma penulisan, sumber inspirasi, dan fungsi sosialnya. Prosa lama tumbuh dari tradisi lisan dan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha serta Islam, sementara prosa baru lahir dari kontak dengan dunia Barat dan semangat kebangkitan nasional. Tabel berikut membandingkan keduanya berdasarkan beberapa parameter kunci.

Dalam ranah sastra, prosa mencakup narasi bebas seperti novel, cerpen, dan esai yang mengalir tanpa terikat rima. Mirip dengan bagaimana sebuah Sistem Ekonomi yang Ditentukan Pemerintah mengatur alur produksi secara terstruktur, prosa juga memiliki kerangka untuk menyampaikan ide. Kembali ke literatur, esai dan biografi adalah contoh nyata dari jenis prosa yang sering kita jumpai, menawarkan kebebasan berekspresi dalam struktur yang jelas.

Parameter Prosa Lama Prosa Baru Catatan Penting
Bahasa Banyak menggunakan bahasa klise, istana-sentris, dan terikat konvensi. Lebih dinamis, mencerminkan bahasa sehari-hari, dan individualis. Perubahan bahasa menandai pergeseran dari karya kolektif ke karya personal.
Tema Dunia istana, kesaktian, petualangan fantastis, dan ajaran moral-religius. Kehidupan masyarakat umum, kritik sosial, percintaan, dan pergulatan psikologis. Tema prosa baru lebih realistik dan membumi.
Pengaruh Budaya Kuatnya pengaruh India (Hindu-Buddha) dan Persia-Arab (Islam). Pengaruh Eropa (Barat) dalam bentuk, teknik bercerita, dan pemikiran. Pertemuan dengan Barat memicu modernisasi bentuk sastra.
Sifat Penciptaan Anonim, disebarkan secara lisan, dan sering mengalami perubahan. Diketahui pengarangnya, diciptakan untuk dibaca, dan bersifat tetap. Konsep kepengarangan dan hak cipta muncul pada periode prosa baru.
BACA JUGA  Menentukan Nilai Suku ke-5 Barisan Geometri a1=7 r=2 Langsung

Jenis-Jenis Prosa Lama

Prosa lama adalah akar dari tradisi bercerita di Nusantara. Karya-karya ini lahir dan hidup dalam masyarakat yang masih kuat tradisi lisannya, sehingga seringkali bersifat anonim dan disampaikan dari mulut ke mulut. Fungsi utamanya bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral, pengesahan kekuasaan, pelestarian mitos, dan penyebaran agama. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kesetiaan, keberanian, keadilan, dan ketakwaan, menjadi pedoman tidak tertulis bagi masyarakat pendukungnya.

Beberapa jenis prosa lama yang paling menonjol antara lain hikayat, dongeng, cerita berbingkai, dan sejarah (tambo). Hikayat menceritakan kehidupan raja-raja dan pahlawan di istana dengan campuran unsur sejarah dan fantasi. Dongeng, yang terbagi lagi menjadi fabel, mite, dan legenda, adalah cerita rekaan yang mengandung pesan moral atau penjelasan tentang asal-usul suatu fenomena. Cerita berbingkai, seperti Hikayat Seribu Satu Malam, memiliki struktur cerita dalam cerita, di mana sebuah narasi utama menjadi bingkai bagi banyak cerita lain.

Contoh dan Fungsi Sosial Prosa Lama, Berikut yang termasuk jenis prosa

Setiap jenis prosa lama memiliki karakter dan contoh yang khas. Keberagaman ini menunjukkan kekayaan imajinasi dan kebutuhan masyarakat pada masanya.

Maka titah Sang Pertala Dewa, “Pergilah engkau, Semudera, ke dunia manusia. Perbaikilah akhlak mereka yang sudah mulai rusak.” Maka turunlah Semudera ke bumi, menyamar sebagai pengemis tua. (Cuplikan dari Hikayat Indraputra)

Pada zaman dahulu, di hutan yang lebat, hiduplah seekor kancil yang cerdik dan seekor buaya yang serakah. Sang Kancil berjanji akan memberikan banyak daging jika buaya-buaya itu berkumpul. (Cuplikan dari Dongeng Fabel “Kancil dan Buaya”)

Fungsi sosial prosa lama sangat mendalam. Hikayat berfungsi untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaan raja dengan menisbahkan garis keturunannya kepada tokoh sakti atau dewa. Dongeng berfungsi sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak secara halus, di mana nilai baik dan buruk diperlihatkan melalui nasib tokoh-tokohnya. Sementara itu, cerita berbingkai sering digunakan untuk menyampaikan nasihat-nasihat bijak dari seorang guru kepada muridnya, atau dari seorang raja kepada putranya, dengan cara yang lebih menarik dan tidak menggurui.

Jenis-Jenis Prosa Baru

Prosa baru muncul seiring dengan masuknya pengaruh pendidikan Barat dan kebangkitan kesadaran nasional pada awal abad ke-20. Perbedaan mendasarnya dengan prosa lama terletak pada individualitas pengarang, kesadaran akan bentuk karya sastra sebagai seni, serta muatan kritik sosial dan realitas kehidupan yang lebih kuat. Prosa baru tidak lagi berkisah tentang dunia khayal istana, tetapi tentang manusia biasa dengan problematikanya yang nyata.

Bentuknya pun lebih variatif, menyesuaikan dengan panjang cerita dan kedalaman penjelajahan psikologis yang ingin dicapai.

Bentuk-bentuk utama prosa baru dapat dirinci sebagai berikut:

  • Roman: Karya prosa panjang yang mengisahkan kehidupan tokoh utamanya secara lengkap, dari masa kecil hingga dewasa, atau hingga menemui titik perubahan hidup yang berarti. Roman sering mengeksplorasi perkembangan psikologis tokoh secara mendalam.
  • Novel: Serupa dengan roman dalam hal panjang dan kompleksitas, namun cakupan konflik dan jumlah tokoh biasanya lebih banyak. Novel modern lebih berfokus pada satu periode atau konflik tertentu dalam hidup tokoh, dengan struktur alur yang lebih beragam.
  • Cerpen (Cerita Pendek): Karya prosa fiksi yang padat dan singkat, berfokus pada satu insiden, satu tokoh, atau satu kesan tunggal. Kekuatannya terletak pada ekonomi kata dan ending yang seringkali meninggalkan kesan mendalam atau kejutan.
  • Biografi dan Autobiografi: Karya prosa non-fiksi yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang berdasarkan fakta. Biografi ditulis oleh orang lain, sedangkan autobiografi ditulis oleh subjek itu sendiri. Keduanya bertujuan mendokumentasikan dan menginspirasi.

Ciri Khas dan Tokoh Penting Prosa Baru

Berikut yang termasuk jenis prosa

Source: mediaindonesia.com

Masing-masing bentuk prosa baru memiliki ciri, contoh karya, dan tokoh penting yang membidani kelahirannya dalam khasanah sastra Indonesia. Tabel berikut memaparkan perbandingannya.

Bentuk Ciri Khas Contoh Karya Tokoh Penting
Roman Alur kronologis panjang, perkembangan tokoh utuh, bersifat realistis atau sentimental. Siti Nurbaya (Marah Rusli), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana) Marah Rusli, Abdul Muis
Novel Struktur alur kompleks (bisa non-linier), eksplorasi psikologis mendalam, tema lebih beragam. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) Pramoedya Ananta Toer, Nh. Dini, Ahmad Tohari
Cerpen Singkat, padat, fokus pada satu momen epifani, akhir yang sering terbuka atau mengejutkan. Kumpulan Robohnya Surau Kami (A.A. Navis), Radio Masyarakat (Putu Wijaya) A.A. Navis, Putu Wijaya, Danarto
Biografi Berdasarkan fakta sejarah dan penelitian, naratif, bertujuan mengedukasi dan menginspirasi. Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat (Cindy Adams), Hikayat Orang-Orang Djadoel (Sjuman Djaya) Berbagai penulis non-fiksi dan sejarawan.
BACA JUGA  Protein Harus Dicerna Enzim Agar Dapat Diserap Dinding Usus

Contoh Analisis dalam Prosa

Analisis terhadap sebuah karya prosa dapat dilakukan dengan mengurai unsur-unsur intrinsik yang membangunnya. Unsur-unsur seperti tema, penokohan, latar, alur, dan gaya bahasa saling berkait membentuk sebuah kesatuan makna. Melalui analisis ini, kita dapat memahami bukan hanya “apa” yang diceritakan, tetapi juga “bagaimana” dan “mengapa” cerita itu disampaikan dengan cara tertentu. Sebagai contoh, mari kita ambil sebuah kutipan dari cerpen “Kemarau” karya A.A.

Navis.

Senja itu langit merah. Merah seperti api yang baru padam, meninggalkan bara dan kepulan asap tipis. Di ujung jalan tanah, rumah papan Pak Kadi itu tampak miring, seakan hendak rebah diterpa angin yang sebenarnya tidak ada. Di pelataran, seekor ayam jago mengais-ais debu dengan lesu.

Kutipan singkat ini kaya akan unsur intrinsik. Temanya berkaitan dengan kemandegan dan keputusasaan. Penokohan terhadap Pak Kadi dibangun secara tidak langsung melalui gambaran rumahnya yang “miring” dan “seakan hendak rebah”, mencerminkan keadaan hidup atau semangat tokoh yang hampir runtuh. Latar senja dengan langit merah seperti “api yang padam” membangun atmosfer muram, habisnya energi, dan akhir dari suatu hal. Detail “angin yang sebenarnya tidak ada” memperkuat kesan stagnasi, sementara ayam jago yang “lesu” berfungsi sebagai simbol dari kehilangan semangat hidup yang bahkan melanda alam.

Latar bukan sekadar backdrop, ia aktif membangun mood dan mencerminkan kondisi batin tokoh.

Gaya Bahasa dalam Prosa Realis dan Absurd

Penggunaan bahasa dan gaya penulisan sangat menentukan karakter suatu prosa. Dalam prosa realis, seperti yang banyak ditemui pada karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari, bahasa cenderung deskriptif, detail, dan berusaha menangkap realitas sosial-historis secara akurat. Kalimat-kalimatnya sering panjang, beranak kalimat, dan penuh dengan detail sensorik (penglihatan, pendengaran, penciuman) untuk menghadirkan dunia cerita yang konkret dan dapat dipercaya. Tujuannya adalah membuat pembaca merasa hadir di dalam cerita.

Sebaliknya, prosa absurd—seperti dalam karya-karya Putu Wijaya atau Danarto—menggunakan bahasa yang seringkali melompat-lompat, penuh paradoks, dan tidak selalu mengikuti logika realitas sehari-hari. Gaya bahasanya bisa puitis, fragmentaris, atau bahkan seperti mimpi. Tujuannya bukan merepresentasikan realitas luar, tetapi merepresentasikan realitas batin, kecemasan eksistensial, atau kekacauan pikiran. Kalimatnya bisa pendek dan repetitif untuk menciptakan efek tertentu, atau justru berbelit-belit untuk menyampaikan kebingungan.

Dalam kajian sastra, prosa mencakup narasi seperti novel, cerpen, dan esai yang mengalir bebas, berbeda dengan struktur terikat puisi. Namun, logika berpikir sistematis juga diperlukan dalam disiplin lain, misalnya saat Setarakan Reaksi Ba(OH)2(aq) + (NH4)2SO4(aq) → BaSO4(s) + NH3(g) + H2O(l) dalam kimia, yang menuntut ketepatan layaknya menyusun alur dalam prosa naratif. Kembali ke sastra, jenis prosa seperti roman dan biografi tetap menjadi fondasi utama dalam memahami ekspresi kebahasaan yang luas dan mendalam.

Bahasa menjadi alat untuk mengeksplorasi yang tidak rasional dan menantang persepsi pembaca.

Langkah-Langkah Mengidentifikasi Jenis Prosa

Menentukan jenis sebuah karya prosa memerlukan pendekatan sistematis. Prosedur ini tidak hanya berguna bagi akademisi atau pelajar, tetapi juga bagi pembaca umum yang ingin mendalami apa yang sedang dibacanya. Dengan menganalisis berdasarkan periode, struktur formal, dan tujuan penulisannya, kita dapat mengklasifikasikan sebuah teks dengan lebih tepat dan memahami posisinya dalam konteks sastra yang lebih luas.

BACA JUGA  Jumlah Bersalaman dalam Rapat 8 Orang Setiap Pasangan Sekali dan Cara Menghitungnya

Berikut adalah panduan langkah demi langkah yang dapat diterapkan:

  1. Identifikasi Periode: Periksa tahun terbit atau konteks penulisan. Amati bahasa yang digunakan; apakah banyak idiom lama, kosakata istana, dan bersifat klise (mengindikasikan prosa lama), atau menggunakan bahasa modern yang dinamis dan personal (prosa baru).
  2. Analisis Struktur dan Bentuk: Tentukan panjang dan kompleksitas cerita. Apakah sangat panjang dengan banyak episode seperti roman? Padat dan singkat seperti cerpen? Atau berupa kumpulan cerita dalam satu bingkai? Perhatikan juga bagaimana alur dibangun—linier atau non-linier.

  3. Kaji Tema dan Isi: Tanyakan, “Apa yang dibicarakan karya ini?” Apakah tentang dunia fantasi istana dan kesaktian? Atau tentang kehidupan nyata dengan problem sosial dan psikologis? Apakah bersifat fiksi murni, atau berdasarkan fakta sejarah seperti biografi?
  4. Pahami Tujuan dan Fungsi: Coba simpulkan tujuan pengarang. Apakah untuk menghibur dengan kisah petualangan, menyampaikan ajaran moral/religius, mengkritik keadaan sosial, atau mengeksplorasi kompleksitas psikologis manusia? Fungsi ini sering terkait erat dengan jenisnya.
  5. Bandinkan dengan Ciri Khas Jenis Prosa: Setelah data terkumpul, cocokkan karakteristik teks tersebut dengan ciri-ciri umum dari berbagai jenis prosa (seperti yang tertera pada tabel sebelumnya). Kesesuaian terbesar akan menunjukkan klasifikasinya.

Aplikasi Langkah Analisis pada Sebuah Ringkasan Cerita

Misalkan kita memiliki ringkasan cerita fiksi pendek berikut: “Kisah tentang seorang mantan pegawai bank yang terobsesi membersihkan kota dari sampah setelah pensiun. Ia mengumpulkan sampah plastik dan mengubahnya menjadi instalasi seni di pinggir kali. Cerita berfokus pada tiga hari terakhir sebelum pameran pertamanya, diselingi kilas balik tentang masa lalunya yang kelam. Tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok yang keras kepala namun rapuh.”

Dalam kajian prosa, pemahaman tentang jenis-jenisnya seperti novel, cerpen, atau esai memang fundamental. Namun, analisis yang lebih mendalam juga memerlukan pemahaman tentang Jelaskan pengertian unsur segmental dan suprasegmental , yang berkaitan dengan bunyi bahasa dalam karya sastra lisan. Penguasaan kedua aspek ini memperkaya apresiasi kita terhadap berbagai bentuk prosa, dari yang naratif hingga yang eksperimental.

Menerapkan langkah-langkah di atas: (1) Bahasa ringkasan menggunakan istilah modern (“instalasi seni”, “pameran”), mengindikasikan prosa baru. (2) Strukturnya pendek (cerita fokus pada tiga hari) dengan alur non-linier (ada kilas balik), ciri khas cerpen modern. (3) Temanya tentang pencarian makna hidup di usia tua, trauma masa lalu, dan seni sebagai terapi—tema psikologis kontemporer. (4) Tujuannya tampak untuk mengeksplorasi kejiwaan tokoh dan mungkin menyoroti isu lingkungan.

(5) Kesesuaian terbesar adalah dengan cerpen (cerita pendek) dalam kategori prosa baru, khususnya cerpen yang berfokus pada karakter dan momen epifani.

Penutupan Akhir

Dengan menelusuri perjalanan dari prosa lama hingga baru, kita menyadari bahwa sastra adalah cermin yang terus bergerak, merefleksikan zamannya. Prosa bukanlah monolit yang kaku, melainkan bentuk yang lentur dan selalu berevolusi, menyerap pengaruh, dan menciptakan bahasa baru untuk bercerita. Mengidentifikasi jenis-jenisnya memberikan kita lensa yang lebih tajam untuk tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengapresiasi visi pengarang, konteks budaya, dan kekuatan naratif yang membentuk setiap karya.

Pada akhirnya, mengenal prosa adalah langkah pertama untuk terjun sepenuhnya ke dalam samudra cerita yang tak pernah kering.

Tanya Jawab Umum: Berikut Yang Termasuk Jenis Prosa

Apa perbedaan paling mendasar antara prosa dan puisi?

Perbedaan mendasar terletak pada penyajian bahasanya. Prosa menggunakan bahasa yang mengalir bebas seperti percakapan sehari-hari dengan struktur paragraf, sedangkan puisi lebih terikat pada irama, rima, larik, dan bait dengan bahasa yang padat dan penuh kiasan.

Apakah cerita rakyat termasuk jenis prosa lama?

Ya, sebagian besar cerita rakyat seperti dongeng, legenda, dan mite dikategorikan sebagai prosa lama karena berasal dari tradisi lisan, anonim, dan mengandung nilai-nilai pengajaran serta budaya masyarakat pendukungnya.

Bagaimana cara membedakan novel dan roman?

Roman cenderung lebih panjang dan kompleks, menceritakan keseluruhan kehidupan tokoh utamanya dengan berbagai lika-liku, sementara novel bisa lebih fokus pada satu konflik atau fase tertentu dalam hidup tokoh, dengan alur yang mungkin lebih ketat.

Apakah biografi dan otobiografi termasuk karya sastra prosa?

Ya, keduanya termasuk dalam jenis prosa baru non-fiksi. Meski berdasarkan fakta dan data, penulisannya menggunakan gaya bahasa sastra yang naratif dan deskriptif untuk mengisahkan perjalanan hidup seseorang, sehingga memiliki nilai sastra.

Leave a Comment