Asal Usul Surabaya Dari Legenda Hingga Fakta Sejarah

Asal Usul Surabaya bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan narasi hidup yang berdenyut dari mitos, prasasti kuno, hingga geliat pelabuhan yang membentuk metropolis. Kota Pahlawan ini menyimpan lapisan-lapisan cerita yang saling bertaut, mulai dari duel epik antara ikan sura dan buaya di muara Kalimas, hingga bukti arkeologis yang menegaskan perannya sebagai urat nadi perdagangan Nusantara sejak era kejayaan Majapahit. Setiap sudut kota seolah berbisik tentang riwayatnya, mengundang kita untuk menyelami lebih dalam bagaimana sebuah tempat bernama Surabaya lahir dan bertransformasi.

Melalui penelusuran mendalam, terungkap bahwa nama Surabaya sarat dengan filosofi dan nilai perjuangan. Dari analisis linguistik bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta, hingga interpretasi simbolik yang tercermin dalam lambang kota, semua mengarah pada semangat keberanian dan kewaspadaan. Semangat itu pula yang kemudian menjadi jiwa dari setiap perkembangan Surabaya, mulai dari masa kolonial saat VOC membangun benteng pertahanannya, hingga menjadi kota metropolitan yang tetap kokoh menjaga identitas budayanya melalui berbagai tradisi dan kesenian rakyat.

Mitos dan Legenda Pendirian Surabaya

Sebelum menjadi metropolis yang kita kenal sekarang, Surabaya lahir dari kisah-kisah yang dituturkan turun-temurun, memadukan realitas sejarah dengan imajinasi kolektif. Legenda bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan cermin dari nilai-nilai, harapan, dan cara masyarakat masa lampau memaknai lingkungan serta asal-usul mereka. Dua narasi besar yang paling populer, yakni pertarungan antara Sura dan Baya serta peran Raden Wijaya, menjadi fondasi kultural yang membentuk identitas kota ini.

Legenda Pertarungan Sura dan Baya

Dalam legenda yang paling melekat di benak masyarakat, nama Surabaya berasal dari epik pertarungan antara dua kekuatan alam: ikan hiu (Sura) dan buaya (Baya). Konon, kedua binatang perkasa itu awalnya bersahabat, berbagi wilayah perburuan di perairan sekitar muara Sungai Brantas. Namun, persahabatan itu retak karena keserakahan, ketika persediaan mangsa menipis dan masing-masing merasa paling berhak atas wilayah tersebut. Pertempuran pun tak terelakkan.

Bayangkan suasana muara yang gelap oleh cipratan air dan debu, di mana Sura dengan gigi-gigi tajamnya menerjang dengan gesit, sementara Baya mengandalkan cengkeraman rahang yang mematikan dan serangan dari daratan. Pertarungan itu berlangsung sengit, berhari-hari, tanpa ada yang mau mengalah. Akhirnya, kedua pihak yang kelelahan sepakat untuk membagi wilayah: Sura berkuasa penuh di lautan, sementara Baya mendominasi daratan. Garis pertemuan keduanya, yaitu muara sungai, menjadi batas sekaligus penanda tempat pertempuran dahsyat itu terjadi, yang kemudian dinamai Surabaya.

Versi Legenda Raden Wijaya

Selain narasi binatang, terdapat pula legenda yang lebih bersifat historis-mitos, melibatkan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Diceritakan bahwa saat membuka hutan di tepi Sungai Brantas untuk dijadikan permukiman, Wijaya dan pengikutnya dihadang oleh sekawanan buaya dan ikan hiu yang ganas. Dengan kecerdikan dan keberanian, Wijaya berhasil mengatasi rintangan tersebut. Peristiwa penaklukan terhadap penghuni awal wilayah itu kemudian diabadikan dalam nama Surabaya, sebagai simbol kemenangan manusia (yang memiliki sifat berani seperti sura dan waspada seperti baya) atas tantangan alam.

Legenda ini sering dipandang sebagai alegori dari proses pembukaan lahan dan pendirian sebuah komunitas baru yang penuh perjuangan.

Perbandingan Simbolik dalam Berbagai Legenda

Asal Usul Surabaya

Source: buguruku.com

Berbagai legenda asal-usul Surabaya menawarkan lapisan makna yang kaya. Tabel berikut membandingkan elemen simbolik dari beberapa versi cerita yang beredar.

Nama Legenda Tokoh Utama Makna Simbol Pesan Moral
Pertarungan Sura-Baya Ikan Hiu (Sura) dan Buaya (Baya) Konflik antara dua kekuatan alam/dunia (laut dan darat), pencarian keseimbangan. Keserakahan merusak persahabatan. Pentingnya kesepakatan dan pembagian wilayah yang adil untuk menciptakan harmoni.
Raden Wijaya Melawan Binatang Buas Raden Wijaya Manusia (peradaban) yang menaklukkan alam liar, kecerdikan dan keberanian pendiri. Keberhasilan memerlukan keberanian (sura) dan kewaspadaan (baya). Peradaban dibangun dengan mengatasi tantangan.
Pertemuan Sunan Ampel dan Adipati Jayengrono Sunan Ampel, Adipati Jayengrono Pertemuan budaya dan agama (Islam-Jawa), dialog dan pencerahan. Penyebaran agama melalui pendekatan damai dan kearifan. Surabaya sebagai tempat pertemuan berbagai pengaruh.

Tempat-Tempat yang Terkait dengan Legenda

Kisah-kisah legenda tersebut tidak hanya hidup dalam tuturan lisan, tetapi juga terekam dalam toponimi atau nama-nama tempat di Surabaya. Beberapa lokasi berikut dipercaya memiliki kaitan erat dengan cerita asal-usul kota.

  • Jembatan Petekan: Diyakini sebagai lokasi dimana buaya (baya) “dipetek” atau dicekik dalam salah satu varian legenda Raden Wijaya.
  • Wonokromo: Nama area ini sering diartikan sebagai “hutan keramat” (wana + krama), yang diasosiasikan dengan hutan yang dibuka oleh Raden Wijaya.
  • Kalimas: Sungai yang membelah kota ini, namanya berarti “air emas”, menjadi saksi bisu jalur perdagangan sekaligus menjadi bagian dari setting geografis berbagai legenda di tepian Sungai Brantas.
  • Kawasan Muara Kali Mas: Dipercaya sebagai lokasi pertempuran mitologis antara Sura dan Baya, sebagai titik pertemuan antara unsur air (laut/sungai) dan daratan.
BACA JUGA  Tiga Tahap Pembentukan Urine oleh Ginjal Secara Berurutan dan Pentingnya

Bukti Historis dan Arkeologi Awal

Melampaui dunia mitos, jejak-jejak fisik peradaban awal di Surabaya dapat dilacak melalui temuan arkeologi dan catatan sejarah. Bukti-bukti ini mengungkapkan bahwa jauh sebelum nama “Surabaya” populer, wilayah ini telah menjadi permukiman dan titik niaga yang signifikan. Peran geografisnya yang strategis di tepi Selat Madura dan muara Sungai Brantas menjadi penentu utama kemunculannya dalam peta sejarah Nusantara.

Temuan Arkeologi Permukiman Awal

Keberadaan komunitas awal di Surabaya didukung oleh sejumlah penemuan artefak dan prasasti. Prasasti Trowulan I (dari masa Majapahit) misalnya, sudah menyebutkan nama “Churabhaya”. Namun, jejak yang lebih tua lagi ditemukan, seperti Prasasti Kamalagyan (tahun 959 Saka atau 1037 M) dari era Raja Airlangga, yang menyebut tentang adanya “Ujung Galuh”, sebuah pelabuhan di hilir Brantas yang banyak diidentifikasikan sebagai cikal bakal Surabaya.

Temuan lain seperti arca, fragmen keramik asing (Tiongkok dan Vietnam), serta struktur batu bata kuno di beberapa titik seperti di daerah Dupak dan Jambangan, mengindikasikan aktivitas permukiman dan perdagangan yang telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-10 hingga ke-11 Masehi.

Legenda Surabaya yang lahir dari pertarungan epik Suro dan Boyo mengajarkan kita melihat konflik dengan jernih. Namun, untuk melihat detail sejarah yang jauh dengan jelas, kadang dibutuhkan presisi seperti menghitung Kekuatan Lensa Kacamata untuk Miopi dengan Titik Jauh 80 cm. Prinsip fisika optik ini, meski teknis, mengingatkan bahwa kejelasan visi—baik secara harfiah maupun metaforis—adalah kunci. Demikian pula, menelusuri asal-usul Kota Pahlawan memerlukan ketajaman analisis untuk membedakan mitos dan fakta.

Surabaya sebagai Pelabuhan Penting Majapahit

Puncak kejayaan Surabaya di masa pra-kolonial terjadi pada era Kerajaan Majapahit. Dalam kakawin Nagarakretagama yang ditulis Mpu Prapanca pada 1365 M, Surabaya disebutkan sebagai salah satu tanah perdikan (daerah bebas pajak) dan pelabuhan utama yang ramai. Posisinya sebagai pintu gerbang maritim di timur Jawa menjadikannya pusat bongkar muat komoditas dari dan ke pusat pemerintahan di Trowulan, serta titik persinggahan bagi pedagang dari berbagai penjuru.

“… bhumi Surabhaya saka ping saprakara nira nguni, tan wenang rikang ujar ikang watek i juru, mangkana rakwa tinut sukha nira sang prabhu …” (Nagarakretagama, Pupuh 17). Terjemahan bebasnya mengisyaratkan status khusus tanah Surabhaya sejak dulu, yang membuat sang raja (Hayam Wuruk) merasa senang mengunjunginya.

Prasasti-Prasasti Kuno Terkait Surabaya, Asal Usul Surabaya

Beberapa prasasti memberikan gambaran lebih detail tentang kehidupan awal di wilayah ini. Data berikut merangkum beberapa prasasti kunci.

Nama Prasasti Tahun Isi Singkat Lokasi Temuan
Prasasti Kamalagyan 1037 M Menyebut pembangunan bendungan di Waringin Pitu oleh Airlangga dan menyebut nama “Ujung Galuh” sebagai pelabuhan. Aslinya dari daerah Kamal, Surabaya (sekarang disimpan di Museum Nasional).
Prasasti Trowulan I Abad ke-14 M Memuat nama “Churabhaya” sebagai salah satu daerah di wilayah Majapahit. Trowulan, Mojokerto.
Prasasti Wurare 1289 M Dikeluarkan Raja Kertanegara, menyebutkan penghormatan kepada para arya (bangsawan) di “Ujung” yang dimaknai sebagai Ujung Galuh. Wurare, dekat Surabaya.

Peran Sungai Brantas dan Kalimas

Sungai Brantas dan anak sungainya, Kalimas, adalah urat nadi kehidupan Surabaya sejak awal. Brantas berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan utama dari pedalaman Jawa yang subur (menghasilkan beras, kayu, gula) menuju pantai. Kalimas, yang berarti “air emas”, menjadi kanal alamiah yang menghubungkan pusat permukiman dengan pelabuhan di Ujung Galuh. Pola permukiman awal berkembang secara linear di sepanjang tepian sungai-sungai ini, menciptakan komunitas-komunitas pedagang dan pengrajin.

Fungsi sungai sebagai sarana mobilitas dan perdagangan inilah yang mentransformasi Surabaya dari sekadar desa tepian sungai menjadi kota pelabuhan kosmopolitan, sebuah pola yang terus bertahan hingga masa kolonial.

Perkembangan pada Masa Kolonial

Kedatangan bangsa Eropa, khususnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), menandai babak baru dalam sejarah Surabaya. Kota pelabuhan tradisional ini secara sistematis dibentuk ulang menjadi benteng pertahanan dan pusat administrasi perdagangan kolonial yang vital. Transformasi ini tidak hanya mengubah wajah fisik kota melalui arsitektur dan tata ruang, tetapi juga merekonfigurasi struktur sosial masyarakatnya menjadi mosaik multietnis yang kompleks.

Transformasi Menjadi Kota Benteng dan Pusat Dagang VOC

VOC melihat potensi strategis Surabaya yang sangat besar. Pada 1743, setelah berhasil menduduki wilayah ini, VOC segera membangun benteng pertahanan yang kokoh. Surabaya berkembang menjadi “kota benteng” (vestingstad) dengan sistem pertahanan berbenteng, seperti Fort Lodewijk, yang dilindungi oleh kanal-kanal. Fungsi utamanya bergeser dari pelabuhan kerajaan menjadi gudang dan titik pengumpulan komoditas ekspor VOC dari daerah pedalaman Jawa Timur, terutama gula, kopi, dan tembakau.

Posisinya sebagai rival Batavia di barat semakin mengukuhkan statusnya sebagai kota pelabuhan utama di timur Nusantara.

Perkembangan Tata Kota dan Infrastruktur Abad ke-19-20

Di bawah pemerintahan Hindia Belanda pasca-VOC, Surabaya mengalami modernisasi besar-besaran. Pada abad ke-19, sistem kanal diperbaiki, jalan-jalan raya dibangun, dan jaringan kereta api menghubungkan Surabaya dengan Malang dan Pasuruan. Proyek ambisius pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak dimulai awal abad ke-20, menggantikan pelabuhan tradisional di Kalimas, untuk mengakomodasi kapal-kapal uap yang lebih besar. Pembagian permukiman (wijkenstelsel) diterapkan, memisahkan kawasan Eropa (seperti Darmo), Cina (di sekitar Kembang Jepun), Arab (Ampel), dan pribumi.

BACA JUGA  Hitung Massa Air Panas Tambahan untuk Suhu 40°C Panduan Lengkap

Pembangunan fasilitas modern seperti stasiun kereta api, gedung pemerintahan, hotel, dan rumah sakit mengubah Surabaya menjadi kota kolonial terbesar kedua setelah Batavia.

Bangunan Kolonial Bersejarah dan Fungsi Awalnya

Warisan arsitektur kolonial masih banyak berdiri kokoh di Surabaya, menjadi saksi bisu dinamika zaman. Berikut beberapa contoh beserta fungsi historisnya.

  • Gedung Kantor Pos Besar: Berfungsi sebagai pusat layanan pos dan telegraf, mencerminkan pentingnya Surabaya sebagai hub komunikasi.
  • Hotel Majapahit (dulu Hotel Oranje atau Hotel Yamato): Hotel mewah tempat para elite Eropa dan pebisnis menginap, terkenal karena peristiwa penyobekan bendera Belanda pada 19 September 1945.
  • Gedung Internatio: Awalnya merupakan kantor perusahaan dagang besar (handelsvereeniging) yang mengelola ekspor-impor komoditas.
  • Rumah Sakit Darmo: Dibangun sebagai rumah sakit bagi warga Eropa, menampilkan arsitektur Indies yang megah.
  • Jembatan Merah: Titik penting penghubung antara kawasan Europeseche Wijk (permukiman Eropa) dan wilayah bisnis dan permukiman lainnya, menjadi simbol garis pemisah sekaligus pertemuan.

Dinamika Sosial Masyarakat Multietnis

Pertumbuhan Surabaya sebagai kota pelabuhan dan industri menarik gelombang migrasi dari berbagai suku bangsa. Terbentuklah masyarakat yang sangat majemuk: orang Eropa sebagai penguasa dan elite bisnis, orang Tionghoa yang mendominasi perdagangan menengah dan ritel, orang Arab dan India yang berperan dalam perdagangan tekstil dan keuangan, serta masyarakat pribumi Jawa, Madura, dan etnis lainnya yang menjadi tulang punggung tenaga kerja di pelabuhan, pabrik gula, dan sektor informal.

Interaksi, kooperasi, dan terkadang ketegangan antar kelompok etnis ini membentuk karakter sosial kota yang kosmopolitan. Kelas menengah baru, termasuk kaum terpelajar pribumi, mulai tumbuh di lingkungan ini, yang kelak menjadi salah satu elemen penting dalam pergerakan nasional dan semangat perlawanan.

Arti dan Filosofi Nama “Surabaya”

Nama sebuah kota seringkali bukan sekadar label geografis, melainkan sebuah pernyataan filosofis. Surabaya, dengan dua suku kata yang penuh daya, mengemban makna yang dalam yang telah membentuk etos kolektif warganya. Penelusuran etimologi dan interpretasi terhadap nama ini mengungkap bagaimana identitas kota dibangun dari narasi tentang kekuatan, kewaspadaan, dan ketangguhan.

Makna Kata “Sura” dan “Baya”

Secara linguistik, kata “Sura” dan “Baya” berasal dari kosakata bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta. “Sura” (atau sering juga dieja “Suro”) dapat berarti “berani”, “gagah”, “perkasa”, atau merujuk pada ikan hiu. Kata ini berakar dari bahasa Sanskerta “śūra” yang bermakna pahlawan atau orang yang berani. Sementara itu, “Baya” (atau “Boyo”) berarti “bahaya”, “ancaman”, atau merujuk pada buaya. Dalam bahasa Sanskerta, “bhaya” memiliki arti yang sama, yaitu ketakutan atau bahaya.

Dengan demikian, dari sisi bahasa, Surabaya dapat dimaknai sebagai gabungan dari “keberanian” dan “bahaya”, atau secara harfiah sebagai “ikan hiu dan buaya”.

Interpretasi Filosofis sebagai Simbol Keberanian dan Kewaspadaan

Melampaui makna harfiah binatang, kombinasi “Sura” dan “Baya” dipahami sebagai sebuah konsep hidup yang utuh. “Sura” merepresentasikan sikap berani, tangguh, dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Sementara “Baya” melambangkan kewaspadaan, kecerdikan, dan kemampuan untuk mengantisipasi serta mengelola risiko. Filosofi ini mengajarkan bahwa keberanian tanpa kewaspadaan adalah kecerobohan, dan kewaspadaan tanpa keberanian akan berujung pada kelumpuhan. Kota Surabaya, dengan filosofi namanya, diharapkan menjadi tempat bagi manusia-manusia yang tidak hanya kuat tetapi juga cerdik, yang mampu bertahan dan berkembang dalam segala kondisi.

Keterkaitan dengan Semangat Arek-Arek Suroboyo 10 November 1945

Filosofi Surabaya menemukan pembuktian historisnya yang paling nyata dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945. Arek-arek Suroboyo, dengan peralatan seadanya, berani (“sura”) menghadapi pasukan Sekutu yang jauh lebih modern. Namun, perlawanan mereka bukanlah aksi nekat tanpa perhitungan. Strategi perang gerilya di tengah kota, penggunaan taktik yang licik, serta pengetahuan mendalam tentang medan pertempuran menunjukkan tingkat kewaspadaan dan kecerdikan (“baya”) yang tinggi.

Semangat “Sura” dan “Baya” itu melebur menjadi satu, melahirkan epik heroik yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan, sekaligus mengukuhkan identitas warga Surabaya sebagai masyarakat yang keras, egaliter, dan pantang ditindas.

Deskripsi dan Makna Lambang Kota Surabaya

Lambang Kota Surabaya secara visual mengabadikan legenda sekaligus filosofi namanya. Lambang tersebut menampilkan gambar ikan sura (hiu) dan buaya yang sedang berhadapan, saling berhadapan dalam posisi siap bertarung, diapit oleh sebuah monument tugu peringatan. Ikan sura digambarkan berwarna putih, melambangkan kesucian dan keberanian, sementara buaya berwarna hijau tua, melambangkan kesuburan dan kewaspadaan. Keduanya berdiri di atas dasar biru yang melambangkan air (laut dan sungai) sebagai unsur kehidupan.

Di bagian atas terdapat gambar benteng berwarna kuning emas, yang melambangkan ketahanan dan jiwa kepahlawanan. Semboyan “Jer Basuki Mawa Beya” yang menyertai lambang, berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Keberhasilan itu memerlukan pengorbanan”, semakin mempertegas filosofi perjuangan dan ketangguhan yang menjadi jiwa kota ini sejak awal mula.

Tradisi dan Budaya yang Melestarikan Asal Usul

Warisan sejarah dan mitos asal-usul Surabaya tidak hanya tersimpan dalam buku atau monumen, tetapi hidup dan bernafas melalui praktik budaya sehari-hari. Dari upacara sakral hingga kesenian rakyat dan kuliner, masyarakat Surabaya terus mereproduksi dan mereinterpretasi cerita-cerita pendirian kota mereka, memastikan bahwa nilai-nilai leluhur tetap relevan dari generasi ke generasi.

Upacara Ritual Tradisional Terkait Asal-Usul

Salah satu ritual yang secara langsung dikaitkan dengan penghormatan pada leluhur dan elemen pembentuk kota adalah larung sesaji di perairan sekitar Surabaya. Meski tidak sebesar di tempat lain, tradisi sedekah laut atau larung sesaji ke Kalimas dan Selat Madura masih dilakukan oleh sebagian komunitas nelayan tradisional. Ritual ini bertujuan untuk menyatakan rasa syukur kepada penguasa laut, memohon keselamatan, dan secara simbolis dihubungkan dengan penghormatan kepada “penunggu” atau kekuatan alam, termasuk narasi tentang Sura dan Baya, agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

BACA JUGA  Rotasi dan Refleksi Titik (1,1) Agar Kembali ke Posisi Awal Transformasi Geometri

Upacara ini menjadi bentuk dialog kultural antara masyarakat dengan lingkungan sejarah dan mitologis mereka.

Kesenian Rakyat yang Menyisipkan Legenda

Kesenian tradisional berperan sebagai media penyampai cerita yang efektif. Ludruk, teater rakyat khas Jawa Timur, sering kali memasukkan kisah-kisah sejarah dan legenda lokal dalam lakonnya. Cerita tentang Raden Wijaya membuka hutan atau alegori pertarungan antara kebaikan dan kejahatan yang diilhami legenda Sura-Baya dapat ditemukan dalam beberapa sandiwara ludruk. Demikian pula dengan kidung atau tembang Jawa yang dinyanyikan dalam berbagai acara, kadang memuat wejangan atau kisah yang merujuk pada keberanian (sura) dan bahaya (baya) sebagai metafora kehidupan.

Asal usul Surabaya tak lepas dari mitos pertarungan epik antara ikan sura dan buaya, yang melambangkan dinamika elemen alam. Layaknya reaksi kimia yang memerlukan presisi, misalnya dalam Perbandingan N2 dan O2 dari 2 mol N2O3 + 4 mol NO , keseimbangan dalam legenda ini akhirnya melahirkan identitas kota yang tangguh dan penuh semangat juang, mencerminkan karakter masyarakatnya hingga kini.

Tradisi Budaya dan Kaitannya dengan Sejarah Kota

Berbagai tradisi di Surabaya memiliki benang merah dengan sejarah panjang kota, baik sebagai peringatan, penghormatan, atau ekspresi identitas.

Nama Tradisi Waktu Pelaksanaan Deskripsi Singkat Kaitan dengan Sejarah Kota
Ziarah ke Makam Sunan Ampel & Raden Wijaya (di Trowulan) Sepanjang tahun, meningkat di hari-hari tertentu Kegiatan spiritual mengunjungi makam tokoh penting. Menghubungkan diri dengan tokoh legenda pendiri (Wijaya) dan penyebar Islam awal (Sunan Ampel) yang membentuk karakter religius dan kultural Surabaya.
Festival Surabaya Biasanya di bulan Mei (bertepatan Hari Jadi) Pesta rakyat dengan pameran, pertunjukan, karnaval. Merayakan hari jadi kota, menjadi momentum refleksi dan ekspresi kebanggaan akan sejarah dan pencapaian Surabaya dari masa ke masa.
Kirab Budaya menyambut Hari Jadi Tanggal 31 Mei Karnaval yang menampilkan berbagai kontingen dari unsur masyarakat, sejarah, dan legenda. Sering menampilkan replika atau dramatisasi legenda Sura-Baya dan tokoh sejarah, memvisualisasikan narasi asal-usul kepada publik.

Kuliner Khas yang Menyimpan Cerita Sejarah

Kuliner khas Surabaya juga sarat dengan cerita yang terkait dengan lintasan sejarah kota, terutama pada masa kolonial dan pertemuan budaya.

  • Rujak Cingur: “Cingur” berarti moncong sapi. Kuliner dengan cita rasa petis yang kuat ini mencerminkan karakter “keras” dan egaliter warga Surabaya. Konon, hidangan yang memanfaatkan bagian hewan yang kurang elit ini populer di kalangan rakyat biasa dan buruh pelabuhan, menjadi simbol keberanian menyantap apa adanya.
  • Lontong Balap: Dinamai “balap” karena penjualnya dahulu berjualan dengan gerobak yang dipikul dan berlari-lari kecil. Hidangan ini merepresentasikan denyut nadi kehidupan kota pelabuhan yang cepat dan dinamis, serta kehidupan kaum pedagang kecil yang gigih.
  • Sate Klopo: Sate dengan bumbu kelapa ini menunjukkan pengaruh budaya Timur Tengah (dari rempah dan teknik memasak) yang masuk melalui pelabuhan Surabaya, hasil interaksi dengan pedagang Arab dan India.
  • Wedang Asle: Minuman hangat dari jahe dan susu ini sering dikaitkan dengan suasana pelabuhan Kalimas di malam hari yang berembun, menjadi penghangat bagi para pekerja bongkar muat dan nahkoda, mencerminkan kehidupan maritim kota.

Penutupan Akhir: Asal Usul Surabaya

Dengan demikian, Asal Usul Surabaya adalah sebuah mosaik yang lengkap, di mana setiap kepingan—baik mitos, sejarah, maupun filosofi—saling melengkapi untuk membentuk identitas kota yang tangguh dan dinamis. Legenda sura dan baya bukan hanya cerita asal nama, tetapi metafora abadi tentang keseimbangan kekuatan dan kewaspadaan. Sementara bukti-bukti arkeologi dan catatan sejarah menegaskan posisi strategisnya sebagai kota pelabuhan yang telah berdenyut selama berabad-abad.

Legenda Surabaya yang bertumpu pada pertarungan antara hiu (suro) dan buaya (boyo) mencerminkan dinamika elemen-elemen yang saling berhadapan, mirip dengan interaksi partikel subatomik yang membentuk materi. Kajian mendalam tentang Isotop 15/17Cl: Proton, Elektron, dan Neutron dalam Inti mengungkap kestabilan inti atom, sebuah prinsip yang secara metaforis terlihat dalam keseimbangan kekuatan yang akhirnya melahirkan nama dan identitas Kota Pahlawan tersebut.

Narasi ini terus hidup, bukan hanya dalam buku, tetapi dalam semangat arek-arek Suroboyo, dalam ritual tradisional, dan bahkan dalam cita rasa kuliner khasnya, menjadikan Surabaya sebuah kota dengan akar yang dalam dan semangat yang tak pernah padam.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Apakah ada bukti fisik atau monumen yang menandai lokasi pertarungan sura dan baya?

Tidak ada bukti arkeologis yang menandai lokasi pertempuran mitologis tersebut. Namun, simbol pertarungan ini diabadikan dalam Lambang Kota Surabaya berupa gambar ikan sura dan buaya, serta pada Tugu Sura dan Baya yang terletak di dekat Jembatan Merah, sebagai bentuk pengingat akan legenda pendirian kota.

Mengapa Sungai Brantas begitu penting dalam sejarah awal Surabaya?

Sungai Brantas, dengan anak sungainya yaitu Kalimas, berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan utama yang menghubungkan pedalaman Jawa dengan pesisir. Lokasi Surabaya di muara sungai ini menjadikannya pelabuhan alamiah yang strategis untuk perdagangan antarpulau dan internasional sejak era Kerajaan Majapahit, sekaligus mendukung perkembangan permukiman awal di sekitarnya.

Bagaimana masyarakat Surabaya masa kini memaknai legenda asal-usul kotanya?

Legenda sura dan baya umumnya dipahami sebagai simbol filosofis yang mencerminkan karakter warga Surabaya: berani (sura) namun juga waspada dan cerdik (baya). Nilai-nilai ini sering dikaitkan dengan semangat perjuangan dalam peristiwa 10 November. Legenda ini juga dilestarikan melalui kesenian rakyat seperti ludruk, nama tempat, dan menjadi bagian dari identitas budaya yang dibanggakan.

Apakah nama “Surabaya” pernah berubah atau memiliki sebutan lain dalam catatan sejarah?

Dalam beberapa sumber sejarah seperti Nagarakretagama, Surabaya disebut dengan nama “Ujung Galuh”. Nama ini merujuk pada daerah pelabuhan yang berada di wilayah yang kini menjadi Surabaya. Perubahan atau pengalihan nama dari Ujung Galuh menjadi Surabaya terjadi seiring waktu dan konsolidasi kekuasaan, dengan nama Surabaya kemudian menjadi lebih dominan dan tetap digunakan hingga sekarang.

Leave a Comment