Alasan Bersikap Santun kepada Orang Tua Fondasi Hidup Bermartabat

Alasan bersikap santun kepada orang tua bukan sekadar aturan usang atau beban generasi lama, melainkan sebuah kode etik hidup yang terbukti membentuk pribadi utuh dan hubungan yang hangat. Dalam pusaran kehidupan modern yang serba cepat, nilai kesantunan ini justru menjadi jangkar yang menenangkan, mengingatkan kita pada akar dan identitas. Mari kita telusuri bersama mengapa sikap hormat ini begitu fundamental, bukan hanya dari kacamata budaya dan agama, tetapi juga dari sisi psikologis dan sosial yang sangat nyata dampaknya bagi perkembangan diri.

Pada dasarnya, bersikap santun adalah wujud penghargaan atas perjalanan hidup, pengorbanan, dan kasih sayang yang telah diberikan orang tua. Prinsipnya melibatkan rasa hormat, kesabaran, dan empati yang tercermin dalam setiap interaksi, mulai dari cara berbicara hingga bahasa tubuh. Perilaku ini, meski terlihat sederhana, memiliki daya ungkit yang besar dalam membangun keharmonisan keluarga dan bahkan membentuk reputasi seseorang di tengah masyarakat.

Dasar-dasar Sikap Santun kepada Orang Tua

Sikap santun kepada orang tua bukan sekadar tradisi usang, melainkan fondasi utama dari hubungan keluarga yang sehat. Dalam konteks ini, santun berarti menghargai keberadaan, pengorbanan, dan pengalaman hidup orang tua melalui sikap, perkataan, dan perbuatan yang penuh hormat dan kelembutan. Ini adalah bahasa cinta yang universal, yang diterjemahkan ke dalam tindakan nyata sehari-hari.

Bersikap santun kepada orang tua adalah pondasi hubungan yang kokoh, layaknya hipotenusa dalam segitiga siku-siku yang menjadi sisi terpanjang dan penopang utama. Nah, kalau penasaran bagaimana sisi miring ini didefinisikan secara tepat, kamu bisa baca ulasan lengkapnya tentang Pengertian Hipotenusa pada Segitiga Siku‑siku. Memahami konsep ini mengajarkan kita tentang pentingnya fondasi yang kuat, persis seperti rasa hormat yang menjadi dasar kehidupan bermakna bersama keluarga.

Prinsip dasarnya dibangun dari tiga pilar utama: rasa hormat yang tulus, rasa syukur yang mendalam, dan kesadaran akan posisi orang tua sebagai pintu pertama kita mengenal dunia. Hormat berarti mengakui otoritas dan kebijaksanaan mereka. Syarat terwujudnya perilaku ini adalah kesadaran bahwa setiap interaksi, sekecil apa pun, adalah cerminan dari nilai-nilai yang kita pegang.

Perbandingan Perilaku Santun dan Dampaknya

Untuk memahami lebih jelas, mari kita lihat perbedaan antara sikap santun dan tidak santun dalam situasi sehari-hari. Perbandingan berikut akan menunjukkan bagaimana tindakan yang tampak sederhana dapat membawa dampak yang sangat berbeda bagi hubungan dan iklim keluarga.

Situasi Perilaku Santun Perilaku Tidak Santun Dampak Jangka Panjang
Saat dipanggil Menyahut dengan segera, datang menghadap, dan menatap dengan sopan. Membalas dengan teriak dari jarak jauh, “Iya, sebentar!” tanpa bergerak, atau bahkan mengabaikan. Membangun rasa dihargai dan komunikasi yang efektif vs. menumbuhkan kekecewaan dan pola komunikasi yang buruk.
Ketika meminta sesuatu Menggunakan kata “tolong”, “Bolehkah saya…”, dan “terima kasih” setelahnya. Menyuruh atau memerintah langsung, “Beliin ini dong,” tanpa basa-basi. Mengajarkan kerendahan hati dan apresiasi vs. menanamkan sikap entitlement dan kurang ajar.
Dalam menyampaikan pendapat berbeda “Maaf, Bunda. Boleh saya menyampaikan pandangan yang sedikit berbeda?” dengan nada tenang. Langsung membantah, “Ah, Ibu itu ketinggalan zaman sih, cara berpikirnya sudah nggak relevan.” Memperkaya diskusi dengan tetap menjaga harga diri orang tua vs. melukai perasaan dan menutup ruang dialog.
Saat orang tua memberikan nasihat Mendengarkan dengan saksama, mengangguk, dan merespons dengan, “Terima kasih nasihatnya, saya akan coba pikirkan.” Mematung, melihat ponsel, atau memotong pembicaraan dengan, “Sudah tahu, cerewet banget sih.” Orang tua merasa didengar dan dihormati pengetahuannya vs. merasa tidak berguna dan akhirnya enggan berbagi.

Wejangan Budaya Lokal tentang Berbakti

Kearifan lokal Indonesia sarat dengan ajaran tentang bakti kepada orang tua. Nilai ini bukan hanya omongan, tetapi telah menjadi pedoman hidup turun-temurun. Salah satu wejangan yang paling terkenal dan dalam maknanya berasal dari budaya Jawa.

“Ora obah ora mamah, obah nganggo momong. Wong tuwa iku kudu diemong, dadi bocah iku kudu momong.” (Tidak bergerak tidak makan, bergerak dengan mengasuh. Orang tua itu harus dirawat, jadi anak itu harus mengasuh.)

Wejangan ini mengajarkan bahwa merawat orang tua yang sudah lanjut usia adalah sebuah siklus alamiah kehidupan. Sebagaimana mereka dulu mengasuh kita saat lemah dan tak berdaya, kewajiban kitalah untuk membalas budi dengan mengasuh mereka di masa tuanya. Ini adalah konsep timbal balik yang penuh kasih, bukan beban.

BACA JUGA  Rotasi dan refleksi titik (1,1) agar kembali ke posisi semula

Nilai-nilai Budaya dan Agama tentang Hormat kepada Orang Tua

Indonesia, dengan keberagaman suku dan agamanya, memiliki benang merah yang sangat kuat: penghormatan tinggi kepada orang tua. Nilai ini terpatri dalam berbagai sistem budaya dan ajaran agama, menciptakan sebuah mozaik indah tentang bagaimana seharusnya relasi antar generasi dibangun.

Nilai Kesantunan dalam Budaya Indonesia, Alasan bersikap santun kepada orang tua

Setiap budaya memiliki caranya yang unik dan mendalam dalam mengekspresikan rasa hormat. Dalam budaya Jawa, konsep sungkan dan hormat sangat kental. Seorang anak tidak boleh berdiri lebih tinggi, melangkahi, atau berbicara dengan nada tinggi kepada orang yang lebih tua, termasuk orang tua. Bahasa Jawa memiliki tingkatan ( unggah-ungguh) yang secara otomatis mengatur kesantunan ini. Di budaya Sunda, ada istilah someah hade ka semah (ramah tamah kepada tamu) yang juga diterapkan dalam keluarga, dimana orang tua dihormati seperti tamu kehormatan.

Sementara dalam budaya Batak, penghormatan kepada orang tua dan marga adalah bagian dari Dalihan Na Tolu, yang menempatkan posisi somba marhula-hula (menghormati pihak keluarga istri) juga mencerminkan penghormatan kepada garis keturunan.

Ajaran Agama tentang Kewajiban Menghormati Orang Tua

Semua agama utama di Indonesia menempatkan bakti kepada orang tua pada posisi yang sangat utama, seringkali tepat setelah kewajiban kepada Tuhan. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua ( birrul walidain) adalah perintah langsung yang disandingkan dengan tauhid. Durhaka kepada mereka ( uququl walidain) termasuk dosa besar. Kristen dan Katolik mengukuhkannya dalam Sepuluh Perintah Allah, “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Dalam ajaran Hindu, konsep Pitri Rina menyatakan hutang kepada leluhur (orang tua) adalah salah satu hutang yang harus dibayar dalam hidup.

Buddha mengajarkan untuk melayani orang tua dengan lima cara: dengan memikul tanggung jawab keluarga, menjaga tradisi keluarga, bertindak sehingga dapat dipercaya, membuat diri layak menerima warisan, dan mempersembahkan jasa apabila orang tua telah meninggal.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai-nilai luhur ini hidup bukan hanya dalam upacara, tetapi dalam aksi nyata. Seorang anak Muslim mungkin akan selalu mencium tangan orang tua saat akan pergi dan pulang, sambil mengucap salam. Dalam keluarga Kristen, mungkin diwujudkan dengan mendoakan orang tua secara khusus dalam doa keluarga. Dari sisi budaya, seorang anak Jawa akan secara otomatis menggunakan bahasa krama (tingkatan halus) ketika berbicara dengan orang tuanya sebagai bentuk unggah-ungguh.

Pada hari-hari tertentu seperti tahun baru Imlek, anak-anak keturunan Tionghoa melakukan Sunjiao, yaitu bersujud kepada orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua untuk menunjukkan rasa hormat dan memohon berkat. Ritual-ritual kecil ini adalah pengejawantahan nyata dari nilai-nilai besar yang dipegang teguh.

Manfaat dan Dampak Positif Bersikap Santun

Bersikap santun kepada orang tua sering dilihat sebagai kewajiban sepihak. Padahal, di balik tindakan tersebut tersimpan segudang manfaat yang justru kembali kepada anak sendiri, baik secara psikologis, sosial, maupun dalam pembentukan karakter.

Manfaat Psikologis dan Sosial bagi Anak

Secara psikologis, kebiasaan bersikap santun menciptakan rasa tenang dan damai dalam diri. Tidak ada beban rasa bersalah atau konflik batin karena telah memperlakukan orang tua dengan baik. Ini juga melatih emotional intelligence, seperti kesabaran, empati, dan kemampuan mengendalikan ego. Secara sosial, anak yang dikenal santun kepada keluarganya sendiri akan lebih mudah dihormati dan dipercaya dalam pergaulan. Orang lain cenderung melihatnya sebagai pribadi yang stabil, dapat diandalkan, dan memiliki dasar keluarga yang kuat.

Dampak terhadap Keharmonisan Keluarga

Kesantunan adalah pelumas bagi mesin hubungan keluarga. Ketika komunikasi dibangun dengan kata-kata yang baik dan sikap hormat, maka diskusi bahkan tentang hal sulit pun dapat berjalan lebih lancar. Ikatan emosional menjadi lebih kuat karena dilandasi rasa saling menghargai, bukan sekadar ikatan darah. Keluarga menjadi tempat yang aman secara emosional bagi semua anggotanya, termasuk orang tua yang mungkin merasa rentan di usia senja.

Keharmonisan ini menciptakan siklus positif, dimana anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini akan mencontoh dan menerapkan pola yang sama di masa depan.

Pembentukan Karakter dan Reputasi

Sikap santun yang konsisten tidak hanya membentuk pribadi yang baik di rumah, tetapi juga mengukir karakter dan reputasi seseorang di mata masyarakat. Berikut adalah beberapa poin pentingnya:

  • Membangun Integritas: Konsistensi antara sikap di rumah dan di luar menunjukkan keutuhan karakter. Orang yang hormat pada orang tuanya dianggap memiliki prinsip yang kuat.
  • Meningkatkan Kredibilitas: Dalam dunia profesional atau sosial, reputasi sebagai anak yang berbakti sering dikaitkan dengan rasa tanggung jawab dan loyalitas yang tinggi.
  • Memperluas Jaringan Positif: Orang-orang cenderung tertarik dan ingin berelasi dengan individu yang dianggap baik dan menghormati keluarganya, karena itu mencerminkan nilai dasar yang dapat dipercaya.
  • Menjadi Teladan bagi Generasi Berikutnya: Perilaku santun adalah warisan non-material yang paling berharga untuk diturunkan kepada anak dan cucu kelak.
  • Menciptakan Kedamaian Batin: Mengetahui bahwa kita telah berbuat baik kepada orang yang berjasa dalam hidup kita memberikan kepuasan dan ketenangan jiwa yang tidak ternilai harganya.
BACA JUGA  Volume Air dalam Bak Kubus Sisi 4 cm Terisi 3/4 dan Dunia di Baliknya

Bentuk-bentuk Perilaku Santun dalam Interaksi Sehari-hari

Kesantunan itu konkret dan bisa diamati. Ia terpancar dari hal-hal kecil yang sering kita anggap remeh, mulai dari cara kita berbicara hingga bahasa tubuh kita. Memahami bentuknya membantu kita untuk mempraktikkannya dengan lebih sadar dan tulus.

Komunikasi Verbal yang Menghormati

Pilihan kata dan nada bicara adalah cermin pertama dari rasa hormat. Gunakanlah kata panggilan yang penuh kasih seperti “Bunda,” “Ayah,” “Mama,” “Papa,” daripada sekadar “lo” atau ” kamu”. Selipkan kata “tolong,” “maaf,” “permisi,” dan “terima kasih” dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, “Bunda, tolong ambilkan itu ya,” terdengar jauh lebih baik daripada “Bunda, ambilin itu.” Saat menyanggah, awali dengan permohonan maaf dan ungkapkan dengan kalimat yang tidak menyudutkan, seperti “Maaf ayah, bolehkah saya memberikan pendapat yang sedikit berbeda?” Nada bicara harus terjaga, tidak tinggi, tidak terkesan menggurui, apalagi sarkastik.

Komunikasi Non-Verbal yang Penuh Perhatian

Bahasa tubuh sering berbicara lebih lantang daripada kata-kata. Tatapan mata yang lembut dan penuh perhatian saat orang tua berbicara menunjukkan bahwa kita serius mendengarkan. Duduk atau berdiri dengan posisi yang tidak lebih tinggi dari mereka saat berbincang (misalnya, tidak berdiri jika mereka duduk). Sentuhan fisik yang hangat seperti menggandeng tangan, menepuk pundak, atau membelai punggung dapat menyampaikan rasa sayang yang dalam.

Hindari bahasa tubuh tertutup seperti menyilangkan tangan, menghela napas panjang, atau melihat jam berulang kali yang menandakan ketidaksabaran.

Prosedur Meminta Izin dan Menyampaikan Perbedaan Pendapat

Ada seni tersendiri dalam meminta izin atau menyampaikan pendapat yang berbeda dengan tetap menjaga wibawa dan perasaan orang tua. Berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan:

  1. Pilih Waktu yang Tepat: Dekati orang tua saat mereka sedang santai, tidak sibuk, atau tidak dalam kondisi lelah dan marah.
  2. Awali dengan Sapaan dan Permohonan Perhatian: “Maaf, Bunda. Ada waktu sebentar untuk bicara?”
  3. Sampaikan dengan Jujur dan Lugas: Jelaskan keinginan atau pendapat Anda dengan jelas. Untuk permintaan izin, sampaikan juga rencana, tujuan, dan jaminan keamanan. Untuk perbedaan pendapat, fokus pada fakta dan perasaan Anda, bukan pada menyalahkan mereka.
  4. Dengarkan Respons Mereka dengan Sepenuh Hati: Beri mereka ruang untuk bereaksi dan menyampaikan kekhawatiran atau pertimbangan mereka. Jangan memotong pembicaraan.
  5. Ajukan Solusi atau Kompromi: Tunjukkan bahwa Anda telah memikirkan matang-matang. “Kalau Bunda khawatir, saya bisa pulang sebelum maghrib dan melapor via telepon.”
  6. Terima Keputusan dengan Ikhlas: Jika permintaan ditolak atau pendapat tidak diterima, terima dengan kepala dingin. Anda bisa berkata, “Baik, kalau begitu saya hormati keputusan Bunda/Ayah. Mungkin lain waktu kita bisa bicarakan lagi.”

Tantangan Modern dan Cara Mengatasinya

Era digital dan percepatan perubahan sosial membawa tantangan baru dalam menjaga kesantunan kepada orang tua. Gap generasi yang lebar, disrupsi teknologi, dan nilai individualisme seringkali menjadi tembok yang tidak terlihat antara anak dan orang tua.

Tantangan di Era Digital

Kehadiran gawai menjadi tantangan terbesar. Perhatian yang terpecah antara percakapan dengan orang tua dan notifikasi ponsel adalah bentuk ketidaksantunan modern. Selain itu, akses informasi yang sangat mudah terkadang membuat anak merasa lebih tahu segalanya daripada orang tua, memicu sikap meremehkan. Pola komunikasi yang serba cepat dan informal di media sosial juga sering terbawa ke dalam interaksi keluarga, menghilangkan unsur unggah-ungguh yang penting.

Bersikap santun kepada orang tua bukan sekadar tradisi, tapi investasi kebaikan yang nilainya tak terhingga. Sama seperti kita menghitung nilai dengan teliti, misalnya saat Hitung 450.000 × 2/3 × 100.000 untuk memahami proporsi yang tepat, menghargai jasa mereka adalah kalkulasi moral yang paling mendasar bagi kehidupan yang harmonis dan penuh makna.

Strategi Menjaga Kesantunan di Tengah Perbedaan

Kunci utamanya adalah membangun jembatan, bukan tembok. Pertama, latih active listening yang sebenarnya. Letakkan ponsel, tatap mata mereka, dan dengarkan tanpa menyiapkan sanggahan di kepala. Kedua, gunakan teknologi untuk mendekatkan, bukan menjauhkan. Ajari orang tua menggunakan aplikasi video call atau media sosial dengan sabar, sehingga mereka tidak merasa ditinggalkan.

Ketiga, jadikan perbedaan sebagai bahan diskusi, bukan debat. Gunakan kalimat seperti, “Menarik ya pendapat Ayah. Dari sisi saya, saya melihatnya begini karena…” Alih-alih, “Itu sih salah.”

Skenario Penerapan Sikap Santun yang Menantang

Alasan bersikap santun kepada orang tua

Source: co.id

Bayangkan Rina, seorang mahasiswa semester akhir yang tinggal bersama orang tuanya. Ayahnya yang sudah pensiun sangat protektif dan selalu melarang Rina pergi ke acara diskusi kampus di malam hari karena khawatir. Suatu hari, ada diskusi penting dengan pembicara dari luar kota yang sangat ingin dihadiri Rina. Daripada marah atau berbohong, Rina memilih pendekatan santun. Sebelum makan malam, ia membantu ibunya menyiapkan meja.

BACA JUGA  Menentukan Panjang Lintasan Lingkaran Randi dan Rangga dari Kecepatan dan Waktu

Saat makan, ia bercerita tentang pembicara tersebut, prestasinya, dan topik diskusinya dengan antusias, menunjukkan bahwa ini adalah kesempatan belajar, bukan sekadar hura-hura. Ia lalu berkata, “Ayah, saya sangat ingin ikut acara ini karena relevan dengan skripsi saya. Saya janji akan berangkat dan pulang bersama teman-teman yang bisa dipercaya. Saya juga akan live-lokasi dan telepon begitu sampai dan mau pulang. Bagaimana, Ayah izinkan?” Dengan menjelaskan detail keamanan dan menunjukkan kedewasaan, Rina tidak hanya meminta izin, tetapi juga meyakinkan.

Ayahnya, yang merasa dihargai kekhawatirannya dan melihat keseriusan Rina, akhirnya mengizinkan dengan beberapa syarat yang disepakati bersama.

Peran Orang Tua dalam Menanamkan Nilai Kesantunan

Nilai kesantunan bukanlah pelajaran yang muncul tiba-tiba saat anak dewasa. Ia adalah benih yang harus ditanam, disiram, dan dipupuk sejak dini oleh orang tua. Proses ini membutuhkan kesadaran, konsistensi, dan yang terpenting, keteladanan.

Orang tua berperan sebagai arsitek pertama karakter anak. Cara mereka berinteraksi dengan anak, dengan pasangan, dan dengan orang tua mereka sendiri (kakek-nenek) akan menjadi model utama yang ditiru oleh anak. Oleh karena itu, pendidikan kesantunan dimulai dari contoh nyata, bukan sekadar perintah.

Metode Pengajaran Kesantunan Berdasarkan Tahap Usia

Pendekatan mengajarkan kesantunan perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif dan emosional anak. Berikut adalah panduan umum yang dapat diterapkan:

Tahap Usia Metode Pengajaran Peran Orang Tua Hasil yang Diharapkan
Balita (2-5 thn) Pembiasaan melalui permainan dan nyanyian sederhana (contoh: menyanyikan “terima kasih” setelah diberi sesuatu). Menggunakan kata ajaib: tolong, maaf, terima kasih. Menjadi model langsung. Membimbing dengan sabar dan mengoreksi dengan lembut. Memberi pujian spesifik saat anak bersikap santun. Anak mulai mengenal dan terbiasa mengucapkan kata-kata sopan secara spontan dalam konteks yang tepat.
Anak-anak (6-12 thn) Penjelasan sebab-akibat yang sederhana. “Kalau bicara teriak, telinga Nenek jadi sakit, sayang.” Memberikan tanggung jawab kecil seperti menyapa tamu atau mengambilkan minum untuk kakek. Memberikan penjelasan logis dan empatik. Menciptakan rutinitas keluarga yang menekankan rasa hormat (seperti salaman dan cium tangan saat pergi/pulang). Anak memahami alasan di balik sikap santun dan mulai melakukannya dengan kesadaran, bukan hanya ikutan.
Remaja (13-18 thn) Diskusi terbuka tentang nilai, emosi, dan menghadapi perbedaan pendapat. Memberikan kepercayaan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Menjadi pendengar yang aktif dan tidak menghakimi. Menghormati privasi dan pendapat anak sebagai latihan timbal balik. Memperlakukan mereka sebagai individu yang hampir dewasa. Remaja menginternalisasi nilai kesantunan sebagai bagian dari identitasnya. Mampu berkomunikasi dengan santun meski dalam situasi konflik atau perbedaan pandangan.
Dewasa Muda (>18 thn) Kemitraan. Relasi lebih setara namun tetap menghormati pengalaman dan status sebagai orang tua. Beralih dari memberi perintah menjadi memberi masukan. Menghargai keputusan dan kemandirian anak. Tetap terbuka untuk berdiskusi. Terbentuk hubungan saling menghormati antar dewasa. Sikap santun keluar dari kesadaran penuh dan rasa cinta, bukan karena keterpaksaan atau ketakutan.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari Orang Tua

Dalam upaya menanamkan kesantunan, beberapa kesalahan justru dapat menghasilkan efek sebaliknya. Pertama, memaksa dengan ancaman atau hukuman keras hanya akan menanamkan rasa takut, bukan pemahaman. Kedua, bersikap tidak konsisten; misalnya, menyuruh anak bersikap sopan tetapi orang tua sendiri berbicara kasar kepada pembantu atau kepada pasangannya. Ketiga, terlalu menekan dan tidak memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan atau pendapatnya. Hal ini dapat membuat anak memberontak atau justru kehilangan kepercayaan diri untuk bersuara.

Keempat, melabeli anak dengan kata-kata seperti “kamu anak durhaka” atau “kamu tidak sopan” saat mereka melakukan kesalahan. Label negatif justru bisa melekat dan menjadi self-fulfilling prophecy. Yang terbaik adalah mengkritik perilakunya, bukan karakternya.

Ringkasan Terakhir: Alasan Bersikap Santun Kepada Orang Tua

Jadi, jelas bahwa alasan bersikap santun kepada orang tua jauh melampaui sekadar tradisi atau kewajiban. Ini adalah investasi berharga untuk karakter diri, kedamaian batin, dan jejaring sosial yang positif. Di tengah segala tantangan modern dan perbedaan generasi, memilih untuk tetap hormat adalah bukti kematangan dan kekuatan. Pada akhirnya, keluarga yang dibangun dengan fondasi saling menghormati akan menjadi tempat pulang terbaik, sumber kekuatan yang tak pernah kering, dan warisan terindah yang bisa kita teruskan ke generasi berikutnya.

Jawaban yang Berguna

Bagaimana jika orang tua sendiri bersikap kurang santun atau otoriter?

Menjaga kesantunan bukan berarti membenarkan perilaku yang salah. Kita bisa tetap menghormati mereka sebagai orang tua sambil membangun komunikasi asertif untuk menyampaikan perasaan dengan kata-kata yang baik, tetap tenang, dan menetapkan batasan yang sehat tanpa melukai harga diri mereka.

Apakah bersikap santun berarti selalu menuruti semua keinginan orang tua?

Tidak sama sekali. Santun lebih pada cara menyampaikan pendapat atau penolakan. Kita bisa tidak setuju dengan penuh hormat, menjelaskan alasan dengan baik, dan mencari solusi kompromi. Ketaatan buta bukanlah tujuan dari sikap santun.

Bagaimana cara memulai bersikap lebih santun jika selama ini sudah terbiasa komunikasi yang kasar?

Mulailah dari hal kecil dan konsisten. Gunakan panggilan yang hormat (Bunda, Ayah), ucapkan terima kasih dan maaf, serta luangkan waktu untuk benar-benar mendengar. Perubahan kecil yang tulus akan terasa dan lambat laun membentuk pola komunikasi yang baru.

Apakah penting bersikap santun kepada orang tua di depan orang lain atau di media sosial?

Sangat penting. Menghormati orang tua di ruang publik, termasuk media sosial, mencerminkan integritas dan konsistensi karakter. Mengeluh atau merendahkan orang tua di depan umum justru akan merusak citra diri sendiri dan menyakiti perasaan mereka.

Leave a Comment