Alat TI dan komunikasi tanpa jaringan satelit sering dianggap sebagai teknologi lawas, namun nyatanya justru menjadi tulang punggung konektivitas di banyak situasi kritis dan lokasi terpencil. Di balik gemerlap internet satelit dan komunikasi global, terdapat ekosistem perangkat yang handal, terjangkau, dan beroperasi mandiri dengan memanfaatkan jaringan terrestrial dan gelombang radio. Teknologi ini bukan sekadar cadangan, melainkan solusi utama untuk menjembatani kesenjangan digital dan memastikan komunikasi tetap hidup ketika infrastruktur kompleks mengalami gangguan.
Dari radio amatir yang menyambungkan relawan bencana hingga jaringan mesh nirkabel yang membentuk internet komunitas, perangkat-perangkat ini bekerja berdasarkan prinsip transmisi data melalui media kabel, serat optik, atau gelombang radio terestrial. Keberadaannya membuktikan bahwa di era modern yang serba terhubung, konektivitas yang tangguh justru sering kali dibangun dari solusi-solusi sederhana dan langsung, tanpa perlu bergantung pada infrastruktur orbit yang mahal dan rumit.
Pengenalan Dasar dan Konsep Komunikasi Non-Satelit
Dalam imajinasi populer, teknologi komunikasi seringkali diasosiasikan dengan satelit yang melayang di angkasa. Namun, sebagian besar interaksi digital kita sehari-hari justru mengandalkan infrastruktur yang berpijak di bumi. Alat teknologi informasi dan komunikasi tanpa ketergantungan satelit merujuk pada perangkat dan sistem yang mentransmisikan data melalui media terrestrial, baik kabel (seperti fiber optik, tembaga) maupun nirkabel (seperti gelombang radio, infrared), tanpa menggunakan satelit sebagai repeater atau penguat sinyal utama.
Prinsip dasar yang mendasarinya adalah komunikasi point-to-point atau multipoint melalui medium fisik atau ruang bebas. Pada intinya, informasi diubah menjadi sinyal listrik atau elektromagnetik, yang kemudian dipandu melalui kabel atau dipancarkan melalui antena untuk diterima oleh perangkat lain dalam jangkauan tertentu. Protokol jaringan mengatur bagaimana data dikemas, dikirim, dan dijamin keakuratannya. Relevansi teknologi ini di era modern justru semakin kuat.
Selain karena biaya deployment dan operasional yang umumnya lebih rendah, latensi atau delay yang lebih kecil menjadi keunggulan kritis untuk aplikasi real-time seperti gaming, telekonferensi, dan kontrol industri. Ketahanannya juga teruji; jaringan terrestrial dapat dipulihkan lebih cepat pasca gangguan lokal dibandingkan mengandalkan aset satelit yang jumlahnya terbatas.
Perbandingan Karakteristik Komunikasi Satelit dan Non-Satelit
Pemahaman mendalam tentang karakteristik kedua jenis teknologi ini penting untuk menentukan solusi yang tepat. Tabel berikut menguraikan perbandingan mendasar di beberapa aspek kunci.
Dalam dunia teknologi yang terus berkembang, alat TI dan komunikasi tanpa jaringan satelit, seperti komunikasi radio HF atau mesh network, membuktikan bahwa koneksi bisa terjaga bahkan di lokasi terpencil. Prinsip ketahanan ini juga relevan dalam menyampaikan pesan penting, misalnya saat memulai pidato formal. Untuk itu, memahami struktur pembuka yang baik, seperti tersedia dalam Contoh Muqaddimah Pidato Bahasa Arab Beserta Artinya , menjadi fondasi komunikasi efektif.
Dengan demikian, baik teknologi alternatif maupun retorika yang kuat sama-sama menjadi pilar dalam menjaga aliran informasi tetap lancar dalam berbagai kondisi.
| Aspek | Komunikasi Satelit | Komunikasi Non-Satelit (Terrestrial) |
|---|---|---|
| Jangkauan | Sangat luas, mencakup area geografis yang sangat besar hingga global. | Terbatas, bergantung pada densitas infrastruktur (menara seluler, kabel, repeater). |
| Latensi (Delay) | Tinggi, karena sinyal harus menempuh jarak ke satelit dan kembali (minimal 240ms untuk GEO). | Rendah, terutama untuk jaringan kabel fiber optik, ideal untuk aplikasi real-time. |
| Biaya | Kapital awal dan biaya layanan tinggi untuk bandwidth besar. | Biaya infrastruktur awal signifikan, tetapi biaya operasional per user cenderung lebih rendah. |
| Kompleksitas | Kompleksitas tinggi di sisi luar angkasa (peluncuran, stasiun bumi), pengguna akhir relatif sederhana. | Kompleksitas terdistribusi di jaringan darat (pemeliharaan menara, kabel), pengguna akhir sangat beragam. |
Jenis dan Kategori Alat Komunikasi Terrestrial
Dunia alat komunikasi tanpa satelit sangatlah beragam, diklasifikasikan terutama berdasarkan media transmisi yang digunakannya. Klasifikasi ini membantu dalam memahami potensi jangkauan, kecepatan, dan lingkungan aplikasi yang paling cocok untuk setiap jenis.
Kategori utama meliputi jaringan kabel (berpandu) dan nirkabel (tidak berpandu). Jaringan kabel, seperti Ethernet dan Fiber Optik, menjadi tulang punggung internet backbone dan jaringan lokal (LAN) karena kecepatan tinggi dan stabilitasnya. Di sisi nirkabel, kita mengenal jaringan area personal (PAN) seperti Bluetooth dan Zigbee untuk perangkat jarak dekat, jaringan area lokal (WLAN/Wi-Fi), dan jaringan area luas seluler (WWAN) seperti GSM, 4G, dan 5G.
Selain itu, ada kategori khusus seperti komunikasi radio dua arah (VHF/UHF) dan High Frequency (HF) yang beroperasi pada prinsip gelombang radio ground wave dan skywave.
Contoh Alat Berdasarkan Media Transmisi
Setiap kategori melahirkan perangkat dengan fungsi spesifik. Router dan switch adalah jantung jaringan kabel LAN, mengatur lalu lintas data antar komputer. Access Point Wi-Fi menyediakan akses nirkabel ke jaringan kabel tersebut. Modem seluler (hotspot) memanfaatkan jaringan operator telekomunikasi untuk koneksi internet mobile. Di dunia radio, handie talkie portabel pada frekuensi VHF/UHF banyak digunakan untuk koordinasi lapangan, sementara radio HF dengan antena panjang digunakan untuk komunikasi jarak jauh antar benua.
Perangkat Komunikasi Darurat Non-Satelit
Dalam situasi darurat dimana infrastruktur komunikasi utama runtuh, perangkat berikut menjadi andalan karena tidak bergantung pada jaringan seluler atau satelit yang mungkin overload atau rusak.
- Radio Amatir (HAM): Fleksibel, dapat beroperasi pada berbagai frekuensi (VHF, UHF, HF) dan sering menjadi tulang punggung komunikasi relawan saat bencana.
- Radio GMRS/FRS: Radio dua arah konsumen yang mudah digunakan, cocok untuk koordinasi tim dalam radius terbatas.
- Radio SSB pada Frekuensi HF: Mampu menjangkau ratusan bahkan ribuan kilometer dengan memantulkan sinyal dari ionosfer, vital untuk komunikasi antar daerah yang terisolasi.
- Jaringan Mesh Nirkabel: Perangkat seperti GoTenna atau router mesh khusus yang membentuk jaringan ad-hoc antar pengguna, memperluas jangkauan secara organik.
- Sinyal Darurat ELT/PLB (Varian Terrestrial): Meski banyak yang satelit, beberapa beacon darurat dapat mengirim sinyal pada frekuensi 121.5 MHz yang dapat dilacak oleh pesawat penyelamat.
Ilustrasi Perangkat Radio HF
Bayangkan sebuah unit radio HF transceiver yang kokoh, terbuat dari logam dengan panel depan berisi tombol-tombol tuning yang presisi dan layar LCD yang menampilkan frekuensi. Di bagian belakang, terdapat beberapa soket besar untuk konektor antena dan ground. Komponen fisik kuncinya adalah unit utama, power supply eksternal (biasanya dari baterai besar atau adaptor), dan antena panjang yang bisa berupa kawat dipole yang dibentangkan antara dua pohon atau antena vertikal berpancar.
Pola penyebaran sinyalnya unik. Sinyal radio HF tidak hanya merambat di garis pandang langsung, tetapi dapat dipantulkan oleh lapisan ionosfer di atmosfer bumi dan kembali ke tanah ratusan kilometer jauhnya, bahkan dapat melakukan beberapa kali pantulan (skip) untuk mengelilingi bumi. Pola ini memungkinkan komunikasi jarak sangat jauh tanpa repeater, meski sangat dipengaruhi oleh waktu (siang/malam) dan aktivitas matahari.
Teknologi dan Protokol Pendukung Jaringan Lokal dan Luas
Keajaiban konektivitas tanpa satelit di sekitar kita ditopang oleh lapisan-lapisan teknologi dan protokol yang saling melengkapi. Protokol ini adalah bahasa standar yang memungkinkan miliaran perangkat berbeda untuk saling memahami dan bertukar data dengan tertib.
Untuk jaringan lokal nirkabel, triumvirat Wi-Fi, Bluetooth, dan Zigbee mendominasi. Wi-Fi (berdasarkan standar IEEE 802.11) memberikan koneksi broadband untuk internet dan transfer file dalam area seperti rumah atau kantor. Bluetooth dikhususkan untuk sambungan jarak sangat dekat antar perangkat personal seperti headset dan mouse. Zigbee, dengan konsumsi daya yang sangat rendah, menjadi pilihan untuk jaringan sensor nirkabel dan otomasi rumah (IoT).
Semua teknologi ini membentuk jaringan privat yang terhubung ke internet melalui gateway, tanpa campur tangan satelit.
Jaringan Seluler Terrestrial: Dari 4G LTE hingga 5G
Jaringan seluler merupakan contoh paling nyata dari komunikasi data luas area tanpa satelit yang sukses secara massal. Teknologi seperti 4G LTE dan 5G dibangun di atas jaringan menara sel (BTS) yang terhubung satu sama lain dan ke inti jaringan melalui kabel fiber optik berkecepatan tinggi. 4G LTE merevolusi akses mobile broadband dengan latensi rendah dan kecepatan tinggi, memungkinkan streaming video lancar.
5G membawa lompatan lebih jauh dengan latensi ultra-rendah (kurang dari 1ms), kapasitas masif untuk perangkat IoT, dan kecepatan puncak hingga multiple Gbps, membuka pintu untuk aplikasi seperti kendaraan otonom dan telemedisin presisi tinggi.
Peran Jaringan Mesh dalam Konektivitas Tangguh
Ketika infrastruktur terpusat gagal atau tidak tersedia, konsep jaringan mesh (mesh network) muncul sebagai solusi yang elegan. Dalam jaringan mesh, setiap perangkat (node) tidak hanya berkomunikasi dengan pusat, tetapi juga dengan node-node di sekitarnya, membentuk jaringan yang saling terhubung seperti jala. Jika satu rute terputus, data akan secara otomatis dirutekan ulang melalui jalur lain yang tersedia. Teknologi ini sangat tangguh dan self-healing, cocok untuk area yang sulit dijangkau infrastruktur tradisional atau untuk membangun jaringan komunitas mandiri.
Jaringan mesh menggeser paradigma dari ketergantungan pada infrastruktur terpusat yang rentan titik kegagalan tunggal, menuju model terdistribusi di mana setiap node memperkuat jaringan secara keseluruhan. Keunggulan utamanya terletak pada ketahanan (resilience), kemampuan perluasan organik (scalability), dan kemandirian dari infrastruktur eksternal.
Aplikasi dan Penerapan Praktis di Berbagai Sektor
Fleksibilitas dan keandalan teknologi komunikasi terrestrial menjadikannya pilihan utama di banyak skenario operasional, mulai dari situasi kritis hingga aktivitas rekreasional.
Dalam komunikasi darurat dan tanggap bencana, radio VHF/UHF dan HF menjadi tulang punggung koordinasi antar tim penyelamat, terutama di jam-jam pertama ketika jaringan seluler down. Jaringan mesh portabel juga dapat cepat didirikan untuk menghubungkan posko bencana dengan titik-titik pengungsian, memulihkan pertukaran informasi vital tanpa menunggu perbaikan infrastruktur utama.
Implementasi di Operasi Industri Terpencil
Sektor industri seperti pertambangan, kehutanan, dan minyak-gas sering beroperasi di lokasi terpencil tanpa cakupan seluler. Di sini, solusi private LTE atau 5G yang dibangun khusus untuk lokasi tersebut (private network) menjadi jawaban. Jaringan ini menyediakan cakupan luas di area site, menghubungkan alat berat otonom, sensor kondisi lingkungan, perangkat komunikasi pekerja, dan sistem keamanan, semua dengan latensi rendah dan keamanan data yang terjamin, sepenuhnya mandiri dari operator publik.
Pertimbangan untuk Aktivitas Rekreasi Outdoor
Bagi penggiat hiking, mountaineering, atau ekspedisi ke alam liar, membawa alat komunikasi yang tepat adalah bagian dari keselamatan. Pilihan alat bergantung pada jarak dan medan. Untuk trekking grup dalam jarak dekat, radio FRS/GMRS cukup memadai. Untuk ekspedisi solo atau ke area sangat terpencil, Personal Locator Beacon (PLB) yang satelit mungkin dipertimbangkan, namun alternatif terrestrial-nya adalah membawa radio HF/SSB jika ada rencana kontak dengan komunitas radio amatir.
Yang paling praktis adalah perangkat hybrid seperti satelit messenger, tetapi pemahaman tentang keterbatasan sinyal terrestrial di lembah atau hutan lebat tetap penting.
Perkembangan alat TI dan komunikasi tanpa jaringan satelit, seperti jaringan mesh dan LoRa, telah mendekonstruksi batas geografis. Hal ini memfasilitasi Akulturasi: Kontak Sosial Intensif Antara Dua Budaya secara lebih intensif, di mana pertukaran ide terjadi real-time tanpa hambatan infrastruktur. Dengan demikian, teknologi ini bukan sekadar alat koneksi, melainkan katalisator bagi dinamika budaya baru yang lahir dari interaksi langsung dan berkelanjutan.
Pemetaan Alat untuk Berbagai Jenis Kegiatan
Berikut adalah rekomendasi umum dalam memilih teknologi dan alat komunikasi non-satelit berdasarkan karakteristik kegiatan.
| Jenis Kegiatan | Karakteristik Kebutuhan | Rekomendasi Jenis Alat | Teknologi Utama |
|---|---|---|---|
| Ekspedisi Ilmiah Terpencil | Komunikasi tim, pengiriman data penelitian periodik, koordinasi logistik. | Radio HF/SSB, Radio VHF dengan repeater portabel, perangkat data packet radio. | Radio HF Skywave, VHF/UHF repeater network. |
| Logistik & Tanggap Darurat | Koordinasi real-time antar banyak tim, ketahanan tinggi, cakupan area bencana. | Radio VHF/UHF profesional, perangkat jaringan mesh mobile, body worn camera terhubung. | Trunked Radio System (TRS), Mobile Ad-hoc Network (MANET). |
| Komunitas Rural/Pedesaan | Akses internet terjangkau, cakupan luas, topografi menantang. | Fixed Wireless Access (FWA), WiFi long-range dengan antena parabolic, jaringan komunitas berbasis mesh. | Point-to-Multipoint Wireless, Wi-Fi 802.11ah (HaLow), LTE/5G Fixed Wireless. |
Prosedur Konfigurasi dan Praktik Terbaik
Kesiapan komunikasi tidak hanya tentang memiliki perangkat, tetapi juga tentang mengetahui cara menyiapkannya dengan benar. Prosedur yang tepat memastikan konektivitas yang andal saat paling dibutuhkan.
Menyiapkan jaringan komunikasi radio VHF/UHF sederhana antara dua titik, misalnya antara base camp dan tim survei, memerlukan langkah-langkah sistematis. Pertama, pastikan semua perangkat (handy talkie) memiliki baterai penuh dan diatur pada frekuensi yang sama yang telah disepakati dan legal untuk digunakan (misalnya, frekuensi PMR). Atur squelch level untuk mengurangi noise. Lakukan radio check di tempat terbuka tanpa penghalang untuk menguji kualitas sinyal.
Jika jangkauan langsung terbatas, pertimbangkan untuk menempatkan satu unit di titik tinggi sebagai repeater sederhana atau gunakan antena eksternal untuk meningkatkan gain.
Perencanaan Sistem Komunikasi untuk Komunitas Kecil, Alat TI dan komunikasi tanpa jaringan satelit
Merencanakan sistem untuk sebuah desa atau komunitas kecil membutuhkan pendekatan holistik. Mulailah dengan pemetaan kebutuhan: siapa yang perlu berkomunikasi, dari dan ke mana, serta untuk keperluan apa. Lakukan survey lokasi untuk mengidentifikasi titik tinggi yang potensial untuk penempatan repeater. Pilih teknologi yang sesuai dengan anggaran dan keahlian teknis warga, misalnya mulai dari sistem radio CB atau PMR yang sederhana sebelum beralih ke jaringan Wi-Fi mesh yang lebih kompleks.
Selalu sediakan sumber daya listrik cadangan (solar panel, generator) untuk perangkat infrastruktur kritis. Yang terpenting, latih beberapa anggota komunitas sebagai operator dan teknisi dasar.
Faktor Kritis Sebelum Bergantung pada Perangkat
Source: kompas.com
Sebelum menyerahkan misi penting pada sistem komunikasi tanpa satelit, beberapa faktor harus diverifikasi secara ketat. Ketersediaan dan kestabilan sumber daya listrik untuk semua node dalam jaringan adalah yang utama. Legalitas penggunaan frekuensi dan kekuatan sinyal harus sesuai regulasi setempat untuk menghindari interferensi. Perangkat dan kabel harus memiliki proteksi yang memadai terhadap lingkungan (debu, air, suhu ekstrem). Selalu uji sistem secara end-to-end dalam kondisi yang mendekati situasi nyata, bukan hanya di lab.
Terakhir, pastikan ada protokol operasi standar (SOP) komunikasi dan personel yang terlatih untuk menggunakannya serta melakukan troubleshooting dasar.
Perawatan Rutin Perangkat Radio Dua Arah
Umur panjang dan keandalan perangkat radio sangat bergantung pada perawatan yang konsisten. Berikut adalah checklist rutin yang sebaiknya dilakukan.
- Pemeriksaan Fisik: Periksa casing, antena, dan konektor untuk keretakan atau korosi. Pastikan antena terpasang dengan kencang.
- Pengujian Baterai: Lakukan cycle charge-discharge penuh secara berkala. Ganti baterai yang sudah tidak mampu menahan muatan sesuai spesifikasi pabrik.
- Uji Transmisi dan Penerimaan: Lakukan radio check dengan unit lain pada jarak berbeda untuk memastikan kekuatan sinyal dan kejelasan audio masih optimal.
- Pembersihan: Bersihkan unit dari debu dan kotoran. Untuk kontak baterai dan konektor, gunakan kontak cleaner yang sesuai.
- Update dan Konfigurasi: Untuk radio terprogram, pastikan daftar saluran (channel) dan setting masih sesuai, dan backup konfigurasi tersebut.
Batasan dan Pertimbangan Teknis yang Perlu Dipahami
Meski powerful, teknologi komunikasi terrestrial memiliki batasan inherent yang harus diakui dan dikelola. Pemahaman ini mencegah kesalahan strategis dalam penerapannya.
Batasan utama terletak pada jangkauan dan kapasitas bandwidth yang pada akhirnya terikat pada hukum fisika dan ekonomi. Sinyal radio terrestrial melemah seiring jarak (attenuation) dan umumnya membutuhkan garis pandang (line-of-sight) untuk performa optimal, terutama di frekuensi tinggi. Bandwidth juga terbatas oleh spektrum frekuensi yang tersedia dan harus dibagi oleh semua pengguna dalam satu sel atau area, berbeda dengan satelit yang bisa melayani area sangat luas dari satu titik di angkasa.
Pengaruh Geografi dan Cuaca
Kondisi geografis seperti pegunungan, lembah dalam, dan bangunan tinggi dapat menghalangi atau memantulkan sinyal, menciptakan blank spot. Hutan lebat dapat menyerap gelombang radio tertentu, terutama UHF. Cuaca juga berperan; hujan lebat dapat menyebabkan attenuasi pada gelombang mikro (microwave) yang digunakan untuk backhaul seluler dan link point-to-point, sementara badai petir dapat menginduksi noise yang mengganggu. Sebaliknya, kondisi atmosfer tertentu justru dapat memperpanjang jangkauan sinyal VHF/UHF (fenomena ducting), meski ini tidak dapat diandalkan.
Perbandingan Keandalan: Terrestrial vs Satelit
Keandalan adalah kontekstual. Sistem terrestrial, dengan banyaknya node dan redundansi kabel fiber, sangat andal untuk komunikasi sehari-hari di area berpenduduk padat. Namun, sistem ini rentan terhadap gangguan infrastruktur skala besar seperti gempa bumi, banjir, atau rusaknya kabel bawah laut yang dapat memutus koneksi regional. Sistem satelit, khususnya yang menggunakan konstelasi LEO (Low Earth Orbit) dengan banyak satelit, bisa lebih tahan terhadap gangguan lokal di bumi karena tidak bergantung pada infrastruktur darat di area bencana.
Namun, satelit tunggal (GEO) memiliki titik kegagalan tunggal dan rentan terhadap cuaca antariksa (badai matahari).
Ilustrasi Hambatan Topografi dan Strategi Mengatasinya
Bayangkan sebuah stasiun komunikasi VHF di satu sisi lembah pegunungan mencoba berkomunikasi dengan tim di sisi seberang. Sinyal radio VHF, yang bersifat seperti cahaya, akan terhalang oleh massa gunung di tengah, menciptakan zona bayangan (shadow zone) dimana sinyal tidak dapat mencapai penerima. Untuk mengatasi ini, strategi yang umum adalah menggunakan repeater. Sebuah repeater dengan antena yang ditempatkan di puncak gunung atau lokasi tinggi lainnya akan menerima sinyal lemah dari stasiun asal, menguatkannya, dan memancarkannya kembali ke sisi lembah yang sebelumnya tidak terjangkau.
Alternatif lain adalah menggunakan frekuensi yang lebih rendah (seperti HF) yang dapat melengkung mengikuti kurva bumi (ground wave) atau dipantulkan ionosfer, meski dengan bandwidth yang lebih terbatas dan ketergantungan pada kondisi atmosfer.
Penutupan
Dengan demikian, eksistensi alat TI dan komunikasi tanpa satelit mengajarkan sebuah prinsip penting: ketangguhan sering kali bersumber dari kesederhanaan dan kemandirian. Meskipun memiliki batasan jangkauan dan bandwidth, perangkat-perangkat ini menawarkan keandalan, responsivitas, dan kontrol lokal yang tak ternilai. Dalam membangun strategi komunikasi yang resilien, baik untuk petualangan ekstrem, operasi industri, maupun kesiapsiagaan bencana, integrasi teknologi terrestrial dan satelit justru akan menciptakan sebuah jaring pengaman yang lebih kuat dan komprehensif untuk masa depan.
Pertanyaan Umum (FAQ): Alat TI Dan Komunikasi Tanpa Jaringan Satelit
Apakah komunikasi tanpa satelit masih bisa digunakan untuk mengakses internet?
Dalam dunia teknologi yang terus berkembang, alat TI dan komunikasi tanpa jaringan satelit, seperti jaringan mesh atau komunikasi radio HF, mengandalkan prinsip fundamental untuk beroperasi secara mandiri. Konsep dasar seperti analisis perubahan—serupa dengan proses Hitung Turunan F(x) = (1+2x²)(x − x²) dalam kalkulus—menjadi krusial untuk memodelkan optimasi sinyal dan efisiensi protokol pada sistem terdesentralisasi ini, memastikan konektivitas tetap terjaga meski tanpa infrastruktur orbit.
Ya, bisa. Jaringan internet tradisional seperti DSL, kabel fiber optik, dan jaringan seluler (4G/5G) sebenarnya adalah bentuk komunikasi tanpa satelit. Selain itu, teknologi seperti jaringan mesh komunitas juga dapat menyediakan akses internet lokal tanpa bergantung pada satelit.
Bagaimana cara berkomunikasi jarak jauh tanpa satelit jika tidak ada sinyal seluler?
Untuk jarak sangat jauh (ratusan hingga ribuan kilometer), radio High Frequency (HF) yang memanfaatkan pantulan ionosfer adalah solusi utama. Untuk jarak menengah, radio VHF/UHF dengan repeater atau sistem radio paket (Packet Radio) dapat menjadi pilihan.
Apakah perangkat seperti walkie-talkie biasa bisa digunakan setelah bencana besar?
Sangat mungkin, asalkan frekuensinya selaras dengan tim penanggap bencana dan dayanya mencukupi. Walkie-talkie komersial (seperti PMR) terbatas jangkauannya. Radio amatir (HT) dengan izin dan frekuensi yang lebih fleksibel biasanya lebih efektif dalam operasi tanggap darurat yang terkoordinasi.
Apa kelemahan terbesar menggunakan jaringan mesh dibandingkan jaringan internet biasa?
Kelemahan utamanya adalah jangkauan dan bandwidth yang terbatas pada area jaringan mesh tersebut. Kecepatan akses ke konten global bergantung pada titik koneksi internet (gateway) yang dimiliki jaringan. Jika gateway tersebut mati, jaringan mesh hanya menyediakan komunikasi dan pertukaran data lokal.