Arti Ayat 9-10 Surat Al-Jumuah Tentang Panggilan Sholat dan Etos Kerja

Arti Ayat 9‑10 Surat Al‑Jumu’ah – Arti Ayat 9-10 Surat Al-Jumu’ah itu seperti panduan hidup yang super relevan buat kita yang sibuk. Bayangin, di tengah hiruk-pikuk transaksi dan urusan dunia, tiba-tiba ada seruan yang menghentikan segalanya, memanggil kita untuk berkumpul dan mengingat hal yang lebih penting. Dua ayat ini nggak cuma sekadar aturan sholat Jumat, tapi lebih seperti skema masterplan tentang bagaimana mengelola waktu dan prioritas antara kewajiban spiritual dan tanggung jawab duniawi dengan cara yang seimbang.

Surat Al-Jumu’ah sendiri turun di Madinah, menandai fase di mana komunitas Muslim mulai terbentuk dengan solid. Ayat 9 dan 10 ini berada di jantung surat, menjadi titik praktis dari pesan-pesan sebelumnya yang bicara tentang karunia ilmu dan peringatan bagi yang lalai. Keduanya menawarkan ritme hidup yang jelas: ada waktu untuk fokus total pada ibadah, dan ada waktu untuk kembali berkarya dengan semangat baru.

Ini adalah mekanisme reset mingguan yang genius, dirancang untuk menjaga keseimbangan jiwa dan raga seorang hamba.

Pengantar Konteks Surat Al-Jumu’ah

Surat Al-Jumu’ah, surat ke-62 dalam Al-Qur’an, adalah salah satu surat Madaniyah yang turun setelah Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin menetap di Madinah. Tujuan utamanya adalah menegaskan prinsip-prinsip komunitas Muslim yang baru terbentuk, khususnya dalam hal ibadah kolektif dan keseimbangan hidup. Surat ini dimulai dengan pujian kepada Allah, penjelasan tentang misi Rasulullah ﷺ, dan peringatan kepada orang-orang yang lalai dari ajaran Taurat.

Kemudian, surat ini berpuncak pada pengaturan ibadah Jumat sebagai syi’ar pemersatu umat.

Ayat 9 dan 10 menempati posisi sentral sebagai inti praktis dari surat ini. Setelah fondasi keimanan dan sejarah digambarkan, kedua ayat ini turun sebagai petunjuk operasional yang konkret. Mereka berfungsi seperti “manual protokol” bagi masyarakat Muslim untuk melaksanakan satu ritual mingguan yang menjadi ciri khas mereka, sekaligus mengatur ritme antara urusan spiritual dan duniawi.

Tema-Tema Kunci dalam Surat Al-Jumu’ah

Sebelum sampai pada perintah shalat Jumat, Surat Al-Jumu’ah membangun beberapa tema penting yang menjadi landasan logis bagi kewajiban tersebut. Pemahaman terhadap tema-tema ini membuat seruan “Tinggalkan jual beli!” pada ayat 9 menjadi lebih bermakna dan tidak sekadar perintah mekanis.

  • Sifat Allah dan Kenabian: Ayat 1-4 menegaskan kesempurnaan Allah dan tugas Rasulullah ﷺ untuk membacakan ayat-ayat, menyucikan, dan mengajarkan hukum, yang pada puncaknya termanifestasi dalam pengajaran tata cara ibadah seperti shalat Jumat.
  • Peringatan atas Kelalaian: Ayat 5-8 menggambarkan contoh Bani Israil yang diberi Taurat tetapi tidak mengamalkannya, sebagai peringatan agar umat Islam tidak terjatuh pada kelalaian serupa, termasuk dalam menunaikan panggilan ibadah.
  • Konsekuensi Iman: Seluruh rangkaian ini bermuara pada pemahaman bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Shalat Jumat yang diperintahkan kemudian adalah salah satu bentuk konkret dari konsekuensi keimanan tersebut dalam tatanan sosial.

Penjelasan Makna Harfiah Ayat 9-10

Arti Ayat 9‑10 Surat Al‑Jumu’ah

Source: digitaloceanspaces.com

Memahami makna dasar setiap kata dalam ayat Al-Qur’an adalah langkah pertama untuk meresapi pesannya. Ayat 9 dan 10 Surat Al-Jumu’ah menggunakan diksi yang sangat tegas, dinamis, dan penuh urgensi, yang terasa bahkan dalam terjemahan harfiahnya.

Terjemahan dan Makna Kosakata Penting

Berikut terjemahan dari kedua ayat tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

BACA JUGA  Jawaban Foto Itu Kekuatan Visual Menyampaikan Solusi

Beberapa kosakata kunci memiliki nuansa makna yang dalam. Seruan “yā ayyuhalladzīna āmanū” langsung menyasar identitas dan komitmen pendengar. Frase “idzā nūdiya” (apabila telah diseru) menunjuk pada azan pertama atau panggilan khutbah, yang menjadi trigger bagi tindakan selanjutnya. Kata perintah “fa’s’au” (maka bersegeralah/bergegaslah) mengandung makna bergerak dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar cepat. Sementara “sau’ah” dalam konteks “tinggalkan jual beli” bisa dimaknai sebagai aktivitas yang melalaikan atau segala kesibukan duniawi yang sedang dilakukan saat panggilan itu datang.

Tabel Kosakata Kunci Ayat 9-10

Kata Arab Transliterasi Makna Dasar Penjelasan Singkat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا Yā ayyuhalladzīna āmanū Wahai orang-orang yang beriman Seruan yang mengingatkan identitas dan komitmen dasar seorang Muslim, menjadi pangkal semua perintah setelahnya.
إِذَا نُودِيَ Idzā nūdiya Apabila telah diseru/dipanggil Menunjukkan kondisi yang memicu kewajiban. Bukan “jika” yang bersifat hipotetis, tetapi “apabila” yang pasti terjadi.
فَاسْعَوْا Fa’s’au Maka bersegeralah/bergegaslah Perintah untuk bergerak dengan usaha sungguh-sungguh dan penuh semangat, menunjukkan prioritas dan urgensi.
ذِكْرِ اللَّهِ Dzikrillāh Mengingat Allah Inti dari shalat Jumat, mencakup shalat dan khutbah yang berisi nasihat, pelajaran, dan pengingat akan Allah.
سَعْيًا Sau’an Usaha/penyebaran Pada ayat 10, bermakna bertebaran untuk berusaha. Kata yang sama dengan akar kata “bersegera” di ayat 9, menciptakan keseimbangan semantik.
فَضْلِ اللَّهِ Fadhlillāh Karunia Allah Semua rezeki dan kebaikan yang Allah sediakan di bumi, baik melalui pekerjaan, perdagangan, ilmu, maupun hubungan sosial.

Tafsir dan Penjelasan Isi Ayat

Ayat 9 dan 10 bukan sekadar aturan, tetapi sebuah filosofi hidup yang dijelaskan dengan sangat gamblang oleh para mufasir. Penafsiran mereka membantu kita melihat kedalaman pesan di balik perintah yang tampak sederhana ini.

Makna Seruan Meninggalkan Jual Beli

Perintah untuk meninggalkan jual beli saat azan Jumat berkumandang adalah simbolisasi yang sangat kuat. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah perintah untuk meninggalkan segala hal yang melalaikan dari shalat Jumat. Pada masa turunnya ayat, pasar adalah pusat aktivitas dan kesibukan. Maka, perintah ini secara praktis mengosongkan pusat ekonomi menuju pusat spiritual. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa ini adalah pendidikan untuk mengutamakan hak Allah atas hak diri sendiri.

Bukan berarti jual beli itu haram, tetapi ketika panggilan ibadah datang, ia harus didahulukan. Ini melatih ketundukan hati dan kemampuan mengelola prioritas.

“Maksud ‘meninggalkan jual beli’ adalah larangan melakukan transaksi jual beli ketika panggilan shalat kedua (khutbah) telah dikumandangkan… Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dapat melalaikan dari shalat Jumat adalah terlarang.” (Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim)

Makna Bertebaran Mencari Karunia Allah

Ayat 10 sering kali kurang mendapat perhatian, padahal ia adalah pasangan sempurna dari ayat 9. Setelah konsentrasi penuh pada urusan akhirat (shalat dan khutbah), Allah memerintahkan untuk kembali “bertebaran” di muka bumi. Kata “bertebaran” ( fantasyirū) menggambarkan aktivitas yang luas, dinamis, dan tidak terpusat. Quraish Shihab menafsirkan, ini adalah izin bahkan perintah untuk kembali ke aktivitas duniawi dengan semangat baru.

Bekerja, berusaha, mengembangkan ilmu, dan berinteraksi sosial setelah shalat adalah bagian dari mencari “karunia Allah” ( fadhlillāh). Ibadah Jumat justru menjadi pengisi bahan bakar spiritual untuk produktivitas duniawi yang bernilai ibadah.

“Setelah melaksanakan shalat, mereka diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi guna mencari karunia Allah. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya meninggalkan dunia, tetapi justru mengolahnya, dan bahwa ibadah bukan berarti meninggalkan aktivitas duniawi.” (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah)

Perbandingan Pesan Utama Menurut Dua Mufasir

Baik Ibn Katsir (mufasir klasik) maupun Quraish Shihab (mufasir kontemporer) sepakat pada inti pesan kedua ayat: keseimbangan dan prioritas. Ibn Katsir, dengan konteks penafsiran yang kuat pada latar historis, menekankan aspek ketaatan mutlak dan larangan terhadap hal-hal yang melalaikan. Sementara Quraish Shihab lebih menekankan pada aspek pendidikan jiwa dan integrasi ibadah dengan kehidupan modern. Bagi Ibn Katsir, penekanannya adalah pada “meninggalkan” kelalaian, sedangkan Quraish Shihab menambahkan penekanan pada “menyebar” setelahnya sebagai sebuah kesatuan ibadah yang utuh.

Keduanya saling melengkapi dalam menunjukkan bahwa ayat 9-10 adalah paket komplit pengaturan waktu dan orientasi hidup seorang Muslim.

Aplikasi dan Relevansi dalam Kehidupan Muslim

Pesan ayat 9-10 terasa sangat relevan di era produktivitas tinggi dan kesibukan yang tak henti. Kedua ayat ini menawarkan resep untuk menghindari kelelahan spiritual dan kebingungan prioritas.

BACA JUGA  Definisi Brexit Proses dan Dampak Keluarnya Inggris dari Uni Eropa

Memprioritaskan Shalat Jumat di Era Modern

Langkah praktis memprioritaskan shalat Jumat hari ini tidak lagi sekadar meninggalkan transaksi di pasar, tetapi mengatur ulang jadwal dan komitmen digital. Ini bisa berarti menyetel pengingat untuk mulai bersiap satu jam sebelum azan, menyelesaikan atau menjadwalkan ulang meeting kerja yang bertabrakan, serta “meninggalkan” notifikasi media sosial dan chat grup selama khutbah berlangsung. Intinya adalah menciptakan ruang dan waktu yang tidak terganggu, di mana fokus sepenuhnya dialihkan dari “jual beli” simbolis zaman now—yakni kesibukan, target, dan hiruk-pikuk informasi—menuju ketenangan untuk mengingat Allah.

Bentuk “Menyebar” Mencari Karunia Allah Kontemporer

Setelah shalat, perintah “bertebaranlah” bisa dimaknai sangat luas. Bagi seorang karyawan, itu berarti kembali ke pekerjaannya dengan integritas dan semangat baru. Bagi pengusaha, berarti mengembangkan bisnis yang halal dan bermanfaat. Bagi pelajar, berarti menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Bagi seorang ibu, berarti mengasuh anak dengan kesabaran dan ilmu.

Bahkan, kegiatan sosial seperti silaturahmi, menjadi relawan, atau menulis konten yang mendidik juga termasuk dalam mencari karunia Allah. Kuncinya adalah menyebarkan nilai-nilai yang baru saja diingatkan dalam khutbah ke dalam aktivitas duniawi.

Hikmah dari Interaksi Ayat 9 dan Ayat 10

Dinamika antara perintah di ayat 9 dan 10 memberikan pelajaran hidup yang sangat mendalam. Interaksi ini bukan sekadar urutan waktu, tetapi sebuah siklus yang saling menguatkan.

  • Pendidikan Prioritas: Ayat 9 melatih kita untuk tahu kapan harus berhenti dan fokus pada yang utama (ukhrawi), sedangkan ayat 10 mengajarkan bahwa urusan duniawi yang halal adalah bagian dari ibadah ketika diniatkan benar.
  • Pencegahan Ekstrem: Kedua ayat bersama-sama mencegah dua ekstrem: menjadi terlalu spiritual hingga mengabaikan dunia (dicegah oleh ayat 10) dan menjadi terlalu materialistis hingga lupa akhirat (dicegah oleh ayat 9).
  • Ritme Hidup yang Sehat: Mereka menciptakan ritme mingguan yang sehat: satu titik untuk recharging spiritual, refleksi, dan persatuan komunitas, yang kemudian menjadi energi untuk aktivitas selama enam hari ke depan.
  • Ibadah yang Membumi: Shalat Jumat tidak menjauhkan Muslim dari dunia, justru mempersiapkannya untuk terjun ke dunia dengan perspektif yang lebih jernih, etis, dan penuh tujuan.

Kajian Tematik dan Hubungan dengan Ayat Lain

Ayat 9-10 Surat Al-Jumu’ah bukanlah konsep yang terisolasi. Ia adalah manifestasi spesifik dari prinsip-prinsip besar yang bertebaran di seluruh Al-Qur’an, terutama mengenai keseimbangan dan keutamaan.

Keseimbangan Dunia-Akhirat dalam Al-Qur’an

Tema sentral dari kedua ayat ini adalah realisasi konkret dari konsep keseimbangan ( tawazun) antara hak dunia dan hak akhirat. Al-Qur’an secara konsisten menolak dikotomi yang memisahkan kedua hal ini. Seperti dalam QS. Al-Qashash: 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” Ayat 9-10 Al-Jumu’ah adalah penjadwalan mingguan dari prinsip ini: saat panggilan akhirat (shalat) datang, dunia ditinggalkan; setelah kewajiban akhirat ditunaikan, dunia kembali dijelajahi dengan niat mencari karunia-Nya.

Korelasi dengan Ayat Shalat Berjamaah dan Etos Kerja

Pesan dalam ayat-ayat ini memiliki hubungan yang erat dengan seruan shalat berjamaah secara umum dan anjuran untuk bekerja keras. Perintah “bersegeralah kepada mengingat Allah” menggemakan pesan QS. Al-Baqarah: 43 tentang “dirikanlah shalat”. Momentum kebersamaan dalam shalat Jumat memperkuat ikatan komunitas ( ukhuwah) yang juga menjadi tujuan shalat berjamaah. Sementara, perintah “bertebaranlah mencari karunia Allah” selaras dengan dorongan untuk bekerja seperti dalam QS.

Al-Jumu’ah ayat 11 (setelahnya) yang mengkritik orang yang melalaikan seruan Nabi, dan juga QS. Al-Mulk: 15 yang memerintahkan untuk berjalan di bumi mencari rezeki-Nya. Etos kerja dalam Islam selalu dimulai dengan dan didasari oleh spiritualitas.

Tabel Perbandingan Tema dengan Ayat Lain

Tema Ayat Pembanding Surat Titik Persamaan dengan Ayat 9-10 Al-Jumu’ah
Prioritas Ibadah “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah…” Al-Munafiqun: 9 Menegaskan prinsip yang sama: ketika urusan ibadah (mengingat Allah) datang, aktivitas duniawi (simbolis: jual beli) harus ditinggalkan.
Keseimbangan Hidup “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…” Al-Qashash: 77 Memberikan kerangka filosofis umum, sementara Ayat 9-10 Al-Jumu’ah memberikan implementasi praktis dan rutin dalam bentuk ibadah mingguan.
Etos Kerja & Rezeki “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya…” Al-Mulk: 15 Memperkuat makna “bertebaranlah di bumi dan carilah karunia Allah” (ayat 10) sebagai perintah untuk aktif bekerja dan menjelajahi potensi rezeki yang halal.
Ketaatan & Komunitas “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” Al-Baqarah: 43 Menekankan aspek kolektif dalam ibadah. Shalat Jumat adalah puncak dari shalat berjamaah mingguan yang memperkuat solidaritas dan ketaatan bersama.
BACA JUGA  Setarakan reaksi Ba(OH)₂ + (NH₄)₂SO₄ → BaSO₄ + NH₃ + H₂O dengan mudah

Ilustrasi Visual Konseptual

Untuk menangkap esensi dinamis dari ayat 9-10, kita bisa membayangkannya melalui ilustrasi konseptual yang menggambarkan peralihan, ekspansi, dan keseimbangan.

Visualisasi Peralihan dari Jual Beli ke Shalat Jumat

Bayangkan sebuah diagram yang menunjukkan dua titik fokus. Di sebelah kiri, ada ikon-ikon simbolis kesibukan duniawi: grafik naik-turun (pasar), ikon tangan berjabat (transaksi), dan jam dinding. Dari titik ini, muncul beberapa panah yang bergerak meninggalkan ikon-ikon tersebut. Panah-panah itu bergerak menyatu dan terkonsentrasi menuju sebuah titik fokus di tengah diagram, yang dilambangkan dengan sebuah masjid yang cahayanya memancar atau sekumpulan orang yang bersaf rapat dengan hati yang terhubung.

Visual ini menggambarkan “meninggalkan” yang tersebar dan “bersegera” menuju yang satu, yaitu mengingat Allah secara berjamaah.

Ilustrasi Metaforis “Menyebar di Muka Bumi”

Ilustrasi untuk ayat 10 bisa digambarkan dengan metafora matahari dan sinarnya. Pusat diagram adalah simbol shalat Jumat (misalnya, sebuah ka’bah kecil atau mushaf yang terbuka). Dari pusat yang tenang dan bercahaya ini, memancarlah banyak sinar atau jalur yang menyebar ke segala arah menuju perimeter lingkaran. Di ujung setiap sinar, terdapat ikon-ikon aktivitas duniawi yang beragam: mikroskop (ilmuwan), laptop (pekerja digital), buku dan pena (pelajar), alat tukang, simbol pertanian, dan ikon silaturahmi.

Ini melambangkan bahwa dari sumber spiritual yang sama, Muslim bertebaran ke berbagai bidang kehidupan untuk mencari karunia Allah, masing-masing dengan jalurnya sendiri namun terhubung dengan pusat yang sama.

Skema Alur Keseimbangan Ibadah dan Aktivitas Duniawi, Arti Ayat 9‑10 Surat Al‑Jumu’ah

Skema yang paling jelas adalah diagram siklus atau infinity loop. Satu sisi loop bertitel “Ayat 9: Konsentrasi & Prioritas (Akhirat)”, berisi aktivitas: Mendengar Seruan -> Meninggalkan Kesibukan -> Bersegera ke Masjid -> Shalat & Khutbah. Loop tersebut kemudian melalui sebuah penghubung bertuliskan “Penyegaran Spiritual & Niat Baru”, menuju sisi loop lainnya yang bertitel “Ayat 10: Ekspansi & Produktivitas (Dunia)”, berisi aktivitas: Bertebaran di Berbagai Bidang -> Bekerja/Belajar/Berkarya dengan Etika -> Mencari Karunia yang Halal -> Mengingat Allah dalam Aktivitas.

Dari sini, loop kembali melalui penghubung “Akumulasi Kebutuhan Refleksi & Persatuan”, yang mengarah kembali ke sisi ayat 9, menyempurnakan siklus mingguan yang terus berputar. Skema ini menunjukkan bahwa keduanya bukan garis lurus yang berakhir, tetapi sebuah siklus yang saling mengisi dan menyempurnakan.

Simpulan Akhir

Jadi, esensi dari Arti Ayat 9-10 Surat Al-Jumu’ah ini sebenarnya sangat dalam. Ia bukan sekadar perintah datang dan pergi dari masjid. Ia adalah pelajaran tentang disiplin, respons cepat terhadap panggilan Ilahi, dan etos kerja yang penuh berkah. Ketika kita meninggalkan jual beli untuk sholat, kita sedang melatih diri untuk meletakkan Allah di atas segalanya. Lalu, saat kita menyebar di bumi setelahnya, kita menjalankan peran sebagai khalifah dengan energi yang telah di-recharge.

Pola ini, jika diterapkan, bisa menjadi formula ampuh menghindari kejenuhan dan kehampaan dalam hidup. Pada akhirnya, dua ayat ini mengajarkan bahwa kesalehan sejati itu terwujud dalam masjid yang khusyuk dan di pasar yang jujur, dalam sujud yang tulus dan di kerja yang produktif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan: Arti Ayat 9‑10 Surat Al‑Jumu’ah

Apakah “meninggalkan jual beli” di ayat 9 berarti semua aktivitas kerja harus berhenti total?

Tidak mutlak berhenti total dalam arti mematikan semua mesin. Esensinya adalah segera menghentikan transaksi atau aktivitas duniawi yang sedang berlangsung saat panggilan sholat Jumat dikumandangkan, untuk segera bergegas menunaikan sholat. Aktivitas yang bersifat menjaga keselamatan atau pelayanan publik mendesak bisa memiliki pengecualian dengan tetap menjaga semangat untuk segera melaksanakan kewajiban.

Apa saja contoh konkret “menyebar di muka bumi mencari karunia Allah” di zaman sekarang?

Contohnya sangat luas, mulai dari kembali ke tempat kerja dengan integritas, berwirausaha, menuntut ilmu, mengembangkan skill, bertani, meneliti, hingga berkarya seni dan sosial. Intinya adalah setiap aktivitas halal yang produktif dan bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat, yang dilakukan dengan niat ibadah dan etos baik pasca-sholat Jumat.

Bagaimana jika pekerjaan kita mengharuskan standby di hari Jumat, seperti tenaga medis atau petugas keamanan?

Mereka yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan (al-dharurah) mendapatkan keringanan (rukhsah). Namun, semangat ayat tetap berlaku: usahakan untuk tetap melaksanakan sholat Jumat jika memungkinkan dengan sistem gilir atau carilah solusi agar bisa mendapatkan penggantinya (bagi yang benar-benar tidak bisa) dengan tetap menjaga kekhusyukan dan prioritas terhadap nilai ibadah.

Apakah pesan “menyebar mencari rezeki” setelah sholat hanya berlaku untuk hari Jumat saja?

Prinsipnya berlaku universal sebagai pola hidup: setelah menunaikan kewajiban ibadah, kita disuruh aktif di muka bumi. Namun, ayat 10 menekankannya secara khusus setelah sholat Jumat, menjadikannya sebagai momentum pembuka aktivitas setelah “reset” spiritual mingguan. Spiritnya harus terus menyala sepanjang waktu, dimana setiap sholat fardhu seharusnya juga menjadi pemacu semangat kita beraktivitas dengan lebih baik.

Leave a Comment