Arti kata soreha dalam bahasa Jepang ternyata lebih dari sekadar gabungan dua kata biasa, melainkan sebuah kunci untuk memahami cara berpikir orang Jepang dalam berkomunikasi. Frasa ini, yang sering kali menjadi salah satu materi pertama dalam pembelajaran tata bahasa Jepang, menyimpan konsep dasar tentang jarak, konteks, dan hubungan sosial yang sangat penting untuk dikuasai.
Secara struktural, “soreha” terdiri dari kata penunjuk “sore” yang berarti “itu” dan partikel “wa” yang berfungsi sebagai penanda topik pembicaraan. Penggunaannya yang tepat memungkinkan pembicara untuk secara jelas mengarahkan perhatian lawan bicara pada suatu objek yang berada dalam ruang lingkup percakapan, khususnya benda yang jauh dari si pembicara namun relatif dekat dengan lawan bicaranya.
Pengenalan Dasar Kata “Soreha”: Arti Kata Soreha Dalam Bahasa Jepang
Dalam perjalanan mempelajari bahasa Jepang, kita akan segera bertemu dengan trio penunjuk yang fundamental: kore, sore, are. Di antara ketiganya, frasa “soreha” sering muncul dan memiliki peran sentral dalam membentuk kalimat. Memahami “soreha” bukan sekadar menghafal terjemahannya sebagai “itu”, tetapi juga mencakup pemahaman tentang bagaimana orang Jepang memandang jarak dan konteks dalam komunikasi.Secara gramatikal, “soreha” adalah gabungan dari kata penunjuk “sore” (itu) dan partikel topik “wa” yang ditulis dengan huruf “ha” (は).
“Sore” sendiri berfungsi untuk menunjuk pada suatu benda, ide, atau situasi yang letaknya jauh dari si pembicara, namun relatif dekat dengan lawan bicara, atau sedang menjadi fokus pembicaraan. Sementara partikel “wa” berperan untuk menandai “sore” sebagai topik atau subjek yang sedang dibahas dalam kalimat. Dengan demikian, “soreha” secara harfiah dapat dimaknai sebagai “mengenai itu,” yang menetapkan suatu entitas sebagai pusat perhatian pembicaraan.Perbandingan singkat dengan frasa sejenis dapat memperjelas posisi “soreha”.
“Koreha” (ini) digunakan untuk benda yang dekat dengan pembicara, sedangkan “areha” (itu di sana) untuk benda yang jauh dari kedua pihak yang berbicara. “Soreha” menempati posisi tengah, seringkali menjadi jembatan dalam percakapan ketika objek dirujuk oleh lawan bicara atau berada dalam jarak yang dapat dijangkau secara konseptual oleh kedua belah pihak.
Dalam bahasa Jepang, “soreha” adalah partikel penanda topik yang berarti “itu adalah”. Sama seperti legenda Asal Usul Danau Toba: Versi Singkat yang memiliki struktur narasi yang khas, “soreha” berfungsi untuk memperkenalkan suatu subjek dalam kalimat, menjadi fondasi awal sebuah penjelasan sebelum cerita atau informasi inti diuraikan lebih lanjut.
Analisis Peran dan Fungsi dalam Kalimat
Fungsi utama “soreha” adalah bertindak sebagai subjek atau topik dalam sebuah kalimat. Penggunaannya mengalihkan perhatian pendengar kepada suatu objek yang telah disebutkan, diketahui bersama, atau sedang ditunjuk oleh lawan bicara. Nuansa “jarak” yang melekat pada “sore” sangat krusial; ia tidak hanya tentang jarak fisik, tetapi juga jarak psikologis atau informasi.Sebagai contoh, jika seseorang memegang sebuah buku dan bertanya kepada kita, kita akan merespons dengan “soreha” karena buku tersebut dekat dengannya (lawan bicara).
Namun, jika kita sendiri yang memegang buku dan menjelaskannya, kita akan menggunakan “koreha”. Pemahaman ini mencegah kebingungan dan membuat percakapan mengalir secara alami.
| Contoh Kalimat | Terjemahan | Konteks Penggunaan | Penjelasan Peran “Soreha” |
|---|---|---|---|
| それは本です。 (Soreha hon desu.) | Itu adalah buku. | Menjawab pertanyaan “Apa itu?” saat lawan bicara menunjuk atau memegang suatu benda. | Menjadi subjek yang mengidentifikasi benda yang ditanyakan. |
| それは高いですね。 (Soreha takai desu ne.) | Itu mahal, ya. | Mengomentari harga suatu barang yang sedang dilihat atau dibicarakan oleh lawan bicara. | Menjadi topik yang menjadi dasar dari predikat “mahal”. |
| それは難しい質問です。 (Soreha muzukashii shitsumon desu.) | Itu adalah pertanyaan yang sulit. | Merespons sebuah pertanyaan yang diajukan oleh lawan bicara. | Menunjuk pada “pertanyaan” yang baru saja diajukan, menjadikannya topik pembahasan. |
| それは私の傘です。 (Soreha watashi no kasa desu.) | Itu adalah payung saya. | Mengklaim kepemilikan atas suatu benda yang dipegang atau ditunjuk oleh orang lain. | Menetapkan benda yang dirujuk sebagai topik, kemudian dijelaskan kepemilikannya. |
Konteks dan Situasi Penggunaan
Penggunaan “soreha” paling natural dalam beberapa situasi kunci. Pertama, dalam tanya-jawab tentang suatu objek yang sedang menjadi perhatian bersama, terutama jika disentuh atau ditunjuk lawan bicara. Kedua, ketika merujuk kembali pada ide, pernyataan, atau topik yang baru saja disebutkan dalam percakapan. Ketiga, dalam situasi demonstrasi atau penjelasan, di mana pembicara ingin membahas suatu item yang berada di zona kendali atau ruang lingkup lawan bicara.Sebuah dialog singkat dapat menggambarkan penggunaannya:
A: これは何ですか? (Koreha nan desu ka?)
Apa ini?
B: それはスマートフォンです。 (Soreha sumātofon desu.)
Itu adalah smartphone.
A: そのスマートフォンはいくらですか? (Sono sumātofon wa ikura desu ka?)
Smartphone itu harganya berapa?
B: それは5万円です。 (Soreha go-man en desu.)
Itu 50,000 yen.
Kesalahan umum yang sering dilakukan pelajar pemula adalah menggunakan “soreha” secara default untuk menerjemahkan “itu” tanpa mempertimbangkan jarak. Misalnya, menunjuk gedung tinggi di kejauhan dan berkata “soreha” adalah kurang tepat; “areha” lebih sesuai. Kesalahan lain adalah lupa bahwa partikel “wa” berfungsi sebagai penanda topik, sehingga “soreha” tidak selalu menjadi subjek gramatikal yang melakukan tindakan. Memperbaikinya memerlukan latihan dengan visualisasi jarak dan banyak mendengarkan percakapan alami untuk menangkap nuansanya.
Perbandingan dengan Partikel Penunjuk Lainnya
Source: kepojepang.com
Untuk menguasai penggunaan “soreha”, penting untuk memetakannya dalam sistem ko-so-a-dō. Perbandingan ketiga frasa penunjuk utama dapat dirangkum sebagai berikut:
- Koreha (これは): Menunjuk benda/ide yang dekat dengan pembicara. Merupakan titik acuan “di sini” dan “milik saya/saya yang alami”. Contoh: Buku yang sedang saya pegang.
- Soreha (それは): Menunjuk benda/ide yang dekat dengan lawan bicara, atau yang sedang menjadi fokus pembicaraan. Merupakan titik acuan “di situ” dan “milikmu/kamu yang alami”. Contoh: Buku yang sedang kamu pegang atau yang baru saja kamu sebutkan.
- Areha (あれは): Menunjuk benda/ide yang jauh dari kedua pihak yang berbicara. Merupakan titik acuan “di sana” dan “milik orang lain/di luar kita berdua”. Contoh: Gedung yang dilihat dari kejauhan oleh kita berdua.
Sebuah aturan praktis yang mudah diingat adalah:
Gunakan koreha untuk “ini (di sini)”, soreha untuk “itu (di situ/maksudmu itu)”, dan areha untuk “itu (di sana)”.
Berikut adalah latihan identifikasi. Pilihlah frasa yang tepat (koreha, soreha, areha) untuk melengkapi kalimat berdasarkan konteks jarak:
- (Seorang teman menunjukkan tas barunya) ______ 新しいかばんですか?
Apakah itu tas baru?
- (Melihat bulan purnama di langit bersama teman) ______ 月がきれいですね。
Bulan itu indah, ya.
- (Memegang pulpen sendiri) ______ 私のペンです。
Ini pulpen saya.
- (Merespons pertanyaan tentang makanan di piring lawan bicara) ______ おいしそうですね。
Itu kelihatan enak.
- (Membicarakan acara TV yang ditonton kemarin) ______ 面白い番組でした。
Itu adalah program yang menarik.
(Jawaban: 1. Soreha, 2. Areha, 3. Koreha, 4. Soreha, 5.
Dalam bahasa Jepang, “soreha” (それは) berfungsi sebagai penunjuk jarak, mirip konsep skala dalam kartografi yang mengukur jarak sebenarnya dari representasi di peta. Menariknya, prinsip perbandingan ini juga diterapkan saat Menentukan Skala Peta Berdasarkan Jarak 2 cm = 80 km , di mana ketepatan konversi menjadi kunci. Demikian pula, pemahaman tepat atas “soreha” sebagai penunjuk sangat krusial untuk menghindari ambiguitas dalam percakapan bahasa Jepang sehari-hari.
Soreha)
Eksplorasi Budaya dan Nuansa Bahasa
Pemahaman mendalam tentang “soreha” sejatinya adalah pintu masuk untuk memahami cara berpikir budaya Jepang yang sangat kontekstual. Bahasa Jepang mengandalkan informasi bersama (shared knowledge) dan jarak relatif. Penggunaan “soreha” yang tepat mencerminkan kesadaran akan posisi lawan bicara dan kemampuan untuk menempatkan diri dalam ruang percakapan yang sama. Ini adalah bentuk kepekaan linguistik yang sangat dihargai.Kata “sore” juga muncul dalam berbagai idiom dan ekspresi tetap.
Dalam bahasa Jepang, “soreha” (それは) berfungsi sebagai penunjuk yang berarti “itu” untuk merujuk suatu hal. Relevansinya terlihat dalam sejarah penyebaran ilmu, di mana medium cetak memungkinkan pengetahuan seperti ini dibagikan secara luas, berkat jasa Penemu Mesin Cetak Ilmuwan Terkenal. Dengan demikian, pemahaman akan partikel dasar seperti “soreha” pun menjadi lebih mudah diakses, memperkaya apresiasi terhadap linguistik dan budaya Jepang.
Misalnya, “それはそうと” (soreha sō to) yang berarti “omong-omong” atau “berbicara tentang hal itu”, digunakan untuk mengalihkan topik pembicaraan. Ekspresi “それはいけませんね” (soreha ikemasen ne) yang berarti “itu tidak baik, ya” menunjukkan empati atau ketidaksetujuan terhadap situasi yang dijelaskan lawan bicara.Variasi penggunaan “soreha” dapat diamati dalam tingkat kesopanan. Dalam percakapan informal, “soreha” sering disingkat menjadi “それって” (sorette) atau “あれって” (arette) dalam bahasa lisan.
Sementara dalam konteks formal atau presentasi, “soreha” digunakan dengan tata bahasa yang lengkap dan jelas untuk menandai topik dengan tegas. Dalam skenario bisnis, seseorang mungkin berkata, “それは重要な課題です” (Soreha jūyōna kadai desu)”Itu adalah masalah yang penting,” dengan “soreha” merujuk pada poin yang sedang dibahas di dalam dokumen atau presentasi yang dilihat bersama.
Kesimpulan Akhir
Dengan demikian, menguasai penggunaan “soreha” bukan hanya sekadar menghafal kosakata, tetapi juga melatih kepekaan terhadap konteks dan dinamika percakapan. Pemahaman mendalam terhadap frasa penunjuk ini membuka pintu untuk interaksi yang lebih natural dan sesuai dengan norma budaya Jepang, di mana perhatian terhadap detail dan posisi masing-masing pihak dalam komunikasi sangat dihargai.
Daftar Pertanyaan Populer
Apakah “soreha” selalu ditulis dengan huruf “ha”?
Tidak. Meski dilafalkan “wa”, partikel penanda topik ini dalam sistem penulisan modern selalu ditulis dengan huruf Hiragana “は” (ha). Ini adalah pengecualian aturan baca dalam bahasa Jepang.
Bisakah “soreha” digunakan untuk menunjuk orang?
Secara tata bahasa bisa, tetapi dalam praktiknya sangat tidak sopan. Untuk menunjuk orang, digunakan nama atau sebutan jabatan. Penggunaan kata penunjuk seperti “sore” untuk orang dianggap merendahkan.
Apa perbedaan utama antara “sore” dan “soreha”?
“Sore” adalah kata benda yang berarti “itu”. Sementara “soreha” adalah frasa yang menjadikan “sore” sebagai topik atau subjek kalimat. “Soreha” digunakan untuk memperkenalkan atau menekankan “itu” sebagai tema pembicaraan.
Apakah ada bentuk lampau atau negatif dari “soreha”?
“Soreha” sendiri tidak berubah bentuk. Yang berubah adalah kata kerja atau kata sifat yang mengikutinya. Misalnya, “Soreha hon desu” (Itu adalah buku) bisa menjadi “Soreha hon dewa arimasen” (Itu bukan buku) atau “Soreha hon deshita” (Itu dulu adalah buku).