Arti Tajwid Menurut Istilah bukan sekadar teori belaka, melainkan jantung dari keindahan dan keotentikan tilawah Al-Qur’an. Dalam khazanah ilmu qira’ah, tajwid didefinisikan sebagai ilmu yang mengatur tata cara melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan tepat, mencakup tempat keluarnya huruf (makharij), sifat-sifatnya, serta hukum-hukum perantaranya. Pemahaman mendalam tentang definisi ini menjadi kunci untuk membedakan antara sekadar membaca dan membacanya dengan cara yang disyariatkan, menjaga kemurnian firman Allah dari distorsi makna sekecil apa pun.
Secara istilah, para ulama merumuskannya sebagai pemberian hak setiap huruf akan sifat dan keistimewaannya, serta mengembalikan huruf tersebut kepada tempat keluarnya yang asli disertai dengan kelembutan dalam pengucapan. Ini adalah sebuah disiplin ilmiah yang memiliki landasan kuat, bertujuan melindungi lisan dari kesalahan saat membaca kitab suci. Mempelajarinya bukanlah pilihan, melainkan sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang ingin interaksinya dengan Al-Qur’an bernilai ibadah dan bermakna.
Pengertian Dasar Tajwid secara Istilah
Source: slidesharecdn.com
Memahami tajwid hanya sebagai “ilmu membaca Al-Qur’an dengan indah” adalah penyederhanaan yang kurang tepat. Secara istilah, para ulama qira’ah mendefinisikannya dengan presisi yang tinggi. Salah satu definisi yang paling otoritatif menyatakan bahwa tajwid adalah “mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya (makhraj) dengan memberikan hak dan mustahaknya.” Hak huruf adalah sifat asli yang selalu menyertainya, seperti al-jahr (keras) atau al-hams (berdesis).
Sedangkan mustahak huruf adalah sifat yang kadang muncul karena pengaruh kondisi tertentu, seperti tafkhim (tebal) atau tarqiq (tipis).
Definisi ini mengangkat tajwid dari sekadar seni melafalkan menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri di atas kaidah yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuannya bukanlah sekadar keindahan estetika, melainkan menjaga keutuhan lafaz dan makna dari kitab suci. Dengan kata lain, mempelajari tajwid adalah upaya untuk menghormati setiap huruf yang diturunkan Allah SWT, membacanya persis seperti cara Rasulullah SAW menerima dan membacakannya.
Perbandingan Makna Bahasa dan Istilah Tajwid
Untuk melihat kedalaman makna istilah tajwid, kita dapat membandingkannya dengan makna bahasanya secara langsung. Perbandingan ini menunjukkan bagaimana sebuah konsep sederhana dalam bahasa berkembang menjadi sebuah sistem ilmu yang kompleks dan terstruktur.
| Aspek | Makna Bahasa (Etimologi) | Makna Istilah (Terminologi) | Implikasi Praktis |
|---|---|---|---|
| Arti Dasar | Membuat sesuatu menjadi baik, indah, atau bagus. | Ilmu untuk membaca Al-Qur’an dengan cara mengeluarkan huruf dari makhrajnya secara tepat dan memberikan sifat-sifatnya. | Bukan sekadar “memperindah”, tetapi “membetulkan” bacaan secara ilmiah. |
| Ruang Lingkup | Umum, bisa diterapkan pada seni apa pun. | Sangat spesifik, hanya terkait dengan pembacaan Al-Qur’an. | Memiliki objek kajian yang tetap dan tidak berubah. |
| Landasan | Rasa dan estetika. | Riwayat yang bersambung hingga Nabi SAW, serta kaidah fonetik Arab yang ketat. | Bacaan yang benar dapat diverifikasi melalui sanad dan kaidah, bukan hanya selera. |
| Tujuan | Mencapai keindahan penampilan. | Menjaga kemurnian lafaz wahyu dan menghindari kesalahan yang mengubah makna. | Bernilai ibadah dan merupakan bagian dari memuliakan Kalamullah. |
Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid
Berdasarkan definisi istilahnya, tujuan mempelajari ilmu tajwid dapat dirinci dengan lebih mendalam. Tujuan ini melampaui alasan teknis dan menyentuh aspek spiritual dan hukum.
- Menjaga Otentisitas Wahyu: Tajwid berfungsi sebagai benteng pelestarian bacaan Al-Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa distorsi, perubahan, atau kesalahan pengucapan.
- Memenuhi Hak Huruf-Huruf Al-Qur’an: Setiap huruf dalam Al-Qur’an memiliki karakteristik khusus. Mempelajari tajwid adalah bentuk pengakuan dan pemenuhan terhadap hak-hak fonetis huruf tersebut.
- Menghindari Kesalahan Fatal (Lahn): Menerapkan tajwid mencegah terjadinya lahn jali (kesalahan nyata) yang dapat mengubah makna ayat, dan memperbaiki lahn khafi (kesalahan samar) yang mengurangi kesempurnaan bacaan.
- Memperdalam Kekhusyukan: Membaca dengan tartil, yang merupakan implementasi tajwid, diperintahkan dalam Al-Qur’an. Bacaan yang tepat dan terukur membantu hati untuk lebih merenungi maknanya.
Landasan Hukum dan Urgensi Mempelajarinya
Kewajiban mempelajari dan mengamalkan tajwid bukanlah sekadar kesepakatan ulama belaka, melainkan berakar kuat pada dalil-dalil naqli yang jelas. Landasan ini menempatkan ilmu tajwid bukan sebagai ilmu pelengkap yang bersifat opsional, tetapi sebagai bagian integral dari interaksi seorang muslim dengan Kitab Suci.
Dalil Naqli tentang Kewajiban Tajwid
Al-Qur’an dan Hadis memberikan petunjuk yang tegas mengenai cara membaca wahyu Allah. Perintah untuk membaca dengan tartil, misalnya, merupakan dasar utama yang dijelaskan oleh para ulama sebagai perintah untuk menerapkan tajwid.
“…dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Rasulullah SAW juga bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim). Syafaat ini tentu terkait dengan bagaimana kita memperlakukan dan membacanya. Dalam riwayat lain, Nabi SAW memerintahkan untuk “memperindah suara dengan Al-Qur’an,” yang dalam interpretasi ulama berarti membacanya dengan kaidah yang benar dan suara yang baik, bukan sekadar bernyanyi.
Konsekuensi Membaca Tanpa Tajwid
Pandangan ulama mengenai membaca Al-Qur’an tanpa menerapkan tajwid dibedakan berdasarkan jenis kesalahannya. Kesalahan ( lahn) terbagi menjadi dua:
- Lahn Jali (Kesalahan Nyata): Kesalahan yang melanggar kaidah bahasa Arab dan tajwid sehingga berpotensi mengubah makna. Contohnya, membaca huruf ‘ﺡ’ (ha’) seperti ‘ﻫ’ (ha), atau salah dalam menerapkan hukum bacaan nun mati. Ulama sepakat bahwa menghindari kesalahan jenis ini adalah fardhu ‘ain (kewajiban individu). Meninggalkannya dapat berbuah dosa, terutama jika mengubah makna ayat.
- Lahn Khafi (Kesalahan Samar): Kesalahan yang tidak mengubah makna tetapi mengurangi kesempurnaan bacaan, seperti tidak memperpanjang mad yang cukup, atau tidak menyempurnakan ghunnah (dengung) pada bacaan ikhfa’. Mempelajari untuk menghindari kesalahan ini hukumnya fardhu kifayah (kewajiban kolektif), tetapi mengamalkannya tetap dianjurkan untuk kesempurnaan ibadah.
Pentingnya Menguasai Ilmu Tajwid bagi Seorang Muslim
Urgensi menguasai ilmu ini dapat dirangkum dalam poin-poin berikut:
- Sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) cara baca Rasulullah SAW dan generasi salafus shalih yang menerimanya melalui periwayatan yang mutawatir.
- Menjaga kemurnian lafaz Al-Qur’an dari perubahan, yang merupakan janji Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 9.
- Memastikan bahwa makna dan hukum yang terkandung dalam ayat tidak berubah akibat kesalahan pelafalan.
- Meningkatkan nilai spiritual dan kekhusyukan dalam membaca, karena bacaan yang tepat lebih mudah untuk direnungkan.
- Merupakan bentuk pengagungan terhadap Kalamullah, yang seharusnya dibaca dengan sebaik-baiknya.
- Mencegah timbulnya keraguan atau kekeliruan saat mengajarkan atau membacakannya di depan orang lain, terutama dalam shalat berjamaah.
Konsep-Konsep Inti dalam Ilmu Tajwid
Definisi istilah tajwid yang telah disebutkan sebelumnya berdiri di atas tiga pilar utama yang saling berkaitan. Ketiganya membentuk kerangka kerja yang komprehensif untuk menganalisis dan memperbaiki setiap unsur suara dalam bacaan Al-Qur’an. Memahami ketiganya adalah kunci untuk menguasai ilmu ini secara mendalam.
Tiga Pilar Definisi Tajwid
Ketika para ulama mengatakan “mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya dan memberikan hak serta mustahaknya,” mereka merujuk pada tiga konsep inti berikut:
- Makharijul Huruf (Tempat Keluarnya Huruf): Ilmu yang mempelajari titik artikulasi setiap huruf hijaiyah di dalam rongga mulut, tenggorokan, dan hidung. Setiap huruf harus dikeluarkan dari tempatnya yang spesifik. Misalnya, huruf ‘ب’ (ba) keluar dari dua bibir yang dirapatkan, berbeda dengan ‘ف’ (fa) yang keluar dari bagian dalam bibir bawah dan ujung gigi seri atas.
- Sifatul Huruf (Sifat-Sifat Huruf): Karakteristik yang melekat pada sebuah huruf yang membedakan pengucapannya dengan huruf lain yang mungkin memiliki makhraj yang sama atau berdekatan. Sifat seperti hams (berdesis), jahr (keras), syiddah (kuat), rikhwah (lunak), dan istifal (rendah) menentukan bagaimana suara sebuah huruf dihasilkan.
- Ahkamul Huruf (Hukum-Hukum Huruf): Aturan-aturan yang mengatur interaksi antara satu huruf dengan huruf lainnya dalam kalimat, terutama ketika bertemu huruf hidup, mati, tasydid, atau saat waqaf (berhenti). Hukum-hukum seperti idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa’ pada nun mati/tanwin adalah bagian dari ahkamul huruf.
Hubungan Antar Konsep Inti
Ketiga pilar ini tidak bekerja sendiri-sendiri. Sebuah bacaan yang sempurna mengharuskan penerapan ketiganya secara simultan. Tabel berikut memetakan hubungan dan contoh konkritnya.
| Konsep | Fungsi | Contoh Penerapan | Hubungan dengan Konsep Lain |
|---|---|---|---|
| Makharijul Huruf | Menentukan dari mana suara huruf itu berasal. | Membedakan ‘ت’ (dari ujung lidah & gigi atas) dan ‘ط’ (dari pangkal lidah & langit-langit). | Menjadi dasar bagi sifatul huruf. Sifat suatu huruf muncul karena cara dan tempat pengeluarannya. |
| Sifatul Huruf | Menentukan bagaimana suara huruf itu dihasilkan. | Huruf ‘س’ memiliki sifat hams (desis) dan rikhwah (lunak), sehingga desisnya terdengar panjang. | Mempengaruhi penerapan ahkam. Sifat ghunnah (dengung) pada mim dan nun menjadi dasar hukum mim dan nun bertasydid. |
| Ahkamul Huruf | Mengatur apa yang terjadi ketika huruf-huruf bertemu. | Nun mati bertemu ‘ي’ → berlaku hukum idgham bighunnah (melebur dengan dengung). | Bergantung pada makhraj dan sifat huruf yang bertemu. Hukum ditentukan oleh kedekatan atau kemiripan makhraj dan sifat. |
Aplikasi dalam Satu Ayat Pendek
Mari kita ambil contoh potongan ayat dari Surah Al-Ikhlas: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ”. Berikut aplikasi ketiga konsep inti secara sederhana:
- Makhraj: Huruf ‘ق’ dalam “قُلْ” dikeluarkan dari pangkal lidah bertemu langit-langit mulut bagian belakang. Huruf ‘ح’ dalam “أَحَدٌ” dikeluarkan dari tengah tenggorokan. Perbedaan makhraj ini harus jelas terdengar.
- Sifat: Huruf ‘د’ dalam “أَحَدٌ” memiliki sifat syiddah (kuat/tertahan), sehingga suaranya terhenti seketika, berbeda dengan huruf rikhwah seperti ‘ه’ dalam “هُوَ” yang aliran udaranya lebih lepas.
- Ahkam: Pada kata “أَحَدٌ”, terdapat nun mati (tanwin dhammah). Jika kita berhenti pada kata ini (waqaf), nun mati tersebut dibaca jelas sebagai “ahadun”. Namun, jika dilanjutkan ke ayat berikutnya, berlaku hukum tajwid sesuai huruf awal ayat berikutnya, misalnya idzhar jika bertemu hamzah.
Pembagian Hukum Bacaan (Ahkam) dalam Tajwid
Setelah memahami fondasi berupa makhraj dan sifat, kita masuk pada bangunan aplikatif ilmu tajwid, yaitu hukum-hukum bacaan (ahkam). Hukum-hukum ini adalah rambu-rambu detail yang mengatur perjalanan lidah dan suara ketika merangkai huruf-huruf Al-Qur’an menjadi kalimat yang fasih. Klasifikasinya sangat sistematis, dimulai dari hukum yang paling sering muncul.
Klasifikasi Hukum Nun Mati dan Tanwin
Hukum ini mengatur bacaan nun mati (نْ) atau tanwin (ـًـٍـٌ) ketika bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah. Terdapat empat hukum utama, yang dapat diingat dengan jembatan keledai “INGAT PAK YAI”: Idgham, Ikhfa’, Iqlab, dan Idzhar.
- Idzhar (إظهار): Nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu huruf halqi (tenggorokan): ء, ه, ع, ح, غ, خ. Dibaca jelas tanpa dengung.
مِنْ خَوْفٍ (“min khoufin”)
-Nun mati bertemu ‘خ’. - Idgham (إدغam): Nun mati/tanwin bertemu dengan huruf-huruf “يَرْمَلُون” (ya, ra, mim, lam, waw, nun). Dibaca melebur ke dalam huruf tersebut. Terbagi dua:
- Idgham Bighunnah (dengan dengung): Huruf ي, ن, م, و. Contoh: مِنْ وَرَائِهِمْ (“miw waraa’ihim”)
-nun mati melebur ke ‘و’ dengan dengung. - Idgham Bilaghunnah (tanpa dengung): Huruf ر, ل. Contoh: مِنْ لَدُنَّا (“mil ladunna”)
-nun mati melebur ke ‘ل’ tanpa dengung.
- Idgham Bighunnah (dengan dengung): Huruf ي, ن, م, و. Contoh: مِنْ وَرَائِهِمْ (“miw waraa’ihim”)
- Iqlab (إقلاب): Nun mati/tanwin bertemu huruf ‘ب’ (ba). Cara bacanya, nun mati/tanwin berubah menjadi suara ‘م’ (mim) yang samar, dengan menyembunyikan huruf ‘م’ tersebut dan menahan dengung (ghunnah).
مِنْ بَعْدِ (“mim ba’di”)
Secara istilah, tajwid adalah ilmu yang mengatur tata cara membaca Al-Qur’an dengan benar, termasuk hukum-hukum seperti mad dan ghunnah. Prinsip ketelitian dalam menghitung nilai sudut, seperti saat kita perlu Tentukan nilai p pada segitiga dengan sudut 3p, 8p, p , juga tercermin dalam kajian tajwid. Keduanya menuntut presisi; jika matematika memerlukan ketepatan angka, maka tajwid menekankan ketepatan makhraj dan sifat huruf untuk menjaga keaslian firman.
Terdengar seperti “mim” yang didengungkan sebelum ‘ba’.
- Ikhfa’ (إخفاء): Nun mati/tanwin bertemu dengan 15 huruf selain yang disebutkan di atas (ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ف, ق, ك). Dibaca samar-samar antara idzhar dan idgham, dengan disertai dengung.
أَنْصَارُ (“anshooru”)
Nun mati bertemu ‘ص’, dibaca samar dengan dengung.
Ilustrasi Proses Hukum Nun Mati/Tanwin, Arti Tajwid Menurut Istilah
Bayangkan lidah Anda bersiap mengucapkan nun mati. Saat itu, mata Anda sudah melihat huruf berikutnya. Proses yang terjadi adalah:
- Idzhar: Lidah langsung bersiap ke makhraj huruf halqi berikutnya, sehingga suara ‘nun’ terputus jelas. Tidak ada penyesuaian.
- Idgham: Lidah “membatalkan” rencana mengucapkan nun, dan langsung membentuk posisi untuk huruf ‘ya’, ‘ra’, dll. Nun seolah-olah hilang dan melebur. Pada bighunnah, pita suara tetap bergetar untuk dengung selama proses peleburan.
- Iqlab: Posisi lidah untuk ‘nun’ diubah cepat ke posisi bibir untuk ‘mim’, tetapi bibir tidak sempat menutup sempurna karena harus langsung ke huruf ‘ba’. Hasilnya adalah dengung hidung (ghunnah) yang menjadi ciri suara ‘mim’.
- Ikhfa’: Lidah mulai bergerak ke makhraj huruf ikhfa’ (misalnya ‘ta’, ‘shad’), tetapi tidak sampai ke posisi sempurna. Di tengah jalan, suara ‘nun’ yang samar dan dengung dihasilkan. Ini adalah proses yang paling membutuhkan kepekaan telinga.
Hukum Mim Mati
Hukum ini lebih sederhana, mengatur bacaan mim mati (مْ) ketika bertemu huruf tertentu.
- Ikhfa’ Syafawi (إخفاء شفوي): Mim mati bertemu huruf ‘ب’ (ba). Dibaca samar-samar dengan dengung, karena kedua huruf keluar dari bibir.
هُمْ بِآيَاتِنَا (“hum bi aayaatinaa”)
-Mim mati bertemu ‘ب’. - Idgham Mitslain (إدغام مِثْلَيْن): Mim mati bertemu huruf ‘م’ (mim). Mim mati melebur menjadi satu mim yang bertasydid dan didengungkan.
لَهُمْ مَا (“lahummaa”)
-Dibaca “lahumma” dengan mim yang ditekan dan didengungkan. - Idzhar Syafawi (إظهار شفوي): Mim mati bertemu dengan selain huruf ‘م’ dan ‘ب’. Dibaca jelas.
عَلَيْهِمْ وَ (“alaihim wa”)
-Mim mati bertemu ‘و’, dibaca jelas.
Penerapan Tajwid pada Tempat-Tempat Khusus
Penerapan tajwid tidak hanya tentang interaksi antar huruf, tetapi juga tentang bagaimana kita memulai dan mengakhiri sebuah bacaan. Aturan pada tempat-tempat khusus seperti awal dan akhir ayat, serta saat berhenti (waqaf) dan memulai (ibtida’), sangat krusial untuk menjaga makna dan kesinambungan bacaan. Kesalahan dalam waqaf dan ibtida’ dapat menyebabkan pemahaman yang terpotong atau bahkan salah.
Aturan Membaca di Awal, Pertengahan, dan Akhir Ayat
Setiap posisi dalam ayat membutuhkan perhatian khusus terhadap hukum tajwid yang berlaku.
- Awal Ayat (Ibtida’): Bacaan dimulai dengan tenang dan jelas. Huruf pertama harus diucapkan dengan sempurna, termasuk jika huruf tersebut adalah hamzah washal (hamzah yang dibaca saat memulai, tetapi dihilangkan saat menyambung). Misalnya, kata “اِقْرَأْ” pada awal Surah Al-‘Alaq, dibaca jelas “Iqra'” saat memulai, bukan “Qra'”.
- Pertengahan Ayat (Wasal): Di sini, seluruh hukum tajwid seperti idgham, mad, ghunnah, berlaku penuh. Kefasihan bacaan sangat diuji pada bagian ini karena harus menjaga kelancaran sambil menerapkan berbagai aturan yang kompleks.
- Akhir Ayat (Waqaf): Terdapat beberapa cara mengakhiri bacaan:
- Waqaf dengan Sukun: Menghentikan suara pada huruf terakhir yang diberi harakat sukun asli atau waqaf. Ini yang paling umum.
- Waqaf dengan Riwayat Hafs: Seringkali, huruf terakhir yang berharakat tanwin fathah dibaca dengan alif panjang (mad qashirah), seperti pada akhir kata “رَحِيْمٌ” dibaca “rohiim”.
- Waqaf dengan Mengganti Harakat: Kadang harakat berubah, misalnya huruf marbutah (ة) dibaca “h” (ha sukun), bukan “t”.
Panduan Waqaf dan Ibtida’
Waqaf dan ibtida’ adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Berhenti pada tempat yang salah, lalu memulai dari tempat yang tidak tepat, dapat memutus makna. Prinsip dasarnya adalah: Berhentilah pada kata yang maknanya sudah relatif utuh, dan mulailah dari kata yang dapat menyempurnakan atau melanjutkan makna tersebut tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Contoh, pada ayat “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”, berhenti di akhir kata “نَعْبُدُ” diperbolehkan karena klausa pertama sudah sempurna. Kemudian, memulai dari “وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” akan melanjutkan makna permohonan dengan baik.
Jenis-Jenis Waqaf Utama
Ulama telah mengklasifikasikan waqaf berdasarkan tingkat kebolehannya. Tabel berikut merangkum jenis-jenis utama yang perlu diketahui oleh pembaca Al-Qur’an.
| Jenis Waqaf | Simbol dalam Mushaf | Pengertian | Cara Membacanya |
|---|---|---|---|
| Waqaf Lazim (ﻻ) | مـ (Mim) | Berhenti di sini sangat dianjurkan karena makna kalimat sudah benar-benar sempurna. | Harus berhenti. Melanjutkan bacaan setelahnya dianggap merusak makna. |
| Waqaf Jaiz (ﺟ) | ج (Jim) | Boleh berhenti, juga boleh melanjutkan. Ini adalah jenis waqaf yang paling banyak ditemui. | Pilihan tergantung pada si pembaca, napas, atau konteks tilawah. |
| Waqaf Murakhkhas (ص) | ص (Shad) | Pada dasarnya dilarang berhenti (karena memutus makna), tetapi diberi keringanan jika terpaksa (kehabisan napas). | Hindari berhenti. Jika terpaksa, berhentilah, lalu ulangi beberapa kata sebelumnya saat memulai lagi untuk menyambung makna. |
| Waqaf Mamnu’ (لا) | لا (Laa) | Dilarang berhenti karena akan merusak makna atau tata bahasa secara fatal. | Tidak boleh berhenti sama sekali. Harus disambung ke kata berikutnya. |
| Waqaf Qabih (ق) | قلى (Qila) | Berhenti di sini dianggap buruk karena memutuskan kata yang seharusnya bersambung erat. | Hindari berhenti. Lebih baik berhenti di tempat lain yang jaiz atau lazim. |
Perkembangan Ilmu Tajwid dari Masa ke Masa
Ilmu tajwid, sebagaimana disiplin ilmu Islam lainnya, tidak muncul secara instan dalam bentuk buku teori yang lengkap. Perkembangannya berjalan seiring dengan upaya umat Islam untuk menjaga Al-Qur’an, bermula dari hafalan dan tradisi lisan, kemudian berevolusi menjadi ilmu tersendiri yang dikodifikasi dengan rapi. Perjalanan ini menunjukkan keseriusan para ulama dalam memelihara setiap detail dari wahyu.
Sejarah Kodifikasi Ilmu Tajwid
Pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, tajwid dipelajari secara langsung melalui talaqqi (berhadap-hadapan) dan musyafahah (dari mulut ke mulut). Para sahabat mendengarkan bacaan Nabi, lalu menirukannya persis. Tradisi ini berlanjut ke tabi’in dan generasi berikutnya, di mana bacaan-bacaan yang mutawatir dari Nabi dikumpulkan dalam berbagai riwayat (qira’at).
Kodifikasi tertulis ilmu tajwid sebagai disiplin mandiri baru dimulai sekitar abad ke-4 Hijriyah. Salah satu karya paling awal dan berpengaruh adalah kitab Al-Qira’at karya Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam (w. 224 H). Namun, kitab yang secara khusus membahas teori tajwid secara sistematis adalah Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani (yang lebih dikenal sebagai Matn al-Syatibiyah) karya Al-Imam Al-Qasim bin Firah Asy-Syatibi (w. 590 H).
Kitab syair (nazam) ini merangkum qira’at sab’ah (tujuh riwayat) dengan kaidah tajwidnya, dan menjadi rujukan utama hingga kini.
Imam-Imam Qira’ah dan Kontribusinya
Perkembangan ilmu tajwid tidak terlepas dari para Imam Qira’ah yang menjadi sanad utama bacaan Al-Qur’an. Mereka bukan hanya penghafal, tetapi juga ahli bahasa yang memahami seluk-beluk bacaan.
Secara istilah, tajwid adalah ilmu yang mengatur tata cara membaca Al-Qur’an dengan benar, menekankan keindahan dan ketepatan pelafalan. Prinsip ketelitian serupa juga vital dalam proses kreatif lain, seperti yang diuraikan dalam Proses Perancangan Karya Kerajinan dan Hal yang Perlu Diperhatikan , di mana setiap detail material dan fungsi harus direncanakan matang. Demikian halnya dalam tajwid, kedalaman ilmu dan disiplin dalam penerapannya menjadi kunci untuk mencapai kesempurnaan dan kehormatan dalam melantunkan ayat-ayat suci.
- Imam ‘Ashim (w. 127 H) dengan perawinya Hafs dan Syu’bah. Riwayat Hafs dari ‘Ashim adalah yang paling tersebar di seluruh dunia Islam saat ini. Kontribusinya menjaga konsistensi bacaan dari Kufah.
- Imam Nafi’ al-Madani (w. 169 H) dengan perawinya Qalun dan Warsy. Riwayatnya banyak digunakan di Afrika Utara. Beliau dikenal dengan kelembutan dan panjang madnya yang khas.
- Imam Abu ‘Amr al-Bashri (w. 154 H) dianggap sebagai imam yang paling luas ilmunya dalam qira’at. Riwayatnya menjadi salah satu yang paling banyak dipelajari.
- Imam Ibnu Katsir al-Makki (w. 120 H), Imam Abu Ja’far al-Madani (w. 130 H), dan lainnya. Masing-masing imam memiliki kekhasan bacaan ( sab’atu ahruf) yang tetap terjaga keotentikannya melalui sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
Karya tulis para imam dan murid-murid mereka dalam bentuk kitab taysir, thayyibah, dan syatibiyah menjadi tulang punggung teori ilmu tajwid yang kita pelajari hari ini.
Garis Waktu Metode Pengajaran Tajwid
Metode penyampaian ilmu ini terus beradaptasi dengan zaman tanpa mengorbankan akurasi sanad dan kaidah.
- Masa Awal (Abad 1-3 H): Murni Talaqqi & Musyafahah. Pembelajaran langsung dari guru ke murid tanpa banyak buku pedoman teori. Penekanan pada pendengaran dan peniruan.
- Masa Kodifikasi (Abad 4-10 H): Penulisan Kitab Nazam & Matan. Ilmu dirumuskan dalam bentuk syair (seperti Syatibiyah dan Jazariyah) agar mudah dihafal. Guru tetap sentral, tetapi sudah ada teks pegangan.
- Masa Modern Awal (Abad 14-15 H): Penerbitan Buku Teks & Diagram. Muncul buku tajwid dengan penjelasan prosa, tabel, dan diagram makhraj huruf. Mushaf dengan kode warna hukum bacaan mulai dicetak, memudahkan pembaca pemula.
- Era Digital (Abad 21 H): E-Learning & Aplikasi. Pembelajaran melalui video tutorial, platform online, dan aplikasi smartphone yang menyediakan rekaman bacaan guru, pelafalan interaktif, dan tes pengucapan. Namun, konsep talaqqi tetap dipertahankan melalui kelas virtual langsung (live session) untuk mendapatkan koreksi langsung.
Kesimpulan
Dengan demikian, menguak Arti Tajwid Menurut Istilah membawa kita pada kesadaran bahwa ilmu ini adalah penjaga utama keaslian wahyu. Ia adalah perangkat penting yang menjembatani pembaca masa kini dengan tradisi lisan Nabi dan para sahabat. Penguasaan terhadap konsep-konsep intinya seperti makharijul huruf, sifatul huruf, dan ahkamul huruf bukan hanya soal teknik, tetapi merupakan bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap Kalamullah. Pada akhirnya, tajwid mengajarkan bahwa keindahan Al-Qur’an terletak pada kebenaran cara membacanya, yang pada gilirannya membuka pintu pemahaman dan penghayatan yang lebih dalam.
Informasi FAQ: Arti Tajwid Menurut Istilah
Apakah belajar tajwid itu sulit?
Tidak, asalkan dilakukan secara bertahap dan konsisten. Mulai dari pengenalan makharij huruf yang benar, kemudian dilanjutkan dengan hukum-hukum dasar seperti nun mati dan mim mati. Dengan bimbingan guru atau sumber yang valid, siapa pun dapat mempelajarinya.
Bisakah otodidak belajar tajwid hanya dari buku atau aplikasi?
Buku dan aplikasi sangat membantu untuk teori dan latihan mandiri. Namun, untuk memperbaiki kesalahan pelafalan yang sering tidak disadari, umpan balik dari guru yang kompeten (talaqqi/musyafahah) tetap sangat dianjurkan bahkan dianggap penting.
Apa bedanya tajwid dengan qira’ah?
Tajwid adalah ilmu tentang
-cara* melafalkan huruf dan kata Al-Qur’an secara benar. Sedangkan qira’ah adalah ilmu tentang
-varian riwayat* bacaan Al-Qur’an yang berasal dari para imam qira’ah, yang masing-masing memiliki kaidah tajwidnya sendiri dalam kerangka yang telah ditetapkan.
Dalam kajian ilmu qira’ah, Arti Tajwid Menurut Istilah adalah kaidah mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya dengan memberikan hak dan mustahaknya. Konsep presisi ini, menariknya, memiliki paralel dalam sains, seperti pada prinsip Perubahan Energi Potensial, Gravitasi, Kinetik, dan Listrik pada Alat yang juga mengatur aliran energi secara tepat. Demikian halnya, tajwid memastikan “aliran” bacaan Al-Qur’an berlangsung sesuai aturan baku, menjaga keaslian dan keindahannya dari generasi ke generasi.
Apakah salah membaca Al-Qur’an tanpa tajwid?
Kesalahan (lahn) dalam membaca Al-Qur’an terbagi dua: jelas (jahri) dan samar (khafi). Kesalahan yang mengubah makna adalah haram. Sementara, mempelajari tajwid adalah fardhu kifayah, tetapi mengamalkannya saat membaca adalah keharusan untuk menghindari kesalahan, sehingga hukumnya wajib bagi yang mampu.