Contoh Hadits Sunnah Qawliyyah dan Filiyyah merupakan jendela utama untuk memahami ajaran Nabi Muhammad SAW secara utuh dan aplikatif. Dalam khazanah Islam, hadits tidak hanya berupa sabda yang diucapkan, tetapi juga meliputi segala tindakan, persetujuan, dan sifat yang beliau contohkan. Dua kategori besar ini, Qawliyyah (perkataan) dan Fi’liyyah (perbuatan), menjadi fondasi bagi umat Muslim dalam meneladani Rasulullah, mulai dari urusan akidah hingga tata cara kehidupan sehari-hari yang penuh hikmah.
Memahami perbedaan dan contoh konkret dari kedua jenis sunnah ini bukan sekadar kajian teoritis, melainkan kebutuhan praktis. Sunnah Qawliyyah memberikan petunjuk verbal langsung berupa nasihat, larangan, dan kabar gembira. Sementara itu, Sunnah Fi’liyyah menawarkan teladan visual dan behavioral yang menunjukkan bagaimana teori tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata. Keduanya saling melengkapi, membentuk panduan hidup yang komprehensif dan relevan dari masa ke masa.
Hadits Sunnah Qawliyyah dan Filiyyah, sebagai pedoman praktis Nabi Muhammad SAW, mengajarkan ketelitian dalam setiap aspek kehidupan. Prinsip ketelitian ini juga relevan dalam sains, misalnya saat menghitung Luas Permukaan Prisma Alas Belah Ketupat 10×24 cm, Tinggi 20 cm yang memerlukan presisi. Dengan demikian, pendekatan teliti dalam ilmu duniawi pun sejalan dengan semangat mempelajari dan mengamalkan sunnah secara kaffah.
Pengertian Dasar Hadits Qawliyyah dan Fi’liyyah: Contoh Hadits Sunnah Qawliyyah Dan Filiyyah
Memahami hadits tidak hanya sekadar mengetahui teksnya, tetapi juga mengenal bentuk penyampaiannya. Dalam khazanah ilmu hadits, dua kategori utama yang menjadi fondasi adalah Hadits Qawliyyah dan Hadits Fi’liyyah. Klasifikasi ini penting karena memberikan perspektif berbeda tentang bagaimana Sunnah Nabi Muhammad SAW diwariskan, apakah melalui ucapan langsung atau melalui perbuatan yang disaksikan oleh para sahabat. Pemahaman terhadap kedua jenis ini membuka cakrawala yang lebih luas dalam menangkap pesan dan teladan Rasulullah.
Definisi Hadits Qawliyyah
Hadits Qawliyyah secara harfiah berarti “hadits ucapan”. Jenis hadits ini merujuk pada segala perkataan, sabda, atau statemen yang diucapkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kesempatan. Hadits Qawliyyah berfungsi sebagai sumber hukum, penjelas Al-Qur’an, nasihat, jawaban atas pertanyaan, hingga pengajaran langsung tentang akidah dan akhlak. Karakter utamanya adalah bersifat verbal dan langsung, sehingga menjadi rujukan primer untuk memahami maksud syariat.
Definisi Hadits Fi’liyyah
Berbeda dengan Qawliyyah, Hadits Fi’liyyah adalah “hadits perbuatan”. Ia mencakup segala tindakan, praktik, atau kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan disaksikan oleh para sahabat, lalu mereka menceritakannya kepada generasi berikutnya. Hadits jenis ini menjadi panduan praktis, terutama dalam tata cara ibadah seperti shalat, haji, dan puasa, serta dalam adab sehari-hari. Keunikan Hadits Fi’liyyah terletak pada aspek demonstratifnya; Nabi tidak hanya menyuruh, tetapi menunjukkan langsung bagaimana melakukannya.
Perbedaan Mendasar Antara Kedua Jenis Hadits, Contoh Hadits Sunnah Qawliyyah dan Filiyyah
Meski sama-sama bagian dari Sunnah, Hadits Qawliyyah dan Fi’liyyah memiliki perbedaan pokok yang signifikan. Perbedaan ini perlu dipahami untuk menghindari kesalahan dalam mengambil kesimpulan hukum.
- Sumber Penyampaian: Hadits Qawliyyah bersumber dari ucapan lisan Nabi, sementara Hadits Fi’liyyah bersumber dari tindakan dan perilaku beliau.
- Fungsi Utama: Qawliyyah sering berfungsi sebagai penjelas konsep, pemberi hukum, dan penguat keyakinan. Fi’liyyah lebih berfungsi sebagai contoh aplikatif dan tatacara teknis.
- Kontekstualisasi: Memahami Hadits Fi’liyyah seringkali memerlukan pemahaman konteks mengapa Nabi melakukan suatu tindakan, apakah sebagai kebiasaan pribadi (adah), demonstrasi ibadah, atau respons situasional.
- Ruang Lingkup: Qawliyyah mencakup hal-hal yang mungkin tidak bisa dijelaskan dengan perbuatan, seperti konsep iman kepada yang ghaib. Fi’liyyah mencakup hal-hal yang lebih mudah dipelajari dengan observasi.
Analogi dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan seorang guru yang mengajarkan matematika. Ketika ia menjelaskan rumus teorema Pythagoras secara lisan di depan kelas, itu adalah analogi dari Hadits Qawliyyah. Penjelasan verbalnya menjadi pedoman utama. Kemudian, ketika guru tersebut mengambil kapur dan mendemonstrasikan langkah demi langkah penyelesaian soal di papan tulis, itulah analogi Hadits Fi’liyyah. Para murid tidak hanya mendengar teori, tetapi melihat langsung penerapannya.
Kedua cara tersebut saling melengkapi untuk menghasilkan pemahaman yang utuh dan mendalam.
Contoh-contoh Hadits Qawliyyah dalam Berbagai Topik
Hadits Qawliyyah menyebar bagai mutiara yang menghiasi berbagai aspek kehidupan. Dari pondasi keyakinan hingga tuntunan bergaul, sabda-sabda Nabi memberikan petunjuk yang terang. Berikut adalah sejumlah contoh yang menggambarkan keluasan cakupan Hadits Qawliyyah, dikelompokkan berdasarkan tema beserta makna dan pelajaran yang dapat dipetik.
Contoh Hadits Qawliyyah tentang Akidah dan Keimanan
Hadits-hadits tentang akidah berfungsi sebagai penegas dan penjelas dari ayat-ayat Al-Qur’an, membangun kerangka keyakinan yang kokoh dalam hati seorang muslim.
- Hadits Jibril: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika mampu.” (HR. Muslim). Hadits ini mendefinisikan Islam secara praktis dalam lima rukun.
- Iman kepada Takdir: “Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim). Ini adalah rincian dari rukun iman yang enam.
- Kedudukan Tauhid: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim). Menunjukkan urgensi dan keutamaan tauhid.
- Larangan Berputus Asa: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu mati, melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim). Mengajarkan optimisme dan husnudzan kepada Allah sebagai bagian dari akidah.
- Peringatan dari Syirik Kecil: “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR. Ahmad). Menunjukkan kedalaman akidah yang menjaga kemurnian niat.
Contoh Hadits Qawliyyah tentang Akhlak dan Adab
Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Banyak sabdanya yang langsung mengatur tata krama, baik kepada Allah, sesama manusia, maupun lingkungan.
- Menjaga Lisan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim). Prinsip dasar dalam komunikasi.
- Menyambung Tali Silaturahmi: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim). Motivasi untuk menjaga hubungan kekeluargaan.
- Larangan Mendzalimi: “Takutlah kamu akan doa orang yang terdzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari). Peringatan keras untuk berbuat adil.
- Keutamaan Senyum: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Menunjukkan bahwa kebaikan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana.
- Adab terhadap Tetangga: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” Ditanya: “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari). Menempatkan hak tetangga pada posisi yang sangat tinggi.
Tabel Contoh Hadits Qawliyyah dan Pelajarannya
Berikut adalah rangkuman beberapa Hadits Qawliyyah dalam format tabel untuk memberikan gambaran yang lebih sistematis tentang topik, makna, dan pelajaran intinya.
| Contoh Hadits | Topik | Makna Global | Pelajaran yang Diambil |
|---|---|---|---|
| “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad) | Social Impact | Nilai seseorang diukur dari kontribusi positifnya kepada masyarakat. | Mendorong proaktif dalam berbuat baik dan menebar manfaat, bukan sekadar pasif. |
| “Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah (ujian) seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim) | Motivasi & Waktu | Hidup penuh ujian yang dapat menghambat ketaatan, maka beramal shalehlah saat masih mampu. | Menghargai waktu, meningkatkan kesigapan dalam kebaikan, dan bersikap waspada. |
| “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim) | Cinta & Persaudaraan | Kesempurnaan iman terkait erat dengan rasa empati dan keinginan untuk berbagi kebahagiaan. | Melatih diri untuk keluar dari ego, mengikis rasa iri, dan membangun solidaritas. |
| “Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari & Muslim) | Akhlak & Karakter | Rasa malu yang positif merupakan cabang keimanan yang mencegah dari perbuatan buruk. | Menjaga dan memelihara rasa malu sebagai mekanisme pengendalian diri alami. |
Contoh Hadits Qawliyyah tentang Ibadah Mahdhah
Ibadah mahdhah adalah ibadah murni yang tata caranya telah ditetapkan secara langsung oleh syariat. Hadits Qawliyyah banyak menjelaskan keutamaan, syarat, dan hal-hal yang membatalkan ibadah-ibadah ini.
Dalam memahami hadits sunnah, baik qawliyyah (perkataan) maupun filiyyah (perbuatan) Nabi, kita diajak untuk merenungi ketetapan Allah dalam setiap aspek. Kajian ini mengajak kita melihat fenomena peluang, sebagaimana analisis statistik pada Peluang Panitia Inti 6 Orang Memiliki ≤2 Putri , yang pada hakikatnya juga merupakan bagian dari sunnatullah. Dengan demikian, pendekatan terhadap sunnah Nabi menjadi lebih komprehensif, tidak hanya tekstual tetapi juga kontekstual, mencakup hikmah di balik setiap ketentuan-Nya.
- Shalat: “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari). Meski termasuk dalam fi’liyyah untuk tatacaranya, perintah ini sendiri adalah qawliyyah yang menjadi dasar kewajiban mengikuti contoh Nabi.
- Puasa: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi). Menjelaskan salah satu rukun penting dalam puasa Ramadhan.
- Zakat: “Tidak ada kewajiban zakat pada harta yang belum sampai haul (satu tahun).” (HR. Baihaqi). Menetapkan syarat kepemilikan harta selama satu tahun sebagai salah satu kewajiban zakat.
- Haji: “Haji adalah Arafah.” (HR. Nasai & Tirmidzi). Sabda ini menegaskan puncak dan rukun utama dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah.
Contoh-contoh Hadits Fi’liyyah dari Kehidupan Nabi
Jika Hadits Qawliyyah adalah teori yang diucapkan, maka Hadits Fi’liyyah adalah laboratorium hidup tempat teori itu dipraktikkan. Melalui tindakan nyata Nabi Muhammad SAW, umat Islam mendapatkan blueprint yang jelas dan aplikatif. Dari detail gerakan shalat hingga cara beliau berinteraksi dengan keluarga, semuanya menjadi teladan yang menyentuh setiap aspek kehidupan.
Contoh Hadits Fi’liyyah dalam Tata Cara Ibadah
Para sahabat mengamati dengan saksama setiap gerak-gerik Nabi saat beribadah, lalu menceritakannya. Inilah yang menjadi sumber utama fikih ibadah kita hari ini.
- Cara Wudhu Nabi: Diriwayatkan bahwa Nabi SAW berwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhu tiga kali-tiga kali, kecuali mengusap kepala yang hanya sekali. Beliau juga menggosok sela-sela jari tangan dan kaki. (Berdasarkan riwayat Bukhari-Muslim).
- Gerakan Shalat: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW masuk masjid, lalu seorang laki-laki masuk dan shalat. Kemudian ia datang dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Rasulullah membalas salam lalu bersabda: ‘Kembali dan shalatlah, karena kamu belum shalat.'” Orang itu kemudian mengulangi shalatnya beberapa kali setelah dikoreksi Nabi. (HR. Bukhari).
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat harus persis seperti yang diajarkan Nabi, termasuk gerakan dan bacaan.
- Praktik Puasa Sunah: Nabi SAW biasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Ketika ditanya, beliau bersabda (ini qawliyyah-nya): “Itu adalah hari di mana amal perbuatan diangkat kepada Allah, dan aku ingin amalku diangkat saat aku berpuasa.” (HR. Tirmidzi). Kebiasaan (fi’il) berpuasa di dua hari itu dilengkapi dengan penjelasan hikmahnya.
- Tata Cara Tawaf: Nabi melakukan tawaf dengan berjalan cepat (raml) pada tiga putaran pertama saat tawaf qudum (kedatangan) di haji, dan berjalan biasa pada empat putaran sisanya. Ini khusus dilakukan di ka’bah dan menjadi sunnah dalam haji.
- Cara Tidur Nabi: Nabi SAW biasa tidur miring ke sebelah kanan, dengan tangan kanannya di bawah pipi kanan. (HR. Bukhari). Posisi tidur ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi mengandung hikmah kesehatan dan adab.
Kebiasaan Sehari-hari Nabi dalam Hadits Fi’liyyah
Sunah Nabi tidak hanya dalam ritual, tetapi juga dalam rutinitas. Kebiasaan beliau menjadi cerminan akhlak yang diajarkan.
- Makan dan Minum: Nabi makan dengan tiga jari (jempol, telunjuk, dan jari tengah), dan tidak pernah mencela makanan. Beliau minum dengan duduk, dan bernapas di luar gelas sebanyak tiga kali tegukan.
- Berdandan: Nabi selalu merapikan rambut dan jenggotnya, memakai wewangian, dan berpakaian rapi. Beliau memulai segala sesuatu dari sebelah kanan, seperti memakai sandal, menyisir rambut, dan bersuci.
- Bekerja: Nabi SAW terlihat menjahit sendiri sandalnya yang putus, memerah susu kambing untuk keluarganya, dan membantu pekerjaan rumah. Ini menunjukkan kemandirian dan tidak gengsi.
- Interaksi dengan Anak-anak: Diriwayatkan bahwa Nabi sering menggendong cucunya, Hasan atau Husein, bahkan saat beliau sedang shalat. Beliau juga bermain dengan anak-anak dan tidak pernah mengusir mereka.
Ilustrasi Naratif: Shalat Khauf (Shalat dalam Kondisi Perang)
Bayangkan sebuah situasi di medan perang Uhud. Pasukan muslim dalam keadaan siaga tinggi karena ancaman musuh yang mungkin menyerang setiap saat. Dalam kondisi genting itu, waktu shalat Ashar tiba. Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan kewajiban shalat. Beliau mengatur pasukan menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama shalat bersamanya, sambil memegang senjata, menyelesaikan satu rakaat. Kemudian, saat mereka sujud dan rukuk, kelompok kedua berjaga-jaga menghadap arah musuh. Setelah kelompok pertama menyelesaikan rakaat kedua, mereka bergeser untuk berjaga, menggantikan kelompok kedua yang kemudian datang menyusul shalat. Kelompok yang datang belakangan ini shalat satu rakaat bersama Nabi, lalu setelah Nabi mengucapkan salam, mereka menyelesaikan rakaat kedua mereka sendiri.
Dalam situasi mencekam ini, Nabi mendemonstrasikan fleksibilitas syariat melalui tindakan nyata. Beliau tidak hanya berkata, “Shalatlah dalam kondisi apapun,” tetapi menunjukkan secara detail bagaimana caranya. Inilah Hadits Fi’liyyah dalam bentuknya yang paling dinamis, menggambarkan prinsip “tidak memberatkan” dalam Islam.
Hadits Fi’liyyah dalam Muamalah dan Interaksi Sosial
Source: slidesharecdn.com
Bidang muamalah juga kaya dengan contoh perbuatan Nabi. Beliau adalah pedagang yang jujur sebelum menjadi nabi. Dalam bermuamalah, beliau selalu memenuhi janji, tidak menipu, dan memberikan hak kepada yang berhak. Salah satu contoh terkenal adalah ketika beliau berhutang seekor unta muda kepada seseorang, lalu orang itu menagih dengan kasar. Para sahabat marah, namun Nabi justru berkata, “Biarkan dia, karena pemilik hak berhak berbicara.” Kemudian Nabi membayar hutangnya dengan unta yang lebih baik seraya berkata, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR.
Bukhari & Muslim). Tindakan membayar lebih ini (fi’il) menjadi pelajaran agung tentang kejujuran dan keutamaan dalam memenuhi kontrak sosial.
Metode dan Sumber Pengambilan Contoh Hadits
Mengumpulkan dan mengklasifikasikan hadits bukanlah pekerjaan sembarangan. Para ulama hadits telah merancang metodologi yang sangat ketat dan sistematis, layaknya ilmuwan modern, untuk memastikan keaslian dan keakuratan setiap riwayat. Proses ini melibatkan penelitian sanad (mata rantai periwayat) dan matan (isi hadits), serta pemahaman mendalam terhadap konteks historis dan kebiasaan Nabi.
Langkah Identifikasi dan Klasifikasi Hadits
Untuk menentukan apakah suatu riwayat tergolong Qawliyyah atau Fi’liyyah, para ulama tidak hanya melihat teksnya, tetapi juga konteks periwayatannya. Mereka melakukan langkah-langkah kritis berikut.
- Analisis Matan (Konten): Ulama memeriksa isi riwayat. Apakah ia menceritakan sebuah ucapan Nabi, atau justru mendeskripsikan suatu tindakan yang beliau lakukan? Kata kerja seperti “bersabda”, “berkata”, mengarah pada Qawliyyah. Sementara frasa seperti “aku melihat Nabi…”, “beliau melakukan…”, atau “kebiasaan beliau adalah…” mengindikasikan Fi’liyyah.
- Kajian Sanad (Rantai Periwayat): Siapa sahabat yang meriwayatkan? Seorang sahabat yang sering menemani Nabi dalam ibadah (seperti Ibnu Abbas untuk tafsir dan haji) lebih kuat meriwayatkan Fi’liyyah ibadah. Sahabat yang banyak bertanya (seperti Abu Hurairah) mungkin lebih banyak meriwayatkan Qawliyyah.
- Pemahaman Konteks Asbab al-Wurud: Ulama meneliti latar belakang mengapa hadits itu disampaikan atau dilakukan. Sebuah tindakan Nabi bisa jadi merupakan respon spesifik terhadap situasi tertentu (fi’liyyah kasuistik) atau merupakan kebiasaan umum yang beliau tegakkan (fi’liyyah ta’abbudi).
- Perbandingan dengan Riwayat Lain (Muttafaq ‘Alaih): Jika sebuah tindakan Nabi diriwayatkan oleh banyak sahabat dari berbagai jalur yang kuat, maka statusnya sebagai Fi’liyyah menjadi sangat kokoh. Begitu pula dengan sabda yang mutawatir.
Kitab-Kitab Hadits Rujukan Utama
Contoh-contoh Hadits Qawliyyah dan Fi’liyyah tersebar dalam berbagai kitab hadits, namun ada beberapa karya monumental yang menjadi rujukan primer dan telah melalui proses verifikasi sangat ketat.
- Shahih al-Bukhari: Disusun oleh Imam Bukhari, kitab ini diakui sebagai kitab hadits paling otentik. Penyusunannya sangat cermat dengan penekanan pada ketersambungan dan kredibilitas sanad. Banyak contoh Fi’liyyah praktis, terutama tentang ibadah, ditemukan di sini.
- Shahih Muslim: Karya Imam Muslim ini setara kedudukannya dengan Shahih Bukhari, dengan metode penyusunan matan yang lebih dikelompokkan berdasarkan tema, memudahkan pencarian topik tertentu.
- Sunan an-Nasa’i: Termasuk dalam Kutubus Sittah (Enam Kitab Induk), kitab ini banyak memuat hadits-hadits tentang fiqh dan tatacara ibadah, sehingga kaya akan Hadits Fi’liyyah.
- Sunan Abu Dawud: Fokus pada hadits-hadits hukum, kitab ini menjadi sumber penting untuk melihat bagaimana ucapan dan perbuatan Nabi diterjemahkan menjadi pedoman hukum.
- Muwaththa’ Imam Malik: Salah satu kitab hadits tertua, berisi riwayat-riwayat yang menjadi praktik masyarakat Madinah (amal ahlul Madinah), yang banyak merefleksikan tindakan Nabi yang dilihat dan diikuti turun-temurun.
Pandangan Ulama tentang Pentingnya Mempelajari Kedua Jenis Hadits
Imam Asy-Syafi’i, seorang ulama besar pendiri mazhab Syafi’i, pernah menyatakan: “Setiap sunnah Rasulullah SAW itu menjelaskan Al-Qur’an. Ada yang berupa penjelasan dengan ucapan (qawl), ada yang dengan perbuatan (fi’l), dan ada yang dengan ketetapan (taqrir). Maka, sunnah itu diambil dari ketiga bentuk ini.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pemahaman Islam yang utuh mustahil tercapai jika hanya berpegang pada satu bentuk sunnah saja, dan mengabaikan yang lain.
Cara Praktis Mencari dan Memverifikasi Contoh Hadits
Di era digital, mencari contoh hadits menjadi lebih mudah, namun kehati-hatian tetap diperlukan untuk memastikan keakuratan sumbernya.
- Gunakan Kata Kunci Spesifik: Saat mencari di mesin pencari atau aplikasi hadits, gunakan kata kunci yang menggambarkan jenisnya. Untuk Qawliyyah, coba kata seperti “sabda Nabi tentang…”, “hadits ucapan…”. Untuk Fi’liyyah, gunakan “cara Nabi…”, “tindakan Rasulullah saat…”, “kebiasaan Nabi…”.
- Rujuk ke Kitab Induk: Setelah menemukan teks hadits, selalu periksa sumber aslinya. Apakah diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, atau lainnya? Nomor hadits juga penting untuk referensi silang.
- Manfaatkan Situs dan Aplikasi Terpercaya: Gunakan platform seperti Sunnah.com atau Dorar.net yang menyertakan sanad, derajat hadits, dan syarah (penjelasan) dari ulama. Aplikasi “Kutubut Tis’ah” juga banyak tersedia.
- Konsultasi dengan Yang Ahli: Jika ragu tentang makna atau konteks suatu hadits, khususnya Hadits Fi’liyyah yang memerlukan pemahaman sebab-sebabnya, tanyakan kepada ustadz atau peneliti hadits yang kompeten di bidangnya.
Penerapan dan Relevansi dalam Kehidupan Kontemporer
Mempelajari Hadits Qawliyyah dan Fi’liyyah bukan sekadar aktivitas akademis sejarah. Ia adalah upaya menghidupkan kembali teladan Nabi dalam realitas kekinian. Di tengah kompleksitas masalah modern, kedua bentuk sunnah ini justru memberikan jawaban yang relevan, fleksibel, dan penuh hikmah. Mereka berfungsi sebagai kompas nilai dan panduan praktis yang dapat diadaptasi tanpa kehilangan esensinya.
Relevansi Mempelajari Hadits Fi’liyyah Secara Holistik
Hadits Fi’liyyah mengajarkan kita untuk melihat Islam tidak sebagai kumpulan dogma kaku, tetapi sebagai way of life yang dinamis. Dengan mempelajari tindakan Nabi, kita memahami bahwa Islam sangat memperhatikan detail, konteks, dan kemaslahatan. Misalnya, melihat bagaimana Nabi bernegosiasi, menyelesaikan konflik, atau bahkan berekspresi dalam kegembiraan dan kesedihan, memberikan kita kerangka berperilaku yang manusiawi dan penuh etika. Ini melengkapi pemahaman kita dari Hadits Qawliyyah yang mungkin lebih general.
Dengan kata lain, Fi’liyyah adalah “how to”-nya dari “what to” yang diucapkan dalam Qawliyyah.
Hadits Qawliyyah sebagai Pedoman Nasihat dan Dakwah
Keindahan bahasa dan kedalaman makna dalam Hadits Qawliyyah membuatnya sangat efektif sebagai materi dakwah dan nasihat. Sabda-sabda Nabi seringkali singkat, padat, mudah diingat, namun menyentuh relung hati. Dalam menyusun khutbah, tulisan, atau sekadar memberi motivasi, mengutip Hadits Qawliyyah yang relevan akan memberikan fondasi otoritatif dan spiritual. Misalnya, dalam kampanye anti-hoax, hadits “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar” (HR.
Muslim) menjadi pegangan yang powerful. Hadits Qawliyyah berfungsi sebagai soundbite kebijaksanaan yang timeless.
Dalam memahami hadits sunnah, baik qawliyyah (ucapan) maupun filiyyah (perbuatan) Nabi, kita dituntut untuk berpikir sistematis dan teliti, sebagaimana ketelitian yang dibutuhkan saat menganalisis Luas daerah antara parabola y = x²+2x dan garis y = x+6. Keduanya memerlukan pendekatan yang metodis untuk menemukan batasan dan makna yang tepat. Demikianlah, ketepatan dalam menelaah kedua jenis sunnah ini menjadi landasan utama dalam merumuskan hukum Islam yang otoritatif.
Tabel Penerapan dalam Situasi Modern
Berikut adalah contoh bagaimana nilai-nilai dalam kedua jenis hadits dapat diterjemahkan dalam konteks kehidupan kita sekarang.
| Situasi Modern | Jenis Hadits | Panduan dari Contoh Hadits | Penerapan Kontemporer |
|---|---|---|---|
| Kecanduan Media Sosial & Membuang Waktu | Qawliyyah | “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu olehnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). | Mengatur screen time, menggunakan waktu luang untuk hal produktif atau memperdalam ilmu, serta bersyukur atas kesehatan dengan menjaga pola hidup. |
| Work From Home & Manajemen Waktu Ibadah | Fi’liyyah | Kebiasaan Nabi mengatur waktu dengan jelas; shalat di awal waktu, bekerja, lalu istirahat. | Membuat jadwal harian yang tetap, menyediakan tempat khusus untuk shalat meski di rumah, dan disiplin memisahkan waktu kerja dan keluarga. |
| Menghadapi Bencana Alam atau Musibah | Qawliyyah & Fi’liyyah | Qawliyyah: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin… jika ditimpa musibah ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim). Fi’liyyah: Nabi langsung turun tangan membantu korban dan membangun kembali masyarakat pasca perang. | Menguatkan mental dengan sabar dan tawakal, sekaligus aktif berkontribusi dalam aksi sosial, donasi, atau relawan untuk pemulihan. |
| Etika Berdebat di Ruang Digital | Qawliyyah | “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” dan “Sampaikanlah kebenaran itu walau pahit.” | Menyampaikan koreksi atau pendapat dengan bahasa yang santun dan fakta yang jelas, menghindari cacian dan hujatan, serta berani menyuarakan kebenaran meski tidak populer. |
Nilai-nilai Universal dalam Contoh Hadits
Melalui contoh-contoh yang telah dibahas, baik Qawliyyah maupun Fi’liyyah, memancarkan nilai-nilai universal yang diterima oleh seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Nilai-nilai itu antara lain: Kejujuran (dalam perdagangan dan berkata), Rasa Keadilan (dalam memutuskan perkara dan memperlakukan orang lain), Kasih Sayang (kepada anak, yatim, dan hewan), Kedisiplinan (dalam ibadah dan kerja), Kesederhanaan (dalam hidup dan konsumsi), serta Tanggung Jawab (terhadap diri, keluarga, dan masyarakat).
Nilai-nilai ini tidak kuno, justru sangat dibutuhkan di dunia yang sering kali dilanda krisis moral dan identitas. Dengan memahami dan mengamalkan teladan Nabi melalui kedua jalur periwayatan ini, seorang muslim tidak hanya menjadi pribadi yang taat beragama, tetapi juga warga dunia yang beradab dan berkontribusi positif.
Kesimpulan
Dengan mendalami Contoh Hadits Sunnah Qawliyyah dan Filiyyah, kita tidak hanya mengumpulkan pengetahuan sejarah, tetapi merajut hubungan yang hidup dengan warisan Nabi. Penerapannya dalam konteks kekinian justru menegaskan universalitas ajaran Islam. Nilai-nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan ketakwaan yang terkandung di dalamnya tetap menjadi kompas yang paling andal, membimbing setiap langkah di tengah kompleksitas dunia modern. Pada akhirnya, mempelajari dan mengamalkan kedua jenis sunnah ini adalah manifestasi kecintaan dan upaya untuk menghadirkan cahaya Rasulullah dalam setiap dimensi kehidupan.
Pertanyaan Populer dan Jawabannya
Apakah semua perbuatan Nabi Muhammad SAW termasuk Sunnah Fi’liyyah yang wajib diikuti?
Tidak. Para ulama membedakan antara perbuatan Nabi yang bersifat tasyri’ (menetapkan hukum/ajaran) dan yang bersifat ‘adiyyah/jibilliyyah (kebiasaan manusiawi atau khusus untuk beliau). Contoh tasyri’ adalah tata cara shalat, sementara kebiasaan makan, minum, atau pakaian beliau yang tidak terkait dengan wahyu termasuk ‘adiyyah dan tidak wajib diikuti, meski bisa menjadi sunnah jika diniatkan untuk meneladani.
Bagaimana jika ditemukan kontradiksi antara hadits Qawliyyah dan Fi’liyyah?
Ulama menggunakan ilmu mushthalah hadits untuk menilai kualitas sanad dan matan masing-masing hadits. Jika keduanya sahih, maka dilakukan tarjih (mengunggulkan salah satu) dengan berbagai metode, seperti melihat kronologi waktu (nasikh-mansukh), kekhususan, atau konteks. Dalam banyak kasus, Fi’liyyah justru berfungsi sebagai penjelas (bayan) praktis terhadap Qawliyyah yang bersifat umum.
Apakah ada jenis sunnah selain Qawliyyah dan Fi’liyyah?
Ya. Para ulama juga membahas Sunnah Taqririyyah, yaitu ketetapan Nabi yang ditunjukkan melalui persetujuan diam-diam (tidak mengingkari) terhadap perbuatan atau perkataan sahabat di hadapan beliau. Selain itu, ada juga pembahasan tentang sifat-sifat fisik dan akhlak Nabi (Sifah atau Ahwal) yang juga menjadi bagian dari teladan.
Bagaimana cara membedakan hadits Qawliyyah dan Fi’liyyah bagi pemula?
Perhatikan konteks redaksi (matan) hadits. Hadits Qawliyyah biasanya diawali dengan “Rasulullah SAW bersabda…” (Qala Rasulullah) dan berisi perkataan. Hadits Fi’liyyah sering diawali dengan “Rasulullah SAW melakukan…” (Fa’ala Rasulullah) atau “Kami melihat Nabi SAW…” dan menggambarkan suatu tindakan. Kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari-Muslim biasanya telah mengelompokkannya dalam bab-bab tertentu.