Corak Candi Jawa Tengah di Berbagai Bagian Menampilkan Kekayaan Arsitektur

Corak Candi Jawa Tengah di Berbagai Bagian adalah sebuah mahakarya peradaban yang berbicara melalui batu. Setiap sudut, ukiran, dan susunannya bukan sekadar estetika, melainkan sebuah bahasa simbol yang kaya akan makna filosofi, mitologi, dan kecanggihan teknik. Melihatnya ibarat membuka buku sejarah hidup yang mengabadikan jejak Hindu-Buddha di tanah Jawa, menawarkan cerita tentang kepercayaan, kosmologi, dan kearifan lokal masyarakat masa lalu.

Dari relief yang memuat epos Ramayana dan Mahabharata di Candi Prambanan, filosofi mandala dalam tata letak gerbang, hingga simbolisme flora-fauna seperti kalpataru dan garuda, setiap elemen memiliki narasinya sendiri. Evolusi gaya arsitektur dari masa Mataram Kuno hingga pengaruh Majapahit awal juga menunjukkan dinamika budaya dan adaptasi yang luar biasa, membuat setiap candi memiliki karakter unik yang layak untuk ditelusuri lebih dalam.

Perwujudan Mitologi Hindu dalam Relief Candi Jawa Tengah

Dinding-dinding candi di Jawa Tengah bukan sekadar struktur batu, melainkan kanvas raksasa yang mengabadikan epos besar peradaban. Kisah-kisah dari Ramayana dan Mahabharata diukir dengan sangat detail, mentransformasikan kompleks candi seperti Prambanan dan Mendut menjadi semacam buku batu yang dapat dibaca oleh para peziarah dan umat. Relief-relief ini berfungsi sebagai media edukasi, pengingat akan dharma, dan sekaligus persembahan seni yang abadi.

Narasi epik tersebut tidak disajikan secara acak, melainkan dirangkai dalam panel-panel berurutan yang mengelilingi tubuh candi, seringkali dalam pola pradaksina (berputar searah jarum jam). Penggambaran adegan seperti pertempuran Rama melawan Rahwana atau percakapan Krishna dengan Arjuna di Kurukshetra bukan hanya soal keindahan visual. Setiap pahatan sarat dengan pesan moral, filosofis, dan spiritual tentang kebaikan melawan kejahatan, kewajiban, pengorbanan, dan akhirnya pencerahan.

Karakter Mitologi Utama dalam Visual Relief

Tiga karakter yang paling dominan menghiasi relief-relief ini adalah Rama, Krishna, dan Hanuman. Rama, sang tokoh utama Ramayana, hampir selalu digambarkan sebagai pria tampan dengan sikap tenang dan membawa panah, melambangkan raja ideal yang teguh pada prinsip kebenaran (dharma) meski menghadapi cobaan berat. Krishna, sebagai penasihat dalam Mahabharata, sering ditampilkan dalam posisi bersila sedang memainkan seruling atau sedang menyampaikan wejangan suci Bhagavad Gita kepada Arjuna.

Ia merepresentasikan kebijaksanaan dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara Hanuman, sang kera putih yang perkasa, digambarkan dengan tubuh yang dinamis dan penuh energi, simbol dari bhakti (devosi) tanpa pamrih, kekuatan, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.

Adegan Epos Candi Prambanan Candi Sewu Candi Sojiwan
Pembuangan Sinta Digambarkan dengan detail emosi yang dalam Ditampilkan dalam panel yang lebih simbolis Adegan ini menjadi fokus narasi utama
Pertempuran Rama vs Rahwana Adegan dinamis dengan banyak figur pendukung Lebih menekankan pada duel kedua tokoh Reliefnya lebih sederhana dan stylized
Kisah Laksmana dan Surpanakha Panel yang jelas dan mudah diikuti Ditampilkan dalam urutan cerita yang panjang Pemotongan hidung Surpanakha digambarkan eksplisit
Wejangan Bhagavad Gita Tidak terdapat (candi Siwa) Tidak terdapat (candi Buddha) Tidak terdapat (candi Buddha)

Ilusi Kedalaman dan Dinamika dalam Teknik Pahat

Para undagi (arsitek) Jawa Kuno menguasai teknik pahat rendah (bas-relief) yang luar biasa. Mereka tidak hanya menggoreskan garis di permukaan batu, tetapi memahat dengan variasi kedalaman yang berbeda. Figur latar belakang dipahat sangat tipis dan samar, sementara figur utama dibuat lebih menonjol. Teknik ini, dikombinasikan dengan kemiringan tertentu dalam pengukiran pakaian dan tubuh, menciptakan permainan bayangan ketika terkena sinar matahari. Hasilnya adalah sebuah ilusi optik akan kedalaman ruang dan gerakan, membuat adegan yang statis terasa hidup dan dramatis, seolah-olah kita sedang menyaksikan sebuah pertunjukan wayang yang terbuat dari batu.

Filosofi Arsitektur dan Tata Letak Gerbang di Kompleks Candi

Memasuki sebuah kompleks candi di Jawa Tengah terasa seperti melakukan perjalanan simbolis menuju alam suci. Perjalanan ini diatur melalui serangkaian gerbang yang tidak dibangun secara sembarangan, tetapi berdasarkan sebuah konsep kosmologis yang mendalam. Tata letak ini mencerminkan pemahaman dunia yang hierarkis, dari yang profan di luar menuju yang paling sakral di pusat.

Konsep inti yang mendasarinya adalah mandala, sebuah diagram kosmis yang merepresentasikan alam semesta. Kompleks candi dirancang sebagai microcosmos dari mandala ini. Gerbang utama biasanya terletak di sisi timur, menandai pintu masuk menuju alam yang lebih suci. Seringkali, terdapat gerbang tambahan di penjuru mata angin lainnya (barat, utara, selatan) yang membentuk sebuah poros imajiner yang berpotongan di candi utama. Setiap gerbang yang dilalui menyaring pengunjung, baik secara fisik maupun spiritual, mempersiapkan mereka untuk mencapai tujuan akhir.

BACA JUGA  Persentase Keuntungan Pak Dedi dari Penjualan Motor Bekas Rahasianya

Gerbang Utama Candi Borobudur dan Makna Protektifnya

Gerbang utama Candi Borobudur, meski tidak sebesar Prambanan, memiliki kekuatan simbolis yang sangat besar. Di atas pintu masuk, terdapat hiasan Kala-Makara yang sangat ikonik. Kepala Kala yang garang dan menyeringai, sering disebut sebagai Banaspati, dipahat di bagian puncak lengkungan gerbang. Mulutnya terbuka lebar tanpa rahang bawah, seolah-olah siap menelan. Dari sisi kepala Kala, muncul sulur-sulur yang elegan yang berubah menjadi makara, makhluk mitologi mirip ikan atau gajah, yang mengalir ke bawah menyusuri sisi pintu.

Kala melambangkan waktu sekaligus kematian, sementara makara adalah penjaga air dan kesuburan. Kombinasi ini bukan sekadar hiasan; ia berfungsi sebagai pelindung spiritual (apotropaic) yang mengusir roh jahat dan pengaruh negatif, memastikan hanya mereka yang berhati bersih yang dapat memasuki area suci.

Perbandingan Gapura Paduraksa dan Gapura Bentar

Dalam arsitektur candi Jawa Tengah, dikenal dua jenis gerbang utama: gapura paduraksa dan gapura bentar. Gapura paduraksa adalah gerbang beratap tertutup yang memiliki daun pintu. Strukturnya menyerupai candi kecil yang menutupi jalan masuk, dengan ruang di dalamnya. Contoh yang sangat jelas adalah gerbang masuk kompleks Candi Plaosan. Sebaliknya, gapura bentar adalah gerbang terbelah atau “candi belah” tanpa atap penutup dan daun pintu.

Ia terdiri dari dua kaki candi yang identik yang dipisahkan oleh sebuah jalan di tengahnya, menciptakan sebuah bukaan yang monumental. Gapura jenis ini banyak ditemui di kompleks percandian di lereng Gunung Penanggungan dan menjadi cikal bakal gerbang masuk keraton dan pura di Bali. Perbedaan utama terletak pada fungsi dan pengalaman ruangnya; paduraksa lebih bersifat menyaring dan mengurung, sementara bentar bersifat membuka dan mengarahkan.

Kesesuaian Orientasi Gerbang dengan Mata Angin

Kosmologi Hindu-Buddha memandang arah mata angin bukan hanya sebagai petunjuk geografis, tetapi sebagai kediaman dewa-dewa dan kekuatan kosmik tertentu. Orientasi gerbang candi sangat selaras dengan keyakinan ini.

  • Timur: Dianggap sebagai arah paling suci, tempat terbitnya matahari (dewa Surya) yang melambangkan penciptaan dan pencerahan. Hampir semua candi utama memiliki gerbang utama yang menghadap ke timur.
  • Barat: Dikaitkan dengan dewa Varuna, penguasa air dan laut, serta alam bawah. Gerbang barat sering mengarah menuju elemen air atau ruang penyucian.
  • Utara: Dihubungkan dengan dewa kekayaan, Kubera, dan para bijak. Area utara sering diasosiasikan dengan kemakmuran dan pembelajaran.
  • Selatan: Merupakan wilayah Yama, dewa kematian dan keadilan. Meski terdakangker, gerbang selatan tetap menjadi bagian dari keseimbangan kosmik mandala.

Simbolisme Flora dan Fauna pada Ornamen Candi Jawa Tengah

Setiap inci permukaan candi di Jawa Tengah diisi dengan kehidupan, bukan hanya melalui narasi manusia dan dewa, tetapi juga melalui dunia flora dan fauna yang kaya akan makna. Ornamen-ornamen ini jauh dari sekadar dekorasi belaka; mereka adalah bahasa simbolis yang menyampaikan konsep filosofis, spiritual, dan kosmologis dari peradaban yang membangunnya. Melalui ukiran pohon kalpataru yang mengharukan atau sosok garuda yang perkasa, para undagi menyampaikan pesan tentang alam semesta, keinginan manusia, dan jalan menuju pembebasan.

Pohon kalpataru, atau pohon hayat, adalah motif flora yang paling universal. Ia digambarkan sebagai pohon yang rimbun dan simetris, seringkali diapit oleh dua makhluk seperti singa atau kinara-kinari. Kalpataru melambangkan dunia yang tengah, tempat manusia tinggal, serta pengharapan akan kemakmuran, kesuburan, dan umur panjang. Sementara itu, dari dunia fauna, garuda mencuat sebagai simbol utama. Burung mitologi tunggangan Dewa Wisnu ini melambangkan kekuatan, keberanian, kecepatan pikiran, dan pengabdian tanpa batas.

Keberadaannya mengingatkan pada kemampuan untuk mengangkat diri dari hal-hal yang bersifat duniawi menuju spiritual.

Motif Bunga Teratai pada Alas Arca Buddha

Corak Candi Jawa Tengah di Berbagai Bagian

Source: slidesharecdn.com

Dalam seni Buddhis, hampir tidak ada satu pun arca Buddha yang tidak berdiri atau duduk di atas alas yang diukir dengan motif bunga teratai (padmasana). Motif ini dipilih dengan sangat mendalam. Bunga teratai tumbuh dari lumpur di dasar kolam yang gelap, namun bunganya berkembang sempurna di atas permukaan air, bersih dan tidak ternoda oleh lumpur asalnya. Proses ini adalah sebuah analogi sempurna untuk pencerahan.

Lumpur merepresentasikan dunia samsara yang penuh dengan nafsu dan kebodohan, sementara bunga yang mekar sempurna melambangkan keadaan Buddha, yang telah bangkit dan tercerahkan meski berasal dari dunia yang fana. Jumlah kelopak teratai juga memiliki makna, misalnya teratai dengan delapan kelopak sering merujuk pada Jalan Utama Berunsur Delapan.

>Penjaga ambang pintu, pelindung dari roh jahat, simbol kesuburan dan air

>Penjaga harta karun, kekuatan alam bawah tanah, pelindung Dharma

>Penjaga arah (Dikpala), keperkasaan, dan kebenaran Dharma

>Simbol keharmonisan, kecantikan, dan penyampai pesan antara dunia manusia dan dewa

>Tunggangan Dewa Indra, simbol kekuatan, stabilitas, kebijaksanaan, dan kemakmuran

Hewan Mitologis Penampilan Fisik Asal Mitologi Makna Simbolis
Makara Kepala seperti gajah atau naga, tubuh seperti ikan Hindu
Naga Ular besar atau ular bersayap Hindu dan Buddha
Singa (Simha) Hewan buas yang gagah Buddha
Kinara-Kinari Makhluk setengah manusia (atas) setengah burung (bawah) Hindu-Buddha Jawa
Gajah (Airawata) Gajah putih Hindu

Narasi Simbolis dalam Interaksi Flora dan Fauna

Kekuatan naratif ornamen candi seringkali muncul justru dari interaksi yang harmonis antara elemen flora dan fauna dalam satu panel. Sebuah panel yang menggambarkan seekor burung yang sedang mematuk buah pada sebuah pohon yang rimbun, atau seekor singa yang sedang berdiri gagah di antara sulur-sulur dan bunga, bukanlah adegan naturalistik belaka. Setiap interaksi ini menciptakan sebuah narasi simbolis yang utuh tentang keseimbangan kosmik. Pohon (flora) mewakili dunia vegetatif, kesuburan, dan kehidupan yang statis. Sementara hewan (fauna) mewakili dunia animal, kekuatan, dan dinamika. Ketika keduanya disatukan dalam komposisi yang seimbang, mereka bercerita tentang keselarasan antara berbagai kekuatan alam, saling ketergantungan antara semua makhluk, dan keinginan untuk mencapai keseimbangan sempurna antara dunia material dan spiritual, antara keinginan dan pelepasan.

Transformasi Gaya Arsitektur dari Masa Mataram Kuno hingga Majapahit Awal

Gunung-gunung batu di Jawa Tengah sebenarnya adalah sebuah garis waktu visual yang merekam evolusi estetika dan teknik arsitektur selama berabad-abad. Dari masa kejayaan Mataram Kuno hingga transisi ke periode Jawa Timuran, bentuk dan proporsi candi mengalami transformasi yang halus namun signifikan. Perubahan ini tidak hanya mencerminkan perkembangan selera seni, tetapi juga adaptasi terhadap keyakinan religius, ketersediaan material, dan inovasi teknik lokal yang semakin matang.

Pada awalnya, konsep arsitektur candi sangat dipengaruhi oleh model dari India Selatan, khususnya gaya Dravida. Candi-candi awal seperti kelompok Candi Dieng (abad ke-7 hingga ke-8 M) menunjukkan karakter yang lebih sederhana, kompak, dan vertikal. Bentuknya menyerupai menara (shikhara) dengan profil yang relatif lurus. Namun, para undagi Jawa tidak hanya meniru. Mereka segera mengadopsi dan mengadaptasi bentuk-bentuk ini, meleburkannya dengan tradisi leluhur lokal yang sudah ada, seperti konsep punden berundak dari zaman megalitikum.

Hasilnya adalah sebuah bahasa arsitektur yang unik dan khas Jawa, yang mencapai puncaknya pada Candi Borobudur dan kompleks Candi Prambanan.

Perbedaan Proporsi Candi Abad ke-8 dan ke-9

Perkembangan yang paling terlihat adalah dalam proporsi tiga bagian utama candi: batur (kaki), badan (tubuh), dan atap. Pada candi-candi dari paruh pertama abad ke-8 (misalnya Candi Gunung Wukir), baturnya cenderung rendah dan tidak terlalu menonjol, badan candi lebih dominan dan berisi satu ruang utama, sementara atapnya bertingkat-tingkat dengan puncak yang relatif sederhana. Menjelang akhir abad ke-9, proporsi ini berubah secara dramatis, terutama pada candi Siwa seperti di Prambanan.

Batur menjadi lebih tinggi, berbentuk persegi dengan selasar yang mengelilingi, membuat candi terlihat lebih anggun dan monumentAL. Badan candi menyempit secara vertikal, seringkali berisi empat ruangan (satu di setiap penjuru mata angin). Yang paling mencolok adalah atapnya yang menjadi sangat tinggi, ramping, dan dihiasi dengan deretan stupa kecil (candi kecil), menciptakan siluet yang menjulang dan dinamis ke langit.

Penampang Candi Periode Mataram Kuno, Corak Candi Jawa Tengah di Berbagai Bagian

Sebuah candi dari periode Mataram Kuno, seperti yang tergambar pada Candi Sambisari, memiliki karakteristik penampang yang unik. Dindingnya sangat tebal, kadang mencapai lebih dari satu meter, dibangun dari balok-balok andesit yang disusun rapat. Ruang dalam (garbha ghriya) relatif sempit dan gelap, hanya cukup untuk menampung satu arca utama. Yang menarik adalah sistem saluran air (jaladwara) yang canggih yang terintegrasi pada batur candi.

Saluran-saluran kecil yang tersembunyi di balik lis batur ini berfungsi untuk mengalirkan air yang digunakan untuk upacara pembersihan (abhiseka) atau air hujan dari permukaan candi, menjaga struktur tetap kering dan stabil, menunjukkan pemikiran yang sangat mendetail tentang preservasi.

Keunikan corak candi di Jawa Tengah, dari relief Ramayana di Prambanan hingga stupa Buddha di Borobudur, memang mengagumkan. Tahu nggak, teknologi pengukuran juga punya sejarah panjang, mirip seperti kita menelusuri detail arsitektur ini. Contohnya, Termometer Pertama Dibuat Tahun 1592 oleh Galileo. Nah, kembali ke candi, presisi dalam menata batu dan menyusun cerita dalam relief juga menunjukkan tingkat kecanggihan tersendiri yang patut dikaji.

Pengaruh India dan Adaptasi Lokal pada Detail Arsitektur

Pengaruh kebudayaan India sangat kuat terlihat pada elemen-elemen dekoratif dan struktural. Namun, para pengrajin Jawa melakukan adaptasi genius yang membuatnya menjadi khas.

  • Relung: Relung India biasanya polos dan dalam. Relung di candi Jawa, seperti di Prambanan, sering diberhi bingkai yang sangat rumit dan dihiasi dengan motif kala-makara, menciptakan efek bingkai yang hidup.
  • Hiasan Sudut Atap: Di India, sudut atap candi sering diakhiri dengan elemen seperti naga atau lion head. Di Jawa, hiasan ini berevolusi menjadi bentuk yang disebut dengan “candrika”, semacam mahkota atau antena yang melengkung elegan, atau bahkan menjadi relung kecil yang menampung arca dewa.
  • Bentuk Atap: Gaya atap India cenderung melengkung (convex). Para undagi Jawa mengembangkan bentuk atap yang khas dengan profil garis lurus yang membentuk sudut (piramidal), menciptakan siluet yang lebih tegas dan berundak, yang kemungkinan besar merupakan adaptasi dari bentuk atap rumah tradisional Jawa (limasan).

Teknik Pengerjaan Batu Andesit dan Metode Perakitan Candi Kuno: Corak Candi Jawa Tengah Di Berbagai Bagian

Keberadaan candi-candi megah yang bertahan lebih dari seribu tahun adalah bukti nyata dari kecanggihan teknik para undagi Jawa Kuno. Pencapaian mereka tidak hanya terletak pada desain artistik dan religius, tetapi yang lebih mengagumkan adalah pada kemampuan engineering mereka dalam mengolah batu andesit dan menyusunnya menjadi struktur yang stabil dan abadi, semua itu dilakukan tanpa menggunakan semen perekat modern. Setiap balok batu adalah sebuah potongan puzzle raksasa yang harus disusun dengan presisi mutlak.

Material utama, batu andesit, dipilih karena kekerasan dan ketahanannya terhadap cuaca. Batu ini biasanya ditambang dari lereng gunung berapi terdekat yang kaya dengan sumber batuan beku ini. Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi vein batu yang berkualitas, kemudian membuat celah-celah dengan menggunakan pahat dan palu dari batu atau logam. Kayu yang dimasukkan ke dalam celah dan kemudian dibasahi untuk mengembang digunakan sebagai cara untuk memecah balok besar dari bukit batu.

Setelah balok kasar terkumpul, proses pemotongan dan penghalusan permukaan dilakukan di lokasi pembangunan dengan menggunakan pahat, palu, dan mungkin alat abrasif dari pasir dan air.

Sistem Interlock Antar Balok Batu

Kunci dari kekokohan candi adalah sistem interlock atau penguncian yang diterapkan pada hampir setiap balok batu. Sistem ini mencegah pergeseran horisontal dan vertikal. Dua teknik yang paling umum adalah sistem “dowel” dan “mortise-tenon”. Dowel adalah semacam pasak dari batu yang dipasang pada dua balok yang berdekatan. Lubang (mortise) dipahat pada permukaan dua balok yang akan disambung, lalu sebuah pasak batu (tenon) ditancapkan untuk menyatukannya.

Teknik lain adalah dengan membuat alur dan lidah (groove and tongue) pada sisi balok, sehingga ketika disusun, mereka saling mengait. Teknik ini sangat efektif menahan gaya geser, terutama pada bagian yang menahan beban besar seperti ambang pintu dan sudut bangunan.

Prosedur Pemindahan Balok Batu Berat

Memindahkan balok batu andesit yang beratnya bisa mencapai ratusan kilogram dari sungai (sebagai tempat pengerjaan awal) atau tambang menuju lokasi candi adalah sebuah tantangan logistik yang luar biasa. Prosedur hipotetis yang paling mungkin adalah dengan menggunakan sistem transportasi sederhana yang cerdik. Balok batu diletakkan di atas sebuah “sled” atau peluncur yang terbuat dari kayu gelondongan. Sled ini kemudian ditarik oleh tenaga manusia atau hewan melalui jalur yang sudah dipersiapkan.

Untuk meminimalkan gesekan, jalur tersebut mungkin dialasi atau dilumasi dengan lumpur atau bahan licin lainnya. Diperkirakan juga digunakan sistem tuas dan katrol sederhana untuk menaikkan balok-batu ke tempat yang lebih tinggi. Koordinasi dan perencanaan yang sangat matang mutlak diperlukan untuk menyelesaikan tugas raksasa ini.

Kecanggihan Teknik pada Susunan Batu Sudut dan Lengkungan

Kecerdikan teknik undagi sangat terlihat pada bagian-bagian kritis candi, seperti sudut dan lengkungan gerbang. Pada sudut bangunan, batu-batu disusun dengan teknik khusus yang disebut “alternate bonding”, di mana balok dari baris yang satu menutupi sambungan balok dari baris di bawahnya, mirip dengan susunan bata modern. Teknik ini memberikan kekuatan dan stabilitas maksimal pada sudut yang rentan. Sementara itu, untuk membuat lengkungan gerbang yang kokoh (corbelled arch), setiap lapisan batu dipahat dan disusun sehingga sedikit menjorok ke dalam dibanding lapisan di bawahnya, hingga kedua sisi akhirnya bertemu di puncak.

Batu penutup (key stone) di puncak kemudian mengunci seluruh struktur. Meski bukan true arch seperti Romawi, teknik ini terbukti sangat efektif dan tahan lama, menahan beban dari atas selama berabad-abad.

Penutup

Jadi, menjelajahi Corak Candi Jawa Tengah di Berbagai Bagian pada dasarnya adalah memahami sebuah peradaban yang telah mencapai puncak kreativitas dan spiritualitas. Karya para undagi ini tidak hanya dibangun untuk tujuan religius, tetapi juga sebagai warisan abadi yang mencerminkan kecerdasan, ketekunan, dan apresiasi mendalam terhadap seni dan alam. Keberadaannya mengajak kita untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merenungi setiap detail sebagai bagian dari puzzle sejarah Nusantara yang begitu mempesona dan patut dilestarikan.

Jawaban yang Berguna

Apakah semua candi di Jawa Tengah terbuat dari batu andesit?

Tidak semua. Meski andesit adalah material paling umum dan tahan lama yang digunakan untuk candi-candi besar, ada juga candi yang dibangun dari bata merah, seperti kompleks Candi Muaro Jambi di Sumatera (di luar Jawa Tengah) atau beberapa struktur pendukung di dalam kompleks.

Mengapa banyak relief candi yang menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata?

Kedua epos ini bukan sekadar cerita, tetapi merupakan panduan hidup yang penuh dengan nilai moral, spiritual, dan dharma. Dengan mengukirkannya, para pembangun candi ingin mengabadikan ajaran-ajaran tersebut dan membuatnya dapat diakses serta dipelajari oleh generasi mendatang.

Apa fungsi sebenarnya dari hiasan Kala-Makara yang sering ditemui di gerbang candi?

Selain sebagai elemen dekoratif, Kala-Makara memiliki fungsi magis dan protektif yang kuat. Dipercaya sebagai penjaga gerbang, ia berperan untuk mengusir roh jahat dan energi negatif, melindungi area suci di dalam kompleks candi dari gangguan.

Bagaimana cara candi yang dibangun tanpa semen bisa begitu kokoh dan bertahan lama?

Kekokohan candi berasal dari sistem interlock atau saling kunci yang sangat presisi antara balok-balok batu. Setiap batu dipotong dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat mencengkeram batu di sebelahnya, menciptakan struktur yang stabil dan tahan gempa tanpa perlu perekat.

Apakah ada perbedaan yang mudah dikenali antara candi bercorak Hindu dan Buddha di Jawa Tengah?

Secara umum, candi Hindu biasanya memiliki bentuk yang ramping dengan puncak berbentuk ratna atau amalaka, serta arca-arca dewa Hindu. Sementara candi Buddha seringkali lebih kekar dengan puncak stupa, dan dihiasi dengan arca Buddha serta relief yang menceritakan kehidupan Sang Buddha.

BACA JUGA  Volume Total Kubus A dan B Rusuk B 2× Rusuk A dan Implikasi Eksponensialnya

Leave a Comment