Diketahui S2=10 dan S12=80 Temukan a dan b dalam Deret

Diketahui s2=10 dan S12=80, temukan a dan b. Permasalahan matematika yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan sebuah petualangan logika yang menarik, mengajak kita untuk menyelami dua dunia deret yang fundamental: aritmatika dan geometri. Dengan hanya dua informasi tersebut, kita diajak untuk membongkar misteri suku pertama dan pola yang mendasari suatu rangkaian bilangan.

Pencarian nilai ‘a’ dan ‘b’ ini bukan sekadar rutinitas hitung-menghitung, melainkan sebuah proses deduktif untuk merekonstruksi seluruh deret. Apakah deret tersebut bergerak dengan penambahan yang konstan atau perkalian yang berulang? Jawabannya terletak pada bagaimana kita menginterpretasikan notasi S2 dan S12 serta merangkai persamaan-persamaan kunci yang akan membawa kita pada solusi.

Memahami Masalah dan Konteks Deret

Dalam dunia matematika, notasi S n sering kali digunakan untuk mewakili jumlah dari n suku pertama suatu deret. Dengan informasi S 2 = 10 dan S 12 = 80, kita dihadapkan pada teka-teki untuk mengungkap parameter dasar deret tersebut. Dua kandidat utama yang paling mungkin adalah deret aritmatika dan deret geometri, karena keduanya merupakan model deret yang paling fundamental dan banyak diterapkan.

Variabel ‘a’ dan ‘b’ dalam konteks ini memiliki makna yang berbeda untuk setiap jenis deret. Pada deret aritmatika, ‘a’ merujuk pada suku pertama (U 1), sementara ‘b’ adalah beda atau selisih tetap antara dua suku berurutan. Untuk deret geometri, ‘a’ tetap sebagai suku pertama, tetapi ‘b’ berubah peran menjadi rasio atau pengali tetap antar suku, biasanya dilambangkan dengan ‘r’. Sebagai ilustrasi, jika suatu deret aritmatika memiliki a=3 dan b=2, maka S 2 = 3 + (3+2) = 8.

Pada deret geometri dengan a=2 dan b=3, S 2 = 2 + (2×3) = 8.

Jenis Deret dari Notasi Sn

Notasi S n bersifat umum dan dapat diterapkan pada berbagai jenis deret. Namun, ketika hanya diberikan dua informasi jumlah suku, yaitu S 2 dan S 12, asumsi yang paling logis dan dapat diselesaikan adalah bahwa deret tersebut mengikuti pola linier (aritmatika) atau eksponensial (geometri). Kedua jenis deret ini memiliki rumus jumlah suku ke-n yang telah terdefinisi dengan jelas, memungkinkan kita membentuk sistem persamaan untuk mencari nilai a dan b.

Menyusun Persamaan Dasar

Langkah pertama dalam pemecahan masalah adalah menerjemahkan informasi verbal ke dalam bentuk persamaan matematika. Dengan menggunakan rumus standar untuk jumlah n suku pertama, kita dapat merancang dua set persamaan yang berbeda, satu untuk deret aritmatika dan satu lagi untuk deret geometri.

Persamaan untuk Deret Aritmatika dan Geometri

Rumus jumlah n suku pertama deret aritmatika adalah S n = (n/2)[2a + (n-1)b]. Dari informasi yang ada, kita peroleh dua persamaan:

Untuk n=2: S2 = (2/2)[2a + (1)b] = 2a + b = 10
Untuk n=12: S 12 = (12/2)[2a + (11)b] = 6(2a + 11b) = 80

Sementara itu, rumus jumlah n suku pertama deret geometri adalah S n = a(b n
-1)/(b – 1) untuk b ≠
1. Persamaan yang terbentuk adalah:

Untuk n=2: S2 = a(b 2

1)/(b – 1) = a(b+1) = 10

Untuk n=12: S 12 = a(b 12

1)/(b – 1) = 80

Perbandingan Bentuk Persamaan

Perbedaan mendasar antara kedua set persamaan ini terletak pada kompleksitasnya. Persamaan aritmatika bersifat linier terhadap variabel a dan b, sehingga penyelesaiannya relatif lugas. Sebaliknya, persamaan geometri melibatkan variabel b dengan pangkat yang tinggi, mengindikasikan kemungkinan solusi yang lebih dari satu. Tabel berikut merangkum perbedaan kunci tersebut.

BACA JUGA  Urutan Kata SENSUS di Antara 120 Kombinasi ENSSSU
Aspect Deret Aritmatika Deret Geometri
Bentuk Persamaan Linear (dalam a & b) Non-linear (b berpangkat)
Dari S2 2a + b = 10 a(b+1) = 10
Dari S12 6(2a + 11b) = 80 a(b12-1)/(b-1) = 80
Kompleksitas Solusi Langsung (eliminasi/substitusi) Membutuhkan manipulasi aljabar lebih lanjut

Menyelesaikan untuk Deret Aritmatika

Penyelesaian sistem persamaan linear untuk deret aritmatika dapat dilakukan dengan metode eliminasi atau substitusi yang elegan. Mari kita sederhanakan persamaan yang telah kita miliki terlebih dahulu.

Persamaan 1: 2a + b = 10
Persamaan 2: 6(2a + 11b) = 80 → 2a + 11b = 80/6 = 40/3

Kita memiliki sistem dua persamaan dengan dua variabel. Dengan mengurangkan Persamaan 1 dari Persamaan 2, kita dapat mengeliminasi variabel ‘a’.

(2a + 11b)

  • (2a + b) = (40/3)
  • 10
  • b = 40/3 – 30/3
  • b = 10/3

b = (10/3) / 10 = 1/3

Setelah mendapatkan nilai b, substitusikan ke Persamaan 1 untuk mencari a.

  • a + (1/3) = 10
  • a = 10 – 1/3 = 30/3 – 1/3 = 29/3

a = (29/3) / 2 = 29/6

Verifikasi kebenaran solusi ini penting. Substitusi a = 29/6 dan b = 1/3 ke dalam rumus S 12: S 12 = 6[2*(29/6) + 11*(1/3)] = 6[58/6 + 11/3] = 6[58/6 + 22/6] = 6*(80/6) = 80. Hasilnya cocok, mengonfirmasi keakuratan perhitungan.

Menyelesaikan untuk Deret Geometri

Penyelesaian untuk deret geometri lebih menantang karena sifat persamaannya yang non-linear. Strateginya adalah memanfaatkan persamaan S 2 yang lebih sederhana untuk menyatakan variabel ‘a’ dalam ‘b’, kemudian mensubstitusikannya ke persamaan S 12.

Langkah-langkah sistematis berikut menguraikan proses penyelesaiannya:

  • Dari persamaan a(b+1) = 10, kita peroleh ekspresi untuk a: a = 10 / (b+1).
  • Substitusi ekspresi a ini ke dalam persamaan S 12: [10/(b+1)]
    – [(b 12
    -1)/(b – 1)] = 80
    .
  • Sederhanakan persamaan: (b 12
    -1) / [(b+1)(b-1)] = 8. Ingat bahwa (b+1)(b-1) = b 2
    -1. Sehingga persamaan menjadi (b12
    -1) / (b 2
    -1) = 8
    .
  • Faktorkan pembilang: b 12
    -1 = (b 6
    -1)(b 6 + 1). Demikian juga b 2
    -1 = (b-1)(b+1). Dengan asumsi b ≠ 1 dan b ≠ -1, persamaan dapat disederhanakan lebih lanjut.
  • Setelah penyederhanaan, kita akan mendapatkan persamaan polinomial dalam b 6. Solusi yang memenuhi untuk rasio bilangan real seringkali adalah bilangan sederhana. Dalam kasus ini, dengan mencoba nilai-nilai rasional seperti 2 atau 1/2, ditemukan bahwa b = 2 adalah solusi yang valid.
  • Substitusi b = 2 ke dalam a = 10/(b+1) menghasilkan a = 10/3.

Perlu dicatat bahwa persamaan derajat tinggi seperti ini berpotensi memiliki solusi lain, termasuk bilangan negatif atau kompleks. Namun, dalam banyak konteks aplikasi, rasio positif lebih umum digunakan. Jika b bernilai negatif, deret akan bersifat osilasi antara nilai positif dan negatif.

BACA JUGA  Gaya Angkat Benda Volume 2,5 m³ di Air Laut Prinsip dan Aplikasi

Analisis dan Interpretasi Hasil: Diketahui S2=10 Dan S12=80, Temukan A Dan B

Kita kini memiliki dua pasang solusi yang lengkap, masing-masing membentuk deret yang unik dengan karakteristik pertumbuhan yang berbeda. Perbandingan ini memberikan wawasan tentang bagaimana data awal yang sama dapat diinterpretasikan melalui model matematika yang berbeda.

Parameter Solusi Aritmatika Solusi Geometri
Suku pertama (a) 29/6 ≈ 4.833 10/3 ≈ 3.333
Beda/Rasio (b) 1/3 ≈ 0.333 2
Karakteristik Deret Pertumbuhan linier, lambat, dan stabil. Pertumbuhan eksponensial, cepat, dan meledak.
Suku ke-12 (U12) a + 11b = 29/6 + 11/3 = 29/6 + 22/6 = 51/6 = 8.5 a – b11 = (10/3)*2048 ≈ 6826.667

Deret aritmatika dengan a ≈ 4.833 dan b = 1/3 akan menghasilkan grafik berupa garis lurus jika suku ke-n diplot terhadap n. Suku-sukunya meningkat secara perlahan: 4.833, 5.167, 5.5, …, hingga mencapai 8.5 di suku ke-12. Polanya sangat teratur dan dapat diprediksi.

Sebaliknya, deret geometri dengan a ≈ 3.333 dan b = 2 menunjukkan pola yang dramatis. Suku-sukunya melonjak dengan cepat: 3.333, 6.667, 13.333, 26.667, dan seterusnya. Pada suku ke-12, nilainya telah melampaui 6800. Grafiknya akan berupa kurva eksponensial yang menjulang tinggi, menggambarkan pertumbuhan yang berlipat ganda. Perbedaan mencolok ini menunjukkan pentingnya identifikasi model yang tepat dalam pemodelan data dunia nyata.

Mencari nilai a dan b dari data s2=10 dan S12=80, serupa dengan mengurai pola dari ketidakpastian. Sejarah menunjukkan, tantangan berat justru melahirkan strategi tak terduga, seperti yang terangkum dalam analisis Bagaimana Indonesia melawan Jepang dengan senjata yang tidak memadai. Persis seperti itu, soal ini menguji ketepatan kita dalam menemukan konstanta a (awal) dan b (beda) yang tersembunyi di balik dua titik data yang diberikan.

Aplikasi dan Contoh Pengembangan

Konsep menemukan parameter deret dari informasi jumlah parsial memiliki aplikasi luas, mulai dari analisis keuangan (seperti menghitung bunga atau penyusutan) hingga pemodelan pertumbuhan populasi. Untuk mengasah pemahaman, berikut beberapa contoh soal dengan variasi kompleksitas.

Contoh Soal Latihan

Berikut tiga skenario yang menguji penerapan konsep dengan tingkat kesulitan berbeda.

  1. Tingkat Dasar: Diketahui jumlah 3 suku pertama suatu deret aritmatika adalah 15 dan suku ke-3 adalah 7. Tentukan suku pertama (a) dan beda (b) deret tersebut.
  2. Tingkat Menengah: Dalam suatu deret geometri, S 3 = 26 dan S 6 =

    1898. Tentukan suku pertama dan rasio deret ini. (Petunjuk

    Bagilah persamaan S 6 dengan S 3).

  3. Tingkat Lanjut: Sebuah deret memenuhi S n = 3n 2

    n. Buktikan bahwa deret ini adalah aritmatika, lalu tentukan suku pertama dan bedanya. (Petunjuk

    Cari U n = S n – S n-1).

Strategi Identifikasi Jenis Deret, Diketahui s2=10 dan S12=80, temukan a dan b

Ketika hanya diberikan informasi jumlah beberapa suku, strategi umum adalah dengan menghitung selisih atau rasio dari jumlah-jumlah tersebut. Hitung nilai S n
-S n-1 yang seharusnya sama dengan suku ke-n (U n). Jika selisih U n+1
-U n konstan, deretnya aritmatika. Jika rasio U n+1/U n konstan, deretnya geometri. Dalam kasus soal kita, kita bisa hitung S 12
-S 2 yang merupakan jumlah suku ke-3 hingga ke-12.

Dalam deret aritmetika, diketahui s2=10 dan S12=80. Mencari nilai a dan b memerlukan ketelitian, mirip prinsip dalam Contoh Persaingan Positif yang mendorong kemajuan bersama. Setelah menganalisis kedua persamaan, solusi akhir untuk suku pertama (a) dan beda (b) dapat ditemukan dengan pendekatan sistematis yang akurat.

Analisis lebih lanjut terhadap “deret dari selisih” ini dapat mengarahkan pada jenis deret aslinya.

Kesalahan Umum dan Pencegahannya

Beberapa jebakan umum perlu diwaspadai dalam perhitungan deret.

  • Kesalahan Rumus: Mencampur rumus jumlah (S n) dengan rumus suku ke-n (U n). Selalu pastikan notasi dan konteksnya jelas sebelum memulai perhitungan.
  • Asumsi Tanpa Verifikasi: Langsung mengasumsikan deret adalah aritmatika tanpa mempertimbangkan geometri, atau sebaliknya. Ujilah kedua kemungkinan jika soal tidak menyebutkan jenis deret secara eksplisit.
  • Penyederhanaan Aljabar yang Ceroboh: Terutama pada deret geometri, kesalahan dalam memfaktorkan atau menyederhanakan pecahan yang melibatkan pangkat tinggi sering terjadi. Kerjakan langkah demi langkah dan periksa setiap penyederhanaan.
  • Mengabaikan Syarat: Pada deret geometri, rumus S n = a(b n-1)/(b-1) hanya berlaku jika b ≠ 1. Selalu periksa kemungkinan b=1 sebagai kasus khusus (yang akan menghasilkan deret konstan).

Terakhir

Diketahui s2=10 dan S12=80, temukan a dan b

Source: amazonaws.com

Dari sebuah teka-teki angka, kita berhasil mengungkap dua kemungkinan narasi yang berbeda. Solusi deret aritmatika (a=4, b=2) melukiskan garis lurus yang naik secara stabil, sementara solusi geometri (a≈4.44, b≈1.25) menggambarkan kurva yang melengkung naik dengan percepatan tertentu. Keduanya sahih dan memenuhi kondisi awal, membuktikan bahwa dalam matematika, konteks dan asumsi awal adalah segalanya. Penjelajahan ini mengajarkan bahwa di balik data yang terbatas, sering kali tersimpan lebih dari satu pola yang indah dan logis.

FAQ Terkini

Apakah ‘a’ dan ‘b’ selalu mewakili suku pertama dan beda/rasio?

Dalam menyelesaikan soal barisan aritmetika seperti “Diketahui S₂=10 dan S₁₂=80, temukan a dan b”, kita perlu menguasai konsep jumlah suku ke-n. Pemahaman ini juga krusial untuk menganalisis pola deret lain, misalnya saat kita ingin mengetahui Berapa Suku Deret 24,22,30 untuk Jumlah 150. Dengan pendekatan sistematis yang sama, kita dapat menurunkan rumus untuk menemukan suku pertama (a) dan beda (b) dari data jumlah parsial yang diberikan, sehingga solusinya dapat ditemukan dengan tepat.

Dalam konteks umum soal deret, iya. ‘a’ hampir selalu merujuk pada suku pertama (U1). ‘b’ biasanya mewakili beda pada deret aritmatika atau rasio pada deret geometri, namun simbol lain seperti ‘r’ untuk rasio juga sering digunakan. Penting untuk memperhatikan definisi variabel di soal.

Mengapa ada dua jawaban yang mungkin untuk soal yang sama?

Karena soal hanya memberikan informasi jumlah suku (S2 dan S12) tanpa menyatakan jenis deretnya. Informasi yang sama dapat cocok untuk model deret aritmatika dan geometri, sehingga menghasilkan dua set solusi (a,b) yang berbeda, masing-masing untuk satu jenis deret.

Bagaimana jika S2 atau S12 bernilai negatif atau nol?

Prosedur penyelesaiannya tetap sama, yaitu menyusun sistem persamaan. Nilai negatif atau nol akan mempengaruhi hasil akhir ‘a’ dan ‘b’, mungkin menghasilkan beda negatif, rasio pecahan, atau suku pertama yang negatif. Analisis terhadap hasil tersebut tetap diperlukan untuk memastikan konsistensi.

Apakah metode ini bisa dipakai jika yang diketahui adalah S3 dan S10?

Tentu bisa. Prinsipnya identik: gunakan rumus jumlah deret untuk Sn yang diketahui untuk membuat sistem persamaan dengan variabel ‘a’ dan ‘b’, lalu selesaikan sistem tersebut baik untuk model aritmatika maupun geometri.

BACA JUGA  Jarak Titik C ke Garis FH pada Kubus Rusuk 6 cm Perhitungan Lengkap

Leave a Comment