Faham Kapitalisme Muncul di Eropa Saat Akhir Absolutisme Gereja Sebuah Transformasi Besar

Faham kapitalisme muncul di Eropa saat akhir absolutisme gereja, dan itu bukan sekadar perubahan ekonomi belaka, melainkan sebuah revolusi pikiran yang mengguncang tatanan dunia lama. Bayangkan, setelah berabad-abad hidup di bawah bayang-bayang otoritas tunggal yang mengatur dari soal iman hingga harga gandum, tiba-tiba muncul angin kebebasan yang membawa gagasan tentang kepemilikan pribadi, keuntungan, dan individualisme. Periode ini adalah momen di mana manusia Eropa mulai berani mempertanyakan, bukan hanya tentang surga, tetapi juga tentang cara mereka mengelola kekayaan di bumi.

Transisi dari sistem feodal yang kaku menuju dinamika pasar yang lebih bebas terjadi dalam kancah pergolakan hebat. Melemahnya cengkeraman Gereja Katolik pasca-Reformasi dan semangat intelektual Renaisans menciptakan ruang kosong dalam kekuasaan. Ruang itulah yang kemudian diisi oleh negara-bangsa yang sedang bangkit dan kelas pedagang kaya baru. Mereka bersama-sama merajut sebuah sistem ekonomi baru, di mana modal, inovasi, dan semangat wirausaha menjadi mesin penggerak, menggantikan hierarki tanah dan kewajiban feodal yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Latar Belakang Historis: Absolutisme Gereja dan Transformasi Eropa

Bayangkan hidup di Eropa sekitar abad ke-14 atau 15, di mana hampir setiap aspek kehidupan, dari kelahiran hingga kematian, diatur oleh satu otoritas tunggal: Gereja Katolik. Ini bukan sekadar urusan spiritual. Gereja saat itu adalah kekuatan politik, ekonomi, dan sosial yang absolut. Sistem feodal mendominasi, di mana raja dan bangsawan menguasai tanah, sementara petani hidup sebagai hamba yang terikat. Ekonomi berputar pada pertanian subsisten dan pertukaran barang, dengan uang dan perdagangan jarak jauh yang masih terbatas.

Gereja, dengan kekayaan tanahnya yang luas dan doktrin yang melarang riba (pinjaman berbunga), menjadi penjaga utama status quo ini.

Namun, tembok kokoh absolutisme gereja ini mulai retak oleh serangkaian tekanan besar. Wabah Hitam yang meluluhlantakan populasi justru menggeser kekuatan tawar buruh. Kota-kota mulai tumbuh sebagai pusat perdagangan yang mandiri, melahirkan kelas pedagang kaya yang loyalitasnya bukan lagi pada tuan feodal atau uskup, tetapi pada keuntungan. Di ranah pemikiran, gerakan Renaisans membangkitkan kembali semangat humanisme—fokus pada potensi dan pencapaian manusia di dunia ini, bukan semata-mata pada kehidupan setelah kematian.

Lalu, pukulan telak datang dari Martin Luther pada 1517: Reformasi Protestan. Gerakan ini tidak hanya memecah kesatuan Kristen Barat tetapi juga secara tegas menolak otoritas hierarkis Paus, membuka jalan bagi keragaman pemikiran dan, yang tak kalah penting, sekularisasi kekayaan gereja yang disita oleh penguasa lokal.

Perbandingan Kondisi Eropa Sebelum dan Sesudah Melemahnya Absolutisme Gereja

Untuk memahami betapa dahsyatnya transformasi ini, mari kita lihat pergeseran mendasar di berbagai lini kehidupan. Tabel berikut merangkum perubahan dari dunia yang terpusat pada gereja menuju masyarakat yang lebih kompleks dan tersekularisasi.

Aspek Kondisi di Bawah Absolutisme Gereja (Pra-16) Kondisi Pasca-Melemahnya Absolutisme Gereja (Akhir Abad Pertengahan/Renaissance) Peran Renaisans & Reformasi
Politik Otoritas terbagi antara Paus dan Kaisar/Raja, dengan pengaruh gereja yang sangat kuat dalam urusan negara. Bangkitnya monarki nasional yang sentralistik (seperti di Inggris, Prancis, Spanyol). Otoritas gereja global melemah. Reformasi memberi alasan bagi raja untuk melepaskan diri dari otoritas Paus, menyita aset gereja, dan memperkuat negara.
Ekonomi Ekonomi agraris feodal, larangan riba, perdagangan terbatas, kekayaan terkonsentrasi di tanah milik gereja/bangsawan. Munculnya ekonomi uang, perdagangan jarak jauh (merkantilisme), kelas pedagang (borjuis) kaya, praktik perbankan berkembang. Etika Protestan (Max Weber) mendorong kerja keras dan akumulasi modal sebagai panggilan. Sekularisasi harta gereja menyuntikkan modal ke ekonomi.
Sosial Stratifikasi kaku: rohaniawan, bangsawan, dan rakyat jelata (petani). Mobilitas sosial hampir mustahil. Kelas borjuis (pedagang, bankir, pengusaha) muncul sebagai kekuatan sosial baru. Hubungan feodal perlahan berganti hubungan kontrak. Humanisme Renaisans menekankan prestasi individu. Reformasi mendorong literasi dan interpretasi pribadi, mengurangi ketergantungan pada hierarki.
Intelektual Pemikiran didominasi teologi Skolastik. Kebenaran mutlak berasal dari otoritas gereja. Semangat inquiri (penyelidikan), observasi ilmiah, dan pemikiran sekular berkembang. Percetakan menyebarkan ide dengan cepat. Renaisans membuka kembali khazanah pemikiran Yunani-Romawi. Reformasi menantang dogma, menciptakan iklim debat dan perbedaan pendapat.
BACA JUGA  Penerapan Efek Tyndall pada Cahaya Matahari di Alam Sekitar

Inti Pemikiran Kapitalisme Awal dan Para Pelopornya

Dengan runtuhnya tembok otoritas tunggal, lahirlah ruang bagi pemikiran baru tentang kekayaan, perdagangan, dan peran negara. Inilah masa di mana benih-benih kapitalisme modern mulai bertunas. Tokoh seperti Adam Smith sering disebut sebagai “bapak” kapitalisme, tetapi sebenarnya ia adalah puncak dari rangkaian pemikir yang lebih awal. Sebelumnya, para filsuf seperti John Locke telah meletakkan dasar filosofis dengan menekankan hak atas properti pribadi sebagai hak alamiah.

Kemudian, di Prancis, kelompok yang disebut Fisiokrat percaya bahwa sumber kekayaan sesungguhnya adalah tanah dan produksi pertanian, dan mereka memperkenalkan frasa “laissez-faire, laissez-passer” (biarkan terjadi, biarkan berlalu) sebagai protes terhadap intervensi negara yang berlebihan.

Adam Smith kemudian mensistematisasi banyak ide ini dalam magnum opus-nya, The Wealth of Nations (1776). Dua konsep intinya adalah pembagian kerja (specialization) yang meningkatkan produktivitas secara drastis, dan mekanisme “tangan tak terlihat” (invisible hand). Smith berargumen bahwa ketika individu mengejar kepentingan pribadinya dalam pasar yang kompetitif, mereka justru—tanpa disadari—didorong oleh suatu mekanisme untuk melayani kepentingan masyarakat luas. Negara, menurutnya, harus berperan sebagai penjaga malam: menjaga pertahanan, hukum, dan infrastruktur publik, tetapi tidak ikut campur tangan langsung dalam pasar.

Prinsip Dasar Ekonomi Kapitalis sebagai Respons terhadap Feodalisme

Kapitalisme awal bukanlah sebuah teori yang jatuh dari langit, melainkan respons praktis dan teoretis terhadap keterbatasan sistem feodal. Prinsip-prinsip dasarnya secara langsung bertolak belakang dengan dunia lama.

  • Kepemilikan Pribadi vs. Kepemilikan Feodal: Hak milik pribadi yang jelas dan dapat dialihkan menjadi fondasi, menggantikan sistem kepemilikan tanah yang kompleks dan terikat pada kewajiban feodal.
  • Pasar Bebas vs. Regulasi Guild: Harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar, bukan ditetapkan oleh serikat pekerja (guild) atau tradisi.
  • Motif Laba vs. Subsistensi: Akumulasi modal dan laba menjadi pendorong utama kegiatan ekonomi, menggantikan tujuan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau kewajiban kepada tuan tanah.
  • Persaingan vs. Monopoli Lokal: Persaingan dipandang sehat untuk mendorong inovasi dan efisiensi, melawan monopoli yang dilindungi oleh guild atau hak istimewa feodal.
  • Tenaga Kerja Upahan vs. Buruh Tercangkok: Hubungan kerja menjadi kontraktual berdasarkan upah, membebaskan buruh dari ikatan hukum yang mengikat mereka pada tanah tertentu.

Pergeseran ini merepresentasikan perubahan nilai yang sangat mendasar: dari nilai-nilai kolektif dan komunal yang diatur gereja, menuju individualisme. Kesuksesan kini diukur dari pencapaian dan akumulasi kekayaan pribadi di dunia ini, yang dalam etika Protestan bahkan bisa dianggap sebagai tanda rahmat Tuhan. Fokus bergeser dari kehidupan akhirat menuju kemajuan material di dunia nyata.

Kaitan antara Kemunculan Kapitalisme dan Perubahan Struktur Kekuasaan

Kekosongan kekuasaan itu ibarat vakum yang harus diisi. Ketika otoritas gereja yang trans-nasional memudar, dua kekuatan baru bangkit untuk mengisi ruang tersebut: negara bangsa (dalam bentuk monarki sentral) dan kelas pedagang pemodal. Yang menarik, keduanya sering kali bersekutu dalam hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Raja membutuhkan uang untuk membiayai birokrasi, tentara tetap, dan perang. Para pedagang dan bankir memiliki uang itu.

Sebaliknya, kelas borjuis membutuhkan perlindungan hukum, stabilitas internal, dan kekuatan militer untuk melindungi rute dagang dan koloni mereka. Dari sinilah lahir kebijakan ekonomi merkantilisme: negara aktif mengatur ekonomi untuk menumpuk logam mulia, sering kali dengan memonopoli perdagangan dengan koloni, semua untuk memperkuat negara itu sendiri.

Eksplorasi geografis dan penemuan teknologi adalah bahan bakar bagi hubungan simbiosis ini. Penemuan kapal caravel dan kemajuan navigasi membuka jalur dagang baru ke Asia dan Dunia Baru. Ini bukan sekadar petualangan, tetapi bisnis berisiko tinggi dengan imbalan yang sangat besar. Emas dan perak dari Amerika mengalir deras ke Eropa, menciptakan inflasi masif yang justru semakin merugikan kelas feodal yang bergantung pada pendapatan tetap dari sewa tanah, sementara menguntungkan pedagang yang asetnya likuid.

Akumulasi modal primitif ini menjadi dasar bagi investasi lebih lanjut.

“Uang adalah jenis barang baru, yang ditemukan di zaman kita, yang tidak hanya memberikan kehormatan dan keagungan, tetapi juga kekuasaan… karena uang adalah alat paling universal untuk memenuhi kebutuhan kita, apa pun yang mereka mungkin.” – Jean Bodin, filsuf politik Prancis abad ke-
16. Kutipan ini menggambarkan pergeseran persepsi tentang sumber kekuasaan: dari tanah warisan menuju uang yang cair dan dapat diperdagangkan.

Peran Penemuan Baru dan Eksplorasi dalam Akumulasi Modal

Faham kapitalisme muncul di Eropa saat akhir absolutisme gereja

Source: slidesharecdn.com

Revolusi maritim dan teknologi pada abad 15-17 bukan sekadar cerita heroik penjelajah. Itu adalah mesin pencetak uang dan pemercepat akumulasi modal. Penemuan jalur laut ke India oleh Vasco da Gama memutus monopoli darat yang mahal. Penemuan Benua Amerika menciptakan akses ke sumber daya yang sebelumnya tak terbayangkan, dari logam mulia hingga komoditas seperti tembakau dan gula. Perkembangan teknologi persenjataan dan kapal juga membutuhkan modal besar, yang hanya bisa disediakan oleh negara atau konsorsium pedagang kaya.

BACA JUGA  Hitung nilai 10m + 2018n dari 20! + 14! = 2432m0209n354931200

Setiap pelayaran sukses yang pulang membawa rempah-rempah atau emas berarti keuntungan yang bisa diinvestasikan kembali ke pelayaran berikutnya, atau ke industri manufaktur yang mulai berkembang di kota-kota. Siklus inilah yang perlahan memindahkan pusat gravitasi ekonomi dari pedesaan feodal ke pusat-pusat perdagangan urban.

Dampak Sosial dan Kritik Awal terhadap Kapitalisme

Transisi menuju ekonomi kapitalis tidak terjadi dengan mulus atau adil bagi semua pihak. Ia melahirkan kelas sosial baru sekaligus menggerus kelas lama, menciptakan gejolak dan ketimpangan yang langsung memantik kritik. Struktur masyarakat tiga lapis (rohaniwan, bangsawan, rakyat) pecah. Kelas borjuis, yang terdiri dari pedagang, bankir, dan pemilik manufaktur, naik daun dengan kekayaan barunya, sering kali membeli gelar kebangsawanan atau mempengaruhi politik.

Di sisi lain, muncul kelas proletariat urban: para buruh yang tidak memiliki apa-apa selain tenaga kerja mereka untuk dijual. Sementara itu, para pengrajin tradisional yang tergabung dalam guild kewalahan bersaing dengan manufaktur awal yang lebih efisien.

Hubungan kerja pun berubah secara fundamental. Di bawah feodalisme, seorang hamba tani memang hidup miskin dan terikat, tetapi ia memiliki akses ke sepetak tanah untuk bercocok tanam dan mendapat perlindungan (walau sering kali seadanya) dari tuannya. Di sistem kapitalis awal, buruh upahan terputus dari alat produksi. Mereka hanya menerima upah untuk waktu kerjanya, dan sangat rentan terhadap fluktuasi pasar—jika pabrik tutup atau permintaan turun, mereka langsung kehilangan penghidupan.

Insecurity ekonomi ini adalah harga dari “kebebasan” mereka yang baru.

Pemetaan Kelompok Sosial selama Masa Transisi, Faham kapitalisme muncul di Eropa saat akhir absolutisme gereja

Setiap kelompok masyarakat mengalami transisi ini dengan cara yang berbeda-beda. Tabel berikut mencoba memetakan pergeseran peran dan dampaknya, menunjukkan siapa yang diuntungkan dan siapa yang terdislokasi oleh perubahan besar ini.

Kelompok Sosial Peran Ekonomi Lama (Feodal) Peran Ekonomi Baru (Kapitalis Awal) Dampak yang Dialami
Bangsawan Tuan Tanah Pemilik tanah, hidup dari sewa dan hasil bumi, punya kewajiban melindungi hamba. Sering kehilangan pengaruh relatif. Pendapatan tetap dari sewa tergerus inflasi. Ada yang beralih ke usaha komersial. Penurunan kekuatan ekonomi dan politik secara bertahap. Terjepit antara raja yang sentralistis dan borjuis kaya.
Pedagang/Bankir (Borjuis) Posisi marjinal, sering di kota merdeka, di bawah pengawasan guild. Motor penggerak ekonomi baru. Penyedia modal, pengelola perdagangan jarak jauh, mitra negara. Peningkatan kekayaan dan pengaruh politik yang dramatis. Kelas sosial yang paling diuntungkan.
Pengrajin (Anggota Guild) Memiliki alat produksi, mengontrol kualitas & harga, status terhormat di kota. Terancam oleh manufaktur yang lebih besar di luar kendali guild. Banyak yang menjadi buruh upahan. Kehilangan kemandirian dan kontrol. Standar hidup tertekan oleh persaingan.
Mantan Hamba Tani/Buruh Tani Terikat pada tanah, bekerja untuk tuan, mendapat bagian hasil/lahan. Menjadi buruh tani upahan atau berpindah ke kota sebagai buruh industri (proletariat). Kehilangan jaminan subsisten feodal, menghadapi ketidakpastian upah dan kondisi kerja keras di kota.

Kritik awal terhadap kapitalisme muncul dari berbagai sudut. Kaum konservatif feodal menyesalkan hilangnya hubungan paternalistik dan stabilitas sosial lama. Para pemimpin agama mengkritik keserakahan dan ketimpangan yang dihasilkan. Bahkan dari dalam kalangan pemikir Pencerahan sendiri, seperti Jean-Jacques Rousseau, ada yang mengkritik hak properti pribadi sebagai sumber ketidaksetaraan sosial. Gerakan seperti Luddite di Inggris, yang menghancurkan mesin-mesin industri, adalah bentuk resistensi langsung dari para pekerja yang merasa dihancurkan hidupnya oleh kemajuan teknologi kapitalis.

Manifestasi Pemikiran Kapitalis dalam Kehidupan Nyata Abad 17-18: Faham Kapitalisme Muncul Di Eropa Saat Akhir Absolutisme Gereja

Lalu, seperti apa wajah kapitalisme awal ini dalam keseharian? Ia bukan lagi sekadar teori di buku, tetapi praktik yang hidup di pelabuhan, kantor, dan bursa saham. Perusahaan patungan seperti Dutch East India Company (VOC) dan British East India Company adalah monster kapitalis pertama. Mereka bukan milik negara murni, tetapi diperdagangkan sahamnya kepada publik. VOC bahkan dianggap sebagai perusahaan multinasional pertama dengan kekuatan yang hampir seperti negara: bisa mencetak uang, memiliki tentara, menyatakan perang, dan menjajah.

Di sektor keuangan, rumah-rumah perbankan di Florence, Antwerp, dan Amsterdam berkembang pesat, menciptakan instrumen kredit yang kompleks. Asuransi laut menjadi kebutuhan standar untuk mengelola risiko pelayaran yang mahal, memungkinkan lebih banyak orang untuk berinvestasi tanpa harus takut kehilangan semua modalnya sekaligus.

BACA JUGA  Percepatan Benda pada Bidang Miring Licin Didorong mg sin θ dan Analisisnya

Ilustrasi Pusat Perdagangan (Bourse) di Amsterdam Abad ke-17

Bayangkan kita berdiri di dalam Bursa Saham Amsterdam (Amsterdam Bourse), yang dibangun di awal 1600-an. Bangunannya megah, sebuah aula panjang dengan pilar-pilar dan langit-langit yang tinggi, dirancang untuk menampung kerumunan. Suaranya riuh rendah, penuh teriakan penawaran, tawar-menawar, dan obrolan dalam berbagai bahasa—Belanda, Inggris, Portugis, Yahudi. Di satu sudut, para pedagang berkumpul di sekitar papan pengumuman yang memuat daftar kedatangan dan keberangkatan kapal.

Di sudut lain, sekelompok orang sibuk memperdagangkan kertas berharga: bukan hanya saham VOC, tetapi juga obligasi pemerintah dan surat utang. Arsitekturnya fungsional dan terbuka, mencerminkan transparansi (yang relatif) dan aksesibilitas yang dibutuhkan oleh pasar. Pelakunya adalah pria-pria dari berbagai latar—pedagang kaya yang berseragam bagus, makelar yang lihai, hingga pelaut yang membawa kabar dari dunia lain. Tempat ini adalah jantung dari peredaran modal, di mana uang diubah menjadi lebih banyak uang melalui informasi dan spekulasi.

Inovasi Hukum dan Bisnis Pendukung Kapital

Agar semua aktivitas kompleks ini bisa berjalan, kerangka hukum baru mutlak diperlukan. Sistem hukum feodal yang berdasarkan tradisi lokal tidak lagi memadai. Munculah serangkaian inovasi yang dirancang untuk melindungi kepentingan pemodal dan memastikan kepastian berusaha.

  • Hukum Perusahaan Terbatas (Limited Liability): Konsep yang memisahkan harta pribadi pemegang saham dari harta perusahaan. Jika perusahaan bangkrut, kerugian investor hanya sebesar modal yang ditanam. Ini mengurangi risiko dan mendorong investasi dari publik.
  • Hak Paten: Memberikan monopoli sementara kepada penemu untuk mengeksploitasi temuannya, memberikan insentif untuk inovasi teknologi yang mahal.
  • Hukum Kontrak yang Kuat: Pengadilan mulai lebih konsisten menegakkan kontrak bisnis tertulis, bukan hanya berdasarkan sumpah atau tradisi. Ini penting untuk transaksi jangka panjang dan jarak jauh.
  • Sistem Pembukuan Berpasangan (Double-Entry Bookkeeping): Meski sudah ada sebelumnya, ia menjadi standar. Teknik ini memungkinkan pelacakan modal, laba, dan rugi dengan akurat, memberikan gambaran kesehatan bisnis yang jelas.
  • Bills of Exchange: Surat berharga yang memungkinkan transfer uang jarak jauh tanpa memindahkan koin fisik, sangat vital untuk perdagangan internasional dan mengurangi risiko perampokan.

Inovasi-inovasi ini adalah infrastruktur tak kasat mata yang memungkinkan mesin kapitalisme berputar. Mereka mentransformasi kepercayaan dan janji menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan, dan modal menjadi kekuatan yang bisa menggerakkan dunia.

Ringkasan Akhir

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemunculan kapitalisme di Eropa adalah sebuah narasi kompleks tentang pembebasan dan konsekuensi. Ia lahir dari rahim krisis otoritas gereja, dibesarkan oleh semangat penemuan dan eksplorasi, serta dimanifestasikan dalam bursa-bursa perdagangan yang riuh. Namun, di balik kemilikan emas dan kemajuan material, sistem ini juga melahirkan ketegangan sosial baru antara pemilik modal dan pekerja, sebuah dialektika yang terus bergulir hingga kini.

Mempelajari awal mulanya bukan hanya untuk memahami sejarah, tetapi juga untuk merefleksikan bagaimana gagasan-gagasan tentang nilai, kerja, dan kekayaan terus membentuk peradaban kita sampai detik ini.

Pertanyaan yang Kerap Ditanyakan

Apakah kapitalisme langsung menggantikan feodalisme begitu absolutisme gereja runtuh?

Faham kapitalisme yang muncul di Eropa pasca absolutisme gereja mengajarkan pentingnya akumulasi dan efisiensi, prinsip yang juga berlaku dalam matematika. Sama seperti menyederhanakan sistem ekonomi yang kompleks, kamu bisa temukan keanggunan dalam menyelesaikan pola deret seperti Hitung nilai 1/1×2 + 1/2×3 + 1/3×4 + 1/4×5. Kemampuan merasionalkan dan menyederhanakan masalah inilah yang menjadi fondasi pemikiran analitis, persis seperti logika yang mendorong lahirnya revolusi kapitalis dari reruntuhan feodalisme.

Tidak secara instan. Transisi berlangsung selama berabad-abad (dari sekitar abad 16 hingga 18). Feodalisme memudar perlahan sementara praktik dan institusi kapitalis awal (seperti perusahaan patungan dan perbankan) tumbuh di sampingnya, seringkali dalam simbiosis dengan monarki yang masih kuat.

Siapa yang paling dirugikan dalam transisi menuju ekonomi kapitalis awal?

Petani penggarap dan pengrajin tradisional dalam sistem guild. Banyak yang kehilangan akses ke tanah bersama (enclosure movement) dan harus menjual tenaga mereka sebagai buruh upahan di kota, seringkali dengan kondisi kerja yang buruk dan upah rendah.

Bagaimana sikap Gereja yang baru (Protestan) terhadap kapitalisme awal?

Beberapa aliran Protestan, seperti Calvinis, melihat sukses dalam bisnis dan kerja keras sebagai tanda anugerah Tuhan. Pandangan ini, yang kemudian dikenal sebagai “Etika Protestan”, secara tidak langsung memberikan justifikasi religius bagi akumulasi modal dan semangat kewirausahaan.

Menariknya, kemunculan faham kapitalisme di Eropa pasca absolutisme gereja berakar dari transformasi hubungan manusia dengan alam dan kepemilikan. Seperti yang ditunjukkan dalam analisis Pola Pembukaan Lahan Pertanian Manusia Purba yang Sudah Bermukim dan Bercocok Tanam , naluri untuk menguasai dan mengelola lahan sudah ada sejak masa purba. Pola pikir untuk mengakumulasi hasil dan mengoptimalkan sumber daya inilah yang kemudian, berabad-abad kemudian, berkembang dan termanifestasi dalam sistem ekonomi kapitalis yang kompleks di benua Eropa.

Apakah ada tokoh wanita yang berpengaruh dalam perkembangan kapitalisme awal?

Meski jarang terdokumentasi dalam narasi utama, wanita dari kelas borjuis dan bangsawan sering terlibat dalam mengelola usaha keluarga, perdagangan, dan jaringan keuangan. Namun, ruang publik dan hukum yang dominan patriarki membatasi peran mereka secara formal.

Bagaimana negara bangsa yang baru terbentuk mendukung kapitalisme?

Mereka menciptakan stabilitas hukum melalui undang-undang yang melindungi hak properti dan kontrak, memberikan hak monopoli kepada perusahaan dagang (seperti VOC), serta membangun angkatan laut untuk melindungi jalur perdagangan dan koloni.

Leave a Comment