Grafik y=4−x² y=0 x=−2 x=1 dan Luas Daerahnya

Grafik y=4−x², y=0, x=−2, x=1 bukan sekadar kumpulan persamaan di atas kertas, melainkan sebuah cerita visual tentang ruang yang terkurung. Bayangkan sebuah parabola yang melengkung indah seperti bukit, bertemu dengan tanah datar, dan diapit oleh dua tembok vertikal. Inilah potret matematika yang elegan, di mana aljabar dan geometri bersatu untuk mendefinisikan sebuah wilayah spesifik pada bidang koordinat.

Daerah yang dimaksud terbentuk dari perpotongan kurva parabola y = 4 – x² yang terbuka ke bawah, dengan garis horizontal y = 0 yang merupakan sumbu-x, serta dua garis batas vertikal di x = -2 dan x = 1. Wilayah ini merepresentasikan sebuah area tertutup yang dapat diukur luasnya, sebuah penerapan konkret dari konsep integral tentu yang sering kita pelajari.

Analisis terhadap daerah ini mengungkap hubungan dinamis antara bentuk kurva dan batas-batas yang mengepungnya.

Memahami Masalah dan Konteks Grafik

Persamaan y = 4 – x² merepresentasikan sebuah parabola yang terbuka ke bawah. Konstanta 4 menunjukkan titik puncak parabola berada di koordinat (0, 4), tepatnya di perpotongan dengan sumbu y. Sementara itu, suku -x² menentukan bentuk lengkungannya yang menurun ke kedua sisi sumbu y. Dalam konteks sistem koordinat kartesius, grafik ini adalah sebuah kurva simetris yang menggambarkan hubungan kuadratik antara variabel x dan y.

Daerah yang akan kita analisis dibatasi oleh empat elemen: kurva parabola y = 4 – x² di bagian atas, garis horizontal y = 0 (yang tak lain adalah sumbu x) di bagian bawah, serta dua garis vertikal x = -2 di sebelah kiri dan x = 1 di sebelah kanan. Keempat batas ini bekerja sama membentuk sebuah area tertutup yang menyerupai bentuk seperti topi atau terowongan yang terpotong.

Batas-batas x = -2 dan x = 1 menjadi penting karena mereka menentukan lebar horizontal dari area yang kita hitung, memotong bagian tertentu dari parabola yang luasnya tak hingga. Sementara itu, batas y = 0 berperan sebagai “lantai” atau alas dari daerah tersebut, memberikan batas bawah yang jelas untuk perhitungan.

Visualisasi dan Karakteristik Daerah

Membayangkan sketsa daerah ini akan sangat membantu. Bayangkan sebuah parabola halus yang puncaknya berada di titik (0,4). Kurva ini turun secara melengkung ke kiri dan kanan. Kemudian, gambar dua garis vertikal tegas: satu di x = -2 dan satu di x = 1. Area yang kita minati adalah wilayah yang terkurung di antara kurva parabola di atas, sumbu x (y=0) di bawah, dan dua garis vertikal tersebut di sisi kiri dan kanan.

BACA JUGA  Jarak Tempuh Mobil 15 L vs 25 L Bensin Analisis Lengkap

Secara visual, daerah ini tidak simetris karena batas kiri (-2) lebih jauh dari titik puncak (0) dibandingkan batas kanan (1).

Titik Potong dan Posisi Relatif Kurva

Titik potong antara kurva y = 4 – x² dan garis y = 0 ditemukan dengan menyelesaikan persamaan 4 – x² = 0, yang menghasilkan x = -2 dan x = 2. Dalam interval kita dari x = -2 hingga x = 1, titik potong yang relevan adalah tepat di x = -2. Artinya, di batas kiri daerah, kurva persis menyentuh sumbu x.

Untuk semua nilai x antara -2 dan 1, nilai fungsi y = 4 – x² selalu positif (lebih besar dari nol). Sebagai contoh, di x=0, y=4; di x=1, y=3. Dengan demikian, pada seluruh interval tersebut, kurva parabola selalu berada di atas garis y=0.

Perhitungan Luas Daerah: Grafik Y=4−x², Y=0, X=−2, X=1

Dalam kalkulus, luas daerah yang dibatasi oleh kurva fungsi f(x) di atas, garis y = g(x) di bawah, dari x = a sampai x = b, dihitung dengan integral tentu dari selisih kedua fungsi, yaitu ∫[a, b] [f(x)
-g(x)] dx. Dalam kasus kita, f(x) adalah y = 4 – x² dan g(x) adalah y = 0. Oleh karena itu, luas daerah (L) dapat dihitung secara langsung.

Langkah-Langkah Perhitungan Integral

Perhitungan dilakukan dengan menerapkan aturan dasar integral pangkat. Berikut adalah breakdown langkah demi langkah proses integrasinya.

Langkah Fungsi & Proses Interval Hasil Parsial
1. Menyusun Integral L = ∫ (4 – x²) dx x = -2 sampai 1
2. Mencari Anti-turunan Anti-turunan dari 4 adalah 4x. Anti-turunan dari -x² adalah – (¹/₃)x³. F(x) = 4x – (¹/₃)x³
3. Menerapkan Teorema Dasar Kalkulus L = [4(1)

  • (¹/₃)(1)³]
  • [4(-2)
  • (¹/₃)(-2)³]
= (4 – ¹/₃)
  • (-8 – (-⁸/₃))
  • 4. Penyederhanaan L = (¹²/₃

    • ¹/₃)
    • (-8 + ⁸/₃) = (¹¹/₃)
    • ((-²⁴/₃) + (⁸/₃))
    = ¹¹/₃
  • (-¹⁶/₃)
  • 5. Hasil Akhir L = ¹¹/₃ + ¹⁶/₃ = ²⁷/₃ L = 9 satuan luas

    Aplikasi dan Interpretasi Hasil

    Nilai 9 satuan luas yang diperoleh bukan sekadar angka abstrak. Secara geometris, angka ini merepresentasikan besaran area dua dimensi yang tertutup di dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Dalam konteks fisika, jika grafik y = 4 – x² merepresentasikan kecepatan suatu benda terhadap waktu (dengan x sebagai waktu), maka luas daerah ini setara dengan perpindahan total benda dari detik ke -2 hingga detik ke 1.

    Soal Cerita Kontekstual

    Seorang arsitek merancang sebuah gapura berbentuk lengkungan parabola. Potongan vertikal gapura tersebut memenuhi persamaan y = 4 – x², dengan y adalah tinggi dalam meter. Gapura ini dibangun di atas tanah datar (y=0) dan ditopang oleh dua pilar vertikal yang terletak di x = -2 m dan x = 1 m. Untuk menghitung bahan pembuatan dinding penuh yang mengisi area di bawah lengkungan gapura antara kedua pilar, arsitek perlu mengetahui luas bidang dinding tersebut, yang tepatnya adalah 9 m².

    Perhitungan luas daerah di bawah kurva y=4−x², dibatasi y=0 dari x=−2 hingga x=1, memerlukan perencanaan dan presisi layaknya sebuah pementasan. Suksesnya sebuah acara bergantung pada persiapan matang, termasuk Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam pertunjukan musik yang komprehensif, mulai dari latihan hingga teknis panggung. Demikian pula, akurasi dalam mengintegralkan fungsi kuadrat tersebut adalah kunci untuk mendapatkan solusi yang tepat dan elegan.

    Penerapan dalam Berbagai Bidang

    Konsep perhitungan luas di bawah kurva dengan integral ini memiliki resonansi yang luas di banyak disiplin ilmu.

    Dalam Ekonomi: Luas di bawah kurva Marginal Cost (MC) dari tingkat produksi a ke b memberikan Total Variable Cost (TVC) untuk interval produksi tersebut. Dalam Fisika: Integral dari fungsi gaya terhadap perpindahan menghasilkan usaha yang dilakukan. Dalam Probabilitas: Luas di bawah kurva fungsi kepadatan probabilitas (PDF) pada suatu interval memberikan probabilitas kejadian pada interval itu.

    Eksplorasi Variasi dan Generalisasi

    Luas daerah yang dibatasi oleh kurva yang sama sangat bergantung pada batas-batas integrasi yang ditetapkan. Perubahan pada batas vertikal (x) atau horizontal (y) akan menghasilkan nilai luas yang berbeda, menawarkan fleksibilitas dalam pemodelan berbagai skenario.

    Perubahan Batas Vertikal

    Jika batas vertikal diubah menjadi x = -1 dan x = 2, luas daerahnya akan berubah. Perhitungannya menjadi L = ∫[-1, 2] (4 – x²) dx = [4x – (¹/₃)x³] dari -1 ke 2. Hasilnya adalah (8 – ⁸/₃)
    -(-4 – (-¹/₃)) = (¹⁶/₃)
    -(-¹¹/₃) = ²⁷/₃ = 9. Menariknya, luasnya tetap 9 satuan luas. Ini terjadi karena sifat simetri parabola dan pemilihan interval yang berbeda tetapi “menyeimbangkan” satu sama lain secara matematis.

    Perbandingan dengan Batas y yang Berbeda

    Grafik y=4−x², y=0, x=−2, x=1

    Source: gauthmath.com

    Misalkan kita ambil batas horizontal atas y = 4 – x² dan batas bawah y = 1, dengan batas x tetap -2 dan 1. Daerah yang terbentuk adalah area di bawah parabola tetapi di atas garis horizontal y=1. Luasnya akan lebih kecil karena “alas”nya dinaikkan. Perhitungannya adalah ∫[-2, 1] [(4 – x²)
    -1] dx = ∫[-2, 1] (3 – x²) dx, yang hasilnya pasti kurang dari 9.

    Faktor Penentu Luas Daerah Tertutup, Grafik y=4−x², y=0, x=−2, x=1

    Beberapa faktor kunci yang mempengaruhi besar kecilnya luas daerah yang dihitung dengan integral tentu adalah:

    • Lebar Interval Integrasi (b – a): Secara umum, interval yang lebih lebar cenderung menghasilkan luas yang lebih besar, meskipun tidak selalu linear karena bentuk fungsi.
    • Nilai Fungsi (Tinggi Kurva): Nilai fungsi f(x) yang lebih besar pada suatu interval akan meningkatkan nilai integran, sehingga menambah luas.
    • Bentuk Kurva (Fungsi Integran): Kelengkungan, titik puncak, dan perilaku fungsi (naik/turun) secara fundamental menentukan distribusi “tinggi” area.
    • Posisi Batas Bawah: Apakah batas bawah adalah sumbu x (y=0), sumbu y (x=0), atau fungsi lain (g(x)) akan mengubah nilai selisih yang diintegralkan.

    Penutupan Akhir

    Dengan demikian, perjalanan mengurai Grafik y=4−x², y=0, x=−2, x=1 telah membawa kita pada pemahaman yang utuh. Perhitungan luas yang didapat, yakni 19 satuan luas, bukanlah angka mati. Nilai tersebut merupakan bukti nyata bagaimana matematika abstrak dapat mengkuantifikasi ruang. Dari sini, kita dapat melangkah lebih jauh mengeksplorasi variasi batas atau menerjemahkan konsep ini dalam konteks fisika untuk menghitung usaha atau dalam ekonomi untuk memperkirakan surplus.

    Perhitungan luas area yang dibatasi grafik y=4−x², sumbu x (y=0), serta garis x=−2 dan x=1 memerlukan presisi dan ketelitian mendalam. Nilai historis yang sama-sama memerlukan ketelitian ekstra dalam penafsirannya adalah Pengertian Naskah Proklamasi Kemerdekaan Autentik , sebuah dokumen fundamental yang maknanya harus dipahami secara utuh. Kembali ke soal kalkulus, integrasi fungsi kuadrat tersebut akan menghasilkan nilai numerik pasti yang merepresentasikan besaran wilayah di bawah kurva, sebagaimana keaslian naskah merepresentasikan kedaulatan suatu bangsa.

    Pada akhirnya, daerah kecil di antara kurva dan sumbu-x ini adalah fondasi untuk memahami konsep integral yang lebih kompleks dan aplikasinya dalam mendeskripsikan dunia di sekitar kita.

    Analisis luas daerah yang dibatasi grafik y=4−x², sumbu x (y=0), serta garis x=−2 dan x=1 memerlukan pemahaman integral tentu. Proses perhitungan ini mirip dengan menganalisis besaran dan arah, sebuah konsep yang juga fundamental dalam aljabar linear ketika membahas Mengapa Dua Vektor Dikatakan Sama atau Berlawanan. Kembali ke grafik, penerapan konsep vektor dalam integral membantu memvisualisasikan luas sebagai resultan dari elemen-elemen area yang dijumlahkan secara aljabar.

    Kumpulan Pertanyaan Umum

    Mengapa luas daerah ini dihitung dengan integral tentu dari (4 – x²) dx, bukan fungsi lain?

    Karena pada interval x = -2 hingga x = 1, kurva y = 4 – x² selalu berada di atas garis y = 0. Luas daerah di antara dua kurva f(x) dan g(x) dihitung dengan integral dari [f(x)
    -g(x)]. Dalam kasus ini, f(x) = 4 – x² dan g(x) = 0, sehingga integran-nya adalah (4 – x²).

    Apakah daerah yang dibatasi ini seluruhnya berada di atas sumbu-x?

    Ya, seluruh daerah berada di atas sumbu-x. Fungsi y = 4 – x² bernilai positif untuk x antara -2 dan 2. Karena batas kita dari x = -2 hingga x = 1 yang masih dalam rentang tersebut, nilai y selalu positif, sehingga daerahnya berada di atas sumbu-x (y=0).

    Bagaimana jika batas x-nya diubah, misalnya dari x = -3 sampai x = 3? Apakah cara hitung luasnya sama?

    Tidak persis sama. Dari x = -2 sampai x = 2, kurva masih di atas y=0. Namun, dari x = -3 sampai x = -2 dan dari x = 2 sampai x = 3, kurva berada di bawah y=0 (nilai y negatif). Integral tentu langsung akan menghasilkan nilai netto area, bukan luas total. Untuk menghitung luas total daerah antara kurva dan sumbu-x pada interval itu, perlu dicari titik potong dengan sumbu-x (x = ±2) dan menghitung integral secara terpisah, mengambil nilai absolutnya.

    Apa aplikasi praktis dari menghitung luas daerah seperti ini?

    Konsep ini banyak aplikasinya, misalnya dalam fisika untuk menghitung usaha dari grafik gaya vs perpindahan, dalam ekonomi untuk menghitung surplus konsumen/produsen dari kurva permintaan/penawaran, atau dalam statistik untuk menentukan probabilitas dari suatu distribusi kontinu.

    BACA JUGA  Tentukan Pertidaksamaan Linier untuk Daerah Berarsir di Bidang Koordinat

    Leave a Comment