Gurindam, sebuah mahakarya puisi lama yang terukir dalam sejarah sastra Melayu, bukan sekadar rangkaian kata berirama. Ia adalah cermin kebijaksanaan leluhur, sebuah petuah yang dibungkus dalam kesederhanaan bentuk, namun sarat dengan makna yang menusuk kalbu. Dalam setiap baitnya, tersembunyi pedoman hidup, teguran halus, dan panduan berperilaku yang tetap relevan sepanjang zaman.
Bentuknya yang khas, terdiri dari dua baris seiring dan sejalan, membedakannya dari pantun yang jenaka atau syair yang bercerita. Gurindam lebih condong pada nasihat yang tegas dan filosofis, di mana baris pertama bagai sebuah sebab atau persoalan, dan baris kedua adalah akibat atau jawaban yang penuh ketegasan. Keindahannya terletak pada kepadatan makna dan ketajaman pesan yang disampaikan.
Pengenalan Dasar Gurindam
Kalau kita ngomongin puisi tradisional Melayu, biasanya yang langsung keinget adalah pantun. Tapi ada satu bentuk lain yang nggak kalah keren dan sarat makna, namanya Gurindam. Secara sederhana, Gurindam adalah puisi dua baris yang berisi nasihat, kebenaran, atau semacam rumus hidup. Baris pertama biasanya berisi syarat, masalah, atau pernyataan, sementara baris kedua adalah jawaban, konsekuensi, atau nasihatnya. Jadi, hubungan antara dua baris itu sangat erat dan logis, ibarat sebab dan akibat.
Buat membedakannya dari pantun dan syair, kita perlu lihat strukturnya. Pantun punya empat baris dengan sampiran dan isi, sementara syair terdiri dari empat baris bersajak a-a-a-a yang umumnya bercerita. Gurindam lebih padat dan langsung ke inti pesan moralnya. Nggak pakai sampiran, semua kata kerja untuk menyampaikan ajaran.
Perbandingan Gurindam, Pantun, dan Syair
Untuk memudahkan pemahaman, tabel berikut merangkum perbedaan mendasar antara ketiga bentuk puisi tradisional Melayu ini berdasarkan beberapa aspek kunci.
| Aspek | Gurindam | Pantun | Syair |
|---|---|---|---|
| Jumlah Baris per Bait | 2 baris (bait tunggal) | 4 baris (sering berdiri sendiri) | 4 baris per bait (biasanya bagian cerita panjang) |
| Struktur Isi | Baris 1: Syarat/Peristiwa. Baris 2: Akibat/Hasil. | Baris 1-2: Sampiran (pembayang). Baris 3-4: Isi (maksud). | Keempat baris merupakan isi yang berkesinambungan membentuk narasi. |
| Skema Rima (Akhiran) | a-a (sajak akhir sama) | a-b-a-b | a-a-a-a |
| Fungsi & Ciri Khas | Nasihat, filsafat hidup, ajaran agama dan moral yang padat dan tegas. | Nasihat, sindiran, atau ungkapan perasaan dengan pendekatan tidak langsung lewat sampiran. | Bercerita (epik, religius, sejarah), pengajaran, dan kisah simbolik. |
Struktur dan Ciri Kebahasaan
Gurindam punya aturan main yang jelas, meski terlihat sederhana. Aturan ini yang bikin dia punya ciri khas dan mudah dikenali. Jumlah barisnya selalu genap, biasanya dua baris dalam satu bait, meski ada juga yang berkembang menjadi lebih banyak tetapi tetap mempertahankan hubungan sebab-akibat antar pasangan barisnya. Untuk jumlah suku kata, tidak ada ketatapan baku seperti soneta, tetapi cenderung pendek dan padat, sering antara 8 hingga 12 suku kata per baris agar terkesan mantap dan berisi.
Yang paling penting adalah skema rimanya. Gurindam bersajak akhir sama (a-a, b-b, dan seterusnya). Rima ini memperkuat kesatuan makna antara baris pertama dan kedua. Dari segi bahasa, diksi yang dipilih biasanya kuat, bernas, dan sering menggunakan kata-kata yang bersifat mutlak seperti “jika”, “apabila”, “barang siapa”, “hendaklah”. Majas yang dominan adalah majas pertentangan (antitesis) untuk menunjukkan perbandingan antara perbuatan baik dan buruk, serta metafora untuk menggambarkan nilai-nilai abstrak.
Contoh dan Analisis Gurindam
Mari kita lihat dua bait Gurindam klasik untuk memahami penerapan aturan dan gaya bahasanya secara langsung.
Gurindam Pasal 1 (Raja Ali Haji)
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Gurindam Pasal 5 (Raja Ali Haji)
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Pada contoh pertama, terlihat skema rima a-a dimana kata “agama” dan “nama” memiliki akhiran bunyi yang sama. Strukturnya jelas: baris pertama menyatakan kondisi (“tiada memegang agama”) dan baris kedua adalah konsekuensinya (“tiada boleh dibilangkan nama”). Bahasa yang digunakan tegas dan absolut. Pada contoh kedua, rima a-a pada “berilmu” dan “jemu”. Baris pertama berisi tujuan (“hendak mengenal orang berilmu”) dan baris kedua adalah syarat atau caranya (“bertanya dan belajar”).
Diksi “tiadalah jemu” menggunakan penyangkalan untuk menegaskan sifat positif yang harus dimiliki.
Nilai dan Ajaran dalam Gurindam
Kekuatan Gurindam sebenarnya terletak pada kedalaman nilai dan ajarannya yang universal. Meski ditulis berabad-abad lalu, tema-temanya masih sangat relevan karena menyentuh hal-hal mendasar dalam kehidupan manusia: hubungan dengan Tuhan, tanggung jawab pada diri sendiri, etika sosial, dan pencarian ilmu. Gurindam tidak sekadar memberi nasihat, tetapi sering menyajikannya dalam bentuk metafora dan perumpamaan yang mudah diingat, seperti membandingkan hidup tanpa agama dengan orang yang tak punya nama, atau menggambarkan ilmu sebagai sesuatu yang harus dikejar dengan rasa tidak jemu.
Metafora ini berfungsi sebagai pengingat visual yang kuat, membuat ajaran moral yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dicerna. Salah satu karya paling terkenal yang penuh dengan nilai-nilai semacam ini adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Karya ini merupakan pilar sastra yang merangkum pedoman hidup secara komprehensif.
Nilai Moral dalam Gurindam Dua Belas
Source: rumah123.com
Dari dua belas pasal yang ada, dapat dirangkum setidaknya lima nilai moral utama yang menjadi tulang punggung ajaran dalam karya tersebut. Nilai-nilai ini saling berkaitan dan membentuk kerangka etika yang utuh.
- Ketaatan Beragama sebagai Fondasi Hidup: Pasal pertama langsung menegaskan bahwa agama adalah identitas dan landasan segala perbuatan. Tanpa agama, seseorang dianggap tidak memiliki “nama” atau harga diri.
- Kepemimpinan dan Tanggung Jawab: Beberapa pasal khusus membahas kewajiban raja (pemimpin) dan rakyat. Seorang pemimpin harus adil, bijaksana, dan melindungi, sementara rakyat harus taat dan setia selama kepemimpinan itu benar.
- Pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan: Gurindam mendorong manusia untuk terus menuntut ilmu (“bertanya dan belajar tiadalah jemu”) dan menggunakan ilmu tersebut dengan bijak, bukan untuk kesombongan.
- Akhlak dan Budi Pekerti Luhur: Banyak pasal mengajarkan tentang kesabaran, menahan amarah, menjaga lisan, sifat pemurah, dan menghormati orang tua. Ini adalah pedoman praktis dalam pergaulan sehari-hari.
- Kesadaran Akan Akhirat dan Pertanggungjawaban: Gurindam selalu mengingatkan tentang kehidupan setelah dunia. Setiap perbuatan di dunia akan ada balasannya, sehingga mendorong manusia untuk senantiasa berbuat baik dan bertaqwa.
Tokoh dan Karya Monumental
Membahas Gurindam tanpa menyebut Raja Ali Haji ibarat membahas revolusi tanpa menyebut pemimpinnya. Beliau adalah seorang bangsawan, ulama, sejarawan, dan sastrawan Bugis-Melayu yang lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, sekitar tahun 1808. Karyanya yang paling abadi, Gurindam Dua Belas, diselesaikan pada tahun 1847. Raja Ali Haji bukan hanya penulis, tetapi juga pencatat sejarah dan bahasa. Beliaulah yang menulis Kitab Pengetahuan Bahasa, kamus bahasa Melayu awal, dan Tuhfat al-Nafis, sebuah karya sejarah penting.
Melalui Gurindam Dua Belas, beliau berhasil meramu nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Melayu menjadi pedoman hidup yang sistematis.
Karya ini terdiri dari dua belas pasal yang masing-masing membahas tema spesifik, mulai dari agama, kewajiban raja, kewajiban anak, hingga sifat-sifat mulia. Salah satu pasal yang sering dikutip adalah tentang hubungan timbal balik antara raja dan rakyat, yang mencerminkan konsep kepemimpinan ideal dalam masyarakat Melayu-Islam pada masanya.
Cuplikan dan Konteks Historis Gurindam Dua Belas
Gurindam Pasal Ketiga (tentang kewajiban raja)
Apabila raja alim dan adil,
Maka rakyat pun hidup sentosa dan makmur.Apabila raja lengah dan lalai,
Maka kelakuan rakyat pun derhaka dan mungkir.
Cuplikan ini menunjukkan bahwa stabilitas dan kesejahteraan negara (rakyat yang sentosa) bergantung sepenuhnya pada karakter dan keadilan sang raja. Sebaliknya, kelalaian raja akan langsung berimbas pada kekacauan sosial. Dalam konteks historis abad ke-19 di Kesultanan Riau-Lingga, pesan ini sangat relevan. Raja Ali Haji hidup di masa peralihan dan pengaruh kolonial, sehingga melalui karyanya, beliau ingin mengingatkan para penguasa untuk memegang teguh agama dan keadilan agar kerajaan tetap berdiri kuat.
Ini adalah bentuk nasihat politik yang disampaikan dengan indah melalui sastra.
Karya Sastra Tradisional Melayu Sezaman
Gurindam Dua Belas bukan satu-satunya mahakarya yang lahir dari tradisi intelektual Melayu pada periode tersebut. Berikut adalah beberapa karya lain yang sezaman dan juga memiliki pengaruh besar.
| Judul Karya | Penulis/Penyusun | Bentuk | Konten Utama |
|---|---|---|---|
| Syair Siti Zubaidah | Tidak diketahui secara pasti (anonim) | Syair | Kisah epik perjalanan dan peperangan Putri Siti Zubaidah, penuh dengan nilai kepahlawanan dan religi. |
| Hikayat Hang Tuah | Anonim (disusun dari tradisi lisan) | Hikayat (prosa) | Kisah kepahlawanan dan kesetiaan Hang Tuah kepada Sultan Melaka, simbol semangat Melayu. |
| Tuhfat al-Nafis | Raja Ali Haji & ayahnya, Raja Ahmad | Sejarah (prosa) | Sejarah dan silsilah kerajaan-kerajaan Melayu dan Bugis, sumber historiografi penting. |
| Syair Abdul Muluk | Raja Ali Haji (dipersengketakan) | Syair | Kisah petualangan dan percintaan yang juga menyisipkan pesan moral dan keagamaan. |
Gurindam dalam Konteks Kekinian
Mungkin ada yang bertanya, apa relevansi nasihat dari abad ke-19 untuk kehidupan kita yang serba digital ini? Jawabannya, sangat relevan. Ajaran tentang integritas (“Hendaklah pelihara lidah, daripada berkata dusta”), tanggung jawab pemimpin, pentingnya ilmu, dan etika bermasyarakat adalah nilai-nilai abadi yang justru semakin dibutuhkan di era yang penuh dengan informasi cepat dan gesekan sosial. Gurindam mengajarkan dasar-dasar karakter yang kuat, yang bisa menjadi filter bagi generasi muda dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
Salah satu cara membuatnya tetap hidup adalah dengan mengadaptasinya ke dalam media dan bahasa yang mudah diakses oleh generasi sekarang. Misalnya, mengubahnya menjadi konten media sosial, ilustrasi, atau kampanye sosial yang eye-catching.
Adaptasi Gurindam ke dalam Media Poster
Bayangkan sebuah poster kampanye anti-hoax atau literasi digital yang mengutip Gurindam Pasal 10: “Hendaklah pelihara lidah, daripada berkata dusta.” Poster ini didominasi oleh warna biru tua yang memberi kesan tenang dan dapat dipercaya. Di tengah poster, terdapat ilustrasi ikonik sebuah mulut yang terkunci dengan gembok, namun dari gembok itu tumbuh ranting berdaun hijau yang subur, melambangkan bahwa dengan menahan perkataan dusta, justru tumbuh kebaikan.
Teks Gurindam ditulis dengan huruf bold dan elegan di bagian atas. Di bawahnya, ada tagline dalam bahasa kontemporer: “Sebelum Sebar, Cek Fakta. Jaga Ucapan, Jaga Negeri.” Di bagian bawah poster, terdapat QR code yang ketika dipindai akan mengarahkan ke situs verifikasi fakta. Poster ini menggunakan metafora visual untuk menghubungkan ajaran klasik dengan isu aktual.
Memperkenalkan Gurindam kepada Generasi Muda
Langkah-langkah praktis diperlukan agar Gurindam tidak hanya menjadi materi hafalan di sekolah, tetapi juga dipahami dan dihayati. Pendekatannya harus interaktif dan kontekstual.
- Integrasi dalam Mata Pelajaran: Tidak hanya di Bahasa Indonesia, Gurindam dapat dibahas dalam pelajaran Agama (tentang akhlak), PKN (tentang kewajiban pemimpin dan rakyat), dan Sejarah (sebagai sumber nilai sejarah).
- Lomba Kreasi Media: Mengadakan lomba membuat konten TikTok, Instagram Reels, atau poster digital yang menginterpretasikan satu bait Gurindam sesuai dengan kehidupan remaja masa kini, seperti tentang persahabatan, bullying, atau semangat belajar.
- Drama atau Pembacaan Apresiatif: Meminta siswa menampilkan dramatisasi singkat yang mengilustrasikan makna sebuah Gurindam, atau membacakannya dengan penekanan dan ekspresi yang tepat untuk memahami nuansa bahasanya.
- Proyek Refleksi Diri: Siswa diminta memilih satu bait Gurindam yang paling resonate dengan mereka, lalu menuliskan refleksi singkat tentang penerapannya dalam kehidupan sehari-hari atau cita-cita mereka di masa depan.
- Kunjungan Virtual ke Pulau Penyengat: Memanfaatkan teknologi untuk melakukan tur virtual ke tempat lahirnya Raja Ali Haji, menghubungkan karya sastra dengan konteks geografis dan sejarahnya, sehingga lebih membekas.
Penutupan Akhir: Gurindam
Demikianlah, Gurindam berdiri bukan sebagai artefak usang, melainkan sebagai suara yang masih bergema. Ia mengajak kita untuk sejenak merenung di tengah hiruk-pikuk zaman, mengingatkan pada akar budi pekerti dan kewajiban sebagai manusia. Mempelajari Gurindam adalah upaya merajut kembali benang-benang kebijaksanaan masa lalu untuk ditenun menjadi kain kehidupan yang lebih berharga di masa kini. Warisan ini menunggu untuk dihidupkan kembali, bukan hanya di lembaran buku, tetapi dalam laku sehari-hari.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah Gurindam hanya populer di masyarakat Melayu?
Tidak. Meski berakar dari tradisi Melayu, nilai-nilai universal dalam Gurindam, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan ketakwaan, membuatnya dapat dipahami dan diapresiasi oleh berbagai budaya di Nusantara.
Apakah Gurindam selalu berisi nasihat yang serius dan berat?
Umumnya iya, karena fungsinya sebagai pengajaran. Namun, beberapa bait bisa mengandung sindiran halus atau humor yang cerdas, meski tetap dengan tujuan memberi pelajaran moral.
Bisakah Gurindam dibuat dengan tema kontemporer, seperti teknologi atau media sosial?
Sangat bisa. Struktur dan bentuk Gurindam dapat dijadikan kerangka untuk menyampaikan pesan-pesan kekinian. Ini justru cara kreatif untuk melestarikan bentuk puisi lama dengan isu yang relevan.
Selain Raja Ali Haji, adakah penulis Gurindam lain yang terkenal?
Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji memang yang paling monumental. Namun, bentuk Gurindam telah digunakan oleh banyak pujangga dan penulis tradisional lainnya dalam karya mereka, meski seringkali tidak tercatat secara spesifik.
Bagaimana cara membedakan Gurindam dengan bentuk peribahasa atau bidal?
Peribahasa atau bidal biasanya berupa kalimat tunggal yang padat makna, sementara Gurindam memiliki struktur baku dua baris dengan rima a-a dan hubungan sebab-akibat yang jelas antar barisnya.