Hitung Massa CO2 dan H2O dari Pembakaran 5 g C6H12O6

Hitung massa CO2 dan H2O dari pembakaran 5 g C6H12O6—mungkin terdengar seperti soal ujian kimia yang bikin deg-degan, tapi sebenarnya ini adalah petualangan detektif skala molekuler yang seru banget untuk diikuti. Bayangkan, dari sebongkah gula padat berwarna putih, kita bisa melacak jejak setiap atom karbon dan hidrogennya yang berubah menjadi karbon dioksida serta uap air, dua zat yang memegang peran krusial di atmosfer bumi kita.

Proses ini bukan sekadar angka dan rumus, melainkan sebuah cerita transformasi energi dan materi yang diatur oleh hukum alam yang elegan.

Melalui pendekatan stoikiometri, kita akan membongkar rahasia di balik persamaan reaksi yang setara. Layaknya resep kue yang tepat, setiap gram glukosa akan memberikan hasil akhir berupa massa CO2 dan H2O yang dapat diprediksi dengan cermat. Artikel ini akan memandu langkah demi langkah, dari menuliskan reaksi pembakaran sempurna, menghitung mol, hingga akhirnya mendapatkan angka pasti massa produknya. Semua dikemas dengan analogi yang mudah dicerna, sehingga siapa pun bisa memahami logika indah di balik perhitungan kimia ini.

Menelusuri Jejak Molekul dari Glukosa hingga Asap

Bayangkan sebuah molekul glukosa, C₆H₁₂O₆, yang diam dan tenang di atas timbangan. Ia adalah kristal padat berwarna putih, sumber energi bagi kehidupan. Namun, ketika bertemu dengan oksigen dan percikan api, ia memulai perjalanan terakhirnya yang spektakuler. Setiap atom karbon dan hidrogen di dalamnya akan meninggalkan wujud aslinya, berpisah dari rangkaian molekul yang rumit, untuk bertransformasi menjadi entitas yang sama sekali baru.

Proses ini bukanlah kehancuran, melainkan reorganisasi yang tertib dan terukur, di mana kita dapat melacak jejak setiap atom dari awal hingga akhir.

Dalam pembakaran sempurna, setiap atom karbon (C) dari glukosa yang berjumlah enam, akan menemukan pasangan barunya: dua atom oksigen. Pertemuan ini melahirkan molekul karbon dioksida (CO₂). Sementara itu, dua belas prajurit hidrogen (H) dari glukosa, dengan gesit berpasangan, masing-masing mencari satu atom oksigen untuk membentuk pasangan H₂O. Proses ini membutuhkan pasokan oksigen (O₂) dari udara sebagai rekanan. Transformasi ini terjadi dalam tarian panas yang tinggi, di mana ikatan kimia lama pada glukosa terputus—proses yang membutuhkan energi—dan segera setelah itu, ikatan baru yang lebih stabil pada CO₂ dan H₂O terbentuk, melepaskan energi yang jauh lebih besar dalam bentuk panas dan cahaya.

Jejak akhir dari molekul glukosa yang padat itu kini berubah menjadi gas yang tak kasat mata: CO₂ yang lebih berat dari udara dan uap air yang hangat, menyebar dan bercampur dengan atmosfer bumi.

Menghitung massa CO₂ dan H₂O dari pembakaran 5 g glukosa (C₆H₁₂O₆) itu seru, lho! Kita bisa tahu dampak reaksi kimia di sekitar kita. Tapi, alam semesta jauh lebih kompleks. Seperti misteri Mengapa Jumlah Bintang, Planet, dan Galaksi Tak Terbatas yang terus dipelajari ilmuwan. Nah, kembali ke perhitungan kita, dengan stoikiometri yang tepat, kita bisa mengungkap jejak karbon dan air dari reaksi kecil ini, sebuah cerminan proses kimiawi yang fundamental.

Perbandingan Sifat Reaktan dan Produk

Untuk memahami betapa dramatisnya perubahan ini, mari kita lihat perbandingan sifat fisika dan kimia antara si pemula (glukosa) dan hasil akhirnya (CO₂ dan H₂O). Perubahan wujud dari padat ke gas adalah salah satu petunjuk paling nyata.

Aspek Glukosa (C₆H₁₂O₆) Karbon Dioksida (CO₂) Air (H₂O)
Wujud pada Suhu Kamar Padatan kristalin Gas Cair (uap sebagai produk awal reaksi)
Peran dalam Reaksi Bahan bakar (reaktan yang dioksidasi) Produk oksidasi Produk dari penggabungan hidrogen dan oksigen
Struktur Molekul Cincin atau rantai lurus yang kompleks Linear (O=C=O) Bentuk V dengan sudut 104.5°
Energi Ikatan Rata-rata Campuran ikatan C-C, C-H, C-O, O-H Ikatan C=O yang sangat kuat (799 kJ/mol) Ikatan O-H yang kuat (463 kJ/mol)

Analogi Panen dari Sebidang Tanah

Menghitung massa produk dari sebuah reaksi kimia mirip dengan memprediksi hasil panen. Jika kamu memiliki sebidang tanah (massa glukosa) dengan kepastian bahwa setiap petak tertentu hanya bisa ditanami satu jenis benih (komposisi atom), dan kamu tahu persis berapa banyak buah (massa atom) yang dihasilkan setiap benih, maka kamu bisa memperkirakan total panenmu tanpa harus menunggu musim. Rumus molekul glukosa adalah “peta tanah”-nya, yang memberitahu ada 6 petak karbon, 12 petak hidrogen, dan 6 petak oksigen.

BACA JUGA  Masalah Ketenagakerjaan yang Sering Dihadapi Pemerintah dan Solusi Inovatifnya

Hukum kekekalan massa adalah janji bahwa tidak ada materi yang hilang; semua “buah” dari petak-petak itu akan terkumpul utuh, hanya saja kemasannya berubah menjadi karung CO₂ dan H₂O.

Langkah Demi Langkah Perhitungan Stoikiometri

Perhitungan dimulai dengan persamaan reaksi yang sudah setara, peta jalan utama kita. Dari sana, kita mengikuti alur logis yang sistematis.

C₆H₁₂O₆(s) + 6 O₂(g) → 6 CO₂(g) + 6 H₂O(g)

Pertama, kita hitung mol glukosa yang kita miliki dari massa 5 gram. Massa molar glukosa adalah (6×12) + (12×1) + (6×16) = 180 g/mol.

Mol C₆H₁₂O₆ = Massa / Massa Molar = 5 g / 180 g/mol ≈ 0.02778 mol

Berdasarkan persamaan setara, 1 mol glukosa menghasilkan 6 mol CO₂ dan 6 mol H₂O. Jadi, mol produk adalah:

Mol CO₂ = 0.02778 mol × 6 = 0.1667 mol
Mol H₂O = 0.02778 mol × 6 = 0.1667 mol

Akhirnya, kita konversi mol produk kembali ke massa. Massa molar CO₂ adalah 44 g/mol dan H₂O adalah 18 g/mol.

Massa CO₂ = 0.1667 mol × 44 g/mol ≈ 7.33 g
Massa H₂O = 0.1667 mol × 18 g/mol ≈ 3.00 g

Perhatikan total massa produk: 7.33 g + 3.00 g = 10.33 g. Massa ini lebih besar dari 5 g glukosa karena kita memasukkan massa oksigen (O₂) yang diambil dari udara selama pembakaran, yang konsisten dengan hukum kekekalan massa.

Angka dan Narasi di Balik Persamaan Kimia yang Setara

Penyetaraan reaksi kimia bukan sekadar permainan angka untuk memuaskan ahli kimia. Ia adalah perwujudan nyata dari Hukum Kekekalan Massa yang digagas oleh Antoine Lavoisier: “Tidak ada sesuatu pun yang hilang, tidak ada sesuatu pun yang diciptakan, segalanya mengalami transformasi.” Filosofi di balik angka koefisien 1, 6, 6, dan 6 dalam pembakaran glukosa adalah sebuah narasi tentang keseimbangan. Ia memastikan bahwa setiap atom yang hadir di sisi kiri panah reaksi, harus hadir dalam jumlah yang sama persis di sisi kanan.

Atom tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, mereka hanya berganti pasangan. Proses penyetaraan adalah upaya untuk menemukan cerita yang benar dari transformasi tersebut, di mana rasio molekul yang bereaksi dan terbentuk terjalin dalam proporsi bilangan bulat yang sederhana dan elegan.

Implikasinya sangat dalam. Hukum ini memungkinkan kita melakukan prediksi kuantitatif yang presisi. Kita bisa, dengan keyakinan penuh, mengatakan bahwa dari sejumlah tertentu bahan awal, akan dihasilkan sejumlah tertentu produk. Stoikiometri, yang lahir dari filosofi ini, menjadi bahasa matematika dari transformasi materi, memungkinkan insinyur merancang pabrik dan ilmuwan memahami metabolisme sel.

Prosedur Konversi Massa ke Mol ke Massa Produk

Untuk mengonversi 5 gram glukosa menjadi massa CO₂ dan H₂O, kita mengikuti prosedur sistematis yang terdiri dari tiga langkah utama. Prosedur ini adalah tulang punggung dari hampir semua perhitungan stoikiometri.

  • Langkah 1: Dari Massa ke Mol (Menggunakan Massa Molar). Hitung jumlah mol glukosa yang sebenarnya ada dalam sampel 5 gram dengan membagi massa tersebut dengan massa molar glukosa (180 g/mol). Ini seperti menghitung berapa lusin telur yang kamu miliki jika diketahui berat satu telur dan berat totalnya.
  • Langkah 2: Dari Mol Reaktan ke Mol Produk (Menggunakan Rasio Stoikiometri). Gunakan koefisien dari persamaan reaksi setara sebagai rasio konversi. Karena perbandingan glukosa : CO₂ : H₂O adalah 1 : 6 : 6, kalikan mol glukosa dengan 6 untuk mendapatkan mol CO₂ dan mol H₂O. Langkah ini menghubungkan “jumlah partikel” antara reaktan dan produk.
  • Langkah 3: Dari Mol Produk ke Massa Produk (Menggunakan Massa Molar Kembali). Akhirnya, konversi mol CO₂ dan H₂O yang telah didapat kembali ke dalam satuan gram dengan mengalikannya masing-masing dengan massa molar CO₂ (44 g/mol) dan H₂O (18 g/mol).

Kesalahan Umum dalam Memperhitungkan Koefisien

Salah satu jebakan paling umum adalah mengabaikan atau salah menggunakan rasio stoikiometri dari persamaan yang setara. Misalnya, seseorang mungkin langsung menghubungkan massa glukosa dengan massa CO₂ hanya dengan perbandingan massa molar, tanpa melalui mol dan tanpa mengalikan dengan faktor 6. Kesalahan ini akan menghasilkan perhitungan bahwa 5 g glukosa hanya menghasilkan sekitar 1.22 g CO₂, yang sangat jauh dari nilai benar (7.33 g).

Kesalahan ini melanggar narasi persamaan reaksi, karena secara tidak sadar menganggap 1 molekul glukosa hanya menghasilkan 1 molekul CO₂, padahal kenyataannya menghasilkan 6.

Transformasi dari Padat ke Gas yang Tak Terlihat

Bayangkan 5 gram glukosa, kira-kira setara dengan satu sendok teh gula pasir halus, sebuah padatan putih yang bisa kamu pegang. Setelah pembakaran sempurna, padatan ini lenyap. Apa yang tersisa secara visual mungkin hanya abu yang sangat sedikit (jika ada pengotor) atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun, dari proses itu dihasilkan sekitar 7.33 gram karbon dioksida dan 3 gram uap air.

Volume gas ini, pada suhu ruang, bisa mencapai puluhan liter—mengembang ratusan kali lipat dari volume awal padatan. Massa yang sebelumnya terkonsentrasi dalam gumpalan kecil itu kini tersebar dalam volume gas yang sangat besar dan tak terlihat oleh mata. Inilah keajaiban stoikiometri: ia memungkinkan kita “menimbang” sesuatu yang tidak bisa kita kumpulkan dalam wadah, sesuatu yang telah berubah wujud dan menyebar di udara, hanya dengan memahami bahasa persamaan reaksi.

BACA JUGA  Proses Pembentukan Kepribadian Seseorang Melalui Faktor Kunci Sejak Dini

Interpretasi Numerik dalam Konteks Kehidupan Sehari-hari

Angka 7.33 gram CO₂ dan 3.00 gram H₂O dari pembakaran 5 gram glukosa bukanlah sekadar output kalkulator. Angka-angka ini adalah bahasa universal yang menghubungkan percobaan laboratorium dengan denyut nadi bumi. Setiap hembusan napas kita, setiap kayu yang terbakar di perapian, bahkan setiap proses pembakaran di mesin kendaraan, pada dasarnya mengikuti logika stoikiometri yang sama. Ketika kita bernapas, sel-sel tubuh kita secara biokimia “membakar” glukosa dengan oksigen untuk menghasilkan energi, CO₂, dan H₂O.

CO₂ yang dihasilkan kemudian dibawa oleh darah ke paru-paru dan dihembuskan ke atmosfer. Jadi, angka massa CO₂ dari perhitungan kita adalah cerminan skala mikro dari apa yang terjadi secara masif dalam respirasi seluruh makhluk hidup dan pembakaran bahan bakar fosil.

Dalam konteks lingkungan, memahami konversi ini membantu kita mengkuantifikasi jejak karbon. Jika kita tahu massa bahan organik yang terlibat, kita bisa memprediksi emisi CO₂-nya. Sebaliknya, tanaman dalam fotosintesis melakukan proses sebaliknya: mereka mengambil CO₂ dan H₂O dari lingkungan untuk menyusunnya kembali menjadi glukosa dan oksigen, menutup siklus karbon yang indah. Angka-angka stoikiometri ini menjadi dasar untuk memahami keseimbangan yang rapuh dalam siklus tersebut.

Data Hipotetis Pembakaran Berbagai Massa Glukosa

Untuk melihat pola dan skala dari reaksi ini, mari kita lihat tabel hasil hipotetis pembakaran glukosa dengan massa yang berbeda-beda. Data ini menunjukkan hubungan linear yang langsung antara massa glukosa dengan massa produk, sebuah hubungan yang menjadi ciri khas perhitungan stoikiometri.

Massa Glukosa (g) Mol Glukosa Massa CO₂ yang Dihasilkan (g) Massa H₂O yang Dihasilkan (g)
1.0 0.00556 1.47 0.60
2.5 0.01389 3.67 1.50
5.0 0.02778 7.33 3.00
7.5 0.04167 11.00 4.50
10.0 0.05556 14.67 6.00

Eksperimen Pikiran: Mengumpulkan Uap Air

Bayangkan kita melakukan pembakaran glukosa dalam sistem tertutup yang dilengkapi dengan kondensor raksasa. Setelah reaksi selesai, semua gas panas dialirkan melalui pipa yang didinginkan dengan es. Uap air (H₂O(g)) yang merupakan produk reaksi akan mengalami kondensasi, berubah kembali menjadi cairan saat bersentuhan dengan permukaan dingin. Cairan ini menetes dan terkumpul dalam wadah. Untuk menghitung massa air yang dihasilkan tanpa mengukur gas CO₂-nya, kita bisa fokus pada hidrogen.

Kita tahu dari rumus glukosa (C₆H₁₂O₆) bahwa ada 12 atom H. Setiap molekul H₂O mengandung 2 atom H. Jadi, dari satu molekul glukosa, 12 atom H akan membentuk 6 molekul H₂O. Dengan menghitung mol glukosa awal (0.02778 mol), kita langsung tahu mol H₂O adalah 6 kali lipatnya (0.1667 mol). Massa air cair yang terkumpul di wadah pun dapat dihitung: 0.1667 mol × 18 g/mol = 3.00 gram.

Eksperimen pikiran ini menunjukkan bagaimana kita bisa mengisolasi dan memverifikasi satu produk dari sistem reaksi yang kompleks.

Kutipan Hukum-Hukum Dasar Kimia, Hitung massa CO2 dan H2O dari pembakaran 5 g C6H12O6

Seluruh perhitungan yang kita lakukan berdiri di atas pundak raksasa hukum-hukum dasar kimia. Dua hukum berikut adalah fondasi yang tidak tergoyahkan.

“Dalam setiap reaksi kimia, massa total zat-zat sebelum reaksi sama dengan massa total zat-zat setelah reaksi.” – Hukum Kekekalan Massa (Antoine Lavoisier, 1789)

“Gas-gas yang bereaksi dan gas-gas hasil reaksi, diukur pada suhu dan tekanan yang sama, memiliki perbandingan volume yang merupakan bilangan bulat dan sederhana.” – Hukum Perbandingan Volume (Gay-Lussac, 1808). Hukum ini, bersama dengan teori Avogadro, mengarah pada konsep mol dan stoikiometri gas yang kita gunakan.

Dari Skala Laboratorium Menuju Dimensi Lingkungan yang Lebih Luas

Perhitungan stoikiometri pembakaran 5 gram glukosa di laboratorium adalah sebuah model miniatur yang sangat berharga. Prinsip yang sama, ketika ditingkatkan skalanya secara eksponensial, menjadi alat vital untuk memprediksi emisi dari proses industri yang membakar jutaan ton bahan bakar fosil, atau untuk memodelkan produksi CO₂ dari dekomposisi sampah organik di tempat pembuangan akhir. Dalam bioteknologi, perhitungan serupa digunakan untuk merancang bioreaktor, memperkirakan hasil fermentasi, atau memahami kebutuhan oksigen dalam pengolahan limbah secara biologis.

Dengan mengetahui rumus molekul rata-rata dari bahan organik (misalnya dalam biomassa atau batu bara), para insinyur dapat merancang sistem pembakaran yang efisien dan memprediksi beban emisi gas rumah kaca yang harus dikelola, jauh sebelum cerobong asap pabrik dibangun.

Dengan kata lain, kemampuan untuk melacak atom dari reaktan ke produk ini adalah kunci untuk audit materi dalam sistem apa pun, baik itu sel ragi, mesin mobil, atau pembangkit listrik tenaga uap. Ini memungkinkan kita beralih dari kualitatif (“pembakaran menghasilkan asap”) ke kuantitatif (“pembakaran 1 ton batu bara jenis X menghasilkan Y ton CO₂”), yang merupakan bahasa yang diperlukan untuk kebijakan pengendalian polusi dan mitigasi perubahan iklim.

BACA JUGA  10 Contoh Karya Seni Rupa 2D dan 3D Menguak Dimensi Kreasi

Menghitung massa CO₂ dan H₂O dari pembakaran 5 g glukosa (C₆H₁₂O₆) itu seperti memecahkan teka-teki kimia yang seru, di mana kita menyeimbangkan persamaan dan menggunakan konsep mol. Nah, logika perhitungan sistematis ini juga bisa diterapkan di dunia nyata, misalnya untuk Hitung Luas Taman Persegi Panjang dengan Keliling 92 meter , di mana kita mengolah data keliling untuk menemukan dimensi dan luas yang optimal.

Kembali ke glukosa, dengan pendekatan metodis yang mirip, kita bisa dapatkan hasil akhir berupa massa karbon dioksida dan air yang dihasilkan dari reaksi tersebut.

Perbandingan dengan Pembakaran Metana

Membandingkan hasil pembakaran glukosa dengan senyawa hidrokarbon sederhana seperti metana (CH₄) memberikan wawasan tentang intensitas karbon dari berbagai bahan bakar. Mari kita lihat perbandingan dasarnya.

  • Rasio Massa CO₂ yang Dihasilkan: Pembakaran 5g glukosa (C₆H₁₂O₆) menghasilkan ~7.33g CO₂. Sementara itu, pembakaran 5g metana (CH₄) akan menghasilkan sekitar 13.75g CO₂. Metana menghasilkan lebih banyak CO₂ per gram bahan bakar karena molekulnya hampir seluruhnya terdiri dari karbon dan hidrogen, tanpa atom oksigen di dalamnya yang sudah “membantu” proses oksidasi.
  • Kandungan Energi: Secara umum, hidrokarbon murni seperti metana memiliki nilai kalor (energi yang dilepaskan per gram) yang lebih tinggi daripada karbohidrat seperti glukosa, karena karbohidrat sudah teroksidasi sebagian (memiliki atom O dalam strukturnya).
  • Implikasi: Perbandingan ini menjelaskan, dari sudut pandang emisi karbon, mengapa bahan bakar fosil yang kaya hidrokarbon memiliki dampak emisi CO₂ yang sangat tinggi per unit energinya dibandingkan dengan pembakaran biomassa yang mengandung lebih banyak oksigen.

Peran Air yang Sering Terabaikan

Dalam diskusi publik tentang pembakaran dan emisi, fokus hampir selalu pada CO₂. Padahal, produksi uap air (H₂O) juga signifikan dan memiliki perannya sendiri. Dalam konteks skala besar, seperti pembakaran bahan bakar pesawat terbang di ketinggian, uap air yang dilepaskan dapat berkontribusi pada pembentukan contrails (jejak kondensasi) dan awan cirrus, yang mempengaruhi radiasi matahari di atmosfer. Meskipun uap air adalah gas rumah kaca alami yang siklusnya cepat, penambahannya secara lokal dari aktivitas manusia dapat mempengaruhi kimia atmosfer dan pola awan.

Dalam siklus hidrologi, uap air dari pembakaran industri atau pembangkit listrik akhirnya akan mengembun dan kembali sebagai presipitasi, menyatu dengan siklus air alamiah. Mengabaikan massa dan dampak dari produk air berarti mengabaikan separuh dari cerita transformasi materi dalam pembakaran.

Deskripsi Visual Perubahan Entropi dan Energi

Bayangkan sebuah sistem tertutup raksasa yang transparan. Di satu sudut, terdapat tumpukan rapi dan teratur dari molekul glukosa padat dan molekul O₂ gas. Ini adalah keadaan dengan entropi (ukuran ketidakteraturan) yang relatif rendah. Ketika reaksi dimulai, ledakan energi eksotermik yang dahsyat terjadi—cahaya dan panas menyebar ke segala arah. Ikatan yang kaku pada glukosa pecah, atom-atomnya tercerai-berai, dan dengan cepat menemukan pasangan barunya membentuk molekul CO₂ dan H₂O yang bergerak sangat cepat.

Hasilnya adalah campuran gas panas yang bergolak dan sangat acak, mengisi setiap sudut ruang sistem dengan gerakan Brown yang tak terhitung. Keadaan akhir ini memiliki entropi yang jauh lebih tinggi. Massa tidak hilang, tetapi ia telah bertransformasi dari wujud yang teratur dan padat menjadi wujud yang sangat tidak teratur dan tersebar, sambil melepaskan energi yang sebelumnya tersimpan rapat dalam ikatan kimia glukosa ke lingkungan sebagai panas.

Transformasi massa ini selalu disertai dengan peningkatan kekacauan universal dan aliran energi.

Ulasan Penutup

Jadi, itulah perjalanan lengkap menghitung massa CO2 dan H2O dari pembakaran 5 gram glukosa. Dari sekadar angka di atas kertas, kita menyadari bahwa perhitungan stoikiometri yang tampak teknis ini sebenarnya adalah bahasa universal untuk memahami interaksi materi di sekitar kita. Setiap gram yang berubah, setiap molekul yang terbentuk, adalah bagian dari cerita yang lebih besar tentang respirasi, energi, dan keseimbangan lingkungan.

Perhitungan ini mengajarkan ketepatan, sekaligus membuka mata akan dampak riil dari reaksi kimia, sekecil apa pun skalanya, terhadap dunia tempat kita hidup.

Daftar Pertanyaan Populer: Hitung Massa CO2 Dan H2O Dari Pembakaran 5 g C6H12O6

Apakah semua 5 gram glukosa itu benar-benar hilang berubah menjadi gas?

Tidak ada massa yang hilang; ia berubah wujud. Massa dari 5 gram glukosa ditambah massa oksigen yang bereaksi akan sama persis dengan massa total CO2 dan H2O yang dihasilkan, sesuai Hukum Kekekalan Massa. Yang “hilang” adalah bentuk padat glukosa, berubah menjadi produk gas.

Bisakah perhitungan ini diterapkan pada pembakaran tidak sempurna?

Tidak bisa. Perhitungan ini spesifik untuk pembakaran sempurna (oksigen berlebih) dimana produknya hanya CO2 dan H2O. Pembakaran tidak sempurna menghasilkan produk seperti karbon monoksida (CO) atau jelaga (C), sehingga perbandingan mol dan massa produknya akan berbeda sama sekali.

Mengapa massa air yang dihasilkan lebih besar daripada massa karbon dioksida, padahal CO2 lebih sering dibahas?

Itu karena massa molekul relatif air (H2O ≈ 18 g/mol) lebih kecil daripada CO2 (≈ 44 g/mol). Dari reaksi setara, perbandingan mol H2O:CO2 adalah 6:6, tetapi karena massa per mol CO2 lebih besar, secara total massanya memang lebih berat. Namun, dalam konteks lingkungan, CO2 lebih banyak dibahas karena sifatnya sebagai gas rumah kaca yang persisten.

Bagaimana jika glukosanya tidak murni atau ada pengotor?

Perhitungan akan menjadi tidak akurat. Massa 5 gram yang digunakan harus benar-benar massa glukosa murni. Jika ada pengotor, massa zat yang sebenarnya terbakar akan lebih sedikit dari 5 gram, sehingga hasil massa CO2 dan H2O yang dihitung akan lebih besar dari yang sebenarnya dihasilkan.

Leave a Comment