Hitung Tegangan Efektif dan Arus Maksimum Rangkaian 220V 100Ω

Hitung Tegangan Efektif dan Arus Maksimum pada Rangkaian 220V dengan Hambatan 100Ω terdengar seperti tugas kuliah yang menegangkan, ya? Tapi tenang, sebenarnya konsep di baliknya adalah fondasi dari hampir semua peralatan listrik di rumah kita. Mulai dari setrika yang memanas hingga lampu yang menyala, semuanya berhubungan dengan tarian antara tegangan, arus, dan hambatan ini. Mari kita buka lembaran dan pahami dengan cara yang lebih cair, karena fisika listrik sebenarnya adalah cerita tentang bagaimana energi dikendalikan untuk bekerja bagi kita.

Pada intinya, topik ini membedah apa yang terjadi ketika sebuah resistor 100 ohm dipertemukan dengan sumber listrik AC rumah tangga 220 volt. Kita akan menyelami perbedaan antara tegangan yang tertera di stopkontak (tegangan efektif atau RMS) dengan tegangan puncaknya yang lebih tinggi, lalu menghitung seberapa besar arus yang akan mengalir serta daya yang berubah menjadi panas. Semua ini bukan sekadar angka, melainkan bahasa untuk memahami keamanan dan kinerja suatu rangkaian listrik sederhana.

Mengungkap Prinsip Dasar Aliran Listrik dalam Rangkaian Resistif Sederhana

Memahami rangkaian listrik sederhana seringkali dimulai dari hubungan antara tegangan, arus, dan hambatan. Dalam konteks listrik bolak-balik atau AC yang kita gunakan sehari-hari di rumah, konsep ini memiliki nuansa tersendiri karena nilai tegangannya terus berubah-ubah terhadap waktu. Sumber listrik 220V yang biasa disebutkan sebenarnya bukanlah nilai tegangan yang konstan, melainkan sebuah nilai rata-rata efektif yang memberikan dampak daya setara dengan listrik searah.

Tegangan 220V yang tertera pada stopkontak adalah tegangan efektif atau Root Mean Square (RMS). Ini adalah sebuah nilai representatif dari tegangan AC yang berubah-ubah bentuk sinusoidanya. Bayangkan gelombang sinus yang naik turun dari nilai positif maksimum, turun ke nol, lalu ke nilai negatif maksimum, dan kembali lagi. Nilai sesaatnya selalu berubah. Tegangan efektif adalah nilai yang, jika diterapkan pada sebuah resistor, akan menghasilkan daya panas rata-rata yang sama persis seperti jika kita menggunakan tegangan DC dengan nilai tersebut.

Untuk gelombang sinus murni, hubungan antara tegangan puncak (Vp) dan tegangan efektif (Vrms) adalah tetap.

Vrms = Vp / √2 ≈ Vp / 1.414

Artinya, dari tegangan efektif 220V, kita dapat menghitung tegangan puncaknya, yaitu sekitar 311 Volt. Perbedaan mendasar ini krusial karena komponen seperti kapasitor atau dioda harus menahan tegangan puncak, bukan hanya tegangan efektifnya. Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk merancang dan menganalisis rangkaian elektronika yang aman dan tepat guna.

Parameter Tegangan pada Sumber AC 220V

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah tabel yang merangkum berbagai parameter tegangan dalam sumber AC 220V (gelombang sinus murni). Tabel ini membantu memvisualisasikan perbedaan antara nilai-nilai yang sering dibicarakan.

Parameter Rumus Nilai (untuk Vrms=220V) Deskripsi Singkat
Nilai Sesaat (v(t)) Vp

sin(ωt)

Bervariasi antara -311V hingga +311V Nilai tegangan pada satu titik waktu tertentu (t).
Tegangan Puncak (Vp) Vrms – √2 ≈ 311.1 Volt Nilai maksimum absolut yang dicapai gelombang.
Tegangan Puncak-ke-Puncak (Vpp) 2 – Vp ≈ 622.2 Volt Selisih antara puncak positif dan puncak negatif.
Tegangan Efektif (Vrms) Vp / √2 220 Volt Nilai tegangan DC setara yang menghasilkan daya rata-rata yang sama.

Hubungan Hukum Ohm dan Karakteristik Arus

Hukum Ohm tetap menjadi fondasi dalam menganalisis rangkaian ini, meski untuk AC. Hukum tersebut menyatakan bahwa arus yang mengalir melalui sebuah penghantar berbanding lurus dengan tegangan di kedua ujungnya dan berbanding terbalik dengan hambatannya. Dalam rangkaian resistif murni, gelombang arus akan sefase dengan gelombang tegangan.

Artinya, ketika tegangan mencapai puncak positif, arus juga mencapai puncak positif, dan begitu pula sebaliknya.

Dengan hambatan (R) sebesar 100Ω dan tegangan efektif (Vrms) 220V, kita dapat langsung menghitung arus efektif yang mengalir menggunakan Hukum Ohm dalam bentuk RMS. Implikasinya, karena tegangan berubah secara sinusoidal, arus yang mengalir juga akan berubah dengan pola yang sama. Karakteristik arus ini akan memiliki nilai puncak dan nilai efektifnya sendiri, yang hubungannya juga mengikuti faktor √2, sama seperti tegangan.

Contoh Perhitungan Arus Maksimum dan Efektif

Berikut adalah langkah-langkah sistematis untuk menghitung arus maksimum (puncak) dan arus efektif pada rangkaian 220V dengan hambatan 100Ω.

Langkah 1: Menghitung Arus Efektif (Irms)
Menggunakan Hukum Ohm dengan nilai efektif:
Irms = Vrms / R = 220V / 100Ω = 2.2 Ampere.
Ini adalah nilai yang akan terbaca pada amperemeter AC.

Langkah 2: Menghitung Tegangan Puncak (Vp)
Vp = Vrms
– √2 = 220V
– 1.4142 ≈ 311.1 Volt.

Nah, buat yang lagi belajar rangkaian listrik, menghitung tegangan efektif dan arus maksimum pada rangkaian 220V dengan hambatan 100Ω itu sebenarnya prinsip dasarnya sederhana, lho. Kalau mau contoh penerapan yang lebih variatif, coba cek pembahasan seri 1-11 yang bisa bikin pemahamanmu makin mantap. Intinya, dari rumus V=IR, dengan data 220V dan 100Ω tadi, kita bisa langsung temukan arus efektifnya dan nilai maksimumnya setelah itu.

Langkah 3: Menghitung Arus Puncak (Ip)
Menggunakan Hukum Ohm dengan nilai puncak:
Ip = Vp / R = 311.1V / 100Ω ≈ 3.11 Ampere.
Alternatif lain, karena sifatnya linier, Ip juga bisa didapat dari Irms: Ip = Irms
– √2 = 2.2A
– 1.4142 ≈ 3.11 Ampere.

Visualisasi Dinamis Perilaku Gelombang Sinus pada Beban Resistif Murni

Setelah memahami angka-angka teoretis, mari kita bayangkan bagaimana sebenarnya “wajah” dari tegangan dan arus dalam rangkaian ini. Listrik AC 220V yang mengalir di kabel rumah kita memiliki bentuk gelombang sinus yang sempurna (idealnya). Gelombang ini seperti ombak laut yang teratur, naik turun secara halus dengan frekuensi 50 Hertz di Indonesia, yang berarti ia menyelesaikan satu siklus penuh naik-turun-kembali ke titik awal dalam waktu 0.02 detik.

Pada rangkaian dengan beban resistor murni 100Ω, gelombang arus akan menjadi replika sempurna dari gelombang tegangan. Jika kita gambarkan dalam sumbu waktu, kedua kurva akan tumpang tindih dengan sempurna. Ketika tegangan mulai dari nol dan naik ke arah positif, arus juga mulai dari nol dan naik ke arah positif dengan proporsi yang ditentukan hukum Ohm. Pada saat tegangan mencapai puncak positif 311.1 Volt, arus juga mencapai puncak positif 3.11 Ampere.

Begitu tegangan melintasi nol dan menjadi negatif, arus juga berbalik arah secara instan. Tidak ada penundaan atau percepatan; keduanya sefase. Periodenya identik, yaitu 0.02 detik atau 20 milidetik untuk satu siklus lengkap. Visualisasi ini penting karena menjelaskan respons langsung dari beban resistif terhadap perubahan tegangan.

Kesesuaian Daya Efektif dengan Daya Rata-Rata

Konsep nilai efektif (RMS) mungkin terasa abstrak, tetapi kekuatannya terletak pada kemudahan perhitungan daya. Daya sesaat dalam rangkaian AC adalah hasil kali tegangan sesaat dan arus sesaat (P(t) = v(t)
– i(t)). Karena keduanya berubah-ubah, daya sesaat juga berfluktuasi. Namun, penggunaan nilai RMS memungkinkan kita menghitung daya rata-rata dengan formula sederhana yang mirip DC.

  • Daya rata-rata (P_avg) dapat dihitung dengan mengintegralkan daya sesaat selama satu siklus penuh dan membaginya dengan periodenya.
  • Untuk gelombang sinus murni dan beban resistif, hasil integral matematis tersebut akan menghasilkan P_avg = Vrms
    – Irms.
  • Rumus alternatifnya adalah P_avg = (Vp
    – Ip) / 2, yang setara secara matematis dengan P_avg = Vrms
    – Irms karena hubungan faktor √2.
  • Ini membuktikan bahwa nilai 220V dan 2.2A bukanlah sekadar konvensi, tetapi benar-benar merepresentasikan besaran daya nyata yang dikonsumsi, yaitu sekitar 484 Watt.

Narasi Konversi Energi Menjadi Panas dalam Setiap Siklus

Bayangkan resistor 100Ω itu sebagai sebuah jalur sempit yang penuh dengan rintangan bagi elektron yang mengalir. Selama setengah siklus pertama, ketika tegangan positif, elektron “didorong” melalui jalur tersebut dalam satu arah. Energi dari sumber listrik diberikan kepada elektron, namun energi ini segera hilang ketika elektron bertabrakan dengan atom-atom logam dalam resistor, menggetarkannya. Getaran atom inilah yang kita rasakan sebagai panas.

Gambarkan sebuah grafik daya sesaat yang berbentuk gelombang yang selalu positif (karena kuadrat dari sinus), memuncak saat tegangan dan arus puncak, dan menjadi nol saat mereka nol. Area di bawah kurva daya sesaat ini mewakili total energi yang dikonversi menjadi panas dalam selang waktu tertentu.

Pada paruh pertama siklus, energi secara konstan diubah menjadi panas. Lalu, ketika tegangan berbalik arah di paruh kedua siklus, prosesnya persis sama: elektron didorong dari arah berlawanan, tetapi tabrakan dan disipasi energi sebagai panas tetap terjadi dengan pola yang identik. Hasilnya, resistor terus-menerus memanas secara berirama, mengikuti frekuensi 50 Hz, melepaskan energi panas rata-rata 484 Joule setiap detiknya (atau 484 Watt).

Tidak ada energi yang disimpan dalam resistor; semua diubah menjadi panas pada saat yang hampir bersamaan.

Eksplorasi Aplikasi Praktis dan Pertimbangan Keamanan dari Disipasi Daya

Hitung Tegangan Efektif dan Arus Maksimum pada Rangkaian 220V dengan Hambatan 100Ω

Source: slidesharecdn.com

Menghubungkan sebuah resistor 100Ω ke sumber 220V bukan hanya soal perhitungan teoritis, tetapi juga membawa konsekuensi praktis yang nyata, terutama terkait dengan daya dan panas yang dihasilkan. Daya yang terdisipasi adalah ukuran seberapa cepat energi listrik diubah menjadi energi panas. Dengan arus efektif 2.2A dan tegangan 220V, daya yang dihasilkan cukup signifikan dan memerlukan perhatian serius dalam pemilihan komponen.

Daya efektif yang dihasilkan dihitung dengan P = Vrms
– Irms = 220V
– 2.2A = 484 Watt. Atau menggunakan rumus P = Vrms² / R = (220²) / 100 = 48400 / 100 = 484 Watt. Sebuah resistor yang harus menangani daya hampir setengah kilowatt ini bukanlah komponen elektronika kecil biasa. Resistor seperti ini biasanya berupa resistor daya tinggi yang terbuat dari bahan seperti porselen, dilengkapi dengan heatsink, atau bahkan resistor kawat yang dirancang khusus untuk disipasi panas besar.

Faktor keamanan pemilihan komponen melibatkan memilih resistor dengan rating daya yang lebih tinggi dari perhitungan, misalnya 600W atau 1kW, untuk memberikan ruang toleransi terhadap fluktuasi tegangan jaringan dan memastikan komponen tidak overheat selama operasi berkelanjutan.

Skenario Variasi Nilai Hambatan

Untuk memahami sensitivitas rangkaian, mari kita lihat tabel berikut yang menunjukkan bagaimana perubahan nilai hambatan mempengaruhi parameter arus dan daya, dengan tegangan sumber tetap 220V RMS. Tabel ini mengilustrasikan hukum Ohm dan hukum daya secara langsung.

Hambatan (Ω) Arus Efektif (A) Arus Maksimum (A) Daya (W)
50 4.40 6.22 968
100 2.20 3.11 484
150 1.47 2.08 323
200 1.10 1.56 242

Potensi Risiko dan Langkah Pencegahan

Menggunakan komponen dengan rating daya yang tidak memadai adalah risiko utama dalam rangkaian seperti ini. Resistor 100Ω biasa dengan rating 0.25W atau 1W yang langsung dihubungkan ke 220V akan mengalami kehancuran dalam sekejap. Panas yang dihasilkan 484 Watt jauh melampaui kemampuan komponen kecil itu untuk menghantarkannya ke lingkungan, sehingga suhu resistor akan naik secara eksponensial dalam milidetik.

Risiko yang terjadi dimulai dari asap yang keluar dari badan resistor, lapisan pelindung yang terbakar, hingga ledakan kecil komponen. Korsleting dapat terjadi jika material yang meleleh menyebabkan kontak antara jalur yang tidak seharusnya. Panas berlebih ini juga dapat merusak papan sirkuit di sekitarnya dan menjadi sumber bahaya kebakaran. Pencegahannya dimulai dari pemilihan komponen yang tepat: selalu gunakan resistor dengan rating daya minimal 1.5 hingga 2 kali dari daya terhitung untuk margin keamanan.

Pastikan sistem pendinginan yang memadai, seperti heatsink atau kipas, untuk aplikasi daya tinggi. Penggunaan sekering (fuse) dengan rating arus yang sesuai pada jalur masuk juga sangat dianjurkan untuk memutus rangkaian secara otomatis jika terjadi kesalahan yang menyebabkan arus berlebih.

Simulasi Numerik dan Variasi Parameter dalam Konteks Rangkaian Nyata: Hitung Tegangan Efektif Dan Arus Maksimum Pada Rangkaian 220V Dengan Hambatan 100Ω

Dalam praktiknya, rangkaian listrik selalu dihadapkan pada variasi dan ketidakpastian komponen. Sebuah simulasi pengukuran hipotetis dan analisis terhadap toleransi komponen akan memberikan gambaran yang lebih realistis tentang apa yang mungkin kita hadapi di dunia nyata, jauh dari kondisi ideal laboratorium.

Prosedur Pengukuran dengan Multimeter Digital

Mengukur rangkaian ini dengan multimeter digital memerlukan perhatian pada mode pengukuran yang benar. Untuk mengukur tegangan sumber, atur multimeter pada mode AC Voltage (V~) dengan range yang sesuai (misalnya 750V). Tempuhkan probe pada titik masuk rangkaian. Multimeter akan secara internal menghitung nilai RMS dari gelombang sinus dan menampilkan angka yang mendekati 220V, misalnya 218V atau 223V, karena fluktuasi jaringan listrik.

Untuk mengukur arus, rangkaian harus diputus dan multimeter diserikan dengan resistor dalam mode AC Current (A~). Dengan range yang tepat (misalnya 10A), alat akan menunjukkan arus efektif yang mendekati 2.2A. Interpretasi bacaan alat ukur ini langsung memberikan nilai Vrms dan Irms, yang kemudian dapat digunakan untuk memverifikasi perhitungan daya dengan mengalikannya.

Pengaruh Toleransi Resistor terhadap Variasi Arus dan Daya

Resistor dunia nyata tidak pernah memiliki nilai persis 100Ω. Mereka datang dengan toleransi, seperti 5% (umum) atau 1% (presisi). Toleransi 5% pada resistor 100Ω berarti nilai resistansi aktualnya bisa berada di antara 95Ω hingga 105Ω. Variasi ini langsung berdampak pada semua parameter lain. Pada tegangan sumber tetap 220V, jika resistansi aktual 95Ω, arus efektif menjadi Irms = 220V / 95Ω ≈ 2.32A (naik sekitar 5.5% dari 2.2A).

Dayanya menjadi P = 220² / 95 ≈ 509.5 Watt (naik sekitar 5.3% dari 484W). Sebaliknya, jika resistansi 105Ω, arus menjadi sekitar 2.10A dan daya sekitar 461 Watt. Dalam aplikasi yang kritis, seperti pemanas dengan kontrol suhu presisi atau rangkaian pembagi daya, variasi ini dapat mengganggu kinerja. Oleh karena itu, untuk perhitungan desain yang konservatif, seringkali digunakan nilai resistansi terburuk (worst-case) untuk memastikan komponen masih aman dalam semua skenario toleransi.

Analisis ini menunjukkan mengapa spesifikasi komponen dan perhitungan margin sangat penting dalam rekayasa.

Perbandingan Karakteristik Sumber DC 220V versus AC 220V Efektif, Hitung Tegangan Efektif dan Arus Maksimum pada Rangkaian 220V dengan Hambatan 100Ω

Mengganti sumber dari AC 220V RMS ke DC 220V akan mengubah perilaku rangkaian secara fundamental, meski pada beban resistif murni hasil akhir daya rata-ratanya sama. Pada sumber DC 220V, tegangan adalah nilai yang konstan dan stabil sepanjang waktu, tidak berubah-ubah seperti gelombang sinus. Akibatnya, arus yang mengalir menurut Hukum Ohm (I = V/R = 220V / 100Ω = 2.2A) juga merupakan nilai DC yang konstan.

Disipasi daya pun konstan setiap saat: P = V
– I = 484 Watt, tanpa fluktuasi. Tidak ada konsep arus puncak atau tegangan puncak karena semuanya datar.

Dampaknya, dari sisi termal, resistor akan memanas secara konstan dan merata, berbeda dengan pola pemanasan berirama 50 Hz pada AC. Dari sisi pengukuran, multimeter pada mode DC akan menunjukkan nilai persis 220V dan 2.2A. Perbedaan utama terletak pada aplikasi: komponen seperti dioda atau kapasitor elektrolit akan merespons sangat berbeda terhadap sumber DC dan AC. Namun, untuk beban resistif murni seperti lampu pijar atau elemen pemanas, efek panas yang dihasilkan akan identik, membuktikan kebenaran konsep nilai efektif RMS dari tegangan AC.

Interkoneksi Teori dengan Fenomena Fisika pada Material Konduktor

Di balik angka 100Ω dan aliran arus 2.2A, terjadi sebuah tarian mikroskopis partikel yang menjelaskan mengapa energi listrik berubah menjadi panas. Proses ini bukanlah sihir, melainkan konsekuensi langsung dari interaksi antara elektron yang bergerak dengan struktur atomik material resistor itu sendiri, yang semuanya tunduk pada hukum kekekalan energi.

Ketika beda potensial (tegangan) diberikan, sebuah medan listrik terbentuk di sepanjang konduktor. Medan ini memberikan gaya pada elektron-elektron bebas di dalam material resistor, mendorong mereka untuk bergerak secara teratur dari potensial rendah ke tinggi (atau sebaliknya, tergantung konvensi). Gerakan teratur inilah yang kita sebut arus listrik. Namun, jalur yang dilalui elektron tidaklah mulus. Material resistor, yang biasanya terbuat dari paduan seperti nikel-kromium (nichrome) atau karbon, memiliki struktur atom yang menghambat aliran ini.

Elektron-elektron yang dipercepat oleh medan listrik akan bertabrakan dengan inti atom atau ketidaksempurnaan dalam kisi kristal. Pada setiap tumbukan, sebagian energi kinetik elektron dialihkan untuk menggetarkan atom tersebut. Getaran atom ini secara kolektif adalah apa yang kita ukur sebagai suhu atau panas. Dengan demikian, energi listrik dari sumber secara bertahap dan terus-menerus diubah menjadi energi panas dalam resistor, tanpa ada energi yang hilang—hanya berubah bentuk, sesuai hukum kekekalan energi.

Faktor Material yang Mempengaruhi Nilai Hambatan

Nilai hambatan 100Ω tidak muncul begitu saja. Nilai ini ditentukan oleh sifat fisik material yang digunakan. Berikut adalah beberapa faktor kunci yang mempengaruhinya:

  • Jenis Logam/Paduan: Resistivitas (ρ) material inti. Tembaga memiliki resistivitas rendah, sedangkan nichrome sengaja memiliki resistivitas tinggi untuk menghasilkan hambatan yang diinginkan dalam dimensi yang praktis.
  • Dimensi Fisik: Panjang (l) dan luas penampang (A) sesuai rumus R = ρ
    – (l/A). Resistor 100Ω daya tinggi cenderung lebih panjang atau lebih tipis dibanding resistor 1Ω dengan ukuran sama.
  • Koefisien Suhu: Kebanyakan logam meningkatkan resistansinya ketika suhu naik (koefisien positif). Saat resistor 100Ω ini beroperasi dan memanas, nilai resistansinya bisa naik sedikit, yang akan sedikit mengurangi arus dan daya secara otomatis.
  • Stabilitas Jangka Panjang: Material yang berkualitas buruk dapat mengalami perubahan struktur mikro karena panas berulang (cycling), menyebabkan nilai hambatannya berubah secara permanen dari waktu ke waktu.

Analogi Hidrolika untuk Memahami Konsep Dasar

Konsep tegangan, arus, dan hambatan sering kali dipermudah dengan analogi sistem air. Bayangkan sebuah rangkaian listrik sebagai sistem pipa air tertutup. Sumber tegangan 220V setara dengan sebuah pompa air yang menciptakan tekanan tertentu. Tekanan ini mirip dengan tegangan listrik—gaya pendorong yang memungkinkan aliran. Arus listrik (2.2A) dianalogikan sebagai laju aliran air dalam liter per detik yang mengalir melalui pipa.

Semakin besar tekanan dari pompa (tegangan), atau semakin besar diameter pipa (hambatan kecil), semakin besar laju alirannya (arus).

Resistor 100Ω dalam analogi ini adalah sebuah pipa yang sangat sempit atau sebuah saringan yang menghambat aliran air. Pipa sempit ini menciptakan gesekan terhadap air yang mengalir. Gesekan ini mengubah energi dari tekanan dan aliran air menjadi energi panas—air dan pipa menjadi sedikit lebih hangat. Daya 484 Watt setara dengan laju di mana energi dari pompa diubah menjadi panas di pipa sempit tersebut.

Jika pipa terlalu sempit (hambatan terlalu kecil untuk tekanan yang ada), aliran air menjadi sangat deras dan menghasilkan panas berlebihan yang bisa merusak sistem, mirip dengan resistor yang kelebihan daya. Analogi ini membantu memvisualisasikan mengapa hubungan antara ketiga besaran ini begitu fundamental dan saling terkait.

Penutupan

Jadi, setelah menjelajahi perhitungan dan dinamika di balik rangkaian 220V dan 100Ω ini, kita sampai pada kesimpulan yang elegan sekaligus praktis. Hubungan sederhana dari Hukum Ohm ternyata membawa kita pada pemahaman mendalam tentang disipasi daya, pemilihan komponen yang aman, dan keindahan matematika di balik gelombang sinus listrik AC. Perhitungan ini bukan akhir, melainkan gerbang untuk merancang, memecahkan masalah, dan menghargai betapa rumitnya desain peralatan elektronik yang kita anggap remeh sehari-hari.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah hasil perhitungan ini sama persis jika saya ukur langsung dengan multimeter?

Tidak selalu persis sama. Perhitungan teoritis mengasumsikan kondisi ideal. Dalam prakteknya, nilai resistor memiliki toleransi (misal ±5%), tegangan sumber bisa berfluktuasi, dan alat ukur memiliki akurasi tertentu. Hasil pengukuran akan mendekati, tetapi mungkin berbeda sedikit.

Mengapa resistor 100Ω yang dipakai harus memiliki rating daya tertentu?

Karena resistor akan mengubah energi listrik menjadi panas. Pada rangkaian ini, daya yang dihasilkan sekitar 484 Watt. Resistor biasa (1/4 atau 1/2 Watt) akan langsung terbakar. Oleh karena itu, harus digunakan resistor daya tinggi (wirewound) yang dirancang khusus untuk menahan dan membuang panas sebesar itu.

Bagaimana jika saya menggunakan sumber DC 220V, bukan AC?

Arus yang mengalir akan konstan, tidak berubah-ubah seperti pada AC. Nilai arusnya akan dihitung langsung dengan Hukum Ohm (I = V/R = 220V/100Ω = 2.2A). Daya yang dihasilkan juga konstan, yaitu P = V x I = 484 Watt, sama dengan daya rata-rata pada kasus AC 220V efektif.

Apa bahaya utama dari rangkaian contoh ini jika dibuat dalam kehidupan nyata?

Bahaya utamanya adalah panas yang sangat tinggi (484 Watt setara dengan daya setrika listrik kecil). Resistor bisa memerah membara, menyebabkan kebakaran atau luka bakar. Selain itu, arus yang relatif besar (sekitar 3.1A puncak) membutuhkan kabel yang memadai untuk menghindari korsleting.

BACA JUGA  Terapi Insulin pada Diabetes Mellitus Tipe 2 Filosofi hingga Teknologi

Leave a Comment