Hubungan Dagang India dan China bukan sekadar transaksi ekonomi antara dua raksasa Asia, melainkan sebuah narasi panjang yang terjalin sejak ribuan tahun lalu melalui Jalur Sutra. Dari rempah-rempah dan kain sutra di masa lampau, hubungan ini telah bertransformasi menjadi jaringan perdagangan modern yang kompleks, penuh dengan peluang sekaligus persaingan sengit. Kedua negara ini kini menjadi mesin pertumbuhan global yang saling terkait, meski diwarnai oleh dinamika politik dan keinginan untuk mandiri.
Koneksi perdagangan mereka telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar India. Namun, di balik angka-angka perdagangan yang mengesankan, terdapat cerita tentang ketergantungan, defisit, dan upaya strategis untuk menyeimbangkan hubungan. Memahami relasi ini berarti menyelami jantung ekonomi Asia yang sedang berdenyut, di mana keputusan di New Delhi dan Beijing beresonansi ke seluruh dunia.
Gambaran Umum dan Sejarah Hubungan Perdagangan
Hubungan dagang India dan China bukanlah fenomena abad ke-21, melainkan sebuah narasi panjang yang berakar dari Jalur Sutra. Jejak-jejak pertukaran komoditas, ide, dan budaya telah mengalir melalui daratan Asia selama berabad-abad, menghubungkan dua peradaban besar. Namun, pola hubungan ini mengalami transformasi dramatis pasca-perang perbatasan 1962, yang membekukan hubungan selama beberapa dekade. Baru pada era 1990-an, dengan liberalisasi ekonomi India dan akselerasi pertumbuhan China, hubungan ekonomi mulai benar-benar menemukan momentumnya yang baru.
Perjanjian Perdagangan Perbatasan tahun 1991 menjadi titik balik simbolis, yang memungkinkan perdagangan melalui pos-pos perbatasan yang terbatas. Momentum ini semakin kuat dengan kunjungan Perdana Menteri India Atal Bihari Vajpayee ke Beijing tahun 2003, yang mengakui Tibet sebagai bagian China dan membuka jalan bagi kerangka kerja ekonomi yang lebih ambisius. Namun, dinamika politik selalu menjadi bayang-bayang yang mengikuti setiap kemajuan ekonomi, dengan ketegangan perbatasan seperti di Doklam (2017) dan Galwan (2020) berulang kali menguji ketahanan hubungan dagang.
Perkembangan Volume dan Komposisi Perdagangan Dua Dekade Terakhir
Dua dekade terakhir menyaksikan hubungan dagang India-China berubah dari skala kecil menjadi salah satu hubungan bilateral terbesar di dunia. Dari angka yang relatif sederhana di awal tahun 2000-an, perdagangan bilateral melesat, didorong oleh permintaan India akan barang modal, barang setengah jadi, dan elektronik konsumen dari China. Namun, pertumbuhan yang eksplosif ini menciptakan struktur yang sangat timpang. India secara konsisten mengalami defisit perdagangan yang besar dengan China, yang menjadi sumber ketegangan kebijakan utama.
Tabel berikut menggambarkan evolusi dan karakteristik utama perdagangan ini.
| Periode | Volume Perdagangan (USD) | Komposisi Utama (India dari China) | Tren Utama |
|---|---|---|---|
| 2003-2004 | ~7.2 Miliar | Barang kimia, produk logam, sutra | Awal pertumbuhan pesat pasca-perjanjian. |
| 2013-2014 | ~65.9 Miliar | Perangkat elektronik, mesin, pupuk | Puncak hubungan ekonomi sebelum ketegangan geopolitik meningkat. |
| 2020-2021 | ~86.4 Miliar | Komponen elektronik, barang modal, bahan kimia organik | Resiliensi perdagangan meski terjadi konflik perbatasan Galwan. |
| 2022-2023 | ~113.8 Miliar | Mesin listrik, suku cadang kendaraan, plastik | Defisit India mencapai rekor (~100 Miliar), memicu tekanan untuk diversifikasi. |
Struktur dan Komposisi Perdagangan yang Timpang
Jika kita membedah kontainer-kontainer yang bolak-balik antara pelabuhan Shanghai dan Chennai, kita akan menemukan cerita tentang dua ekonomi yang berada pada tahap industrialisasi yang berbeda. India, sebagai pasar konsumen dan basis manufaktur yang sedang tumbuh, sangat bergantung pada impor input produksi dan barang modal dari China. Sebaliknya, ekspor India ke China didominasi oleh komoditas mentah atau setengah jadi, sebuah pola yang lebih mirip hubungan negara berkembang dengan negara maju.
Ketimpangan ini bukan hanya soal angka defisit, tetapi juga soal kompleksitas dan nilai tambah dalam rantai pasokan global.
Sektor jasa, di mana India memiliki keunggulan kompetitif yang jelas, belum sepenuhnya tereksplorasi dalam hubungan bilateral ini. Demikian pula dengan investasi langsung China di India, yang meskipun signifikan di sektor teknologi dan start-up, sering kali menghadapi pengawasan ketat dan hambatan keamanan nasional dari pemerintah India. Aliran modal ini, dibandingkan dengan volume perdagangan barang, masih relatif terbatas dan rentan terhadap fluktuasi politik.
Produk Unggulan dalam Pertukaran Dagang
Komposisi perdagangan mengungkapkan spesialisasi relatif dari masing-masing ekonomi. China berfungsi sebagai “pabrik dunia” yang memasok mesin dan komponen untuk mendorong industrialisasi dan konsumsi India. Sementara itu, India menyediakan bahan baku dan komoditas yang mendukung proses manufaktur dan konsumsi di China. Berikut adalah daftar produk-produk kunci yang membentuk inti hubungan dagang ini.
- Ekspor Utama China ke India: Mesin dan peralatan listrik, peralatan mesin, komponen elektronik (seperti semikonduktor), bahan kimia organik, suku cadang kendaraan, dan peralatan telekomunikasi.
- Ekspor Utama India ke China: Bijih besi, katoda tembaga, kapas mentah, bahan kimia organik (seperti obat-obatan farmasi), hasil laut, dan minyak mentah (dalam volume yang lebih kecil).
Dinamika dan Tantangan Kontemporer
Hubungan dagang India-China saat ini berjalan di atas es yang tipis, di mana kepentingan ekonomi yang saling terkait harus berhadapan dengan realitas persaingan strategis yang tajam. Insiden mematikan di Lembah Galwan pada Juni 2020 bukan hanya krisis militer dan diplomatik; insiden itu menjadi katalis bagi perubahan mendasar dalam cara India memandang ketergantungan ekonominya pada China. Pemerintah India merespons dengan serangkaian langkah yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan, mulai dari larangan aplikasi digital China, pengawasan ketat terhadap investasi, hingga kampanye “Atmanirbhar Bharat” (India Mandiri) yang mendorong substitusi impor dan diversifikasi rantai pasok.
Namun, realitas ekonomi sering kali lebih keras dari retorika politik. Meski ada upaya untuk mengurangi ketergantungan, banyak industri India, mulai dari farmasi hingga elektronik, masih sangat bergantung pada bahan baku dan komponen dari China karena daya saing harga, kualitas, dan keandalan pasokannya. Ketegangan ini menciptakan paradoks: bagaimana mengurangi defisit dan ketergantungan strategis tanpa mengorbankan daya saing industri domestik dan inflasi?
Pernyataan Resmi dan Realitas di Lapangan
Pernyataan resmi dari kedua pihak sering kali mencerminkan dualitas antara keinginan untuk stabilitas ekonomi dan tuntutan kedaulatan nasional. Di satu sisi, ada pengakuan akan saling ketergantungan; di sisi lain, tidak ada yang mau terlihat lemah.
“Hubungan ekonomi dan komersial India-China harus didasarkan pada prinsip-prinsip saling menguntungkan dan saling menghormati. Penting juga untuk memastikan akses yang lebih besar bagi produk India ke pasar China untuk memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan.” – Pernyataan Kementerian Perdagangan India.
“China siap bekerja dengan India untuk memperdalam kerja sama praktis, memperluas konvergensi kepentingan, dan mengelola perbedaan dengan tepat… Kerja sama ekonomi dan perdagangan adalah batu pijakan penting dalam hubungan China-India.” – Jubir Kementerian Luar Negeri China.
Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Mengatur
Interaksi ekonomi kedua raksasa Asia ini tidak terjadi dalam ruang hampa hukum. Mereka terikat oleh aturan main multilateral, terutama di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan juga terlibat dalam platform bersama seperti BRICS dan SCO (Shanghai Cooperation Organisation). Namun, dalam praktik bilateral murni, tidak ada perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang komprehensif antara India dan China. Hubungan mereka lebih banyak diatur oleh serangkaian Memorandum of Understanding (MoU) sektoral dan, yang lebih krusial, oleh kebijakan nasional masing-masing negara yang sering kali reaktif terhadap perkembangan geopolitik.
India secara aktif menggunakan instrumen kebijakan perdagangan untuk melindungi industri dalam negeri dan menanggapi defisit. Ini termasuk penerapan anti-dumping duty pada berbagai produk dari China, meningkatkan standar kualitas non-tarif, dan memberlakukan persyaratan persetujuan wajib untuk impor di sektor-sektor sensitif seperti elektronik. China, di sisi lain, memiliki hambatannya sendiri, seperti regulasi kuota dan standar yang kompleks untuk komoditas pertanian India, yang membatasi akses pasar.
Hambatan Perdagangan Utama yang Berlaku, Hubungan Dagang India dan China
Source: slidesharecdn.com
Hambatan dalam perdagangan India-China bersifat multidimensi, mencakup aspek tarif, non-tarif, dan bahkan psikologis-politik. Tabel berikut menguraikan beberapa penghalang utama yang saat ini mempengaruhi aliran barang dan jasa antara kedua negara.
| Jenis Hambatan | Contoh dari Sisi India | Contoh dari Sisi China | Dampak Utama |
|---|---|---|---|
| Tarif dan Bea Anti-Dumping | Bea masuk tinggi pada produk elektronik dan plastik; tugas anti-dumping pada barang kimia tertentu. | Tarif yang relatif lebih rendah secara umum, tetapi tetap berlaku untuk produk pertanian India. | Meningkatkan biaya impor bagi India, berpotensi melindungi produsen domestik. |
| Hambatan Non-Tarif (NTBs) | Persyaratan Standar Wajib (BIS) yang ketat, persetujuan keamanan untuk impor teknologi. | Prosedur karantina dan sertifikasi yang panjang untuk produk pertanian dan makanan laut India. | Memperlambat arus perdagangan, menghambat ekspor komoditas India ke China. |
| Hambatan Investasi dan Keamanan | Persetujuan pemerintah wajib untuk investasi dari negara yang berbatasan darat, termasuk China. | Keterbatasan dalam akses pasar untuk jasa India seperti IT dan farmasi. | Membatasi aliran modal dan kolaborasi teknologi, meningkatkan ketidakpastian bisnis. |
| Hambatan Politik dan Logistik | Pembatasan psikologis pasca-Galwan, dorongan “boycott terselubung”. | Ketegangan di perbatasan mengganggu proyek konektivitas seperti BCIM Economic Corridor. | Menghambat pembangunan kepercayaan dan proyek infrastruktur jangka panjang yang saling menguntungkan. |
Proyeksi Masa Depan dan Peluang Kolaborasi
Masa depan hubungan dagang India-China kemungkinan besar akan ditandai oleh “koopetisi” – campuran antara kerja sama dan persaingan yang ketat. Meski ketegangan strategis akan terus ada, logika saling ketergantungan ekonomi dan tekanan global mungkin memaksa kedua negara untuk menemukan bidang-bidang kolaborasi baru yang menguntungkan kedua belah pihak. Sektor-sektor seperti energi terbarukan (panel surya, penyimpanan baterai), teknologi digital (AI, fintech), dan farmasi (bahan baku obat, vaksin) menawarkan potensi besar.
Di sini, keahlian China dalam manufaktur berskala dan kemampuan India dalam inovasi dan produksi berbiaya rendah dapat saling melengkapi.
Pergeseran ekonomi global, termasuk dorongan untuk “friendshoring” atau diversifikasi rantai pasokan dari China, sebenarnya bisa membuka peluang baru. India, dengan demografi dan basis industrinya yang besar, berposisi sebagai alternatif tujuan manufaktur. Namun, China tetap menjadi hub rantai pasokan yang tak tertandingi. Skenario yang paling mungkin adalah terbentuknya rantai pasokan yang lebih terintegrasi di Asia, di mana komponen dari China dirakit atau ditambah nilainya di India untuk pasar domestik dan ekspor ketiga.
Visi Konektivitas: Koridor Ekonomi yang Terhambat
Sebelum ketegangan perbatasan memuncak, ada visi ambisius untuk menghubungkan kedua ekonomi secara fisik melalui koridor ekonomi. Yang paling menonjol adalah Bangladesh-China-India-Myanmar (BCIM) Economic Corridor, sebuah inisiatif yang diusulkan untuk menciptakan jalur perdagangan dan investasi melalui Asia Selatan dan Tenggara. Koridor ini membayangkan jaringan transportasi, zona industri, dan konektivitas energi yang dapat mengubah ekonomi kawasan. Namun, realisasi proyek ini kini mandek, menjadi korban langsung dari kurangnya kepercayaan strategis antara New Delhi dan Beijing.
Ia tetap menjadi ilustrasi menarik tentang apa yang mungkin dicapai, dan sekaligus tentang betapa rapuhnya visi ekonomi ketika berhadapan dengan realitas geopolitik yang keras.
Kesimpulan: Hubungan Dagang India Dan China
Hubungan dagang India-China berdiri di persimpangan jalan yang penuh dengan paradoks. Di satu sisi, saling ketergantungan ekonomi yang dalam menciptakan hubungan simbiosis yang sulit diputus. Di sisi lain, persaingan strategis dan ketegangan perbatasan terus memberikan bayangan ketidakpastian. Masa depan kemitraan ini kemungkinan akan ditentukan oleh kemampuan kedua negara untuk memisahkan perselisihan geopolitik dari kepentingan ekonomi bersama, sambil secara bersamaan mencari bidang-bidang kolaborasi baru seperti energi hijau dan teknologi digital.
Jalan ke depan bukan tentang pemutusan hubungan, tetapi tentang menemukan keseimbangan baru yang lebih berkelanjutan dan adil.
FAQ dan Panduan
Apakah India dan China anggota perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang sama?
Tidak, India dan China tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas bilateral secara langsung. Namun, mereka berinteraksi dalam kerangka kerja multilateral seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan kelompok-kelompok seperti BRICS dan SCO, yang membahas kerja sama ekonomi.
Bagaimana ketegangan di perbatasan Himalaya mempengaruhi perdagangan?
Ketegangan militer sering kali memicu gelombang sentimen nasionalis yang berdampak pada perdagangan, seperti boikot produk China di India atau peningkatan pemeriksaan barang di pelabuhan. Hal ini menciptakan ketidakpastian bagi pengusaha dan dapat memperlambat arus barang, meski hubungan ekonomi pada tingkat agregat sering kali terbukti tangguh.
Produk apa dari India yang paling populer di pasar China?
Selain bijih besi dan kapas yang merupakan ekspor tradisional, produk India yang semakin mendapatkan tempat di China termasuk bahan farmasi (bahan baku obat), produk perikanan seperti udang, dan beras. Sektor jasa, terutama TI dan perangkat lunak, juga merupakan ekspor andalan India ke China.
Apa itu “Production Linked Incentive (PLI)” dan kaitannya dengan China?
PLI adalah skema insentif pemerintah India untuk mendorong perusahaan memproduksi barang di dalam negeri. Skema ini secara tidak langsung bertujuan mengurangi ketergantungan impor dari China dengan menjadikan India sebagai basis manufaktur global yang kompetitif, terutama di sektor elektronik, farmasi, dan mobil.