Hubungan makhluk hidup yang membentuk simbiosis mutualisme adalah salah satu tarian alam paling elegan, di mana kerja sama yang saling menguntungkan menjadi kunci keberlangsungan hidup. Lebih dari sekadar hidup berdampingan, hubungan ini menampilkan sebuah kemitraan strategis yang telah teruji oleh waktu, di mana setiap pihak memberikan jasanya dan mendapatkan imbalan yang vital. Fenomena ini bukanlah cerita dongeng, melainkan realitas ilmiah yang terjadi setiap hari di sekitar kita, dari halaman rumah hingga kedalaman samudra.
Dalam simbiosis mutualisme, dua organisme yang berbeda spesies saling berbagi sumber daya atau jasa, sehingga meningkatkan peluang hidup dan reproduksi keduanya. Hubungan ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya keanekaragaman hayati dan kestabilan ekosistem. Melalui mekanisme pertukaran yang rumit namun efisien, alam menunjukkan bahwa kolaborasi seringkali lebih kuat daripada kompetisi semata, menciptakan jaringan kehidupan yang saling terhubung dan saling bergantung secara harmonis.
Konsep Dasar Simbiosis Mutualisme: Hubungan Makhluk Hidup Yang Membentuk Simbiosis Mutualisme
Dalam jaringan kehidupan yang kompleks, hubungan saling ketergantungan antar makhluk hidup bukanlah hal yang langka. Salah satu bentuk hubungan yang paling harmonis dan saling menguntungkan dikenal sebagai simbiosis mutualisme. Konsep ini menjadi fondasi penting dalam memahami bagaimana berbagai spesies tidak hanya hidup berdampingan, tetapi justru saling mendukung untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Simbiosis mutualisme didefinisikan sebagai interaksi erat dan jangka panjang antara dua organisme dari spesies yang berbeda, di mana kedua belah pihak memperoleh manfaat nyata. Berbeda dengan hubungan predator-mangsa yang penuh ketegangan, mutualisme menawarkan gambaran kerja sama yang menghasilkan sinergi. Interaksi ini membentuk suatu kemitraan biologis yang meningkatkan efisiensi dan ketahanan hidup kedua mitranya di dalam suatu ekosistem.
Perbandingan Simbiosis Mutualisme dengan Bentuk Lainnya
Untuk memahami keunikan mutualisme, penting untuk melihatnya dalam spektrum hubungan simbiotik yang lebih luas. Tabel berikut merangkum perbedaan mendasar antara tiga bentuk simbiosis utama berdasarkan manfaat yang diperoleh masing-masing pihak.
| Jenis Simbiosis | Definisi | Contoh | Dampak pada Pihak Terlibat |
|---|---|---|---|
| Mutualisme | Interaksi di mana kedua spesies memperoleh keuntungan. | Lebah dan bunga. | Kedua pihak diuntungkan (+/+). |
| Komensalisme | Interaksi di mana satu pihak diuntungkan, pihak lain tidak dirugikan maupun diuntungkan. | Tumbuhan anggrek menempel di pohon inang. | Satu pihak diuntungkan, pihak lain netral (+/0). |
| Parasitisme | Interaksi di mana satu pihak diuntungkan dengan merugikan pihak lain. | Kutu daun pada tanaman. | Satu pihak diuntungkan, pihak lain dirugikan (+/-). |
Contoh Umum Hubungan Mutualisme di Sekitar
Prinsip mutualisme bukanlah sesuatu yang jauh dan abstrak. Kita dapat dengan mudah menemukan contohnya di lingkungan sekitar, bahkan di halaman rumah sendiri. Berikut adalah tiga contoh yang sangat umum dijumpai:
- Kerbau dan Burung Jalak: Burung jalak memakan kutu dan parasit yang menempel pada kulit kerbau. Kerbau terbebas dari gangguan parasit, sementara burung jalak mendapatkan sumber makanan yang mudah.
- Bunga dan Kupu-Kupu: Kupu-kupu mengisap nektar dari bunga sebagai sumber energinya. Dalam proses tersebut, serbuk sari menempel pada tubuh kupu-kupu dan terbawa ke bunga lain, sehingga terjadi penyerbukan silang.
- Manusia dan Bakteri Usus: Bakteri baik seperti Lactobacillus hidup di usus manusia, membantu proses pencernaan dan sintesis vitamin. Sebagai imbalannya, bakteri mendapatkan tempat tinggal dan nutrisi dari sisa makanan.
Mekanisme dan Manfaat dalam Hubungan
Source: mediaindonesia.com
Hubungan mutualisme tidak terjadi begitu saja; ia dibangun melalui mekanisme pertukaran yang spesifik dan terukur. Pertukaran ini bisa berupa barang, seperti makanan dan nutrisi, maupun jasa, seperti perlindungan dan transportasi. Pemahaman tentang mekanisme ini mengungkap kecanggihan adaptasi evolusioner yang memungkinkan dua organisme yang berbeda menyelaraskan kepentingannya.
Inti dari mekanisme ini adalah spesialisasi. Masing-masing pihak mengembangkan kemampuan unik yang justru melengkapi kebutuhan pihak lainnya. Proses ini sering kali melibatkan perubahan perilaku, morfologi, atau bahkan fisiologi untuk menciptakan keselarasan yang efisien. Interaksi ini kemudian menjadi sebuah siklus yang mandiri dan saling menopang.
Rincian Mekanisme Pertukaran Sumber Daya atau Jasa
Mekanisme pertukaran dalam mutualisme dapat dikategorikan ke dalam beberapa bentuk utama. Pertukaran sumber daya fisik, seperti gula dari nektar bunga untuk lebah, adalah yang paling mudah diamati. Di sisi lain, pertukaran jasa bisa lebih kompleks, misalnya jasa penyerbukan yang diberikan lebah kepada bunga, atau jasa pembersihan yang diberikan ikan cleaner wrasse kepada ikan besar. Ada pula mutualisme yang berbasis pertahanan, di mana satu pihak memberikan perlindungan fisik, sementara pihak lain memberikan peringatan atau pertahanan kimia terhadap predator.
Manfaat Utama bagi Masing-Masing Pihak
Manfaat yang diperoleh dari hubungan mutualistik sangat konkret dan langsung memengaruhi fitness biologis, yaitu kemampuan untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Berikut adalah daftar manfaat utama yang umum ditemui:
- Peningkatan Akses Nutrisi: Salah satu pihak mendapatkan sumber makanan yang lebih efisien atau nutrisi esensial yang tidak dapat disintesis sendiri, seperti nitrogen bagi tanaman dari bakteri.
- Bantuan Reproduksi: Bantuan dalam proses penyerbukan atau penyebaran biji, yang secara signifikan meningkatkan keberhasilan reproduksi dan penyebaran geografis.
- Perlindungan Fisik: Mendapatkan tempat tinggal yang aman dari predator atau lingkungan yang ekstrem, seperti yang dialami ikan badut di antara tentakel anemon.
- Pertahanan dari Ancaman: Mendapatkan perlindungan aktif dari predator, kompetitor, atau parasit berkat keberadaan mitranya.
Peningkatan Kelangsungan Hidup dan Reproduksi
Dengan menggabungkan berbagai manfaat di atas, hubungan mutualisme pada akhirnya menghasilkan peningkatan peluang kelangsungan hidup dan reproduksi bagi kedua organisme. Tanaman yang diserbuki lebah akan menghasilkan lebih banyak biji dan buah, sehingga populasi dan keanekaragaman genetiknya meningkat. Lebah yang mendapatkan nektar berkualitas akan memiliki koloni yang lebih sehat dan kuat, mampu membesarkan lebih banyak lebah pekerja dan ratu baru. Dengan kata lain, mutualisme menciptakan sebuah lingkaran umpan balik positif.
Kesehatan dan keberhasilan satu pihak secara langsung berkontribusi pada kesehatan dan keberhasilan pihak lainnya, menciptakan sebuah sistem yang lebih stabil dan tangguh dibandingkan jika mereka hidup secara mandiri.
Contoh Spesifik dan Analisis Interaksi
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam, mari kita mengupas beberapa contoh spesifik hubungan mutualisme. Analisis terhadap contoh-contoh ini akan menunjukkan bagaimana teori diterjemahkan ke dalam interaksi nyata di alam, dengan segala kompleksitas dan keindahannya. Setiap pasangan organisme menceritakan kisah ko-evolusi yang unik.
Dari daratan hingga lautan, prinsip mutualisme bekerja dengan mekanisme yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tantangan dan peluang di setiap lingkungan. Memahami detail interaksi ini tidak hanya mengagumkan, tetapi juga penting untuk upaya konservasi, karena hilangnya satu spesies dapat meruntuhkan kemitraan yang telah terbangun selama ribuan tahun.
Interaksi antara Lebah dan Bunga
Hubungan antara lebah dan bunga sering dijadikan ikon klasik mutualisme. Lebah, khususnya lebah madu, mengunjungi bunga untuk mengumpulkan nektar dan serbuk sari sebagai makanan bagi koloninya. Nektar adalah sumber karbohidrat, sementara serbuk sari adalah sumber protein. Saat lebah menghisap nektar, tubuhnya yang berbulu secara tidak sengaja menyentuh kepala sari (anther) sehingga serbuk sari menempel. Ketika lebah berpindah ke bunga lain dari spesies yang sama, serbuk sari yang terbawa tersebut dapat menempel pada kepala putik (stigma) bunga yang kedua, sehingga terjadi penyerbukan.
Keuntungan spesifik bagi bunga adalah terjadinya penyerbukan silang yang meningkatkan variasi genetik dan kualitas keturunannya. Bagi lebah, keuntungannya adalah pasokan makanan yang kaya energi dan nutrisi untuk kelangsungan hidup koloni.
Simbiosis Bakteri Rhizobium dan Tanaman Kacang-Kacangan
Di bawah permukaan tanah, terjadi sebuah kemitraan yang sangat penting bagi siklus nitrogen di bumi. Bakteri dari genus Rhizobium membentuk hubungan mutualisme dengan tanaman leguminoceae (kacang-kacangan). Bakteri ini menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil-bintil akar. Di dalam bintil ini, bakteri memiliki kemampuan untuk mengikat nitrogen bebas (N 2) dari atmosfer yang tidak dapat digunakan langsung oleh tanaman, lalu mengubahnya menjadi amonia (NH 3) yang dapat diserap tanaman sebagai nutrisi.
Prosesnya dimulai ketika tanaman mengeluarkan senyawa flavonoid untuk menarik bakteri Rhizobium. Bakteri yang tertarik kemudian menginfeksi rambut akar dan merangsang pembentukan bintil. Di dalam bintil, bakteri berdiferensiasi menjadi bentuk bacteroid yang mampu melakukan fiksasi nitrogen. Tanaman menyediakan senyawa karbon hasil fotosintesis sebagai sumber energi bagi bakteri. Sebaliknya, bakteri menyediakan senyawa nitrogen yang telah difiksasi untuk pertumbuhan tanaman. Hubungan ini sangat efisien sehingga tanaman kacang-kacangan sering digunakan sebagai pupuk hijau untuk menyuburkan tanah.
Hubungan Unik Ikan Badut dan Anemon Laut
Di ekosistem terumbu karang, hubungan antara ikan badut ( Amphiprion spp.) dan anemon laut adalah contoh mutualisme berbasis perlindungan yang sangat terspesialisasi. Anemon laut memiliki tentakel yang mengandung sel penyengat (nematocyst) mematikan bagi kebanyakan ikan. Namun, ikan badut memiliki lapisan lendir khusus pada tubuhnya yang membuatnya kebal terhadap sengatan anemon. Ikan badut berlindung di antara tentakel anemon dari pemangsanya. Sebagai imbalannya, ikan badut memberikan beberapa jasa: mereka membersihkan anemon dari sisa-sisa makanan, mengusir ikan-ikan yang suka memakan tentakel anemon (seperti ikan kupu-kupu), dan kotoran mereka menjadi sumber nutrisi tambahan bagi anemon.
Warna cerah ikan badut juga diduga dapat menarik mangsa kecil mendekati anemon.
Dalam simbiosis mutualisme, dua makhluk hidup saling menguntungkan, ibarat dua variabel yang bekerja sama dalam sebuah ekspresi aljabar. Proses menyederhanakan hubungan ini mirip dengan langkah-langkah sistematis dalam menyelesaikan persamaan, seperti saat Anda perlu Sederhanakan 3(X+2Y)+(3X-3Y). Setelah disederhanakan, hasilnya menjadi jelas dan efisien, persis seperti kejelasan manfaat yang didapat kedua pihak dalam hubungan mutualisme di alam, di mana kerja sama yang tepat menciptakan keseimbangan yang menguntungkan.
Peran dalam Kestabilan Ekosistem
Hubungan mutualisme bukan sekadar kisah menarik antara dua spesies; ia memainkan peran struktural yang krusial dalam menjaga kestabilan dan keanekaragaman hayati suatu ekosistem. Jaringan mutualisme yang kompleks membentuk tulang punggung ekosistem, menghubungkan berbagai spesies dalam sebuah web interdependensi yang tangguh namun rentan jika keseimbangannya terganggu.
Ekosistem dengan banyak hubungan mutualisme yang sehat cenderung lebih produktif dan tahan terhadap gangguan. Setiap hubungan saling menguatkan, menciptakan fondasi yang kokoh bagi kehidupan lainnya. Hilangnya satu pemain kunci dalam jaringan ini dapat memicu efek domino yang merusak, sebuah fenomena yang menjadi perhatian serius dalam ilmu ekologi dan konservasi.
Kontribusi terhadap Keanekaragaman Hayati dan Kestabilan
Hubungan mutualisme secara aktif mendorong peningkatan keanekaragaman hayati. Penyerbukan silang oleh hewan, misalnya, memungkinkan terjadinya rekombinasi genetik yang menghasilkan varietas tanaman baru. Penyebaran biji oleh hewan membantu spesies tanaman menjajah area baru, meningkatkan keragaman vegetasi di suatu wilayah. Di ekosistem yang stabil, hubungan mutualisme ini berjalan dalam keseimbangan dinamis, di mana populasi masing-masing mitra saling mengatur. Populasi penyerbuk yang besar mendukung populasi bunga yang besar, dan sebaliknya, kelimpahan bunga mendukung populasi penyerbuk.
Siklus ini menciptakan ketahanan (resilience) ekosistem terhadap fluktuasi lingkungan.
Dampak Hilangnya Salah Satu Pihak dalam Hubungan
Jika salah satu pihak dalam hubungan mutualisme menghilang atau populasinya menurun drastis, konsekuensinya bisa sangat parah dan seringkali tidak terbatas pada pasangan tersebut saja. Sebagai contoh, penurunan populasi lebah akibat pestisida, penyakit, atau hilangnya habitat akan langsung mengurangi tingkat penyerbukan pada banyak spesies tanaman. Ini bukan hanya berdampak pada tanaman liar, tetapi juga pada tanaman pertanian, yang dapat mengancam ketahanan pangan.
Tanaman yang gagal berbuah akan mengurangi sumber makanan bagi hewan lain, dan seterusnya. Dalam hubungan ikan badut dan anemon, jika ikan badut hilang, anemon menjadi lebih rentan terhadap predator dan kesehatan keseluruhannya dapat menurun, yang pada gilirannya mengurangi kualitas habitat bagi spesies lain di terumbu karang.
Dampak Mutualisme pada Dua Ekosistem Berbeda
Pengaruh dan manifestasi hubungan mutualisme dapat berbeda karakteristiknya di berbagai jenis ekosistem, bergantung pada sumber daya dan tekanan lingkungan yang ada. Tabel berikut membandingkan dampaknya di ekosistem hutan hujan tropis dan terumbu karang.
| Aspek Dampak | Hutan Hujan Tropis | Terumbu Karang |
|---|---|---|
| Jenis Interaksi Dominan | Penyerbukan dan penyebaran biji oleh hewan (burung, kelelawar, serangga). | Perlindungan dan pembersihan (ikan badut-anemon, ikan cleaner-inang). |
| Kontribusi pada Struktur | Mendorong regenerasi hutan dan menjaga komposisi spesies pohon yang beragam. | Menjaga kesehatan individu karang dan anemon, yang merupakan pembentuk struktur fisik terumbu. |
| Ketahanan terhadap Gangguan | Jaringan mutualisme yang kompleks meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dan fragmentasi habitat. | Hubungan pembersihan mengurangi penyakit pada ikan, meningkatkan kesehatan keseluruhan komunitas terumbu. |
| Ancaman Utama | Deforestasi yang memutus hubungan antara tanaman dan penyerbuk/penyebar bijinya. | Pemanasan dan pengasaman laut yang memutihkan karang, merusak anemon, dan mengganggu simbiosis. |
Ilustrasi dan Visualisasi Konseptual
Memahami mutualisme seringkali lebih mudah ketika kita dapat membayangkan prosesnya secara visual. Deskripsi tekstual yang detail dapat membantu membangun gambaran mental yang jelas tentang bagaimana interaksi yang tampaknya sederhana itu sebenarnya merupakan rangkaian peristiwa yang terkoordinasi dengan baik. Ilustrasi ini bukan hanya untuk keindahan, tetapi juga alat untuk mengidentifikasi dan menghargai hubungan-hubungan tersebut di alam bebas.
Dari gerakan anggun seekor kupu-kupu di antara kelopak bunga hingga ritual pembersihan di antara terumbu karang, setiap interaksi mutualisme memiliki narasi visualnya sendiri. Narasi ini mengungkapkan adaptasi fisik dan perilaku yang telah disempurnakan oleh evolusi, menjadikan kedua mitra sebagai pasangan yang sempurna.
Proses Penyerbukan oleh Hewan
Bayangkan sebuah bunga matahari yang sedang mekar sempurna di pagi hari. Di tengahnya, terdapat ratusan bunga kecil yang membentuk cakram, dikelilingi oleh mahkota berwarna kuning cerah. Seekor lebah madu, yang tubuhnya berwarna cokelat keemasan dengan garis-garis hitam, terbang mendekat karena tertarik oleh warna kuning dan aroma lembut yang dipancarkan bunga. Lebah itu mendarat di tepi cakram, kakinya yang berbulu menyentuh banyak kepala sari yang penuh dengan serbuk sari berwarna kuning.
Saat ia bergerak maju untuk memasukkan proboscisnya (alat penghisap) ke dalam dasar bunga untuk mencapai nektar, tubuhnya yang berbulu itu terus-menerus menggosok kepala sari. Dalam beberapa detik, ribuan butir serbuk sari menempel erat pada bulu-bulu di dada dan kakinya. Setelah puas, lebah terbang ke bunga matahari berikutnya. Saat mendarat, serbuk sari yang terbawa dari bunga pertama sekarang bersentuhan dengan putik yang lengket di bunga kedua.
Dalam ekosistem, hubungan simbiosis mutualisme menampilkan kerja sama yang saling menguntungkan, seperti antara lebah dan bunga. Prinsip kolaborasi harmonis ini juga relevan dalam interaksi manusia. Untuk memahami lebih dalam tentang mekanisme bantuan yang efektif, simak Panduan Cara Membantu dengan Penjelasan Lengkap. Dengan menerapkan prinsip saling mendukung, kita dapat merefleksikan keindahan simbiosis alam, di mana setiap pihak tumbuh lebih kuat bersama.
Proses transfer ini, yang terjadi dalam kesunyian dan hanya disertai dengungan sayap lebah, adalah momen penyerbukan yang akan menghasilkan biji-biji baru.
Tahapan Interaksi antara Kerbau dan Burung Jalak, Hubungan makhluk hidup yang membentuk simbiosis mutualisme
Narasi visual dimulai dengan seekor kerbau yang sedang beristirahat di padang rumput setelah berkubang lumpur. Kulitnya yang lembap dan hangat menjadi tempat ideal bagi lalat pengisap darah dan kutu untuk hinggap. Seekor burung jalak dengan bulu hitam berkilauan dan bintik-bintik putih, terbang rendah dan mendarat dengan lincah di punggung kerbau yang luas. Burung itu mulai berjalan mondar-mandir, matanya yang tajam mengamati setiap lipatan kulit.
Begitu melihat seekor kutu, paruhnya yang runcing dengan gesit mematuk dan menelan serangga itu. Kerbau tampak tenang, bahkan matanya terpejam, menikmati kebebasan dari rasa gatal dan gangguan. Burung jalak terkadang terbang sebentar ke kepala kerbau untuk mematuk parasit di sekitar mata dan telinga, sebuah jasa pembersihan yang sangat berharga. Setelah puas, burung jalak itu terbang, meninggalkan kerbau yang lebih bersih dan sehat, sementara ia sendiri telah mendapatkan makanan berprotein tinggi tanpa perlu bersaing mencari di tanah.
Karakteristik Identifikasi Dua Makhluk Hidup dalam Mutualisme
Untuk mengidentifikasi hubungan mutualisme di alam, perhatikan pasangan organisme dengan karakteristik fisik dan perilaku yang saling melengkapi. Ambil contoh hubungan antara pohon Akasia dan semut pelindung (seperti genus Pseudomyrmex). Pohon Akasia tertentu memiliki duri-duri besar yang berongga, memberikan struktur rumah yang ideal bagi koloni semut. Selain itu, di ujung daunnya, terdapat kelenjar nektar ekstra-floral yang menghasilkan cairan manis khusus sebagai sumber makanan bagi semut.
Karakteristik perilaku semut sangat agresif terhadap penyusup. Mereka akan dengan sigap menyerang dan menggigit hewan herbivora apa pun yang mencoba memakan daun Akasia, bahkan menjatuhkan telur serangga pengganggu. Ciri fisik pohon (duri berongga dan kelenjar nektar) dan ciri perilaku semut (agresifitas tinggi) adalah adaptasi khusus yang hanya bermakna ketika kedua spesies ini berinteraksi, sebuah tanda klasik dari hubungan mutualisme yang mendalam.
Pemungkas
Dari analisis mendalam, menjadi jelas bahwa hubungan makhluk hidup yang membentuk simbiosis mutualisme merupakan pilar penyangga keharmonisan alam. Kemitraan ini, meski tampak sederhana, memiliki dampak yang kompleks dan luas terhadap kesehatan biosfer. Keberadaannya mengajarkan sebuah prinsip universal tentang ketergantungan dan sinergi. Oleh karena itu, memahami dan melestarikan hubungan-hubungan mutualistik ini bukan hanya sebuah kajian akademis, melainkan sebuah langkah krusial dalam upaya menjaga keseimbangan planet yang rapuh ini untuk generasi mendatang.
Kumpulan FAQ
Apakah simbiosis mutualisme selalu bersifat permanen atau seumur hidup?
Tidak selalu. Beberapa hubungan mutualisme bersifat obligat (wajib dan permanen untuk kelangsungan hidup), seperti antara alga dan jamur dalam lumut kerak. Namun, banyak juga yang bersifat fakultatif (tidak wajib dan temporal), seperti hubungan antara burung jalak dan kerbau, yang hanya terjadi ketika burung membutuhkan makanan dan kerbau membutuhkan pembersihan parasit.
Bisakah hubungan mutualisme berubah menjadi parasitisme?
Dalam simbiosis mutualisme, dua makhluk hidup saling mendukung untuk bertahan hidup, sebuah kerja sama yang canggih dan saling menguntungkan. Prinsip saling ketergantungan ini juga terlihat dalam biologi sel, misalnya pada Lokasi Mitokondria pada Sel Sperma , di mana organel ini menyediakan energi vital bagi pergerakan sperma. Analogi ini memperkuat pemahaman bahwa hubungan timbal balik yang harmonis, baik di tingkat ekosistem maupun seluler, adalah fondasi utama keberlangsungan hidup.
Ya, dalam kondisi tertentu. Jika keseimbangan dalam hubungan itu terganggu, misalnya satu pihak berhenti memberikan manfaat tetapi terus mengambil keuntungan, hubungan dapat bergeser menjadi parasitisme. Dinamika ini menunjukkan bahwa sifat interaksi biologis bisa fleksibel dan bergantung pada konteks lingkungan.
Bagaimana organisme mengenali pasangan untuk hubungan mutualisme?
Pengenalan terjadi melalui mekanisme kompleks yang melibatkan isyarat kimia, visual, atau perilaku yang telah berevolusi bersama. Misalnya, bunga mengeluarkan warna, aroma, dan nektar tertentu untuk menarik lebah spesifik, sementara lebah memiliki insting untuk mengunjungi bunga yang memberikan imbalan terbaik, menciptakan sebuah komunikasi interspesies yang tersandi secara alami.
Apakah manusia terlibat dalam hubungan simbiosis mutualisme dengan makhluk hidup lain?
Sangat terlibat. Contoh klasik adalah hubungan manusia dengan bakteri usus (mikrobiota). Bakteri membantu mencerna makanan dan melatih sistem imun, sementara manusia menyediakan lingkungan yang hangat dan kaya nutrisi bagi bakteri. Hubungan dengan tanaman peliharaan juga dapat dilihat sebagai mutualisme psikologis, di mana manusia mendapat dukungan emosional dan tanaman mendapat perawatan.