Hubungan MPC dan MPS bukan sekadar rumus statis di buku teks ekonomi, melainkan denyut nadi yang menghidupkan siklus perekonomian suatu negara. Dua konsep yang saling bertautan ini sebenarnya menggambarkan perilaku paling mendasar dari setiap rumah tangga: apa yang dilakukan ketika ada tambahan uang di kantong? Apakah langsung dibelanjakan atau justru disimpan untuk hari esok? Jawaban atas pertanyaan sederhana itu ternyata memiliki daya ungkit yang luar biasa, mampu memprediksi dampak sebuah kebijakan pemerintah hingga mengukur gelombang resesi.
Marginal Propensity to Consume (MPC) dan Marginal Propensity to Save (MPS) adalah dua sisi dari koin yang sama, yang bersama-sama selalu berjumlah satu. MPC mengukur kecenderungan tambahan konsumsi ketika pendapatan bertambah, sementara MPS mengukur kecenderungan tambahan menabung. Dalam narasi ekonomi makro, dinamika antara keinginan untuk membelanjakan dan keinginan untuk menyimpan inilah yang kemudian membentuk efek pengganda, di mana suntikan dana kecil ke dalam perekonomian dapat menghasilkan gelombang pendapatan yang jauh lebih besar, atau sebaliknya, memperparah kontraksi.
Konsep Dasar MPC dan MPS
Dalam analisis ekonomi makro, terutama ketika membahas bagaimana perekonomian bereaksi terhadap perubahan pendapatan, dua konsep kunci yang selalu muncul adalah Marginal Propensity to Consume (MPC) dan Marginal Propensity to Save (MPS). Konsep ini bukan sekadar teori abstrak, melainkan alat ukur perilaku yang sangat nyata dari rumah tangga ketika mereka menerima tambahan uang. Pemahaman mendalam tentang kedua konsep ini menjadi fondasi untuk memprediksi dampak dari berbagai kebijakan ekonomi, mulai dari pemotongan pajak hingga program bantuan sosial.
Definisi dan Hubungan Matematis
Marginal Propensity to Consume (MPC) secara sederhana didefinisikan sebagai proporsi dari setiap unit tambahan pendapatan yang digunakan untuk meningkatkan konsumsi. Dalam bahasa yang lebih sehari-hari, MPC menjawab pertanyaan: “Dari setiap seribu rupiah pendapatan tambahan, berapa rupiah yang akan langsung dibelanjakan?” Nilai MPC selalu berada di antara 0 dan
1. Sementara itu, Marginal Propensity to Save (MPS) adalah sisi lain dari koin yang sama, yaitu proporsi dari setiap unit tambahan pendapatan yang disisihkan untuk tabungan.
Hubungan antara keduanya bersifat komplementer dan pasti: setiap rupiah pendapatan tambahan hanya memiliki dua tujuan, dikonsumsi atau ditabung. Oleh karena itu, secara matematis, hubungannya dinyatakan sebagai:
MPC + MPS = 1
Artinya, jika MPC suatu masyarakat adalah 0.8, maka secara otomatis MPS-nya adalah 0.2. Ini menunjukkan bahwa dari setiap kenaikan pendapatan sebesar Rp 1.000.000, rata-rata Rp 800.000 akan dibelanjakan dan Rp 200.000 akan ditabung.
Ilustrasi Numerik dan Perbandingan Skenario
Source: slidesharecdn.com
Untuk memperjelas bagaimana MPC dan MPS bekerja, mari kita lihat contoh numerik sederhana. Misalkan keluarga A memiliki MPC sebesar 0.75. Ketika pendapatan bulanan mereka naik dari Rp 10 juta menjadi Rp 12 juta (kenaikan Rp 2 juta), maka tambahan konsumsi mereka adalah 0.75 x Rp 2.000.000 = Rp 1.500.000. Sisa kenaikan pendapatan, yaitu Rp 500.000, otomatis menjadi tambahan tabungan (MPS = 0.25).
Perilaku ini dapat bervariasi antar individu dan kelompok pendapatan, seperti yang diilustrasikan dalam tabel berikut.
| Contoh Pendapatan | Tambahan Pendapatan | Tambahan Konsumsi (MPC=0.8) | Tambahan Tabungan (MPS=0.2) |
|---|---|---|---|
| Rp 7 juta → Rp 9 juta | Rp 2 juta | Rp 1,6 juta | Rp 400 ribu |
| Rp 15 juta → Rp 18 juta | Rp 3 juta | Rp 2,4 juta | Rp 600 ribu |
| Rp 50 juta → Rp 51 juta | Rp 1 juta | Rp 800 ribu | Rp 200 ribu |
| Rp 5 juta → Rp 6 juta | Rp 1 juta | Rp 900 ribu (MPC=0.9) | Rp 100 ribu (MPS=0.1) |
Tabel ini menunjukkan bahwa dengan asumsi MPC konstan, besaran nominal tambahan konsumsi dan tabungan bergantung pada besarnya kenaikan pendapatan. Baris terakhir sengaja menunjukkan skenario dengan MPC yang lebih tinggi, yang umumnya lebih sering ditemui pada kelompok berpendapatan lebih rendah.
Peran dalam Teori Konsumsi dan Pengganda
Konsep MPC melampaui sekadar deskripsi perilaku individu; ia menjadi mesin penggerak dalam teori pengganda (multiplier effect) Keynesian. Ide dasarnya adalah bahwa pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain. Ketika pemerintah atau pelaku ekonomi melakukan injeksi pengeluaran baru ke dalam perekonomian, dampak akhirnya terhadap pendapatan nasional bisa berlipat ganda, dan besaran pelipatgandaan itu sangat ditentukan oleh nilai MPC masyarakat.
Mekanisme Pengganda Pendapatan
Bayangkan pemerintah membangun sebuah jembatan dengan anggaran Rp 1 triliun. Uang itu dibayarkan kepada kontraktor, yang kemudian membayar gaji karyawan dan membeli material dari supplier. Penerima uang ini—pekerja dan pemilik supplier—memiliki kecenderungan mengonsumsi (MPC) tertentu. Misalkan MPC rata-rata adalah 0.
8.
Mereka akan membelanjakan 80% dari pendapatan tambahan itu (Rp 800 miliar) untuk kebutuhan seperti makanan, pakaian, atau elektronik. Pengeluaran Rp 800 miliar ini kemudian menjadi pendapatan baru bagi penjual makanan, retail, dan lain-lain. Kelompok penerima kedua ini juga akan membelanjakan 80% dari Rp 800 miliar (Rp 640 miliar), dan siklus ini terus berlanjut. Aliran sirkuler ini menciptakan rantai pengeluaran dan pendapatan yang berulang.
Efek total dari pengeluaran pemerintah awal Rp 1 triliun akhirnya bisa menjadi peningkatan pendapatan nasional sebesar Rp 5 triliun, dengan rumus pengganda sederhana: 1 / (1 – MPC) atau 1 / MPS.
Relevansi bagi Perumusan Kebijakan Fiskal
Pemahaman yang akurat tentang MPC dan MPS bukanlah sekadar latihan akademis, melainkan keharusan bagi perancang kebijakan fiskal. Beberapa poin penting yang mendasari pernyataan ini adalah:
- Efektivitas Stimulus: Nilai MPC menentukan seberapa kuat dampak stimulus fiskal. Stimulus yang ditujukan kepada kelompok dengan MPC tinggi (seperti penerima bantuan sosial) akan memiliki daya ungkit pengganda yang lebih besar dibandingkan stimulus seperti pemotongan pajak untuk kelompok berpendapatan sangat tinggi yang MPC-nya rendah.
- Stabilitas Ekonomi: Dalam situasi resesi, diimana pengeluaran swasta lesu, pemerintah dapat menggunakan kebijakan fiskal ekspansif. Pengetahuan tentang MPC membantu mengestimasi besaran intervensi yang dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan tertentu.
- Manajemen Permintaan Agregat: Kebijakan pajak dan pengeluaran pemerintah dapat dirancang untuk mengelola permintaan agregat. Menaikkan pajak (dengan asumsi MPC < 1) akan mengurangi pendapatan disposabel dan menekan konsumsi, yang dapat mendinginkan ekonomi yang overheated.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai MPC dan MPS
Nilai MPC dan MPS bukanlah konstanta universal yang tetap sepanjang masa dan untuk semua orang. Nilainya bervariasi antar individu, kelompok sosial, dan periode waktu, dipengaruhi oleh serangkaian faktor sosial-ekonomi dan psikologis yang kompleks. Memetakan faktor-faktor ini penting untuk membuat analisis ekonomi yang lebih realistis dan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Faktor Sosial-Ekonomi Penentu Variasi
Setidaknya ada empat faktor utama yang menyebabkan variasi nilai MPC antar kelompok masyarakat:
- Tingkat Pendapatan: Ini adalah faktor paling krusial. Hukum konsumsi Keynesian menyiratkan bahwa MPC cenderung lebih tinggi pada kelompok berpendapatan rendah dan menurun seiring meningkatnya pendapatan. Alasannya, kebutuhan pokok menghabiskan proporsi pendapatan yang lebih besar pada kelompok miskin, sehingga hampir setiap tambahan pendapatan langsung dibutuhkan untuk konsumsi.
- Struktur Kekayaan dan Akses Kredit: Rumah tangga dengan tabungan atau aset yang cukup, atau yang memiliki akses mudah ke kredit, memiliki “penyangga” keuangan. Mereka cenderung memiliki MPC yang lebih rendah karena tidak harus membelanjakan seluruh pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
- Kebijakan Jaminan Sosial: Sistem pensiun, asuransi kesehatan, dan jaring pengaman sosial yang kuat mengurangi ketidakpastian masa depan. Hal ini dapat menurunkan motif tabungan untuk berjaga-jaga (precautionary saving), sehingga berpotensi meningkatkan MPC.
- Norma Budaya dan Demografi: Budaya yang mendorong konsumsi atau memiliki tradisi mengumpulkan harta untuk acara adat dapat mempengaruhi MPC. Selain itu, komposisi demografi seperti usia rata-rata populasi juga berpengaruh; populasi yang lebih muda dan masih membangun kehidupan cenderung memiliki MPC lebih tinggi.
Perbandingan antara Kelompok Pendapatan
Perbedaan perilaku konsumsi dan tabungan antara rumah tangga berpendapatan rendah dan tinggi seringkali sangat kontras, yang dapat diringkas sebagai berikut:
Rumah tangga berpendapatan rendah umumnya memiliki Marginal Propensity to Consume (MPC) yang mendekati 1, karena hampir seluruh tambahan pendapatan langsung dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang selama ini tertunda. Sebaliknya, rumah tangga berpendapatan tinggi cenderung memiliki MPC yang lebih rendah, seringkali di bawah 0.5, karena kebutuhan pokok sudah terpenuhi dengan baik, sehingga proporsi yang lebih besar dari pendapatan tambahan dialihkan ke tabungan atau investasi (MPS yang lebih tinggi).
Pengaruh Suku Bunga dan Ekspektasi
Lingkungan ekonomi makro juga memainkan peran. Tingkat suku bunga yang tinggi, misalnya, meningkatkan imbalan atas tabungan. Hal ini dapat memberikan insentif untuk menabung lebih banyak (meningkatkan MPS) dengan mengorbankan konsumsi saat ini, terutama untuk barang-barang yang pembeliannya bisa ditunda. Di sisi lain, ekspektasi masa depan adalah penentu kuat. Jika masyarakat mengantisipasi resesi, PHK, atau inflasi tinggi di masa depan, mereka akan cenderung meningkatkan tabungan berjaga-jaga (precautionary saving), yang menurunkan MPC saat ini.
Sebaliknya, ekspektasi kenaikan pendapatan di masa depan atau suasana optimisme dapat mendorong orang untuk lebih berani berbelanja dengan menggunakan kredit, sehingga meningkatkan MPC efektif.
Aplikasi dan Implikasi dalam Kebijakan Ekonomi
Konsep MPC dan MPS berpindah dari buku teks ke meja perancang kebijakan sebagai alat yang sangat praktis. Dalam merespons siklus ekonomi, pemerintah dan bank sentral secara implisit atau eksplisit membuat asumsi tentang nilai MPC untuk memprediksi hasil dari intervensi mereka. Desain kebijakan yang mengabaikan variasi MPC berisiko menjadi tidak efektif atau bahkan kontra-produktif.
Mendesain Stimulus Fiskal yang Efektif
Prinsip utama dalam mendesain stimulus fiskal adalah menyalurkan dana kepada kelompok yang memiliki kecenderungan mengonsumsi marginal (MPC) yang tinggi. Inilah mengapa dalam banyak krisis, pemerintah memilih bentuk-bentuk seperti bantuan langsung tunai (BLT), perluasan program bansos, atau subsidi untuk barang-barang pokok. Mekanismenya langsung: uang diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan dan paling mungkin membelanjakannya dengan segera. Pengeluaran ini kemudian memicu efek pengganda yang lebih besar, menggeliatkan roda perekonomian dari tingkat bawah.
Sebaliknya, pemotongan pajak penghasilan untuk korporasi atau kelompok berpenghasilan sangat tinggi seringkali memiliki multiplier effect yang lebih kecil, karena sebagian besar dana tersebut mungkin ditahan sebagai laba ditahan atau tabungan.
Dampak Perubahan Pajak terhadap Daya Beli
Analisis dampak perubahan pajak sangat bergantung pada MPC. Ketika pemerintah memotong pajak (misalnya PPh 21), hal itu meningkatkan pendapatan disposabel masyarakat. Besarnya dampak terhadap konsumsi agregat bergantung pada seberapa besar tambahan pendapatan itu dibelanjakan. Jika penerima potongan pajak memiliki MPC sebesar 0.6, maka dari setiap Rp 1 juta pemotongan pajak, konsumsi hanya akan meningkat Rp 600 ribu. Sisa Rp 400 ribu “bocor” ke tabungan.
Oleh karena itu, untuk mendongkrak konsumsi secara signifikan, besaran pemotongan pajak harus cukup besar atau ditargetkan pada kelompok dengan MPC tinggi. Logika yang sama berlaku untuk kenaikan pajak, yang akan meredam konsumsi dengan kekuatan yang bergantung pada MPC kelompok yang dikenai pajak.
Pemetaan Instrumen Kebijakan
Berbagai instrumen kebijakan dapat dipetakan berdasarkan cara kerjanya melalui konsep MPC dan MPS.
| Jenis Kebijakan | Target | Mekanisme melalui MPC/MPS | Efek yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Bantuan Langsung Tunai (BLT) | Rumah Tangga Prasejahtera | Memanfaatkan MPC yang tinggi (mendekati 1) untuk langsung mengkonversi bantuan menjadi konsumsi. | Meningkatkan permintaan agregat secara cepat, mendukung usaha mikro dan ritel, dengan efek pengganda besar. |
| Pengurangan Pajak Penghasilan (PPh 21) | Karyawan & Kelas Menengah | Meningkatkan pendapatan disposabel. Efek pada konsumsi tergantung MPC penerima (biasanya sedang). | Meningkatkan daya beli, mendorong konsumsi barang sekunder/tersier, namun sebagian dana mungkin ditabung. |
| Kenaikan Suku Bunga Acuan | Seluruh Perekonomian | Meningkatkan imbalan tabungan (MPS naik) dan biaya pinjaman, mendorong penundaan konsumsi berbasis kredit. | Meredam laju inflasi dengan mengurangi tekanan permintaan agregat (MPC efektif turun). |
| Subsidi Bahan Pokok | Seluruh Masyarakat (terutama menengah-bawah) | Mengurangi pengeluaran wajib untuk kebutuhan pokok, sehingga “membebaskan” sebagian pendapatan untuk konsumsi lain (MPC tidak langsung). | Menjaga stabilitas harga dan daya beli, serta berpotensi meningkatkan konsumsi pada sektor non-subsidi. |
Studi Kasus dan Hubungan Dinamis: Hubungan MPC Dan MPS
Hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan tabungan tidak selalu statis dan linier. Dalam jangka panjang atau saat menghadapi guncangan besar, perilaku masyarakat dapat berubah, menggeser nilai MPC dan MPS itu sendiri. Memahami dinamika ini penting agar analisis ekonomi tidak terjebak pada asumsi yang terlalu sederhana.
Skenario Penurunan Pendapatan
Mari kita gambarkan skenario hipotetis resesi ekonomi. Asumsikan sebelum resesi, sebuah keluarga memiliki pendapatan Rp 15 juta per bulan dengan MPC 0.7. Mereka kemudian mengalami pemotongan gaji menjadi Rp 12 juta. Dengan asumsi MPC tetap 0.7, penurunan konsumsi mereka adalah 0.7 x Rp 3.000.000 = Rp 2.100.000. Namun, dalam kenyataannya, sering terjadi fenomena “ratchet effect” di mana standar konsumsi sulit diturunkan.
Keluarga mungkin akan berusaha mempertahankan konsumsi dengan mengurangi tabungan drastis (bahkan melakukan dissaving), sehingga MPC sesaat bisa menjadi lebih tinggi dari 0.7. Tabungan yang selama ini dikumpulkan berfungsi sebagai penyangga, tetapi jika resesi berkepanjangan, pola konsumsi akhirnya akan turun secara paksa.
Hubungan Non-Linier Jangka Panjang
Teori konsumsi jangka panjang, seperti Hipotesis Pendapatan Permanen (Milton Friedman) atau Hipotesis Siklus Hidup (Franco Modigliani), menantang asumsi MPC yang konstan. Menurut pandangan ini, masyarakat membedakan antara pendapatan sementara dan pendapatan permanen. MPC dari pendapatan sementara (seperti bonus) akan sangat rendah, karena sebagian besar langsung ditabung. Sebaliknya, MPC dari kenaikan pendapatan permanen (seperti kenaikan gaji tetap) akan jauh lebih tinggi, mendekati nilai kecenderungan mengonsumsi rata-rata.
Dalam lintasan hidup seseorang, MPC juga berubah: usia produktif cenderung memiliki MPC tinggi karena kebutuhan membangun rumah tangga dan membiayai anak, sementara usia menjelang pensiun akan meningkatkan MPS untuk persiapan masa tua.
Ilustrasi Naratif Perubahan Perilaku, Hubungan MPC dan MPS
Bayangkan suatu masyarakat yang terbiasa dengan pertumbuhan ekonomi stabil dan optimisme tinggi. Nilai MPC mereka mungkin berada di level 0.75, dengan tabungan untuk investasi properti atau pendidikan. Tiba-tiba, terjadi guncangan besar seperti pandemi yang memicu ketidakpastian massal dan kehilangan pendapatan bagi banyak sektor. Dalam sekejap, prioritas berubah. Motif tabungan berjaga-jaga (precautionary motive) menguat secara dramatis.
Masyarakat, bahkan mereka yang tidak kehilangan pekerjaan, mulai menahan pengeluaran, menunda pembelian barang tahan lama, dan berusaha menumpuk likuiditas. Perilaku ini secara agregat menurunkan MPC dan meningkatkan MPS. Efeknya, meskipun pemerintah memberikan stimulus, daya ungkit penggandanya bisa lebih lemah dari perhitungan teoritis berbasis MPC lama, karena “kebocoran” ke tabungan (MPS) menjadi lebih besar. Perilaku baru ini bisa bertahan hingga kepercayaan diri pulih, menunjukkan bahwa MPC dan MPS adalah variabel yang hidup dan responsif terhadap pengalaman kolektif.
Ringkasan Penutup
Dengan demikian, memahami hubungan MPC dan MPS ibarat memiliki peta navigasi untuk mengarungi gelombang ekonomi yang tak pasti. Konsep ini menegaskan bahwa kebijakan ekonomi yang efektif tidak bisa bersifat seragam, tetapi harus sensitif terhadap profil dan perilaku masyarakat yang menjadi sasarannya. Pada akhirnya, angka-angka MPC dan MPS lebih dari sekadar persentase; mereka adalah cermin dari kondisi sosial, tingkat kepercayaan, dan harapan kolektif terhadap masa depan.
Dalam tangan para pembuat kebijakan yang cermat, pemahaman mendalam tentang hubungan ini dapat menjadi alat yang ampuh untuk menstabilkan, mendorong pertumbuhan, dan membangun ketahanan ekonomi nasional.
FAQ Terperinci
Apakah nilai MPC seseorang bisa lebih besar dari 1?
Dalam teori ekonomi konvensional, nilai MPC individu atau agregat tidak boleh lebih besar dari 1, karena berarti seseorang membelanjakan lebih dari tambahan pendapatannya, yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan tabungan masa lalu atau berutang. Namun, dalam jangka pendek dan pada kelompok tertentu, perilaku ini bisa terjadi.
Bagaimana jika MPS lebih besar dari MPC, apa artinya bagi perekonomian?
Jika MPS lebih besar dari MPC, berarti masyarakat cenderung lebih banyak menabung daripada mengonsumsi dari setiap tambahan pendapatan. Hal ini dapat melemahkan efek pengganda dari kebijakan stimulus, karena uang yang disuntikkan lebih cepat ‘membeku’ dalam tabungan daripada berputar dalam sirkulasi ekonomi, berpotensi memperlambat pertumbuhan.
Apakah hubungan MPC dan MPS selalu tetap untuk seorang individu?
Tidak selalu. Nilai MPC dan MPS seorang individu dapat berubah seiring waktu, dipengaruhi oleh faktor seperti perubahan pendapatan permanen, usia, tanggungan keluarga, tingkat suku bunga, dan ekspektasi tentang stabilitas pekerjaan atau kondisi ekonomi masa depan.
Bagaimana cara mengukur MPC dan MPS suatu negara secara empiris?
MPC dan MPS suatu negara biasanya diestimasi menggunakan data time series dari survei pendapatan dan konsumsi rumah tangga nasional, atau dengan menganalisis hubungan statistik antara perubahan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) dan perubahan tingkat konsumsi agregat selama periode tertentu.