Identifikasi Kalimat yang Mengandung Majas Metonimia Panduan Lengkap

Identifikasi Kalimat yang Mengandung Majas Metonimia itu seperti jadi detektif bahasa, lho. Tugas kita adalah melacak kata-kata yang pura-pura jadi orang lain, di mana sebuah sebutan dipakai untuk mewakili sesuatu yang lain tapi masih punya hubungan yang erat. Kalau dianalogikan, ini seperti menyebut “Saya baca Habiburrahman” padahal yang kita baca sebenarnya adalah bukunya. Nah, majas yang satu ini punya peran besar dalam membuat bahasa kita jadi lebih hidup, kaya, dan penuh warna, jauh dari kesan kaku dan monoton.

Metonimia bukan sekadar permainan kata belaka, melainkan sebuah konsep linguistik yang berdasar pada hubungan “penanda” dan “petanda”. Memahaminya akan membuka mata kita pada bagaimana bahasa bekerja secara cerdas untuk menyampaikan makna secara tidak langsung namun efektif. Perbedaannya dengan sinekdoke pun sering jadi titik rancu, sehingga mengenali ciri khususnya menjadi kunci utama dalam proses identifikasi yang akan kita kupas tuntas.

Pengantar dan Konsep Dasar Metonimia

Identifikasi Kalimat yang Mengandung Majas Metonimia

Source: kompas.com

Bayangkan kamu sedang ngobrol dengan teman dan bilang, “Eh, gue habis minum Aqua dua botol tadi.” Yang kamu minum sebenarnya air, bukan merek Aqua-nya sebagai entitas perusahaan. Nah, tanpa sadar, kamu sudah menggunakan majas metonimia. Majas ini adalah gaya bahasa yang menggunakan sebuah istilah untuk mewakili hal lain yang memiliki hubungan kedekatan yang sangat kuat, di mana satu konsep mewakili konsep lainnya.

Hubungan ini sering dibahas dengan konsep “penanda” dan “petanda”. Dalam contoh tadi, “Aqua” adalah penanda, yaitu kata yang diucapkan. Sementara petandanya adalah “air mineral kemasan botol merek Aqua”. Hubungannya bukan berdasarkan kemiripan (seperti metafora), melainkan kedekatan dalam dunia nyata, seperti hubungan merek dengan produk, pencipta dengan karya, atau wadah dengan isinya. Inilah inti dari metonimia: menggantikan sesuatu dengan sesuatu lain yang berdekatan.

Ciri Pembeda dengan Sinekdoke

Metonimia sering disamakan dengan sinekdoke karena sama-sama menggantikan makna. Perbedaan utamanya terletak pada sifat hubungannya. Sinekdoke bersifat hubungan “bagian untuk keseluruhan” (pars pro toto) atau “keseluruhan untuk bagian” (totum pro parte). Misal, “Dia adalah otak di balik operasi itu” (bagian untuk mewakili orang/kemampuan). Sementara metonimia lebih luas, hubungannya bisa berbentuk apa saja selain bagian-keseluruhan murni, seperti hubungan sebab-akibat, alat-hasil, atau lokasi-institusi.

Metonimia memperkaya bahasa dengan membuatnya lebih efisien, hidup, dan kontekstual, sekaligus menambah lapisan makna yang langsung dipahami oleh penutur dan pendengar dalam budaya yang sama.

Jenis-Jenis dan Pola Umum Metonimia

Metonimia hadir dalam berbagai bentuk, tergantung pada jenis kedekatan apa yang digunakan. Memahami jenis-jenis ini membantu kita lebih jeli menangkap makna di balik kata yang tertulis atau terucap. Pola-pola ini sangat lahir dari konteks budaya dan kebiasaan masyarakat penuturnya.

Klasifikasi dan Contoh Metonimia

Berikut adalah beberapa jenis metonimia yang paling umum ditemui dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.

BACA JUGA  Tanggal Bersama Berikutnya Rini Rita dan Rosa Rencana Seru Tiga Sahabat
Jenis Metonimia Konsep Hubungan Contoh Singkat Penjelasan
Merek untuk Produk Nama merek mewakili produk generiknya. “Ibunya beli Sedaap di warung.” Merek mi instan Sedaap mewakili kategori “mi instan”.
Penghasil untuk Hasil Pembuat atau sumber mewakili benda yang dihasilkan. “Aku suka membaca Andrea Hirata.” Nama penulis (Andrea Hirata) mewakili karya bukunya.
Wadah untuk Isi Tempat/wadah mewakili benda yang dikandungnya. “Dia menghabiskan dua piring sendirian.” “Piring” (wadah) mewakili “nasi dan lauk” (isi).
Lokasi untuk Institusi Tempat atau lokasi mewakili institusi yang beroperasi di sana. Istana Negara mengeluarkan siaran pers.” “Istana Negara” (lokasi) mewakili “Presiden dan stafnya” (institusi).
Alat untuk Pengguna Benda atau alat mewakili orang yang menggunakannya. Pulpen merah sedang beraksi memberi nilai.” “Pulpen merah” (alat) mewakili “guru” (pengguna).

Pola Kalimat dalam Penyusunan Metonimia

Metonimia biasanya muncul dalam pola kalimat yang sederhana, seringkali sebagai subjek atau objek. Pola pertama adalah pola subjek langsung, di mana kata yang bermetonimia langsung menjadi pelaku atau pokok pembicaraan.

Harimau Sumatra itu akhirnya ditangkap tim gabungan.” (Harimau sebagai hewan mewakili tim sepak bola bernama Harimau Sumatra).

Pola kedua adalah pola objek, di mana kata bermetonimia menjadi sasaran dari suatu tindakan atau penerima suatu keadaan.

“Dia membeli Supra bekas dengan harga murah.” (Merek motor Honda Supra mewakili produk motornya).

Pola ketiga adalah pola kepemilikan atau keterangan, di mana kata bermetonimia menjelaskan milik atau asal sesuatu.

“Ini adalah kebijakan baru dari Gedung DPR.” (Gedung DPR sebagai lokasi mewakili institusi dan anggota DPR).

Langkah-Langkah Identifikasi dalam Teks

Mengidentifikasi metonimia memerlukan ketelitian untuk melihat hubungan di balik kata-kata yang digunakan. Prosesnya sistematis dan bisa dilakukan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kunci pada diri sendiri saat membaca sebuah teks.

Pertama, bacalah kalimat atau paragraf secara utuh untuk memahami konteksnya. Kemudian, tandai kata atau frasa yang tampaknya digunakan tidak dalam makna harfiahnya, tetapi masih terkait erat dengan konteks. Setelah itu, terapkan pertanyaan panduan berikut.

  • Apakah kata ini merujuk pada sebuah merek, nama orang, atau nama tempat?
  • Jika ya, apakah yang dimaksud sebenarnya adalah produk, karya, atau institusi yang terkait dengannya?
  • Apakah ada hubungan wadah-isi, alat-pengguna, atau penghasil-hasil yang jelas antara kata yang tertulis dengan makna yang dimaksud?
  • Apakah penggantian ini berdasarkan kedekatan, bukan kemiripan atau hubungan bagian-keseluruhan murni?

Demonstrasi Analisis pada Paragraf Contoh

Mari kita praktikkan langkah-langkah tersebut dengan menganalisis paragraf berikut: ” Kantor Bupati akan membagikan bantuan sembako mulai besok. Dalam acara itu, Garuda dari pusat juga akan hadir. Masyarakat diharap membawa jerigen sendiri untuk minyak gorengnya.”

Dari paragraf tersebut, kita identifikasi tiga frasa kunci. Pertama, ” Kantor Bupati“. Ini adalah contoh metonimia lokasi untuk institusi. Yang membagikan bantuan bukanlah gedungnya, melainkan institusi pemerintah di bawah Bupati yang berkantor di sana. Kedua, ” Garuda“.

Ini adalah metonimia simbol untuk institusi. Yang hadir bukan burung Garuda, melainkan perwakilan dari pemerintah pusat (yang lambang negaranya adalah Garuda). Ketiga, ” jerigen“. Ini adalah metonimia wadah untuk isi. Masyarakat diminta membawa wadah jerigen, yang nantinya akan diisi dengan minyak goreng.

Contoh Analisis dan Latihan Praktis: Identifikasi Kalimat Yang Mengandung Majas Metonimia

Untuk memperdalam pemahaman, mari kita lihat beberapa contoh kalimat lengkap beserta analisisnya. Analisis ini mengungkap logika di balik penggantian makna yang terjadi.

1. “Sejak kecil, dia sudah akrab dengan Mozart dan Beethoven.”
Analisis: Nama komponis (Mozart dan Beethoven) digunakan untuk mewakili karya musik yang mereka ciptakan. Ini adalah metonimia jenis penghasil untuk hasil.

2. “Peristiwa itu membuat bendera merah putih berkabung.”
Analisis: Bendera merah putih sebagai simbol digunakan untuk mewakili bangsa dan negara Indonesia beserta seluruh rakyatnya. Ini adalah metonimia simbol untuk yang disimbolkan.

3. “Meja hijau memutuskan terdakwa divonis lima tahun penjara.”
Analisis: “Meja hijau” (benda yang menjadi ciri khas pengadilan) digunakan untuk mewakili institusi pengadilan atau hakim yang memutuskan perkara. Ini adalah metonimia alat/objek untuk institusi.

Tabel Analisis Contoh Kalimat

Kalimat Contoh Unsur yang Diganti Unsur Pengganti Alasan (Jenis Metonimia)
Suara Merpati terdengar dari balik panggung. Penyanyi atau vokalis. Nama grup band (Merpati). Penghasil (grup) untuk hasil (anggota/penyanyi).
Jakarta belum memberikan jawaban resmi. Pemerintah Pusat/Instansi terkait. Ibu Kota Negara. Lokasi untuk Institusi.
Kakek selalu menikmati sebatang Djarum di sore hari. Rokok kretek. Merek rokok (Djarum). Merek untuk Produk.
BACA JUGA  Perbedaan Ceramah dan Khutbah Panduan Lengkapnya

Paragraf Latihan untuk Analisis Mandiri

Paragraf Latihan 1: Di kawasan itu, seragam putih-abu terlihat sedang melakukan bakti sosial. Mereka membersihkan selokan dan mengecat tembok. Seorang warga yang menyaksikan berkomentar, ” Generasi muda seperti ini yang kita butuhkan.” Sementara itu, dari kejauhan, topi loreng mengawasi kegiatan dengan seksama.

Paragraf Latihan 2: Koran pagi ini memberitakan kenaikan harga Beras secara nasional. Ekonom menyebutkan bahwa Wall Street juga memberikan dampak tidak langsung. Pemerintah berjangi akan segera menggerakkan Bulog untuk menstabilkan pasokan.

Kunci Pembahasan Latihan, Identifikasi Kalimat yang Mengandung Majas Metonimia

  • Paragraf 1:
    • Seragam putih-abu“: Metonimia atribut (pakaian seragam) untuk pengguna (siswa SMA).
    • Generasi muda“: Bisa dianggap sinekdoke (bagian, yaitu pemuda, untuk mewakili keseluruhan pemuda) atau generalisasi. Dalam konteks ini lebih tepat sebagai sinekdoke pars pro toto.
    • Topi loreng“: Metonimia atribut (topi khas TNI/Polri) untuk pengguna (anggota TNI/Polri).
  • Paragraf 2:
    • Koran pagi“: Metonimia produk (koran) untuk penghasil (redaksi/media pers).
    • Beras“: Metonimia komoditas spesifik untuk komoditas pangan secara umum (sinekdoke juga mungkin, tetapi umum dalam berita ekonomi).
    • Wall Street“: Metonimia lokasi (jalan di New York) untuk institusi (pasar keuangan/pedagang saham AS).
    • Bulog“: Metonimia nama institusi (Badan Urusan Logistik) untuk orang-orang/aparatus yang bekerja di dalamnya.

Penerapan dan Fungsi dalam Konteks Nyata

Metonimia bukan sekadar hiasan bahasa dalam puisi. Majas ini bekerja aktif dalam berbagai ranah komunikasi massa, dari headline berita yang singkat, slogan iklan yang catchy, hingga dialog dalam karya sastra yang mendalam. Penggunaannya selalu bertujuan untuk menciptakan efek tertentu pada audiens.

Dalam dunia jurnalistik, metonimia membuat berita lebih padat dan bernuansa. Kalimat ” Istana menyangkal isu reshuffle kabinet” lebih ringkas dan berwibawa dibanding “Juru bicara kepresidenan yang berkantor di Istana Negara menyangkal…”. Di iklan, metonimia membangun asosiasi kuat. Sebuah iklan minuman energi mungkin menampilkan seorang atlet yang kelelahan lalu meminum produk mereka, dan tagline-nya “Jadilah Sang Juara“. Kata ” Sang Juara” (hasil) digunakan untuk mewakili “semangat, energi, dan kemenangan” (sebab/kualitas), mengajak konsumen untuk mengidentifikasi diri dengan simbol tersebut.

BACA JUGA  Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Fungsi Retoris dan Psikologis

Secara retoris, metonimia berfungsi untuk menyederhanakan pesan yang kompleks menjadi satu simbol yang mudah dicerna. Hal ini mempengaruhi pemikiran audiens dengan cara membingkai realitas. Misalnya, menyebut ” Tiongkok sebagai partner dagang” versus ” Partai Komunis Tiongkok sebagai partner dagang” memberikan nuansa yang berbeda; yang pertama netral dan berfokus pada geografi/negara, yang kedua lebih politis. Psikologisnya, metonimia memanfaatkan mental shortcut. Otak kita lebih mudah mengingat dan merespons simbol atau merek yang familiar daripada deskripsi lengkap, sehingga pesan menjadi lebih persuasif dan mudah diingat.

Kelebihan dan Batasan Penggunaan

Kelebihan utama metonimia adalah efisiensi dan kekuatan evocatifnya. Ia mampu menyampaikan makna yang kaya dengan kata yang minimal, serta membangkitkan emosi atau citra tertentu secara cepat. Namun, batasannya juga jelas. Pertama, metonimia sangat bergantung pada konteks budaya dan pengetahuan bersama. Menyebut ” Batavia” untuk Jakarta mungkin tidak dipahami generasi muda.

Mengidentifikasi kalimat bermajas metonimia, seperti menyebut “Istana” untuk pemerintah, memang menarik karena membutuhkan ketelitian. Nah, kalau bicara ketelitian dalam penyusunan dokumen, kita bisa belajar dari proses Penutupan Laporan Pertanggungjawaban Panitia Orientasi Sekolah 2007‑2008 yang detail dan runtut. Prinsip kejelasan dalam laporan itu sebenarnya juga kunci utama agar kita bisa membedakan mana ungkapan figuratif seperti metonimia dan mana yang bukan dalam sebuah teks.

Kedua, penggunaannya bisa menimbulkan bias atau generalisasi. Menyebut ” jaket kuning datang” untuk menyebut petugas pemadam kebakaran itu tepat, tetapi menggunakan ” kemeja putih” untuk menyebut semua karyawan kantoran bisa jadi terlalu menyederhanakan dan mengabaikan keragaman. Oleh karena itu, dalam komunikasi sehari-hari, penting untuk memastikan bahwa pihak yang diajak bicara memiliki landasan pemahaman yang sama terhadap simbol yang kita gunakan.

Ringkasan Penutup

Jadi, setelah menyelami seluk-beluk metonimia, bisa disimpulkan bahwa kemampuan mengidentifikasinya adalah sebuah keahlian berbahasa yang sangat berguna. Dari menganalisis berita hingga menikmati puisi, mata kita jadi lebih terlatih untuk menangkap pesan yang terselubung di balik pilihan kata. Kemahiran ini tidak hanya mempertajam analisis tetapi juga memperkaya cara kita sendiri dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Pada akhirnya, menguasai metonimia ibarat memiliki kunci untuk memahami lapisan makna yang lebih dalam dalam percakapan sehari-hari. Mulailah dari hal sederhana: perhatikan iklan di televisi, headline media, atau lirik lagu favorit. Dengan praktik konsisten, identifikasi majas ini akan menjadi hal yang intuitif dan menyenangkan, mengubah cara kita memandang dan menggunakan kekuatan kata.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah setiap penyebutan merek dagang bisa dikategorikan sebagai metonimia?

Tidak selalu. Itu baru disebut metonimia jika merek tersebut digunakan untuk mewakili suatu kategori produk secara umum. Misal, “Beli Aqua dulu” untuk mewakili membeli air mineral, itu metonimia. Tapi jika membicarakan perusahaan Aqua sebagai entitas bisnis, itu bukan majas.

Bagaimana membedakan metonimia dengan metafora secara cepat?

Metonimia berdasarkan hubungan kedekatan atau asosiasi (contoh: “Istana” untuk pemerintah). Metafora berdasarkan persamaan atau perbandingan langsung (contoh: “Waktu adalah uang”). Metafora seperti mengatakan A adalah B, sedangkan metonimia mengatakan A untuk B yang terkait.

Apakah metonimia hanya ditemukan dalam bahasa Indonesia?

Tidak. Majas metonimia adalah fenomena linguistik universal yang ada di hampir semua bahasa di dunia, seperti dalam bahasa Inggris (“The White House decided…” untuk pemerintah AS) atau bahasa daerah, karena berkaitan dengan cara berpikir manusia.

Bisakah satu kalimat mengandung lebih dari satu majas metonimia?

Sangat mungkin. Sebuah kalimat atau paragraf dapat memuat beberapa instansi metonimia sekaligus, yang justru memperkaya makna dan gaya bahasanya. Contoh: “Jakarta dan Wall Street tengah memantau pergerakan minyak dunia.” (Jakarta mewakili pemerintah Indonesia, Wall Street mewakili pasar keuangan AS).

Leave a Comment