Istilah Bahasa Inggris untuk Orang yang Terobsesi pada Orang Lain bukan sekadar rasa suka biasa, melainkan sebuah kondisi psikologis intens yang dikenal sebagai “limerence”. Fenomena ini mengakar pada dinamika pikiran manusia yang kompleks, di mana batas antara ketertarikan mendalam dan obsesi yang mengganggu sering kali kabur. Dalam dunia psikologi dan interaksi sosial, limerence muncul sebagai sebuah konsep kunci untuk memahami bagaimana perasaan terpaku pada seseorang dapat berkembang melebihi kewajaran.
Lebih dari sekadar infatuasi atau kekaguman biasa, limerence dicirikan oleh pikiran intrusif, kebutuhan mendesak untuk mendapat balasan perasaan, dan ketergantungan emosional yang luar biasa terhadap objek perasaan, yang disebut sebagai “limerent object”. Kondisi ini kerap disertai dengan kecemasan, euforia bergantung pada respons sang target, dan serangkaian perilaku yang bertujuan untuk mendapatkan perhatian. Memahami istilah ini beserta varian terkait seperti fixation dan idolization menjadi langkah awal penting untuk mengidentifikasi pola emosi yang berpotensi mengganggu keseimbangan hidup.
Pengantar dan Definisi Istilah
Source: akamaized.net
Dalam dinamika hubungan antarmanusia, perasaan tertarik dan kagum adalah hal yang wajar. Namun, ada kalanya perasaan itu melampaui batas normal dan berubah menjadi sebuah obsesi yang menguras pikiran. Fenomena ini bukan sekadar “suka yang dalam,” melainkan sebuah kondisi psikologis yang kompleks dan seringkali mengganggu. Memahami istilah-istilah yang tepat untuk menggambarkannya adalah langkah pertama untuk mengenali pola-pola ini, baik dalam diri sendiri maupun orang lain.
Psikologi dan sosiologi memiliki beberapa istilah untuk mendeskripsikan bentuk ketertarikan yang intens dan tidak seimbang. Istilah utama yang paling akurat menggambarkan obsesi romantis adalah limerence. Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Dorothy Tennov pada tahun 1979 untuk menggambarkan keadaan mental involunter yang ditandai oleh pikiran intrusif, fantasi yang mendalam, dan ketergantungan emosional yang ekstrem terhadap seseorang (LO, atau Limerent Object).
Limerence berbeda dari cinta matang karena didorong oleh kebutuhan akan balasan perasaan dan ketakutan akan penolakan, seringkali tanpa mengenal pribadi target secara utuh.
Selain limerence, terdapat istilah lain yang sering digunakan namun memiliki nuansa berbeda. Infatuation merujuk pada ketertarikan yang sangat kuat namun biasanya berjangka pendek dan lebih bersifat superficial. Fixation adalah fokus pikiran yang tidak sehat dan terus-menerus pada seseorang, ide, atau objek, yang dapat terjadi dalam konteks romantis maupun non-romantis. Sementara itu, idolization adalah proses mengangkat seseorang ke posisi yang sangat diagungkan, hampir seperti dewa, dengan mengabaikan kekurangan mereka.
Perbandingan Istilah Obsesi terhadap Orang Lain
Untuk memperjelas perbedaan dan persamaan antara keempat istilah kunci tersebut, tabel berikut merangkum fokus, intensitas, dan karakteristik utamanya.
| Nama Istilah | Fokus Objek | Intensitas Emosi | Karakteristik Utama |
|---|---|---|---|
| Limerence | Seseorang (LO) sebagai objek romantis/emosional. | Sangat Tinggi, menguasai pikiran, disertai kecemasan dan euforia. | Pikiran intrusif, kebutuhan mendesak untuk timbal balik, fantasi detail berulang, ketakutan akan penolakan. |
| Infatuation | Seseorang atau gagasan tentang seseorang. | Keterpikatan yang kuat berdasarkan daya tarik fisik atau imaji ideal, kurang berdasar pada pengenalan mendalam. | |
| Fixation | Bisa seseorang, ide, objek, atau tujuan tertentu. | Tinggi dan persisten, tetapi tidak selalu emosional. | Fokus mental yang kaku dan berulang, sulit dialihkan, dapat menjadi bagian dari OCD atau gangguan kecemasan. |
| Idolization | Seseorang (biasanya figur publik, atasan, atau partner). | Tinggi, bercampur rasa kagum dan hormat yang berlebihan. | Melihat objek sebagai sempurna dan tak dapat salah, mengabaikan realitas, menempatkan mereka di atas diri sendiri. |
Ciri-Ciri dan Manifestasi Perilaku
Mengenali limerence memerlukan kejujuran terhadap pola pikiran dan perasaan sendiri. Keadaan ini seringkali dimulai dengan perasaan seperti “jatuh cinta pada pandangan pertama” yang ekstrem, tetapi kemudian berkembang menjadi siklus mental yang melelahkan. Individu yang mengalami limerence seolah-olah terjebak dalam roller coaster emosi yang dikendalikan oleh persepsi mereka tentang sedikitnya perhatian atau sinyal dari orang yang menjadi objeknya.
Tanda-tanda emosional yang paling mencolok termasuk euforia intens saat menerima perhatian sekecil apa pun, dan sebaliknya, keputusasaan mendalam yang paralitis saat merasa diabaikan. Kecemasan akan penolakan adalah latar konstan. Secara kognitif, pikiran tentang LO (Limerent Object) bersifat intrusif, muncul tanpa diundang dan mengganggu aktivitas sehari-hari seperti bekerja atau belajar. Individu juga sering terlibat dalam “mental rehearsal,” yaitu membayangkan secara detail berbagai skenario percakapan atau pertemuan di masa depan dengan LO.
Perilaku Nyata dalam Kehidupan dan Dunia Digital
Perilaku ini kemudian termanifestasi dalam tindakan nyata. Di dunia langsung, seseorang mungkin sering “kebetulan” melintas di tempat LO biasa berada, mencari-cari alasan untuk berinteraksi, atau berusaha berlebihan untuk mendapatkan informasi tentang LO dari teman mutual. Di ranah digital, perilaku ini semakin mudah dan teramati. Stalking media sosial menjadi aktivitas rutin, menganalisis setiap unggahan, likes, komentar, dan bahkan waktu online. Mereka mungkin berulang kali melihat chat lama, mengirim pesan yang direncanakan secara berlebihan, atau bahkan membuat akun palsu untuk mengamati.
Istilah ‘stan’ dalam budaya populer sering merujuk pada penggemar fanatik yang terobsesi pada figur tertentu. Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, kita dapat menganalisisnya melalui berbagai jenis karangan, seperti yang dijelaskan dalam artikel Sebutkan 5 Jenis Karangan Beserta Penjelasannya. Melalui pendekatan ekspositoris atau deskriptif, kita dapat mengurai kompleksitas psikologis di balik obsesi tersebut, yang pada akhirnya memperkaya pemahaman kita tentang dinamika hubungan parasosial yang intens dalam masyarakat kontemporer.
Berikut adalah perbedaan mendasar antara limerence dan cinta yang sehat:
- Limerence berpusat pada kebutuhan akan validasi dan ketakutan akan kehilangan, sementara Cinta Sehat berpusat pada kepedulian, rasa hormat, dan keinginan untuk kebahagiaan pasangan.
- Limerence melihat LO sebagai solusi untuk kebahagiaan pribadi, sedangkan Cinta Sehat melihat partner sebagai individu lengkap dengan kekurangan dan tetap merasa utuh tanpa mereka.
- Limerence ditandai oleh kecemasan dan pikiran obsesif yang mengganggu, sementara Cinta Sehat membawa perasaan aman, damai, dan saling mendukung tanpa kehilangan identitas diri.
- Dalam Limerence, fantasi seringkali lebih menarik daripada kenyataan. Dalam Cinta Sehat, kenyataan hubunganlah yang dinikmati dan dibangun bersama.
Skenario Ilustratif Sehari-hari, Istilah Bahasa Inggris untuk Orang yang Terobsesi pada Orang Lain
Bayangkan seorang karyawan, Rina, yang mengalami limerence terhadap atasannya, Bima. Sepanjang rapat, pikirannya hanya memproses setiap kata dan gerak tubuh Bima, mencari tanda-tanda tersembunyi. Sebuah senyuman singkat darinya bisa membuat Rina bersemangat seharian, sementara sebuah email yang dirasa dingin bisa menghancurkan mood-nya. Malam hari, Rina menghabiskan waktu dengan melihat profil LinkedIn Bima dan mencoba menebak-nebak arti dari perubahan headline-nya. Dia membayangkan skenario di mana dia menyelamatkan sebuah proyek dan Buma akhirnya mengakui perasaannya.
Keesokan harinya, dia sengaja datang lebih awal untuk “kebetulan” bertemu di pantry, dengan percakapan yang sudah ia latih berulang kali di kepala. Hidupnya secara perlahan berrevolusi di sekitar keberadaan dan persetujuan satu orang ini.
Konteks Budaya Pop dan Representasi Media: Istilah Bahasa Inggris Untuk Orang Yang Terobsesi Pada Orang Lain
Budaya pop sering kali meromantisasi obsesi, menggambarkannya sebagai bukti cinta yang “mendalam dan tak tergantikan.” Banyak cerita mengangkat tema karakter yang mengabdikan hidupnya untuk menggapai satu orang, dengan klimaks yang biasanya dinormalisasi sebagai happy ending. Namun, representasi ini kerap mengaburkan batas antara ketekunan yang puitis dan perilaku yang tidak sehat, bahkan mengganggu. Di sisi lain, media juga memberikan contoh-contoh kritis di mana obsesi digambarkan sebagai sumber konflik dan kehancuran.
Analisis terhadap film dan sastra menunjukkan spektrum yang luas. Dalam genre romantis komedi, sifat limerent sering dipelesetkan sebagai kikuk dan menggemaskan. Sementara dalam thriller atau drama psikologis, fiksasi yang sama digambarkan sebagai ancaman yang menyeramkan. Perbedaan ini sangat bergantung pada sudut pandang cerita dan apakah akhirnya “dibalas” atau tidak. Normalisasi obsesi romantis dapat memberi pesan yang keliru, terutama kepada penonton muda, bahwa mengorbankan identitas diri dan mengabaikan batasan pribadi adalah bentuk cinta yang sah.
Karakter Fiksi sebagai Contoh
Berikut adalah lima karakter fiksi yang menjadi contoh ideal untuk masing-masing istilah:
- Limerence: Joe Goldberg dari You. Pikirannya dipenuhi monolog obsesif tentang Beck dan Love, dengan fantasi detail tentang kehidupan bersama mereka, dibarengi perilaku stalker dan manipulatif untuk “memiliki” objeknya.
- Infatuation: Romeo dari Romeo and Juliet. Ketertarikannya yang mendadak dan sangat intens pada Juliet, yang berkembang dalam waktu singkat, lebih didasari oleh daya tarik fisik dan pemberontakan romantis daripada pengenalan mendalam.
- Fixation: Captain Ahab dari Moby-Dick. Fokusnya yang tunggal dan menghancurkan diri pada paus putih, Moby Dick, menguasai setiap aspek hidupnya dan mengorbankan seluruh awak kapalnya.
- Idolization: Gatsby dari The Great Gatsby. Ia mengidolakan Daisy bukan sebagai wanita nyata, tetapi sebagai simbol status, masa lalu, dan kesempurnaan yang harus diraihnya, menciptakan ilusi yang tak mungkin terwujud.
- Obsesi Non-Romantis: Annie Wilkes dari Misery. Fiksasi dan pengidolaannya terhadap penulis Paul Sheldon berubah menjadi obsesi posesif yang mengerikan, di mana ia merasa berhak mengontrol hidup dan karyanya.
Kutipan yang Mencerminkan Pola Pikir Obsesif
Dialog dan monolog dalam karya fiksi sering kali menangkap esensi pikiran obsesif dengan sangat tajam. Kutipan berikut dari serial You adalah contoh yang gamblang:
“I know you’re confused. I know you think this is too intense, too fast. But love at first sight is a chemical reaction. It’s dopamine and norepinephrine and phenylethylamine. It’s science. And science doesn’t lie. We’re meant to be.”
Kutipan ini menunjukkan rasionalisasi yang khas dalam limerence: menggunakan logika (bahkan “sains”) untuk membenarkan perasaan yang sangat intens dan impulsif, sekaligus mengabaikan kenyataan bahwa pihak lain mungkin tidak merasa sama. Ini adalah monolog yang mencoba menguasai narasi hubungan sepihak.
Dalam psikologi, obsesi terhadap orang lain dikenal sebagai limerence atau obsessive infatuation, suatu kondisi yang berbeda dari cinta biasa. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam, dan jika kita melihat konsep kebalikannya, yaitu individu yang mandiri dan unik, kita dapat merujuk pada penjelasan tentang Apa yang dimaksud Munfarid. Memahami kedua kutub ini—dari ketergantungan emosional yang intens hingga kemandirian yang kuat—memberikan perspektif lebih komprehensif tentang dinamika hubungan interpersonal dan kesehatan mental seseorang.
Dampak dan Implikasi Hubungan
Limerence bukanlah kondisi yang statis; ia memiliki dinamika sendiri yang dapat menyebabkan erosi signifikan terhadap kesejahteraan mental individu. Siklus euforia dan keputusasaan yang konstan dapat memicu atau memperburuk gangguan kecemasan, depresi, dan insomnia. Harga diri menjadi sangat bergantung pada faktor eksternal—yaitu perhatian dari LO—sehingga ketika tidak terpenuhi, individu merasa hampa dan tidak berharga. Dalam jangka panjang, ini dapat menghambat perkembangan pribadi dan pencapaian tujuan hidup.
Dalam hubungan interpersonal, dampaknya bisa merusak. Dalam konteks percintaan yang tidak direciprocate, limerence dapat membuat seseorang mengabaikan hubungan yang sehat dengan orang lain atau terjebak dalam pola “situationship” yang tidak memuaskan. Jika terjadi dalam hubungan yang sudah ada, fokus pada LO di luar hubungan dapat mengancam komitmen yang sudah dibangun. Bahkan dalam persahabatan, obsesi terhadap seorang teman dapat menciptakan dinamika yang tidak seimbang, canggung, dan akhirnya mengusir orang yang sebenarnya ingin didekati.
Spektrum Dampak dan Resolusi
Tingkat keparahan limerence sangat bervariasi, dan dampaknya serta kemungkinan resolusi pun berbeda. Tabel berikut menguraikan skenario tersebut.
| Tingkat Keparahan | Dampak pada Diri | Dampak pada Target | Kemungkinan Resolusi |
|---|---|---|---|
| Ringan | Pikiran mengganggu, tetapi fungsi sehari-hari relatif normal. Perasaan senang-sedih berganti. | Mungkin tidak menyadari, atau merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian berlebihan. | Seringkali mereda dengan sendirinya seiring waktu, terutama dengan jarak dan distraksi. |
| Sedang | Penurunan produktivitas, kecemasan sosial, penarikan diri dari lingkaran pertemanan untuk berfokus pada LO. | Merasa tertekan, diawasi, atau kesulitan menetapkan batasan yang jelas karena takut menyakiti perasaan. | Perlu usaha aktif: terapi kognitif-perilaku (CBT), mindfulness, dan membangun kesadaran untuk memutus siklus pikiran. |
| Berat | Gangguan kecemasan atau depresi klinis, isolasi sosial, pengabaian tanggung jawab besar (kerja/stud). | Merasa terancam, terganggu, atau menjadi korban dari perilaku stalking dan pelanggaran batas yang serius. | Membutuhkan intervensi profesional seperti psikoterapi intensif, dan dalam beberapa kasus, evaluasi psikiatris. Jarak fisik total seringkali diperlukan. |
Strategi Mengelola Perasaan Obsesif
Mengelola limerence membutuhkan kombinasi kesadaran diri dan tindakan disiplin. Pertama, akui dan beri nama perasaan tersebut. Menyadari bahwa yang dialami adalah limerence, bukan cinta sejati, dapat memberikan perspektif yang melegakan. Kedua, batasi paparan secara drastis. Ini termasuk digital detox: mute, unfollow, atau blokir LO di media sosial, dan hindari kontak langsung tanpa alasan penting.
Ketiga, alihkan energi. Ketika pikiran intrusif muncul, sengaja alihkan ke aktivitas yang memerlukan konsentrasi penuh, seperti olahraga, belajar keterampilan baru, atau proyek kreatif. Keempat, investasikan pada realitas. Fokuslah pada hubungan yang sudah ada di sekitar Anda—persahabatan, keluarga—dan bangun kedekatan yang nyata, bukan fantasi. Terakhir, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Seorang terapis dapat membantu menelusuri akar dari kecenderungan obsesif ini, seringkali terkait dengan harga diri atau pengalaman lampau.
Perspektif Disiplin Ilmu dan Studi Kasus
Dari kacamata psikologi klinis, obsesi terhadap orang lain dapat dilihat sebagai gejala yang berada dalam spektrum beberapa kondisi. Meskipun “limerence” itu sendiri bukan diagnosis formal dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) atau ICD-11, gejalanya tumpang tindih dengan ciri-ciri gangguan lain. Obsesi dan pikiran intrusif yang menjadi ciri limerence sangat mirip dengan yang dialami dalam Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), meskipun dalam OCD biasanya diikuti oleh kompulsi untuk meredakan kecemasan.
Selain itu, ketergantungan emosional yang ekstrem dan ketakutan akan penolakan juga beririsan dengan gejala gangguan kepribadian dependen atau borderline.
Dalam psikologi, istilah ‘limerence’ menggambarkan obsesi intens terhadap seseorang, yang bisa memengaruhi persepsi kita terhadap banyak hal, bahkan hingga cara kita mengukur jarak dalam pikiran. Perhitungan detail seperti Panjang km pada gambar tersebut membutuhkan fokus yang sama tajamnya, namun berbeda dengan limerence yang irasional, pengukuran adalah upaya objektif. Fenomena limerence sendiri, meski terasa personal, sebenarnya telah banyak dikaji dalam kerangka akademik untuk memahami dinamika ketergantungan emosional ini.
Perbandingan dengan istilah diagnostik formal penting untuk menghindari self-diagnosis yang keliru. Misalnya, jika pikiran obsesif disertai dengan keyakinan delusional bahwa LO juga mencintai Anda (padahal tidak ada bukti), ini bisa mendekati gejala gangguan delusional, tipe erotomania. Psikolog klinis akan melihat durasi, tingkat gangguan terhadap fungsi hidup, dan adanya gejala komorbid lainnya untuk menentukan apakah limerence seseorang telah berkembang menjadi gangguan mental yang memerlukan penanganan spesifik.
Studi Kasus Naratif: Perjalanan Limerence Andini
Andini, 28, seorang desainer grafis, pertama kali bertemu dengan Reza, kolega dari divisi berbeda, dalam sebuah proyek kolaborasi. Interaksi singkat yang profesional itu meninggalkan kesan mendalam. Andini mulai mencari karyanya di server perusahaan, terkesan dengan bakatnya. Pikiran “Dia yang cocok untukku” muncul tiba-tiba. Fase akut dimulai.
Andini menghabiskan jam-jamnya menganalisis setiap Slack message dari Reza, membaca nada dan waktu respons. Dia “kebetulan” menggunakan pantry di lantai Reza pada jam yang sama. Sebuah like dari Reza pada story Instagram-nya memberinya euforia selama dua hari.
Seiring bulan, intensitas meningkat. Andini menolak kencan dari pria lain, yakin bahwa Reza adalah “takdirnya.” Produktivitasnya menurun karena dia sering melamunkan skenario di mana mereka berdua mengundurkan diri dan memulai studio bersama. Saat Reza mulai serius dengan pacarnya, Andini masuk ke fase keputusasaan. Dia mencoba “membuatnya cemburu” dengan mengunggah foto dengan pria lain, yang tidak mendapatkan reaksi. Kesehatan mentalnya memburuk: sulit tidur, mudah menangis, dan menarik diri dari teman-teman yang mulai menasihatinya untuk move on.
Puncaknya adalah ketika Andini, dalam keadaan emosional, mengirim pesan panjang yang mengungkapkan semua perasaannya, yang dijawab Reza dengan sopan namun tegas bahwa ia hanya menganggap Andini sebagai kolega. Penolakan yang jelas ini, meski menyakitkan, justru menjadi awal dari de-eskalasi limerence-nya, memaksanya menghadapi realita.
Sudut Pandang Sosiologi dan Pengaruh Budaya
Sosiologi menawarkan lensa yang berbeda dengan melihat bagaimana struktur sosial dan norma budaya dapat menjadi lahan subur bagi limerence. Dalam masyarakat yang sangat individualis, di mana tekanan untuk menemukan “soulmate” sebagai sumber kebahagiaan utama sangat kuat, seseorang mungkin lebih rentan mengidealkan pasangan potensial sebagai solusi atas kesepian atau ketidakpuasan hidup. Media sosial, sebagai artefak budaya modern, memperparah hal ini dengan menciptakan ilusi akses dan kedekatan.
Kita dapat mengamati kehidupan orang lain secara konstan, mengumpulkan informasi untuk membangun fantasi tanpa pernah benar-benar terlibat dalam hubungan timbal balik yang autentik.
Norma budaya yang meromantisasi pengorbanan tanpa batas dan ketekunan dalam meraih cinta juga dapat menormalisasi perilaku limerent. Cerita-cerita tentang “menunggu bertahun-tahun” atau “membuktikan cinta” sering kali mengabaikan aspek consent dan kenyataan bahwa pihak lain memiliki otonomi untuk menolak. Pada akhirnya, sosiologi mengingatkan bahwa pengalaman psikologis seperti limerence tidak terjadi dalam ruang hampa; ia dibentuk dan diperkuat oleh narasi, teknologi, dan nilai-nilai yang dominan di masyarakat tempat individu tersebut hidup.
Terakhir
Memetakan lanskap emosi manusia, dari limerence hingga bentuk obsesi lainnya, memberikan lensa yang lebih jernih untuk menilai kesehatan hubungan kita, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Pengakuan akan keberadaan kondisi ini bukan untuk melabeli setiap rasa suka yang mendalam sebagai patologis, melainkan sebagai upaya untuk membedakan mana yang masih dalam koridor normal dan mana yang telah merambah ke wilayah yang memerlukan kewaspadaan.
Kesadaran ini menjadi fondasi untuk membangun relasi yang lebih autentik, bebas dari belenggu fantasi dan kebutuhan obsesif.
Pada akhirnya, pengetahuan tentang limerence dan konsep sejenisnya mengajak untuk melakukan introspeksi yang lebih dalam. Dengan memahami mekanisme di balik obsesi emosional, setiap individu dapat mengembangkan ketahanan diri, mengelola harapan, dan belajar memusatkan energi pada pembangunan hubungan yang timbal balik dan saling menghargai. Pemahaman ini bukanlah akhir, melainkan sebuah awal untuk navigasi yang lebih bijaksana dalam dunia perasaan yang kompleks.
Informasi FAQ
Apakah limerence sama dengan gangguan jiwa?
Tidak, limerence sendiri bukan diagnosis gangguan jiwa formal dalam manual psikiatri seperti DSM-5. Ia lebih tepat disebut sebagai keadaan psikologis intens yang menggambarkan pola pikiran dan perasaan obsesif. Namun, dalam tingkat yang parah dan berkepanjangan, gejala-gejalanya dapat tumpang tindih dengan atau memperburuk kondisi lain seperti gangguan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif.
Bisakah limerence terjadi dalam persahabatan atau hubungan non-romantis?
Ya, meskipun paling sering dibahas dalam konteks romantis, inti dari limerence adalah obsesi pada seorang “limerent object”. Objek ini bisa saja seorang teman, selebritas, mentor, atau bahkan seseorang yang hanya dikenal dari jauh, selama individu tersebut mengalami pikiran intrusif dan ketergantungan emosional yang kuat terhadap orang itu.
Berapa lama limerence biasanya berlangsung?
Durasi limerence sangat bervariasi, mulai dari beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Rata-rata, fase intensnya dapat berlangsung sekitar 18 bulan hingga 3 tahun. Durasi ini sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya umpan balik dari sang target, dinamika hubungan, dan upaya individu untuk mengelola pikirannya.
Apakah orang yang menjadi target limerence (limerent object) selalu tidak menyadarinya?
Tidak selalu. Seringkali, perilaku dari orang yang mengalami limerence, seperti perhatian berlebihan, komunikasi intens, atau pengawasan melalui media sosial, dapat terasa oleh targetnya. Hal ini justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan, tekanan, atau bahkan rasa takut pada target, tergantung pada intensitas dan cara manifestasinya.