Kalimat Persuasif Kritik Sastra: Dua Garis Biru

“Dua Garis Biru” menyuguhkan sebuah narasi yang memikat, namun sayangnya alur cerita terasa terlalu dipaksakan pada bagian klimaks, mengurangi kedalaman emosional yang seharusnya mengalir alami.

Karakter utama yang seharusnya menjadi pusat empati justru terkesan datar karena kurangnya pengembangan backstory yang memadai, sehingga pembaca sulit merasakan ikatan yang kuat.

Penggunaan simbolisme warna biru memang kreatif, tetapi eksekusinya terkesan berlebihan sehingga mengaburkan makna asli yang ingin disampaikan penulis.

Dialog-dialog dalam novel ini sering kali terdengar tidak realistis, mengorbankan keaslian suara karakter demi gaya bahasa yang terlalu flamboyan.

Walaupun setting era 1970-an berhasil direkonstruksi dengan detail yang memukau, beberapa elemen historis terlewatkan sehingga mengurangi kredibilitas latar waktu.

Secara keseluruhan, “Dua Garis Biru” memiliki potensi besar dalam menggali tema cinta dan kehilangan, namun ketidakseimbangan antara gaya penulisan dan kedalaman cerita membuatnya belum sepenuhnya memuaskan.

BACA JUGA  Penyebab Perbedaan Waktu Berdasarkan Cerita Teman‑teman Udin

Leave a Comment