Kerajaan Aceh Sudah Miliki Jenjang Pendidikan Islam Sistematis Sejak Abad Ke-16

Kerajaan Aceh Sudah Miliki Jenjang Pendidikan Islam Sistematis jauh sebelum banyak wilayah lain menyadari pentingnya sebuah kurikulum yang terstruktur. Pada puncak kejayaannya, Kesultanan Aceh Darussalam bukan hanya gemilang dalam perdagangan dan militer, melainkan juga menjadi mercusuar intelektual Islam di Nusantara. Suasana ibu kota kerajaan saat itu begitu dinamis, dipenuhi oleh diskusi-diskusi ilmiah, gemanya pengajian, dan semangat menuntut ilmu yang menjadikan pendidikan sebagai nadi peradaban.

Sistem yang dibangun bukanlah sesuatu yang asal-asalan. Dari tingkat paling dasar untuk anak-anak hingga perguruan tinggi bagi calon ulama dan cendekiawan, setiap jenjang memiliki fungsi, kurikulum, dan infrastrukturnya sendiri. Lembaga-lembaga seperti meunasah, rangkang, dan dayah beroperasi dalam sebuah ekosistem pengetahuan yang saling melengkapi, didukung oleh ulama-ulama mumpuni dan sistem wakaf yang kuat, menciptakan sebuah model pendidikan Islam yang komprehensif dan sangat maju pada masanya.

Kerajaan Aceh telah membangun sistem pendidikan Islam yang sangat sistematis, menekankan keseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat. Konsep keseimbangan ini, menariknya, bisa diibaratkan seperti latihan fisik sederhana Cara Berdiri dengan Satu Kaki yang melatih fokus dan stabilitas. Demikian pula, kurikulum yang terstruktur di Aceh kala itu dirancang untuk membangun pondasi keilmuan yang kokoh, memastikan generasi penerus tidak goyah dalam menghadapi tantangan zaman.

Pendahuluan: Konteks Historis dan Signifikansi

Kerajaan Aceh Sudah Miliki Jenjang Pendidikan Islam Sistematis

Source: slidesharecdn.com

Pada puncak kejayaannya, Kesultanan Aceh Darussalam bukan sekadar kekuatan politik dan militer yang disegani. Lebih dari itu, ia berfungsi sebagai mercusuar peradaban Islam di Nusantara, sebuah episentrum intelektual yang cahayanya menyinari wilayah sekitarnya. Berdiri pada awal abad ke-16, kerajaan ini dengan cepat memahami bahwa kekuatan sejati terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan. Dalam konteks inilah, pendidikan Islam bukan lagi menjadi kegiatan sampingan, melainkan prioritas utama negara yang dijalankan dengan kesadaran penuh dan perencanaan yang matang.

Ibu kota Kesultanan Aceh, terutama di masa Sultan Iskandar Muda, menggambarkan suasana yang hidup dan dinamis. Pusat kota bukan hanya ramai dengan aktivitas perdagangan rempah, tetapi juga hiruk-pikuk diskusi keagamaan, debat ilmiah, dan riuh rendah para penuntut ilmu. Lingkungan ini diciptakan secara sengaja oleh penguasa yang mendatangkan ulama-ulama terkemuka dari Timur Tengah dan India, sekaligus mendorong lahirnya cendekiawan lokal. Suasana intelektual yang kondusif inilah yang menjadi tanah subur bagi tumbuhnya sistem pendidikan Islam yang terstruktur dan berjenjang, jauh sebelum konsep serupa diadopsi secara luas di dunia modern.

Struktur dan Jenjang Pendidikan yang Diterapkan

Sistem pendidikan di Kesultanan Aceh dikenal dengan istilah “meunasah, rangkang, dayah”. Ini bukan sekadar pembagian tempat belajar, melainkan sebuah jenjang akademik yang sistematis, mulai dari pendidikan dasar hingga setara perguruan tinggi. Setiap jenjang memiliki fungsi, kurikulum, dan target pencapaian yang jelas, membentuk sebuah piramida pengetahuan yang kokoh.

Meunasah berperan sebagai sekolah dasar yang tersebar di setiap gampong (desa). Di sinilah anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, menulis huruf Jawi (Arab-Melayu), serta dasar-dasar fikih dan akidah. Setelah lulus, siswa yang berbakat dan ingin mendalami ilmu akan melanjutkan ke Rangkang, yang biasanya berada di kompleks masjid besar atau dayah. Rangkang berfungsi seperti sekolah menengah, dengan materi yang lebih kompleks. Puncak dari sistem ini adalah Dayah, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang dipimpin oleh seorang ulama besar (Teungku Chik).

BACA JUGA  Jumlah Anak Susilo Bambang Yudhoyono dan Profil Keluarganya

Warisan intelektual Kerajaan Aceh yang tercermin dari sistem pendidikan Islamnya yang tersusun rapi menunjukkan bagaimana sebuah peradaban maju selalu mengedepankan pendekatan holistik. Prinsip integrasi multidisiplin ini, yang dulu diterapkan dalam ilmu keagamaan, kini juga sangat relevan untuk membangun ketahanan pangan, misalnya melalui Pendekatan Terpadu dalam Pertanian: Tanah, Hidrografi, Cuaca, dan Teknologi. Dengan demikian, semangat Aceh untuk mensistematisasi pengetahuan menemukan padanannya dalam upaya kontemporer menyinergikan berbagai aspek untuk mencapai kemandirian yang berkelanjutan.

Dayah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat pengkajian, penerbitan kitab, dan pembentukan karakter ulama.

Jenjang Pendidikan Lokasi Utama Materi Pokok Durasi & Karakteristik
Meunasah Setiap Gampong (Desa) Membaca Al-Qur’an, Menulis Jawi, Fikih Dasar, Akhlak 3-5 tahun. Pendidikan wajib dasar, bersifat komunal dan menyatu dengan kehidupan desa.
Rangkang Kompleks Masjid Besar atau Dayah Induk Nahwu-Sharaf (Tata Bahasa Arab), Fikih, Tauhid, Tarikh Islam 4-6 tahun. Pendidikan menengah, seringkali dengan sistem asrama sederhana.
Dayah Pusat Kota atau Lokasi Khusus Ilmu Tafsir, Hadis, Fikih Perbandingan, Tasawuf, Filsafat, Mantik 7-15 tahun atau lebih. Pendidikan tinggi khusus, full-board asrama (komplek), menghasilkan ulama atau ahli ilmu.

Kurikulum dan Metode Pengajaran: Kerajaan Aceh Sudah Miliki Jenjang Pendidikan Islam Sistematis

Kurikulum pendidikan Aceh klasik dibangun atas fondasi yang kuat: penguasaan alat ilmu (bahasa Arab) dan pendalaman sumber ilmu (Al-Qur’an dan Hadis). Pada jenjang awal, penekanan diberikan pada hafalan dan pemahaman praktis. Semakin tinggi jenjangnya, semakin kompleks dan mendalam materi yang diajarkan, mencakup ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, Sharaf, dan Mantik, serta ilmu-ilmu inti seperti Tafsir, Hadis, Fikih, Ushul Fikih, Tauhid, dan Tasawuf.

Metode pengajaran yang dominan adalah metode tradisional Nusantara yang telah teruji. Metode Sorogan menuntut siswa membaca kitab di hadapan guru secara individual, sangat efektif untuk melatih ketelitian. Metode Bandongan atau Wetonan adalah kuliah umum di mana guru membacakan dan menerangkan kitab, sementara siswa menyimak dan membuat catatan. Sementara itu, Halaqah (lingkaran diskusi) digunakan untuk mendalami masalah tertentu secara lebih interaktif dan dialogis.

Seorang penjelajah asing pada abad ke-17 menggambarkan suasana di sebuah dayah ternama: “Ratusan santri duduk bersila di serambi kayu yang luas, mengelilingi sang Teungku Chik yang duduk di atas tikar khusus. Suara guru yang tenang namun berwibawa membacakan kitab Bustan al-Salatin bergantian dengan suara gemersik pena buluh yang menari di atas kertas dluang. Udara pagi yang sejuk bercampur dengan aroma kertas tua dan tinta, menciptakan atmosfer khidmat yang memusatkan pikiran semata pada kata-kata ilmu yang mengalir.”

Infrastruktur dan Dukungan Kelembagaan

Keberlangsungan sistem pendidikan yang maju ini ditopang oleh infrastruktur dan kelembagaan yang solid. Awalnya, masjid berfungsi sebagai pusat segala aktivitas keilmuan. Seiring waktu, berkembanglah bangunan khusus di samping masjid, yaitu rangkang, dan akhirnya kompleks dayah yang mandiri. Kompleks dayah biasanya terdiri dari balai pengajian, asrama (rumoh aceh) untuk santri, kediaman teungku, perpustakaan (khizanah al-kutub), dapur umum, dan kadang bahkan lahan pertanian.

BACA JUGA  Rumus Senyawa Kalium Sulfida Karbon Tetraklorida Magnesium Iodida Kalsium Fluorida

Peran ulama atau teungku sangat sentral, tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembina dan figur teladan. Sistem pendanaan yang utama berasal dari wakaf, baik berupa tanah, kebun, maupun toko yang hasilnya dialokasikan untuk biaya operasional dayah, gaji guru, dan beasiswa bagi santri tidak mampu. Dukungan kelembagaan ini memastikan pendidikan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, tanpa membebani kas negara.

  • Perpustakaan (Khizanah al-Kutub): Menyimpan kitab-kitab manuskrip dari berbagai disiplin ilmu, baik yang ditulis lokal maupun yang didatangkan dari Makkah, Istanbul, dan Kairo.
  • Asrama (Komplek Dayah): Menciptakan lingkungan hidup berjamaah yang disiplin, di mana proses belajar berlangsung 24 jam melalui interaksi antar santri dan dengan guru.
  • Jaringan Murid (Sanad Keilmuan): Setiap lulusan dayah membawa sanad (mata rantai) keilmuan dari gurunya, yang kemudian menyebar dan mendirikan dayah cabang di daerah asal, memperluas pengaruh dan standardisasi ilmu.
  • Dukungan Istana: Sultan sering memberikan hibah tanah dan perlindungan politik kepada dayah-dayah besar, serta mengangkat lulusannya menjadi qadi, penasihat kerajaan, atau duta.

Tokoh Kunci dan Karya Monumental

Kualitas sebuah sistem pendidikan diukur dari output yang dihasilkannya. Dalam hal ini, Kesultanan Aceh melahirkan sejumlah ulama dan intelektual Muslim kelas dunia. Mereka adalah produk sekaligus penggerak dari sistem jenjang pendidikan yang sistematis tersebut. Karya-karya tulis mereka, yang dikenal sebagai “kitab kuning”, menjadi rujukan utama tidak hanya di Nusantara tetapi juga di pusat-pusat Islam dunia.

Karya-karya monumental ini lahir dari tradisi keilmuan yang ketat di dayah. Prosesnya dimulai dari pengajaran, diskusi, kemudian dituangkan dalam tulisan sebagai bentuk pengabadian ilmu dan jawaban atas permasalahan aktual masyarakat. Kitab-karya ini ditulis dalam bahasa Melayu-Jawi, sehingga memungkinkan diseminasi ilmu yang luas di kalangan masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab secara mendalam.

Tokoh Ulama Peran Institusional Karya Tulis Utama Pengaruh dan Kontribusi
Syekh Nuruddin Ar-Raniri Mufti Besar Kesultanan, Penasihat Sultan Iskandar Tsani Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja), Sirat al-Mustaqim (Fikih), Hujjat al-Shiddiq (Teologi) Membersihkan ajaran tasawuf menyimpang, menstandarkan fikih Syafi’i, menulis ensiklopedia sejarah dan pemerintahan.
Syekh Abdurrauf As-Singkili Qadi Malikul Adil, Syekh Dayah di Singkil Mir’at al-Tullab (Fikih), Tarjuman al-Mustafid (Tafsir Al-Qur’an Melayu pertama lengkap) Mentransmisikan ilmu dari guru-guru di Yaman, karyanya menjadi textbook standar di dayah seluruh Nusantara selama berabad-abad.
Syamsuddin as-Sumatrani Mufti dan Penasihat Spiritual Sultan Iskandar Muda Nur al-Daqa’iq (Tasawuf Falsafi) Mengembangkan wacana tasawuf wahdat al-wujud yang berpengaruh di kalangan istana dan intelektual.

Warisan dan Dampak terhadap Masyarakat

Sistem pendidikan yang terstruktur ini secara langsung membentuk stratifikasi sosial yang berbasis ilmu, bukan hanya keturunan. Ia melahirkan tiga kelompok elite baru: ulama (ahli agama dan hukum), intelektualbirokrat religius (qadi, penghulu, sultan’s advisor). Jalur dayah menjadi pintu masuk utama untuk menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan dan penegakan hukum.

Kemajuan sistem pendidikan Islam di Kerajaan Aceh yang sudah tersusun rapi sejak abad ke-16 menunjukkan kecanggihan berpikir logis dan terstruktur pada masanya. Pola pikir sistematis semacam ini ternyata juga sangat relevan dalam dunia ilmu eksakta modern, misalnya saat Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear 3x+7y=13 dan x+3y=5 dengan Matriks yang memerlukan langkah-langkah metodis. Dengan demikian, warisan intelektual Aceh itu sejatinya telah meletakkan fondasi penting bagi pengembangan disiplin ilmu, termasuk matematika, melalui pendekatan yang teratur dan berjenjang.

Dampaknya terhadap stabilitas politik dan hukum sangat nyata. Hukum yang diterapkan adalah Qanun yang bersumber dari Syariat Islam, dan para penegaknya adalah lulusan dayah yang memahami ilmu fikih secara mendalam. Hal ini menciptakan keselarasan antara hukum negara, nilai agama, dan budaya masyarakat. Budaya literasi dan penghargaan terhadap ilmu juga meresap kuat, yang tercermin dari banyaknya naskah dan karya sastra bernuansa Islam yang lahir pada periode ini.

Relevansi sistem ini dengan pendidikan Islam modern di Indonesia sangatlah jelas. Pola jenjang “meunasah-rangkang-dayah” adalah cikal bakal dari sistem pesantren salafiyah yang masih eksis hingga kini, dengan jenjang Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah, bahkan hingga perguruan tinggi (Ma’had Aly). Konsep pendidikan integral yang menggabungkan asrama, keteladanan guru (kyai), dan kurikulum berbasis kitab kuning, merupakan warisan langsung dari tradisi Aceh yang telah disistematisasi berabad-abad lalu.

Hal ini menunjukkan bahwa jauh sebelum kolonialisme memperkenalkan sistem sekolah modern, Nusantara telah memiliki tradisi keilmuan yang tinggi, terstruktur, dan mampu melahirkan peradaban.

Penutup

Warisan sistem pendidikan Kesultanan Aceh ini meninggalkan jejak yang dalam, jauh melampaui batas waktu dan geografinya. Ia tidak hanya melahirkan generasi ulama dan pemikir yang karya-karyanya masih dirujuk hingga kini, tetapi juga membentuk kerangka masyarakat yang beradab, stabil secara politik, dan kuat dalam identitas keislamannya. Melihat kompleksitas dan keberhasilannya, sistem jenjang pendidikan Aceh klasik ini menawarkan pelajaran berharga tentang integrasi ilmu, komitmen kelembagaan, dan relevansi yang tetap terasa bagi upaya pengembangan pendidikan Islam yang bermutu dan kontekstual di era modern.

Jawaban untuk Pertanyaan Umum

Apakah perempuan juga bisa mengakses jenjang pendidikan tinggi di Kerajaan Aceh?

Ya, terdapat catatan historis bahwa perempuan, terutama dari kalangan bangsawan, juga memiliki akses kepada pendidikan. Beberapa dayah diketahui menerima santriwati, dan sejumlah perempuan Aceh menjadi ulama atau ahli dalam bidang keilmuan Islam pada masanya.

Bagaimana hubungan sistem pendidikan Aceh dengan jaringan ilmu di Timur Tengah?

Sangat erat. Banyak ulama Aceh yang menimba ilmu langsung ke Haramain (Mekah dan Madinah), dan sebaliknya, ulama dari Timur Tengah juga datang mengajar ke Aceh. Hal ini membuat kurikulum dan kitab-kitab yang dipelajari sangat selaras dengan perkembangan ilmu di pusat dunia Islam.

Apakah selain ilmu agama, diajarkan juga ilmu umum seperti matematika atau astronomi?

Iya. Dalam jenjang yang lebih tinggi (dayah), ilmu-ilmu alat seperti matematika (hisab), astronomi (falak), kedokteran (tibb), dan filsafat (hikmah) juga dipelajari sebagai penunjang pemahaman agama yang lebih mendalam dan untuk kebutuhan praktis kerajaan.

Apakah sistem pendidikan ini bertahan setelah kerajaan Aceh runtuh?

Inti dari sistem ini, khususnya lembaga dayah, menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Dayah-dayah tetap berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam tradisional di Aceh hingga saat ini, meski beberapa penyesuaian telah dilakukan seiring perubahan zaman.

Leave a Comment