Kesultanan Islam Nusantara Berawal dari Pesisir Memperkuat Penyebaran Islam

Kesultanan Islam Nusantara Berawal dari Pesisir, Memperkuat Penyebaran Islam bukan sekadar narasi sejarah biasa, melainkan cerita tentang bagaimana gelombang samudera menjadi pembawa risalah. Bayangkan: pelabuhan-pelabuhan ramai di abad ke-7 hingga ke-13 Masehi bukan cuma tempat bongkar muat rempah, tapi juga titik temu para pedagang dari Gujarat, Persia, dan Arab dengan masyarakat lokal. Di sinilah percakapan perdagangan beringsut menjadi dialog spiritual, di tepian yang terbuka terhadap angin baru.

Perlu diakui, Kesultanan Islam Nusantara memang berakar dari pesisir, strategi geopolitik yang cerdas untuk memperkuat penyebaran agama. Proses akulturasi ini, mirip seperti semangat gotong royong dalam tulisan Minta bantuan, teman‑teman, terima kasih , menunjukkan bahwa Islam menyebar bukan semata melalui otoritas, tetapi juga jaringan sosial yang solid. Dari sanalah kemudian pengaruh politik dan budaya kerajaan-kerajaan Islam itu menguat ke pedalaman.

Karakteristik masyarakat pesisir yang dinamis, terbuka, dan telah terintegrasi dalam jaringan dagang global menjadi lahan subur bagi benih Islam untuk pertama kali bertumbuh. Berbeda dengan pedalaman yang seringkali lebih tertutup, masyarakat pantai sudah akrab dengan perbedaan dan nilai-nilai praktis. Faktor inilah, ditambah dengan ajaran Islam yang egaliter dan sesuai dengan semangat kemaritiman, yang membuatnya mudah diterima. Jejak-jejak awal kesultanan seperti Samudera Pasai dan Gowa-Tallo pun bermula dari wilayah strategis ini, membentuk negara maritim yang tangguh.

Pengantar: Konsep Dasar Kesultanan Islam Pesisir

Jika kita telusuri peta sejarah Islam di Nusantara, titik-titik awal yang menyala justru berada di tepian, bukan di pusat. Fenomena ini bukan kebetulan. Masyarakat pesisir Nusantara, yang terbiasa dengan gelombang dan kapal asing, pada dasarnya telah memiliki mentalitas kosmopolitan jauh sebelum Islam datang. Mereka adalah pelaut, pedagang antar-pulau, dan penghubung alami bagi jaringan dagang yang membentang dari Timur Tengah hingga Tiongkok.

Karakter sosial mereka lebih terbuka dan dinamis dibandingkan masyarakat agraris di pedalaman yang cenderung terikat pada struktur hierarkis yang ketat dan tradisi leluhur yang mapan.

Peran strategis lokasi pesisir mencapai puncaknya antara abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, ketika Selat Malaka dan jalur rempah-rempah menjadi urat nadi perdagangan dunia. Kota-kota pelabuhan seperti Lamreh (Aceh), Barus (Sumatra Utara), dan Tuban (Jawa) menjadi melting pot budaya. Di sinilah Islam masuk, bukan dengan pedang dan penaklukan militer yang masif, tetapi melalui transaksi jual-beli, percakapan di dermaga, dan hubungan kekerabatan.

Faktor pendorong penerimaan Islam di pesisir sangat jelas: agama baru ini datang dengan jaringan dagang global yang menguntungkan, ajarannya yang egaliter cocok untuk masyarakat pedagang, dan sistem hukumnya (syariah) memberikan kepastian dalam kontrak bisnis yang kompleks, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam transaksi lintas bangsa.

Karakteristik Masyarakat Pesisir sebagai Pintu Gerbang

Masyarakat pesisir hidup dalam ekosistem yang bergantung pada keluar-masuknya informasi dan barang. Mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari suku, bahasa, dan kepercayaan yang berbeda. Kelenturan budaya ini menjadi media yang subur bagi benih Islam untuk tumbuh. Berbeda dengan kerajaan Hindu-Buddha di pedalaman yang berpusat pada dewa-raja dan sistem kasta, struktur sosial di pelabuhan lebih longgar. Seorang nahkoda yang sukses bisa menjadi orang terpandang karena keahlian dan kekayaannya, bukan karena keturunan.

Prinsip Islam tentang kesetaraan di hadapan Tuhan dan pentingnya mencari ilmu (seperti dalam hadis “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”) sangat resonan dengan semangat mereka.

Jejak Arkeologis dan Historis Kesultanan Pesisir Awal: Kesultanan Islam Nusantara Berawal Dari Pesisir, Memperkuat Penyebaran Islam

Bukti-bukti fisik kehadiran Islam awal di Nusantara hampir seluruhnya ditemukan di wilayah pesisir. Batu nisan, makam kuno, dan reruntuhan permukiman di tepi laut menjadi saksi bisu yang berbicara lantang. Penemuan-penemuan arkeologis ini tidak hanya menandai tahun, tetapi juga mengungkap jaringan koneksi yang luas, menunjukkan dari mana para pembawa Islam itu berasal dan bagaimana corak keislaman awal itu terbentuk.

BACA JUGA  Jumlah Siswa yang Ikut Kedua Ekstrakurikuler di Kelas VIIA

Catatan Awal dalam Batu dan Makam

Salah satu bukti tertua adalah kompleks makam di Leran, Gresik, Jawa Timur, yang memiliki batu nisan bertarikh 1082 Masehi atau 475 Hijriah dengan nama Fatimah binti Maimun. Gaya aksara Kufi pada nisan tersebut menunjukkan pengaruh Timur Tengah yang kuat. Demikian pula dengan makam-makam di Troloyo, Trowulan, yang berasal dari era Majapahit akhir, menunjukkan adanya komunitas Muslim yang hidup damai di ibu kota kerajaan Hindu-Buddha terbesar, kemungkinan besar melalui hubungan perdagangan.

Kompleks makam Islam kuno di Barus, sering dikaitkan dengan makam Syaikh Rukunuddin yang wafat tahun 672 H (1274 M), meskipun masih diperdebatkan, memperkuat narasi bahwa pesisir barat Sumatra adalah daerah persinggahan awal.

Nama Kesultanan Awal Lokasi Pesisir Periode Berdiri Bukti Arkeologis Utama
Samudera Pasai Pantai Utara Sumatra (Aceh) Abad ke-13 M Batu nisan Sultan Malik as-Salih (1297 M), koin emas (dirham) dengan kalimat syahadat, kompleks makam raja-raja Pasai.
Kesultanan Peureulak Timur Aceh Abad ke-9/10 M (tradisional) Makam Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah (tahun 840 M?

diperdebatkan), menunjukkan jejak sangat awal.

Kesultanan Ternate Kepulauan Maluku Abad ke-15 M Masjid Sultan Ternate kuno, kompleks makam kesultanan di Batu Tembaga, benteng-benteng pesisir.
Kerajaan Islam Demak Pesisir Utara Jawa Abad ke-15 M Masjid Agung Demak (dengan soko tatal), makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, situs pelabuhan Bergota.

Corak Islam Pesisir Barat dan Timur

Meski sama-sama tumbuh di pesisir, corak Islam yang berkembang di ujung barat dan timur Nusantara memiliki nuansa berbeda akibat perbedaan jalur kontak dan konteks sosial.

  • Pesisir Barat (Samudera Pasai, Perlak): Pengaruh langsung dari Timur Tengah (terutama Persia dan Gujarat) sangat kuat. Hal ini terlihat dari gaya batu nisan, penggunaan gelar “Malik” (raja) yang berasal dari tradisi Persia, dan perkembangan tasawuf ortodoks. Pasai menjadi pusat studi Islam pertama yang banyak melahirkan ulama.
  • Pesisir Timur (Ternate, Tidore, Gowa): Islamisasi lebih banyak dipengaruhi oleh jaringan dari Jawa dan juga pedagang Arab/Melayu yang datang untuk rempah. Proses islamisasi sering kali bertautan dengan persaingan politik antarkerajaan untuk menguasai perdagangan cengkih dan pala. Corak keislamannya lebih cepat berakulturasi dengan budaya lokal dan kepentingan politik praktis.

Mekanisme Penyebaran Islam Melalui Jaringan Pesisir

Penyebaran Islam di Nusantara adalah sebuah proses jaringan yang canggih, di mana agama, perdagangan, dan kekuasaan saling menguatkan. Pelakunya bukanlah satu kelompok tunggal, melainkan sebuah simbiosis mutualisme antara para pedagang yang membawa ajaran, ulama yang mendalami dan mengajarkannya, serta penguasa lokal yang melihat manfaat politis dan ekonomis dari konversi ini.

Strategi penyebaran Islam di Nusantara berawal dari pesisir, di mana kesultanan-kesultanan Islam tumbuh sebagai pusat perdagangan dan dakwah yang dinamis. Proses akulturasi ini ibarat menganalisis sebuah rangkaian listrik kompleks, di mana kita perlu Tentukan kondisi tiap lampu: menyala, redup, atau mati untuk memahami kontribusi masing-masing elemen. Dengan cara serupa, memahami peran masing-masing kesultanan pesisir—dari Samudera Pasai hingga Demak—memperkuat narasi tentang bagaimana Islam mengakar dan menyebar secara organik ke seluruh penjuru Nusantara.

Aktor Utama: Pedagang, Ulama, dan Mubaligh

Kesultanan Islam Nusantara Berawal dari Pesisir, Memperkuat Penyebaran Islam

Source: slidesharecdn.com

Para pedagang Muslim, yang telah menetap sementara atau permanen di bandar-bandar, adalah duta-duta informal pertama. Mereka mempraktikkan syariah dalam muamalah (transaksi), mendirikan tempat ibadah sederhana, dan menikahi perempuan lokal. Dari komunitas inilah kemudian lahir generasi Muslim pribumi pertama. Kehadiran ulama dan mubaligh, sering kali juga berasal dari kalangan pedagang yang terpelajar, memberi kedalaman teologis. Mereka datang melalui jalur laut yang sama, terkadang sengaja berdakwah, terkadang karena terdampar.

Sunan Gunung Jati, misalnya, disebut-sebut memiliki darah Mesir-Campadan dan melakukan perjalanan dakwah melalui jalur maritim.

Alur Integrasi Perdagangan, Budaya, dan Agama

  • Aktivitas Perdagangan Rempah: Menciptakan kota pelabuhan yang ramai dan kosmopolitan.
  • Pertukaran Budaya: Di pelabuhan, terjadi percampuran bahasa, seni, dan kebiasaan antara pendatang dan lokal.
  • Transmisi Ajaran Islam: Ajaran Islam diperkenalkan melalui interaksi sehari-hari, pernikahan, dan keteladanan perilaku ekonomi yang jujur.
  • Legitimasi Politik: Penguasa lokal yang masuk Islam mendapatkan akses ke jaringan dagang global yang lebih luas, dukungan komunitas Muslim, dan legitimasi baru sebagai “Sultan”.
  • Institusionalisasi: Berdirinya kesultanan mendorong pembangunan masjid, pesantren, dan penerapan hukum Islam, yang mempercepat dan menguatkan penyebaran.

Asimilasi Ritual Lokal dan Praktik Islam

Proses islamisasi di pesisir sangat adaptif. Banyak ritual atau kepercayaan lokal yang tidak dihilangkan, tetapi diislamkan atau diberi makna baru. Salah satu contoh yang paling jelas terlihat dalam tradisi selamatan atau kenduri di masyarakat pesisir Jawa.

Upacara selamatan, yang sebelumnya merupakan persembahan kepada roh leluhur atau kekuatan alam, diadaptasi menjadi bentuk syukuran kepada Allah SWT. Bacaan doa-doa Islam (tahlil, tahmid, tasbih) menggantikan mantra. Makanan yang disajikan tetap ada, tetapi niatnya berubah dari “penyembahan” menjadi “sedekah” dan alat untuk silaturahmi. Bahkan, sesajen bunga dan kemenyan dalam bentuknya yang paling halus kadang tetap ada sebagai simbolisasi, bukan sebagai objek pemujaan, menunjukkan kelenturan dakwah waktu itu.

Struktur Politik dan Kekuasaan Kesultanan Maritim

Kesultanan Islam pesisir bukanlah kerajaan agraris biasa. Kekuasaan mereka bertumpu pada kontrol atas pelabuhan, jalur pelayaran, dan komoditas perdagangan. Oleh karena itu, struktur politik dan birokrasinya dirancang untuk mengelola kompleksitas ekonomi maritim dan hubungan internasional.

Sistem Pemerintahan dan Hukum

Kesultanan seperti Demak, Banten, dan Gowa-Tallo menerapkan sistem yang hybrid. Di satu sisi, mereka mengadopsi struktur kerajaan Jawa atau Bugis yang sudah ada (seperti adanya patih, senopati, dan sistem pembagian wilayah). Di sisi lain, mereka memasukkan institusi Islam secara sentral. Sultan bukan hanya raja, tetapi juga pemimpin agama (sebagian menyandang gelar “Khalifatullah”). Hukum syariah diterapkan, khususnya di bidang muamalah (perdagangan), munakahat (pernikahan), dan jinayat (pidana tertentu), sering kali berdampingan dengan hukum adat setempat.

Di Demak, para Wali Songo bahkan berperan sebagai dewan penasihat spiritual dan politik yang sangat berpengaruh.

Peran Sentral Syahbandar

Dalam struktur birokrasi kesultanan maritim, Syahbandar atau kepala pelabuhan adalah jabatan yang sangat strategis dan sering kali diisi oleh orang kepercayaan Sultan atau bahkan saudagar asing yang berpengaruh. Tugasnya meliputi memungut bea cukai, mengatur penimbunan barang, menyelesaikan sengketa dagang, mengurus logistik kapal, dan menjadi penghubung pertama dengan pedagang asing. Pada praktiknya, Syahbandar adalah menteri ekonomi dan luar negeri yang sesungguhnya.

Kekayaan dan informasi yang lalu-lalang melalui tangannya membuat posisi ini sangat berkuasa.

Strategi Diplomasi dan Ekspansi Maritim

Ekspansi kekuasaan kesultanan pesisir dilakukan dengan strategi khas maritim yang berbeda dengan perang terbuka di darat.

  • Aliansi melalui Pernikahan Politik: Strategi paling umum. Sultan-sultan menikahkan anak atau kerabatnya dengan penguasa daerah lain (baik pesisir maupun pedalaman) untuk mengikat loyalitas dan memperluas pengaruh tanpa pertumpahan darah. Pernikahan antara keluarga Kesultanan Demak dengan penguasa Cirebon dan Banten adalah contoh klasik.
  • Kontrol atas Jalur Pelayaran Strategis: Kesultanan seperti Gowa-Tallo dan Banten membangun armada laut yang kuat untuk mengamankan, atau memonopoli, jalur perdagangan rempah dan lada. Penguasaan atas Selat Sunda oleh Banten adalah kunci kemakmurannya.
  • Proteksi dan Patronase: Kesultanan menawarkan perlindungan kepada pedagang dan pelaut yang bersedia berlabuh di pelabuhannya, dengan imbalan pembayaran cukai. Mereka juga menjadi patron bagi para ulama dan pesantren, yang dakwahnya secara tidak langsung melebarkan pengaruh kultural kesultanan.
  • Ekspedisi Dakwah dan Perdagangan Gabungan: Ekspansi ke pedalaman sering kali merupakan paket: misi dagang diiringi oleh mubaligh. Penaklukan secara militer baru dilakukan jika wilayah target menolak masuk Islam sekaligus mengancam kepentingan ekonomi kesultanan.

Transformasi Budaya dan Intelektual di Kota-Kota Pelabuhan

Kota pelabuhan Islam tidak hanya menjadi pusat kekayaan materi, tetapi juga kawah candradimuka bagi perkembangan budaya dan intelektual baru. Di tempat-tempat inilah terjadi sintesis kreatif antara tradisi Islam, lokalitas Nusantara, dan pengaruh global, melahirkan ekspresi-ekspresi kebudayaan yang unik.

Perkembangan Sastra, Seni, dan Arsitektur, Kesultanan Islam Nusantara Berawal dari Pesisir, Memperkuat Penyebaran Islam

Karya sastra berkembang pesat, sering kali ditulis dalam aksara Arab yang dimodifikasi (Pegon untuk Jawa, Jawi untuk Melayu). Karya-karya seperti “Hikayat Raja-Raja Pasai” dan “Babad Tanah Jawi” tidak hanya catatan sejarah, tetapi juga alat legitimasi dan dakwah. Seni kaligrafi menghiasi dinding masjid, nisan, dan alat-alat kerajaan, memadukan keindahan tulisan Arab dengan motif lokal seperti sulur dan bunga. Arsitektur masjid pesisir awal sangat khas: atap tumpang (seperti di Demak dan Banten) yang merupakan adaptasi dari struktur meru pra-Islam, serambi yang luas sebagai ruang sosial, dan bahan material yang kuat seperti kayu jati, menyesuaikan dengan iklim tropis dan gempa.

Pusat Pendidikan Awal di Pusat Kekuasaan

Di sekitar istana kesultanan, tumbuh pusat-pusat pendidikan Islam awal. Di Aceh, kita mengenal dayah-dayah. Di Jawa, pesantren-pesantren mulai didirikan oleh para wali, sering kali tidak jauh dari pusat kekuasaan seperti Demak dan Giri. Institusi-institusi ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama (fiqh, tauhid, tasawuf), tetapi juga menjadi tempat mencetak kader-kader yang nantinya akan menjadi birokrat, hakim (qadi), dan mubaligh untuk kesultanan.

Mereka adalah mesin reproduksi pengetahuan dan legitimasi kekuasaan.

Kesultanan Pesisir Karya Sastra Seni Bangunan Khas Pakaian dan Busana
Samudera Pasai & Aceh Darussalam Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, karya-karya Hamzah Fansuri (tasawuf wujudiyah). Masjid dengan atap limas dan mustaka, nisan batu pahat bergaya Gujarat/Delhi. Busana jas tutup dan sarung songket untuk elite, kopiah meukeutop (kopiah khas Aceh), keris sebagai aksesori.
Demak & Cirebon Babad Tanah Jawi, Kitab Sunan Bonang, Suluk-Suluk karya Wali Songo. Masjid beratap tumpang dengan soko guru, gapura kori agung (Cirebon), penggunaan keramik Tiongkok sebagai dekorasi. Baju takwa (baju muslim pria), batik dengan motif khusus seperti “keraton” dan “megamendung”, blangkon.
Gowa-Tallo & Bone Lontara (pustaka daun lontar berisi sejarah, hukum, dan silsilah), Sure’ Galigo (yang diislamkan). Masjid dengan arsitektur beratap limas besar (contoh: Masjid Katangka), benteng-benteng pesisir (Fort Rotterdam). Baju bodo (wanita Bugis), jas tutup dan lipa’ sabbe (sarung sutra) untuk pria, aksesori emas yang detail.

Dampak Jangka Panjang: Dari Pesisir ke Pedalaman

Setelah mengakar kuat di pesisir, gelombang pengaruh Islam mulai bergerak masuk ke pedalaman. Proses ini lebih lambat dan kompleks, karena harus berhadapan dengan struktur sosial dan kepercayaan yang sudah mapan selama ratusan tahun. Penyebaran ke pedalaman adalah babak kedua dari islamisasi Nusantara, yang sangat bergantung pada infrastruktur dan otoritas yang telah dibangun oleh kesultanan-kesultanan pesisir.

Metode Ekspansi Pengaruh ke Hinterland

Kesultanan pesisir menggunakan beberapa metode untuk menembus pedalaman. Pertama, melalui jalur sungai. Sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo, Brantas, atau Musi menjadi jalan raya alami bagi mubaligh dan pedagang untuk masuk. Kedua, melalui pernikahan politik dengan bangsawan pedalaman, seperti yang dilakukan Mataram Islam dengan penguasa-penguasa lokal di Jawa Tengah. Ketiga, dengan mendirikan pesantren-pesantren perifer di daerah perbatasan antara pesisir dan pedalaman, yang menjadi basis dakwah lebih lanjut.

Keempat, melalui asimilasi budaya, di mana unsur-unsur Islam diselipkan ke dalam tradisi wayang, seni, dan sastra lokal yang sudah sangat populer di pedalaman.

Tantangan di Wilayah Pedalaman

Tantangan utama berasal dari perbedaan struktur sosial. Masyarakat pedalaman sering kali terikat pada sistem kepercayaan animisme-dinamisme yang kuat dan hierarki sosial yang kaku di bawah raja atau kepala suku yang juga berperan sebagai pemimpin ritual. Agama Hindu-Buddha yang sudah institusional juga memberikan tantangan teologis yang lebih kompleks dibandingkan kepercayaan masyarakat pesisir. Selain itu, faktor geografis—hutan lebat, pegunungan—menghambat mobilitas dan komunikasi.

Dakwah di pedalaman membutuhkan pendekatan yang lebih halus, bertahap, dan sering kali harus melalui konflik atau negosiasi dengan elite penguasa setempat.

Perjalanan Dakwah dari Kota Pelabuhan

Bayangkan seorang mubaligh muda, lulusan pesantren di ibu kota kesultanan Banten. Ia tidak berangkat sendirian, tetapi bersama sebuah kafilah kecil pedagang yang membawa garam, tekstil, dan barang logam ke pedalaman Priangan. Perjalanan melalui jalur darat dan sungai memakan waktu berminggu-minggu. Setiba di sebuah perkampungan di kaki Gunung, mereka disambut dengan curiga oleh tetua adat. Sang mubaligh tidak langsung berkhotbah.

Ia tinggal lebih lama, mempelajari bahasa dan adat, membantu mengobati warga dengan doa-doa yang diislamkan dari mantra lokal, dan perlahan-lahan memperkenalkan ritual salat dan cerita-cerita nabi melalui analogi dengan tokoh dalam cerita rakyat setempat. Ia mungkin menikahi perempuan lokal, mengikat dirinya dengan komunitas. Baru setelah bertahun-tahun, sebuah langgar sederhana didirikan, dan beberapa pemuda mulai tertarik mempelajari Al-Qur’an. Begitulah, titik-titik Islam mulai menyala dari pesisir, merambat pelan namun pasti, menerangi pedalaman Nusantara.

Ringkasan Terakhir

Jadi, narasi Kesultanan Islam Nusantara yang berawal dari pesisir bukan cuma soal titik mula geografis. Ini adalah cerita tentang strategi yang cerdas: memanfaatkan jalur perdagangan global sebagai jalan dakwah, mengubah pelabuhan menjadi pusat peradaban, dan membangun kekuatan politik yang berakar pada spiritualitas. Dari pesisir, pengaruh itu merambat ke pedalaman, menghadapi tantangan namun akhirnya menyatu dalam mozaik budaya Indonesia. Warisannya masih bisa kita rasakan hingga kini, dalam arsitektur masjid, tradisi, dan struktur sosial di berbagai penjuru tanah air.

Panduan Pertanyaan dan Jawaban

Apakah ada kesultanan Islam di Nusantara yang justru berawal dari pedalaman, bukan pesisir?

Umumnya, fase awal Islamisasi dan pendirian kesultanan memang terkonsentrasi di pesisir. Namun, proses selanjutnya melibatkan ekspansi ke pedalaman yang kemudian sering mendirikan pusat kekuasaan baru lebih ke dalam, seperti yang terjadi pada Mataram Islam setelah Demak. Tapi titik masuk awalnya tetap melalui jaringan pesisir.

Mengapa kerajaan Hindu-Buddha seperti Majapahit yang juga maritim tidak mengadopsi Islam lebih dulu?

Majapahit memiliki sistem kepercayaan dan struktur sosial yang sudah sangat mapan dan terpusat. Proses islamisasi justru lebih mudah menyebar di daerah-daerah pesisir yang otonom, di mana elit penguasa lokal melihat peluang dalam jaringan dagang Muslim dan fleksibilitas ajaran Islam yang dapat beradaptasi.

Bagaimana peran perempuan dalam penyebaran Islam melalui kesultanan pesisir?

Meski jarang menjadi fokus utama catatan sejarah, peran perempuan signifikan melalui pernikahan politik antar kesultanan dan keluarga pedagang, yang memperkuat aliansi dan jaringan dakwah. Beberapa juga menjadi patron dalam pendidikan dan keagamaan, meski bukti tertulisnya lebih terbatas.

Apakah semua kesultanan pesisir memiliki hubungan langsung dengan Timur Tengah, atau melalui India?

Kedua jalur itu berperan. Bukti arkeologis seperti batu nisan dan corak arsitektur menunjukkan pengaruh kuat dari Gujarat (India) dan Coromandel. Namun, ulama dan pedagang langsung dari Arab dan Persia juga datang, menciptakan sintesis budaya yang unik di Nusantara.

Apa yang terjadi dengan kesultanan pesisir setelah kedatangan bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda?

Kedatangan Epora menggeser jalur perdagangan dan memicu perang ekonomi serta militer. Banyak kesultanan pesisir yang bertahan dengan beradaptasi, bersekutu, atau akhirnya dikalahkan. Pusat kekuatan politik dan ekonomi perlahan bergeser, dan beberapa kesultanan berubah menjadi kerajaan agraris atau kehilangan pengaruh maritimnya.

Leave a Comment