Laju Perubahan Luas Persegi Panjang saat Lebar 5 cm bukan sekadar soal angka dan rumus kalkulus yang menyeramkan. Bayangkan ini: sebuah bidang datar yang hidup, bernapas, dan terus bertumbuh seiring waktu. Di balik kesederhanaan bentuknya, tersembunyi sebuah tarian elegan antara panjang yang memanjang dan luas yang merespons dengan kecepatan tertentu. Kita akan menyelami filosofi perubahan, melihat bagaimana bidang ini berinteraksi dengan dunia, dan menemukan ritme matematika dalam hal-hal yang paling tak terduga, dari seni hingga aliran cairan.
Dengan mengunci lebar pada 5 sentimeter, kita sebenarnya sedang menciptakan sebuah panggung laboratorium yang sempurna. Di sini, panjang menjadi satu-satunya bintang yang bergerak, dan luas adalah cerita yang diceritakan oleh gerakannya. Melalui turunan dan laju perubahan, kita bisa mengukur detak jantung pertumbuhan bidang ini pada setiap momen, memotret kecepatannya yang kadang konstan, kadang berfluktuasi seperti gelombang. Konsep ini ternyata adalah kunci untuk memahami banyak fenomena di sekitar kita, jauh melampaui sekadar gambar di buku geometri.
Menari di Tepian Angka Dinamis Persegi Panjang
Bayangkan sebuah persegi panjang bukan sebagai bentuk yang beku di atas kertas, melainkan sebagai makhluk hidup yang bernapas. Salah satu sisinya, lebarnya, kita kunci menjadi 5 sentimeter—sebuah batas yang teguh dan tak tergoyahkan. Namun, sisi lainnya, panjangnya, adalah sebuah puisi yang terus ditulis oleh waktu. Setiap detik, ia bisa memanjang atau memendek, dan dengan setiap perubahan kecil itu, seluruh wilayah yang dikuasainya—luasnya—berubah pula.
Inilah esensi dari laju perubahan dalam kalkulus yang diterapkan pada geometri sederhana: menyaksikan bagaimana sebuah kuantitas (luas) berdetak mengikuti irama dari kuantitas lain (panjang).
Nah, bayangin kita lagi bahas laju perubahan luas persegi panjang saat lebarnya 5 cm. Ini seru banget, karena konsep turunan ini mirip kayak analisis gerak dalam fisika, misalnya saat kita ngulik soal Benda 4 kg pada bidang 37°: meluncur dan nilai gaya gesek. Di sana, kita cari tahu pengaruh gaya, sementara di sini, kita eksplor bagaimana perubahan panjang mempengaruhi luas secara real-time.
Jadi, memahami laju perubahan ini bikin kita makin paham dinamika variabel dalam matematika terapan.
Filosofi di balik ini sangat dalam. Kalkulus, melalui konsep turunan, memungkinkan kita mengukur perubahan yang kontinu dan halus, bukan lompatan-lompatan diskrit. Dalam konteks persegi panjang dengan lebar tetap, pertumbuhan luasnya adalah metafora sempurna untuk pertumbuhan apa pun yang bergantung linear pada satu faktor yang bergerak. Setiap sentimeter tambahan pada panjang, langsung “dicetak” menjadi tambahan wilayah sebesar 5 sentimeter persegi—karena lebarnya adalah alat pencetak yang konstan.
Ini seperti menenun kain: lebar adalah lebar alat tenun, dan panjang adalah benang yang terus ditarik; setiap sentimeter benang yang ditarik menghasilkan sebidang kain dengan area yang dapat diprediksi secara tepat.
Perbandingan Laju Perubahan pada Berbagai Panjang Tetap
Untuk memahami dampak praktisnya, mari kita lihat tabel berikut. Di sini, kita misalkan panjang (L) memiliki nilai tetap yang berbeda-beda, sementara lebar (w) tetap 5 cm. Laju perubahan panjang terhadap waktu (dL/dt) kita asumsikan konstan sebesar 2 cm/s. Rumus laju perubahan luas (dA/dt) adalah w
– (dL/dt) = 5
– 2 = 10 cm²/s. Meski laju perubahan luasnya sama, luas total awal dan “efek” setiap penambahan panjangnya berbeda konteksnya.
| Panjang Awal (L) | Luas Awal (A = L x 5) | dA/dt (w
|
Interpretasi Numerik |
|---|---|---|---|
| 8 cm | 40 cm² | 10 cm²/s | Setiap detik, luas bertambah sebesar 25% dari luas awalnya. Pertumbuhan terasa sangat agresif dan signifikan. |
| 12 cm | 60 cm² | 10 cm²/s | Penambahan 10 cm² per detik setara dengan pertumbuhan sekitar 16.7% dari luas awal. Masih pesat, tetapi mulai berkurang persentase dampaknya. |
| 20 cm | 100 cm² | 10 cm²/s | Laju pertumbuhan mutlak sama, tetapi kini hanya menambah 10% dari luas yang sudah ada setiap detiknya. Pertumbuhan terasa lebih stabil dan kurang dramatik. |
Analogi dalam Seni dan Pertumbuhan Organik
Prinsip matematika ini bergaung jauh melampaui fisika. Dalam seni lukis, bayangkan seorang pelukis yang memutuskan untuk memperpanjang sebuah garis horizon di kanvasnya. Jika gaya dan tekanan kuasnya (analog dari lebar) konsisten, maka setiap sapuan tambahan ke arah samping akan menambah area cat yang tertutup dengan laju yang tetap.
Dalam biologi, pertumbuhan sehelai daun rumput tertentu dapat dimodelkan sederhana: lebar daun sudah genetik ditentukan (mendekati konstan), sementara panjangnya bertambah seiring waktu karena pembelahan sel di bagian pangkal. Laju pertumbuhan luas daun untuk menangkap sinar matahari secara langsung sebanding dengan laju pertumbuhan panjangnya.
Bayangkan “napas” persegi panjang itu: sebuah tarikan panjang yang perlahan dan pasti. Pada satu momen yang terisolasi, katakanlah saat panjangnya tepat 13 cm, ada sebuah desahan. Desahan itu, dL/dt, adalah kecepatan sesaat sang panjang memanjang. Dan pada momen itu, seluruh bidang persegi panjang merespons dengan gemuruh yang tenang. Wilayahnya, yang sebelumnya statis, tiba-tiba mendapatkan impuls untuk berkembang. Setiap partikel di tepi yang bergerak itu seolah mendapat perintah serempak: “maju 5 satuan ke dalam!” Bukan 5 satuan panjang, tetapi 5 satuan pengaruh. Karena lebar 5 cm yang tetap itu mengalikan setiap nafas panjang, mengubahnya menjadi perluasan wilayah yang nyata dan terukur. Inilah keajaiban diferensial: kemampuan menangkap pengaruh instan dari satu variabel terhadap keseluruhan sistem.
Simfoni Diferensial dan Ritme Pertambahan Panjang
Untuk benar-benar menguasai musik yang dimainkan oleh persegi panjang yang hidup ini, kita perlu menulis partiturnya. Partitur itu adalah fungsi laju perubahan luas, dA/dt. Proses penurunannya dari persamaan dasar adalah sebuah tarian logis yang elegan, yang memungkinkan kita menghitung kecepatan perluasan wilayah hanya dari mengetahui seberapa cepat sisi panjangnya bergerak.
Langkah pertama adalah menuliskan persamaan luas yang kita ketahui: A = L
– w, dengan w adalah lebar yang konstan sebesar 5 cm. Karena L sendiri berubah terhadap waktu, maka A juga menjadi fungsi waktu. Kita ingin mengetahui dA/dt, yaitu turunan A terhadap waktu. Di sini, aturan rantai dalam kalkulus berperan. Kita turunkan kedua sisi persamaan terhadap waktu (t).
Turunan dari A terhadap t adalah dA/dt. Di sisi kanan, karena w konstan, kita perlakukan sebagai koefisien. Turunan dari L terhadap t adalah dL/dt. Maka, penerapan aturan rantai dan aturan perkalian konstanta memberikan kita: dA/dt = w
– (dL/dt). Substitusi w = 5 cm menghasilkan rumus akhir: dA/dt = 5
– (dL/dt).
Proses ini menunjukkan bahwa laju perubahan luas sepenuhnya dikendalikan oleh laju perubahan panjang, diperkuat oleh faktor pengali sebesar lebar tetap.
Variabel dalam Orkestra Kalkulus
Setiap elemen dalam persamaan ini memainkan peran spesifik dalam menghasilkan simfoni perubahan.
- L (Panjang): Variabel utama yang bergantung waktu. Ia adalah solois yang gerakannya menentukan nada dasar seluruh komposisi. Satuannya adalah sentimeter (cm).
- w (Lebar): Konstanta yang bernilai 5 cm. Ia adalah bagian ritmis yang stabil, seperti ketukan drum yang tak pernah berubah, memberikan struktur dan faktor pengali yang konsisten.
- A (Luas): Variabel dependen yang ingin kita ketahui perubahannya. Hasil akhir dari simfoni, melodi luas yang terbentuk dari permainan L dan w. Satuannya cm².
- dL/dt: Laju perubahan panjang terhadap waktu. Ini adalah “kecepatan” solois, bisa konstan atau bervariasi. Satuannya cm/s.
- dA/dt: Laju perubahan luas terhadap waktu. Target perhitungan kita, yang memberitahu seberapa cepat wilayah bertambah atau berkurang pada suatu momen. Satuannya cm²/s.
Visualisasi Grafik Tiga Dimensi
Bayangkan sebuah grafik tiga dimensi. Sumbu X mewakili waktu (t), sumbu Y mewakili panjang (L), dan sumbu Z yang vertikal mewakili luas (A). Permukaan yang terbentuk bukanlah datar, tetapi sebuah bidang miring yang melandai ke atas. Karena A = 5L, dan L sendiri adalah fungsi t, maka permukaannya seperti sebuah lembaran kertas yang ditekuk atau diregangkan sepanjang jalur yang ditentukan oleh fungsi L(t).
Jika L bertambah linear terhadap waktu, permukaannya menjadi sebuah bidang miring yang lurus. Pada titik mana pun di permukaan itu, kita dapat menggambar garis singgung. Kemiringan garis singgung pada arah sumbu waktu itulah yang merepresentasikan dA/dt. Garis singgung itu menangkap kecenderungan sesaat dari permukaan luas: ke mana dan seberapa cepat ia naik atau turun pada momen waktu yang spesifik tersebut.
Interlude Numerik dari Kecepatan Membentang yang Bervariasi
Dunia menjadi lebih menarik ketika gerakan si panjang tidak lagi teratur seperti metronom. Bagaimana jika kecepatannya memacu, atau malah berayun naik turun? Skenario ini membawa kita pada dinamika laju perubahan luas yang lebih kaya dan berlapis, di mana dA/dt tidak lagi sekadar angka konstan, tetapi sebuah cerita yang berkembang.
Skenario Studi Kasus dengan dL/dt yang Dinamis
Misalkan dalam kasus pertama, panjang bertambah dengan percepatan. Fungsi panjangnya adalah L(t) = t² + 2 (dalam cm, t dalam detik). Maka dL/dt = 2t cm/s. Pada t=3 detik, dL/dt = 6 cm/s. Laju perubahan luasnya adalah dA/dt = 5
– 6 = 30 cm²/s.
Bandingkan dengan kasus kedua yang bersifat sinusoidal, misalnya L(t) = 10 + 2 sin(t). Di sini, dL/dt = 2 cos(t). Pada t=0 detik, dL/dt = 2 cm/s, sehingga dA/dt = 10 cm²/s. Namun, pada t = π/2 detik (≈1.57 s), cos(t)=0, sehingga dL/dt = 0 dan dA/dt = 0 cm²/s—luas sesaat berhenti bertambah, berada di puncak atau lembah osilasinya sebelum berbalik arah.
Titik Kritis dan Momen Menarik
Ketika dL/dt bukan konstanta, kita dapat menganalisis titik-titik khusus pada dA/dt. Menggunakan contoh sinusoidal L(t) = 10 + 2 sin(t), kita telah melihat bahwa dA/dt = 10 cos(t). Laju perubahan luas ini akan mencapai nilai maksimum mutlak 10 cm²/s ketika cos(t) = 1 (misal di t=0). Ia akan mencapai minimum 0 cm²/s ketika cos(t)=0, dan bahkan akan menjadi negatif (luas menyusut) ketika cos(t) negatif, yaitu ketika panjang itu sendiri sedang berkurang.
Titik di mana dA/dt = 0 adalah momen kritis yang menarik: meskipun panjang mungkin masih memiliki nilai yang besar (misal di puncak sinus), laju perubahan luasnya nol. Artinya, pada momen sesaat itu, luas sedang berada di titik ekstrem lokal—baik maksimum maupun minimum—sebelum tren pertumbuhan atau penyusutannya berbalik. Ini mengajarkan bahwa besaran suatu hal (luas) tidak serta-merta memberitahu kita tentang dinamikanya (laju perubahan).
Sebuah bidang yang luas bisa saja sedang dalam keadaan diam sesaat, atau justru sedang di ambang penyusutan.
Ada keindahan yang berbeda antara perubahan yang teratur dan yang berfluktuasi. Perubahan konstan, seperti dL/dt yang tetap, menciptakan perluasan bidang yang dapat diprediksi, sebuah ekspansi yang tenang dan pasti seperti matahari terbit. Namun, perubahan yang sinusoidal menghadirkan napas yang lebih alami—ada fase ekspansi penuh semangat (dA/dt positif besar), momen hening di puncak pencapaian (dA/dt=0), periode kontraksi yang perlahan (dA/dt negatif), dan momen refleksi di dasar lembah sebelum napas baru dimulai. Persegi panjang dengan lebar tetap itu menjadi seperti sebuah organ yang bernapas: lebarnya adalah kapasitas paru-paru yang tetap, dan panjangnya adalah ritme inhalasi dan ekshalasi. Dinamika perluasannya bukan lagi soal seberapa besar ia menjadi, tetapi tentang irama dari proses menjadi itu sendiri.
Melampaui Bidang Datar: Aplikasi dalam Gelombang dan Cairan
Konsep laju perubahan luas ini bukan hanya permainan geometris. Ia menjadi fondasi untuk memodelkan fenomena dinamis di dunia nyata, seperti aliran cairan dan perambatan gelombang. Dengan membayangkan persegi panjang kita sebagai sebuah jendela atau permukaan imajiner dalam fluida yang bergerak, matematika sederhana ini tiba-tiba menjadi sangat powerful.
Pemodelan Teoretis Permukaan dan Dispersi Partikel
Source: cilacapklik.com
Anggap persegi panjang dengan lebar tetap 5 cm ini adalah sebuah “gerbang” atau area penampang imajiner di dalam sebuah aliran pipa yang dangkal. Panjang (L) mewakili dimensi gerbang yang sejajar dengan arah aliran utama, dan bisa berubah karena adanya gangguan atau pengaturan katup. Laju perubahan luas (dA/dt) dari gerbang ini secara langsung memengaruhi laju volumetrik aliran yang melintasinya jika kita anggap kecepatan fluida konstan.
Lebih menarik, dalam konteks dispersi polutan atau partikel, jika area permukaan yang terpapar cairan bertambah dengan cepat (dA/dt besar), maka laju di mana partikel dapat berdifusi atau tersebar ke area baru juga meningkat. Persegi panjang yang meluas itu seperti sebuah karpet yang digelar di bawah hujan; semakin cepat karpet dibentangkan (dA/dt tinggi), semakin cepat area basah bertambah.
Besaran Turunan dari Konsep Dasar
Dari konsep dA/dt = w
– dL/dt, kita dapat melahirkan berbagai besaran turunan jika menambahkan dimensi atau konteks fisika.
Dalam matematika, laju perubahan luas persegi panjang saat lebarnya 5 cm mengajarkan kita tentang dinamika dan adaptasi terhadap variabel waktu. Mirip seperti itu, peran ruang ibadah juga terus berevolusi, menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, sebagaimana dibahas dalam ulasan menarik tentang Fungsi Masjid di Masa Kini. Konsep perubahan ini menginspirasi kita untuk melihat bahwa, layaknya menghitung turunan fungsi luas, memahami konteks yang berubah adalah kunci untuk solusi yang relevan dan bermakna.
| Besaran Dasar | Konstanta/Tambahan | Besaran Turunan | Interpretasi Fisika |
|---|---|---|---|
| dA/dt (Laju perubahan luas) | Kecepatan Fluida (v) | Laju Aliran Volumetrik (Q = v
dA/dt?) |
Perhatikan
Sebenarnya Q = v
|
| dA/dt | Massa Jenis Fluida (ρ) | Laju Perubahan Massa yang melintas (dm/dt = ρ
|
Serupa, laju perubahan massa yang terkandung atau melintasi area yang berubah. |
| dA/dt | Intensitas Cahaya (I) | Laju Perubahan Fluks Cahaya (dΦ/dt = I
|
Seberapa cepat jumlah cahaya yang menembus suatu bidang bertambah jika bidang itu membesar. |
| dA/dt | Tegangan Permukaan (γ) | Laju Perubahan Energi Permukaan (dE/dt = γ
|
Daya yang dibutuhkan untuk memperluas permukaan cairan melawan tegangan permukaan. |
Eksperimen Pikiran: Membran yang Bergoyang
Bayangkan lebar 5 cm itu adalah dua batang paralel yang kaku, tepian atas dan bawah dari sebuah membran elastis seperti drum. Tepian kiri membran dijepit tetap, sementara tepian kanan (yang merupakan representasi dari panjang L) dapat digerakkan maju mundur oleh sebuah tangan yang tidak terlihat. Ketika tangan itu menarik tepian kanan ke samping, L bertambah.
Setiap gerakan tangan, sekecil apa pun, langsung diterjemahkan oleh membran yang tegang menjadi pertambahan luas yang proporsional. Jika tangan bergerak dengan pola tertentu—misalnya, mendorong dan menarik secara ritmis—maka luas membran akan bernapas mengikuti irama itu. Laju perubahan luas (dA/dt) pada suatu momen adalah ukuran langsung dari “kelelahan” atau “semangat” tangan yang menggerakkan tepian itu pada momen tersebut. Orkestrasi perubahan luas sepenuhnya ada di kendali gerakan satu tepian, sementara tepian lainnya hanya memberikan batasan yang menentukan skala pengaruh dari setiap gerakan.
Resonansi Geometri pada Struktur yang Berkompresi
Sejauh ini kita membayangkan ekspansi. Namun, alam tidak selalu bertumbuh; kadang ia menyusut, memadat, dan berkompresi. Inilah paradigma yang menarik: ketika dL/dt bernilai negatif. Panjang persegi panjang kita berkurang terhadap waktu. Meskipun lebarnya tetap 5 cm, wilayah kekuasaannya menyusut.
Analisis ini relevan dari dunia material hingga geologi.
Dampaknya bisa kontra-intuitif bagi yang baru belajar. Jika dL/dt negatif, maka dA/dt = 5
– (dL/dt) juga akan negatif. Luas berkurang. Namun, hal yang menarik adalah laju penyusutan luas itu sendiri bisa bervariasi. Jika panjang menyusut semakin cepat (dL/dt negatif dan semakin negatif), maka laju penyusutan luas juga semakin besar (dA/dt semakin negatif).
Persegi panjang itu seperti es yang mencair di ujungnya, atau seperti lapisan sedimen yang terkikis.
Contoh Numerik Penyusutan Bertahap, Laju Perubahan Luas Persegi Panjang saat Lebar 5 cm
Misalkan panjang sebuah persegi panjang menyusut dengan fungsi L(t) = 20 – t² (dalam cm, t dalam detik, untuk t antara 0 hingga √20). Maka dL/dt = -2t cm/s. Pada t=0, L=20 cm, A=100 cm², dL/dt=0, dA/dt=0 (saat awal, penyusutan belum dimulai). Pada t=2 s, L=20-4=16 cm, A=80 cm², dL/dt = -4 cm/s, dA/dt = 5
– (-4) = -20 cm²/s.
Artinya, pada detik kedua, luas berkurang 20 cm² setiap detiknya. Pada t=3 s, L=20-9=11 cm, A=55 cm², dL/dt = -6 cm/s, dA/dt = -30 cm²/s. Penyusutan semakin cepat meski luas total yang tersisa semakin kecil. Akhirnya, saat t = √20 ≈ 4.47 s, L=0, dan persegi panjang menyusut menjadi sebuah garis (atau lenyap).
Prinsip Resonan dari Dunia Kompresi dan Geologi
Prinsip matematika yang sama yang mengatur penyusutan persegi panjang ini bergema dalam berbagai disiplin ilmu.
- Kompresi Material: Saat sebuah balok logam ditekan di salah satu ujungnya (analog panjang berkurang, lebar tetap), laju pengurangan volume pada arah tekanannya sebanding dengan laju perubahan panjang dan luas penampang tetap. Stress dan strain dapat dianalisis dengan kerangka konsep yang mirip.
- Geologi dan Tektonik: Bayangkan sebuah lempeng kerak bumi yang mengalami kompresi di salah satu batasnya. Jika kita ambil suatu area persegi panjang imajiner pada lempeng, “panjang”-nya dalam arah kompresi akan berkurang, sementara “lebarnya” mungkin relatif tetap. Laju pengurangan area tersebut berkontribusi pada akumulasi energi seismik.
- Kontraksi Otot: Pada model sederhana, serat otot yang berkontraksi dapat dianggap memendek (dL/dt negatif) sementara penampang lintangnya (analog lebar) relatif konstan untuk sementara. Laju perubahan “volume” serat aktif berhubungan dengan laju kontraksi ini.
- Pengeringan atau Pengerutan: Sebuah lapisan tipis material seperti cat atau tanah liat yang mengering sering menyusut secara lateral. Jika penyusutan itu seragam dalam satu arah (panjang berkurang, lebar tetap), laju pengurangan luas permukaannya mengikuti model matematis kita yang sederhana namun elegan.
Kesimpulan
Jadi, perjalanan menyusuri Laju Perubahan Luas Persegi Panjang saat Lebar 5 cm ini telah membawa kita dari dasar-dasar kalkulus yang elegan hingga ke tepian imajinasi aplikasinya. Kita melihat bahwa matematika bukanlah tentang kekakuan, melainkan tentang dinamika. Sebuah persegi panjang dengan lebar tetap punya cerita pertumbuhan yang kaya, bisa meledak, menyusut, atau berosilasi dengan damai, semua bergantung pada bagaimana panjangnya memutuskan untuk menari terhadap waktu.
Prinsip ini adalah fondasi untuk membangun pemahaman yang lebih dalam tentang dunia yang terus berubah, di mana segala sesuatu memiliki kecepatannya sendiri.
Pada akhirnya, mempelajari laju perubahan ini seperti memiliki lensa baru untuk mengamati realitas. Dari membran yang bergoyang hingga material yang terkompresi, dari kanvas seniman hingga aliran sungai, logika yang sama bekerja di balik layar. Dengan memahami tarian sederhana antara panjang, lebar, dan waktu ini, kita menjadi lebih terhubung dengan bahasa universal perubahan yang mengatur segala hal, membuktikan bahwa terkadang, kebijaksanaan terbesar justru tersembunyi dalam bentuk yang paling sederhana.
FAQ dan Informasi Bermanfaat: Laju Perubahan Luas Persegi Panjang Saat Lebar 5 cm
Apakah laju perubahan luas bisa nol meski panjangnya berubah?
Ya, bisa. Ini terjadi jika pada momen tertentu, nilai panjangnya adalah nol (L = 0). Karena dA/dt = 5
– dL/dt, meskipun dL/dt tidak nol, perkalian dengan panjang nol akan menghasilkan laju perubahan luas nol. Artinya, pada saat persegi panjang hampir menjadi garis (panjang mendekati nol), pertambahan panjang tidak signifikan menambah luas.
Bagaimana jika yang berubah terhadap waktu justru lebarnya, bukan panjangnya?
Prinsipnya akan serupa namun simetris. Jika panjang (P) konstan dan lebar (L) berubah, rumus laju perubahan menjadi dA/dt = P
– dL/dt. Peran variabelnya bertukar. Analisis dan interpretasi filosofisnya akan paralel, hanya “aktor utama” perubahannya yang berbeda.
Apakah konsep ini hanya berguna untuk persegi panjang sempurna?
Tidak sama sekali. Konsep laju perubahan luas adalah fondasi. Untuk bentuk tidak beraturan, kita menggunakan integral dan pendekatan. Persegi panjang dengan satu sisi tetap adalah model penyederhanaan yang sangat powerful untuk memahami prinsip dasar sebelum melangkah ke bentuk yang lebih kompleks seperti segitiga, lingkaran, atau area di bawah kurva.
Dalam konteks kehidupan nyata, adakah contoh di mana dL/dt bernilai negatif?
Banyak! Contohnya adalah penyusutan material karena kering (seperti spons), lapisan es yang mencair dari tepian tertentu, atau pengurangan area lahan produktif akibat erosi di satu sisi dengan batas tetap seperti jalan atau sungai. Di sini, panjang menyusut (dL/dt negatif), sehingga luas juga berkurang seiring waktu.