Lampu yang ada di persimpangan jalan Pengatur Arus Lalu Lintas

Lampu yang ada di persimpangan jalan itu bukan sekadar hiasan kota berwarna-warni, lho. Dia adalah konduktor tak bersuara yang mengatur simfoni kendaraan dan pejalan kaki agar tidak berakhir jadi karamboli. Bayangkan saja, tanpa si merah, kuning, dan hijau yang disiplin ini, persimpangan bakal jadi arena tarung bebas yang bikin deg-degan. Keberadaannya adalah kompromi tertua dan paling genius dalam peradaban transportasi, memastikan semua orang dapat giliran dengan adil dan selamat sampai tujuan.

Pada dasarnya, sistem ini bekerja dengan logika waktu dan warna yang universal. Merah berarti berhenti total, hijau adalah izin melaju, sementara kuning jadi penanda peralihan yang harus dihadapi dengan bijak, bukan malah dijadikan pacuan kuda. Dari komponen fisik seperti tiang dan lensa, hingga teknologi cerdas di belakangnya, setiap bagian dirancang untuk visibilitas maksimal dan ketahanan menghadapi terik matahari maupun hujan.

Pemahaman mendalam tentang cara kerjanya bukan cuma untuk ujian SIM, tapi untuk investasi keselamatan kita semua di jalan raya.

Definisi dan Fungsi Utama Lampu Lalu Lintas

Di tengah riuh persimpangan jalan, ada penjaga yang tak kenal lelah mengatur ritme kendaraan dan pejalan kaki. Kita biasa menyebutnya lampu lalu lintas, lampu merah, atau traffic light. Benda yang sekilas sederhana ini adalah otak dari sebuah persimpangan, yang bertugas mencegah kekacauan dengan membagi hak jalan secara adil berdasarkan waktu.

Lampu di persimpangan jalan itu mirip pengatur lalu lintas energi di alam, lho. Ia buat semuanya berjalan tertib, mencegah tabrakan. Nah, di ekosistem, ada juga sistem pengatur alur energi yang disebut Pengertian Rantai Makanan. Konsep ini menjelaskan siapa makan siapa, menjaga keseimbangan, persis seperti lampu merah-hijau yang mencegah kekacauan di jalan raya kita.

Fungsi utamanya sangat jelas: mengatur arus lalu lintas kendaraan bermotor, sepeda, dan pejalan kaki agar tidak saling serobot, sehingga mengurangi risiko tabrakan dan kemacetan. Ia bekerja berdasarkan prinsip urutan warna dan durasi waktu yang tetap atau bisa beradaptasi. Urutan standarnya adalah merah (berhenti), hijau (jalan), dan kuning (peringatan sebelum merah). Waktu setiap fase disesuaikan dengan lebar jalan, volume kendaraan, dan kebutuhan pejalan kaki.

Makna Warna Lampu Lalu Lintas bagi Berbagai Pengguna Jalan

Setiap warna pada lampu lalu lintas adalah sebuah perintah yang universal. Namun, penerapannya bisa sedikit berbeda tergantung siapa pengguna jalannya. Berikut adalah panduan makna setiap warna bagi pengemudi kendaraan bermotor, pesepeda, dan pejalan kaki.

Warna Lampu Makna bagi Pengemudi Makna bagi Pesepeda Makna bagi Pejalan Kaki
Merah Berhenti penuh di belakang garis stop. Dilarang melanjutkan perjalanan. Berhenti penuh. Turun dari sepeda jika di atas zebra cross atau menunggu di area yang ditentukan. Dilarang menyeberang. Tunggu di trotoar hingga lampu pejalan kaki hijau atau ada penyeberangan yang aman.
Kuning Peringatan untuk bersiap berhenti. Jika masih sangat dekat dengan garis stop dan berhenti mendadak berbahaya, boleh dilanjutkan dengan hati-hati. Sinyal untuk mengurangi kecepatan dan bersiap berhenti. Hindari menambah kecepatan untuk menerobos. Bukan tanda untuk memulai menyeberang. Jika sudah berada di tengah jalan, segeralah menyelesaikan penyeberangan.
Hijau Diperbolehkan berjalan dengan hati-hati, tetap memperhatikan kendaraan dari arah lain yang mungkin belum bersih. Diperbolehkan berjalan, prioritaskan jalur sepeda jika ada. Tetap waspada terhadap kendaraan yang belok. Boleh menyeberang hanya jika lampu pejalan kaki atau rambu khusus menunjukkan hijau. Periksa kiri-kanan sebelum melangkah.

Komponen dan Teknologi di Balik Lampu Persimpangan

Lampu lalu lintas bukan cuma bohlam dalam kotak warna. Ia adalah sebuah sistem yang terdiri dari banyak komponen, mulai dari yang terlihat jelas hingga yang tersembunyi di dalam panel kontrol. Perkembangannya juga menarik, dari teknologi lampu pijar jadul hingga sistem cerdas yang bisa “berpikir”.

Secara fisik, satu unit lampu persimpangan dibangun dari beberapa bagian utama. Ada tiang atau gantungan sebagai struktur penopang. Lalu, rumah lampu (housing) yang melindungi komponen di dalamnya dari cuaca. Di dalamnya terdapat modul pencahayaan, yang dulu menggunakan lampu pijar atau halogen besar, namun kini hampir seluruhnya sudah beralih ke LED. Bagian terluar adalah lensa berwarna (biasanya merah, kuning, atau hijau) yang diformulasikan khusus untuk mempertajam dan menyebarkan cahaya agar terlihat jelas di siang bolong.

BACA JUGA  Hal yang Tidak Penting Saat Merefleksi Isi Puisi dan Fokus Utamanya

Jangan lupa visor, yaitu penutup di sekeliling lensa untuk mengurangi silau dari cahaya matahari dan meningkatkan kontras.

Keunggulan Teknologi LED dalam Penerangan Lalu Lintas

Revolusi LED membawa perubahan besar. Dibanding pendahulunya, LED menang telak dalam beberapa hal. Dari segi daya tahan, LED bisa menyala hingga 50.000-100.000 jam, jauh lebih awet dari lampu pijar yang hanya bertahan sekitar 1.000-2.000 jam. Ini berarti biaya perawatan dan penggantian lampu jauh berkurang. Soal konsumsi energi, LED sangat efisien.

Ia bisa menghasilkan cahaya terang yang sama dengan hanya membutuhkan kurang dari 10% daya listrik yang dibutuhkan lampu pijar. Kejelasan cahayanya juga unggul karena menyala secara instan (tanpa delay) dan memiliki spektrum warna yang tajam, membuatnya lebih mudah dilihat dalam berbagai kondisi cuaca, termasuk kabut.

Komponen Pendukung Sistem yang Cerdas

Lampu lalu lintas modern tidak bekerja sendirian. Ia didukung oleh sejumlah komponen pintar yang membuatnya bisa beradaptasi. Berikut adalah beberapa komponen pendukung kunci:

  • Sensor Kendaraan: Biasanya berupa loop induksi yang tertanam di aspal atau sensor kamera. Fungsinya mendeteksi ada tidaknya kendaraan yang menunggu di suatu jalur, sehingga lampu bisa memberikan waktu hijau lebih lama jika antrean panjang.
  • Tombol Pejalan Kaki: Dipasang di tiang dekat penyeberangan. Pejalan kaki menekannya untuk memberi sinyal pada sistem bahwa ada yang ingin menyeberang, sehingga sistem akan mengalokasikan waktu aman untuk penyeberangan pada siklus berikutnya.
  • Panel Kontrol (Controller Cabinet): Ini adalah “otak”-nya. Sebuah kotak logam besar berisi komputer, timer, dan perangkat keras lain yang memprogram urutan dan durasi lampu, serta menerima data dari sensor untuk mengambil keputusan.
  • Sistem Komunikasi: Menghubungkan panel kontrol di satu persimpangan dengan persimpangan lain atau dengan pusat kendali lalu lintas, menciptakan sistem yang terkoordinasi (green wave).

Tata Letak dan Strategi Pemasangan

Memasang lampu lalu lintas itu bukan asal pasang. Butuh pertimbangan matang agar fungsinya optimal dan tidak malah jadi sumber masalah baru. Lokasi pemasangan ditentukan berdasarkan analisis kecelakaan, volume lalu lintas, kecepatan kendaraan, dan keberadaan titik konflik seperti dekat sekolah atau pasar.

Untuk konfigurasi, pola umumnya mengikuti bentuk persimpangan. Di persimpangan tiga jalan (bentuk T), biasanya ada tiga atau empat tiang lampu yang mengatur arus dari ketiga lengan. Sementara di persimpangan empat jalan biasa (+), konfigurasinya lebih kompleks dengan empat kelompok lampu atau lebih, seringkali menggunakan tiang gantung di tengah persimpangan untuk visibilitas yang lebih baik.

Ilustrasi Pemasangan untuk Visibilitas Optimal

Agar semua pengguna jalan bisa melihat lampu dengan jelas, sudut dan tinggi pemasangannya diatur sedemikian rupa. Bayangkan sebuah persimpangan empat jalan. Lampu untuk kendaraan yang mendekati dari arah selatan dipasang di sisi kanan jalan atau digantung di atas jalur, dengan tinggi sekitar 4.5 hingga 5.5 meter dari permukaan jalan. Lensa diarahkan sedikit ke bawah, sehingga pengemudi yang berada pada jarak sekitar 30-50 meter dari garis stop sudah dapat melihatnya dengan jelas tanpa terhalang atap kendaraannya sendiri.

Untuk pejalan kaki, lampu penyeberangan khusus dipasang di tiang dengan tinggi yang lebih rendah, sekitar 2 meter, sehingga mudah dilihat dari posisi berdiri di trotoar.

Tantangan Pemasangan di Berbagai Jenis Lokasi

Tantangan teknis pemasangan lampu lalu lintas sangat bervariasi tergantung karakteristik lokasinya. Setiap kondisi membutuhkan pendekatan dan solusi yang berbeda.

Jenis Lokasi Tantangan Utama Solusi Umum Prioritas Desain
Persimpangan Sederhana Anggaran terbatas, lalu lintas tidak terlalu padat, namun tetap perlu aturan dasar. Pemasangan tiang sederhana di setiap sudut, dengan timer fixed-time (waktu tetap) yang murah. Kejelasan dan kesederhanaan sinyal.
Persimpangan Kompleks (multi-lane, rotary) Banyak titik konflik, visibilitas terhalang, kebutuhan fase lampu yang banyak. Menggunakan tiang gantung di tengah, lampu tambahan di sisi kiri jalan, sistem controller yang canggih dengan banyak fase. Pengaturan arus yang detail dan visibilitas dari semua sudut.
Dekar Sekolah Tingkat keselamatan anak-anak yang sangat tinggi, aktivitas yang bersifat temporal (hanya pagi/siang). Penambahan lampu kuning berkedip di luar jam masuk/pulang, tombol pejalan kaki yang mudah dijangkau anak, zebra cross yang jelas. Keamanan pejalan kaki (anak-anak) dan edukasi.
Area Padat Pejalan Kaki (mall, pasar) Volume penyeberangan tinggi, waktu hijau untuk kendaraan sering terinterupsi, risiko pejalan kaki menyeberang sembarangan. Waktu penyeberangan yang lebih lama, pemasangan pagar pembatas di trotoar, lampu pejalan kaki dengan countdown timer. Efisiensi penyeberangan massa dan penertiban pejalan kaki.

Aturan, Hukum, dan Etika di Bawah Cahaya Lampu

Lampu lalu lintas bukan sekadar pajangan. Ia punya kekuatan hukum. Melanggarnya berarti siap-siap berurusan dengan konsekuensi. Namun, di luar hukum tertulis, ada etika tak terucap yang justru sering menjadi penentu keselamatan kita di jalan.

Melanggar lampu merah adalah pelanggaran serius. Menurut Undang-Undang Lalu Lintas, pengemudi yang menerobos lampu merah dapat dikenai pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000. Lebih dari itu, pelanggaran ini menjadi penyebab utama kecelakaan berat di persimpangan. Sementara lampu kuning, ia adalah area abu-abu yang menguji etika. Kuning bukan berarti gaspol.

BACA JUGA  Perbedaan Ikatan Air Secara Fisik dan Kimia Kunci Sifat Unik Air

Ia adalah peringatan agar kita bersiap berhenti. Etika yang benar adalah menginjak rem, bukan malah menambah kecepatan. Jika posisi kendaraan sudah sangat dekat dengan garis stop dan berhenti mendadak justru berbahaya (bisa ditabrak dari belakang), barulah diperbolehkan untuk melanjutkan dengan penuh kewaspadaan.

Prosedur dalam Situasi Khusus, Lampu yang ada di persimpangan jalan

Bagaimana jika lampunya tiba-tiba mati total, atau ada mobil darurat yang membunyikan sirine? Situasi ini sering membuat bingung. Berikut penjelasan prosedur yang benar berdasarkan aturan dasar lalu lintas.

Saat Lampu Lalu Lintas Mati: Persimpangan secara otomatis berubah menjadi persimpangan tanpa lampu. Berlaku aturan prioritas “yang dari depan sebelah kanan” atau aturan lain yang ditandai rambu “BERI JALAN” atau “STOP”. Kedua pengemudi dari semua arah harus memperlambat kendaraan, berhenti sejenak, dan menentukan siapa yang berhak jalan lebih dulu dengan komunikasi visual atau gestur. Kehati-hatian ekstra adalah kunci.

Saat Mendengar/Melihat Kendaraan Darurat: Walaupun lampu hijau menyala, pengemudi wajib memberikan jalan untuk kendaraan pemadam kebakaran, ambulans, atau patroli polisi yang menyalakan sirene dan lampu rotator. Caranya dengan merapat ke sisi jalan secepat mungkin dan aman, atau berhenti jika diperlukan, untuk membuka jalur bagi kendaraan darurat tersebut. Keselamatan nyawa lebih penting dari sekadar mengejar waktu hijau.

Panduan Singkat bagi Pejalan Kaki

Lampu yang ada di persimpangan jalan

Source: akamaized.net

Bagi pejalan kaki, lampu penyeberangan adalah tameng. Tapi tameng itu harus digunakan dengan benar. Berikut hal-hal yang perlu diingat:

  • Selalu tekan tombol penyeberangan jika tersedia, lalu tunggu sinyal hijau atau gambar orang berjalan muncul.
  • Jangan hanya melihat lampu untuk kendaraan. Gunakan lampu pejalan kaki khusus yang biasanya dipasang di tiang penyeberangan.
  • Meski lampu sudah hijau, tetaplah lihat kiri dan kanan sebelum melangkah. Waspada terhadap kendaraan yang mungkin belok atau menerobos lampu.
  • Jangan mulai menyeberang saat lampu sudah berkedip atau hitungan mundur hampir habis. Perkirakan waktu yang cukup untuk sampai ke seberang dengan tenang, tanpa berlari.
  • Menyeberanglah di dalam area zebra cross, bukan di luar atau di antara mobil yang terjebak kemacetan.

Perawatan Rutin dan Standar Keamanan Sistem

Agar bisa dipercaya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, lampu lalu lintas butuh perawatan yang disiplin. Tanpa itu, kerusakan kecil bisa memicu kemacetan panjang bahkan kecelakaan. Standar keamanan yang ketat juga diterapkan untuk memastikan sistem ini bekerja dalam kondisi ekstrem sekalipun.

Prosedur perawatan rutin mencakup inspeksi visual harian atau mingguan oleh petugas dari kejauhan untuk mendeteksi lampu mati. Lalu, pembersihan lensa dan visor dari debu, kotoran burung, atau kabut secara berkala. Yang lebih teknis adalah kalibrasi ulang timer dan sensor, serta penggantian modul LED atau komponen elektronik di panel kontrol yang sudah mendekati akhir masa pakainya, sebelum benar-benar rusak.

Indikator Kerusakan Umum dan Dampaknya

Beberapa tanda kerusakan mudah dikenali. Lampu yang mati total pada satu fase akan membuat pengemudi di jalur itu bingung dan berisiko ditabrak dari samping. Lampu yang berkedip-kedip tidak normal, misalnya kuning berkedip untuk semua arah, bisa menjadi tanda mode darurat atau justru kerusakan controller. Waktu lampu yang tidak sesuai (terlalu pendek hijau atau terlalu panjang merah) akan menyebabkan kemacetan tidak wajar atau memicu emosi pengemudi untuk menerobos.

Gangguan pada sensor kendaraan akan membuat lampu tidak responsif terhadap kepadatan, sehingga jalan yang sepi justru dapat waktu hijau panjang, sementara yang padat malah singkat.

Standar Keamanan Nasional dan Internasional

Produksi dan pemasangan lampu lalu lintas tidak boleh sembarangan. Ia mengikuti standar seperti SNI (Standar Nasional Indonesia) atau acuan internasional seperti ITE (Institute of Transportation Engineers). Standar ini mengatur hal-hal krusial seperti intensitas cahaya minimum (dalam candela) agar terlihat jelas di siang hari, ketahanan housing terhadap debu dan air (biasanya dengan rating IP), serta kemampuan bertahan di suhu ekstrem dan kelembaban tinggi.

Sistem darurat seperti baterai backup juga wajib ada agar lampu tetap bisa berfungsi sesaat saat listrik padam, memberi kesempatan untuk mengamankan persimpangan.

Tindakan Cepat atas Laporan Kerusakan

Ketika masyarakat melaporkan kerusakan lampu lalu lintas via call center atau media sosial, pihak berwenang (Dinas Perhubungan atau kepolisian) harus bergerak cepat. Protokolnya biasanya meliputi:

  • Verifikasi laporan segera untuk memastikan keakuratannya.
  • Mengirim tim teknis ke lokasi untuk diagnosis awal dan penempatan rambu peringatan sementara jika diperlukan.
  • Melakukan perbaikan darurat untuk mengembalikan fungsi minimal, seperti mengaktifkan mode kuning berkedip.
  • Melakukan perbaikan permanen dengan mengganti komponen rusak dan mengkalibrasi sistem.
  • Melakukan uji coba dan monitoring pasca-perbaikan untuk memastikan sistem berjalan normal.
  • Memberikan umpan balik kepada pelapor bahwa masalah telah ditangani.

Inovasi dan Wajah Lampu Lalu Lintas Masa Depan: Lampu Yang Ada Di Persimpangan Jalan

Masa depan lampu lalu lintas tidak lagi sekadar lampu yang berganti warna berdasarkan timer. Ia akan menjadi simpul cerdas dalam jaringan transportasi kota yang saling terhubung. Konsepnya adalah sistem adaptif real-time yang bisa “merasakan” kepadatan lalu lintas dan mengambil keputusan untuk mengoptimalkan arus, bukan lagi berdasarkan program statis.

BACA JUGA  Jurusan yang Tepat untuk Menjadi Pegawai Bank Pilihan Karier Strategis

Bayangkan sebuah jaringan lampu di sepanjang jalan protokol. Dengan menggunakan data dari sensor, kamera, dan bahkan kendaraan yang terhubung, sistem pusat dapat menghitung kecepatan optimal dan mengatur timing lampu hijau secara berurutan, sehingga kendaraan yang melintas di kecepatan tertentu akan mendapatkan “gelombang hijau” terus-menerus tanpa harus berhenti. Integrasi dengan kendaraan otonom juga sangat potensial. Mobil tanpa pengemudi itu bisa berkomunikasi langsung dengan lampu (Vehicle-to-Infrastructure/V2I), menerima informasi kapan persisnya lampu akan berganti, sehingga dapat mengatur kecepatan dan ritme berkendara untuk efisiensi energi dan waktu yang maksimal.

Lampu lalu lintas di persimpangan itu, kan, mengajarkan kita arti sabar dan taat aturan. Nah, prinsip yang sama bisa kita terapkan dalam hubungan dengan orang tua: ikuti ‘jalur’ bakti dengan tulus. Caranya? Simak panduan lengkap Cara berbakti kepada kedua orang tua untuk memahami sinyal-sinyal kasih yang sering kita lewatkan. Dengan begitu, hidup kita pun jadi lebih terarah, layaknya kendaraan yang aman melintasi persimpangan karena patuh pada lampu merah, kuning, dan hijau.

Ilustrasi Prioritas untuk Transportasi Umum dan Darurat

Lampu cerdas bisa menjadi alat untuk mendorong penggunaan transportasi umum. Misalnya, sebuah bus Transjakarta yang terlambat jadwal karena macet mendekati persimpangan. Sensor khusus di persimpangan atau sinyal dari GPS bus mengidentifikasi kedatangannya. Sistem lalu lintas kemudian dapat memperpanjang waktu lampu hijau di jalur bus tersebut, atau bahkan memperpendek fase hijau untuk jalur lain yang sepi, agar bus bisa segera melanjutkan perjalanan dan mengejar ketertinggalan waktu.

Prinsip yang sama berlaku untuk kendaraan darurat. Begitu sirine dan lampu rotator diaktifkan, sistem lalu lintas di sepanjang rute yang akan dilalui dapat diprogram untuk memberikan “green corridor” atau koridor hijau, dengan mengubah semua lampu di depannya menjadi hijau secara berurutan.

Perbandingan Evolusi Sistem Lampu Lalu Lintas

Dari masa ke masa, sistem lampu lalu lintas telah berevolusi dengan fitur yang semakin canggih. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran dari sistem pasif menuju sistem yang aktif, terhubung, dan prediktif.

Jenis Sistem Cara Kerja Kelebihan Keterbatasan
Konvensional (Fixed-Time) Berdasarkan timer dengan pola waktu tetap yang telah diprogram sebelumnya. Murah, sederhana, mudah diprediksi. Cocok untuk lalu lintas stabil. Kaku. Tidak responsif terhadap perubahan volume lalu lintas real-time, bisa buang waktu saat jalan sepi.
Berbasis Sensor (Vehicle-Actuated) Menggunakan sensor (loop, kamera) untuk mendeteksi kendaraan dan menyesuaikan waktu hijau. Lebih efisien, mengurangi waktu tunggu di jalur sepi. Responsif terhadap kondisi aktual. Biaya lebih tinggi. Perlu perawatan sensor. Hanya responsif di titik sensor, bukan jaringan.
Terhubung IoT & Adaptive Lampu di banyak persimpangan terhubung dalam jaringan, berbagi data, dan dioptimalkan oleh algoritma pusat. Menciptakan “green wave”, mengurangi kemacetan secara sistemik, sangat efisien untuk lalu lintas dinamis. Investasi infrastruktur sangat besar, kompleksitas tinggi, bergantung pada jaringan data yang stabil.
Untuk Kendaraan Otonom (V2I) Komunikasi langsung antara infrastruktur (lampu) dengan kendaraan tanpa pengemudi. Optimasi lalu lintas sempurna, menghilangkan pengereman dan percepatan tidak perlu, sangat aman. Membutuhkan standar komunikasi universal dan penetrasi kendaraan otonom yang tinggi. Masih dalam tahap pengembangan.

Kesimpulan Akhir

Jadi, sudah jelas ya, lampu persimpangan itu jauh lebih dari sekadar bohlam biasa. Dia adalah penjaga ritme kota yang tak kenal lelah. Mulai sekarang, coba deh perhatikan lebih saksama setiap kali berhenti di garis putih. Respect pada detik-detik yang dihitungnya, patuhi pesan warna-warninya, dan jadilah bagian dari arus lalu lintas yang cerdas. Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apapun yang diterapkan—entah itu sensor atau koneksi IoT—akan percuma kalau kita sebagai pengguna jalan ogah-ogahan.

Keselamatan itu pilihan, dan pilihan itu dimulai dari hal sederhana: mematuhi si lampu kecil di persimpangan.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah lampu kuning berarti harus gaspol atau justru bersiap berhenti?

Lampu kuning adalah peringatan bahwa lampu merah akan segera menyala. Bukan sinyal untuk menambah kecepatan, melainkan waktu untuk bersiap menghentikan kendaraan dengan aman jika memungkinkan. Jika sudah terlalu dekat dengan garis stop dan pengereman mendadak justru berbahaya, lanjutkan dengan hati-hati.

Bagaimana jika lampu traffic light mati total di persimpangan?

Persimpangan dengan lampu mati harus diperlakukan sebagai persimpangan tanpa alat pengatur lalu lintas. Berlaku prinsip “siapa yang datang lebih dulu, dia yang berhak jalan” dan “beri prioritas kepada kendaraan dari arah kanan”. Ekstra hati-hati dan saling toleransi adalah kunci.

Kenapa kadang lampu untuk belok kiri ada yang hijau terus (terpisah) dan ada yang mengikuti lampu utama?

Ini tergantung desain persimpangan dan volume lalu lintas. Lampu hijau terus (protected turn) biasanya di persimpangan sibuk untuk menghindari konflik dengan arus dari depan. Sedangkan yang mengikuti lampu utama (permissive turn) memungkinkan belok kiri saat sepi dengan tetap memberi prioritas pada kendaraan lurus dari lawan arah.

Apakah pejalan kaki boleh menyebrang saat lampu hijau untuk kendaraan tapi tanda orang merah?

Tidak boleh. Pejalan kaki harus mematuhi lampu penyeberangan khusus untuk mereka. Lampu hijau untuk kendaraan berarti arus mobil sedang tinggi dan berbahaya bagi pejalan kaki. Selalu tunggu simbol orang hijau atau tanda “WALK” menyala.

Apakah ada sanksi jika menerobos lampu kuning?

Secara hukum, sanksi umumnya diberikan untuk pelanggaran lampu merah. Namun, menerobos lampu kuning dengan sengaja, terutama yang sudah lama menyala, dapat dianggap sebagai pelanggaran karena membahayakan dan mengindikasikan niat untuk melanggar lampu merah. Keselamatan harus jadi patokan utama.

Leave a Comment