Luas Daerah Terarsir AOD 60° AD 14 cm AB 7 cm Hitung dengan Tembereng

Luas Daerah Terarsir: AOD 60°, AD 14 cm, AB 7 cm, terdengar seperti teka-teki geometri yang menantang, bukan? Soal semacam ini sering kali bikin kita berhenti sejenak, menatap gambar lingkaran dengan bagian diarsir, dan bertanya-tanya dari mana harus memulai. Padahal, di balik angka-angka dan sudut itu, tersembunyi logika yang elegan dan rumus-rumus yang sebenarnya sangat bisa dikuasai. Mari kita bongkar bersama, bukan sekadar untuk mencari jawaban, tapi untuk benar-benar memahami cerita yang diceritakan oleh setiap garis dan sudut pada bangun datar tersebut.

Berdasarkan data yang diberikan, kita berhadapan dengan komposisi menarik dari lingkaran dan segitiga. Sudut AOD sebesar 60 derajat di pusat lingkaran mengisyaratkan adanya juring, sementara panjang tali busur AD 14 cm dan garis AB 7 cm mengajak kita untuk mengidentifikasi segitiga-segitiga yang terbentuk. Daerah terarsir yang dimaksud sangat mungkin adalah sebuah tembereng, yaitu area di antara tali busur AD dan busur lingkaran AD.

Untuk menghitungnya, kita perlu mengurai puzzle ini menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana: luas juring dikurangi luas segitiga.

Pengenalan dan Identifikasi Bangun Datar

Soal dengan deskripsi ‘Luas Daerah Terarsir: AOD 60°, AD 14 cm, AB 7 cm’ mengajak kita untuk berimajinasi membangun sebuah sketsa geometris di dalam pikiran. Dari informasi tersebut, kita dapat mengidentifikasi dua bangun datar utama yang saling beririsan: lingkaran dan segitiga. Titik-titik A, O, D, dan B adalah kunci untuk merekonstruksi gambaran ini.

Elemen dan Deskripsi Bentuk

Mari kita urai elemen-elemen yang bisa kita ketahui. Pertama, sudut AOD sebesar 60° mengindikasikan bahwa titik O adalah pusat dari sebuah lingkaran, dan A serta D adalah titik pada keliling lingkaran. Garis AD dengan panjang 14 cm adalah tali busur. Garis AB sepanjang 7 cm, dimana B juga terletak pada lingkaran, kemungkinan besar adalah jari-jari, karena panjangnya yang setengah dari tali busur AD, sebuah petunjuk yang menarik.

Dengan asumsi O adalah pusat lingkaran, maka OA dan OB adalah jari-jari. Apotema, yaitu garis tegak lurus dari pusat lingkaran ke tali busur, akan menjadi komponen kunci dalam perhitungan luas segitiga AOD.

Berdasarkan data ini, bentuk daerah terarsir yang paling mungkin adalah sebuah tembereng, yaitu daerah di dalam lingkaran yang dibatasi oleh tali busur AD dan busur AD. Bayangkan sebuah lingkaran dengan pusat O. Gambarlah dua jari-jari, OA dan OD, yang membentuk sudut pusat 60°. Hubungkan titik A dan D dengan sebuah garis lurus. Daerah yang dibatasi oleh busur AD (bagian lengkung lingkaran) dan garis lurus AD itulah yang biasanya diarsir.

Panjang AB = 7 cm yang diberikan kemungkinan adalah petunjuk untuk menemukan jari-jari lingkaran atau tinggi segitiga, mengarah pada perhitungan yang melibatkan segitiga sama kaki AOD.

Konsep Geometri dan Rumus yang Relevan: Luas Daerah Terarsir: AOD 60°, AD 14 cm, AB 7 cm

Untuk menguak luas daerah terarsir yang tidak beraturan seperti tembereng, kita perlu memahkotai perhitungan dengan pendekatan dekomposisi. Konsep utamanya adalah memisahkan area yang diketahui rumusnya, lalu menyatukannya atau menguranginya. Dua konsep geometri inti yang bermain di sini adalah luas juring (sektor lingkaran) dan luas segitiga.

BACA JUGA  Tolong Bantu Jawabnya Makna Struktur dan Etika Komunikasi

Rumus-Rumus Kunci, Luas Daerah Terarsir: AOD 60°, AD 14 cm, AB 7 cm

Perhitungan akan melibatkan rumus-rumus dasar dari lingkaran dan segitiga. Luas juring memberikan kita luas bagian “kue” lingkaran berdasarkan sudut pusatnya. Luas segitiga, khususnya segitiga yang dibentuk oleh dua jari-jari dan tali busur, memberikan area bagian yang lurus. Selisih antara keduanya menghasilkan luas tembereng, daerah yang diarsir. Berikut adalah tabel perbandingan rumus-rumus tersebut untuk memudahkan pemahaman.

Nama Rumus Bentuk Rumus Keterangan Variabel Kapan Digunakan
Luas Lingkaran L = πr² r = jari-jari lingkaran Menghitung luas seluruh lingkaran.
Luas Juring Ljuring = (θ/360°) × πr² θ = sudut pusat dalam derajat Menghitung luas bagian lingkaran yang dibatasi dua jari-jari dan sebuah busur.
Luas Segitiga (Sinus) LΔ = ½ × a × b × sin(C) a, b = panjang dua sisi, C = sudut apit Ideal untuk segitiga yang diketahui dua sisi dan sudut apitnya, seperti segitiga AOD.
Luas Tembereng Ltembereng = Ljuring

LΔ

Selisih antara luas juring dan luas segitiga di bawah tali busur. Langsung untuk menghitung daerah terarsir berbentuk bulan sabit (bagian lingkaran di luar segitiga).

Langkah-langkah Penyelesaian Masalah

Sekarang, kita terapkan konsep dan rumus tersebut pada data numerik yang ada: AOD = 60°, AD = 14 cm, AB = 7 cm. Asumsi kritis di sini adalah O adalah pusat lingkaran, A, B, D berada pada keliling lingkaran, dan AB adalah garis dari A yang tegak lurus terhadap OD atau merupakan jari-jari.

Mari kita ikuti prosedur sistematis.

Prosedur Perhitungan Numerik

Pertama, kita perlu mencari jari-jari lingkaran (r). Dari informasi AB = 7 cm, dan mengamati segitiga AOD, garis AB bisa diinterpretasikan sebagai garis tinggi dari A ke sisi OD. Pada segitiga AOD dengan OA = OD = r dan sudut O = 60°, segitiga ini adalah segitiga sama kaki yang sekaligus sama sisi karena dua sisi sama dan sudut apit 60°.

Namun, panjang AD = 14 cm diberikan. Mari kita verifikasi. Jika segitiga AOD sama sisi dengan sisi r, maka semua sisinya = r, termasuk AD. Tapi AD = 14 cm, sehingga r = 14 cm. Lalu, apa peran AB = 7 cm?

Kemungkinan, AB adalah apotema. Mari kita hitung apotema untuk segitiga sama sisi dengan sisi 14 cm. Tinggi segitiga sama sisi = (sisi√3)/2 = (14√3)/2 = 7√3 ≈ 12.12 cm. Apotema adalah ⅓ dari tinggi ini, yaitu ≈ 4.04 cm, tidak cocok dengan 7 cm. Interpretasi lain: AB adalah jari-jari.

Jika r = AB = 7 cm, maka sisi segitiga AOD (OA dan OD) adalah 7 cm. Namun, tali busur AD bisa dihitung dengan rumus 2r sin(θ/2) = 2*7*sin(30°) = 14*0.5 = 7 cm. Ini bertentangan dengan AD = 14 cm. Jadi, interpretasi yang paling konsisten adalah: O adalah pusat, OA = OD = r, sudut AOD = 60°, dan AD = 14 cm.

Dari sini kita cari r menggunakan aturan cosinus pada segitiga AOD.

Asumsi Penting: Titik O adalah pusat lingkaran. Titik A, B, dan D terletak pada keliling lingkaran. Garis AB mungkin merupakan bagian dari jari-jari atau garis bantu lain, tetapi untuk mencari jari-jari, kita gunakan segitiga AOD.

Langkah 1: Mencari jari-jari (r) menggunakan aturan cosinus pada segitiga AOD.
AD² = OA² + OD²
-2(OA)(OD) cos(∠AOD)
14² = r² + r²
-2(r)(r) cos(60°)
196 = 2r²
-2r²
– 0.5
196 = 2r²
-r²
196 = r²
r = √196 = 14 cm.
Ternyata, jari-jari lingkaran adalah 14 cm.

Langkah 2: Menghitung luas juring AOD.
Luas lingkaran penuh = π
– r² = π
– 14² = 196π cm².
Luas juring AOD = (60°/360°)
– 196π = (1/6)
– 196π = (196π/6) cm² ≈ 102.63 cm².

Langkah 3: Menghitung luas segitiga AOD.
Karena OA = OD = 14 cm dan sudut apitnya 60°, gunakan rumus luas segitiga dengan sinus.
L_segitiga AOD = ½
– OA
– OD
– sin(60°) = ½
– 14
– 14
– (½√3) = ½
– 196
– (√3/2) = 49√3 cm² ≈ 84.87 cm².

Langkah 4: Menghitung luas daerah terarsir (tembereng AD).
Luas tembereng = Luas juring AOD – Luas segitiga AOD
= (196π/6)
-49√3 cm².
Dalam bentuk numerik: ≈ 102.63 – 84.87 = 17.76 cm².

Jadi, luas daerah terarsir adalah (196π/6 – 49√3) cm² atau sekitar 17.76 cm². Peran AB = 7 cm mungkin sebagai pengecoh atau sebagai informasi untuk membuktikan bahwa segitiga AOB adalah segitiga tertentu, yang mungkin tidak langsung digunakan jika kita sudah menemukan r dari segitiga AOD.

Variasi Soal dan Penerapan Konsep

Soal seperti ini tidak hidup dalam ruang hampa. Dengan mengubah satu variabel, misalnya sudut pusat atau panjang tali busur, karakter soal dan kompleksitas penyelesaiannya bisa berubah total. Memahami variasi ini membuat kita lebih tangkas dalam menghadapi soal geometri yang serupa tapi tak sama.

Tips Identifikasi dan Pemilihan Rumus

Sebelum melihat variasi datanya, ada baiknya kita menyusun strategi cepat untuk membaca soal sejenis. Berikut adalah poin-poin yang bisa dijadikan panduan.

  • Fokus pada sudut yang disebutkan. Jika sudut merujuk ke titik pusat (biasanya diberi nama O), maka konsep juring dan sudut pusat akan terlibat.
  • Perhatikan panjang garis. Garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran adalah tali busur. Garis dari pusat ke lingkaran adalah jari-jari.
  • Daerah terarsir yang berbentuk bulan sabit tipikal diselesaikan dengan rumus: Luas Tembereng = Luas Juring – Luas Segitiga.
  • Jika segitiga yang terbentuk adalah segitiga sama kaki (karena dua sisi adalah jari-jari), rumus luas segitiga dengan sinus sangat efisien: ½
    – r²
    – sin(θ).
  • Jika yang diketahui adalah panjang tali busur dan sudut pusat, jari-jari bisa ditemukan lebih dulu dengan aturan cosinus.

Contoh Variasi Data dan Pendekatan

Tabel berikut menunjukkan bagaimana perubahan data mempengaruhi bangun datar dan pendekatan solusi, meskipun konsep inti tembereng tetap sama.

Variasi Data Bangun Datar Terlibat Pendekatan Solusi Hasil Luas (Rumusan)
AOD = 90°, AD = 10√2 cm, r = 10 cm Juring dan segitiga siku-siku sama kaki Langsung hitung luas juring (θ/360*πr²) dan luas segitiga (½*r²). 25π – 50 cm²
AOD = 120°, OA = OD = 8 cm Juring dan segitiga sama kaki dengan sudut 120° Hitung luas juring. Untuk segitiga, gunakan ½*r²*sin(120°). (64π/3) – 16√3 cm²
AD = 12 cm, Apotema ke AD = 4 cm Tembereng (tanpa sudut pusat eksplisit) Cari jari-jari dari apotema dan tali busur, lalu cari sudut pusat dengan trigonometri. Bergantung pada r dan θ yang ditemukan.
AOD = 60°, AB = 7 cm (sebagai tinggi dari A ke OD) Juring dan segitiga tidak sama sisi Gunakan AB sebagai tinggi segitiga AOD dengan alas OD (r). Hitung r dari luas segitiga tersebut. Perhitungan akan berbeda, melibatkan r dari ½

  • r
  • 7.

Aplikasi dan Ilustrasi Visual Deskriptif

Luas Daerah Terarsir: AOD 60°, AD 14 cm, AB 7 cm

Source: jajankost.com

Konsep menghitung luas daerah tidak beraturan seperti tembereng ini jauh dari sekadar latihan akademis. Ia memiliki denyut nadi dalam dunia nyata. Bayangkan seorang arsitek yang mendeskan jendela lengkung atas pintu (transom window) berbentuk setengah lingkaran dengan bagian bawahnya datar. Untuk memesan kaca berwarna (stained glass) yang tepat, ia perlu menghitung luas bagian lengkung tersebut, yang tak lain adalah setengah dari sebuah tembereng besar.

Deskripsi Komposisi dengan Bangun Lain

Daerah terarsir bisa saja bukan hanya tembereng murni. Misalkan dalam soal yang sama, daerah terarsir adalah area di dalam persegi ABCD, tetapi di luar seperempat lingkaran berpusat di A dengan jari-jari AB. Atau, bentuknya seperti daun yang terbentuk dari dua busur lingkaran yang berpotongan. Deskripsi tekstualnya akan menjadi: “Sebuah persegi dengan sisi 14 cm. Pada setiap dua sudut yang berdekatan, digambar seperempat lingkaran dengan jari-jari 14 cm ke dalam persegi.

Daerah terarsir adalah area di dalam persegi yang tertutup oleh kedua busur seperempat lingkaran tersebut, membentuk bentuk seperti lensa atau almond.” Penyelesaiannya akan melibatkan luas persegi, luas seperempat lingkaran, dan pengurangan area yang beririsan.

Langkah Menggambar Sketsa Berdasarkan Data

Menggambar sketsa yang akurat adalah langkah pertama yang krusial. Berikut deskripsi langkah-langkahnya berdasarkan data AOD 60°, AD 14 cm, dan AB 7 cm. Pertama, gambarlah sebuah titik dan beri label O sebagai pusat. Dengan menggunakan jangka atau memperkirakan, gambarlah sebuah lingkaran dengan radius kira-kira 14 cm (skala bisa disesuaikan). Kedua, dari titik O, gambarlah dua garis (jari-jari) OA dan OD sedemikian rupa sehingga sudut antara mereka adalah 60°.

Untuk akurasi, gunakan busur derajat. Ketiga, hubungkan titik A dan D dengan sebuah garis lurus. Ini adalah tali busur AD yang panjangnya 14 cm. Keempat, dari titik A, gambarlah sebuah garis menuju sebuah titik B pada lingkaran atau pada garis OD, dengan panjang kira-kira 7 cm. Posisi pasti B perlu dianalisis lebih lanjut, tetapi dalam sketsa awal, ia bisa digambar sebagai garis dari A yang mendekati OD.

Terakhir, arsirlah daerah yang dibatasi oleh busur AD (bagian lingkaran antara A dan D yang tidak memotong sudut 60° dari dalam) dan garis lurus AD. Sketsa ini akan memperjelas bahwa daerah terarsir adalah sebuah tembereng.

Kesimpulan

Jadi, begitulah proses mengungkap misteri luas daerah terarsir tersebut. Dari sekumpulan data sudut dan panjang garis, kita berhasil membedahnya menjadi konsep juring dan segitiga, lalu menyatukannya kembali dalam rumus tembereng. Perhitungan ini bukan cuma tentang memasukkan angka ke dalam rumus, melainkan tentang melatih logika spasial dan pemahaman mendalam tentang hubungan antar bangun datar. Konsep yang sama ini bisa diterapkan di berbagai situasi nyata, mulai dari desain arsitektur hingga perencangan taman, di mana kita sering berurusan dengan area-area tidak beraturan yang elegan.

Pada akhirnya, menguasai penyelesaian soal seperti ini membuka pola pikir analitis. Setiap kali melihat bentuk lengkung dan garis lurus yang berpotongan, kita jadi punya “toolkit” untuk menganalisisnya. Jadi, jangan lagi takut dengan daerah terarsir yang bentuknya aneh; anggap saja sebagai tantangan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa matematika yang rapi dan solutif. Selamat berhitung, dan semoga setiap daerah terarsir berikutnya jadi lebih mudah untuk dijelajahi!

Daftar Pertanyaan Populer

Apakah panjang AB = 7 cm pasti merupakan jari-jari lingkaran?

Tidak selalu. Dari konteks soal, AB kemungkinan besar adalah jari-jari (OA atau OB), karena A dan B biasanya titik pada lingkaran dan O adalah pusat. Namun, perlu dicek posisi titiknya pada gambar. Jika B berada pada lingkaran dan O adalah pusat, maka AB bisa jadi adalah jari-jari.

Bagaimana jika sudut AOD bukan 60° melainkan 90° atau 120°?

Prinsipnya tetap sama: hitung luas juring dengan sudut baru, lalu kurangi luas segitiga AOD. Perubahan sudut akan mengubah proporsi luas juring terhadap luas lingkaran dan mungkin juga jenis segitiga AOD (misalnya, menjadi segitiga siku-siku jika 90°).

Apakah segitiga AOD pasti sama sisi?

Tidak. Segitiga AOD hanya akan sama sisi jika kedua sisi OA dan OD adalah jari-jari dan sudut pusatnya 60°. Informasi bahwa AOD = 60° dan OA=OD (sebagai jari-jari) memang mengarah ke segitiga sama sisi, tetapi perlu konfirmasi bahwa OA dan OD benar-benar jari-jari.

Metode apa saja selain rumus tembereng untuk menyelesaikan soal ini?

Selain cara juring dikurangi segitiga, untuk kasus khusus bisa menggunakan rumus langsung luas tembereng jika diketahui jari-jari dan sudut pusat, atau dengan metode integral kalkulus untuk pendekatan yang lebih umum. Namun, cara juring-segitiga adalah yang paling dasar dan intuitif.

Bagaimana jika yang diketahui adalah panjang busur AD, bukan tali busur AD?

Langkah pertama adalah mencari jari-jari atau sudut pusat dari informasi panjang busur. Jika panjang busur dan sudut diketahui, jari-jari bisa dihitung. Setelah jari-jari dan sudut diketahui, prosedur perhitungan luas tembereng kembali ke cara yang sama.

Leave a Comment