Makna Rasionalitas yang Sebenarnya Bukan Cuma Logika

Makna Rasionalitas yang Sebenarnya seringkali kita pelesetkan jadi sekadar sok logis atau jago berhitung untung rugi. Padahal, nih, rasionalitas itu lebih mirip peta navigasi jiwa yang lengkap—bukan cuma GPS dingin yang cuma kasih tahu belok kiri atau kanan. Ia adalah kemampuan kita untuk menyelaraskan logika, bukti, nilai, bahkan empati, supaya kita nggak cuma jadi robot penghitung yang efisien, tapi manusia yang bijak dalam memilih.

Bayangkan, kita bisa saja mengambil keputusan yang secara matematis menguntungkan, tapi ternyata di dalamnya penuh jebakan bias dan fallacy yang bikin kita terjebak di lubang yang sama berkali-kali.

Nah, dalam perjalanan memahami peta ini, kita akan menelusuri batas-batas nalar manusia, mengidentifikasi bias-bias yang suka menggerogoti ketajaman berpikir, dan melihat bagaimana tekanan sosial bisa membelokkan apa yang kita anggap “masuk akal”. Rasionalitas yang sejati itu bukan bawaan lahir, lho. Ia lebih seperti otot yang perlu terus dilatih dengan latihan berpikir kritis, kesadaran akan emosi sendiri, dan keberanian untuk mempertanyakan hal yang paling kita yakini sekalipun.

Siap untuk mengupas lapisan-lapisan ilusi dari pikiran kita sendiri?

Pengertian Dasar dan Batasan Rasionalitas

Sebelum kita menyelami lebih dalam, mari kita sepakati dulu apa yang kita maksud dengan “rasional”. Dalam percakapan sehari-hari, rasional sering disamakan dengan “masuk akal” atau “tidak emosional”. Namun, dalam ranah filsafat dan psikologi kognitif, maknanya lebih spesifik dan berlapis. Secara mendasar, rasionalitas adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, memproses informasi secara efektif, dan mengambil keputusan yang selaras dengan tujuan dan bukti yang ada.

Makna rasionalitas yang sebenarnya bukan cuma soal logika kaku, tapi kemampuan menyusun pola dari hal-hal yang tampak acak. Coba lihat, misalnya, tantangan mencari Tiga bilangan berurutan dengan jumlah pangkat 50 ini. Di balik angka-angka itu, kita dilatih untuk berpikir sistematis dan kreatif. Nah, di situlah esensi rasionalitas: sebuah proses nalar yang terstruktur namun tetap luwes dalam menemukan solusi, bahkan untuk persoalan yang tampak rumit sekalipun.

Psikologi kognitif melihatnya sebagai proses mental yang optimal dalam mencapai suatu tujuan, sementara filsafat sering mempertanyakan dasar dari tujuan itu sendiri.

Dua konsep kunci yang perlu dipahami adalah rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai. Rasionalitas instrumental fokus pada efisiensi cara untuk mencapai tujuan, terlepas dari apakah tujuan itu baik atau buruk. Sementara rasionalitas nilai mempertanyakan dan menilai tujuan itu sendiri berdasarkan prinsip moral, etika, atau keyakinan mendasar.

Rasionalitas Instrumental versus Rasionalitas Nilai, Makna Rasionalitas yang Sebenarnya

Untuk memperjelas perbedaan mendasar antara kedua konsep ini, tabel berikut membandingkan karakteristik utamanya.

Rasionalitas Instrumental Rasionalitas Nilai
Berfokus pada cara atau metode. Berfokus pada tujuan akhir atau nilai yang dikejar.
Pertanyaan kunci: “Apakah ini cara yang paling efisien dan efektif untuk mencapai X?” Pertanyaan kunci: “Apakah X ini merupakan tujuan yang baik, bermoral, dan layak untuk dikejar?”
Bersifat teknis dan kalkulatif. Contoh: Memilih rute terpendek ke kantor. Bersifat filosofis dan etis. Contoh: Mempertimbangkan apakah karir di kantor itu selaras dengan nilai hidup tentang kebebasan waktu.
Sering netral secara nilai. Sebuah rencana kejahatan yang sempurna bisa sangat rasional secara instrumental. Secara eksplisit melibatkan pertimbangan nilai, norma, dan etika.

Namun, manusia bukan mesin logika yang sempurna. Seringkali, tindakan yang kita anggap rasional ternyata dibelokkan oleh bias yang tak kita sadari. Perhatikan contoh berikut:

Seorang manajer menerima laporan kinerja tim yang sangat baik di kuartal pertama. Di kuartal kedua, ada penurunan kecil namun signifikan. Alih-alih menganalisis faktor pasar yang berubah, sang manajer langsung menyimpulkan bahwa timnya mulai menjadi “malas” dan “terlalu nyaman”. Ia kemudian menerapkan peraturan ketat baru. Tindakannya tampak rasional—mencari penyebab dan bertindak—tetapi sangat mungkin terkontaminasi oleh bias negativity, di mana informasi negatif (penurunan) memiliki bobot psikologis yang lebih besar daripada informasi positif (kinerja baik yang konsisten sebelumnya).

Ini mengantarkan kita pada batasan utama pemikiran rasional manusia. Batasan itu berasal dari dalam diri kita sendiri, seperti kapasitas kognitif yang terbatas (kita tidak bisa memproses semua informasi), pengaruh emosi yang kuat, serta ketergantungan pada heuristik—jalan pintas mental yang berguna tapi rentan kesalahan. Batasan juga datang dari luar, seperti informasi yang tidak lengkap, kompleksitas dunia yang tak terhingga, dan tekanan waktu yang memaksa kita memutuskan dengan data yang minim.

BACA JUGA  Hitung Arus Kapasitor 120V 60Hz 2µF Langkah dan Aplikasinya

Elemen Pembentuk Pemikiran Rasional

Jika rasionalitas adalah sebuah bangunan, maka ia memerlukan batu bata dan pondasi yang kokoh. Elemen-elemen ini bekerja sama dalam sebuah proses yang sistematis untuk menghasilkan penalaran yang solid. Memahami komponen-komponen ini adalah langkah pertama untuk melatih otak kita berpikir lebih jernih dan terstruktur.

Komponen kunci dari berpikir rasional meliputi: kemampuan mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah dengan jelas, keterampilan mengumpulkan dan mengevaluasi bukti atau data yang relevan, penerapan logika (baik deduktif maupun induktif) untuk menarik kesimpulan, kesadaran akan asumsi dan bias pribadi, serta komitmen untuk konsisten secara internal—artinya, kesimpulan kita tidak boleh bertentangan dengan premis atau fakta yang kita akui sendiri.

Peta Elemen Rasional dalam Keputusan Sehari-hari

Elemen-elemen abstrak tadi sebenarnya aktif bekerja dalam keputusan kecil kita sehari-hari. Tabel berikut memetakannya ke dalam contoh yang konkret.

Elemen Pemikiran Rasional Deskripsi Singkat Contoh dalam Pengambilan Keputusan Penerapan Praktis
Identifikasi Masalah Mendefinisikan dengan tepat apa yang ingin diselesaikan atau diputuskan. Membeli laptop baru. Bertanya: “Apa kebutuhan spesifik saya? Untuk kerja, gaming, atau editing video? Apa masalah dengan laptop lama?”
Pengumpulan Bukti Mencari informasi yang relevan, akurat, dan dari sumber terpercaya. Membandingkan spesifikasi, harga, dan review berbagai merek laptop. Membaca review dari tech reviewer terpercaya, bukan hanya iklan atau satu testimoni.
Logika Deduktif & Induktif Deduktif: dari umum ke khusus. Induktif: dari khusus ke umum. Menyimpulkan pilihan terbaik. Deduktif: “Semua laptop dengan baterai kecil cepat habis. Laptop A baterainya kecil. Jadi, laptop A cepat habis.” Induktif: “Dari 50 review, 45 mengatakan laptop B awet. Jadi, kemungkinan besar laptop B awet.”
Konsistensi Internal Memastikan kesimpulan tidak bertentangan dengan fakta atau nilai yang dipegang. Mempertimbangkan anggaran. Jika nilai kamu adalah “hidang hemat”, maka memutuskan membeli laptop paling mahal dengan cara kredit tinggi adalah tidak konsisten secara internal.

Peran logika deduktif dan induktif khususnya sangat sentral. Logika deduktif memberi kita kepastian—jika premisnya benar dan strukturnya valid, kesimpulannya pasti benar. Ia seperti memastikan sebuah rantai tidak ada yang putus. Sementara logika induktif memberi kita probabilitas dan pola berdasarkan pengamatan. Ia adalah fondasi dari ilmu pengetahuan modern.

Dalam kerangka rasional, keduanya digunakan secara bergantian: kita mungkin memulai dengan observasi induktif (“setiap kali hujan, jalanan basah”), lalu membentuk hipotesis, dan mengujinya dengan penalaran deduktif.

Bukti empiris dan konsistensi internal adalah dua penjaga gerbang argumen yang rasional. Bukti empiris mengikat pemikiran kita pada realitas yang dapat diobservasi, mencegah kita melayang ke dalam spekulasi tanpa dasar. Sementara konsistensi internal adalah penjaga dari dalam; ia memastikan sistem keyakinan atau argumen kita tidak mengandung kontradiksi yang akan meruntuhkannya sendiri. Sebuah argumen yang menggunakan data empiris palsu sudah pasti cacat.

Demikian juga, argumen yang secara logika tidak konsisten (misalnya, menyangkal sesuatu yang justru menjadi dasar argumennya) juga akan runtuh dengan sendirinya.

Hambatan dan Distorsi dalam Pencapaian Rasionalitas

Jalan menuju penalaran yang jernih jarang sekali lurus. Banyak lubang dan belokan licin yang siap menjebak kita. Seringkali, musuh terbesar dari rasionalitas bukanlah kebodohan, melainkan ilusi kepastian yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Emosi, misalnya, bukanlah musuh yang harus dienyahkan, tetapi ia bisa seperti kaca pembesar yang mendistorsi bobot informasi. Rasa takut membuat ancaman tampak lebih besar, cinta membuat kekurangan sang kekasih tampak kecil.

Selain emosi, otak kita mengandalkan heuristik kognitif—semacam rule of thumb mental—untuk mengambil keputusan cepat. Ini adaptif dalam evolusi, tapi di dunia modern yang kompleks, ia sering menjadi sumber bias yang sistematis. Kita lebih takut terbang daripada berkendara, padahal data statistik mengatakan sebaliknya, karena kecelakaan pesawat lebih dramatis dan mudah diingat (availability heuristic).

Rasionalitas yang sebenarnya bukan cuma soal logika kaku, tapi tentang menemukan pola di balik kekacauan. Nah, dalam matematika, pola itu bisa muncul saat kita Menentukan nilai p invers dari faktor (x‑p) pada persamaan kuadrat. Proses itu mengajarkan kita untuk berpikir mundur dan melihat akar masalah, yang pada akhirnya adalah esensi dari rasionalitas itu sendiri: mengambil keputusan yang tepat berdasarkan pemahaman mendalam, bukan sekadar ikut arus.

Bias Kognitif yang Sering Mengganggu

Berikut adalah lima bias kognitif yang paling umum dan kerap menggerogoti ketajaman nalar kita tanpa kita sadari:

  • Confirmation Bias: Kecenderungan untuk mencari, mengingat, dan menafsirkan informasi yang mengonfirmasi kepercayaan atau hipotesis yang sudah kita pegang sebelumnya.
  • Dunning-Kruger Effect: Kondisi di mana orang dengan kemampuan rendah di suatu bidang justru cenderung overestimasi kemampuannya, karena ketidakmampuan mereka untuk mengenali tingkat kompetensi yang sebenarnya.
  • Sunk Cost Fallacy: Keengganan untuk meninggalkan suatu usaha atau keputusan yang sudah menelan banyak sumber daya (waktu, uang, tenaga), meskipun bukti menunjukkan bahwa melanjutkannya justru merugikan.
  • Anchoring Bias: Terlalu bergantung pada informasi pertama yang diterima (angka “jangkar”) saat membuat keputusan selanjutnya. Harga awal dalam tawar-menawar sangat mempengaruhi persepsi kita tentang harga yang “wajar”.
  • In-group Bias: Memihak dan memberikan perlakuan lebih baik kepada orang yang dianggap berada dalam kelompok yang sama dengan kita, baik berdasarkan suku, agama, tim sepakbola, atau bahkan pilihan merek smartphone.
BACA JUGA  Arti Logika Hipotetika Verifikatif dalam Metode Ilmiah dan Contohnya

Logical fallacy atau kekeliruan dalam berpikir adalah jebakan lain yang lebih struktural. Salah satu yang berbahaya adalah “slippery slope”. Bayangkan seorang orang tua bernama Budi yang berpikir: “Jika saya mengizinkan anak saya main game online satu jam hari ini, besok dia akan minta dua jam. Lalu, dia akan kecanduan, nilai sekolahnya jatuh, tidak akan kuliah, dan akhirnya masa depannya hancur.” Dari sebuah izin kecil, Budi telah melompat ke sebuah bencana imajiner tanpa adanya bukti pendukung untuk setiap anak tangga dalam “lereng” itu.

Ia terjebak dalam narasi ketakutan yang terasa logis, namun sebenarnya cacat secara logika.

Jenis-Jenis Logical Fallacy Umum

Mengenali bentuk-bentuk fallacy adalah vaksin untuk melawan argumen yang menyesatkan, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri.

Jenis Fallacy Definisi Singkat Contoh Konkret
Ad Hominem Menyerang pribadi pembicara, bukan argumennya. “Jangan dengaran usulan reformasi pajaknya, dia kan pernah selingkuh.”
Straw Man Menyederhanakan atau mendistorsi argumen lawan agar mudah diserang. A: “Kita perlu meninjau ulang anggaran militer.” B: “Jadi kamu ingin negara kita tidak memiliki pertahanan dan mudah diserang?”
False Dilemma Menyajikan hanya dua pilihan ekstrem seolah-olah itulah satu-satunya opsi. “Kalau kamu tidak bersama kami, berarti kamu musuh kami.”
Appeal to Authority Mengklaim suatu hal benar hanya karena figur otoritas (yang bukan ahli di bidangnya) mengatakannya. “Produk ini pasti sehat, karena dipakai oleh artis terkenal X.” (Tanpa bukti ilmiah).
Post Hoc Ergo Propter Hoc Mengira karena A terjadi sebelum B, maka A pasti penyebab B. “Saya memakai kalung ini, lalu sakit kepala saya hilang. Jadi, kalung ini penyembuh sakit kepala.”

Rasionalitas dalam Konteks Sosial dan Etika

Apa yang dianggap “rasional” ternyata tidak universal. Ia dibungkus oleh kain budaya dan norma sosial tempat kita hidup. Di suatu masyarakat, menolak tawaran kerja dengan gaji tinggi untuk merawat orang tua yang sakit mungkin dianggap tidak rasional secara instrumental. Namun, dalam konteks nilai kolektif masyarakat tersebut yang menempatkan bakti pada orang tua sebagai hal utama, tindakan itu justru sangat rasional secara nilai.

Rasionalitas, dengan demikian, selalu punya dimensi sosial; ia juga merupakan produk negosiasi dan konsensus dalam suatu komunitas.

Hubungan antara rasionalitas dan etika adalah hubungan yang rumit namun tak terelakkan. Filsafat, dari utilitarianisme hingga deontologi, pada dasarnya adalah upaya merasionalisasi etika. Apakah tindakan yang rasional harus selalu etis? Dari sudut pandang rasionalitas instrumental, belum tentu. Tapi dari sudut pandang rasionalitas nilai yang menganggap keadilan dan kebaikan bersama sebagai tujuan tertinggi, maka etika menjadi bagian inheren dari rasionalitas itu sendiri.

Tindakan yang secara instrumental sempurna tetapi melanggar prinsip keadilan, pada akhirnya bisa dianggap sebagai tindakan yang irasional dalam skala yang lebih besar karena merusak fondasi sosial tempat tindakan itu sendiri bergantung.

Seorang pengusaha di sebuah kota kecil memutuskan untuk melakukan PHK besar-besaran dan memindahkan pabriknya ke negara dengan upah buruh lebih murah. Secara individu dan korporat, keputusan ini sangat rasional: biaya turun, laba meningkat, nilai saham naik. Namun, dampak kolektifnya adalah pengangguran massal, menurunnya daya beli masyarakat sekitar, dan matinya bisnis-bisnis pendukung. Konflik antara rasionalitas individu yang sempit dan kesejahteraan kolektif ini adalah salah satu teka-teki terbesar dalam ekonomi dan etika sosial.

Di sinilah peran empati dan perspektif orang ketiga menjadi krusial. Empati memungkinkan kita untuk memasukkan perhitungan tentang dampak tindakan kita pada orang lain ke dalam kalkulus rasional kita. Sementara, mengambil perspektif orang ketiga—melihat situasi seolah-olah kita adalah pengamat netral yang tidak terlibat—membantu kita mengurangi bias egois dan melihat gambaran yang lebih utuh. Alat-alat ini memperluas cakupan pertimbangan rasional kita dari sekadar “apa yang terbaik untuk saya” menuju “apa yang terbaik dalam konteks yang lebih luas”, yang pada akhirnya justru bisa menguntungkan semua pihak dalam jangka panjang.

Aplikasi dan Pengembangan Kapasitas Rasional: Makna Rasionalitas Yang Sebenarnya

Memahami teori itu penting, tapi yang lebih penting adalah mempraktikkannya. Rasionalitas adalah otot mental; ia perlu dilatih agar kuat dan lincah. Bagaimana cara melatihnya? Mulai dari prosedur sederhana dalam menganalisis klaim hingga latihan sehari-hari yang bisa mengasah ketajaman berpikir.

Ketika dihadapkan pada sebuah klaim atau informasi, jangan langsung telan mentah-mentah. Terapkan prosedur berpikir kritis secara bertahap. Pertama, identifikasi klaim yang sebenarnya: apa yang sedang dinyatakan sebagai kebenaran? Kedua, cari sumber dan bukti: siapa yang mengatakan ini, apa kredensialnya, dan bukti apa yang mereka ajukan? Ketiga, periksa konsistensi logika: apakah ada fallacy yang jelas?

BACA JUGA  Kesimpulan Kisah Nabi Luth dan Kaumnya Pelajaran Abadi tentang Azab

Keempat, cari perspektif alternatif: adakah informasi atau penjelasan lain yang bertentangan? Kelima, tarik kesimpulan sementara berdasarkan evaluasi bukti, sambil tetap terbuka untuk merevisinya jika ada data baru.

Latihan Praktis Mengasah Nalar

Berikut adalah beberapa latihan sederhana yang bisa kamu lakukan dalam aktivitas sehari-hari untuk menjaga otak tetap tajam:

  • Jurnal Argumen: Saat kamu memiliki pendapat kuat tentang sesuatu, tuliskan di kertas. Kemudian, paksa dirimu untuk menulis tiga argumen kuat yang mendukung sisi sebaliknya.
  • Deconstruct News: Baca sebuah berita. Pisahkan mana yang merupakan fakta yang dilaporkan, mana yang merupakan interpretasi atau opini dari jurnalis, dan mana yang merupakan pernyataan dari narasumber.
  • Prediksi dan Evaluasi: Buat prediksi tentang hal kecil (misal: “Besok rekan kerjaku akan datang terlambat”). Setelah kejadian, evaluasi: prediksimu benar? Apa buktinya? Jika salah, mengapa kamu sampai pada prediksi itu? Apa bias yang mungkin bekerja?

  • The “Five Whys”: Saat menghadapi masalah, tanyakan “mengapa” secara berurutan minimal lima kali untuk menggali akar penyebab yang sesungguhnya, bukan hanya gejala permukaan.
  • Debat Imajiner: Pilih topik. Mainkan peran sebagai kedua belah pihak yang berdebat, bergantian menyuarakan argumen terkuat masing-masing pihak.

Strategi Pengambilan Keputusan yang Rasional

Untuk keputusan pribadi yang lebih kompleks, diperlukan strategi yang terstruktur. Tabel berikut merangkum beberapa strategi kunci.

Strategi Tujuan Contoh Penerapan Manfaat Utama
Pro-Con List dengan Bobot Membuat evaluasi kuantitatif yang lebih objektif. Memilih tawaran kerja. Beri skor 1-5 pada setiap poin pro dan con berdasarkan tingkat kepentingannya, lalu jumlahkan. Mengurangi dominasi satu faktor emosional dan memvisualisasikan pertimbangan secara keseluruhan.
Premortem Mengidentifikasi potensi kegagalan sebelum keputusan diambil. Sebelum memulai bisnis, bayangkan: “Katakanlah kita gagal total dalam setahun. Apa penyebab paling mungkin?” Mendorong pemikiran kritis tentang risiko dan menyiapkan mitigasi sejak awal.
Mentor atau Dewan Penasihat Imajiner Mendapatkan perspektif luar yang beragam. Bertanya: “Apa yang akan dilakukan/dipikirkan oleh [figur yang kamu kagumi] dalam situasi ini?” Melepaskan diri dari echo chamber pikiran sendiri dan mengadopsi sudut pandang yang lebih bijak.
Batasan Waktu untuk Riset Mencegah analisis paralysis (terlalu banyak analisis hingga tak kunjung memutus). “Saya akan mengumpulkan informasi tentang investasi ini selama 3 hari, lalu memutuskan di hari ke-4.” Menyeimbangkan antara keinginan untuk informasi lengkap dan kebutuhan untuk bertindak tepat waktu.

Mari kita lihat contoh studi kasus. Sebuah komunitas di daerah pesisir sering dilanda banjir rob. Pendekatan reaktif dan emosional mungkin adalah mengungsi saat banjir datang dan mengutuk pemerintah. Namun, sekelompok warga menerapkan pendekatan rasional. Mereka mulai dengan mengumpulkan data empiris: mencatat tinggi air, periode pasang, dan frekuensi banjir selama dua tahun.

Mereka lalu menganalisis pola (induksi) dan menemukan korelasi dengan bulan tertentu dan aktivitas industri di hulu. Mereka membangun argumen yang konsisten dengan data tersebut dan menyusunnya dalam proposal. Alih-alih hanya protes, mereka mengajukan proposal berisi data itu kepada pemerintah daerah dan LSM, yang mencakup usulan solusi teknis sederhana seperti penanaman mangrove dan permohonan audit industri. Hasilnya, mereka mendapatkan perhatian dan bantuan yang lebih terarah.

Ini adalah rasionalitas dalam aksi: menggunakan bukti, logika, dan strategi untuk memecahkan masalah kompleks di dunia nyata.

Penutup

Makna Rasionalitas yang Sebenarnya

Source: quotefancy.com

Jadi, setelah menyelami samudera pemikiran ini, rasionalitas yang sebenarnya ternyata bukanlah tentang menjadi yang paling pintar atau paling dingin. Ia justru tentang menjadi paling jujur pada diri sendiri—mengakui bahwa kita punya batas, rentan tersesat oleh bias, namun tetap punya kemauan untuk memperbaiki arah. Titik akhirnya bukan sekadar keputusan yang “benar”, melainkan proses menjadi manusia yang lebih utuh, yang keputusannya tidak hanya cerdas untuk dirinya sendiri tetapi juga punya rasa untuk sekelilingnya.

Mari kita bawa pulang peta ini, dan gunakan untuk menavigasi setiap pilihan, besar atau kecil, dengan lebih sadar dan manusiawi.

FAQ Lengkap

Apakah orang yang rasional itu nggak boleh pakai perasaan?

Salah besar. Rasionalitas yang matang justru mengakui dan mempertimbangkan emosi sebagai data yang valid. Masalahnya bukan pada punya perasaan, tapi pada membiarkan emosi mendikte keputusan tanpa dikroscek dengan fakta dan logika.

Bagaimana cara membedakan antara keputusan rasional dan sekadar mengikuti kebiasaan?

Tanyakan “mengapa” yang mendasar. Keputusan rasional bisa dijelaskan alasan dan bukti pendukungnya, bahkan ketika itu adalah kebiasaan. Kalau alasannya cuma “selalu begitu” atau “orang lain juga begitu”, kemungkinan besar itu bukan rasionalitas murni.

Apakah menjadi rasional membuat proses mengambil keputusan jadi lebih lambat dan rumit?

Di awal iya, karena butuh latihan. Tapi seiring waktu, kerangka berpikir rasional akan menjadi otomatis seperti jalur cepat di otak, membantu kita menilai situasi dengan lebih cepat dan akurat tanpa terjebak dalam distorsi berpikir.

Bisakah kita 100% rasional sepanjang waktu?

Nyaris mustahil. Batasan kognitif, energi mental, dan pengaruh lingkungan selalu ada. Tujuannya bukan kesempurnaan, tapi meningkatkan persentase keputusan yang diambil dengan sadar dan berdasar, serta cepat mengenali ketika kita mulai tidak rasional.

Leave a Comment