Manfaat Ekologis Hutan Mangrove itu jauh lebih dari sekadar pemandangan hijau di tepian laut. Bayangkan sebuah komunitas pesisir yang aman dari amukan ombak, perairan yang jernih penuh kehidupan, dan sebuah sistem yang diam-diam menyimpan karbon lebih efisien daripada hutan hujan. Itulah yang dilakukan oleh hutan bakau, sang penjaga garis pantai yang seringkali kita anggap remeh. Mereka bukan sekadar tumbuhan biasa, melainkan arsitek ekosistem yang dengan gigih membangun pertahanan alami dan menciptakan pusat biodiversitas.
Dari akar-akar yang kokoh dan berliku yang menstabilkan tanah, hingga daun-daun yang menjadi awal rantai makanan bagi biota laut, setiap bagian mangrove memainkan peran vital. Ekosistem unik ini hidup di wilayah peralihan antara darat dan laut, menciptakan zona-zona khusus yang menjadi nursery ground bagi berbagai spesies. Kemampuannya dalam menyaring polutan dan menyimpan karbon dalam jumlah masif—yang dikenal sebagai blue carbon—menjadikannya solusi berbasis alam yang sangat relevan dengan tantangan perubahan iklim saat ini.
Pengertian dan Karakteristik Hutan Mangrove
Sebelum menyelami manfaatnya, penting untuk mengenal lebih dekat apa sebenarnya hutan mangrove itu. Berbeda dengan hutan di pegunungan atau dataran rendah, mangrove adalah komunitas tumbuhan yang hidup di zona pasang surut pantai tropis dan subtropis. Bayangkan sebuah wilayah peralihan yang unik, di mana daratan bertemu laut, air tawar bercampur dengan air asin. Di sanalah mangrove tumbuh subur, membentuk benteng hidup dengan karakter yang sangat khusus.
Ciri paling mencolok dari hutan ini adalah kemampuan tumbuhannya beradaptasi pada kondisi ekstrem: tanah berlumpur yang kurang oksigen, salinitas air yang tinggi, dan siklus pasang surut yang konstan. Adaptasi ini melahirkan bentuk-bentuk yang unik, seperti akar tunjang yang menjulang untuk bernapas, atau akar pasak yang seperti pena menancap di lumpur. Inilah yang membedakannya dari hutan bakau biasa; mangrove adalah sebuah ekosistem kompleks dengan zonasi yang jelas berdasarkan toleransi jenis tumbuhannya terhadap genangan air laut.
Jenis-Jenis Tumbuhan Mangrove dan Zona Ekologis
Source: apollo247.in
Hutan mangrove tidak didominasi oleh satu jenis saja. Terdapat kelompok mangrove sejati (major mangrove) yang hanya bisa hidup di habitat ini, dan mangrove ikutan (minor mangrove) yang dapat tumbuh di tempat lain. Beberapa jenis yang paling mudah dikenali adalah Rhizophora (bakau), dengan akar tunjangnya yang khas; Avicennia (api-api), dengan akar napas (pneumatofor) yang mencuat vertikal seperti pensil; dan Sonneratia (pidada), dengan pneumatofor yang berbentuk seperti kerucut.
Masing-masing memiliki strategi bertahan hidup yang mengagumkan, mulai dari kemampuan menyaring garam di daun hingga mekanisme perkecambahan biji langsung di pohon (vivipar).
Keberagaman ini tersusun dalam zona atau jalur yang paralel dengan garis pantai, dipengaruhi frekuensi dan lama genangan pasang. Zona terdepan, yang selalu terendam, biasanya didominasi oleh Avicennia dan Sonneratia. Di belakangnya, zona yang hanya terendam pasang tinggi dihuni oleh Rhizophora. Sementara di bagian paling dekat daratan, zona yang hanya sesekali terendam diisi oleh Bruguiera dan Nypa (nipah). Pola zonasi ini menciptakan mosaik habitat yang sangat produktif.
| Nama Spesies (Umum) | Ciri Khas Morfologi | Adaptasi Utama | Peran Ekologis Kunci |
|---|---|---|---|
| Rhizophora sp. (Bakau) | Akar tunjang (stilt root) yang banyak dan kokoh. | Vivipar: biji berkecambah di pohon; akar tunjang untuk stabilisasi dan pertukaran gas. | Pemecah gelombang utama; habitat utama bagi banyak organisme laut muda. |
| Avicennia sp. (Api-api) | Pneumatofor (akar napas) vertikal seperti pensil. | Kelenjar garam di daun untuk mengeluarkan kelebihan garam; pneumatofor untuk respirasi. | Pionir di zona terdepan; penstabil substrat lumpur; daunnya sebagai sumber detritus utama. |
| Sonneratia sp. (Pidada) | Pneumatofor berbentuk kerucut yang menonjol di sekeliling pangkal batang. | Toleransi tinggi terhadap salinitas dan genangan; sistem perakaran yang sangat efisien untuk mengambil oksigen. | Mempercepat pengendapan lumpur; bunga sebagai sumber nektar bagi kelelawar dan serangga. |
| Bruguiera sp. (Tancang) | Memiliki akar lutut (knee root) yang membengkok keluar dari tanah. | Vivipar; akar lutut berfungsi sebagai pneumatofor. | Mendominasi zona belakang; kayunya bernilai ekonomi; penyimpan karbon dalam biomassa yang signifikan. |
Peran sebagai Pelindung Alami Kawasan Pesisir
Bayangkan gelombang laut yang datang dengan energi penuh menghantam pantai. Sekarang, bayangkan gelombang yang sama harus melewati labirin akar-akar mangrove yang rapat dan batang-batang pohon yang berjejalan. Inilah konsep dasar mengapa mangrove disebut sebagai sabuk hijau pelindung pantai. Keberadaannya bukan sekadar penghias bibir pantai, melainkan insinyur ekosistem yang bekerja tanpa lelah menahan laju abrasi dan meredam amukan badai.
Mekanismenya bersifat fisik dan sangat efektif. Rumpun akar yang padat memperlambat aliran air, mengurangi energi gelombang secara signifikan sebelum mencapai daratan. Proses ini juga mendorong pengendapan sedimen, yang secara alami membangun dan menstabilkan garis pantai. Dalam skala besar, hutan mangrove yang lebat dan lebar dapat bertindak sebagai penyangga terhadap badai siklon bahkan tsunami. Studi pasca tsunami Aceh 2004 menunjukkan bahwa wilayah di belakang hutan mangrove yang relatif utuh mengalami kerusakan yang jauh lebih ringan dibandingkan wilayah yang mangrove-nya telah rusak.
Mekanisme Struktur Akar dalam Menstabilkan Pantai
Kunci dari fungsi perlindungan ini terletak pada arsitektur bawah tanah mangrove yang rumit. Berikut adalah cara kerja sistem perakarannya dalam menstabilkan wilayah pesisir:
- Jebakan Sedimen: Jaring akar yang rapat berfungsi seperti saringan raksasa, memperlambat aliran pasang surut sehingga material yang terbawa air (sedimen, partikel organik) mengendap dan terperangkap. Ini membangun tanah secara alami.
- Pengikat Substrat: Akar-akar yang menjalar luas dan dalam mengikat partikel tanah berlumpur yang lunak, mencegahnya tergerus oleh arus dan gelombang. Jaringan akar ini berfungsi seperti anyaman alami yang memperkuat struktur tanah.
- Redaman Energi: Setiap akar yang dilalui gelombang menguras energinya. Secara kolektif, ribuan akar dalam satu hektar mangrove dapat mereduksi tinggi dan kekuatan gelombang hingga lebih dari 66%, melindungi pemukiman dan infrastruktur di belakangnya.
Penyerapan dan Penyimpanan Karbon (Blue Carbon)
Dalam percakapan tentang perubahan iklim, hutan hujan tropis sering menjadi pahlawan penyerap karbon. Namun, ada pahlawan yang lebih hening dan efisien di garis pantai: ekosistem blue carbon, dengan mangrove sebagai bintang utamanya. Konsep blue carbon merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut. Yang membuat mangrove luar biasa adalah kecepatan dan kapasitasnya menyimpan karbon, terutama di dalam sedimen lumpurnya yang dalam.
Prosesnya dimulai dari produktivitas daun yang tinggi. Daun-daun mangrove yang gugur terurai menjadi detritus, yang sebagian dikonsumsi oleh organisme dan sebagian lagi terburu dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen) di bawah lapisan lumpur. Dalam kondisi ini, materi organik terurai sangat lambat, sehingga karbon yang terkandung di dalamnya terperangkap untuk waktu yang sangat lama, bahkan ribuan tahun. Selain itu, mangrove juga menangkap partikel karbon organik yang terbawa dari daratan oleh aliran sungai, menguburnya di dalam “bank” sedimennya.
Perbandingan Kapasitas Penyimpanan Karbon
Untuk memahami betapa efisiennya mangrove, mari kita bandingkan dengan hutan tropis daratan. Data dari berbagai penelitian konsisten menunjukkan keunggulan mangrove dalam hal kepadatan penyimpanan karbon per satuan luas.
| Ekosistem | Rentang Penyimpanan Karbon (Ton C/ha) | Komponen Penyimpanan Utama | Catatan Khusus |
|---|---|---|---|
| Hutan Mangrove | 700 – 1.400 | Sebagian besar (70-90%) tersimpan dalam sedimen tanah (hingga kedalaman 3m atau lebih). | Tingkat akumulasi karbon di sedimen bisa 10x lebih tinggi daripada hutan daratan. |
| Hutan Tropis Daratan | 150 – 400 | Hampir seluruhnya tersimpan dalam biomassa di atas permukaan (batang, cabang, daun). | Rentan terhadap pelepasan karbon cepat akibat kebakaran atau deforestasi. |
| Hutan Gambut Tropis | 600 – 1.200 | Tersimpan dalam lapisan gambut yang tebal (bahan organik terdekomposisi). | Penyimpanan sangat besar tetapi sangat rentan terhadap drainase dan kebakaran. |
Sebagai contoh perhitungan sederhana, jika satu hektar hutan mangrove primer menyimpan rata-rata 1.000 ton karbon, maka ekosistem tersebut setara dengan menyerap emisi karbon dioksida (CO2) dari pembakaran sekitar 3,8 juta liter bensin. Angka ini memberikan perspektif nyata mengapa melestarikan satu hektar mangrove bisa jauh lebih bernilai daripada menebangnya untuk tambak.
Habitat dan Pusat Keanekaragaman Hayati
Jika kita melihat hutan mangrove dari kejauhan, mungkin yang terlihat hanya hamparan hijau monoton. Namun, jika kita berjalan ke dalamnya saat air surut, kita akan memasuki dunia yang ramai dan sibuk. Ekosistem ini adalah tempat penitipan anak, kantin, dan tempat berlindung bagi sebagian besar kehidupan laut tropis. Kombinasi antara perairan yang tenang, substrat yang kaya nutrisi, dan perlindungan dari predator menjadikan mangrove nursery ground yang sempurna.
Keanekaragaman hayati di sini sangat tinggi. Dari bawah lumpur hingga tajuk pohon, setiap lapisan dihuni oleh makhluk dengan peran khusus. Rantai makanan dimulai dari detritus (serpihan daun yang membusuk), yang menjadi makanan bagi cacing, udang, dan kepiting kecil. Mereka kemudian dimangsa oleh ikan-ikan kecil, yang pada gilirannya menjadi santapan burung atau ikan besar. Ini adalah jaringan kehidupan yang saling terhubung secara simbiosis.
Kelompok Fauna yang Bergantung pada Mangrove
- Crustacea: Kepiting bakau (Scylla serrata), udang jenis tertentu (seperti udang windu), dan aneka udang-udangan kecil. Mereka adalah pemakan detritus dan penggali liang yang vital untuk aerasi tanah.
- Moluska: Kerang-kerangan seperti kerang darah, tiram, dan berbagai jenis keong. Banyak yang menempel pada akar mangrove untuk menyaring makanan dari air.
- Ikan: Ratusan spesies, termasuk ikan bandeng, kakap, dan banyak ikan karang muda, menggunakan mangrove sebagai area asuhan sebelum bermigrasi ke laut lepas atau terumbu karang.
- Burung: Burung pantai seperti kuntul, bangau, dan dara laut menjadikan mangrove sebagai tempat bersarang dan mencari ikan. Burung pemangsa seperti elang laut juga sering terlihat.
- Mamalia dan Reptil: Monyet ekor panjang, biawak, ular bakau, dan bahkan harimau di beberapa wilayah (seperti Sundarbans) bergantung pada ekosistem ini.
Siklus Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Mari kita ambil contoh kepiting bakau, komoditas bernilai tinggi. Siklus hidupnya sangat tergantung pada keberadaan mangrove yang utuh. Dimulai dari induk betina yang membawa ratusan ribu telur di laut lepas. Setelah menetas, larva kepiting yang mikroskopis terbawa arus menuju pantai. Saat mencapai perairan payau di sekitar mangrove, mereka bermetamorfosis menjadi juvenil (kepiting muda).
Masa-masa kritis ini dihabiskan di antara akar-akar mangrove, yang memberi mereka perlindungan dari predator dan sumber makanan melimpah berupa detritus dan organisme kecil. Kepiting muda akan tumbuh di sana, menggali liang di lumpur untuk berlindung saat air surut. Setelah mencapai ukuran tertentu, mereka akan bermigrasi ke zona yang lebih dalam. Tanpa hutan mangrove sebagai “sekolah dasar,” tingkat kelangsungan hidup larva kepiting bakau akan sangat rendah, yang berdampak langsung pada populasi alami dan hasil tangkapan nelayan.
Pengaturan Kualitas Air dan Nutrien
Selain sebagai pelindung dan penyerap karbon, mangrove juga berperan sebagai “ginjal” bagi wilayah pesisir. Setiap aliran air dari daratan—membawa limpasan pupuk dari pertanian, limbah organik, atau bahkan polutan—akan melewati filter alami ini sebelum masuk ke laut lepas. Proses penyaringan ini terjadi secara fisik, kimia, dan biologis, menghasilkan air yang lebih bersih untuk ekosistem laut di sekitarnya, seperti padang lamun dan terumbu karang.
Hutan mangrove itu seperti perawat pantai, menjaga garis pantai dari abrasi dan menjadi nursery ground bagi biota laut. Analogi peran vital ini mirip dengan persiapan seorang calon perawat yang perlu memahami esensi profesinya, seperti yang bisa dipelajari dari Contoh Tes Wawancara SMK Keperawatan. Pada akhirnya, sama seperti perawat yang melindungi kesehatan, mangrove adalah penjaga ekosistem pesisir yang keberadaannya wajib kita lestarikan demi keseimbangan alam.
Inti dari proses ini terletak pada zona perakaran. Saat air pasang masuk dan surut, kecepatannya berkurang drastis saat melalui rumpun akar. Partikel-partikel tersuspensi, termasuk polutan yang menempel padanya, mengendap. Selanjutnya, bakteri dan mikroorganisme yang hidup di sekitar akar dan pada sedimen memecah limbah organik dan menetralisir zat berbahaya tertentu melalui proses biokimia. Nutrien seperti nitrogen dan fosfor, yang berlebihan bisa menyebabkan eutrofikasi di laut, diserap oleh tumbuhan mangrove untuk pertumbuhannya.
Efektivitas Mangrove dalam Filtrasi Polutan
Berbagai penelitian telah mengukur kemampuan mangrove dalam meningkatkan kualitas air. Salah satu temuan yang sering dikutip menunjukkan peran signifikan mangrove dalam mengurangi beban pencemar.
Studi di Florida, AS, menunjukkan bahwa satu hektar hutan mangrove mampu menyaring 100 kg nitrogen dan 10 kg fosfor per tahun dari air yang melaluinya. Kemampuan ini setara dengan pengolahan air limbah sekunder oleh instalasi pengolahan buatan, namun dengan biaya yang jauh lebih rendah dan manfaat ekologis tambahan yang tak terhitung.
Proses daur ulang nutrien di sini sangat efisien. Daun dan ranting yang gugur diuraikan di tempat, nutrisinya dilepaskan kembali ke perairan dan dimanfaatkan oleh fitoplankton serta organisme lain, yang kemudian menjadi makanan bagi fauna mangrove. Siklus tertutup ini mempertahankan produktivitas ekosistem tanpa perlu input dari luar.
Dampak Kerusakan dan Upaya Restorasi
Sayangnya, di banyak tempat, nilai ekologis yang tak ternilai ini kalah oleh tekanan ekonomi jangka pendek. Konversi hutan mangrove menjadi tambak udang atau ikan, perluasan permukiman, pembangunan infrastruktur pesisir, dan pencemaran telah menyebabkan hilangnya mangrove secara global dengan laju yang mengkhawatirkan. Di Indonesia, sebagai pemilik mangrove terluas di dunia, degradasi ini telah terjadi selama beberapa dekade.
Konsekuensinya tidak main-main. Tanpa benteng mangrove, abrasi pantai menggerus desa dan sawah. Tanpa nursery ground, stok ikan dan udang tangkapan nelayan menurun drastis. Tanpa penyerap karbon, emisi yang terlepas ke atmosfer meningkat. Masyarakat pesisir yang dahulu mendapat jasa alam dari mangrove, kini menghadapi risiko banjir rob, intrusi air laut, dan kehilangan mata pencaharian.
Penyebab Utama Degradasi Hutan Mangrove, Manfaat Ekologis Hutan Mangrove
Faktor pendorong kerusakan bersifat kompleks dan saling terkait, namun beberapa penyebab utama dapat diidentifikasi:
- Alih Fungsi Lahan: Konversi skala besar menjadi tambak (akuakultur) adalah penyebab historis terbesar. Pola “tambak empang” seringkali tidak memperhatikan keberlanjutan ekologis.
- Eksploitasi Berlebihan: Penebangan untuk kayu bakar, arang, dan bahan bangunan tanpa diikuti penanaman kembali.
- Pencemaran: Tumpahan minyak, limbah industri, dan sampah plastik yang meracuni ekosistem dan menyumbat akar.
- Perubahan Hidrologi: Pembangunan jalan, tanggul, atau pemukiman yang memutus aliran pasang surut, menyebabkan mangrove mati karena “tenggelam” atau “kelelahan” air tawar.
Teknik dan Metode Restorasi Ekosistem Mangrove
Restorasi mangrove bukan sekadar menanam bibit. Pendekatan yang berhasil adalah berbasis ekosistem dan melibatkan masyarakat. Prinsip utamanya adalah “benar tempat, benar spesies, benar masyarakat.” Artinya, penanaman harus dilakukan di lokasi yang secara historis adalah mangrove, memilih jenis yang sesuai dengan zonasi alamiahnya, dan melibatkan masyarakat lokal sebagai penjaga utama.
| Metode Restorasi | Teknik Pelaksanaan | Tingkat Keberhasilan & Waktu Pemulihan | Pertimbangan Biaya & Kompleksitas |
|---|---|---|---|
| Penanaman Bibit (Rhizophora) | Menanam bibit propagul (biji yang sudah berkecambah) langsung di lumpur dengan jarak tertentu. | Cepat tumbuh, tetapi sering gagal jika lokasi tidak tepat. Butuh 3-5 tahun untuk membentuk tegakan muda. Tingkat keberhasilan sangat bervariasi (30-70%). | Biaya relatif rendah. Kompleksitas rendah, tetapi membutuhkan pemantauan dan perawatan (membenahi bibit yang terlepas, membersihkan sampah). |
| Restorasi Hidrologi | Memperbaiki atau membongkar struktur yang menghalangi aliran pasang surut (contoh: membuka tanggul tambak yang ditinggalkan). | Tingkat keberhasilan sangat tinggi (bisa >80%). Pemulihan terjadi secara alami (natural regeneration) dari biji yang terbawa air. Butuh waktu lebih lama (5-15 tahun) untuk membentuk komunitas matang. | Biaya awal bisa tinggi untuk pekerjaan teknik, tetapi biaya pemeliharaan sangat rendah setelah hidrologi diperbaiki. Kompleksitas tinggi karena perlu studi hidrologi yang mendalam. |
| Metode Belajar dari Alam (Ecological Mangrove Restoration – EMR) | Fokus pada menciptakan kondisi lingkungan yang tepat (topografi, salinitas, pasang surut) lalu membiarkan alam yang menanam sendiri, atau hanya membantu dengan penanaman terbatas. | Paling berkelanjutan dan menciptakan ekosistem yang lebih alami dan tahan banting. Keberhasilan jangka panjang tinggi. Waktu pemulihan menengah hingga panjang. | Biaya penelitian awal signifikan, tetapi biaya penanaman bisa lebih rendah. Kompleksitas sangat tinggi, membutuhkan ahli ekologi. |
| Pembangunan Ribuan Pulau Kecil (Millepora Technique) | Membuat pulau-pulau kecil dari bahan alami (bambu, kayu) di lokasi yang terdegradasi parah untuk menangkap sedimen dan biji mangrove secara alami. | Efektif di lokasi dengan energi gelombang tinggi dan erosi parah. Membutuhkan waktu untuk akumulasi sedimen sebelum mangrove bisa tumbuh. Keberhasilan bertahap. | Biaya material dan tenaga kerja tinggi. Kompleksitas tinggi dalam perancangan dan konstruksi yang tahan gelombang. |
Ringkasan Akhir: Manfaat Ekologis Hutan Mangrove
Jadi, melihat ulang seluruh fungsinya, jelas bahwa melestarikan hutan mangrove sama sekali bukan sekadar kegiatan penghijauan biasa. Ini adalah investasi strategis untuk ketahanan pesisir, ketahanan pangan dari sektor perikanan, dan mitigasi iklim global. Setiap hektar mangrove yang hilang bukan hanya berkurangnya jumlah pohon, tetapi runtuhnya sebuah benteng pertahanan yang kompleks. Upaya restorasi yang dilakukan hari ini adalah upaya memulihkan sebuah mesin ekologis yang telah bekerja tanpa henti, jauh sebelum kita menyadari betapa kita sangat bergantung padanya.
Keberlanjutannya adalah cermin dari bagaimana kita memandang masa depan wilayah pesisir.
Membahas manfaat ekologis hutan mangrove itu selalu menarik, lho. Ia bukan cuma penahan abrasi, tapi juga nursery ground bagi biota laut dan penyerap karbon super. Nah, konsep ekosistem dan interaksi kompleks ini sebenarnya bisa kamu pelajari lebih dalam lewat Materi Biologi Kelas XI Semester 1 Kurikulum 2013. Dengan memahami teori dasarnya, kita makin sadar betapa vitalnya peran mangrove bagi keseimbangan alam, mulai dari rantai makanan hingga mitigasi perubahan iklim.
FAQ dan Panduan
Apakah hutan mangrove bisa tumbuh di pantai berpasir yang landai?
Tidak semua jenis mangrove bisa. Mangrove umumnya membutuhkan substrat berlumpur atau lumpur berpasir yang stabil untuk menancapkan akarnya. Pantai berpasir yang landai dan bergelombang besar biasanya kurang cocok karena sedimentasinya kurang dan gelombangnya terlalu kuat untuk bibit muda.
Bagaimana cara membedakan mangrove asli dengan tanaman pantai lainnya?
Mangrove asli memiliki adaptasi fisiologis unik, seperti akar napas (pneumatofor) untuk bernapas di tanah anaerob, kemampuan mengeluarkan garam melalui kelenjar di daun, dan biji yang vivipar (berkecambah saat masih menempel di pohon induk). Tanaman pantai biasa umumnya tidak memiliki kombinasi ciri-ciri ini.
Apakah manfaat mangrove langsung terasa oleh masyarakat yang tinggal jauh dari pantai?
Ya, secara tidak langsung. Manfaat seperti penyerapan karbon (blue carbon) berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global yang berdampak pada semua orang. Selain itu, mangrove mendukung stok perikanan tangkapan lepas pantai, yang menjadi sumber pangan dan ekonomi bagi masyarakat yang lebih luas.
Bisakah hutan mangrove yang sudah rusak parah dipulihkan sepenuhnya?
Pemulihan penuh ke kondisi dan kompleksitas ekosistem asli membutuhkan waktu puluhan tahun. Namun, dengan teknik restorasi yang tepat (seperti menanam spesies asli di zonasi yang benar dan melibatkan masyarakat), fungsi ekologis utama seperti pencegahan abrasi dan sebagai habitat dapat kembali secara signifikan dalam waktu 10-20 tahun.
Mengapa sering ada bau tidak sedap di sekitar hutan mangrove?
Bau tersebut sering berasal dari proses dekomposisi material organik (seperti daun mangrove) di dalam sedimen berlumpur yang anaerob (kekurangan oksigen). Proses ini melibatkan bakteri yang menghasilkan gas seperti hidrogen sulfida, yang berbau seperti telur busuk. Ini sebenarnya adalah tanda dari proses daur nutrisi yang aktif di ekosistem tersebut.