Mencari Fakta Sejarah dan Imajinasi Pengarang dalam Novel Kemelut Majapahit itu seperti menjadi detektif waktu, menyelami sebuah narasi yang berani menjahit benang-benang bukti arkeologi dengan sulaman fantasi yang memikat. Novel ini bukan sekadar kisah kolosal tentang kejayaan dan keruntuhan, melainkan sebuah laboratorium sastra di mana masa lalu yang beku di prasasti dihidupkan kembali melalui napas, dialog, dan konflik manusiawi. Di sini, Gajah Mada mungkin bukan lagi nama monolitik dalam buku pelajaran, tetapi seorang manusia dengan ambisi dan keraguan, dikelilingi oleh tokoh-tokoh rekaan yang justru membuat era itu terasa begitu nyata dan relevan.
Melalui eksplorasi mendalam, kita akan membedah bagaimana novel ini menempatkan diri di persimpangan antara disiplin sejarah dan kebebasan berkarya. Dari akurasi deskripsi arsitektur ibu kota Majapahit hingga dramatisasi perebutan takhta yang menggetarkan, setiap halaman menawarkan percakapan antara apa yang tercatat dan apa yang mungkin terjadi. Analisis ini akan mengajak kita menelusuri metode pengarang dalam membangun dunia, menginterogasi pilihan artistiknya, dan akhirnya memahami pesan apa yang ingin disampaikan melalui perpaduan unik antara fakta dan fiksi tersebut.
Pengantar Novel dan Konteks Sejarah Majapahit
Novel “Kemelut Majapahit” mengajak kita menyelami salah satu periode paling rumit dalam sejarah Nusantara. Untuk memahami kedalaman ceritanya, kita perlu membuka kembali catatan tentang kerajaan yang menjadi latarnya: Kemaharajaan Majapahit. Kerajaan ini, yang berpusat di Jawa Timur, mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dengan mahapatih Gajah Mada. Namun, seperti semua imperium besar, masa keemasan itu tidak abadi.
Novel ini cerdas memilih setting pada masa-masa setelah kemegahan itu, yaitu di era kemunduran dan perpecahan internal.
Periode Sejarah Spesifik dalam Alur Cerita
Alur novel ini tidak berfokus pada masa keemasan Tribhuwana Tunggadewi atau Hayam Wuruk, melainkan pada periode setelahnya. Secara spesifik, cerita banyak berkisar pada masa pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429 M) dan konflik perebutan takhta yang dikenal sebagai Perang Paregreg (1404-1406 M). Perang saudara ini adalah peristiwa nyata yang tercatat dalam Pararaton dan Nagarakretagama, meski detailnya samar. Konflik ini dipicu oleh persaingan antara Wikramawardhana, yang merupakan suami dari putri mahkota Kusumawardhani, dengan Bhre Wirabhumi, yang diyakini sebagai putra Hayam Wuruk dari selir.
Perang ini menjadi titik balik signifikan yang melemahkan sendi-sendi politik dan militer Majapahit.
Garis Waktu Faktual versus Garis Waktu Novel
Pengarang novel berhadapan dengan garis waktu sejarah yang seringkali tidak lengkap dan penuh interpretasi. Garis waktu faktual Majapahit pasca-Hayam Wuruk, berdasarkan prasasti dan naskah kuno, lebih terasa seperti rangkaian tahun dan peristiwa besar yang kering. Sementara itu, novel “Kemelut Majapahit” mengambil lisensi artistik untuk merangkai peristiwa-peristiwa tersebut menjadi narasi yang hidup dan emosional. Pengarang mungkin memampatkan atau sedikit menggeser urutan beberapa peristiwa kecil untuk kepentingan alur dramatis, namun tetap berpegang pada tonggak utama seperti pecahnya Perang Paregreg dan dampaknya yang menghancurkan.
Perbedaan utama terletak pada “daging” dari kerangka sejarah itu; novel mengisi ruang kosong antara peristiwa dengan motivasi personal, dialog, dan konflik psikologis yang tidak mungkin tercatat dalam prasasti.
Tokoh Historis dan Rekaan dalam Narasi
Kekuatan narasi sejarah fiksi sering terletak pada percampuran antara tokoh yang pernah benar-benar hidup dan karakter ciptaan yang menjadi mata pembaca. Dalam “Kemelut Majapahit”, pengarang melakukan jungkir balik yang menarik antara keduanya. Tokoh-tokoh sejarah hadir bukan sebagai nama mati di buku pelajaran, melainkan sebagai manusia dengan ambisi, keraguan, dan intrik. Sementara itu, tokoh rekaan berperan sebagai penghubung yang membuat kita, pembaca modern, bisa merasakan denyut nadi zaman itu.
| Nama Tokoh (Historis) | Peran dalam Sejarah Faktual | Penggambaran dalam Novel |
|---|---|---|
| Wikramawardhana | Raja Majapahit pengganti Hayam Wuruk (melalui pernikahan dengan putri mahkota), menghadapi Perang Paregreg melawan Bhre Wirabhumi. | Digambarkan sebagai sosok yang kompleks, terombang-ambing antara tanggung jawab negara, tekanan keluarga, dan ambisi pribadi. Bukan sekadar raja, tapi seorang manusia yang terjepit dalam situasi sulit. |
| Bhre Wirabhumi | Penguasa di wilayah timur (Lumajang, Blambangan), dianggap sebagai pesaing takhta yang memicu Perang Paregreg. Dikisahkan tewas dalam perang. | Dihadirkan bukan sekadar sebagai “pemberontak”, tetapi sebagai pihak yang memiliki klaim dan alasan politiknya sendiri. Karakternya dibangun untuk menimbulkan simpati dan konflik batin pembaca. |
| Ratu Kusumawardhani | Putri Hayam Wuruk yang menikah dengan Wikramawardhana, memberikan legitimasi atas takhta. | Perannya sering diperkuat, digambarkan memiliki pengaruh politik yang kuat di balik layar, serta menjadi penengah atau justru sumber ketegangan dalam dinamika keluarga kerajaan. |
Karakter Fiksi Utama dan Peran Penghubung
Selain tokoh sejarah, novel ini menghadirkan karakter fiksi utama, misalnya seorang ksatria bawahan, saudagar, atau bahkan mata-mata dari kalangan biasa. Karakter inilah yang menjadi “kendaraan” pembaca. Melalui matanya, kita menyaksikan kemegahan istana sekaligus kotoran di jalanan kota. Melalui konflik pribadinya—bisa soal cinta, loyalitas, atau sekadar bertahan hidup—kita memahami dampak besar dari perebutan kekuasaan di tingkat elit terhadap rakyat biasa. Dia adalah benang merah yang merajut berbagai lokasi dan peristiwa, dari pusat pemerintahan di Trowulan hingga medan pertempuran di daerah perbatasan.
Interaksi Tokoh Rekaan dan Tokoh Sejarah
Pengarang membangun interaksi ini dengan cermat. Tokoh rekaan mungkin dipercaya sebagai pengawal pribadi Bhre Wirabhumi, sehingga menyaksikan langsung rapat-rapat penting dan mendengar keluh kesahnya. Atau, dia bisa menjadi kurir yang membawa pesan rahasia antara Wikramawardhana dan para adipati. Interaksi semacam ini tidak hanya memajukan plot, tetapi juga memberikan sudut pandang “dari dalam” terhadap tokoh sejarah. Kita jadi tahu, misalnya, bagaimana ekspresi wajah sang raja ketika mendengar kabar buruk, atau bisikan apa yang diucapkan seorang ratu kepada orang kepercayaannya.
Hal-hal intim inilah yang mengubah monumen sejarah menjadi manusia yang bisa kita pahami, atau setidaknya, kita bayangkan.
Peristiwa Faktual dan Dramatisasi Sastra
Novel sejarah yang baik berdiri di atas pijakan fakta yang kokoh, tetapi bernapas melalui paru-paru imajinasi. “Kemelut Majapahit” mengambil peristiwa-peristiwa besar yang tercatat samar-samar dalam sumber sejarah, lalu memberinya napas, darah, dan emosi. Tugas pengarang di sini bukan hanya melaporkan, melainkan merekonstruksi dan menghidupkan.
Peristiwa Besar Berdasar Fakta dan Referensi
Beberapa peristiwa inti dalam novel ini memiliki dasar sejarah yang kuat. Perang Paregreg itu sendiri adalah fakta, disebutkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama. Kematian Bhre Wirabhumi, yang kepalanya dipenggal dan dibawa ke istana, juga merupakan catatan sejarah yang dramatis. Selain itu, latar belakang melemahnya kekuatan pusat setelah wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada, serta menguatnya kekuatan daerah (kadipaten), adalah tren historis yang dapat diverifikasi melalui studi prasasti dan struktur pemerintahan Majapahit.
Imajinasi Mengisi Celah Sejarah
Di sinilah imajinasi pengarang bekerja. Sejarah mungkin hanya mencatat “terjadi perang saudara”. Pengarang lalu bertanya: Bagaimana suasana hati para prajurit yang harus berperang melawan saudara sendiri? Apa yang dibicarakan oleh para jenderal dalam tenda mereka pada malam sebelum pertempuran? Bagaimana rasanya seorang istri di ibu kota menunggu suaminya yang pergi berperang?
Imajinasi digunakan untuk mengisi celah-celah psikologis, sosial, dan dialogis ini. Pengarang juga mungkin menciptakan insiden kecil—seperti pembunuhan seorang kurir atau pertemuan rahasia di sebuah candi—yang menjadi pemicu atau pemercepat peristiwa besar, sesuatu yang tidak tercatat tetapi sangat mungkin terjadi dalam konteks politik yang panas.
Analisis Adegan Konflik: Fakta dan Fiksi
Mari kita lihat potongan adegan yang mungkin muncul dalam novel, menggambarkan klimaks dari konflik tersebut:
Kabut pagi masih menyelimuti dataran Bubat. Dari kejauhan, teriakan dan gemerincing senjata sudah terdengar seperti gemuruh halilintar. Raden Jaka, seorang komandan bawahan Wikramawardhana, mengeratkan gagang pedangnya. Di seberang barisan, dia melihat panji-panji Lumajang berkibar. Di baliknya, mungkin saja ada mantan sahabat seperguruannya. Perintah dari istana jelas: tumpas semua pemberontak. Tapi hati kecilnya bertanya: siapa sebenarnya pemberontak di tanah yang tercabik ini? Sebelum dia bisa merenung lebih jauh, terompek perang berbunyi, dan gelombang manusia dari kedua sisi saling menerjang, menyatukan amarah, rasa sakit, dan pengabdian yang keliru dalam sebuah tarian maut.
Unsur Fakta: Latar tempat (Bubat sering dikaitkan dengan konflik dalam tradisi), keberadaan dua kubu (Wikramawardhana vs. Bhre Wirabhumi/Lumajang), dan sifat perang saudara adalah fakta historis. Unsur Fiksi: Karakter Raden Jaka adalah ciptaan. Pikiran dan keragu-raguannya yang internal, detail suasana pagi berkabut, serta deskripsi sensorial pertempuran (teriakan, gemerincing) adalah hasil imajinasi pengarang untuk membangun emosi dan immersi. Adegan ini menunjukkan bagaimana fakta menjadi kerangka, sedangkan fiksi menjadi daging dan jiwa dari narasi tersebut.
Arsitektur, Budaya, dan Kehidupan Sosial sebagai Latar: Mencari Fakta Sejarah Dan Imajinasi Pengarang Dalam Novel Kemelut Majapahit
Keberhasilan sebuah novel sejarah juga diukur dari kemampuannya membangkitkan “rasa zaman”. Bagaimana sebuah kota terdengar dan berbau, bagaimana orang berpakaian dan berbicara, bagaimana hierarki sosial memengaruhi setiap interaksi. “Kemelut Majapahit” berusaha menghidupkan kembali Majapahit bukan hanya sebagai entitas politik, tapi sebagai sebuah peradaban yang hidup dan bernafas.
Penggambaran Tata Kota dan Arsitektur
Berdasarkan data arkeologi dari situs Trowulan, pengarang menggambarkan ibu kota Majapahit sebagai kota yang terencana. Novel ini mungkin menyebutkan kanal-kanal air ( sudetan) yang membelah kota, kompleks istana yang dikelilingi tembok bata merah, dan bangunan pendopo beratap tumpang. Candi-candi seperti Bajang Ratu atau Candi Tikus mungkin disebut bukan hanya sebagai monumen, tetapi sebagai bagian dari kehidupan ritual. Deskripsi pasar yang ramai di tepi kanal, dengan para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara bahkan mancanegara, juga mengacu pada temuan arkeologis tentang betapa kosmopolitannya kota ini.
Unsur Budaya dalam Ritual dan Seni
Novel ini akan kaya dengan detil budaya yang memberikan warna lokal. Beberapa unsur yang mungkin ditampilkan antara lain:
- Ritual Keagamaan: Penggambaran upacara Sraddha (pemakaman) untuk bangsawan, atau ritual syukur di punden desa, yang menggambarkan sinkretisme Hindu-Buddha dengan kepercayaan lokal.
- Seni Pertunjukan: Adegan wayang beber atau wayang kulit yang dipentaskan di pendopo keraton, mungkin dengan lakon yang secara metaforis mencerminkan konflik dalam cerita.
- Busana dan Penampilan: Detil tentang kain kain patola yang diimpor, perhiasan emas dan batu mulia yang dikenakan bangsawan, serta ikat kepala ( udeng) atau sanggul khusus para wanita istana.
- Kuliner: Penyebutan hidangan seperti aneka satay, tuak, atau minuman dari kelapa, yang menambah keaslian dalam adegan perjamuan atau kehidupan sehari-hari.
Stratifikasi Sosial dan Kehidupan Sehari-hari, Mencari Fakta Sejarah dan Imajinasi Pengarang dalam Novel Kemelut Majapahit
Novel ini kemungkinan merepresentasikan stratifikasi sosial Majapahit dengan cukup akurat. Kita akan melihat perbedaan yang jelas antara kehidupan di dalam tembok keraton—dengan intrik, protokol ketat, dan kemewahan—dengan kehidupan di wanua (desa) atau pasar. Peran para bhujangga (pujangga), mantri (pejabat), sang paminggir (panglima), dan kawula (rakyat biasa) akan terlihat dalam interaksi sosial. Penggambaran sistem sima (tanah perdikan) atau hubungan antara raja dengan para bhre (adipati/penguasa daerah) juga akan menjadi latar belakang yang penting untuk memahami konflik politik, menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari rakyat terdampak langsung oleh keputusan dan perseteruan di tingkat elite.
Tema dan Pesan Pengarang Melalui Lensa Sejarah
Mengangkat peristiwa sejarah bukan sekadar untuk bercerita tentang masa lalu, tetapi juga untuk menyoroti tema-tema universal yang relevan hingga kini. “Kemelut Majapahit”, melalui konflik Perang Paregreg, membuka ruang untuk mengeksplorasi berbagai dimensi manusia dan kekuasaan.
Tema Utama dalam Konflik Sejarah
Tema yang paling menonjol tentu saja perebutan kekuasaan dan ambisi. Konflik antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi adalah studi kasus sempurna tentang bagaimana takhta dapat merenggangkan bahkan memutus tali persaudaraan. Dari tema ini, lahir tema-tema turunan seperti pengkhianatan—baik terhadap negara, keluarga, maupun nilai-nilai personal; dan loyalitas yang terpecah—para ksatria dan abdi yang harus memilih pihak di tengah konflik yang tidak sepenuhnya hitam putih.
Tema dampak dari perang terhadap rakyat kecil juga akan kuat, menunjukkan bahwa penderitaan terbesar selalu ditanggung oleh mereka yang paling tidak memiliki suara dalam keputusan untuk berperang.
Interpretasi Pribadi Pengarang terhadap Sejarah
Source: tstatic.net
Setiap penulis sejarah fiksi membawa “kacamata” interpretasinya sendiri. Pengarang “Kemelut Majapahit” mungkin memiliki sudut pandang tertentu tentang Perang Paregreg. Apakah konflik ini dilihat sebagai tragedi yang sia-sia yang mempercepat keruntuhan? Apakah Bhre Wirabhumi digambarkan lebih sebagai korban ambisi orang lain atau justru sebagai pemberontak yang serakah? Penekanan pada motif personal (rasa diabaikan, keinginan untuk diakui) versus motif politik murni (konsolidasi kekuasaan) akan mengungkapkan interpretasi pengarang.
Bisa jadi, novel ini ingin menyampaikan bahwa sejarah kerajaan seringkali adalah sejarah keluarga yang disfungsional yang diperbesar skalanya, di mana luka batin dan dendam pribadi berubah menjadi bencana nasional.
Fakta dan Imajinasi untuk Memperkuat Pesan
Campuran fakta dan imajinasi adalah alat yang ampuh untuk menyampaikan pesan moral. Fakta sejarah (perang terjadi, banyak yang tewas) memberikan bobot dan keseriusan. Sementara imajinasi (melalui dialog tokoh rekaan yang mempertanyakan perang, atau adegan seorang ibu kehilangan anaknya di medan laga) memberikan sisi human dan emosional yang menyentuh. Dengan cara ini, pesan filosofis seperti “kekuasaan yang diraih dengan pertumpahan darah saudara adalah kemenangan yang hampa” atau “loyalitas buta dapat menyesatkan” menjadi lebih kuat dan mudah diresapi pembaca, karena tidak disampaikan sebagai khotbah, tetapi sebagai pengalaman hidup yang dialami oleh karakter-karakter dalam cerita.
Metode Penelitian dan Lisensi Artistik Pengarang
Di balik kesan “santai” dan mengalirnya sebuah novel sejarah, biasanya ada kerja penelitian yang cukup serius. Sebelum menulis “Kemelut Majapahit”, seorang pengarang yang bertanggung jawab akan menyelami berbagai sumber untuk membangun dunia yang kredibel, meski akhirnya dia memiliki kebebasan untuk berimajinasi.
Metode Penelitian Sejarah yang Mungkin Dilakukan
Berdasarkan detail yang mungkin muncul dalam novel, kita bisa menduga pengarang melakukan beberapa langkah penelitian. Pertama, studi tekstual terhadap sumber primer seperti Nagarakretagama, Pararaton, dan prasasti-prasasti dari era akhir Majapahit. Kedua, mengkaji literatur sekunder dari sejarawan dan arkeolog terkemuka tentang Majapahit untuk memahami konteks politik, ekonomi, dan sosial. Ketiga, observasi langsung ke situs Trowulan dan museum untuk merasakan atmosfer dan mengamati artefak (senjata, perhiasan, struktur bangunan).
Terakhir, studi komparatif terhadap kehidupan masyarakat Jawa tradisional, karena banyak unsur budaya yang bertahan, dapat memberikan analogi untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari di masa lalu.
| Elemen Sejarah | Representasi dalam Novel | Tingkat Akurasi/Modifikasi |
|---|---|---|
| Penyebab Perang Paregreg | Konflik dipicu oleh persaingan takhta, rasa tidak puas Bhre Wirabhumi, dan intrik istana. | Tinggi (Akurat). Berdasarkan inti catatan sejarah, meski motivasi detail karakter adalah interpretasi. |
| Arsitektur Istana Trowulan | Digambarkan dengan tembok bata merah, kompleks yang luas dengan pendopo dan taman. | Sedang (Diinterpretasi). Berdasarkan temuan fondasi dan relief, tetapi bentuk atas dan dekorasi detail adalah rekonstruksi imajinatif. |
| Karakter seorang Bhre (Adipati) | Bhre Wirabhumi digambarkan sebagai pangeran yang karismatik, ambisius, tetapi mungkin memiliki alasan yang dapat dimengerti. | Rendah (Modifikasi Artistik). Sumber sejarah hanya menyebut nama dan perannya. Karakterisasi sepenuhnya adalah lisensi artistik pengarang untuk membangun konflik dramatik. |
| Teknologi Persenjataan | Penggunaan keris, pedang, tombak, panah, dan mungkin meriam kecil (cetbang). | Tinggi (Akurat). Berdasarkan temuan arkeologi dan relief candi tentang persenjataan masa Majapahit. |
Konsep Lisensi Artistik dan Penerapannya
Lisensi artistik adalah hak dan kebebasan yang diambil pengarang untuk menyimpang dari fakta atau kemungkinan sejarah yang ketat, demi tujuan seni, dramatisasi, atau penyampaian tema. Dalam novel sejarah, ini adalah alat yang crucial. Contoh penerapannya dalam “Kemelut Majapahit” bisa sangat beragam. Misalnya, penokohan: Sejarawan mungkin tidak tahu bagaimana sifat asli Bhre Wirabhumi. Pengarang bebas menjadikannya sosok tragis yang terpaksa memberontak, atau penjahat yang haus kekuasaan, tergantung kebutuhan cerita.
Alur: Pengarang bisa menciptakan sebuah pertemuan rahasia antara dua tokoh yang dalam sejarah tidak tercatat pernah bertemu, sebagai pemicu konflik. Atau, memampatkan waktu sehingga beberapa peristiwa yang terpisah beberapa tahun terjadi dalam rentang bulan untuk menjaga tensi cerita. Lisensi ini bukan berarti ceroboh, tetapi justru menunjukkan keahlian pengarang dalam menyeimbangkan antara menghormati sejarah dan menciptakan karya sastra yang memikat.
Simpulan Akhir
Jadi, pada akhirnya, perjalanan menyelami “Kemelut Majapahit” mengajarkan bahwa sejarah dalam bentuk novel bukanlah kebenaran mutlak, melainkan sebuah interpretasi yang hidup. Ia adalah cermin yang dibentuk oleh pengarang, merefleksikan bukan hanya masa lalu Majapahit, tetapi juga kecemasan, harapan, dan pertanyaan kita di masa kini. Novel semacam ini berhasil bukan ketika ia bersikap sebagai textbook, tetapi ketika ia menjadi jembatan—menghubungkan pembaca modern dengan denyut nadi sebuah era dengan cara yang emosional dan personal.
Dengan begitu, warisan Majapahit tidak lagi sekadar peninggalan, tapi menjadi cerita yang terus bergulir, ditafsir ulang, dan dihidupi oleh setiap generasi yang membacanya.
Pertanyaan Umum yang Sering Muncul
Apakah novel “Kemelut Majapahit” bisa dijadikan sumber referensi sejarah yang akurat?
Tidak, novel ini pada dasarnya adalah karya fiksi yang terinspirasi sejarah. Meski banyak elemen faktual, pengarang memiliki lisensi artistik untuk mengubah, menambahkan, atau mendramatisasi peristiwa dan karakter untuk kepentingan cerita. Novel sebaiknya dinikmati sebagai pintu masuk yang menarik untuk mempelajari periode sejarah Majapahit, tetapi klaim historis spesifiknya perlu diverifikasi dengan sumber akademis dan penelitian sejarah murni.
Bagaimana cara membedakan mana tokoh sejarah dan mana tokoh rekaan dalam novel ini?
Tokoh-tokoh seperti Hayam Wuruk, Gajah Mada, atau Bhre Daha adalah tokoh sejarah yang tercatat dalam sumber seperti Pararaton atau Nagarakertagama. Sedangkan tokoh-tokoh dengan nama yang tidak muncul dalam catatan sejarah tersebut, terutama yang menjadi protagonis atau narator dari kalangan rakyat biasa, prajurit rendahan, atau keluarga fiktif, besar kemungkinan adalah kreasi pengarang. Peran mereka sering menjadi penghubung atau sudut pandang untuk menyaksikan peristiwa besar.
Apa tantangan terbesar yang dihadapi pengarang saat menulis fiksi sejarah seperti ini?
Tantangan utamanya adalah menyeimbangkan antara keakuratan sejarah dan kebebasan bercerita. Pengarang harus melakukan penelitian mendalam untuk membangun dunia yang kredibel, tetapi juga harus membuat cerita tetap menarik secara dramatis. Selain itu, mengisi “celah” dalam catatan sejarah dengan imajinasi yang logis dan tidak melanggar konteks zaman, serta menghidupkan tokoh-tokoh sejarah menjadi karakter yang kompleks dan manusiawi, adalah pekerjaan rumit yang penuh tanggung jawab.
Apakah ada bias atau interpretasi tertentu dari pengarang terhadap peristiwa sejarah Majapahit yang terlihat jelas dalam novel?
Sangat mungkin ada. Setiap pengarang membawa perspektif pribadinya. Misalnya, pengarang mungkin memilih untuk memusatkan cerita pada konflik internal tertentu di istana, atau memberikan motivasi yang lebih personal pada sebuah keputusan politik yang dalam sejarah hanya dicatat garis besarnya. Interpretasi ini bisa terlihat dari sisi mana yang diangkat, tokoh mana yang disimpatikan, dan pesan moral apa yang ingin ditekankan di balik konflik sejarah yang diceritakan.