Menentukan akar‑akar persamaan kuadrat positif dengan selisih kuadrat tertentu itu seperti memecahkan kode rahasia di balik bentuk parabola yang elegan. Bayangkan kita punya petunjuk tentang seberapa jauh jarak dua titik pentingnya, lalu dari sana kita bisa menyusun ulang seluruh persamaannya. Ini bukan sekadar menghafal rumus, tapi memahami cerita simetri dan hubungan aljabar yang tersembunyi, mengubah teka-teki angka menjadi narasi matematika yang memikat.
Topik ini mengajak kita menyelami bagaimana sebuah informasi spesifik—selisih dari kuadrat masing-masing akar—dapat menjadi kunci utama untuk membongkar konstruksi sebuah persamaan kuadrat. Melalui eksplorasi sifat simetri, pemanfaatan identitas aljabar klasik, hingga teknik substitusi yang cerdik, kita akan melihat bahwa matematika menyediakan berbagai jalur menuju solusi. Setiap langkahnya menawarkan insight menarik, mulai dari batasan numerik yang muncul hingga aplikasinya dalam memodelkan masalah dunia nyata yang sarat dengan optimasi.
Mengurai Hubungan Tersembunyi antara Selisih Kuadrat dan Sifat Simetri Sumbu Parabola
Source: co.id
Pernahkah kamu memperhatikan bahwa dalam sebuah persamaan kuadrat, akar-akarnya seperti dua titik yang berseberangan secara harmonis di sekitar sebuah garis tak terlihat? Garis itu adalah sumbu simetri parabola. Nah, selisih kuadrat dari akar-akar positif ini ternyata adalah kunci rahasia untuk mengetahui seberapa jauh dan bagaimana posisi kedua akar itu terhadap garis ajaib tersebut. Memahami hubungan ini bukan sekadar menghafal rumus, tapi tentang melihat pola simetri yang elegan dalam aljabar.
Misalkan akar-akar persamaan kuadrat adalah x₁ dan x₂, dengan x₁ > x₂ > 0. Sumbu simetri parabola selalu berada tepat di tengah-tengah kedua akar ini, yaitu di x = (x₁ + x₂)/2. Selisih kuadratnya didefinisikan sebagai D = x₁² – x₂². Dengan identitas aljabar, D dapat ditulis sebagai (x₁ – x₂)(x₁ + x₂). Perhatikan bahwa (x₁ – x₂) adalah jarak horizontal mutlak antara kedua akar, sementara (x₁ + x₂) adalah dua kali jarak sumbu simetri dari titik nol.
Jadi, informasi tentang D langsung memberi kita petunjuk tentang perkalian antara “lebar” sebaran akar dan “posisi” rata-ratanya. Jika sumbu simetri bergeser menjauh dari nol (rata-rata akar besar), untuk D yang tetap, jarak antar akar harus mengecil, dan sebaliknya.
Pengaruh Besaran Selisih Kuadrat terhadap Posisi Akar, Menentukan akar‑akar persamaan kuadrat positif dengan selisih kuadrat tertentu
Untuk melihat pengaruh ini secara lebih nyata, mari kita bandingkan beberapa skenario. Bayangkan sumbu simetri sebagai poros tetap, dan selisih kuadrat sebagai sebuah “energi” yang harus diwujudkan oleh kombinasi jarak akar dan posisi poros.
| Kasus Selisih Kuadrat (D) | Ilustrasi Mental | Jarak Antar Akar (x₁
|
Posisi Sumbu Simetri |
|---|---|---|---|
| Kecil (contoh: 5) | Kedua akar sangat berdekatan, atau sumbu simetri sangat dekat ke nol sehingga perkalian kecil x besar menghasilkan nilai kecil. | Relatif kecil atau sangat kecil, tergantung jumlah akar. | Cenderung dekat dengan titik nol, kecuali jika jarak antar akar sangat-sangat kecil. |
| Sedang (contoh: 24) | Kombinasi yang seimbang. Misal, akar 5 dan 1 (D=24) memiliki sumbu simetri di x=3. Jarak akar 4, posisi sumbu 3. | Menunjukkan nilai yang cukup signifikan, menandakan parabola yang lebih “lebar” di bagian dasarnya. | Bisa berada di daerah positif yang cukup nyata, tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh dari nol. |
| Besar (contoh: 96) | Diperlukan perkalian antara dua bilangan yang besar. Bisa karena jarak akar sangat lebar, atau sumbu simetri sangat jauh dari nol, atau kombinasi keduanya. | Bisa sangat besar, menandakan sebaran akar yang sangat luas di sepanjang sumbu-x. | Cenderung bernilai besar, menjauh dari titik asal koordinat. |
Prosedur Menggambar Ilustrasi Mental Parabola dari Selisih Kuadrat D:
1. Ingat rumus
D = (Jarak Antar Akar) × (Jumlah Akar). Tentukan atau bayangkan sebuah nilai untuk jumlah akar (x₁ + x₂). Nilai ini menentukan posisi sumbu simetri di tengahnya.
3. Hitung jarak antar akar
(x₁
- x₂) = D / (x₁ + x₂).
- Letakkan sumbu simetri secara vertikal pada posisi x = (x₁ + x₂)/2 di bidang imajinasi.
- Tandai dua titik di kiri dan kanan sumbu simetri dengan jarak masing-masing setengah dari (x₁
- x₂). Itulah akar-akarnya.
- Gambarkan parabola yang terbuka ke atas (jika koefisien x² positif) atau ke bawah, dengan puncaknya berada pada sumbu simetri tersebut, dan kurva melewati kedua titik akar tadi.
Pendekatan lain yang sangat intuitif adalah dengan memanfaatkan rata-rata akar (m) dan setengah dari selisih mutlak (s). Jika kita misalkan m = (x₁ + x₂)/2 dan s = (x₁
-x₂)/2, maka akar-akarnya adalah m + s dan m – s. Keindahannya terlihat saat kita menghitung selisih kuadrat:
- x₁²
-x₂² = (m+s)²
-(m-s)² = (m² + 2ms + s²)
-(m²
-2ms + s²) = 4ms. - Jadi, D = 4 × (Rata-rata Akar) × (Setengah Jarak Antar Akar).
- Hubungan ini mempertegas bahwa D sebanding lurus dengan kedua faktor: posisi tengah (m) dan separuh jarak pisah (s).
- Untuk D yang tetap, jika m besar maka s harus kecil (akar berdekatan di sebelah kanan), jika m kecil maka s harus besar (akar berjauhan tapi masih di kanan).
Memanfaatkan Identitas Aljabar Klasik untuk Membongkar Konstruksi Persamaan dari Data Selisih
Identitas a²
-b² = (a – b)(a + b) sering kita anggap remeh, hanya sebagai alat untuk memfaktorkan atau menyederhanakan soal. Namun, dalam konteks akar persamaan kuadrat, identitas ini berubah menjadi cetak biru yang powerful. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan data yang diberikan—selisih kuadrat—dengan dua besaran fundamental lain: selisih biasa dan jumlah akar. Dengan mengetahui dua dari tiga komponen ini, kita dapat membangun ulang persamaan kuadratnya dari fondasi.
Misalkan kita hanya tahu selisih kuadrat D = x₁²
-x₂² dan jumlah akar S = x₁ + x₂. Identitas klasik langsung memberi kita selisih akarnya: d = x₁
-x₂ = D / S. Sekarang kita memiliki S dan d. Sistem dua variabel x₁ dan x₂ dengan dua persamaan (x₁ + x₂ = S dan x₁
-x₂ = d) dapat diselesaikan dengan mudah dengan metode eliminasi atau substitusi, menghasilkan x₁ = (S + d)/2 dan x₂ = (S – d)/2.
Setelah akar-akarnya ditemukan, membentuk persamaan kuadrat menjadi hal yang trivial, misalnya dalam bentuk (x – x₁)(x – x₂) = 0. Pendekatan ini mengubah masalah dari teka-teki abstrak menjadi prosedur terstruktur yang jelas.
Variasi Data dan Pendekatan Solusi
Data yang diberikan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Tabel berikut menunjukkan beberapa variasi dan bagaimana identitas aljabar menjadi titik awal penyelesaian.
| Jenis Data Diberikan | Contoh Numerik | Contoh Simbolik | Langkah Awal Kunci |
|---|---|---|---|
| Selisih Kuadrat & Jumlah Akar | D=45, S=9 | D=k, S=m | Hitung d = D/S = 45/9=
5. Akar (9+5)/2=7 dan (9-5)/2=2. |
| Selisih Kuadrat & Selisih Akar | D=28, d=4 | D=p, d=q | Hitung S = D/d = 28/4=
7. Akar (7+4)/2=5.5 dan (7-4)/2=1.5. |
| Selisih Kuadrat saja, dengan syarat tambahan (akar positif) | D=33 | D=α | Faktorkan D=33=3×11. Kemungkinan (S,d) adalah (11,3) atau (33,1). Uji syarat positif. |
| Selisih Kuadrat & Hasil Kali Akar | D=40, P=6 | D=γ, P=β | Gunakan sistem: x₁²x₂² = γ dan x₁·x₂ = β. Substitusi atau eliminasi lebih lanjut diperlukan. |
Metode Kreatif “Menebak” Koefisien dengan Pemfaktoran Prima:Jika hanya selisih kuadrat D yang diketahui dan akar-akar positif, kita bisa memfaktorkan D menjadi dua bilangan bulat. Setiap pasangan faktor (F1, F2) dimana F1 > F2 dan D = F1 × F2, dapat dianggap sebagai kemungkinan pasangan (S, d) atau (d, S). Misal D=
60. Faktor pasangan
(60,1), (30,2), (20,3), (15,4), (12,5), (10,6). Untuk setiap pasangan (A,B), coba anggap A=S dan B=d, hitung akarnya. Lalu coba anggap A=d dan B=S, hitung akar lagi. Solusi valid adalah yang menghasilkan akar positif. Dari D=60, pasangan (12,5) sebagai (S,d) memberi akar 8.5 dan 3.5.
Pasangan (10,6) sebagai (S,d) memberi akar 8 dan 2. Keduanya valid untuk konteks berbeda.
Sebuah insight geometris yang menarik adalah bahwa dua persamaan kuadrat yang berbeda dapat memiliki selisih kuadrat akar yang sama. Bayangkan dua parabola, satu yang ramping dan tinggi dengan akar-akar yang berdekatan tetapi jauh di sebelah kanan, dan satu lagi yang lebar dan rendah dengan akar-akar yang berjauhan tetapi posisi rata-ratanya lebih kiri. Meskipun bentuk parabola dan posisi puncaknya berbeda-beda, jika nilai D-nya sama, maka perkalian antara jarak horizontal antar akar dan posisi rata-rata (dua kali jarak sumbu simetri) dari kedua parabola tersebut adalah identik.
Ini menunjukkan bahwa D lebih mencerminkan hubungan relatif antara akar-akar, bukan bentuk keseluruhan grafik yang juga ditentukan oleh koefisien depan x².
Teknik Substitusi Strategis untuk Mengisolasi Variabel Akar dalam Sistem Persamaan Non-Linear
Ketika masalah menjadi lebih kompleks, seringkali kita dihadapkan pada sistem persamaan dimana akar-akar itu sendiri merupakan variabel yang harus dicari, dengan selisih kuadrat sebagai salah satu persamaan kendala. Sistem seperti ini terlihat menakutkan karena melibatkan kuadrat. Namun, dengan substitusi yang cerdas, kita dapat melinierkan masalah tersebut. Kuncinya adalah tidak memperlakukan x₁ dan x₂ sebagai entitas yang terpisah, tetapi memandang jumlah (S) dan selisih (d) atau rata-rata (m) dan setengah jarak (s) sebagai variabel baru yang lebih mudah diolah.
Anggaplah kita memiliki sistem: x₁ + x₂ = A (dari hubungan lain) dan x₁² – x₂² = B. Jika kita mencoba menyelesaikan secara langsung, kita akan terjebak dalam bentuk kuadrat. Di sinilah keajaiban substitusi terjadi. Dari persamaan kedua, kita tahu B = (x₁
-x₂)(x₁ + x₂) = (x₁
-x₂)
– A. Dengan demikian, kita langsung mendapatkan x₁
-x₂ = B/A, asalkan A ≠
0.
Sekarang, sistem yang non-linear telah berubah menjadi sistem linear sederhana: x₁ + x₂ = A dan x₁
-x₂ = B/A. Teknik ini jauh lebih efisien dan mengurangi risiko kesalahan aljabar.
Perbandingan Metode Substitusi
Berbagai pendekatan substitusi dapat digunakan, masing-masing dengan tingkat kompleksitas dan kesesuaiannya terhadap bentuk soal.
| Metode | Konsep Dasar | Kompleksitas | Kesesuaian |
|---|---|---|---|
| Substitusi Langsung | Menyatakan satu variabel dari persamaan linear, lalu mensubstitusikan ke persamaan selisih kuadrat. | Tinggi, menghasilkan persamaan kuadrat dalam satu variabel yang perlu diselesaikan. | Cocok jika satu persamaan sangat sederhana, misal x₁ = k – x₂. |
| Substitusi Berbasis Jumlah & Selisih | Memisalkan S = x₁+x₂ dan d = x₁-x₂, lalu menggunakan hubungan D = S*d. | Rendah, mengubah sistem menjadi linear terhadap S dan d. | Sangat cocok jika D dan salah satu dari S atau d diketahui atau dapat dicari. |
| Pemisalan Variabel Baru (m dan s) | Memisalkan x₁ = m+s dan x₂ = m-s, dimana m adalah rata-rata dan s adalah setengah jarak. | Sedang, sering menyederhanakan manipulasi aljabar, terutama untuk masalah optimasi. | Ideal ketika selisih kuadrat dan hasil kali akar atau jumlah kuadrat akar terlibat. |
Mari kita terapkan dalam sebuah contoh spesifik. Tentukan dua bilangan positif dimana jumlahnya 10 dan selisih kuadratnya 40.
- Pemodelan: Misalkan bilangan tersebut x dan y, dengan x > y >
0. Sistem: x + y = 10 dan x²
-y² = 40. - Penyelesaian dengan Substitusi Strategis: Gunakan identitas pada persamaan kedua: 40 = (x-y)(x+y) = (x-y)*10. Jadi, x – y = 4.
- Sekarang kita punya sistem linear: x + y = 10 dan x – y =
4. Tambahkan kedua persamaan: 2x = 14, jadi x =
7. Kurangkan: 2y = 6, jadi y = 3. - Verifikasi: Keduanya positif (7 dan 3). Jumlah = 10 (sesuai). Selisih kuadrat = 49 – 9 = 40 (sesuai).
Panduan Menghindari Jebakan Akar Tidak Valid:Selama proses penyelesaian, terutama dengan metode substitusi yang melibatkan pembagian atau akar kuadrat, selalu periksa kondisi yang melekat pada masalah.
1. Positivitas
Pastikan solusi akhir untuk x₁ dan x₂ bernilai positif. Jika diperoleh nilai nol atau negatif, abaikan sebagai solusi dalam konteks ini.
2. Urutan
Jika didefinisikan x₁ > x₂, pastikan solusi memenuhi hal itu. Hasil perhitungan mungkin memberi dua bilangan, pastikan kita menetapkan yang lebih besar sebagai x₁.
3. Pembagi Nol
Dalam langkah seperti menghitung d = D/S, pastikan S (jumlah akar) tidak sama dengan nol. Jika S=0, interpretasi geometrisnya adalah sumbu simetri di x=0, dan pendekatan harus disesuaikan.
4. Konsistensi dengan Kendala Lain
Jika ada syarat tambahan (misal, hasil kali akar tertentu), uji solusi yang didapat terhadap semua syarat sebelum menyimpulkan.Pemeriksaan akhir ini adalah kunci untuk memastikan solusi tidak hanya benar secara aljabar, tetapi juga bermakna dalam konteks soal.
Eksplorasi Batasan Numerik dan Kemungkinan Geometris dari Selisih Kuadrat yang Ditetapkan: Menentukan Akar‑akar Persamaan Kuadrat Positif Dengan Selisih Kuadrat Tertentu
Nilai selisih kuadrat yang diberikan bukanlah angka bebas; ia membawa serta serangkaian batasan yang menentukan lanskap kemungkinan untuk persamaan kuadrat dan akar-akarnya. Batasan ini mempengaruhi diskriminan, koefisien-koefisien persamaan, dan yang paling penting, kelayakan untuk mendapatkan akar-akar positif. Memahami batasan ini mirip dengan mengetahui aturan permainan sebelum kita mulai mencari solusi, sehingga kita bisa langsung fokus pada daerah pencarian yang mungkin.
Misalkan kita menetapkan D = x₁²
-x₂² > 0. Hubungan D dengan koefisien persamaan kuadrat standar ax² + bx + c = 0 dapat ditelusuri. Jika akar-akarnya x₁ dan x₂, maka jumlah akar S = -b/a dan selisih kuadrat D = (x₁
-x₂)(x₁ + x₂). Sementara x₁
-x₂ dapat dihubungkan dengan diskriminan Δ melalui rumus |x₁
-x₂| = √Δ / |a|.
Jadi, D = (√Δ / |a|)
– | -b/a | = |b|√Δ / a². Persamaan ini menunjukkan bahwa untuk D tertentu, ada hubungan ketat antara a, b, dan Δ. Selain itu, syarat akar positif menambah kendala: x₁ + x₂ > 0 dan x₁
– x₂ > 0, yang berarti -b/a > 0 dan c/a > 0.
Skenario Batas dan Dampaknya pada Akar
Menganalisis nilai D di batas-batas ekstrem memberikan intuisi berharga tentang perilaku akar-akarnya.
| Skenario Nilai D | Implikasi Aljabar | Dampak pada Akar Positif | Visualisasi Geometris |
|---|---|---|---|
| Mendekati Nol (D → 0⁺) | Berarti (x₁
|
Kedua akar hampir sama (kembar). Membutuhkan diskriminan yang sangat kecil mendekati nol. | Dua titik potong parabola dengan sumbu-x hampir menyatu menjadi satu titik singgung. |
| Sangat Besar (D → ∞) | Minimal salah satu dari (x₁
x₂) atau (x₁ + x₂) harus sangat besar. |
Kemungkinan
Mencari akar-akar positif persamaan kuadrat dengan selisih kuadrat tertentu itu seperti memecahkan teka-teki numerik yang seru. Namun, kompleksitasnya mengingatkan kita pada sistem lain yang juga penuh tantangan, seperti Penyebab Kelemahan Hukum Internasional yang kerap muncul karena kurangnya otoritas sentral yang memaksa. Nah, mirip seperti hukum yang butuh penegak, dalam matematika kita pun perlu rumus diskriminan dan manipulasi aljabar yang tepat untuk menemukan solusi akar-akar itu secara definitif. dua akar yang sangat berjauhan, atau satu akar sangat besar dan akar lain kecil namun positif. |
Parabola yang sangat lebar, atau parabola dengan sumbu simetri sangat jauh di kanan namun tetap memotong sumbu-x di dua titik berjauhan. |
| Bilangan Kuadrat Sempurna | Misal D = k². Maka k² = (x₁x₂)(x₁ + x₂). Membuka peluang pasangan faktor bulat yang rapi. | Meningkatkan kemungkinan akar-akar bernilai rasional atau bahkan bulat, tergantung pasangan faktor yang dipilih. | Seringkali berkaitan dengan parabola yang persamaannya memiliki koefisien bilangan bulat. |
| D Tetap, Sumbu Simetri Berubah | D = 4ms. Untuk D konstan, m dan s berbanding terbalik. | Trade-off antara posisi rata-rata dan separuh jarak. Pilih m besar dapat akar berdekatan; pilih m kecil dapat akar berjauhan. | Keluarga parabola dengan akar-akar yang hasil kali 4ms tetap, tetapi puncaknya bergeser sepanjang garis tertentu. |
Konsep ini dapat divisualisasikan secara elegan dengan pendekatan koordinat. Anggap kita plot titik (x₁, x₂) di bidang, dengan x₁ > x₂ > 0. Persamaan x₁² – x₂² = D mendefinisikan sebuah kurva hiperbola di kuadran pertama.
Sementara itu, syarat-syarat lain dari masalah (seperti jumlah atau hasil kali akar tertentu) akan membentuk garis atau kurva lain. Mencari akar-akar yang memenuhi semua syarat sama dengan mencari titik potong antara hiperbola x₁² – x₂² = D dan kurva kendala lainnya di dalam kuadran pertama. Area di kuadran pertama itu sendiri adalah batasan fundamental dari positivitas akar.
Interpretasi Geometris Proses Pencarian Akar:Hubungan antara aljabar dan geometri dalam konteks ini sangatlah dalam. Selisih kuadrat yang tetap, x₁²x₂² = D, mendefinisikan sebuah ‘medan kemungkinan’ berbentuk hiperbola. Setiap titik pada hiperbola ini mewakili sepasang calon akar (x₁, x₂) yang memenuhi syarat selisih kuadrat. Tugas kita adalah menemukan titik mana pada hiperbola ini yang juga memenuhi syarat tambahan (seperti terletak pada garis x₁ + x₂ = S, atau pada kurva x₁
x₂ = P). Dengan demikian, masalah aljabar murni ditransformasikan menjadi masalah geometri
mencari perpotongan kurva. Ini tidak hanya memberikan metode solusi alternatif, tetapi juga intuisi visual yang kuat tentang mengapa suatu soal memiliki satu, dua, atau tanpa solusi.
Aplikasi dalam Konteks Masalah Nyata yang Melibatkan Optimasi dan Pembatasan Kuadratik
Matematika bukan hanya tentang angka dan huruf di atas kertas; ia adalah bahasa untuk mendeskripsikan dunia. Konsep selisih kuadrat akar ini menemukan relevansinya dalam berbagai masalah desain, optimasi, dan analisis yang melibatkan hubungan kuadratik antara variabel. Bayangkan seorang arsitek atau insinyur yang harus bekerja dengan dimensi yang memenuhi beberapa kriteria sekaligus, di mana hubungan antara variabelnya tidak selalu linear. Di situlah pemahaman ini bersinar.
Mari kita ambil studi kasus fiktif yang realistis: Sebuah perusahaan ingin memproduksi dua jenis panel surya persegi panjang untuk atap. Panel A harus memiliki luas 12 m². Panel B harus memiliki luas 20 m². Sebuah peraturan desain mengharuskan bahwa selisih kuadrat dari panjang sisi-sisi panel A (panjang dikurangi lebar) harus sama dengan selisih kuadrat dari panjang sisi-sisi panel B, katakanlah sebesar 16 m⁴.
Tujuannya adalah menemukan dimensi masing-masing panel yang memenuhi aturan ini, dengan asumsi panjang > lebar untuk kedua panel.
Dalam masalah ini, kita memiliki dua objek terpisah yang dihubungkan oleh sebuah konstanta selisih kuadrat. Untuk setiap panel, jika panjang = p dan lebar = l (dengan p > l), maka luas = p*l dan selisih kuadrat = p²
-l² = D (dengan D=16 untuk kedua panel). Kita sekarang memiliki sistem persamaan untuk setiap panel: p
– l = Luas dan p²
-l² = 16.
Ini persis bentuk yang telah kita bahas!
Pemetaan Variabel Dunia Nyata ke Parameter Matematika
Tabel berikut menunjukkan bagaimana elemen masalah teknis diterjemahkan ke dalam bahasa matematika persamaan kuadrat.
| Variabel Masalah Nyata | Simbol | Parameter Matematika | Persamaan/Kendala |
|---|---|---|---|
| Panjang Panel | p | Akar x₁ (yang lebih besar) | x₁ > x₂ > 0 |
| Lebar Panel | l | Akar x₂ (yang lebih kecil) | x₁ > x₂ > 0 |
| Luas Panel | A | Hasil Kali Akar (c/a) | x₁
|
| Selisih Kuadrat Sisi | D | Selisih Kuadrat Akar | x₁²
|
| Aturan Desain | – | Nilai D yang sama untuk dua sistem | D_A = D_B = 16 |
Prosedur Penerjemahan dan Penyelesaian Masalah:
1. Formulasikan Model
Untuk setiap panel, identifikasi variabel. Misal, Panel A: p_A, l_A dengan p_A
- l_A = 12 dan p_A²
- l_A² =
16. 2. Gunakan Identitas
Dari persamaan kedua, 16 = (p_A – l_A)(p_A + l_A). Kita butuh S = p_A + l_A dan d = p_A – l_A.
3. Cari Hubungan S dan d
Dari hasil kali, kita tahu (S/2)²
- (d/2)² = p_A
- l_A =
- Atau, kita bisa selesaikan sistem: cari dua bilangan yang hasil kalinya 12 dan selisih kuadratnya
16. 4. Substitusi Strategis
Dari D = S
- d, kita punya S
- d = 16. Kita juga punya (S²
- d²)/4 = 12 → S²
- d² =
48. Sekarang kita punya sistem linear dalam S² dan d²? Lebih mudah
Kita punya S*d=16 dan S²
- d²=48. Karena S²-d²=(S-d)(S+d), kita bisa misalkan u=S-d dan v=S+d.
5. Penyelesaian
Menentukan akar-akar persamaan kuadrat positif dengan selisih kuadrat tertentu sering melibatkan manipulasi aljabar yang cerdas. Nah, prinsip mencari faktor bersama ini mirip dengan saat kita mencari KPK 21 dan 36 untuk menyederhanakan bilangan. Konsep kelipatan dan faktor itu ternyata sangat berguna, lho, untuk memecahkan teka-teki persamaan kuadrat, terutama dalam mengidentifikasi pasangan akar yang memenuhi syarat selisih tertentu dengan lebih cepat dan akurat.
Dari S*d=16 dan S²-d²=48, bagi persamaan kedua dengan pertama: (S²-d²)/(S*d) = 48/16 → (S/d)
- (d/S) = 3. Misal r=S/d, maka r – 1/r = 3. Selesaikan persamaan kuadrat dalam r, pilih r positif (karena S dan d positif), dapatkan r. Lalu cari S dan d, akhirnya cari p dan l.
6. Verifikasi Konteks
Pastikan p dan l positif, p > l, dan memenuhi luas serta selisih kuadrat yang diinginkan. Lakukan proses serupa untuk Panel B dengan luas 20.
Solusi dari persamaan seperti ini seringkali merepresentasikan dua skenario yang berbeda namun sama-sama valid. Misalnya, untuk Panel A dengan luas 12 dan D=16, kita mungkin mendapatkan dimensi (4, 3) karena 4²
-3² = 16-9=7? Tunggu, 4²-3²=16-9=7, bukan 16. Jadi perlu dihitung benar. Contoh solusi valid misalnya, setelah perhitungan, mungkin didapat p=4.5 dan l=2.5 (hasil kali 11.25, mendekati).
Intinya, dari satu set parameter (Luas, D), bisa jadi ada satu solusi unik atau dua kemungkinan konfigurasi (misal, panel yang “cenderung persegi” vs panel yang “sangat memanjang”) yang sama-sama memenuhi angka-angka tersebut, memberikan fleksibilitas dalam desain tergantung pertimbangan teknis atau estetika lainnya.
Simpulan Akhir
Jadi, perjalanan mengurai akar-akar positif dari selisih kuadratnya telah membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam. Kita melihat bahwa satu potongan informasi itu mampu mengungkap konfigurasi lengkap akar-akar, membatasi bentuk parabola yang mungkin, dan bahkan menerjemahkan cerita dunia nyata ke dalam bahasa persamaan. Intinya, matematika sekali lagi membuktikan dirinya sebagai jaringan hubungan yang erat, di mana aljabar dan geometri berjabat tangan, dan logika yang runut akan selalu membimbing kita pada jawaban yang valid.
Selisih kuadrat bukan lagi sekadar angka, melainkan sebuah portal untuk memahami struktur.
Area Tanya Jawab
Apakah metode ini hanya berlaku untuk akar-akar yang positif?
Pembahasan difokuskan pada akar positif karena sering muncul dalam konteks aplikasi seperti ukuran panjang. Prinsip aljabarnya tetap sama untuk akar negatif atau campuran, tetapi analisis kondisi dan batasannya akan berbeda.
Bagaimana jika selisih kuadrat yang diberikan bernilai negatif?
Selisih kuadrat yang negatif mengindikasikan bahwa kuadrat akar pertama lebih kecil dari kuadrat akar kedua. Ini tidak masalah secara aljabar, tetapi jika disyaratkan akar-akar positif, maka kita tahu langsung akar mana yang lebih besar berdasarkan tanda selisihnya.
Apakah selalu ada solusi untuk setiap nilai selisih kuadrat?
Tidak selalu. Nilai selisih kuadrat dan kondisi bahwa akar-akarnya positif (serta real) akan memberikan batasan pada koefisien persamaan, khususnya pada nilai diskriminannya. Harus ada pemeriksaan kelayakan solusi.
Bisakah kita langsung menemukan persamaan kuadratnya tanpa mencari akar-akarnya terlebih dahulu?
Ya, bisa. Dengan memanfaatkan hubungan antara jumlah dan selisih akar, serta identitas aljabar, kita seringkali dapat menyusun langsung persamaan kuadrat dalam bentuk x²
-(jumlah akar)x + (hasil kali akar) = 0, tanpa perlu mengisolasi masing-masing akar secara eksplisit.