Mengapa Padang Rumput Hanya Ada di Nusa Tenggara Rahasia Alam dan Manusia

Mengapa Padang Rumput Hanya Ada di Nusa Tenggara? Pertanyaan ini mengajak kita menyelami sebuah keunikan bentang alam yang memesona. Saat sebagian besar wilayah Indonesia diselimuti hutan hujan tropis yang lebat, gugusan pulau di Nusa Tenggara justru memamerkan hamparan savana yang terbentang luas, bak permadani keemasan yang berpadu dengan langit biru. Pemandangan ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah mahakarya yang dirajut oleh keselarasan antara kondisi alam yang keras dan interaksi manusia selama berabad-abad.

Savana di Nusa Tenggara memiliki karakter yang berbeda dengan sabana di Afrika atau padang rumput lainnya. Ekosistem ini didominasi oleh rumput-rumput yang tahan banting, diselingi pepohonan yang jarang, serta menjadi rumah bagi satwa-satwa ikonis seperti komodo dan kuda liar. Keberadaannya adalah cerita tentang adaptasi, di mana tanah, iklim, api, dan tradisi lokal bersatu menciptakan sebuah lanskap yang tidak hanya indah tetapi juga penuh makna ekologis dan budaya.

Pengertian dan Karakteristik Padang Rumput Nusa Tenggara

Ketika membayangkan Indonesia, pikiran kita sering langsung tertuju pada hutan hujan tropis yang lebat dan hijau. Namun, di bagian timur negara ini, tepatnya di gugusan Kepulauan Nusa Tenggara, bentang alam yang mendominasi justru adalah hamparan padang rumput savana yang luas dan dramatis. Padang rumput di sini bukan sekadar lapangan rumput biasa, melainkan sebuah ekosistem kompleks yang terbentuk secara alami akibat interaksi unik antara iklim, tanah, dan aktivitas biologis.

Definisi Savana Tropis di Nusa Tenggara

Savana di Nusa Tenggara dapat didefinisikan sebagai bentang alam terbuka yang didominasi oleh rerumputan dengan penyebaran pohon dan semak yang jarang atau bergerombol. Berbeda dengan stepa yang umumnya di daerah beriklim sedang, savana tropis Nusa Tenggara memiliki musim hujan dan kemarau yang sangat kontras. Vegetasinya telah beradaptasi untuk bertahan dalam periode kekeringan panjang, menciptakan pemandangan yang berubah warna dari hijau subur di musim hujan menjadi keemasan atau kecokelatan di musim kemarau.

Keunikan ekosistem padang rumput di Nusa Tenggara, yang terbentuk akibat curah hujan rendah dan musim kemarau panjang, menunjukkan bagaimana kondisi spesifik menciptakan kestabilan alam. Mirip dengan prinsip kimia, di mana kestabilan ion ditentukan oleh lompatan energi ionisasi yang signifikan, seperti yang dijelaskan dalam analisis mendalam mengenai Energi Ionisasi Unsur X: 735, 1445, 7730 kJ/mol – Ion Paling Stabil. Konsep kestabilan ini punya paralel dengan ketahanan ekosistem padang rumput yang hanya bisa bertahan dan dominan di kondisi iklim khas Nusa Tenggara.

Ciri Khas Vegetasi Padang Rumput

Vegetasi di padang rumput Nusa Tenggara didominasi oleh rumput-rumputan yang tahan kekeringan, seperti spesies Themeda, Imperata cylindrica (alang-alang), dan Chrysopogon. Di antara hamparan rumput, tumbuh pohon-pohon yang juga memiliki adaptasi khusus, seperti Lontar ( Borassus flabellifer), Asam ( Tamarindus indica), dan Kesambi ( Schleichera oleosa), yang akarnya mampu menembus jauh ke dalam tanah untuk mencari air. Komposisi ini menciptakan lanskap yang terbuka, memungkinkan pandangan mata memandang jauh hingga ke kaki bukit.

Perbandingan dengan Sabana Indonesia Lainnya

Meski beberapa wilayah seperti Baluran di Jawa Timur atau Cikasur di Jawa Barat juga memiliki sabana, skala dan dominasinya di Nusa Tenggara jauh lebih luas dan alami. Sabana di Jawa seringkali merupakan hasil dari degradasi hutan atau berada dalam kawasan yang lebih terbatas. Sementara itu, sabana di Nusa Tenggara adalah fitur lanskap utama yang membentuk identitas pulau, seperti di Sumba, Sumbawa, Flores, dan Timor, dengan karakteristik yang sedikit berbeda di setiap lokasi.

Karakteristik Padang Rumput di Beberapa Lokasi

Mengapa Padang Rumput Hanya Ada di Nusa Tenggara

Source: exploresumba.com

Keunikan padang rumput savana di Nusa Tenggara, seperti di Sumba atau Flores, terbentuk karena pola curah hujan yang spesifik dan kondisi tanah. Menjaga kebersihan diri saat menjelajahi keindahan alam ini tentu penting, dan kabar baiknya, Boleh Pakai Sabun Mandi Lifeboy untuk perawatan kulit sehari-hari. Dengan tubuh yang segar, eksplorasi kamu ke wilayah dengan ekosistem padang rumput yang khas ini pun akan terasa lebih nyaman dan maksimal.

BACA JUGA  Sebagian Besar Ibu Kota Provinsi Indonesia Terletak di Dataran Tinggi Fakta Geografis

Meski sama-sama disebut savana, karakteristik padang rumput di Nusa Tenggara memiliki variasi menarik dari satu lokasi ke lokasi lain, dipengaruhi oleh kondisi tanah, ketinggian, dan intervensi satwa liar. Perbandingan berikut memberikan gambaran tentang keragaman tersebut.

Lokasi Karakteristik Utama Vegetasi Dominan Konteks Ekosistem
Taman Nasional Komodo (Pulau Rinca & Komodo) Bukit-bukit bergelombang dengan tanah kering berwarna kemerahan, dipengaruhi erosi dan aktivasi naga Komodo. Rumput Themeda, Lontar, Asam Jawa. Dikelola sebagai habitat utama komodo; kebakaran alami dan aktivasi hewan berkuku besar mempertahankan bentang terbuka.
Taman Nasional Laiwangi Wanggameti (Sumba) Savana yang berselingan dengan hutan musim dan hutan dataran rendah, menciptakan mosaik ekosistem. Rumput Chrysopogon, Kayu Putih (Eucalyptus alba), Kesambi. Merupakan daerah penting bagi burung endemik Sumba; menunjukkan transisi antara hutan dan savana murni.
Dataran rendah Pulau Sumba Padang rumput luas yang digunakan secara intensif untuk peternakan kuda dan kerbau Sumba. Rumput Imperata dan Brachiaria, semak berduri, pohon yang tersebar. Bentuk lahan yang sangat dipengaruhi oleh budaya pastoral masyarakat Sumba dan kebakaran berkala untuk peremajaan rumput.

Kondisi Geografis dan Iklim yang Mendukung

Dominasi padang rumput di Nusa Tenggara bukanlah suatu kebetulan. Fenomena ini merupakan hasil langsung dari kondisi geografis dan pola iklim yang keras namun spesifik. Letak kepulauan ini di bagian selatan Khatulistiwa menempatkannya dalam pengaruh sistem iklim yang berbeda dibandingkan dengan Indonesia bagian barat.

Pola Curah Hujan dan Musim Kemarau Panjang, Mengapa Padang Rumput Hanya Ada di Nusa Tenggara

Ciri paling mencolok dari iklim Nusa Tenggara adalah musim kemarau yang bisa berlangsung hingga 6 hingga 8 bulan, biasanya dari April/Mai hingga Oktober. Curah hujan tahunannya relatif rendah, seringkali di bawah 1500 mm, dan sangat tidak merata. Kondisi ini tidak mendukung pertumbuhan hutan hujan tropis yang membutuhkan kelembaban tinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, rumput-rumputan yang memiliki siklus hidup cepat dan dapat bertahan dalam bentuk biji atau sistem akar yang dorman selama kekeringan, justru berkembang pesat di sini.

Topografi dan Jenis Tanah

Banyak wilayah di Nusa Tenggara memiliki topografi berbukit hingga bergunung dengan lereng-lereng curam. Jenis tanahnya didominasi oleh tanah kapur (limestone) dan tanah vulkanik muda yang tipis dan kurang subur, dengan kemampuan menahan air yang rendah. Tanah seperti ini cepat kering di musim kemarau. Kombinasi antara curah hujan rendah dan tanah yang poros membuat pohon-pohon besar kesulitan untuk tumbuh membentuk hutan lebat, sehingga ekosistem yang lebih toleran seperti savana yang mengambil alih.

Efek Bayangan Hujan (Rain Shadow Effect)

Fenomena bayangan hujan memainkan peran krusial. Pulau-pulau seperti Sumba dan Timor dilintasi oleh pegunungan yang membentang dari timur ke barat. Angin muson yang membawa uap air dari laut biasanya datang dari arah utara atau selatan. Ketika angin ini menabrak pegunungan, udara dipaksa naik, mendingin, dan menghasilkan hujan di sisi windward (yang menghadap angin). Sisi leeward (di balik gunung) justru menerima udara yang telah kehilangan kelembabannya, sehingga menjadi kering.

Padang rumput savana yang mendominasi Nusa Tenggara erat kaitannya dengan pola curah hujan dan kondisi geologis yang unik. Fenomena alam ini juga mengingatkan kita pada kekayaan budaya Indonesia yang majemuk, sering disebut sebagai Sebutan Lain untuk Masyarakat Multikultural. Sama seperti ekosistem padang rumput yang terbentuk dari interaksi kompleks, lanskap budaya kita pun dibentuk oleh harmoni perbedaan, yang akhirnya kembali memperkaya narasi mengapa bentang alam seperti ini begitu khas di wilayah timur Indonesia.

Inilah yang menciptakan zona-zona semi-arid di balik gunung, tempat savana sangat dominan.

Faktor Klimatologis Pembentuk Ekosistem

Beberapa faktor iklim bekerja secara sinergis untuk membentuk dan mempertahankan padang rumput Nusa Tenggara. Faktor-faktor ini saling terkait dan menciptakan lingkungan yang selektif bagi jenis vegetasi tertentu.

  • Durasi dan Intensitas Penyinaran Matahari: Tinggi sepanjang tahun, meningkatkan penguapan dan memperparah kondisi kering.
  • Kelembaban Udara yang Rendah: Terutama di musim kemarau, menghambat pertumbuhan tanaman yang membutuhkan kelembaban tinggi.
  • Variabilitas Hujan yang Tinggi: Hujan sering turun dalam intensitas tinggi dalam waktu singkat, lebih banyak menjadi aliran permukaan yang hilang daripada meresap ke dalam tanah.
  • Angin Kencang Musiman: Mempercepat penguapan dan dapat menyebarkan biji rumput, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran alami.

Proses Alam dan Interaksi Ekosistem

Padang rumput Nusa Tenggara bukanlah lanskap yang statis. Ia adalah produk dinamis dari proses alam yang terus berlangsung dan interaksi timbal balik antara komponen biotik dan abiotik. Keseimbangan ekosistem ini dijaga oleh mekanisme alamiah yang kadang terlihat keras, seperti kebakaran, namun justru penting untuk kelangsungan hidupnya.

Peran Kebakaran Alami Periodik

Kebakaran, baik yang disebabkan oleh petir di akhir musim kemarau maupun yang dilakukan secara tradisional oleh manusia, merupakan agen pemelihara ekosistem savana. Api membakar semak-semak dan anakan pohon yang mulai tumbuh, mencegah suksesi alami menuju hutan. Sementara itu, rumput-rumputan yang telah beradaptasi justru mendapat manfaat: biji-bijian mereka dirangsang untuk berkecambah, abu hasil pembakaran menyuburkan tanah dengan mineral, dan lahan dibuka untuk pertumbuhan tunas rumput baru yang lebih bergizi bagi herbivora.

BACA JUGA  Hubungan Makhluk Hidup dengan Ekosistem serta Variasi Habitat Kunci Kehidupan

Interaksi dengan Satwa Herbivora Endemik

Padang rumput dan herbivora memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Kuda liar di Sumba, kerbau, rusa Timor ( Rusa timorensis), dan domba hidup dengan menggantungkan diri pada rumput sebagai sumber pakan. Aktivitas merumput mereka mencegah satu jenis tumbuhan mendominasi dan membantu penyebaran biji. Kotoran mereka mengembalikan nutrisi ke tanah. Secara tidak langsung, mereka juga menjadi pemangsa bagi anakan pohon, sehingga kembali menjaga sifat terbuka dari savana.

Kehadiran predator seperti komodo di Taman Nasional Komodo juga mengatur populasi herbivora, menciptakan piramida ekologi yang lengkap.

Adaptasi Unik Tumbuhan dan Hewan

Kehidupan di savana yang keras menuntut adaptasi khusus. Tumbuhan seperti Lontar dan Kesambi memiliki kulit kayu tebal yang tahan api. Rumput menyimpan energi di bagian pangkal batang atau rimpang di bawah tanah. Beberapa hewan, seperti rusa Timor, lebih aktif di pagi dan sore hari untuk menghindari panas terik siang. Burung-burung di Sumba, seperti Kakatua Cempaka, beradaptasi dengan memakan biji dan buah dari pohon savana yang tersisa.

Adaptasi ini adalah bukti evolusi yang mengagumkan dalam merespons tekanan lingkungan.

Siklus Kehidupan di Dua Musim

Perubahan musim membawa dua wajah yang sangat berbeda pada padang rumput Nusa Tenggara, sebuah transformasi tahunan yang dramatis.

Ketika musim penghujan tiba, biasanya antara November dan Maret, hamparan savana yang sebelumnya kering kerontang seakan tersentuh sihir. Hujan pertama memicu ledakan kehidupan: dalam hitungan hari, tunas-tunas hijau muda menyembul dari tanah yang retak-retak, mengubah lanskap cokelat menjadi permadani hijau yang luas. Bunga-bunga liar bermekalan, dan udara dipenuhi suara serangga dan burung. Herbivora seperti kuda dan rusa menikmati masa kelimpahan ini, menimbun lemak untuk persiapan menghadapi masa sulit. Namun, seiring berakhirnya hujan dan matahari mulai menyengat lebih lama, warna hijau itu berangsur memudar. Rumput-rumput mengering, berubah warna menjadi keemasan sebelum akhirnya menjadi cokelat pucat. Sumber air menyusut, dan kehidupan berkonsentrasi di sekitar titik-titik air yang tersisa. Inilah musim kemarau, periode ketahanan di mana sebagian besar kehidupan tampak diam, menunggu dengan sabar untuk siklus hujan berikutnya memulai drama kehidupan baru.

Dampak Aktivitas Manusia dan Budaya: Mengapa Padang Rumput Hanya Ada Di Nusa Tenggara

Selama ribuan tahun, manusia bukanlah sekadar penghuni pasif di ekosistem padang rumput Nusa Tenggara. Masyarakat lokal telah menjadi bagian integral dari lanskap ini, dengan aktivitas budayanya justru turut membentuk dan memperluas keberadaan savana. Hubungan ini adalah contoh kompleks dari bentang alam budaya, di mana alam dan budaya saling membentuk.

Tradisi Berladang dan Peternakan Tradisional

Praktik perladangan berpindah atau tebas bakar (shifting cultivation) yang telah berlangsung turun-temurun berkontribusi pada pembukaan lahan hutan menjadi padang rumput sekunder. Setelah beberapa kali siklus tanam, lahan sering dibiarkan terlantar (fallow) dalam waktu lama dan ditumbuhi alang-alang serta rumput, yang kemudian dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan. Sementara itu, budaya pastoral yang kuat, terutama di Sumba dan Sumbawa, dengan ternak kuda, kerbau, dan sapi sebagai simbol status dan kekayaan, membutuhkan padang rumput yang luas.

Penggembalaan terus-menerus mencegah regenerasi pohon dan memelihara tutupan rumput.

Dampak Historis Pembukaan Lahan

Perubahan vegetasi alami menjadi savana di beberapa area telah berlangsung sejak masa pra-sejarah. Aktivitas manusia purba, diperkirakan melalui penggunaan api untuk berburu atau membuka lahan, mungkin telah memulai proses transformasi ini. Pada masa kolonial, permintaan akan kayu untuk pembangunan dan perkebunan semakin mempercepat hilangnya tutupan hutan di beberapa wilayah. Tanah yang telah terdegradasi ini kemudian lebih mudah didominasi oleh rumput-rumputan invasif seperti alang-alang, yang tahan api dan penggembalaan, mengunci lanskap dalam keadaan savana.

Hubungan Aktivitas Manusia dan Perubahan Tutupan Lahan

Aktivitas manusia memiliki dampak ganda terhadap padang rumput: ada yang bersifat memelihara, ada pula yang berpotensi mendegradasi. Tabel berikut merangkum hubungan kompleks tersebut.

Aktivitas Manusia Tujuan Dampak terhadap Padang Rumput Konsekuensi Jangka Panjang
Pembakaran Terkendali (Early Burning) Meremajakan rumput, mencegah kebakaran besar, mengusir hama. Mempertahankan keterbukaan, menghilangkan semak perintis, merangsang tumbuhnya rumput muda. Menstabilkan ekosistem savana, mencegah invasi semak belukar dan suksesi ke hutan.
Penggembalaan Tradisional (Extensif) Pemeliharaan ternak sebagai aset ekonomi dan budaya. Memangkas vegetasi, mendistribusikan nutrien melalui kotoran, mencegah dominasi satu spesies. Memelihara keragaman spesies rumput, namun berlebihan dapat menyebabkan erosi dan degradasi lahan.
Konversi Lahan untuk Pertanian Peningkatan produksi pangan komersial. Mengurangi luas padang rumput alami, fragmentasi habitat. Hilangnya konektivitas ekologis, ancaman bagi satwa liar yang bergantung pada savana.
Pengambilan Kayu untuk Bahan Bakar & Bangunan Kebutuhan domestik. Mengurangi pohon-pohon penyangga (scattered trees) di savana. Berkurangnya naungan bagi ternak dan satwa, meningkatnya erosi tanah, penurunan kesuburan.
BACA JUGA  Penyebab terbentuknya gurun pasir dan asal pasir dari tanah mengering

Adaptasi dan Pemanfaatan Budaya

Masyarakat Nusa Tenggara telah mengembangkan budaya yang selaras dengan ekosistem padang rumput. Arsitektur rumah adat menggunakan bahan dari kayu kesambi atau lontar yang tahan kering. Sistem nilai sosial seringkali terikat dengan kepemilikan ternak. Seni tenun ikat, seperti di Sumba, menggunakan motif-motif yang terinspirasi dari flora dan fauna savana. Pengetahuan lokal tentang siklus musim, jenis rumput pakan terbaik, dan teknik pengelolaan air sangat mendalam, menunjukkan bagaimana mereka bukan hanya hidup di savana, tetapi juga memahami dan mengelolanya secara turun-temurun.

Perbandingan dengan Wilayah Lain di Indonesia

Keunikan padang rumput Nusa Tenggara menjadi semakin jelas ketika kita membandingkannya dengan pulau-pulau besar lain di Indonesia. Perbedaan mendasar dalam sejarah geologi, pola iklim, dan kondisi tanah menjawab mengapa sabana tidak mendominasi di tempat lain seperti halnya di Nusa Tenggara.

Perbandingan Geologi dan Vulkanisme

Sumatra dan Kalimantan berdiri di atas paparan Sunda yang stabil dan tua, dengan tanah yang dalam dan subur akibat proses pelapukan yang berlangsung lama, didukung oleh curah hujan tinggi sepanjang tahun. Kondisi ini sempurna untuk mendukung hutan hujan tropis yang lebat. Sebaliknya, Nusa Tenggara adalah bagian dari busur vulkanik muda dan kompleks, dengan pulau-pulau yang lebih kecil, tanah yang tipis, dan kondisi kering.

Aktivitas vulkanik yang ada justru sering menghasilkan material yang porous dan cepat kering, bukan tanah vulkanik yang subur seperti di Jawa.

Perbedaan dengan Pulau Jawa

Pulau Jawa memang memiliki musim kemarau yang jelas, tetapi beberapa faktor mencegah terbentuknya sabana seluas di Nusa Tenggara. Pertama, curah hujan tahunan Jawa masih jauh lebih tinggi dan lebih merata. Kedua, sebagian besar tanah Jawa sangat subur akibat vulkanisme Kuarter, mendukung pertanian intensif dan vegetasi yang cepat tumbuh. Ketiga, tekanan populasi yang sangat tinggi selama berabad-abad telah mengubah hampir seluruh lanskap menjadi sawah, perkebunan, dan permukiman, menyisakan savana hanya di area-area tertentu yang kurang subur seperti Taman Nasional Baluran atau dataran tinggi.

Karakteristik Iklim Mikro dengan Papua

Indonesia bagian timur lainnya, seperti Papua, memiliki iklim yang juga dipengaruhi oleh musim. Namun, Pegunungan Tengah Papua yang sangat tinggi dan masif justru berfungsi sebagai “pengumpul hujan” raksasa, menciptakan hutan hujan pegunungan yang luas dan lembap di sebagian besar wilayahnya. Savana di Papua, seperti di Wasur, lebih terkait dengan kondisi tanah dataran rendah yang tergenang secara musiman (savana berawa), bukan karena kekeringan ekstrem seperti di Nusa Tenggara.

Iklim mikro Nusa Tenggara jauh lebih kering akibat pengaruh bayangan hujan dan laut yang lebih dalam di sekitarnya.

Alasan Dominansi Padang Rumput di Nusa Tenggara

Kombinasi beberapa faktor kunci berikutlah yang membuat padang rumput menjadi ciri khas dan dominan di Nusa Tenggara, sebuah fenomena yang tidak terulang dengan skala serupa di kepulauan Indonesia lainnya.

  • Posisi di Zona Iklim Kering: Berada di bawah pengaruh sistem tekanan tinggi Australia yang membawa udara kering selama musim kemarau panjang.
  • Topografi dan Efek Bayangan Hujan: Adanya pegunungan yang memblokir awan hujan, menciptakan zona semi-arid di bagian leeward.
  • Jenis Tanah yang Tersier dan Kapuran: Tanah dengan daya retensi air rendah, yang memperburuk efek kekeringan dan kurang mendukung pertumbuhan hutan.
  • Sejarah Kebakaran dan Penggunaan Lahan: Interaksi panjang antara kebakaran alami dan praktik budaya berbasis api (berburu, berladang, peternakan) yang telah mempertahankan dan memperluas savana selama ribuan tahun.
  • Adaptasi Ekosistem yang Terkunci: Setelah terbentuk, ekosistem savana menjadi stabil karena rumput dan spesies yang beradaptasi telah mendominasi, dan proses seperti kebakaran serta penggembalaan mencegah kembalinya hutan.

Terakhir

Jadi, jawaban dari mengapa padang rumput begitu dominan di Nusa Tenggara terletak pada sebuah simfoni faktor yang sempurna. Mulai dari iklim kering dengan musim kemarau panjang, tanah yang kurang subur, pengaruh bayangan hujan, hingga kebakaran alami dan praktik budaya masyarakat yang turut membentuk dan memeliharanya. Savana Nusa Tenggara bukan sekadar pemandangan; ia adalah bukti nyata bagaimana alam dan manusia dapat berkolaborasi menciptakan suatu keunikan.

Keberadaannya mengingatkan kita akan kekhususan setiap jengkal tanah di Indonesia, yang masing-masing menyimpan cerita dan keseimbangannya sendiri yang patut untuk terus dilestarikan.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah padang rumput di Nusa Tenggara alami atau buatan manusia?

Keduanya berperan. Padang rumput tersebut terbentuk secara alami karena kondisi iklim dan tanah, namun aktivitas manusia seperti pembakaran terkendali untuk berburu atau berladang serta penggembalaan ternak turut memperluas dan mempertahankan bentang alam ini selama berabad-abad.

Bisakah padang rumput Nusa Tenggara berubah menjadi hutan?

Secara alami, sangat mungkin melalui proses suksesi. Namun, kombinasi musim kemarau panjang, kebakaran periodik (baik alami maupun dari manusia), dan penggembalaan oleh herbivora besar menjadi faktor penghambat yang kuat, sehingga menjaga ekosistem tetap sebagai padang rumput.

Bagaimana satwa endemik seperti Komodo bertahan di padang rumput yang kering?

Komodo dan satwa lainnya memiliki adaptasi khusus. Komodo adalah predator puncak yang efisien dan dapat bertahan lama tanpa makan. Herbivora seperti rusa dan kuda liar telah beradaptasi dengan rumput yang tersisa di musim kemarau, sementara banyak tumbuhan menyimpan air di akar atau batangnya.

Apakah perubahan iklim mengancam keberadaan padang rumput Nusa Tenggara?

Potensi ancamannya nyata. Pola curah hujan yang berubah dapat menggeser keseimbangan ekosistem yang rapuh. Musim kemarau yang lebih panjang dan ekstrem dapat memperluas kekeringan, sementara peningkatan frekuensi kebakaran hutan yang tidak terkendali dapat merusak regenerasi vegetasi dan mengganggu keseimbangan alam.

Leave a Comment