Nama Pemilik Colosseum adalah pertanyaan yang mengundang perjalanan waktu panjang, melintasi kekaisaran, gereja, hingga negara bangsa. Monumen ikonik yang mendominasi langit Roma ini bukan sekadar peninggalan batu, melainkan sebuah narasi hidup tentang peralihan kekuasaan, identitas, dan tanggung jawab pelestarian. Dari tangan dinasti Flavian yang membangunnya, melalui masa-masa kelam ketika fungsinya berubah, hingga statusnya yang sekarang sebagai milik bersama umat manusia, kisah kepemilikannya mencerminkan gelombang sejarah Eropa itu sendiri.
Secara hukum, Colosseum saat ini berada di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Italia, dikelola sebagai properti negara yang tak dapat diperjualbelikan. Namun, di balik status legal formal itu, tersimpan persepsi yang lebih dalam: Colosseum telah melampaui konsep kepemilikan individu atau negara semata. Ia telah bertransformasi menjadi simbol kekuatan arsitektur Romawi, saksi bisu pertarungan gladiator, dan akhirnya, sebuah mahakarya warisan dunia yang diakui UNESCO, yang membuatnya seolah-olah “dimiliki” oleh seluruh peradaban global yang menghargai sejarah.
Asal Usul dan Pemilik Awal Colosseum: Nama Pemilik Colosseum
Colosseum tidak berdiri begitu saja sebagai ikon abadi Roma. Keberadaannya berawal dari sebuah keputusan politik yang brilian untuk mengukuhkan kekuasaan dan mengalihkan perhatian publik. Setelah tahun kekacauan 69 M, yang dikenal sebagai Tahun Empat Kaisar, Vespasian naik takhta sebagai pendiri Dinasti Flavian. Untuk memperkuat legitimasinya dan memberikan sesuatu kembali kepada rakyat, ia memerintahkan pembangunan amphitheater raksasa di lokasi yang sangat simbolis: danau buatan di kompleks Istana Domus Aurea milik Nero, kaisar sebelumnya yang dibenci.
Dengan cara ini, Vespasian secara harfiah mengembalikan tanah yang dirampas Nero untuk kepentingan publik.
Kaisar Flavian dan Pembangunan Colosseum
Pembangunan Colosseum adalah proyek dinasti yang melibatkan tiga kaisar secara berturut-turut. Masing-masing memberikan kontribusi penting, meski dengan fokus dan motivasi yang sedikit berbeda. Proyek kolosal ini tidak hanya menunjukkan kekuatan teknik Romawi tetapi juga menjadi alat propaganda yang efektif bagi keluarga Flavian.
| Kaisar | Periode | Peran dalam Pembangunan | Kontribusi Kunci |
|---|---|---|---|
| Vespasian | 69-79 M | Inisiator dan Pemula | Memulai pembangunan sekitar tahun 70-72 M, mendanai proyek dari rampasan Perang Yahudi, menentukan lokasi strategis di bekas Domus Aurea. |
| Titus | 79-81 M | Penyelesaian dan Peresmian | Menyelesaikan struktur utama dan meresmikannya pada tahun 80 M dengan permainan selama 100 hari. Membangun tingkat atas kayu tambahan. |
| Domitian | 81-96 M | Penyempurna dan Penambah Fasilitas | Menambahkan hipogeum (sistem lorong dan ruang bawah panggung) serta galeri di tingkat paling atas untuk meningkatkan kapasitas dan spektakel. |
Nama Amphitheatrum Flavium, Nama Pemilik Colosseum
Nama asli bangunan ini, Amphitheatrum Flavium, secara langsung merujuk pada dinasti yang membangunkannya. Dalam tradisi Romawi, adalah hal yang umum untuk menamai bangunan publik besar dengan nama keluarga (gens) dari patron atau kaisar yang membiayainya. Nama “Flavium” berasal dari nama keluarga Flavia, yang mencakup Vespasian, Titus, dan Domitian. Nama “Colosseum” sendiri mulai populer digunakan pada Abad Pertengahan, diduga merujuk pada patung kolosal (colossus) Nero yang pernah berdiri di dekatnya, bukan karena ukuran bangunannya yang besar.
Peresmian Megah oleh Kaisar Titus
Peresmian Colosseum pada tahun 80 M di bawah Kaisar Titus adalah sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Romawi. Upacara pembukaan, atau ludi, berlangsung selama 100 hari penuh, sebuah pesta rakyat yang dirancang untuk menunjukkan kemurahan hati kaisar baru. Catatan sejarah dari penyair Martial dan sejarawan Dio Cassius menggambarkan spektakel yang luar biasa. Pertunjukan termasuk pertempuran gladiator, eksekusi narapidana ( noxii), dan perburuan hewan liar ( venationes) yang menampilkan ribuan binatang dari seluruh penjuru kekaisaran, seperti badak, gajah, dan harimau.
Bahkan digelar pertunjukan laut palsu ( naumachia) di arena yang dibanjiri air, meski kemungkinan dilaksanakan di tempat terpisah. Acara ini bukan sekadar hiburan; ia adalah pernyataan politik tentang kekuatan, ketertiban, dan kemakmuran yang telah dikembalikan Dinasti Flavian kepada Roma.
Perubahan Kepemilikan dan Status Hukum Sepanjang Sejarah
Setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat, Colosseum memasuki babak baru yang panjang dan kompleks. Status kepemilikannya tidak lagi jelas, dan bangunan megah itu mengalami transformasi fungsi yang jauh dari tujuan awalnya. Dari simbol kekuasaan kekaisaran, ia menjadi sumber material bangunan, benteng, tempat suci, dan akhirnya monumen yang dilindungi. Perjalanan ini mencerminkan perubahan nilai dan kekuasaan di Roma selama berabad-abad.
Peralihan Status dari Kekaisaran ke Negara Italia
Kepemilikan dan kendali atas Colosseum berpindah tangan melalui beberapa periode kunci. Pada Abad Pertengahan awal, bangunan ini seolah-olah menjadi res nullius (milik tidak ada) sebelum diambil alih oleh keluarga bangsawan yang berkuasa, seperti Frangipane dan Annibaldi, yang mengubahnya menjadi benteng. Pada abad ke-14, setelah gempa bumi besar, kepentingan Gereja Katolik muncul. Paus memiliki pengaruh signifikan, meski tidak selalu kepemilikan resmi, dalam menentukan nasibnya.
Statusnya sebagai monumen nasional baru benar-benar dikukuhkan setelah penyatuan Italia pada abad ke-19.
- Awal Abad Pertengahan (Setelah abad ke-6): Colosseum tidak dikelola secara aktif, digunakan secara sporadis dan mulai dijarah untuk marmer, batu, dan besi.
- Akhir Abad Pertengahan (sekitar abad ke-12-14): Dikuasai oleh keluarga bangsawan Romawi (misalnya, Frangipane) sebagai benteng.
- Abad ke-14 hingga ke-19: Berada di bawah pengaruh dan kendali Takhta Suci (Paus), yang mengeluarkan dekret pelestarian.
- 1870-an seterusnya: Setelah Roma menjadi ibu kota Italia yang bersatu, Colosseum diambil alih oleh negara Italia dan ditetapkan sebagai monumen nasional.
Fungsi Colosseum Pasca-Kekaisaran Romawi
Setelah era gladiator berakhir, Colosseum tidak serta-merta menjadi reruntuhan yang sepi. Selama berabad-abad, bangunan ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang mencerminkan kebutuhan zaman. Ruang-ruang vault-nya yang luas dan struktur yang kokoh menawarkan peluang baru.
- Sumber Material Bangunan: Marmer fasad, batu travertine, dan klip besi dijarah secara sistematis untuk membangun istana, gereja, dan bangunan lain di Roma, seperti Palazzo Venezia dan Basilika Santo Petrus.
- Pemukiman dan Tempat Kerja: Bagian dalamnya pernah dihuni oleh pengrajin, peternak, dan penyewa lainnya. Bahkan ada pabrik garam nitrat untuk membuat bubuk mesiu.
- Tempat Suci Kristen: Meski legenda tentang martir Kristen di arena diperdebatkan, beberapa kapel kecil dibangun di dalamnya, dan Paus menahbiskannya sebagai tempat suci pada abad ke-18.
- Tempat Ibadah dan Meditasi: Jalur Salib tradisional diadakan di sana selama berabad-abad, memanfaatkan atmosfernya yang dramatis untuk refleksi religius.
Peran Paus dalam Pelestarian Awal
Meski beberapa Paus sebelumnya menyetujui pengambilan material dari Colosseum, ada titik balik penting pada masa Renaisans dan seterusnya. Paus mulai melihatnya bukan sebagai tambang batu, tetapi sebagai peninggalan kuno yang bernilai sejarah dan religius. Paus Sikstus V pada akhir abad ke-16 pernah berencana mengubahnya menjadi pabrik wool, tetapi gagasan itu tidak terlaksana. Langkah protektif yang lebih konkret datang dari Paus Benediktus XIV pada tahun 1749, yang secara resmi menahbiskannya sebagai tempat suci yang dikaitkan dengan martir Kristen.
Tindakan ini, meski didasarkan pada tradisi daripada bukti sejarah yang kuat, memberikan status hukum yang melindungi Colosseum dari perusakan lebih lanjut. Ia memasang Salib di arena dan menjadikannya sebagai stasiun Jalur Salib. Keputusan Benediktus XIV inilah yang sering dianggap sebagai awal dari upaya pelestarian sistematis untuk Colosseum.
Otoritas Pengelolaan dan Perlindungan Modern
Dalam konteks modern, pertanyaan “siapa pemilik Colosseum” menemui jawaban birokratis yang jelas, namun juga kompleks. Colosseum saat ini adalah aset negara, tetapi pengelolaannya melibatkan jaringan lembaga dengan spesialisasi berbeda. Dari perawatan harian hingga penelitian ilmiah, tanggung jawab tersebut dibagi untuk memastikan monumen ini terlindungi untuk generasi mendatang, sesuai dengan mandat nasional dan internasional yang melekat padanya.
Lembaga Pengelola di Bawah Pemerintah Italia
Otoritas utama yang bertanggung jawab atas Colosseum adalah Kementerian Kebudayaan Italia (Ministero della Cultura). Di bawah kementerian ini, operasional langsung dipegang oleh Parco Archeologico del Colosseo (Taman Arkeologi Colosseum), sebuah institusi otonom yang dibentuk pada tahun 2017. Parco ini tidak hanya mengelola Colosseum itu sendiri, tetapi juga kawasan arkeologi sekitarnya yang luas, termasuk Roman Forum, Palatine Hill, dan Domus Aurea.
Penggabungan ini memungkinkan pengelolaan yang terpadu dan holistik atas jantung arkeologi kota Roma.
Pembagian Tugas Pengelolaan, Restorasi, dan Riset
Pengelolaan sebuah situs sekompleks Colosseum membutuhkan pembagian kerja yang jelas antara berbagai bidang keahlian. Parco Archeologico del Colosseo memiliki divisi-divisi internal dan juga bermitra dengan universitas serta lembaga penelitian untuk menangani aspek-aspek spesifik.
| Entitas/Bidang | Fokus Utama | Tugas dan Tanggung Jawab |
|---|---|---|
| Manajemen Operasional | Pengunjung dan Keamanan Harian | Mengatur tiket, lalu lintas pengunjung, pemandu, keamanan fisik, pembersihan rutin, dan pemeliharaan fasilitas. |
| Tim Restorasi dan Konservasi | Pelestarian Fisik Struktur | Melakukan pembersihan batu dari polusi, stabilisasi struktur, restorasi bagian yang rusak, dan pemantauan kondisi secara berkala dengan teknologi modern. |
| Penelitian Arkeologi dan Ilmiah | Pengetahuan dan Dokumentasi | Mengadakan penggalian arkeologi (seperti di area hipogeum dan saluran pembuangan), studi tentang material, analisis sejarah arsitektur, dan publikasi temuan. |
| Kemitraan Akademis & Sponsor | Pendanaan dan Keahlian Khusus | Bekerja sama dengan universitas untuk proyek penelitian spesifik dan dengan perusahaan sponsor untuk pendanaan restorasi besar (seperti restorasi fasad oleh Tod’s). |
Implikasi Status Situs Warisan Dunia UNESCO
Colosseum, bersama dengan pusat sejarah Roma, dimasukkan ke dalam Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1980. Status ini secara hukum tidak mengalihkan kepemilikan dari negara Italia. Namun, ia menciptakan kewajiban moral dan politik yang sangat kuat. Italia, sebagai negara pihak Konvensi Warisan Dunia, berjanji untuk mengidentifikasi, melindungi, melestarikan, dan meneruskan warisan ini kepada generasi mendatang. UNESCO berperan sebagai pengawas dan penasihat.
Dalam praktiknya, status ini berarti setiap rencana pengembangan besar, restorasi, atau perubahan di sekitar Colosseum harus mempertimbangkan dampaknya terhadap Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value) yang diakui dunia. Kepemilikan tetap Italia, tetapi tanggung jawab pelestariannya bersifat global.
Mekanisme Pendanaan Pemeliharaan
Source: ngopibareng.id
Pendanaan untuk Colosseum berasal dari campuran sumber publik, swasta, dan pendapatan sendiri. Anggaran negara dari Kementerian Kebudayaan merupakan tulang punggung untuk operasional dasar, gaji staf, dan pemeliharaan rutin. Sumber pendapatan signifikan berasal dari penjualan tiket masuk, yang jumlahnya sangat besar. Untuk proyek restorasi besar-besaran yang membutuhkan dana puluhan juta euro, pemerintah Italia aktif mencari kemitraan dengan perusahaan swasta melalui skema mecenatismo culturale (mekenisme budaya).
Contoh paling terkenal adalah kemitraan dengan grup Tod’s yang mendanai pembersihan dan restorasi fasad luar, serta dengan Bulgari untuk restorasi lantai arena. Model pendanaan campuran ini, meski kadang menuai kritik, telah memungkinkan dilakukannya intervensi konservasi yang ambisius dan cepat.
Narasi dan Simbolisme di Balik “Sang Pemilik”
Di luar dokumen hukum dan struktur birokrasi, terdapat narasi yang lebih dalam tentang siapa yang benar-benar “memiliki” Colosseum. Ia telah melampaui statusnya sebagai sekadar properti negara untuk menjadi simbol yang hidup, diklaim secara emosional oleh berbagai lapisan masyarakat, dari warga Roma hingga warga dunia. Pemilikannya menjadi konsep yang cair, bergeser antara fakta yuridis dan perasaan kolektif.
Persepsi Publik tentang Pemilik Sejati
Bagi banyak orang Italia, terutama warga Roma, Colosseum adalah bagian dari identitas mereka, sebuah tetangga megah yang telah menyaksikan sejarah kota selama dua milenium. Mereka merasa memiliki ikatan warisan yang tak terputus, seolah-olah bangunan itu adalah milik bersama ( patrimonio comune). Di tingkat nasional, Colosseum adalah simbol Italia itu sendiri, mewakili kejayaan masa lalu Romawi dan daya tarik budaya negara tersebut.
Secara global, ia dianggap sebagai milik umat manusia, sebuah mahakarya pencapaian manusia yang cerita dan bentuknya menjadi hak bersama peradaban. Jadi, sementara negara Italia adalah pemilik administratif, legitimasi emosional dan budaya dibagikan secara luas.
Definisi Hukum Status Colosseum
Status legal Colosseum sebagai aset negara yang tidak dapat diperdagangkan ditegaskan dalam hukum Italia. Ia dilindungi oleh kode warisan budaya yang ketat. Pernyataan resmi dari Parco Archeologico del Colosseo dan Kementerian Kebudayaan selalu menekankan prinsip ini.
“Colosseum, sebagai bagian dari properti negara yang tidak dapat diperdagangkan, merupakan monumen yang dilindungi yang dikelola oleh Parco Archeologico del Colosseo… dan merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia ‘Pusat Sejarah Roma’. Setiap tindakan konservasi, peningkatan, dan penggunaan ditujukan untuk pelestarian dan transmisi kepada generasi mendatang.”
Pernyataan semacam ini dengan jelas menempatkan negara sebagai wali sah, dengan mandat untuk melestarikan warisan tersebut untuk kepentingan publik, baik nasional maupun internasional.
Colosseum sebagai Simbol yang Dimiliki Global
Colosseum telah menjadi ikon visual yang langsung dikenali di seluruh dunia, sering muncul di film, literatur, logo, dan bahkan sebagai latar belakang konser musik. Penggunaan universal ini menciptakan rasa kepemilikan simbolis. Ketika seseorang dari benua lain mengenali siluetnya, mereka mengklaim sedikit bagian dari sejarah dan budaya yang diwakilinya. Proses ini diperkuat oleh status UNESCO, yang secara resmi menyatakannya sebagai warisan “milik semua orang”.
Colosseum tidak lagi hanya menceritakan kisah Roma; ia menceritakan kisah tentang ambisi manusia, arsitektur, kekuasaan, dan bahkan kekejaman, tema-tema universal yang membuatnya relevan bagi semua budaya.
Panggung Representasi Nasional dalam Event Modern
Colosseum terus berfungsi sebagai panggung paling bergengsi untuk acara-acara yang ingin menegaskan makna nasional atau kemanusiaan. Salah satu contoh yang paling kuat adalah konser “Live 8” pada tahun 2005, yang diselenggarakan di depan Colosseum, menggunakan monumen tersebut sebagai latar belakang yang perkasa untuk kampanye global melawan kemiskinan. Pada tingkat yang lebih nasionalis, pada era fasis Mussolini, Colosseum digunakan sebagai latar belakang parade dan pidato yang ingin menghubungkan rezim baru dengan kejayaan Romawi kuno.
Baru-baru ini, upacara-upacara sipil seperti pernikahan warga negara penting atau penerimaan penghargaan budaya sering diadakan di lokasi terdekat, meminjam aura sejarah dan keagungannya. Setiap event semacam itu adalah pengakuan atas kekuatan Colosseum sebagai simbol, dan sekaligus klaim atas simbol tersebut oleh pihak yang menyelenggarakannya.
Tokoh-Tokoh Kunci dalam Sejarah Pelestariannya
Colosseum bisa saja menjadi reruntuhan yang jauh lebih menyedihkan hari ini jika bukan karena intervensi beberapa individu visioner pada momen-momen kritis. Dari pemimpin gereja hingga arkeolog dan raja, tokoh-tokoh ini melihat nilai yang melampaui material bangunannya. Mereka memerangi tren zaman yang melihat Colosseum sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, dan meletakkan dasar untuk pengelolaan modern yang kita lihat sekarang.
Individu Penting dalam Penyelamatan Colosseum
Upaya pelestarian Colosseum tersebar selama berabad-abad, dimulai dari pengakuan religius hingga intervensi ilmiah dan politik. Beberapa nama paling berpengaruh termasuk Paus Benediktus XIV, yang memberikan perlindungan hukum awal; Raja Vittorio Emanuele II dari Italia, yang mengawasi penyatuan dan pengambilalihan oleh negara; dan arkeolog-arkeolog seperti Giacomo Boni dan Raffaele de Vico, yang memelopori pendekatan restorasi berbasis penelitian. Pada abad ke-20 dan ke-21, direktur Parco Archeologico seperti Francesco Prosperetti dan Alfonsina Russo memimpin proyek restorasi besar-besaran yang didanai swasta.
Kontribusi Spesifik Para Tokoh Pelestari
- Paus Benediktus XIV (1740-1758): Menahbiskan Colosseum sebagai tempat suci yang dikaitkan dengan martir Kristen pada 1749, memasang Salib di arena, dan secara efektif menghentikan pengambilan batu lebih lanjut dengan memberinya status religius yang terlindungi.
- Raja Vittorio Emanuele II & Pemerintah Italia Bersatu: Setelah tahun 1870, negara Italia yang baru bersatu mengambil alih Colosseum dari otoritas kepausan, menetapkannya sebagai monumen nasional, dan memulai pendanaan publik pertama untuk stabilisasi dan penelitian arkeologis.
- Giacomo Boni (Arkeolog, awal abad ke-20): Melakukan penggalian sistematis di hipogeum (lorong bawah tanah) dan membuka pemahaman baru tentang mekanisme pertunjukan di Colosseum. Ia juga memelopori metode konservasi yang lebih hati-hati.
- Pemerintah Italia & Sponsor Swasta (Abad ke-21): Meski bukan individu tunggal, keputusan untuk membuka kemitraan publik-swasta dengan perusahaan seperti Tod’s (untuk restorasi fasad), Bulgari (lantai arena), dan Diesel (penerangan) memungkinkan restorasi besar-besaran yang tidak akan mungkin dilakukan hanya dengan anggaran negara.
Kampanye Bersejarah Penetapan Status Monumen
Kampanye paling menentukan terjadi pada dekade-dekade setelah penyatuan Italia (Risorgimento). Para intelektual, seniman, dan politisi nasionalis melihat dalam monumen-monumen kuno seperti Colosseum simbol-simbol untuk mempersatukan bangsa Italia yang baru. Tekanan publik dan akademis mendorong pemerintah untuk mengalokasikan dana dan menetapkan undang-undang perlindungan. Undang-undang pertama tentang warisan budaya Italia, Legge n. 1089 del 1939 (Hukum no. 1089 tahun 1939), yang dikenal sebagai “Undang-Undang Bottai”, secara resmi menetapkan Colosseum dan ribuan aset budaya lainnya sebagai benda yang dilindungi negara, melarang ekspor dan mengharuskan izin khusus untuk intervensi apa pun.
Ini adalah pengukuhan hukum tertinggi statusnya sebagai monumen nasional.
Keadaan Sebelum dan Sesudah Restorasi Abad ke-19
Pada awal abad ke-19, kondisi Colosseum memprihatinkan. Vegetasi liar, termasuk ratusan spesies tanaman, tumbuh subur di dinding dan lerengnya, merusak mortar dan menggeser batu. Bagian-bagian struktur runtuh karena gempa dan pengabaian. Lingkaran dalamnya penuh dengan puing-puing dan tanah yang menumpuk selama berabad-abad, menyembunyikan hipogeum sepenuhnya. Gambaran romantis dari pelukis seperti Piranesi justru menampilkannya sebagai reruntuhan yang indah namun tragis, diselimuti oleh alam.
Restorasi besar pertama yang didanai negara dimulai pada pertengahan abad ke-19 di bawah Paus Pius IX dan dilanjutkan oleh pemerintah Italia. Tindakan paling signifikan adalah membersihkan vegetasi invasif, memperkuat lengkungan yang ambruk dengan batu bata, dan secara sistematis menggali area arena dan hipogeum. Intervensi ini tidak hanya menstabilkan struktur dari keruntuhan lebih lanjut tetapi juga mulai mengungkap kembali bentuk dan fungsi aslinya, mengubahnya dari taman romantis yang terlantar menjadi situs arkeologi yang dapat dipelajari dan dikunjungi.
Penutup
Dengan demikian, penelusuran mengenai Nama Pemilik Colosseum mengungkap lapisan makna yang kompleks. Ia dimulai dari Vespasian sebagai pemrakarsa, beralih ke Gereja Katolik sebagai penjaga di Abad Pertengahan, dan kini berlabuh pada Republik Italia sebagai penanggung jawab legal. Namun, esensi sejatinya justru terletak pada bagaimana Colosseum telah menjadi milik kolektif—milik sejarah, milik seni, dan milik setiap individu yang memandangnya dengan decak kagum.
Colosseum, monumen ikonik Roma, dimiliki oleh Kaisar Vespasian dan diselesaikan oleh putranya Titus. Perbandingan historis ini mengingatkan kita pada soal matematika sederhana, seperti Quiz Kelas 5: 50 Murid, Perbandingan Laki‑laki : Perempuan 3 : 5, Hitung Jumlah , di mana proporsi dianalisis untuk menemukan solusi. Demikian pula, kepemilikan Colosseum adalah fakta sejarah yang konkret, bukan sekadar perkiraan, yang menjadikannya warisan dunia yang tak terbantahkan.
Colosseum berdiri bukan sebagai properti, melainkan sebagai amanah dari masa lalu untuk dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang, melampaui batas-batas geografis dan politik mana pun.
FAQ Terkini
Apakah keluarga kerajaan Italia saat ini memiliki klaim atas Colosseum?
Pemilik Colosseum, Kaisar Vespasian, memulai pembangunannya sebagai simbol kekuasaan Romawi. Dalam konteks berbeda, proses seleksi juga memerlukan pertimbangan matang, seperti pada analisis Menentukan wanita yang dipilih Fadil berdasarkan usia dan pekerjaan. Hal ini mengingatkan kita bahwa di balik monumen megah seperti Colosseum, selalu ada sosok pengambil keputusan yang menentukan arahnya.
Tidak. Setelah Italia menjadi republik pada tahun 1946, semua properti kerajaan yang digunakan untuk kepentingan negara disita dan menjadi milik negara. Colosseum, yang sudah lama dikelola negara, tidak memiliki kaitan kepemilikan dengan House of Savoy atau keluarga kerajaan mana pun.
Colosseum, amfiteater ikonik di Roma, secara historis dimiliki oleh Kaisar Vespasian dan Titus dari Dinasti Flavia yang memulai pembangunannya. Namun, mirip dengan logika sistematis dalam menentukan Jumlah bilangan empat digit 0,2,3,7,9 ≥3000 kelipatan 5 , kepemilikan monumen ini juga melalui proses seleksi sejarah yang ketat, akhirnya menjadi milik bangsa Italia sebagai simbol warisan dunia yang dijaga otoritasnya.
Bisakah organisasi atau individu asing membeli Colosseum?
Sama sekali tidak. Colosseum dilindungi oleh hukum Italia sebagai monumen nasional dan situs budaya yang tak dapat dialihkan (inalienable). Statusnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO juga memperkuat perlindungan internasional atasnya, sehingga tidak mungkin untuk diperjualbelikan kepada entitas swasta atau asing.
Mengapa ada bagian Colosseum yang hilang atau rusak parah?
Kerusakan besar terjadi terutama setelah gempa bumi abad pertengahan dan selama Renaisans, ketika batu, marmer, dan besi dari Colosseum secara sistematis dijarah untuk digunakan sebagai bahan bangunan proyek-proyek baru di Roma, seperti Basilika Santo Petrus. Baru pada abad ke-18 dan ke-19 upaya pelestarian serius dimulai untuk menghentikan penjarahan ini.
Siapa yang membiayai pemeliharaan dan restorasi Colosseum saat ini?
Pendanaan utama berasal dari anggaran pemerintah Italia melalui Kementerian Kebudayaan, ditambah pendapatan dari penjualan tiket. Seringkali, proyek restorasi besar juga didukung melalui kemitraan publik-swasta dan sumbangan dari perusahaan-perusahaan besar sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).