Niat Khusus Mengirim Doa dan Membaca Al‑Quran untuk Almarhum – Niat Khusus Mengirim Doa dan Membaca Al-Quran untuk Almarhum merupakan salah satu bentuk kepedulian dan kasih sayang yang terus mengalir, bahkan melampaui batas kehidupan dunia. Dalam tradisi Islam yang kaya, amalan ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan jembatan spiritual yang menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta yang telah mendahului. Praktik ini berakar pada pemahaman bahwa kebaikan dan pahala dapat dihadiahkan, memberikan ketenangan bagi yang masih hidup dan kemungkinan kebaikan bagi yang telah wafat.
Melalui niat yang tulus dan disertai dengan pelaksanaan yang sesuai tuntunan, membaca Al-Quran dan mendoakan almarhum menjadi ibadah yang penuh makna. Ibadah ini melibatkan pemahaman mendalam tentang dasar syariat, tata cara yang benar, serta pilihan surah dan doa yang dianjurkan. Lebih dari itu, amalan ini juga mengajarkan kita untuk selalu waspada agar tidak terjatuh pada praktik-praktik yang menyimpang, sehingga ketulusan hati dan keikhlasan dalam beribadah tetap terjaga.
Pemahaman Dasar tentang Niat Khusus untuk Almarhum
Dalam tradisi spiritual Islam, mengingat dan mendoakan mereka yang telah mendahului kita adalah bagian dari ikatan kasih sayang yang tak terputus. Niat khusus untuk almarhum dalam ibadah seperti membaca Al-Quran bukan sekadar ritual formal, melainkan manifestasi dari harapan dan cinta yang tulus, sebuah upaya untuk tetap memberi kebaikan meski telah terpisah oleh alam. Niat ini menjadi penentu arah dan tujuan dari amaliah yang kita lakukan, mengalihkan pahala yang kita usahakan untuk menjadi penolong bagi mereka di alam barzakh.
Dasar syar’i dari praktik ini berakar pada konsep hadiah pahala (ishal al-tsawab). Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa pahala amal shaleh, khususnya yang bersifat non-materi seperti doa, bacaan Al-Quran, dan sedekah, dapat sampai kepada mayit dengan izin Allah. Hal ini didukung oleh dalil-dalil umum tentang doa untuk kaum muslimin yang hidup maupun yang telah wafat, serta praktik langsung Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
Pandangan ini menekankan bahwa keutamaan datang dari kehendak Allah semata, bukan dari proses mekanistis yang dipaksakan.
Perbandingan Pandangan Mazhab Fikih
Meski memiliki tujuan yang sama, para ulama dari berbagai mazhab memiliki penekanan dan metodologi yang berbeda dalam menyikapi hukum mengirimkan pahala bacaan Al-Quran. Perbedaan ini terutama menyangkut pada cara sampainya pahala dan jenis amalan yang dapat dihadiahkan. Tabel berikut merangkum perbandingan pandangan empat mazhab utama untuk memberikan perspektif yang komprehensif.
| Mazhab | Hukum Mengirim Pahala Bacaan | Dasar Argumentasi | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| Hanafi | Pahala bacaan tidak sampai secara langsung, tetapi doa setelah bacaanlah yang bermanfaat. | Pahala adalah hasil usaha (muktasab) yang tidak dapat dipindahkan. Yang sampai adalah doa dan permohonan rahmat yang dipanjatkan. | Anjuran kuat untuk mendoakan almarhum setelah membaca Al-Quran, karena doa adalah ibadah yang pahalanya dapat meliputi orang lain. |
| Maliki | Boleh dan pahalanya sampai dengan izin Allah. | Kebiasaan (urf) kaum muslimin yang telah berlangsung dan diterima, serta keumuman dalil tentang sampainya doa dan sedekah. | Lebih mengutamakan sedekah dan amal jariyah yang jelas dalil sampainya, namun tidak mengingkari manfaat bacaan Al-Quran yang dihadiahkan. |
| Syafi’i | Sangat dianjurkan (mustahab) dan pahalanya sampai. | Dalil-dalil khusus dan umum, seperti hadis tentang sedekah untuk mayit dan praktik para salafushaleh yang membaca Al-Quran untuk keluarga mereka yang wafat. | Niat menghadiahkan pahala harus jelas sebelum atau selama membaca. Termasuk amalan yang sangat dianjurkan saat ziarah kubur. |
| Hambali | Boleh dan pahalanya sampai. | Qiyas (analogi) terhadap sampainya pahala sedekah dan doa, karena bacaan Al-Quran termasuk amal shaleh yang baik. | Membaca di sisi kubur lebih utama, tetapi membaca dari jauh juga diperbolehkan. Pahalanya dihadiahkan melalui doa setelah selesai membaca. |
Tata Cara dan Adab Membaca Al-Quran untuk Almarhum
Setelah memahami landasan dan niatnya, langkah selanjutnya adalah melaksanakan amalan ini dengan cara yang baik dan penuh penghormatan. Tata cara membaca Al-Quran untuk almarhum pada dasarnya sama dengan membaca untuk diri sendiri, hanya dibedakan oleh niat di dalam hati. Namun, ada beberapa adab dan langkah praktis yang dapat memaksimalkan kekhusyukan dan menghindari kesalahan dalam pelaksanaannya.
Dimulai dari persiapan lahir dan batin. Keadaan suci dari hadas besar dan kecil sangat dianjurkan, meski menurut sebagian ulama, membaca Al-Quran dalam keadaan tidak suci (kecuali haid) diperbolehkan jika disertai niat zikir. Memilih waktu yang tenang dan kondusif, seperti sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, atau di waktu-waktu mustajab seperti hari Jumat, akan membantu konsentrasi. Tempat yang bersih dan menghadap kiblat juga menambah kesempurnaan adab.
Niat khusus mengirim doa dan membaca Al-Quran untuk almarhum merupakan bentuk kepedulian spiritual yang mendalam. Dalam konteks kehidupan yang lebih luas, kepedulian ini sejatinya paralel dengan tanggung jawab kita terhadap alam, sebagaimana diatur dalam Pengertian Pengelolaan Lingkungan Hidup Menurut UU No 23/1997. Sama seperti kita menjaga harmoni dengan lingkungan, mendoakan yang telah pergi adalah upaya menjaga keharmonisan hubungan rohani, sebuah amal yang terus mengalirkan pahala.
Langkah-Langkah Praktis Memulai Bacaan
Proses ini tidak rumit. Pertama, ambil wudhu dengan sempurna. Kedua, duduklah di tempat yang tenang dengan penuh ketundukan. Ketiga, sebelum membaca ta’awudz dan basmalah, mantapkan dalam hati niat untuk menghadiahkan pahala bacaan yang akan dilakukan kepada almarhum. Niat tidak harus diucapkan secara lisan, tetapi cukup dalam hati dengan bahasa yang dipahami.
Keempat, bacalah Al-Quran dengan tartil, perlahan, dan usahakan untuk memahami maknanya. Terakhir, setelah selesai, panjatkan doa khusus untuk almarhum dengan menyebut namanya.
Contoh Susunan Niat dalam Hati
Berikut adalah contoh formulasi niat yang dapat dijadikan pedoman. Ingat, ini bukan bacaan wajib, tetapi contoh untuk mempermudah pengaturan hati.
“Aku niat membaca Al-Quran ini dan aku hadiahkan pahala bacaannya kepada (sebutkan nama dan hubungan, misal: almarhum ayahanda Fulan bin Fulan). Semoga Allah menerima amal ini, meringankan hisabnya, melapangkan kuburnya, dan menjadikan bacaanku ini sebagai penambah timbangan amal kebaikannya. Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan ini kepadanya dengan rahmat-Mu.”
Pilihan Surah dan Ayat dalam Al-Quran yang Dianjurkan: Niat Khusus Mengirim Doa Dan Membaca Al‑Quran Untuk Almarhum
Source: mukmin.my
Tidak ada ketentuan baku dalam syariat mengenai surah atau ayat tertentu yang wajib dibaca untuk almarhum. Seluruh ayat Al-Quran adalah mulia dan membawa pahala. Namun, dalam tradisi umat Islam, beberapa surah dan ayat lebih sering dibacakan karena memiliki keutamaan khusus yang disebutkan dalam hadis, atau karena kandungannya yang berbicara tentang rahmat, ampunan, dan ketenangan di akhirat.
Pemilihan ini didasarkan pada teladan Nabi SAW dan keterangan ulama tentang fadhilah surah-surah tertentu. Membaca surah Al-Fatihah, misalnya, sering menjadi pilihan utama karena ia adalah “Ummul Quran” (induk Al-Quran) dan memiliki kedudukan istimewa. Surah Yasin juga populer dibaca untuk orang yang sedang sakaratul maut dan yang telah wafat, berdasarkan hadis yang menyebutnya sebagai “jantung Al-Quran”.
Surah-Surah Pendek yang Dapat Dibaca Berulang
Untuk memudahkan dan memperbanyak bacaan, surah-surah pendek dari juz ‘Amma sangat cocok dibaca berulang-ulang dengan niat untuk almarhum. Berikut beberapa pilihannya:
- Surah Al-Ikhlas: Dibaca tiga kali setara dengan membaca seluruh Al-Quran. Mengandung pesan tauhid yang murni.
- Surah Al-Falaq dan An-Nas: Memberikan perlindungan dari segala keburukan, termasuk gangguan di alam kubur.
- Surah Al-Mulk: Hadis menyebutkan ia akan menjadi pembela dan pemberi syafaat bagi pembacanya di alam kubur.
- Surah Al-Waqi’ah: Dianjurkan untuk dibaca agar terhindar dari kefakiran, termasuk kefakiran akan pahala di akhirat.
- Surah Yasiin: Seperti telah disebut, keutamaannya sangat masyhur untuk urusan akhirat.
Alasan Anjuran Surah Tertentu, Niat Khusus Mengirim Doa dan Membaca Al‑Quran untuk Almarhum
Anjuran membaca surah-surah tertentu tidak lepas dari konteks hadis yang menyertainya. Misalnya, sabda Nabi SAW tentang Surah Al-Mulk yang akan “berdebat” untuk pembacanya di kubur hingga menyelamatkannya dari siksa. Atau hadis tentang keutamaan Surah Al-Ikhlas yang setara dengan sepertiga Al-Quran. Ulama seperti Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar juga menyebutkan kebiasaan para salaf yang membaca surah-surah ini untuk ahli kubur.
Niat khusus mengirim doa dan membaca Al-Quran untuk almarhum adalah bentuk ikhtiar batin yang dalam, mengalirkan harapan melalui dimensi spiritual. Dalam ranah fisika, kita mengenal Alat Komunikasi Pengirim Suara via Gelombang Elektromagnetik yang mentransmisikan pesan melintasi jarak. Serupa namun tak sama, doa dan tilawah yang tulus diyakini merupakan medium komunikasi transendental, menghubungkan sanubari yang masih hidup dengan rahmat Ilahi untuk yang telah pergi.
Alasan lainnya adalah kandungan tematik. Surah Ar-Rahman yang berulang kali menyebut nikmat Allah, atau ayat-ayat tentang ampunan seperti dalam Surah Az-Zumar ayat 53, secara psikologis dan spiritual dirasa sangat relevan untuk didoakan bagi almarhum.
Niat mengirim doa dan membaca Al-Quran untuk almarhum adalah bentuk ibadah yang tulus, sebuah hadiah rohani yang murni. Dalam konteks ini, tindakan ini sejalan dengan Makna ungkapan memberi tanpa mengharapkan imbalan , di mana pahala diharapkan hanya dari Allah, bukan balasan dari yang telah tiada. Dengan demikian, praktik ini menjadi wujud keikhlasan tertinggi, memperkuat ikatan spiritual kita dengan mereka yang mendahului kita.
Merangkaikan Doa dengan Bacaan Al-Quran untuk Almarhum
Kekuatan utama dari amalan ini terletak pada sinergi antara bacaan Al-Quran dan doa. Bacaan Al-Quran adalah amal shaleh yang menghasilkan pahala, sementara doa adalah sarana untuk memohon kepada Allah agar pahala tersebut diterima dan dihadiahkan secara khusus kepada almarhum. Dengan demikian, doa berfungsi sebagai “pengantar” dan “penghubung” yang disyariatkan.
Cara menggabungkannya sangat sederhana namun penuh makna. Setelah menyelesaikan bacaan Al-Quran—baik satu halaman, satu juz, atau khatam—segeralah angkat tangan dan panjatkan doa. Dalam doa tersebut, sebutkan nama almarhum dengan jelas, dan mohonkan kebaikan-kebaikan spesifik untuknya. Dianjurkan juga untuk memulai dan mengakhiri doa dengan pujian kepada Allah serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena doa yang diselingi shalawat lebih mudah dikabulkan.
Contoh Teks Doa Komprehensif
Berikut adalah contoh doa yang dapat dibaca setelah menghatamkan atau membaca sebagian Al-Quran untuk almarhum. Doa ini merangkum permohonan umum yang diajarkan dalam Islam.
“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kemuliaan firman-Mu yang baru saja kami baca, dan dengan hak Nabi-Mu Muhammad SAW, kami memohon kepada-Mu.Ya Allah, ampunilah dosa (sebut nama almarhum), tinggikanlah derajatnya di sisi orang-orang yang shaleh, masukkanlah ia ke dalam surga-Mu, lindungilah ia dari siksa kubur dan azab neraka. Lapangkanlah kuburnya, dan jadikanlah kuburnya taman dari taman-taman surga.Ya Allah, jika ia termasuk orang yang berbahagia, maka tambahkanlah kebahagiaannya. Dan jika ia termasuk orang yang celaka, maka ringankanlah kecelakaannya. Gantikanlah kesedihan kami atas kepergiannya dengan kesabaran, dan janganlah Engkau jadikan musibah ini pada agama kami.Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan Al-Quran yang kami baca ini, huruf demi huruf, sebagai hadiah untuk ruhnya. Terimalah amal ini darinya dan dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Menerima.”
Waktu-Waktu Mustajab untuk Mengirimkan Doa
Selain dapat dilakukan kapan saja, terdapat waktu-waktu tertentu yang dijanjikan Allah sebagai saat terkabulnya doa. Memanfaatkan waktu-waktu ini untuk mendoakan almarhum adalah suatu keutamaan. Waktu-waktu tersebut antara lain: sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, saat turun hujan, pada hari Jumat khususnya di waktu mustajab di akhir siang (sebelum Maghrib), saat sedang sujud dalam shalat, dan pada hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, serta di bulan Ramadhan terutama di malam Lailatul Qadar.
Mengirimkan pahala bacaan dan doa di waktu-waktu ini diharapkan memiliki keberkahan dan peluang dikabulkan yang lebih besar.
Kisah dan Teladan dari Tradisi Islam
Praktik mengirimkan doa dan bacaan untuk orang yang telah wafat bukanlah budaya baru, melainkan jejak yang tertanam kuat dalam sejarah Islam sejak masa Nabi SAW. Kisah-kisah dari generasi terbaik umat ini memberikan legitimasi spiritual dan keteladanan nyata, sekaligus menghibur hati keluarga yang ditinggalkan bahwa kebaikan mereka tetap dapat menyentuh orang yang mereka cintai.
Salah satu contoh paling terkenal adalah ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada kebaikan yang dapat kuberikan kepada kedua orang tuaku setelah mereka wafat?” Nabi SAW menjawab, “Ya, mendoakan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, melaksanakan janji mereka setelah mereka tiada, menyambung silaturahmi yang tidak tersambung kecuali melalui mereka, dan memuliakan teman-teman mereka.” (HR. Abu Dawud).
Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga mengajarkan doa ziarah kubur yang intinya adalah mendoakan keselamatan bagi penghuni kubur.
Manfaat dan Hikmah Spiritual bagi Keluarga
Bagi keluarga yang ditinggalkan, rutinitas membaca Al-Quran untuk almarhum bukan sekadar ritual. Ia menjadi terapi jiwa yang mendalam. Aktivitas ini mengalihkan fokus dari kesedihan yang pasif menjadi tindakan kasih yang aktif. Ada rasa tenang dan kepuasan batin yang muncul karena merasa masih bisa “berbuat sesuatu” untuk orang tua, pasangan, atau anak yang telah pergi. Ikatan emosional tetap terjaga dalam bingkai ibadah yang positif.
Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan tentang kematian dan kehidupan akhirat kepada generasi yang lebih muda, sehingga nilai-nilai spiritual terus terpelihara dalam keluarga.
Suasana dan Ketenangan Batin dalam Ritual
Bayangkan sebuah ruangan yang tenang di pagi buta atau sore hari. Seseorang duduk menghadap kiblat, mushaf terbuka dihadapannya. Suara lantunan ayat-ayat suci terdengar pelan namun jelas, mengalun dengan tartil. Di antara ayat yang dibaca, sesekali dia berhenti, mengingat wajah almarhum, lalu melanjutkan dengan harap yang lebih dalam. Suasana hening itu bukan kesunyian yang hampa, melainkan ruang yang dipenuhi oleh kehadiran spiritual, harapan, dan dialog hati dengan Sang Pencipta.
Pada momen itulah, duka berubah menjadi keteduhan, kerinduan menemukan saluran yang bermakna, dan hati yang gelisah menemukan pelabuhan ketenangan. Itulah ilustrasi sederhana dari ketenangan batin yang sering digambarkan oleh mereka yang rutin melaksanakan amalan ini.
Menghindari Praktik yang Keliru dan Syirik
Sebagai amalan ibadah yang sangat mulia, penting untuk menjaga kemurnian niat dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat. Antusiasme yang tinggi dalam menghadiahkan pahala bacaan terkadang, tanpa disadari, dapat terjerumus ke dalam praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat atau bahkan bertentangan dengan akidah tauhid. Kewaspadaan ini diperlukan agar ibadah yang tulus tidak ternodai oleh kesyirikan atau bid’ah.
Batasan utama yang harus dipegang teguh adalah keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang berkuasa mutlak untuk memberikan manfaat, menerima amal, dan menyampaikan pahala. Membaca Al-Quran untuk almarhum adalah sebab (asbab) yang kita lakukan, sedangkan hasilnya sepenuhnya bergantung pada kehendak dan rahmat Allah. Keyakinan bahwa bacaan kita secara otomatis dan pasti meringankan siksa kubur tanpa bergantung pada kehendak Allah adalah keliru.
Demikian pula, jika seseorang meyakini bahwa ruh almarhum hadir secara fisik mendengarkan bacaannya di tempat tertentu, ini adalah keyakinan yang tidak berdasar.
Praktik Lokal Tanpa Dasar Syar’i yang Kuat
Di beberapa komunitas, berkembang praktik yang dikaitkan dengan ritual membaca Al-Quran untuk almarhum namun tidak ditemukan dalam ajaran Islam yang murni. Misalnya, keyakinan wajib membaca Al-Quran di atas kuburan dalam waktu tertentu setelah kematian dengan anggapan pahalanya lebih cepat sampai. Atau ritual mengelilingi jenazah dengan bacaan tertentu sebelum dimakamkan. Praktik lain adalah menentukan jumlah bacaan tertentu (misal, Yasin 40 kali) yang diyakini memiliki “kekuatan khusus” untuk membebaskan almarhum dari siksa.
Seluruh praktik yang dibebani dengan keyakinan wajib, jumlah tertentu yang bersifat ritual, dan klaim akibat yang pasti, perlu dikritisi dan dikembalikan kepada dalil yang sahih.
Perbandingan Praktik Sesuai Sunnah dan yang Menyimpang
Memahami perbedaan antara praktik yang sesuai tuntunan dan yang menyimpang adalah langkah preventif untuk menjaga kemurnian ibadah. Tabel berikut memberikan gambaran perbandingannya.
| Aspek | Praktik yang Sesuai Sunnah | Praktik yang Menyimpang | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Keyakinan Sampainya Pahala | Pahala sampai dengan izin dan rahmat Allah semata. Kita berusaha dan berdoa, Allah yang menentukan. | Keyakinan bahwa pahala pasti sampai secara otomatis karena ritual yang dilakukan, seolah-olah memaksa kehendak Allah. | Penyimpangan terjadi pada ranah akidah, yaitu mengurangi keyakinan pada kekuasaan mutlak Allah. |
| Waktu dan Tempat | Dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, selama tempatnya suci. Di sisi kubur dianjurkan tetapi tidak wajib. | Mewajibkan waktu tertentu (misal, malam ke-7, ke-40) atau tempat tertentu (harus di kuburan) agar pahalanya diterima. | Membuat aturan baru dalam ibadah yang tidak ada dalilnya adalah bid’ah. |
| Cara dan Format Bacaan | Membaca dengan tartil, sendiri atau berjamaah, tanpa format khusus selain niat di hati. | Membaca dengan format khusus: mengelilingi sesuatu, menghadap arah tertentu selain kiblat, atau dengan gerakan-gerakan ritual. | Menyerupai ritual non-Islam atau membuat tata cara ibadah baru yang tidak diajarkan. |
| Interaksi dengan Ruh | Berinteraksi hanya melalui doa kepada Allah untuk kebaikan ruh almarhum. | Berkomunikasi langsung dengan ruh almarhum, meminta pertanda, atau meyakini ruh hadir dan mendengar secara fisik di lokasi. | Dapat mengarah pada kesyirikan atau keyakinan yang rusak tentang alam ghaib yang hanya diketahui Allah. |
Simpulan Akhir
Pada akhirnya, Niat Khusus Mengirim Doa dan Membaca Al-Quran untuk Almarhum adalah manifestasi cinta yang abadi dan kepasrahan kepada rahmat Allah. Amalan ini mengajarkan bahwa ikatan kemanusiaan dan spiritual tidak terputus oleh maut. Dengan melakukannya, kita bukan hanya mengharapkan kebaikan untuk almarhum, tetapi juga membersihkan hati, mengingat akhirat, dan memperkuat keyakinan akan pertemuan kembali di surga kelak. Mari kita jadikan setiap huruf Al-Quran yang kita baca dan setiap doa yang kita panjatkan sebagai hadiah terindah yang terus mengalirkan pahala tanpa henti.
FAQ Terpadu
Apakah pahala bacaan Al-Quran yang dikirim benar-benar sampai kepada almarhum?
Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa pahala amal shaleh, termasuk bacaan Al-Quran, dapat sampai kepada almarhum dengan izin Allah. Keterangan ini didasarkan pada dalil-dalil umum tentang sampainya doa dan sedekah. Niat dan keikhlasan orang yang menghadiahkan pahala merupakan hal yang krusial.
Bolehkah membaca Al-Quran untuk almarhum di kuburan?
Membaca Al-Quran di kuburan adalah perkara yang diperselisihkan ulama. Sebagian membolehkan dengan syarat tidak mengganggu dan tidak dijadikan kebiasaan yang menyerupai ritual tertentu. Namun, yang lebih utama dan tanpa perselisihan adalah membacanya di rumah, masjid, atau tempat lain yang layak, kemudian mendoakan dan menghadiahkan pahalanya untuk almarhum.
Apakah ada batasan jumlah atau waktu khusus dalam membaca Al-Quran untuk almarhum?
Tidak ada batasan baku dalam syariat mengenai jumlah surah atau waktu pelaksanaannya. Amalan ini dapat dilakukan kapan saja, meskipun waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir atau antara adzan dan iqamah lebih dianjurkan. Yang terpenting adalah konsistensi dan keikhlasan, bukan sekadar mengejar jumlah tertentu.
Bagaimana jika almarhum bukan muslim, apakah boleh mendoakannya?
Untuk non-muslim, umat Islam dilarang memohonkan ampunan atau rahmat secara khusus setelah kematiannya, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 113. Namun, boleh mendoakan agar mereka diberi hidayah selama hidup, atau membaca Al-Quran dengan niat pahalanya untuk diri sendiri dan kaum muslimin secara umum.
Apakah manfaat membaca Al-Quran untuk almarhum juga dirasakan oleh pembacanya?
Tentu. Pembaca Al-Quran akan mendapatkan pahala langsung dari membacanya, yaitu sepuluh kebaikan untuk setiap hurufnya. Selain itu, hati menjadi tenang, iman bertambah, dan ikatan spiritual dengan almarhum terjalin. Amalan ini juga mengingatkan pembaca akan kematian dan pentingnya bekal untuk akhirat.